"Yes.. yes.."

"Nghh.."

"Fuck—ngghh—nggh—aaaahhh! Yes—Oh my Gosh! Fuck!" suara rintihan dalam desahan yang memohon terdengar begitu bergema dalam ruangan kamar hotel itu. Dan semua itu diteriakkan oleh sang wanita yang mana tengah menggeliat merintih kesakitan dalam kenikmatan dari posisi bercinta yang sedang dilakukan. Pria berwajah dingin disertai ekspresi datar dibelakangnya tengah menghujam dengan begitu kasar, nampak pula diwajah sang pria itu tidak ada rasa kenikmatan sedikt pun atau gairah yang ia milik saat percintaan mereka saat ini. Hanya wanita yang tengah menungging dengan wajah tenggelam dalam balutan selimut ranjang disanalah yang sedari tadi berteriak merintih disetiap hujaman dari pria itu.

"Yes..Chan.. oh—oh—lebih keras—aakkhh!"

Chanyeol adalah pria yang tengah bercinta saat ini.

'Mainan' yang disebutkan sebelumnya oleh dirinya dan Sehun adalah menjurus pada sosok wanita yang mana bisa ia bayar hanya untuk memanjakkan keinginan nafsu seksualitasnya, dan itu adalah kegiatan wajib yang harus ia lakukan disetiap minggunya. Jum'at, Sabtu dan Minggu adalah hari dimana ia akan meluapkan keinginnya untuk menuntaskan hasrat seksualnya yang tertahan selama 4 hari belakangan, dan itu dilakukan oleh wanita yang berbeda. Ia tidak pernah menginginkan untuk kembali bercinta dengan wanita yang sama.

Biasanya percintaannya akan berlangsung cepat, beberapa hujaman dan tusukkan yang ia lakukan pada setiap lubang vagina akan membuat dirinya mendapatkan satu kali pencapaian dan kemudian ia akan meninggalkan sang mainan begitu saja, selesai.

Namun kali ini, malam ini tepatnya. Setelah ia bertemu dengan wanita yang terlihat menarik hati dan juga hasratnya, proses bercinta dengan wanita lain terasa begitu aneh dan bukan lagi hal yang menarik bagi Chanyeol, terbukti dengan dirinya yang sama sekali belum mendekati fase klimaks, sementara wanita dibawahnya tengah mendapatkan pencapaian untuk ketiga kalinya. Beberapa kali ia mencoba untuk mengubah gaya percintaan atau pun mengerahkan seluruh tenaga yang masih ia miliki sama sekali tidak membantu sedikit pun untuk membuat ketegangan dan gairah panas pada alat kelaminnya.

Bahkan ketika sang wanita menawarkan mulutnya untuk mengulum milik Chanyeol dengan begitu basah dan panas.

Klimaksnya masih urung untuk meledak keluar dari dirinya.

Dan penyebab dari itu semua bukan karena Chanyeol yang mengalami impotensi. Yang menjadi penyebab hilangnya gairah tinggi bercintanya dengan wanita mainannya saat ini adalag pada apa yang ia pikirkan, apa yang ia inginkan, dan apa yang menjadi khayalannya saat ini tertuju pada satu wanita yang mana masih teringat dengan jelas dalam ingatannya dan hatinya teramat sungguh untuk bisa bertemu wanita itu dan bahkan Chanyeol memikirkan langsung bagaimana bercinta dengan sang wanita yang ia temui beberapa jam lalu.


.

A Man and A Woman

Chapter #02

Chanyeol – Baekhyun

.


Cuaca panas tengah menyelimuti kota Seoul pada hari itu, beberapa penduduk kota tersebut nampak begitu ramai mendatangi beberapa café atau tempat – tempat restoran kecil yang berada di pinggir jalan untuk menjajakkan makanan dan minuman dingin demi menghilangkan dahaga mereka akibat hawa panas yang cukup ekstrem disana. Salah satunya adalah toko kecil yang mana memiliki nama Redberry.

Redberry adalah toko dengan berukuran sedang yang mana menjualkan aneka kue –kue manis dengan topping utama Strawberry, aneka pilihan minuman sehat Smoothies, Teh herbal dan beberapa jenis kopi. Tak hanya makanan dan minuman yang tersedia disana, dibagian belakang dari toko tersebut tersedia beragam bunga – bunga segar yang siap dirangkai bagi para pelanggan yang menginginkan bunga – bunga segar atau mungkin karangan bunga dalam bentuk beragam dalam memperingati acara tertentu.

Baekhyun adalah pemilik toko tersebut. Kecintaannya akan kue, Strawberry dan bunga menjadikan ia mencoba peruntungan dalam menjualkan kue – kue buatannya sendiri dan merangkaikan bunga – bunga untuk para pelanggan yang menginginkannya. Bisnis ia mulai sejak ia menikah dengan Changmin, dikarenakan sang mantan suami yang tidak mengijinkan ia untuk bekerja seperti wanita karir pada perusahaan – perusahaan lainnya, Changmin memberikan modal untuk Baekhyun gunakkan membangun toko tersebut.

Awalnya hanya toko bunga yang Baekhyun rintis diawalnya, namun perlahan demi perlahan ia mencoba menjual sedikit hasil kue dari buatan tangannya yang mana selalu berhiaskan buah strawberry diatasnya—dan hasilnya banyak anak – anak kecil dan kalangan remaja atau pun usia dewasa lainnya yang menyukai kue buatannya sehingga akhirnya ia menambahkan tempat pada toko bunganya menjadi sebuah kafe kecil yang mana bukan hanya bunga dan kue buatan tangannya namun juga kopi dan teh herbal yang ia dapat dari kedua temannya, Minseok dan Yixing. Kedua orang itu bertugas meracik menu untuk jenis teh dan kopi mengingat keduanya adalah termasuk ahli dalam dua minuman tersebut.

Dan sampai saat ini, toko kecil itu semakin banyak dikunjungi oleh banyak orang sepanjang harinya, tentunya yang berdampak dengan semakin pesatnya penjualan dan pendapatan yang didapat. Baekhyun, Minseok dan Yixing tidak lagi harus selalu berada di toko dan mengawasi setiap penjualannya, mereka sudah memiliki Manajer yang mana adalah sepupu dari Minseok, Irene. Kecuali bila ada beberapa pelanggan yang ingin melakukan pemesanan kue atau karangan Bunga dalam jumlah besar, Irene akan memanggil Baekhyun sec ara langsung untuk menemui sang pelanggan.

Seperti saat ini..

