"Ayolah, Kyung... bantu aku, hm? Hm?"
"Aku sibuk, Baek."
"Issh... jahat sekali, dasar tidak setia kawan," Baekhyun cemberut, bibirnya dimajukan beberapa senti sebagai bukti bahwa ia tengah merajuk. Begitu terduduk, dilipat tangannya di depan dada. Mata sipitnya memicing tajam, menusuk punggung sahabatnya yang tampak sibuk memasukkan loyang berisi pastri ke dalam oven.
"Kenapa tidak beli saja, sih? Bukankah lebih praktis untukmu—YA, Baek, jangan duduk di meja adonan!" usulan Kyungsoo terpotong segera setelah ia berbalik badan. Pantas saja sahabat berisiknya itu tidak membututinya lagi.
Namun Baekhyun tidak peduli, malah sengaja memundurkan posisi duduknya. Kakinya yang menggantung ia goyang-goyangkan seolah menantang. Yap, dia memang kekanakan. "Dasar manusia tidak romantis. Aku ingin membuat Chanyeol terkesan dengan kue buatanku, Kyung. Ayolah... uri Seungwan pasti tidak akan keberatakan jika kau tinggal sebentar. Iya, kan, Seungwan -ie?"
Mendengar namanya tercatut, gadis berapron putih itu hanya menganggukkan kepalanya kaku disertai senyum canggung. Lantas buru-buru kembali pada tugasnya mengaduk adonan kala si bos melotot ke arahnya.
"Lihat, uri Seungwan bisa diandalkan, Kyung," tambah Baekhyun, sama sekali tak mengindahkan rupa masam sang sahabat. "Ah, benar. Sebagai balasan, bagaimana kalau aku melukismu untuk hadiah annivversary kalian? Lukisan telanjang, kujamin Jong—"
"YA!" Sumpah, Kyungsoo hampir saja menumpahkan tepung pada baskom yang sedang ia bawa. Teman jalangnya ini benar-benar... bahkan Seungwan sampai menjatuhkan rolling pin-nya.
"Wae? Gratis, kok. Aku bisa membuat lukisanmu sangat seksi hingga Jongin terangsang dalam sekali lihat," dengan santainya Baekhyun membalas. Padahal tak jauh darinya wajah Seungwan telah sukses memerah.
Sementara di tempatnya, Kyungsoo sesungguhnya berambisi sekali menuangkan tepung ke kepala Baekhyun. Beruntung sisi kewarasannya masih lebih mendominasi. Menghela napas ia lalu berkomentar, "Aku tidak sudi berpose telanjang di depanmu, Baek."
"Wae? Kita kan sejenis. Tenang saja, mau kau striptisdi depanku pun aku tidak akan tertarik."
"Isshh... Sudahlah, percuma berdebat denganmu."
"Jadi kau bersedia membantuku?" tanya Baekhyun berbinar.
"Siapa bilang?"
Dan jawaban Kyungsoo memaksanya untuk lagi-lagi merajuk. "Ah, Kyung~" Ia turun dari atas meja, berjalan menghentak ke arah sang sahabat dan mulai menarik-narik seragam kokinya. "Cuma kau yang bisa kuandalkan. Ayolah, bantu aku... bantu aku, bantu aku. Bantu aku... hm, Kyungsoo-yaa~"
"Oke, oke!" Membuat Kyungsoo akhirnya mengalah, atau lebih tepatnya menyerah. Sebab ia tahu, Baekhyun akan terus merecokinya sampai ia benar-benar menyatakan persetujuan. Terkadang temannya ini lebih merepotkan daripada bocah lima tahun.
.
.
Senyum Baekhyun mengembang lebar, puas karena misinya meminta bantuan Kyungsoo telah berhasil. Selanjutnya tinggal memastikan jadwal Chanyeol di hari H. Pasalnya, pria Park itu tengah sibuk-sibuknya memproduseri musik salah satu idol di agensinya. Sekian minggu belakangan ia sering pulang terlambat, bahkan tak jarang pilih menginap di studio. Jadi, ia tidak boleh lupa mengingatkan Chanyeol bahwa sebentar lagi merupakan hari jadi mereka.
Kesibukan Chanyeol jelas membuat Baekhyun merasa kesepian, karenanya akhir-akhir ini ia sering datang mengganggu ke tempat kerja teman-temannya. Butik milik Luhan misalnya, atau seperti sekarang di toko kue Kyungsoo—yang baru seminggu lalu resmi dibuka.
"Minumanmu, Oppa," seorang pelayan yang Baekhyun tahu bernama Yerim berucap sopan, lantas meletakkan jus stroberi pesanan Baekhyun ke atas meja. "Kuenya sebentar lagi Kyungsoo Oppa sendiri yang akan mengantar," lanjutnya tersenyum ramah.
