"Dia benar – benar pria yang kau temui di Bar?" Kyungsoo lagi – lagi mempertanyakkan kebenaran cerita yang baru saja diucapkan Baekhyun padanya dan juga Luhan serta Zitao saat ini.
"Benar Kyung, pria yang membuatmu terpesona setengah mati itu datang ke toko ini, membeli kue lalu menyapaku, menyebut namaku seperti malam itu, ia bahkan menyempatkan diri untuk menebar pesona disini." Baekhyun berucap sebal terhadap tiga temannya sementara mereka yang tengah mendengar cerita Baekhyun sedari tadi kembali saling melempar senyuman.
"Wae? Kenapa kalian malah tersenyum – senyum?" Baekhyun bertanya heran, terlebih pada Luhan yang tersenyum lalu menunduk menggeleng dan kembali tersenyum. "Luhannie?"
Wanita yang bernama Luhan, berambut pirang dengan perawakan Asia atau lebih tepatnya berwajah Cina dengan begitu kental mengesampingkan rambutnya lalu mencondongkan diri pada Baekhyun yang duduk tepat disampingnya.
"Baekhyunnie, aku sudah katakan padamu bukan, Park Chanyeol itu bajingan, dia playboy dan untungnya dia tampan dan Miliarder.."
Baekhyun menunjukkan sikap tubunya yang tak paham maksud dari ucapan Luhan, sementara wanita yang tengah dipandanginya saat itu menggerakkan tangannya acuh.
"Kau bertemu dengan seorang playboy jutawan, apa yang kau harapkan? Tebar pesona? Tentu saja si sombong itu sudah terbiasa melakukannya."
"Aaahh.." Kyungsoo dan Tao sama – sama mengangguk paham lain halnya dengan Baekhyun yang tetap memperlihatkan wajah sebalnya mengingat sikap dari pria itu kemarin.
"Aku rasa dia benar – benar menyukaimu." Luhan berucap lagi sembari menyesap teh di cangkirnya. "Seingatku, dari cerita Sehun dan ketika aku bertemu dengannya, dia tidak pernah memperhatikan wanita bila wanita itu tidak seksi, yang ia lihat hanyalah bokong dan payudara."
Seketika Baekhyun menunjukkan wajah jijiknya.
"Aku serius, didalam otaknya bila bukan masalah bisnis ya tentu saja tubuh wanita." Luhan kembali melanjutkan.
"Aku harap dia tidak akan pernah datang kembali ke tempat ini!" Baekhyun berucap dengan tekad kuat.
"Sayang sekali wajah tampannya untuk diabaikan Baek." Kyungsoo menjulurkan lidahnya, menggoda Baekhyun lalu mengalihkan sembari menyuapi satu sendok potongan kue.
"Aku belum melihatnya.. kau harusnya berdoa supaya dia bisa datang supaya aku bisa melihatnya lagi." Kali ini Zitao yang tak terima dengan harapan yang Baekhyun ucapkan tadi.
"Ya! Kau sudah punya Kris! Jangan melihat pria muda lainnya." Baekhyun memarahi Zitao yang ikut tergila – gila dan bahkan penasaran dengan sosok playboy Park Chanyeol.
Kyungsoo ikut memberikan pembelaan mendukung Zitao dan ketiganya kini terlihat percecokkan khas Ibu – Ibu, membawa – bawa kewajiban dan hak sebagai istri serta lainnya. Luhan yang menjadi satu – satunya wanita yang belum menikah diantara mereka berempat berusaha menutupi pendengarannya yang tak mau terusik oleh ucapan para Ibu – Ibu yang notabenenya adalah sahabatnya sendiir. Luhan mengalihkan diri melihat ke arah luar jendela, menikmati pemandangan tanaman serta bunga – bunga segar dari toko bunga milih Baekhyun tepat disebelah toko kuenya, sembari menyesap kembali tehnya, Luhan mengalihkan pandangannya pada laju lalu lalang dihadapannya hingga akhirnya iris matanya menangkap satu mobil hitam berbentuk jeep terparkir tepat di toko kue milik Baekhyun.