"Boss.. dia adalah GM dari Park Inc. Dan kalau dirimu menyetujui pemesanan yang akan ia lakukan.. ini akan menjadi batu loncatan besar untuk Redberry," Irene berbisik pelan tak jauh dari meja duduk yang mana tengah diduduki oleh salah satu pelanggan yang akan memesan kue dan juga karangan bunga dari Redberry.

"Tapi aku tidak bisa datang hari ini.."

"Aisshh.. memangnya kenapa?" Irene merenggut kesal.

"Naeun sedang tidak enak badan dan aku akan membawanya ke dokter.."

Irene menghela nafas, bila ini menyangkut Naeun.. ia tidak bisa lagi membujuk sang Boss untuk menemui pelanggan. "Baiklah.. aku akan memberi tahukan kepada Klien kita mengenai ini.. semoga saja ia mau datang lagi besok atau entah kapan.."

"Jangan dipaksakan.. kalau ia tidak mau tidak apa – apa.." Berbeda dengan Irene yang sangat menggebu – gebu ingin mendapatkan pesanan dari Park Inc, Baekhyun sang empunya toko lebih santai bila ia tidak mendapatkan sang klien pada hari ini. "Sampaikan saja permohonan maaf dariku ya, aku tutup."

Irene ikut mengiyakan dan kemudian menghela nafas sebelum badannya berbalik untuk menemui kliennya.

"Nona Park.. mohon maaf sebelumnya.. Nyonya Byun tidak bisa menemui Anda dikarenakan puteri kecilnya sedang tidak enak badan dan mereka akan berangkat ke rumah sakit hari ini."

Wanita yang dipanggil dengan sebutan Nona Park disana nampak sedikit kecewa namun turut sedih mendengar alasan kenapa sang pemilik toko berhalangan menemuinya saat ino. "Oh.. apakah sakitnya serius?" dan kini Irene yang mengerutkan alisnya mendengar jawaban dari apa yang diucapkan mendapatkan perhatian yang begitu penuh. "Semoga puteri Nyonya Byun lekas sembuh.." bahkan ada doa yang dirapalkan oleh sang klien.

Irene membalas dengan senyum canggung, "Semoga bukan penyakit serius Nona, terima kasih atas doa dan perhatiannya. Sekali lagi saya meminta maaf atas ini." badan Irene sedikit membungkuk.

"Tidak apa… kami bisa bertemu di lain waktu.." mendengar ucapan itu Irene segera memberikan senyuman manis terhadapnya.

"Tentu Nona.. aku akan memberi tahu Nyonya Byun mengenai maksud kedatangan Anda dan mungkin akan meminta ia menghubungi Anda secepatnya." suara ramahnya terdengar penuh harapan.

Nona Park dihadapannya pun ikut tersenyum, ia memberikan kartu nama dimana tertera alamat gedung, e-mail dan juga beberapa nomor yang bisa dihubungi. "Aku sangat berharap Nyonya Byun bisa segera menghubungiku.."

Irene mengangguk. "Aku pastikan Nona Byun medapatkan kartu nama dan segera mungkin menghubungi anda Nona.. Park Yoora." Irene menyebut nama yang tertera pada kartu nama yang tengah ia pegang.

"Yoora, panggil saja aku Yoora." lawan bicaranya mengkoreksi.

Irene memberikan senyuman serta mengangguk paham, Ia juga tak lupa memberikan kartu nama dirinya serta kartu nama Baekhyun yang selalu tersimpan olehnya. "Ini kartu namaku dan juga Nyonya Byun, bila Anda membutuhkan kabar dari kami.. Anda bisa menghubungiku langsung atau pun menghubungi Nyonya Byun."

Yoora menerimanya dan mengucapkan terima kasih, "Mungkin aku akan menghubunginya pada hari Senin esok, aku tidak mungkin mengganggu acara keluarganya pada weekend seperti ini."

Irene lagi – lagi tersenyum mendapati rasa kepedulian yang dimiliki calon kliennya ini.

"Boleh aku membeli beberapa macam kue yang ada saat ini? Ibuku sangat menyukainya dan mungkin Ia akan memaklumi mengapa aku belum mendapatkan deal dari Redberry untuk mengurusi kue pesanan kami." Yoora melirik sedikit melihat pada lemari kaca yang dipenuhi beragam macam kue yang nampak begitu menggoda untuk dicicipi.

"Tentu saja.." Irene mempersilakan Yoora untuk memilih kue apa yang akan ia beli dan menghantarkan langsung pada kasir ketika wanita muda itu selesai menunjuk sepuluh jenis kue yang akan ia beli, Irene bahkan dengan ramahnya menghantarkan hingga Yoora melangkah keluar dan melesak masuk kedalam mobil yang ia kendarai.


A Man and A Woman


Suasana salah satu bangunan Mansion termegah nan besar dengan bangunan begitu arsitektur yang berada di daerah Nonhyeon District nampak masih terlihat begitu sepi terkecuali para pelayan pengurus rumah tersebut yang sudah disibukkan dengan berbagai macam aktifitas pada sore hari ini. Bnagunan yang memiliki empat lantai itu nampak begitu megah nampak dari luarnya, namun bagi siapapun yang menempati Mansion itu jelas tahu bahwa keadaan didalamnya nampak begitu sunyi dan sepi. Hanya dua orang dari Keluarga yang memiliki Mansion ini yang selalu ada setiap harinya, dan selebihnya adalah para pengurus rumah tangga jumlahnya 10 kali lipat dibandingkan sang empunya, Keluarga Park.

Mansion itu adalah salah satu dari asset yang dimiliki Keluarga Park yang mana terkenal sebagai satu – satunya Pemiliki dari Group Park Inc. Group Perusahaan yang menaungi berbagai macam perusahaan lainnya dalam bidang entertainment, fashion, otomotif, mal atau pun real estate lainnya. Sayangnya hanya dua orang dari empat anggota Park yang menempati Mansion tersebut. Nyonya Besar Park, Sandara dan juga sang puteri pertama mereka, Yoora. Sang Ayah, Yunho.. memilih tinggal di sebuah Apartemen seorang diri yang mana membebaskan dirinya untuk menikmati kesenangannya melepas penat dengan bermain bersama para wnaita – wanita jalangnya. Begitu juga sang Putera kedua, Chanyeol, pewaris tunggal dalam Park Inc yang mana sudah terlihat mewariskan semuanya yang ada pada sang Ayah, bukan hanya kepintaran dan kepiawainnya dalam bidang memimpin sebuah perusahan, bakat membuat para wanita bertekuk lutut dihadapannya melekat kental dalam darah sang pewaris.

