"Loey Oppa!"

Tak ada lagi yang bisa menahan senyuman di wajah Chanyeol untuk terbentuk dengan sempurna dan juga menahan langkah kakinya untuk bergerak cepat menuju ranjang dimana sosok anak kecil yang sedari tadi ia cari keberadaannya.

"Loey Oppa datang!" sahut Naeun yang sama – sama begitu antusias melihat kehadiran Chanyeol disana.

"Tentu saja." Chanyeol menyahut, memeluk badan Naeun dengan pelan mengingat ia sempat melihat selang infuse masih melilit di pergelangan tangan Naeun.

"Apa masih sakit? Hm, badanmu demam?" kekhawatiran Chanyeol masih terlihat jelas ketika menyentuh kening Naeun untuk memeriksa suhu badan anak itu sementara Naeun menggeleng cepat dengan senyuman lebar diwajahnya.

"Naeun sudah minum obat!" ia memekik bahagia menunjukkan beberapa obat yang terlihat di nakas dekat ranjangnya. "Naeun sudah sembuh, tapi Mommy belum mau membawa Naeun pulang sebelum Om Dokter datang..nngg." ada suara merajuk diakhirnya dan tentunya membuat Chanyeol yang mendengarkan tergerak gemas untuk mengusak rambut anak itu tapi setelahnya ia menyisir rambut Naeun dengan tangannya untuk merapikan.

"Mommymu benar sayang, Om Dokter harus memeriksa keadaan Naeun lagi.. lalu kalau dia bilang Naeun sudah sembuh dan boleh pulang.. barulah Naeun pulang kerumah."

Naeun mengangguk patuh, masih menunjukkan senyumannya yang nampak begitu manis mendapati Chanyeol berada bersamanya, menjenguknya dan juga membawakan sebuah bingkisan di tangannya. "Oppa bawa apa?"

"Oh! Aku melupakan ini." Tangan Chanyeol menunjukkan bingkisan buah dan juga beberapa cokelat serta boneka kecil yang terhias rapi didalam keranjang bingkisan yang tengah ia bawa. "Nanti minta Mommy untuk mengupas beberapa buah jeruknya ya.."

Naeun mengangguk patuh, memperhatikan bagaimana Chanyeol meletakkan bingkisan buah dan cokelat tapi tak lupa untuk memberikan boneka kecilnya kearah Naeun—dan tentunya segera dipeluk erat oleh anak itu.

"Gomawo Oppa." masih dengan senyuman lebar dan hidung yang mengerut gemas Naeun menunjukkan rasa terima kasihnya kepada Chanyeol.

"Cepat sembuh Princess.." Chanyeol melebarkan kedua tangannya untuk bisa memeluk badan Naeun, ia sempat mencium pucuk kepala anak itu dan juga memberikan usapan sayang pada bahu kecil Naeun.


A Man & A Woman

Chapter 4


"Loey Oppa datang?"

Naeun mengangguk dan menurut ketika sang Ibu menyuapkan beberapa batang kotak kecil kedalam mulutnya.

"Kapan? Kenapa Mommy tidak melihat Loey Oppa datang? Lalu kapan pulangnya?"

"Mommy.. Loey Oppa cuma sebentar karena Eomma Loey Oppa menelepon lalu Loey Oppa pergi dengan cepat untuk pulang.." puterinya berusaha menjelaskan sembari terus mengunyah guna menghabiskan cokelat didalam mulutnya.

Baekhyun mengangguk ragu, melihat kembali bingkisan yang nampak diatas nakasnya dan juga boneka kecil masih berada dekapan Naeun dan juga tengah dimainkan oleh puteri kecilnya.

"Mommy.. kalau besok Om Dokter bilang Naeun sudah sembuh, Naeun bisa pulangkan?"

Baekhyun mengangguk. "Makanya Naeun harus istirahat malam ini, jangan bermain game terlalu lama eoh. Biar tidak demam lagi."

Puterinya mengangguk patuh, Baekhyun bahkan tidak kesulitan mengajak Naeun untuk cuci muka dan juga menyikat gigi setelah menyelesaikan memakan beberapa batang cokelat. Dan ketika lampu ruangan rumah sakit Baekhyun redupkan, Naen dengan cepat memejamkan matanya dan mencari kenyamanan didekat dekapan Baekhyun setelah beberapa menit kedepan sang puteri tertidur lelap dengan senyuman yang masih terlihat diwajahnya.

"Good night Princess, cepat sembuh sayang." Kecupan singkat Baekhyun berikan di kepala puterinya sebelum ia turut memejamkan matanya menyusul Naeun dalam dunia mimpi.