Awalnya ia tak ingin peduli dan bahkan begitu ingin tahu siapa pemilik mobil mahal yang ia yakini hanya beberapa unit dimiliki di jalanan kota ini, tapi sayangnya, apa yang ditangkap oleh pandangan matanya mampu membuatnya meletakkan kembali cangkir teh dari tangannya dan juga terbisu masih tak menyangka pria yang sedari tadi dibicarakan dan menjadi topic utama pembicaraa sahabatnya kembali datang ke toko miliki Baekhyun.
.
A Man and A Woman
Chapter 5
.
"Itu dia?" Zitao berbisik pelan sembari menunduk dan mendekat kearah Kyungsoo. Hanya mereka berdua yang terlihat jelas tengah berbisik dan menggosipkan sosok Chanyeol yang kembali mendatangi Toko Redberry dan membeli beberapa potong kue dalam jumlah banyak.
"Dia tampan, tinggi seperti Kris.." Zitao masih berbisik ke arah Kyungsoo, kedua orang itu begitu larut dalam pembahasan meneliti ukuran tubuh Chanyeol yang tengah sibuk berurusan dengan kasir, menunjuk beberapa kue dan juga menunggu pesanannya disiapkan.
"Suaranya berat sekali.."
"Kan sudah aku bilang kemarin.."
Sementara Kyungsoo dan Zitao masih saling berbisik membicarakan sosok Chanyeol, lain halnya dengan Baekhyun yang engga bersuara dan tetap melihat kedepan, kearah Kyungsoo dan Zitao, sesekali dia melihat kearah Luhan yang juga tetap tenang tak memperdulikan kondisi sekitarnya.
"Terima kasih." Akhirnya suara Chanyeol terdengar jelas.
Dan Baekhyun bisa pastikan pria itu sudah berbalik dan tengah melangkah kembali kearah pintu mengingat Kyungsoo dan Zitao tengah saling menyikut dan juga kaki mereka dibawah meja tak bisa diam bergerak menghentak satu sama lain.
"Luhan?" suara Chanyeol kembali terdengar dibalik punggung Baekhyun, pria itu berada didekat meja mereka dan tak sungkan menyapa Luhan yang sedari tadi sudah diam tak bersuara dan bahkan menutup wajahnya dengan cangkir.
"Hm?" Luhan menyahut acuh.
"Sedang apa kau disini? Aku kira kau masih bergelung dibalik selimut Oh Sehun.." ada suara tawa geli diakhir ucapan pria itu yang mengundang suara dehaman kesal Luhan. "Oh—"
"Apa yang kau lakukan disini Park Chanyeol? Aku kira kau lebih memilih menikmati selangkangan wanita di kantormu." Luhan membalas dengan bahasa lebih kasar dan tentunya membuat sahabatnya merasa malu.
Lain halnya dengan Chanyeol yang tetap memperlihatkan wajah tampan dan tak peduli akan hujatan yang baru saja dikatakan oleh Luhan meskipun pada kenyataannya apa yang diucapakan Luhan adalah kenyataan yang ia lakukan dulu.
"Well.. aku membeli kue." Chanyeol menunjukkan dua kantong besar ditangannya.
"Kue, di Redberry? Kau rela datang jauh – jauh hanya untuk membeli kue?" tanya Luhan masih tak percaya bahwa Chanyeol bisa dengan begitu santainya dan rela menghabiskan waktu berjam – jam hanya untuk membeli kue.
"Well, pemilik toko ini cantik. Aku menyukainya."
Bukan hanya Luhan yang terbatuk secara tiba – tiba, Kyungsoo dan Zitao pun melakukan hal yang sama namun wajah keduanya tetap menunduk enggan untuk ditunjukkan kearah Chanyeol, sementara Luhan tetap mempertahankan wajah dinginya terangkat kearah pria itu.