Dan mengenai permasalahan yang ada didalam Keluarga Park tidaklah tercium oleh awak media maupun kolega- kolega bisnis mereka, semuanya beranggapan Keluarga mereka adalah keluarga yang sempurna, kecuali mungkin kisah percintaan Chanyeol yang selalu menjadi bahan gossip media – media dan selalu mendapati pria itu bersama wanita yang berbeda – beda disetiap waktunya.

Yoora memarkirkan mobilnya dengan begitu saja dihalaman karangan Mansion-nya, wajahnya nampak begitu penuh tanya ketika mendapati ada sebuah motor besar yang terparkir disana. Ia jelas tahu siapa pemilik kendaraan itu namun yang jadi pertanyaan dari dalam hatinya adalah ada gerangan apa hingga sang pemilik motor tersebut berada di Mansion keluarganya di hari Sabtu sore ini?

"Apa Chanyeol ada disini?" Mulutnya melontarkan pertanyaan sesaat ia bertemu dengan dua pelayan yang menyambutnya didepan pintu.

Salah satu mengangguk, menerima bungkusan belanja yang Yoora bawa, "Tuan Muda ada dikamarnya Nona.." jawabannya terdengar dengan lembut membalas apa yang dikatakan oleh sang Nona Muda.

"Oh?" Jelas masih ada rasa tidak percaya dari Yoora disana. "Tumben sekali.."

"Nyonya Park sudah menyambut Tuan Muda sebelumnya.."

Yoora masih menyimak meskipun langkahnya perlahan – lahan mulai memasuki ruangan dalam Mansionnya.

"Tapi Tuan Muda hanya diam dan langsung masuk kedalam kamarnya.."

"Kapan dia datang?"

"Pagi – pagi sekali Nona.."

"Dia datang sendiri?" lagi Yoora masih memburu kejelasan.

Dan sang Pelayan mengangguk, "Dia datang sendiri."

"Oh.. baiklah." Meskipun belum puas mendapatkan jawaban mengenai ada angin dan badai apa yang bisa membuat sang adik berada di Mansion keluarga pada hari seperti Sabtu ini. "Tolong siapkan kue – kue itu sebagai makanan penutup nanti malam." Yoora memberikan perintah mengingat kue – kue yang baru saja ia beli dari Toko Redberry sebelumnya.

"Oh—dimana Ibu?" Yoora kembali lagi bertanya sesaat langkah kakinya menapaki tangga untuk menuju lantai dua.

"Nyonya berada di taman.."

Yoora mengangguk lagi dan kemudian melenggang naik keatas, tujuan utamanya saat ini adalah melihat langsung dengan kedua matanya kenyataan bahwa sang adik kesayangannya kini tengah berada didala kamarnya. Kamar Chanyeol berada dilantai tiga yang mana berdekatan dengan kamar miliknya.

Yoora menyempatkan diri untuk mengetuk pintu setelah dirinya tepat berada dihadapan pintu kamar Chanyeol yang tertutup rapat.

"Yeol.. ini aku.." ketukannya berlanjut. "Boleh aku masuk?" lagi ia menanyakkan dan tak lama ia mendengar suara mesin pengunci pintu yang terpasang di pintu kamar adiknya itu menandakkan ijin yang diberikan oleh sang empunya kamar berhasil ia dapatkan.

Pandangan yang ia dapati setelah berhasil masuk pada kamar itu adalah pemandangan Chanyeol yang mana tengah terbaring begitu malasnya dengan sebuah gitar klasik tersamping didepan dadanya.

"Hua.. kau benar – benar pulang. Ini sebuah keajaiban." Terdengar sebagai pujian tapi sejujurnya Yoora bermaksud menyindir sang adik yang mana tidak pernah berada di rumah saat weekend sejak adiknya itu beranjak dewasa karena acara bermain dengan wanitanya lebih penting dibandingkan menikmati waktu bersama keluarganya.

Chanyeol pun tidak membalas apa yang dilontarkan sang kakak padanya, hanya sebuah seringai yang ia berikan pada Yoora disana, tangan – tangannya masih terus bermain pelan memetik sinar pada gitar diatas badannya.

"Alasan apa yang membuatmu pulang di hari Sabtu pagi? Tidakkah Sehun memberikan mainan untuk kau nikmati?" Ya, Yoora selalu tahu setiap kegiatan sang Adik karena memang Chanyeol selalu memberi tahukan hal itu padanya, Yoora terlalu dekat dengan sang adik dan siapapun yang menjadi teman Chanyeol, seperti Sehun, Jongdae atau pun Junmyeon juga selalu terbuka mengenai apa yang tengah mereka lakukan bersama sang adik kesayangannya.

"Jadi.. ada apa dengan adikku?" Yoora membawa badannya untuk duduk disamping kanan Chanyeol, menyandarkan badannya pada headboard ranjang besar itu untuk bisa memperhatikan dengan baik – baik wajah sang adik yang nampak tidak bersemangat.

Chanyeol masih berdiam diri dan belum nampak keinginannya untuk memberikan jawaban akan pertanyaan yang ditanyakkan oleh sang kakak.

Ada jeda keterdiaman diantara mereka namun suara petikan senar yang dimainkan oleh tangan – tangan Chanyeol mengiringi diantara mereka.

"Pagi ini aku berlatih Yoga.. sarapan bersama Jessica untuk membahas peluncuran produk Blanc & Eclare pada tiga minggu kedepan. Ibu sangat antusias mengenai itu.. ia bahkan mau membantuku menjadi EO dan memutuskan makanan kecil dan juga dekorasi pada acaranya nanti." Yoora memulai penjelasan mengenai kegiatan Sabtu pagi yang ia lakukan seorang diri. "Ibu ingin memberikan kue – kue Redberry—kesukaannya untuk acara itu, ia juga ingin bunga – bunga dari Redberry yang menghiasi dekorasi pergelaran nantinya."

"Hm.. Ibu menyukai hal – hal itu." Akhirnya ada kata yang terucap dari mulut sang adik.

Yoora tersenyum kecil mendapati sang adik mendengarkan ceritanya, "Iya.. lagipula kue dan karangan bunga mereka begitu enak dan juga nampak indah.. Redberry pasti tidak akan mengecawakan.. hanya saja aku belum mendapatkan keputusan deal dari pemilik toko tersebut."

Chanyeol menoleh kearah sang kakak menunggu kelanjutan dari kalimatnya.

"Tadi aku menyempatkan diri kesana, namun sang pemilik tidak bisa menemuiku karena puterinya tengah sakit. Sayang sekali bukan."

Chanyeol kembali diam.

"Tapi sang Manajer memberikan aku kartu namanya.. jadi besok Senin aku akan membuat janji dengannya."

"Lebih cepat lebih baik.." Chanyeol memberikan respon.