.

Tak hanya Baekhyun dan juga Naeun yang nampak senang ketika mendengar apa yang dikatakan Dokter Junmyeon mengenai ijin bahwa Naeun bisa kembali kerumah pada hari itu. Zi Tao dan juga Kris yang kebetulan tengah berkunjung pun turut merasakan lega mendengarnya.

"Aku akan menuliskan beberapa resep obat tambahan untuk diminum dirumah, ini untuk 1 minggu kedepan." Sosok dokter yang mengenakkan jas dengan name tag Kim Junmyeon lekas menuliskan rentetan nama – nama obat pada kertas resepnya lalu menyerahkan pada suster yang mendampingi dirinya.

"Terima kasih banyak Dokter Kim." Baekhyun sedikit menunduk dan memberikan senyuman ramah kearah dokter itu.

"Bukan masalah, aku senang Naeun bisa lekas sembuh dan kembali ke rumah, tidak baik berada begitu lama di rumah sakit, ia pasti akan merasa bosan." Dan sang Dokter membalas senyuman kearah semua yang ada disana, ia bahkan sempat mengusap pipi Naeun sebelum akhirnya pamit untuk undur diri.

Helaan nafas Zi Tao terdengar begitu saja hingga terdengar oleh Baekhyun dan juga Kris suaminya, "Untung saja hari ini Naeun sudah diijinkan Baekhyunnie.. dokter tadi itu betul – betul dokter anak? Dia yang memeriksa Naeun sedari awal?"

Baekhyun mengangguk, meskipun merasa janggal kenapa istri dari Kris tiba – tiba menanyakkan mengenai dokter Kim Junmyeon. "Kenapa memangnya?" sahutnya berbalik bertanya.

Zi Tao nampak berpikir sesaat, "Kenapa wajahnya lebih tampan dibandingkan Jongin?"

"YAA~" sahutan protes dari Baekhyun dan juga Kris terdengar bersamaan.

"Kau ini.. mereka itu sepupu." Suara Baekhyun memberikan klarifikasi.

"Ya! Huang Zitao! Sempat – sempatnya kau melirik dokter itu." Suara protes dari suaminya, tak terima istrinya memiliki waktu untuk membandingkan sang dokter dan juga suami dari sahabatnya, Kyungsoo.

"Aniya.. aku hanya tidak percaya kenapa Jongin memiliki gen yang berbeda dengan sepupunya yang dokter ini."

Mendengar ucapan Tao, Baekhyun sempat tertawa kecil meskipun ia baru saja kembali dari arah lemari guna merapikan beberapa pakaian dan juga perlengkapan lainnya. "Aku harap Kyungsoo bisa mendengar ini—

"Ya! Jangan! Dia lebih menyeramkan daripada Kris saat marah." Zi Tao sedikit berteriak sebelum pada akhirnya Kris mengingatkan karena mereka masih berada dalam ruangan rumah sakit dan juga Naeun mendengarkan di tengah – tengah mereka.

Naeun nampak memperhatikan Mommy dan dua orang lainnya berbincang, sementara ia duduk diam diatas ranjang sambil tetap memeluk boneka kecil yang kini menjadi mainan kesayangannya.

"Baekhyunnie.. apa yang kau katakan di grup itu benar, sosok Loey Oppa itu datang menjenguk?" Bisik Zi Tao saat menghampiri Baekhyun yang tengah melipat beberapa pakaian, ia sempat meminta Kris untuk duduk dekat Naeun sebagai pengalihan sebelum akhirnya ia bertanya dalam bisiknya mempertanyakan isi pesan yang sempat Baekhyun kirimkan di grup dimana Luhan, Kyungsoo, Minseok dan juga Yixing bergabung.

"Bagaimana rupanya? Apakah dia tampan? Masih muda? Atau dia nampak seperti Ahjussi?" Zi Tao mencecar Baekhyun dengan beraneka pertanyaan namun yang tengah ia tanyai saat ini termenung dalam diam dengan raut wajah nampak berpikir meskipun tangannya tetap bergerak merapikan beberapa pakaian.

"Sa-sayangnya aku tidak sempat menemui pria itu." Baekhyun berpindah posisi ke tempat duduk sama halnya dengan Zi Tao. "Aku hanya tahu dia datang, melihat bingkisan buah dan juga beberapa cokelat, termasuk dengan boneka baru yang di peluk Naeun semalam."