"Kau tidak mengenal kata cantik Chanyeol, kosa katamu untuk wanita hanya ada seks, selangkangan, payudara dan juga nafsu." Luhan tersenyum getir, salah satu alisnya bahkan bergerak naik keatas sebagai isyarat pada Chanyeol bahwa pria itu tak bisa melawannya.
"Wow, aku tidak tahu kau begitu memahamiku Luhannie, apa kau jatuh cinta padaku? Kita bisa bermain dimobilku saat ini tanpa diketahui Sehun." kali ini giliran Chanyeol yang tersenyum lebar kembali menggoda Luhan yang telah kembali merasa kesal karena kalimat yang diucapkan pria itu. "Kau tahu dimana bertemu denganku rusa cantik." Chanyeol mengedipkan matanya, "Ladies, my pleasure to meet you.." ucapan itu tertuju pada Kyungsoo dan juga Zi Tao yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan diantara mereka.
"..dan Baekhyunnie.. aku suka wangi tubuhmu." Chanyeol berlalu begitu saja keluar dari toko milik Baekhyun meninggalkan keempat wanita disana termangu dalam diam terlebih Baekhyun yang tak bisa mengucap satu kata pun, bukan hanya mulutnya yang kelu tak mampu mengucap, tubuhnya bahkan terasa kaku untuk digerakkan bahkan untuk menoleh sesaat.
"D-dia tahu kau disini?"
"Baek.. aku pikir dia sedikit Psycho.."
Kyungsoo dan Zitao berkomentar gugup sementara Luhan kembali menggeleng masih menyimpan rasa kesal yang begitu luar biasa pada sosok Chanyeol.
Baekhyun masih terduduk diam kaku sembari menatap kearah Luhan, Kyungsoo dan juga Zitao.
"Jangan dpikirkan." Luhan akhirnya bersuara, "Dia memang seperti itu." Kepalanya bergerak menunjuk pada mobil Chanyeol yang perlahan – lahan melaju meninggalkan area toko Baekhyun.
"Maksudnya?" Kyungsoo bertanya lagi, masih belum bisa mencerna maksud ucapan Luhan.
"Seperti yang aku katakan, dia playboy. Mudah baginya mengenal setiap detail dari tubuh kaum hawa. Aku yakin dia bahkan sudah bisa mengetahui berapa ukuran bramu, berapa tinggi dan lebar pinggangmu, atau bahkan dia bisa tahu ukuran sepatu dan juga lingkar cincinmu."
Kyungsoo dan Zitao sontak terkagum sementara Baekhyun menggeleng tak percaya, raut wajahnya menunjukkan sikap dingin dan enggan memperpanjang pembicaraan mengenai pria itu, namun didalam hatinya ia tidak bisa ia pungkiri ada debaran yang dirasakan ketikan mengingat ucapan Chanyeol terhadap dirinya.
Sudah cukup lama tidak ada pria yang memuji dirinya hanya dengan mencium aroma tubuhnya.
.
.
"Huaaa.. tumben sekali kau mau berbaik hati membelikan kue – kue ini untuk Ibu." Wanita paruh baya yang baru saja turun secara perlahan – lahan dari lantai 2 di rumahnya tersenyum hangat namun tatapan matanya terlihat jelas menggoda sang putera yang tengah membawa 2 kantung dengan tulisan toko kue yang menjadi kesukaan keluarga itu.
Nyonya Park—Ibu Chanyeol menyambut kedua kantung belanjaan itu lalu menggiring puterannya untuk bergabung di meja makan.
"Bibi Seo, tolong bantu aku menyajikan ini—Kau, jelaskan pada Ibu, tumben sekali menawari kue- kue Redberry di hari kerjamu?" setelah memberikan kantung – kantung dan ikut menyusun kue – kue berbentuk manis dan nampak lezat, Ibu Chanyeol memberikan satu piring berisikan cupcake kearah puteranya yang sudah duduk dengan santai sembari membuatkan teh untuk mereka berdua.