"Betul sekali." Yoora ikut menyahut masih memperhatikan sang adik yang belum mau menceritakan apa yang terjadi padanya. Rasa penasaran terlalu meliputi dirinya saat ini mengingat Chanyeol tidak pernah seperti ini sebelumnya. "Jadi.."

Lagi Chanyeol menutup mulutnya.

"Apa yang terjadi padamu.. ada masalah apa?" Yoora memperjelas sedikit dengan menekankan suaranya.

Chanyeol menghelas nafas sesaat. Meletakkan gitarnya dibawah lantai dan kini kedua tangannya bertumpu dibelakang kepalas sebagai bantal. "A-aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi denganku." Suaranya terdengar begitu lemah.

"Setidaknya kau bisa menceritakan sedikit.."

"A-aku tidak tahu bagaiman bisa.. kenapa.. dan apa yang membuatku memikirkan dirinya.."

Ada yang menukik alisnya dengan cepat mendengar kosa kata yang Chanyeol ucapkan menjelaskan ada seseorang yang dilibatkan disana.

"A-aku baru mendengar suaranya." Chanyeol menjabarkan dengan sebuah senyuman terpatri pada wajahnya secara mengejutkan.

"Aku baru mendengar suara tawanya, marah dan kesal hanya dalam beberapa saat.. A-aku baru melihat wajahnya dalam waktu beberapa saat, bersitatap dengan matanya yang indah hanya dalam hitungan menit… tapi ia bisa membuatku mengalami impotensi seketika."

Seharusnya Yoora tidak terbawa terbahak – bahak setelah mendengar apa yang Chanyeol ceritakan namun sayangnya kata yang diucapkan diakhir sudah berhasil masuk dalam bayangan kepala Yoora. Pikirannya meliar membayangkan sang adik yang benar – benar mengalami impotensi dan tentunya itu amat sangat menghibur.

"Ck. Dasar mesum." Chanyeol mencibir.

"Hahahahahaa!" Yoora masih belum puas melampiaskan tawanya.

Sementara Chanyeol mulai melirik kearah sang kakak yang begitu nampak bahagia dalam memikirkan khayalan kotornya. "Ya.. lanjutkan saja tertawamu sampai puas."

Air mata yang diakibatkan dari gelak tawa suara Yoora bahkan mulai nampak terlihat di pinggir mata Yoora. "Bagaimana bisa kau mengalami hal itu—aduh pipiku terasa kram." Yoora menepuk – nepuk pipi wajahnya yang tengah memerah dan menegang kaku karena terlalu lama ia tertawa.

Chanyeol menggeleng, "Kau saja yang mendengar tidak bisa mencerna semuanya dengan jelas bagaimana denganku yang mengalaminya. Aku benar – benar berpikir saat itu mengalami impotensi." Chanyeol mengulang lagi kata – kata yang belum bisa hilang dari pikiran Yoora.

"Kejantananku bersarang pada lubang vagina wanita namun ia tidak bisa menikmatinya seperti biasanya." Chanyeol menunjuk secara tidak langsung pada bagian intim bawahnya yang disebutkan dengan jelas. "Tidak ada reaksi apapun." kedua tangannya kini mengusak rambut kepalanya dan mengusap wajahnya, nampak frustasi.

Yoora tak lagi tertawa lepas, kini ia ikut prihatin membayangkan bagaimana bila sang adik benar – benar mengalami impotensi. "Dia sama sekali tidak berekasi?" takut – takut ia bertanya pada sang adik.

Chanyeol mengangguk. "Wanita itu mendapatkan klimaks dengan puas.. tentu saja! Tapi tidak denganku. Otakku dipenuhi dengan wajah wanita lain.. suaranya.. tawanya.. gerak matanya.. gerak bibirnya.. aku bahkan cukup gila ingin mendesahkan namanya ketika si wanita berpayudara besar itu mengulum kejantananku."

"Siapa yang ber-payudara besar?"

"Wanita yang aku setubuhi.. bukan yang berada di pikiranku." Chanyeol menjelaskan perbedaan kedua wanita yang mana ia tengah ceritakan di waktu bersamaan. "Yang berada di pikiranku bernama Baekhyun.. menurutmu ada berapa banyak wanita di Seoul yang memiliki nama Baekhyun?" Chanyeol melempar pertanyaan lain terhadap Yoora.

Yoora mengangkat bahunya. "Entahlah.. kau harus meminta tolong pada Ibu yang pandai mencari keberadaan orang – orang yang diingin—tunggu! untuk itulah kau pulang!" Yoora memberikan pukulan pada kepala Chanyeol dengan cukup keras. "Dasar anak kurang ajar! Ingat pulang bila kau butuh bantuan!" dua kali pukulan dilayangkan pada kepala Chanyeol.

"YAA!"

"Wae?! Wae?!"

"Aku pulang karena aku tidak bisa bermain seperti biasanya!" Chanyeol sedikit berteriak.

"Oh.."

"Mana mungkin aku bisa bermain dalam keadaan seperti ini." ia menunjuk lagi pada bagian bawahnya lagi. "Ia hanya mau bila aku membayangkan dengan wanita bernama Baekhyun itu mengulumnya."

Suaranya bernada menjijikan dibuat oleh Yoora. "Tidak baik ber-onani seorang diri." ada tawa yang tertahan pada mulut Yoora.

"Diam kau." Chanyeol menarik bantal yang tengah Yoora peluk dan itu membuat kepala sang kakak akhirnya beradu dengan kerasnya pinggiran headboard.


A Man and A Woman


"Bagaimana keadaan Naeun?" suara pria yang berada jauh diseberang sambungan telepon terdengar begitu khwatir menanyakkan bagaimana keadaan sang puteri yang tengah sakit saat ini.

"Sudah lebih baik. Hanya flu biasa.. demamnya sudah mereda ketika dokter memberikan obat." Baekhyun menjelaskan dengan lembut.

Ya, meskipun mereka sudah bercerai tapi keduanyamasih berusaha terus berkomunikasi mengenai perkembangan tumbuh satu – satunya puteri yang mereka miliki. Sebenci apapun Baekhyun karena masalah perceraian yang harus ia hadapi pada kenyataannya, ia tidak bisa membenci dan menolak Changmin bila mantan suaminya itu menginginkan informasi mengenai Naeun. Lagipula, mantan suaminya itu masih bertanggung jawab memberikan nafkah yang lebih dari cukup untuk Naeun selama ini.