Zi Tao mengangguk, melihat kembali kearah bingkisan dan juga boneka yang masih berada di pelukan Naeun. "Apa dia memang semisterius itu? Tidak ingin diketahui kehadirannya.. sedikit menakutkan kau tahu."

Baekhyun bergeming dalam diam.

"Bukankah aneh dia begitu baik terhadap puterimu.. tapi tidak pernah menunjukkan dirinya padamu, kau Ibu-nya."

"Kalau aku mempunyai perasaan aneh terhadap pria itu adalah hal yang wajar kan?"

"Tentu saja!" Zi Tao mengangguk setuju. "Jaman sekarang kita harus berhati – hati terhadap siapapun.. bisa saja dia baik diawal tapi ternyata dia jahat."

Baekhyun lagi – lagi menyetujui ucapan Zi Tao.

"Apa aku harus mengantar jemput Naeun saat kursus musik nantinya? Belakangan Irene dan Minseok yang selalu menjemputnya.. jadi mungkin aku harus kembali menjemput puteriku sendiri dan melihat langsung bagaimana rupa dari 'Loey Oppa' itu."

Kris yang sedari tadi mendengarkan mengerutkan alisnya kemudian mengalihkan wajahnya untuk melihat kearah dua orang wanita yang masih serius membicarakan sosok pria asing.

"Irene dan Minseok mungkin pernah melihat sosok Loey itu." Tiba – tiba mulutnya berucap begitu saja dan membuat Baekhyun menatapnya penuh tanya.

"Bisa jadi bukan? Kau bilang Irene dan Minseok selalu menjemput Naeun di sekolah musiknya.. mungkin saja mereka tahu siapa itu Loey Oppa yang dimaksudkan—

"Aunty Irene pernah bertemu Loey Oppa Mom!" dan sahutan suara Naeun memberikan jawaban mengejutkan.

"Well.. kita bisa bertanya pada Irene setelah ini." Zi Tao lagi – lagi berbisik sinis, akhirnya pertanyaan dalam dirinya dan juga Baekhyun belakangan bisa didapatkan setelah mengetahui bahwa selama ini Irene tahu bagaimana rupa dari sosok yang selalu dipanggil Loey oleh puteri kecil Baekhyun.


A Man & A Woman


Hari Senin bisa dikatakan hari yang sangat menyebalkan bagi beberapa orang, bukan hanya menjadi hari pertama setelah menghabiskan dua hari weekend tapi juga merupakan hari dimana akan terlihat sangat sibuk dan jam – jam dalam satu hari itu akan terasa lebih lama dibandingkan hari – hari lainnya. Seperti yang dirasakan oleh beberapa pegawai yang menghadapi hari Seninnya dengan rapat disebuah kantor./dan besok senin. Huft-lah/

"Kau memilih hari yang salah untuk meeting denganku." Chanyeol menggerutu kesal ketika masuk kedalam ruangan meeting dimana kakaknya, Park Yoora dan juga Jessica—sepupu jauhnya –berada duduk dan terlihat siap untuk membicarakan mengenai acara mendatang yang akan digelar.

Jessica memiliki sebuah brand fashion bernama Blanc & Eclare yang mana termasuk brand dibawah naungan Park Group. Dan untuk menarik perhatian para konsumen fashion lainnya kali ini ia ingin menggunakkan nama Chanyeol yang akan mudah menarik para wanita – wanita sosialita dengan mengundang pria itu untuk terlibat dalam acaranya.

"Hai tampan." Jessica menyambut, bangkit berdiri kearah Chanyeol yang tengah mencari tempat duduk. Memeluk sepupu tampannya dan juga memberikan beberapa ciuman di pipi. "Kenapa kau makin tampan dan membuat teman – temanku menggila hm." Ada cubitan kecil di telinga Chanyeol yang Jessica berikan ketika ia mengingat lagi nama Chanyeol pernah membuat beberapa temannya bertengkar hanya karena salah satu mereka pernah dikencani dan juga ditiduri oleh sepupunya ini.

"Tanyakkan pada Dewa yang menurunkan wajah tampannya untukku." Jawaban santai dari Chanyeol membuat Yoora memutar bola matanya dan juga merasa sedikit muak mendengarnya.

"Kita akan membicarakan apa?" Chanyeol duduk pada tempatnya begitu juga Jessica yang kembali pada tempat duduknya, kini mereka bertiga mulai membuka laptop masing – masing dan kembali fokus pada topik utama adanya pertemuan yang diadakan secara mendadak ini.

"Jessica sudah mempunya konsep untuk dekorasi dan juga menu makanan yang ingin disajikan pada saat acara, Coctail Party..seperti biasa." Yoora mulai menjelaskan.