Chanyeol mengangkat bahu lalu menggeleng. "Hanya ingin.." kemudian ia tersenyum malu – malu.
"Tidak mungkin kau bersikap baik pada Ibumu tanpa ada maksud Park Chanyeol, kau berada di perutku selama Sembilan bulan, dan sejak lahir sampai kau menginjak sekolah atas hanya Aku yang mengurusmu sampai kau mulai mengenal wanita. Cih! Masih berani berbohong."
Chanyeol menggeleng. "Ibu memang terbaik."
"Jadi, katakan, apa yang kau inginkan." Ibunya kembali mempertanyakkan maksud dari kebaikan puteranya yang jarang ditemukan.
Chanyeol menyesap lebih dulu teh yang baru saja ia buat lalu mengambil satu cupcake dengan topping cokelat diatasnya.
"Kalau Ibu sedang ingin kue – kue dari Redberry.. biar aku saja yang membelinya. Jangan meminta Yoora karena dia sok sibuk, jangan meminta Ayah juga, kasihan Pak Yoo akan pulang terlambat terus nantinya.. jadi aku saja." Chanyeol berucap tanpa rasa bersalah dan bahkan tak memperdulikan raut wajah Ibunya yang siap melontarkan kata tak percaya dari apa yang baru saja ia ucapkan.
"Aaah.. baik sekali putera Ibu ini.. pemilinya cantik ya?"
"Eoh, dia cantik." Chanyeol menjawab tanpa berpikir panjang dan selang beberapa detik setelahnya ia baru menyadari, Ia memang tidak berbohong pada Ibunya.
Nyonya Park tersenyum puas, memangku wajahnya untuk melihat wajah puteranya lebih dekat, wajah Chanyeol yang tersipu malu dan bahkan enggan membalas tatapan matanya.
"Kau baru menyadari Baekhyun cantik? Aigoo.. berulang kali kita kesana dan bertemu dengan Baekhyun kau baru menyadarinya sekarang. Ckckck, kenapa otakmu lamban sekali sih."
"Maksud Ibu?"
"Ck! Kau memang seperti Ayahmu, lamban bila melihat wanita cantik, tidak salah Ayahmu lamban melamarku saat dulu—"
"Ya.. ya.. aku sudah mendengar cerita itu berulang kali Bu." Chanyeol enggan mendengar kembali untuk kesekian kalinya bagaimana pertemuan Ayah-Ibunya saat dulu serta perjalanan cinta mereka. Kisah itu sudah diceritakan turun menurun dari Yoora dan juga dirinya, sejak kecil hingga sekarang. Chanyeol bahkan yakin, bila saat sekolah gurunya tidak mengarjakan sejaran cinta Romeo&Juliet, bisa saja dia menceritakan kisah cinta Ayah&Ibunya disekolah waktu itu.
"Kapan kita pernah bertemu Baekhyun?" Chanyeol mengalihkan.
Nyonya Park berdecak sebal sebelum kembali berbicara pada puteranya yang sudah setengah mati penasaran. "Kita selalu melihatnya Chanyeol, tapi kau tidak pernah menyadarinya. Setiap kita kesana, Baekhyun ada disana juga, kau lebih memilih melihat wanita – wanita kekurangan bahan berlalu lalang di jalanan ketimbang memperhatikan Baekhyun yang begitu manis melayani Ibu disana."
Sial. Chanyeol merutuki kebodohannya.
"Bukankah dia sudah mempunyai anak? Aku dengar – dengar dia sudah memiliki anak.. mantan suaminya sangat menyebalkan, bodoh sekali dia menceraikan Baekhyun begitu saja."
Chanyeol belum mampu menyerap setiap ucapan Ibunya karena yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana bisa Ibunya mengenal Baekhyun lebih dalam hanya karena sering berkunjung dan membeli kue di Redberry.
"Haa, anak itu. Untung saja ia mau bercerai dengan suaminya itu, Ibu tidak habis pikir kalau dia memilih bertahan dengan pernikahannya."