"Maaf, aku tidak bisa membantumu—

"Tidak apa. Aku masih bisa merawat Naeun." Baekhyun menekankan suaranya bermaksud menunjukkan bahwa ia memang sanggup hidup merawat Naeun dan juga merawat dirinya sendiri. "Lagipula masih ada beberapa teman yang bisa membantuku untuk mengurusi toko dan lainnya, ini bukan masalah."

"Aku tahu, kau selalu menjadi wanita tangguh yang pernah aku kenal." Suaminya memuji tapi Baekhyun tidak bereaksi atau pun merasa terharu sedikit pun. Masa – masa penuh romansa dengan segala pujian dirasa sudah lewat dan tidak pernah ia rasakan kembali tepat ketika pengadilan memutuskan pernikahan mereka usai.

"Tentu saja." Baekhyun menjawab datar. "Sudah ya, aku harus menyiapkan makan malam." Ia beralasan untuk menghindari berlama – lama melakukan basa basi dan obrolan kikuk diantara mereka berdua. Sementara pada kenyataanya, Baekhyun tidak harus menyiapkan makan malam mengingat dirinya tengah berada di lorong rumah sakit dimana Naeun harus dirawat karena sakit yang diderita anak itu.

Kyungsoo pun bisa mengetahui kebohongan yang Baekhyun katakan pada mantan suaminya itu.

"Kau tidak berniat mengatakan yang sejujurnya?"

Baekhyun menggeleng, menghela nafas panjang dan memutuskan untuk duduk pada tempat duduk yang berada tepat didepan ruangan rawat Naeun.

"Percuma saja aku mengatakan padanya mengenai keadaan Naeun saat ini, pekerjaan dia di Jepang tidak akan mungkin bisa ia tinggalkan. Ini bukan pertama kalinya aku mengalaminya Kyung. Ingat ketika aku mengalamai tabrak lari beberapa tahun lalu? Ia baru mengunjungiku 4 hari setelahnya dimana aku sudah diperbolehkan pulang."

Kyungsoo menepuk bahu Baekhyun, ingatannya kembali pada saat menyedihkan itu dimana Naeun masih berusia 3 tahun dan terus menangis mendapati Sang Ibu tengah terkapar di rumah sakit dan tak berdaya, dan Changmin berada jauh di luar negeri—pria yang saat itu masih menyandang status suaminya itu bahkan tidak mengusahakan cara apapun untuk kembali pulang dan berada disamping Baekhyun menghadapi segala sakit yang diderita dan juga menjaga Naeun.

Terkadang Baekhyun mempertanyakkan kembali bagaimana bisa ia menerima lamaran Changmin kala itu, kenapa kehidupan pernikahan mereka tidak seindah keadaan ketika keduanya masih menyandang status sebagai sepasang kekasih? Kenapa Tuhan memperjelas buruk keadannya ketika ia sudah berjalan sejauh ini.

"Ia sungguh sempurna dulu.."

"Hush.. sudahlah.. kita tahu sesempurna apa dulu dia untukmu, tapi seperti yang selalu kau katakan B.. ia memang bukan seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupmu, iya kan?" Kyungsoo memberikan kekuatan dengan mengulang apa yang selalu Baekhyun katakan ketika teman – temannya mempertanyakkan mengenai keputusan perceraian, dan saat ini kalimat itu seakan – akan menertawakan dirinya sendiri karena masih tetap merasa rapuh.

"Kau tahu Kyung.. aku sungguh berterima kasih karena Kau, Jongin, Luhan, Kris, Zitao, Minseok dan Yixing Eonnie tetap berada didekatku sampai saat ini." Baekhyun menyadarkan kepalanya pada bahu Kyungsoo dan wanita yang memiliki mata bulat itu memeluk bahu serata lengan Baekhyun sebagai balasannya.

"Itulah gunanya sahabat B."

Baekhyun menyetujui. Ia bersyukur karena meskipun kini ia hidup sendiri jauh dari Keluarganya, Ia masih dikelilingi oleh keluarga kecil lainnya yang mana semuanya itu adalah orang – orang yang selalu siap sedia memberikan uluran tangan kapan pun dan dimana pun Baekhyun membutuhkan.

.

.

.

Apa yang dikatakan Dokter Kim Junmyeon pagi ini jelas melegakan keadaan hati Baekhyun, bagaimana tidak? Mendengar bahwa puteri kecilnya sudah tidak mengalami demam tinggi seperti hari kemarin dan melihat bagaimana rona merah muda kini sudah menghiasi wajah puteri kecilnya jelas membuat sedikit rasa lega meruntuhkan dinding kecewasannya.

"Tidak ada diagnosa akan penyakit Typhus atau Mono, demam itu hanya karena flu yang meradang didalam dirinya dan mengingat perubahan cuaca baru – baru ini termasuk faktor yang menyebabkan penyakitnya."

Baekhyun tersenyum lega, "Ah.. syukurlah Dok.." Ia menunduk mengusap pipi wajahnya yang sedari tadi basah karena aliran air mata khawatir membayangkan penyakit serius yang bisa saja dijangkit puterinya.

Dokter Kim tersenyum untuk membuat Baekhyun merasa lebih baik, "Puteri Anda termasuk kuat dalam system imunnya, terbukti beberapa obat yang kami berikan dengan cepat bereaksi membantu menyembuhkannya."

"Iya Dok.. terima kasih." Baekhyun lagi mengucapkan rasa terima kasihnya.

"Aku akan memberikan beberapa obat tambahan untuk tiga hari kedepan, dan mungkin Naeun boleh dibawa pulang besok siang." Tangan Dokter Kim dengan cepat menuliskan nama – nama obat yang akan diberikan oleh Naeun dan lekas memberikannya pada Baekhyun dihadapannya. "Hari ini tidak akan ada lagi pemeriksaan oleh Dokter, mungkin besok aku atau pun Dokter yang bertugas lainnya akan memeriksa keadaan Naeun sebelum ia keluar dari Rumah Sakit."

"Baik Dok." Baekhyun mengangguk patuh dan pamit undur diri dari hadapan Dokter Kim. Langkahnya dengan cepat tertuju untuk kembali pada kamar dimana puterinya berada.

"Mommy!" sebelum Baekhyun melangkah masuk suara Naeun bahkan sudah menyapa lebih dulu tepat ketika tangannya membuka pintu kamar. Ada tangan yang melambai kearah Baekhyun dengan gerak lambat mengingat tangan kecil itu masih terpasang rangkaian jarum dan juga selang infus. "Mommy, Auntie Luhan membawakan Smoothies." Baekhyun bisa melihat tangan kiri anak itu tengah memegang satu gelas besar Smoothies yang mana berasal dari Toko-nya.

"Hm, habiskan ya.. buah bagus untuk membantu Naeun cepat sembuhh." Baekhyun mengusap kepala puterinya dan memberikan kecupan disana.