"Aku juga akan mengadakan runway fashion show dengan model – model, mereka akan memakai design baju dan juga perhiasanku.. lalu kau juga ikut termasuk." Tangan lentik Jessica menunjuk kearah Chanyeol yang terlihat tidak terima dirinya akan dipergunakkan dalam acara dimana ia berandil besar dalam memberikan modal disana.

"Kau harus setuju." Yoora mengingatkan bahwa adiknya tidak bisa menolak karena sebuah alasan yang masih ia simpan.

"Kenapa begitu?"

"Karena kau playboy, keturunan Park—ahli waris Park untuk diperjelas, Milliarder dan tampan." Jessica lebih dulu menjawab alasan ia meminta Chanyeol untuk ikut serta memperagakan hasil designnya selama ini.

Chanyeol mendesah kesal, wajahnya ia usap lalu menggeleng tidak percaya ketika melihat Yoora dan Jessica nampak girang, dua gadis dewasa itu bahkan melakukan toss karena rencananya berhasil.

"Kau tidak akan menyesal, aku janji." Yoora melihat kearah adiknya, menampakkan wajah licik dimana itu sangat menyebalkan bagi Chanyeol yang melihatnya.

"Selain itu apalagi rencananya?" Chanyeol mengalihkan, melihat susunan acara yang nampak di layar laptopnya. "Closing Party?" alisnya mengerut penuh tanya mendapati tulisan tersebut didalam daftar acara namun tertulis di penghujung acara.

"Oh itu—" Jessica berniat menjelaskan. "Opening dan juga Fashion Show akan diadakan di store kami, namun aku ingin mengadakan Closing Party untuk beberapa buyer yang membeli beberapa pakaian atau aksesorisku saat acara, sebagai hadiah kecil untuk mereka. Dan Closing Party akan aku adakan di Bar milik Sehun, apa menurutmu memungkinkan?"

Chanyeol nampak berpikir, menyandarkan badannya di sandaran kursinya.

"Sehun sudah setuju, dia akan menutup bar-nya di tanggal tersebut, tapi aku masih memikirkan kemungkinan apakah memungkinkan meminta para buyer untuk kembali berkendara kearah Bar Sehun. Perjalan memakan waktu 20 – 30 menit, bila lancar." Yoora menjelaskan kendala yang menjadi perdebatan dengan Jessica sebelum meeting ini dimulai.

"Aku berpikir pasti mereka akan merasa malas untuk berkendara kearah sana—"

Chanyeol menggeleng. "Sediakan limosin untuk para buyer, selama kita mengakomodasi mereka, memberikan pesta dan alcohol, mereka tidak akan bisa mengatakan tidak. Lagi pula mereka pun sudah membayar cukup mahal untuk membeli apa yang kau jual disana..jadi kita sediakan limosin dan juga membayar polisi untuk membantu menutup jalan ketika berjalan kearah sana."

"Briliant!" Yoora dan Jessica memekik senang mendengar jawaban Chanyeol, "Kau yang akan menyediakan limosinnya kan?" Yoora menunjuk sinis kearah Chanyeol.

"Kalian memanggilku hanya ketika membutuhkan uang hm."

"Tentu saja!" lagi – lagi kedua wanita itu menjawab bersamaan.

.

.

Meeting mengenai acara Jessica berlanjut hingga menghabiskan waktu hampir 3 jam lamanya, mengenai konsep, dana, pengisi acara dan bahkan segala hal kecil berhasil dibicarakan oleh pihak – pihak pemegang saham dimana yang dimaksud adalah Yoora dan juga Chanyeol, setelah itu Jessica pamit untuk undur diri untuk melanjutkan kembali meetingnya dengan timnya di kantor Blanc & Eclare.

Chanyeol sebenarnya ingin mengikuti dan bahkan menawarkan diri untuk mengantarkan Jessica supaya ia bisa beralasan untuk pergi keluar dari ruang meeting. Dirinya enggan untuk bersama dengan Yoora seorang diri karena kakaknya itu hanya bisa meledeki dirinya bila tidak ada topik pekerjaan yang ada untuk dibicarakan.

"Apa lagi yang ingin kau bincangkan." Chanyeol yang masih bersandar di kursinya kini mulai berputar – putar, membawa kursi itu untuk bergerak kesana kemari sesuai keinginan kakinya. Nampak seperti anak kecil yang tengah jenuh duduk berlama – lama.