"Terima kasih, aku merasa sangat terhormat," si pemuda manis pun tak kalah memberikan senyum terbaiknya. Ia senang, Kyungsoo memilih pegawai yang memperlakukan kustomernya dengan baik. Bahagia pula sebab akhirnya sang sahabat mewujudkan mimpinya membuka toko kue.
Pandangan Baekhyun beredar, memperhatikan beberapa detail interior di sana yang bertemakan musim semi. Sebagai pengunjung Baekhyun bisa merasakan kehangatan yang sengaja Kyungsoo ciptakan pada tokonya. Berbagai jenis pot bunga tersusun rapi pada dinding bercat kuning pastel. Di jendela depan, terpasang teralis kayu dengan hiasan tananam merambat sintetis. Ditambah harum kue-kue yang baru keluar dari pemanggangan, ah... intinya Baekhyun betah berlama-lama di tempat itu.
Melewati jam makan siang toko memang tidak terlalu banyak pembeli, tapi Baekhyun bisa pastikan usaha sahabatnya ini lumayan menjanjikan. Selain jaminan rasa, lokasinya juga strategis, berada di kawasan perbelanjaan dan dekat jalan utama—OH!
Sipit Baekhyun tiba-tiba memicing. "Bukankah itu Chanyeol?" bisiknya pada diri sendiri. Tubuhnya otomatis bangkit, beranjak keluar toko untuk memastikan yang tengah berdiri di depan restoran Prancis itu adalah kekasihnya.
Bunyi lonceng mengiringi begitu Baekhyun membuka pintu, matanya tak lepas menatap ke seberang jalan. Dari sana ia pun semakin yakin, pria tinggi tersebut benar-benar Chanyeol. Kebetulan sekali, ia akan memamerkan toko baru sahabatnya karena minggu lalu Chanyeol tidak sempat hadir saat hari pertama pembukaan.
Langkah Baekhyun terayun ringan ke tepi trotoar, tangannya sudah teracung tinggi, siap untuk berteriak jika saja netranya tidak menemukan objek lain yang menghampiri kekasihnya. Dan Baekhyun tidak tahu mengapa ia justru melangkah mundur, menyembunyikan dirinya di balik tiang lampu jalan. Sembunyi-sembunyi mengawasi Chanyeol yang sedang membukakan pintu mobil untuk seseorang.
Seorang wanita yang tidak Baekhyun kenali, tapi terlihat tidak terlalu asing diingatannya.
"Baek, kenapa kau ada di luar?"
Baekhyun terlonjak mendengar namanya dipanggil. Badannya refleks berbalik dan menemukan Kyungsoo yang berdiri di depan pintu tokonya. Alarm kepanikan mendadak seolah berbunyi di kepala Baekhyun—entah dari mana datangnya. Terlebih ketika sang sahabat berjalan ke arahnya, sontak pandangan Baekhyun kembali ke seberang jalan, namun mobil yang tadi dilihatnya ternyata tidak lagi berada di sana.
"Baek? Kau baik?"
"Hm? B-baik, aku hanya bosan menunggu di dalam. Hehe..." Baekhyun tahu sebenarnya Kyungsoo sama sekali tidak percaya pada jawabannya. Ia juga paham betul sahabatnya tidak akan bertanya macam-macam jika bukan ia sendiri yang bersedia bercerita. Dan Baekhyun merasa tidak perlu memberi tahu tentang hal yang baru saja disaksikannya. Meski dalam hati ia terus bertanya.
Siapa wanita itu?
.
.
.
How Dare You!
Baekhyun x Chanyeol
Short Series
Romance Angst
Warning! BxB, Mpreg.
SLOW UPDATE
.
.
.
—01—
Semenjak bertemu dengan Chanyeol, Baekhyun selalu menganggap dirinya orang yang paling beruntung. Ia merasa dicintai, dimanjakan, dan senantiasa diperhatikan. Meski Baekhyun memiliki banyak kekurangan, tidak pernah sekalipun Chanyeol mengeluhkannya. Mempunyai kekasih seorang Park Chanyeol adalah berkat terindah di diri Baekhyun. Dan ia tidak pernah lupa bersyukur akan hal itu.
Park Chanyeol adalah segalanya bagi Byun Baekhyun. Begitu pula sebaliknya—setidaknya itulah yang Baekhyun yakini selama ini. Enam tahun menjalin kasih bukanlah perkara mudah untuk dijalani, tetapi nyatanya ia dan Chanyeol mampu melewatinya. Terlebih mereka telah tinggal bersama, Baekhyun pikir tidak ada lagi rahasia di antara keduanya. Chanyeol mengetahui semua tentang Baekhyun, dan Baekhyun harap ia pun demikian—meski belakangan ia merasa sang kekasih terkesan agak tertutup.