"Um! Naeun tidak mau tidur di rumah sakit."

Baekhyun lagi – lagi tersenyum melihat bagaimana puterinya merengut sebal mengingat mereka tidak bisa tidur dalam ranjang yang sama seperti dirumahnya.

"Maka dari itu.. Naeun tidak boleh sakit lagi. Jangan jajan sembarangan, jangan minum es terlalu banyak.. dan jangan lupa minum vitaminmu. Mommy selalu mengingatkan bukan?" Ada nada perintah yang tidak bisa dibantahkan terdengar pada celotehan Baekhyun yang mana membuat sang puteri kecil merasa sedikit kecewa.

"I am sorry Mom.."

Baekhyun memberikan senyuman hangat dan merengkuh badan puterinya, "It's okay baby.. Mulai sekarang selalu ingat apa yang Mommy katakan, yes?"

"Yesss!" Naeun mengangguk patuh.

"Sekarang.. dimana Auntie Luhan?" Baekhyun baru menyadari Luhan tidak berada diruangan kamar anaknya, hanya ada dua tas yang mana Baekhyun yakini itu adalah milik Luhan dan juga Yixing.

"Auntie mencari Mommy.. mau melihat Dokter.." polos suara Naeun yang menjawab mendapat tatapan datar membayangkan kedua temannya jelas tengah termakan ucapan Jongin yang mengatakan dokter yang memeriksa Naeun adalah sepupunya yang belum masih berstatus single.

Dasar wanita kesepian. Umpatannya hanya bisa ia katakan dalam hati dengan matanya yang memutar cepat.

.

.

"Jadi.. kau benar – benar mengalami impotensi?" Junmyeon mengatakan secara lantang sembari tangannya menutup ruangan kerja dimana ia berada, dan ada yang membalas dengan umpatan secara kasar dibelakangnya.

"Jangan katakan Yoora sudah menceritakannya padamu!"

Junmyeon mengangguk, melangkah untuk menuju tempat duduknya yang berhadapan dengan Chanyeol saat ini. "Itu alasan kedua kenapa aku memintamu untuk menjemputku di Rumah Sakit."

"Geez."

"Hey, kau belum menjawab!" Junmyeon menagih sebuah jawaban yang belum Chanyeol berikan mengenai pertanyaannya.

Dan Chanyeol membalasnya dengan gerakkan tangan mengabaikan, "Kau masih saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh kakakku itu."

"Well.. dia kakakmu."

"Dia suka berlebihan."

"Still.. dia kakakmu." Junmyeon memperjelas lagi.

Dan Chanyeol semakin duduk dalam lesu dengan wajahnya merenggut kesal layaknya anak kecil. "Dia terlalu berlebihan! Aku hanya kehilangan selera untuk menyetubuhi wanita – wanita untuk sementara waktu ini.."

"Oh." Wajah Junmyeon nampak serius, kedua tangannya terlipat diatas meja dan memperhatikan dengan serius bagaimana raut wajah Chanyeol dihadapannya. "Itu bisa dikategorikan sebagai gejala awal dari Impotensi, Yeol."

"Yaaa!" Ada yang mengamuk dengan lantang secara langsung sementara Junmyeon tertawa setelahnya. "Kau sama saja seperti Yoora." Chanyeol mengumpat kesal.

"Wow.. bukan hanya aku dan Yoora tepatnya.. Sehun dan Jongdae sudah mengetahu hal ini juga." Junmyeon menunjukkan ponselnya yang mana menampilka layar aplikasi pesan yang berisikan obrolan diantara dirinya dengan Sehun dan Jongdae dan tentunya membicarakan mengenai masalah 'impotensi' yang diderita Chanyeol saat ini.

"Kalian sungguh teramat sangat menyebalkan." Chanyeol tidak lagi mau berkomentar panjang menghadapi hal itu. "Cepatlah kau bergegas, bukannya hari Minggu kau tidak memiliki jadwal praktik?" Chanyeol melihat kearah jam dan mengingatkan lagi pada janji makan siang yang mana ia buat dengan ketiga teman – temannya hari ini. "Perjalanan menuju rumah Sehun memakan waktu cukup lama."

Junmyeon mengerutkan alisnya mendapati untuk pertama kalinya seorang Park Chanyeol memperdulikan waktu jarak yang harus ditempuh untuk mengunjungi suatu tempat.

"Sehun akan bertemu kita di rumah sakit.. pacarnya tengah berada disini." Informasi yang tidak telalu penting Jumnyeon berikan dan ia sudah terlalu paham bahwa Chanyeol tidak akan memperdulikan hal itu. "Jongdae juga sudah dalam perjalanan dekat menuju kemari.."

Dan kali ini Chanyeol tertarik, "Kenapa kita jadi berkumpul di tempat kerjamu?" badan besar itu membawa kursi yang ia duduki berputar dengan pelan sambil memperhatikan Junmyeon yang tengah melepaskan jas putih dokternya dengan setelan jas lainnya.

"Sepupu kami berdua ada disini, ia dan istrinya tengah menunggu dan membantu salah satu temannya yang mana puterinya tengah sakit—

Chanyeol terkekeh. "Takdir macam apa yang membuat pertemuan keluarga Kim dilaksanakan di Rumah Sakit."

Junmyeon ikut tertawa kecil. "Hm.. mungkin karena keluarga Kim yang memiliki Rumah Sakit ini." ada nada sombong membanggakan marga yang ia miliki dari suaranya dan Chanyeol tidak bisa membantah hal itu.

"Aku tidak bisa melawan Kakek Kim untuk hal ini."

Junmyeon mengangguk bangga kali ini ia bisa memenangkan adu pendapat dengan Chanyeol.

Meskipun Junmyeon sudah berganti pakaian dan memberikan laporan mengenai pemeriksaan pasien pada hari ini, ia dan Chanyeol masih bertahan menunggu kedua temannya yang lain yang mana belum menampakkan batang hidungnya. Jongdae mengabarkan sudah bertemu dengan Jongin dan pria itu berniat membawa sepupunya untuk bertemu Junmyeon bersamanya. Sementara Sehun saat ini tengah menunggu sang kekasih berpamitan dengan temannya setelah itu mereka akan menuju ruangan Junmyeon.

Junmyeon menjadi orang paling sabar diantara keduanya. Ia menunggu dengan diselingin sebuah buku bacaan dengan begitu damai dan tenang sementara pria satu lagi yang menunggu bersama dengannya tidak memiliki kesabaran tinggi seperti dirinya. Chanyeol berulang kali mengeluh dan bahkan bergerak tak sabaran pada kursi putar yang ia duduki. Sudah berulang kali kursi itu berpindah tempat dari sisi kiri dan kanan dengan begitu bebasnya mengikuti arahan si pemiliki pantat yang menduduki kursi itu.