"Kita belum membicarakan mengenai Baekhyun dan Redberry." Sahutan Yoora berhasil membuat Chanyeol menahan kakinya bergerak lalu melihat kearah Yoora dengan tatapan serius.

"Apa maksudmu dengan Baekhyun dan juga Redberry?"

Yoora membalas dengan senyuman puas, ia tahu adiknya memiliki kerja otak yang cukup pintar dan tentunya maksud dari kalimatnya yang menyebutkan Baekhyun dan juga Redberry secara bersamaan bisa dimengerti dengan baik.

"Menurutmu?" tapi ia tetap ingin mengerjai adiknya dan tentu mengetes apakah kinerja otak Chanyeol masih sepintar seperti dahulu.

Chanyeol tidak memberikan sahutan apapun kearah Yoora, mereka saling bertatap dalam diam cukup lama sebelum kemudian adiknya itu bangkit berdiri berniat melangkah pergi namun tetap mengajak Yoora untuk ikut serta bersamanya.

"Wae?" kini giliran Yoora yang bertanya ketika lengannya ditarik paksa oleh sang adik.

"Kau harus ikut."

"Kenapa begitu?"

Chanyeol berpikir sejenak, "Kau yang akan menawarkan kerja sama dengan Baekhyun—maksudku dengan Redberry, tentu saja kau harus ikut."

"Aku tidak mengatakan Baekhyun ada di Redberry.." elak Yoora masih berniat untuk mengerjai adiknya.

Dan Chanyeol tertawa sebal, "Aku sudah paham betul dengan permainan kata – katamu, cepat rapikan. Kita masih memiliki pekerjaan Nona Muda." Chanyeol merapikan beberapa dokumen dan juga buku catatan Yoora, ia bahkan rela membantu sang kakak yang menurutnya menyebalkan itu hanya demi mengklarifikasi informasi yang Yoora berikan padanya.

Benarkah Baekhyun akan ia temui di Redberry?


A Man & A Woman


"Apa Ibu yang memberikan informasi ini kepadamu?"

Chanyeo melemparkan pertanyaan ke arah Yoora ketika mereka tengah dalam perjalan menuju took Redberry, sebelumnya Chanyeol nampak diam dan begitu terburu – buru untuk segera menjalankan mobilnya keluar dari gedung kantornya dan sedari tadi pun Yoora enggan memulai pembicaraan hingga akhirnya Chanyeol lebih dulu memulai sekarang.

"Aku belum sempat meminta bantuan Ibu.. aku pun baru mengetahuinya tadi setelah sempat membicarakan mengenai masalah makanan dengan Jessica."

Chanyeol mendengarkan meskipun fokusnya tengah terbagi antara gerak kaki yang tengah menginjak pedal gas begitu dalam dan juga fokus matanya pada jalanan dihadapannya, belum lagi tangannya yang tengah memegang kendali penuh pada stir kemudi mobil.

"Aku memiliki kartu nama sang pemilik Redberry.. dan saat menunjukkan pada Jessica untuk coba kami hubungi, kau bisa menebak siapa nama yang tertulis disana?" Yoora melempar pertanyaan lagi kearah sang adik.

"Baekhyun." Dan sang adik menjawab serius.

"Bingo." Yoora tersenyum. "Namanya Byun Baekhyun." Melengkapi nama lengkap yang tertera di kartu nama yang mana kini ia tunjukkan kearah sang adik. "Nomor ponselnya tertera disana.." sebuah senyuman terlihat terbentuk diwajah Yoora.

Dan Chanyeol lekas mengambil kartu nama itu, memasukkannya pada kantong dalam jas hitam yang ia kenakkan. Kini dirinya kembali terpacu untuk membawa mobilnya lebih cepat sampai di Redberry sebelum kesempatannya melihat sosok wanita yang sudah membuat dunianya terombang ambing.

.

Sementara di Redberry,

Baekhyun tengah memanggil Irene, Minseok dan Yixing kedalam ruangan kantornya guna membicarakan penawaran yang baru saja ia dapatkan sebelumnya dari sambungan telepon.

"Aku rasa tidak merugikan untuk kita coba." Dan kini mereka tengah mengadakan pemungutan suara setelah Baekhyun menjelaskan mengenai penawaran untuk ikut terlibat dalam sebuah acara pergelaran sebuah brand fashion bernama Blanc & Eclare.

"Aku setuju! Sangat setuju!" dan Irene menjadi sosok paling semangat selain Minseok yang ikut memekik setuju. Keduanya mengetahui nama brand yang disebutkan Baekhyun memang cukup terkenal di Negeri Paman Sam meskipun sang pemiliknya adalah keturunan Korea.