Chanyeol mengernyitkan alisnya, Dasar Ibu – Ibu penggosip, umpatnya dalam hati mengingat lagi kebiasan Ibunya yang suka berlama – lama berbincang – bincang dengan para Ibu – Ibu lainya di berbagai kesempatan.
"Ibu kenapa suka sekali membicarakan orang lain sih.."
"Itu kenyataan Chanyeol, Baekhyun itu terlalu baik terlalu cantik untuk bisa diabaikan begitu saja oleh mantan suaminya, teman – teman Ibu bahkan berniat menjodohkannya dengan para puteranya, tapi ya dasar wanita itu tertalu tertutup, semuanya ditolak dengan begitu hormat."
Chanyeol membelakkan matanya tak percaya, "Ibu tidak pernah menjodohkanku dengannya." Kali ini dia melayangkan protest, mengingat kembali Ibunya tak pernah sekali pun membicarakan nama Baekhyun dalam perbincangan makan malam keluarga mereka atau pun dimana pun.
"Memangnya kau mau? Lagi pula kau sama brengseknya dengan mantan suaminya itu, mana mungkin aku mau menjodohkanmu dengan wanita baik – baik seperti Baekhyun."
Chanyeol merasa tertohok namun juga tak bisa menyangkal, ucapan Ibunya memang ada benarnya, tapi bisakah Ibunya menjelaskan kenapa ia tak bisa lagi melirik wanita – wanita berpakaian seksi diluar sana setelah pertemuannya dengan Baekhyun di bar kala itu? Bisakah Ibunya menjelaskan kenapa ia tak lagi bergairah melakukan seks karena yang ada dipikirannya hanyalah senyuman Baekhyun atau pun wajah wanita itu yang menatapnya dalam diam? Bisakah Ibunya menjelaskan apa yang telah terjadi padanya semenjak ia bertemu dengan Baekhyun, mendengar suara wanita itu dan juga mencium aroma manis, campuran strawberry dan mint dan mungkin sedikit gula karena Chanyeol benar – benar dibuat mabuk kepayang oleh wanita itu.
"Bu.."
Ibu Chanyeol melirik sesaat sembari menyesap tehnya lalu menyuapkan potongan kue dari cupcake yang ada piringnya.
""Hm?"
"A—aku rasa… aku jatuh cinta."
Dan respons yang ada setelahnya adalah Ibunya yang tersedak dengan batu – batuk yang tak ada henti, lalu ada bunyi piring yang pecah karena terlepas begitu saja dari tangan Bibi Seo yang tengah berada didekat meja makan itu, belum lagi suara petir yang terdengar menyambar kala langit kelabu baru saja menutupi cerahnya langit Seoul beberapa saat lalu.
Ucapan yang baru saja diakui Chanyeol seakan – akan tidak mendapatkan persetujuan bukan hanya dari Ibu dan anggota rumahnya, namun juga alam atau mungkin alam dan garis takdir ataupun Tuhan sendiri tak ingin memberikan keikhlasan mengijinkan Chanyeol untuk jatuh cinta untuk pertama kalinya.
A Man and A Woman
"Jadi.. sepanjang hari kau disini karena enggan mendengar suara ocehan semua orang dirumahmu.. hanya karena kau mengaku jatuh cinta?" Taeyeon menyampaikan kesimpulan yang ia tangkap dari rentetan cerita yang sejak kedatangan Chanyeol sedari pagi, pria itu sudah mengeluhkannya sampai rasanya pendengarannya mulai jengah mendengarkan keluh kesah pria yang menjadi Boss-nya disini.
"Eoh.. aku bahkan tak mau bertemu sahabat – sahabatku karena Yoora pasti sudah menceritakannya." Chanyeol mengeluhkan lagi.
Kali ini Chanyeol melihat daftar nama kehadiran para murid yang mengikuti kelasnya di hari Minggu ini, yang mana sejujurnya Chanyeol hanya memperdulikan satu nama dari keseluruhannya, Byun Naeun.