"Jam berapa kita akan berangkat?" pertanyaan yang masih sama kembali Chanyeol ucapkan.

"Aiiissshhh lama sekali sih!" kini ia berdecak kesal dan bangkit dari tempat duduknya membawa dirinya untuk keluar dari ruangan kerja Junmyeon demi mendapatkan pemandangan yang lebih baik selain rak – rak yang mana dipenuhi buku – buku tebal kedokteran dan juga pemandangan sahabat baiknya yang lebih memilih membaca buku tebal layaknya kitab suci dibandingkan berbicara dengannya.

Chanyeol mengangguk puas dengan keputusannya untuk berdiri bersandar pada dinding depan ruangan Junmyeon, memandangi para perawat maupun dokter – dokter wanita yang sibuk berlalu lalang dihadapannya. Ada perasaan damai dan bahagia dalam benaknya mendapati ia bisa melihat kaki – kaki jenjang yang hanya dibalut rok mini melenggang dengan begitu indahnya.

See.. aku masih pria normal yang dengan mudahnya terangsang hanya karena melihat kaki dan sebagian bentuk dari payudara dan bokong wanita. Chanyeol meyakinkan dalam hatinya dengan pandangan yang masih tertuju kearah mereka yang berlalu lalang melewatinya.

"Yo!" suara lain mengalihkan fokusnya.

Pria berukuran badan lebih pendek darinya menghampiri tempat Chanyeol berdiri saat ini, pria itu berjalan tanpa rasa bersalah sedikit pun, memberikan senyuman lebar yang mana membuat matanya semakin tertarik membentuk garis lurus.

"Apa kabarmu Park Chanyeol~" sapaan yang menggelikan itu Chanyeol anggap sebagai cara temannya mengejek dirinya mengingat pria yang bernama Kim Jongdae ini sudah mengetahui mengenai 'Impotensi' yang dianggap tengah ia derita saat ini.

"Diam kau." Chanyeol memberikan tatapan tajam, berusaha mendorong badan Jongdae yang ingin memeluknya.

"Oh—kalian diluar? Dimana Suho Hyung?" satu suara lagi tiba – tiba bergabung, Sehun.

"Dia didalam." Chanyeol menunjuk pintu ruangannya dan tak lama setelah itu Jongdae berteriak memanggil nama panggilan dari Junmyeon dengan suaranya yang melengking tinggi.

"Jadi.." Sehun merangkul pundak Chanyeol dengan begitu mudah mengingat tinggi badan mereka yang hampir sejajar. "Bagaimana bisa Lucy kau abaikan begitu saja.." Lucy adalah nama wanita berpayudara besar yang menjadi mainannya Jum'at malam kemarin. Wanita yang tidak bisa membuat Chanyeol mendapatkan pelepasan dari hasil persetubuhan.

"Diam kau." Chanyeol berdecak kesal, emosinya semakin tersulut dan ia yakin hari ini teman – temannya akan menjadi tiga orang yang paling ia benci sepanjang hari mengingat masalah impotensi-nya akan dibahas sampai mereka puas. "Dimana kekasihmu?" pertanyaan yang sengaja ia lontarkan sebagai pengalihan.

Sehun menggeleng, "Dia bersama para sahabatnya."

"Ya, aku kira kau mau mendekatkan ia pada kami." Kini Junmyeon dan Jongdae sudah bergabung bersama mereka.

"Iya, aku juga berpikir demikian. Aku kira kau mau mengenalkannya pada kami—oh pada Chanyeol tepatnya. Hanya dia yang belum bertemu dengan kekasihmu."

Sehun menggeleng lagi, "Luhan-ku tidak mau bertemu dengan Chanyeol."

"Kenapa begitu?" Chanyeol yang merasa tersindir melayangkan pertanyaan sembari langkah mereka bergerak keluar dari area rumah sakit.

"Playboy, bajingan, berhati dingin. Bukan pria yang mau ia kenal." Sehun menjelaskan dengan gerakkan tangannya bergerak menyebutkan satu per satu kesimpulan yang bisa ia pikirkan mengenai pendeskripsian dari sifat Chanyeol.

Dua orang lainnya tertawa puas setuju dengan apa yang Sehun katakan.

"Well.. kau harus menambahkan." Chanyeol memberikan seringai percaya dirinya, "Tampan dan jutawan."

Ketiganya secara bersamaan memutar bola matanya jengah mendengar ucapan Chanyeol yang terdengar sangat percaya diri.

"Oh." Sehun memutar badannya untuk menghadap Chanyeol dan kini berjalan mundur secara perlahan, "Jangan lupakan impoten-mu." Ia menyeringai lebar dan kemudian berlari cepat menuju mobilnya untuk menghindari pukulan dari Chanyeol yang bergerak kearahnya.


A Man and A Woman


"Kyungsoo mengatakan kau datang bersama Sehun tadi.. dia kemana?"

Baekhyun tengah menyisir rambut panjang Naeun secara perlahan dan menyaksikan ketiga temannya yang kini tengah duduk bersama menikmati kotak makan siang yang dibawakan oleh Yixing.

"Hari Minggu adalah jadwalnya untuk bermain bersama para teman – temannya." Luhan menjelaskan dengan malas.

"Bermain? Apa mereka masih dibawah umur atau apa?" Yixing tertawa mengejek.

"Umur Sehun 24 tahun." Bukan Luhan yang menyebutkan, melainkan Kyungsoo.

"Kau serius?" Yixing nampak tidak percaya. "Dia lebih muda lima tahun darimu?" tangan wanita itu bahkan menunjukkan angka yang ia sebutkan dengan jelas.

"Umur bukanlah batas dalam percintaan." Luhan menjawab dengan santai dengan tambahan smirk menggoda dimatanya. "Kegagahannya bahkan bisa membuatku terkapar diatas ranjang—

"Okey.. sensor please.." Baekhyun mengingatkan dengan cepat, tangannya bahkan lebih dulu menutup kedua daun telinga puterinya agar tidak mendengarkan kata – kata tidak pantas yang bisa saja diucapkan begitu saja dari ketiga tantenya.

"Ups." Luhan menutup mulutnya. "Mian."

"Wow." Yixing masih membayangkan dan rasa tidak percaya jelas meliputi dirinya. "Dimana kalian bertemu.. aku rasa aku ketinggal gossip mengenai dirimu belakangan ini, aku bahkan tidak tahu kapan kau putus dengan pacarmu sebelumnya."