Baekhyun nampak berpikir panjang ia bahkan tidak menyadari tengah mengigit bibir bawahnya—kebiasaan yang sudah lama ia lakukan ketika tengan memikirkan banyak hal.

"Aku sangat yakin kau bisa memuaskan mereka B.." Minseok kembali memberikan pemahaman karena perasaannya jelas bisa melihat sahabatnya itu masih memiliki segala beban untuk menyetujui ikut bergabung dan terlibat di acara dari merk besar itu. "Aku tahu bagaimana profesionalnya dirimu, dan bakat yang kau punya akan sangat disayangkan bila hanya diperlihatkan oleh pelanggan – pelanggan biasa seperti sekarang. Ketika hasil karyamu diperlihatkan dikalangan para sosialita dan juga pengusaha – pengusaha lainnya.. mungkin saja ini menjadi kesempatan besar untuk mewujudkan mimpimu yang lainnya."

"Aku ingin menyampaikan hal itu. Sebenarnya.." Yixing kembali memberikan dukungan dari kalimat panjang yang Minseok ucapkan. "Please say yes.." setelahnya ia memohon kembali.

"Eonnie.. kau pasti tidak akan mengecewakan mereka.." bahkan Irene ikut bergabung membujuk Baekhyun.

Setelah pusing mendengarkan segala bujuk rayu untuk menerima tawaran tadi, akhirnya Baekhyun memekik mengiyakan dan yang lainnya nampak lebih bahagia dibandingkan Baekhyun.

"Yaa! Kalian harus kerja lembur kedepannya!"

Irene mengumpat kesal dengan bibirnya merajuk, "Eonnie, aku benci melihat dirimu saat menjadi Bossy!" gadis itu memprotes namun karena takut mendengar teriakan Baekhyun sebagai balasannya, ia memilih kembali kearea café guna mengawasi karyawan lainnya.

Sementara Yixing dan Minseok hanya tertawa dan membantu menenangkan Baekhyun yang hendak memarahi salah satu karyawan kepercayaannya.

"Dasar gadis es." Baekhyun mengumpat lalu ikut tertawa bersama Minseok dan juga Yixing, dan setelahnya ia baru teringat bahwa puteri kecilnya tengah tertidur di sofa ruangan kerjanya.

.

.

"Kau sudah membawaku kesini tapi tidak ingin ikut turun?" Yoora menatap kesal kearah Chanyeol yang mengatakan memilih untuk menunggu didalam mobil sementara Yoora bertemu dengan wanita bernama Baekhyun, pemilik Redberry.

"A-aku akan menunggu didalam.. akan terasa percuma kalau ternyata Baekhyun yang dimaksud bukan Baekhyun yang aku cari." Pembelaan dari Chanyeol terdengar bisa dipahami namun bagi Yoora itu hanyalah alasan yang menunjukkan adiknya adalah seorang pengecut.

"Dasar lemah!" umpatan Yoora dibalas pula dengan umpatan Chanyeol sebelum pintu mobil tertutup.

Selain karena keinginan Chanyeol untuk mengkonfirmasi apakah Baekhyun yang menjadi pemilik dari Redberry benar – benar Baekhyun yang mana adalah wanita ia cari sejak beberapa hari yang lalu, Yoora memang sudah menjadwalkan diri untuk datang berkunjung untuk membicarakan masalah penawaran kerja sama yang sempat ia dan Jessica bicarakan dengan sang pemiliki di telepon sebelumnya.

Langkahnya ia bawa santai dengan tangannya membawa tas kerja miliknya, ketika ia masuk kedalam ruangan café Redberry dan mendapat sambutan dari para karyawan disana. Yoora sempat mencari – cari wajah yang ia kenal, Irene. Namun belum menemukan gadis itu bergabung dibelakang meja kasir, sehingga membuat Yoora melangkah kearah kasir.

"Hai.." sapanya lebih dulu dengan ramah.

"Selamat siang Nona, anda mau pesan?" dan sang karyawan membalas lalu menanyakkan mengenai pesanan yang mungkin akan dipesan olehnya.

"Um.. aku mencari Nona Irene atau Baekhyun? Sebelumnya aku sempat menelepon—

"Oh! Annyeong haseyo." Dan sosok yang Yoora cari sebelumnya secara tiba – tiba muncul menyapa dirinya.

"Oh, Irene-ssi.." Yoora tersenyum.