"Oh, dia sudah masuk kelas." Pekiknya begitu senang melihat naman Naeun berada didaftar murid yang masuk pada Kelas Minggu hari ini.
"Tadi Ibunya datang.. wuaaahh kau tidak akan percaya Ibunya Naeun masih sangat muda sekali, penampilannya biasa saja, tapi wajahnya yang masih muda dan begitu manis membuat aku dan juga Ben bahkan termangu dalam diam karenanya. Suaranya bahkan terdengar merdu dan begitu damai!"
Chanyeol mendengarkan dan juga mulai membayangkan gambaran dari penjelasan yang Taeyeon ucapkan.
"Badannya sangat ramping, meskipun ia tidak tinggi tapi terlihat lekukannya sangat indah—wuaah—Oh! Jangan – jangan kau mendekata Naeun karena kau tahu Ibunya sangat cantik ya!" Taeyeon berasumsi buruk dan membuat Chanyeol kembali merasa terhina karena image yang sudah ia buat sejak lama.
Menjadi Playboy, bermain dengan banyak wanita dan tidak ada satu pun yang berstatus mejadi kekasihnya, sebutan untuk semua wanita itu hanyalah mainan Barbie-nya dan hanya bertahan dalam hitungan jam.
"Kalau aku tahu Ibunya cantik, mungkin aku sudah jatuh cinta sejak lama Tae.." nada bicaranya terdengar ragu meskipun demikian garis bibirnya membentuk satu senyuman dalam sesaat.
Taeyeon mengangguk, ia setuju, bila Chanyeol sudah melihat bagaimana rupa dari Ibu Naeun mungkin sudah lama pria itu mendekati sosok wanita itu, nyatanya sampai beberapa waktu kemarin, Chanyeol masih menggila bemain – main dengan mainannya.
"Err.. tapi aku bingung.." Taeyeon meragu membuka kembali percakapan mereka berdua. "Kau benar – benar belum pernah jatuh cinta?"
Chanyeol menoleh kearah Taeyeon guna memastikan wanita itu benar – benar menanyakkan pertanyaan macam itu padanya setelah sekian lama mereka bekerja sama.
"Maksudku.. apakah kau tidak memiliki cinta pertama atau hal semacam itu sebelumnya?"
Chanyeol lagi – lagi terdiam, mengingat kembali masa – masa mudanya dulu yang ia lakukan sama seperti pemuda lainnya di masanya, namun meskipun demikian, wanita yang Chanyeol kagumi hanyalah kakak dan Ibunya, tidak ada sosok lain yang ia kagumi dan ia sayangi sebagai mana perasaan seorang pemuda terhadap gadis seusianya.
Chanyeol pun ingat, dulu dia termasuk anak yang teladan dan bahkan sangat pintar di sekolahnya, nilai ujiannya pun sangat memuaskan hingga dia masuk Universitas terbaik di Seoul dan memulai dunia kampus dan lingkungan yang lebih liar tanpa ada batasan dibandingkan saat sekolah dulu.
Chanyeol tak ingat kapan dia mulai terjerumus dengan dunia gelap dan berurusan dengan para wanita – wanita yang hanya menjadi mainan dan pemuas nfasunya, ia tak ingat kapan pertama kalinya dia menyetubuhi seorang wanita.
"Entahlah.. semuanya terasa begitu gelap bila aku mencoba mengingatnya, yang pasti tidak ada perasaan cinta yang muncul hingga aku bertemu dengan Baekhyun."
Taeyeon mengangguk mencoba mengerti meskipun pertanyaan yang tak terjawab.
Pembicaraan mereka terputus begitu saja bertepatan dengan selesainya kelas musik pada sore itu, suara ramai anak – anak kecil meramaikan suasana disekitar mereka.
"Loey Oppa!" satu teriakan dengan nada gemas membuat Chanyeol tersenyum lebar dan bahkan berlari kecil kearah sosok anak kecil yang baru saja berteriak kearahnya.