Baekhyun dan Kyungsoo tertawa mendengarnya.

"Aku bertemu dia di Bar, ingat ketika aku mengajak kalian semua untuk berkumpul di Galaxy Bar?" ketiganya mengangguk. "Bar itu adalah miliknya, ia sungguh manis dan tampan.." Luhan membayangkan kembali saat dimana dirinya bertemu sang kekasih untuk pertama kalinya.

"Itu adalah lima hari lalu?" Yixing mempertanyakkan, sementara Kyungsoo dan Baekhyun hanya mengangguk membenarkan. "Kau baru bertemu dia lima hari lalu?" kini pertanyaan dilontarkan kearah Luhan.

"Iya." Luhan tanpa rasa bersalah dan ragu ikut membenarkan. "Sudahlah Eonnie.. cinta tidak mengenal waktu.." permainan kata kembali dilakukan oleh Luhan.

"Kau benar –benar.." Yixing menggeleng tak percaya dan Luhan hanya membalasnya memberikan senyuman dengan deretan giginya.

"Percayalah.. dia benar – benar sangat cocok untukku."

"Oh, benarkah?" kini Baekhyun yang nampak takjub mendengar salah satu temannya yang mana ia kenal suka berganti pasangan dalam hitungan hari kini mampu menjelaskan mengenai kecocokkan antara dirinya dan sang pria yang baru menjadi kekasihnya.

Luhan mengangguk, "Sangat. Kami berdua Flexible, memiliki hasrat—Naeun tutup telingamu sayang—" Naeun dengan cepat melakukannya—"Ia bisa memberikan kepuasan dalam segi apapun, permainan seksnya luar biasa diluar ekpektasi yang aku inginkan." Ketiga temannya menggeleng dan tertawa kecil, "dan Ia juga penuh kasih sayang.. tidak terlihat begitu posesif.. dan ya.. dia mengerti apa yang aku inginkan."

Ketiga sahabatnya jelas sudah mengenai dengan baik bagaimana sifat Luhan dan memahami mengenai hubungan apa yang ingin dimiliki oleh sahabatnya itu.

"Kalau menurutmu dia adalah pria yang sempurna.." Baekhyun angkat bicara, masih menyisirkan rambut sang puteri yang duduk di pangkuannya. "Kami hanya bisa berdoa kali ini dia adalah pria yang akan menghabiskan waktu bersamamu hingga seterusnya.. kami hanya ingin kau bahagia."

"Betul sekali." Kyungsoo menyetujui.

"Bukan hanya pria – pria selingan yang selalu cepat datang dan pergi sesuka hatinya meninggalkan dirimu patah hati setelahnya." Yixing mengingatkan kejadian – kejadian yang mana sudah berulang kali terjadi dari hubungan percintaan yang dimiliki Luhan.

"Aku juga berharap demikian." Luhan mengamini dan juga ikut mendoakan dalam hatinya.

Mereka berempat dan juga Naeun kembali dalam diam dan disibukkan dengan melanjutkan makan siang masing – masing yang masih nampak tersisa begitu banyak mengingat sedari tadi mulut mereka terlalu sibuk untuk berbicara dibandingkan menyantap makanan.

"Ngomong – ngomong..Kyungsoo-ya.." Luhan sedikit mendorong badan Kyungsoo disampingnya dengan gerakkan pelan. "Kau belum menceritakan pria sempurna yang kalian temui di Bar." Luhan menggoda kearah Baekhyun setelahnya.

"Aish—kau menceritakannya?" Baekhyun menunjuk pada Kyungsoo.

Dan wanita bermata bulat itu tercengang tidak terima."Of Course I am! Ya! Malam itu adalah untuk pertama kalinya kita bertemu setelah sekian lama, dan itu adalah pertama kalinya ada seorang pria yang mendatangi meja kita, memujimu, dan juga memperlihatkan ketertarikannya padamu tapi kalian tahu?" matanya bertanya kearah Luhan dan Yixing. "Teman kita ini mengabaikannya dan mengajakku pulang."

Yixing mendengarkan dan tidak memberikan ekspresi apapun sementara Luhan menyayangkan hal itu, "Baek…. Why?!"

"Why?" Baekhyun berbalik mempertanyakkan. "He is stranger. Dan setiap pria yang kita temui di Bar bukanlah pria baik – baik." Ucapannya dianggap benar oleh Yixing mengingat mereka berdua pernah mengalaminya secara langsung beberapa tahun silam.

"Pengalaman mengajarkan banyak hal, bukan begitu Byun?" Yixing ikut mendukung.

"Betul sekali." Baekhyun lagi – lagi meyakinkan.

"But.. he is so freaking handsome!" Kyungsoo memberikan penjambaran mengenai pria yang mereka temui kemarin, bagaimana rupa dan penampilannya, bagaimana suaranya yang terdengar rendah namun tersirat nada mutlak tak terbantahkan. "Bayangkan ketika ia mengerang diatasmu dan menjadi pria dominan.." Baekhyun lagi – lagi harus menutup telinga Naeun dan puterinya itu hanya tertawa melihat tingkah laku Kyungsoo yang tengah terbuai dalam pendeskripsian sang pria asing itu.

"Hentikan Kyung.. ingat suamimu.." Baekhyun memperingati mengingatkan sahabatnya agar tidak jatuh cinta pada pria itu.

"Dia benar – benar sempurna. Seandainya aku belum menikah dengan Jongin, malam itu juga aku akan memohon pada si pria itu untuk menikahiku."

Ketiganya tertawa membayangkan hal gila yang akan Kyungsoo lakukan. "Sayangnya Jongin sudah menikahiku.. dan aku harus puas dengan itu."

"Hey—Jongin adalah pria sempurna, ingat?" Baekhyun memperingatkan lagi.

"Okey.. aku jadi semakin penasaran." Luhan masih menuntut kelanjutan ceritanya, "Tidakkah kalian berkenalan?"

"Oh! Tentu saja~!" lagi – lagi hanya Kyungsoo yang bersemangat memberikan kelanjutan ceritanya. "Aku bahkan masih ingat bagaimana suaranya menyebutkan namanya.."

"Chanyeol.. Park Chanyeol." Kyungsoo menirukan suara pria itu dengan nada rendah pada vokalnya sementara Baekhyun ikut mengikutinya namun tanpa suara yang terdengar, hanya gerak mulutnya yang bergerak melafalkan nama pria itu.

Sementara satu orang yang sudah menanti siapa nama pria yang berkenalan dengan sahabatnya seketika tersedak dan bahkan hampir menyemburkan minuman Smoothies yang mana masih berada didalam mulutnya.

/tebece/.