"Apakah Anda mencari Nyonya Baekhyun? Aku akan memanggilnya." Yoora mengangguk cepat dan juga senang mendapati kehadirannya saat ini sudah diketahui oleh Irene, ia bahkan sempat bertanya – tanya apakah Baekhyun sudah menjelaskan mengenai penawaran kerja sama yang mereka bicarakan kepada karyawannya.

"Terima kasih, Ah! Apakah aku boleh menunggu di meja sebelah sana." Yoora menunjuk salah satu meja yang terletak di dekat kaca dimana memilik maksud agar Chanyeol bisa melihat dengan jelas sosok Baekhyun nantinya.

Irene mengangguk mempersilahkan, wanita yang memiliki badan lebih kecil dari Yoora bahkan menawarkan aneka minuman dan juga mungkin kue – kue yang ingin dicicipi selagi menunggu Baekhyun bergabung dan mereka membicarakan masalah bisnis.

Yoora menyamankan duduknya, lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirimkan kode pada sang adik yang bisa ia lihat menunggu dengan tenang namun tetap memperhatikan kearah dirinya saat ini.

Dia akan keluar sebentar lagi, berterima kasihlah pada Tuhan karena sang pemilik belum pulang kerumahnya.

Pesan yang Yoora kirimkan kepada sang adik tidak mendapatkan jawaban, dirinya merasa tidak heran mengingat Chanyeol adalah salah satu orang paling malas membalas pesan – pesan darinya terlebih itu adalah hal tidak penting. Menit setelahnya, ia mengalihkan pandangannya kepada sosok sang pemilik, wanita bernama Baekhyun.

Kikuk adalah apa yang terlihat diantara keduanya saat bertemu.

Yoora merasa kaget karena bayangan wanita dengan penampilan sexy bak model dan juga berdada besar atau pun terlihat begitu sensual seperti wanita – wanita yang selalu menjadi teman mainan adiknya lenyap begitu saja ketika dirinya melihat bagaimana penampilan Baekhyun saat ini.

Wanita yang memiliki tinggi tak jauh darinya yang berdiri dihadapannya saat ini tengah tersenyum ramah, dengan suaranya yang lembut memberikan salam dan juga memperkenalkan diri terlihat sangat sopan dan santun. Terlebih dengan cara berpakaiannya yang nampak begitu sederhana tapi terlihat begitu indah dibadannya. Model dress midi tanpa motif berwarna merah muda, riasan di wajah yang begitu minimalis serta rambutnya yang nampak begitu lembut tergurai begitu saja sudah cukup membuat sang pemilik terlihat cantik dan manis.

"A-ah.. Aku Park Yoora." Gugupnya terlihat bahkan bisa membuat bibirnya begitu kaku hanya untuk menyebutkan namanya.

"Ah, nde.. Anda yang meneleponku sebelumnya, dengan Jessica-ssi." Baekhyun membalas, mempersilahkan lawan bicaranya untuk duduk demikian dirinya yang menyusul.

"Kau masih terlihat sangat muda.. wow." Yoora menjelaskan alasannya yang nampak begitu tak siap bertemu dengan Baekhyun.

Senyum Baekhyun masih mengembang di wajahnya, ia pun turut memuji bagaimana cantiknya Yoora.

"Well.. aku datang." Yoora memulai pembicaraan mengenai bisnisnya, mengesampingkan pikirannya yang berputar – putar menanyakkan apakah sosok secantik dan semanis ini adalah penyebab adiknya impotensi? "Maaf, mungkin aku terlihat begitu memaksa agar Redberry bersedia membantuku di acara peluncuran brand dari sepupuku ini.. tapi nyatanya aku memang berharap penuh bila kue – kue dan juga hiasan bunga – bunga toko Anda menghiasi acara kami." Keprofesionallan Yoora kembali terlihat namun tetap menjaga suasan santai antara dirinya dan juga Baekhyun.

Baekhyun mengajukan berbagai pertanyaan yang menyangkut kerja sama antara Redberry dan juga Blanc & Eclare, mengenai masalah konsep, hal – hal apa saja yang harus ia siapkan sesuai dengan permintaan dari pihak Blanc & Eclare dan yang terpenting adalah berapa harga yang akan dibayarkan untuk semua hasil yang akan ia ciptakan nantinya.

"Aku akan memberikanmu cek kosong di awalnya." Dan jawaban Yoora sungguh mengagetkan Baekhyun.

"Ke-kenapa begitu?" rasa tak percaya dan juga sedikit takut membuat Baekhyun bertanya gugup.