"Oww~ Princess Naeun sudah sembuh?"
"Eoh! Oppa, nanti Mommy menjemput, ayo ayo kita menunggu diluar." Naeun menarik – narik tangan Chanyeol untuk ikut bersamanya berjalan menuju taman tempat mereka menunggu jemputan Naeun seusai kelas musiknya.
"Mommy menjemput? Mommy tidak sibuk?" Chanyeol yang sudah tahu kesibukkan dari Ibu anak itu meyakinkan lagi ketika Naeun mengatakan berulang kali bahwa Ibunya akan menjemput sore ini, ini sebuah hal langka dan Chanyeol harus memastikannya dengan pasti.
"Hm, Mommy bilang sedang tidak sibuk.. jadi bisa menjemput Naeun sore ini, tadi Mommy bahkan yang mengantarkan Naeun sampai di kelas."
Lagi – lagi Chanyeol merasa aneh, tidak biasanya orang tua Naeun seperhatian itu dengan anaknya hingga mengantar sampai ke kelas anak itu, dan Chanyeol menyesalkan kenapa ia bisa datang terlambat jadi tak melihat bagaimana rupa dari Ibu anak itu.
"Loey Oppa, apa Oppa akan datang di pentas musik nanti? Naeun harus tampil.. tapi tidak tahu harus menampilkan apa.." raut wajah anak itu berubah muram dan meskipun menunduk Chanyeol bisa melihat dengan jelas sedihnya dari nada yang terdengar di suara Naeun.
"Naeun mau Oppa datang?" Chanyeol mengusak rambut Naeun dengan gemas lalu sengaja membuat ikatan rambut anak itu berantakkan dan Naeun berteriak manja.
"Aaahh.. Oppa jadi berantakkan."
"Aniya.. Naeun masih terlihat cantik.. kemari Oppa buat lebih cantik."
Naeun menurut ketika Chanyeol membawanya pada pangkuan pria itu, dan ketika tangan Chanyeol mulai membelai dan menyisir serta mengikat rambutnya kembali, Naeun tetap duduk nyaman dan kembali bercerita panjang lebar mengenai kelasnya, hari – harinya di sekolah lalu kembali membahas mengenai acara pentas musik yang akan datang.
Perbicangan mereka terus berlanjuta diselingi canda tawa dan bahkan teriakan manja dari Naeun yang mampu membuat sosok yang sedari tadi berada disana memandang aneh dan mulai merasakan perasaan aneh. Terlebih ketika sosok itu tahu, siapa yang sedari tadi berbicara dengan Naeun.
"Oppa, besok harus ke toko ya, pulang sekolah Naeun disana, jadi kita bisa bertemu lagi."
"Oh, benarkah? Okey, Oppa akan datang lagi."
"Yeay—Oh! Mommy!" Naeun yang baru saja membalik badannya untuk berhadapan dengan Chanyeol tak sengaja melihat sosok Mommynya sudah berada dibelakang posisi mereka meskipun bukan dengan jarak yang begitu dekat.
"Mommy?" Chanyeol bergumam dan ikut menolehkan kepalanya ke belakang guna melihat bagaimana rupa dan sosok dari Ibu anak itu.
Bukan hanya Chanyeol yang merasa terkejut atau bahkan merasa dipermainkan oleh takdir, Baekhyun pun merasa demikian. Mengapa belakangan jalan takdir sengaja mempertemukan dirinya dengan Chanyeol, pria brengsek yang bahkan ia harapkan untuk tak kembali dipertemukan. Mengapa pula puterinya bisa sedekat dan senyaman itu dengan sosok Chanyeol? Dari seluruh pria yang ada di dunia, kenapa harus Chanyeol yang mengisi hari – harinya?
Tbc.
Semoga hari Rabunya tidak kelabu yaa.
Selamat makan malam, selamat istirahat, besok masih hari Kamis :)