"Itu sebagai jaminan diawal. Aku benar – benar menginginkan kalian ikut andil acaara ini, jadi aku akan memberikanmu cek kosong, milikku secara pribadi, atau mungkin milik Adikku sebagai pihak donator acara ini, itu akan menjadi bayaranmu." Penjelasan Yoora masih kurang bisa dipahami di awal dan dirinya jelas tahu karena wajah tak percaya Baekhyun memperlihatkan dengan jelas.

"Kau bisa menulisnya angka yang kau inginkan setelah acara selesai, tidak apa – apa. Anggap saja itu sebagai jaminan bahwa kami membayarmu sesuai dengan kualita yang kau berikan." Dan akhirnya Baekhyun mengangguk paham.

"A-aku tidak akan berani menyentuh cek itu sebelum acara ini selesai." Ucapan Baekhyun diangguki oleh Yoora.

"Tidak apa – apa. Aku mengerti." Dan kini Baekhyun yang mengangguk. "Jadi, apakah Anda bersedia Baekhyun-ssi?"

Senyuman di wajah Baekhyun lagi – lagi mengembang manis, "Kami bersedia Nona Park." Yang mana jawaban itu membuat Yoora memekik senang serta lega tanggung jawab dalam acara Jessica berkurang satu.

Keduanya kembali membicarakan mengenai kontrak yang akan Yoora buat dan nantinya akan ditanda tangani oleh kedua pihak, pembicaraan mengenai konsep dan jenis – jenis kue yang diinginkan saat acara pun sedikit demi sedikit mulai dibicarakan meskipun lagi – lagi Baekhyun menahan diri Yoora agar mereka membicarakan lebih lanjut saat meeting selanjutnya dimana Jessica ikut hadir disana.

Meskipun demikian Yoora masih terlihat bersemengat mulai membicarakan lebih jauh hingga getar pada ponselnya dan juga notifikasi yang muncul dilayarnya berhasil membuatnya terdiam kaku tak percaya dalam tatapannya yang bergantian menatap layar dan juga sosok Baekhyun dihadapannya.

Dia orangnya.

Balasan pesan dari sang adik adalah penyebab semuanya.

Belum sempat ia menarik kembali perhatiannya untuk fokus dalam pembicaraan masalah pekerjaan, bunyi pintu yang terbuka dan sosok Chanyeol yang tengah melangkah masuk dengan begitu sombong menebarkan pesonanya menjadi pengalih perhatiannya lagi.

Chanyeol memang tidak berjalan kearahnya, namun kehadiran adiknya dan juga aura yang menyebar didalam ruangan itu membuat Yoora tidak bisa fokus melanjutkan perbincangannya dengan Baekhyun.

"Aku ingin pesan red velvet cake 4 dan signature chocolate cake 4.." adiknya bersuara dengan jarak cukup jauh dari posisi dimana Baekhyun dan Yoora duduk saat ini. Namun suara berat itu bisa menghipnotis Baekhyun untuk seketika terdiam dan menoleh kearah sang pemilik suara hanya untuk melihat siapa sosok pemilik suara yang seakan – akan ia kenal.

Yoora memperhatikan semuanya, bagaimana Baekhyun yang berhati – hati mencuri kesempatan untuk menoleh serta bagaimana Chanyeol yang dengan sengajanya berdiri didepan kasir, memutar badannya untuk sekedar melihat – lihat, menebar pesonanya, meskipun kedua tangan Chanyeol dimasukkan kedalam dua kantung celannya dalam posisi berdiri tegap. Itu cukup membuat penampilannya menarik perhatian para wanita yang berkunjung disana.

Dan ketika tatap matanya mendapati ada yang memperhatikan dirinya dengan rasa tidak percaya, sebuah senyuman terbentuk diwajah sang adik, seringai bahagia terlihat disana dan Yoora jelas tahu untuk siapa senyuman itu. Jawaban dari apa yang ia pikirkan bahkan langsung terlihat jelas disana.

Chanyeol yang mengabaikan penjelasan dari sang kasir untuk menunggu sesaat memilih untuk berjalan mendekat kearah sosok yang tengah menatap kearahnya tidak percaya. Itu wanitanya—belum benar – benar ia miliki memang—tapi hatinya sudah berkata demikian. Disana, wanitanya tengah melihat kearahnya, dan tidak sopan bukan bila Chanyeol tidak menyapa wanita yang sudah membuat gairahnya tertahan enggan meledak bila bukan karena sosok yang kini sudah berada begitu dekat dengannya.

"Hai Baekhyun."

~jeng jeng jeng, eh udah ketemu dengan tbc~