Ya... namun Baekhyun coba memaklumi, sebab Chanyeol tengah sibuk dengan pekerjaannya. Intensitas pillow talk dan cuddle pun tak sering mereka lakukan sekarang, tapi Baekhyun yakin pasti ada saatnya nanti komunikasi keduanya berjalan normal kembali.
Iya, kan?
Ting, klek...
Baekhyun tersentak mendengar bunyi pintu apartemennya terbuka. Sempat menyumpah lirih saat arsiran pada sketsa yang ia buat melenceng dari garis seharusnya. Tetapi ia tidak lama-lama ambil pusing, karena ia harus segera menyambut kepulangan sang kekasih. Bahkan ia tidak menghiraukan setitik basah bekas air mata pada kertas gambarnya.
Bergegas ia menuju bagian depan apartemen, meninggalkan begitu saja pekerjaan menggambarnya di atas meja ruang santai.
"Chanchan pulang," sapa Baekhyun pertama kali, terdengar ceria dengan senyum tercetak di bibir tipisnya. Lantas terdongak kala kekasih tingginya tepat berdiri di hadapannya.
"Ne, aku pulang. Merindukanku?" Chanyeol membalas, memegangi pipi berisi Baekhyun yang terasa empuk di telapak tangannya. Ia curi sekali kecupan di bibir kemerahan Baekhyun, membuat kekasih mungilnya itu tersenyum kian lebar. "Maaf, tidak bisa merayakan anniversary kita bersama," tambahnya kemudian, tampak menyesal.
"Anniya, gwaenchana. Kau sedang sibuk dengan pekerjaanmu, aku bisa paham," Baekhyun mengedikkan bahu, lalu mengangguk-angguk berusaha bersikap biasa. Dikalungkan kedua lengannya pada leher Chanyeol, meminta pelukan hangat yang sudah jarang ia dapatkan.
Di posisinya Chanyeol menyanggupi, tanggannya beralih ke belakang punggung yang lebih kecil. Menepuk-nepuk pelan diselingi dengan elusan lembut, tak lupa ia ciumi pelipis serta pucuk kepala Baekhyun. Samar ia coba tersenyum. Entah siapa yang ingin ia tenangkan, kekasih dalam pelukannya... ataukah dirinya sendiri.
"Aku masih punya kue untuk anniversary kita, kau mau?" tiba-tiba Baekhyun menawarkan, mengernyitkan dahi sang kekasih hingga sedikit melonggarkan pelukannya. Baekhyun dipandangi dengan tatapan bertanya.
"Kau menyiapkan kue?" tanya yang lebih tinggi memastikan.
Dan dijawab Baekhyun dengan anggukan santai. "Aku bahkan menyiapkan steak dan wine."
"Kau merencanakan pesta untuk anniversary kita," gumam Chanyeol, nadanya jelas bukan sebuah pertanyaan.
"Hanya pesta kecil-kecilan, bukan apa-apa. Kyungsoo membantuku menghabiskannya. Kecuali kuenya, khusus kusisakan untukmu," Baekhyun mengakhirinya dengan menampilkan eye smile-nya. Entahlah, kenapa ia harus berbohong di bagian ini? Mungkin Baekhyun hanya tidak ingin terlihat menyedihkan, sebab ia melihat ekspresi yang paling tak disukainya di wajah Chanyeol.
Ekspresi penyesalan... murung, merasa bersalah. Baekhyun tidak suka ekspresi semacam itu. Karena ia tidak tahu persis ada alasan apa saja dibalik ekspresi tersebut. Dan ia takut... takut hatinya akan tersakiti seandainya nanti ia mengetahui alasannya.
"Maaf, aku sudah menghancurkan rencanamu."
Baekhyun hanya terkekeh pelan menanggapi (lagi-lagi) permintaan maaf Chanyeol. Dibalasnya pelukan kekasihnya tak kalah erat, lalu mengecupi lehernya sebagai tanda bahwa ia telah menerima ucapan maafnya.
.
.
Seingat Baekhyun, terakhir kali mereka melakukan seks adalah sebulan yang lalu, bisa jadi lebih. Entahlah, ia tidak ingat betul kapan tepatnya. Yang jelas sudah cukup lama jika dibandingan dengan rutinitas seks normal mereka di waktu lampau—sebelum Chanyeol disibukkan dengan tuntutan pekerjaan, tentu saja. Sebelum Chanyeol lebih menyukai menginap di studio untuk menyelesaikan proyek-proyeknya memproduseri lagu. Sebelum Baekhyun sering ditinggal sendirian di apartemen, mengeluh bosan dan kesepian sebab ia tidak memiliki pekerjaan tetap.
Dan Baekhyun tidak mengerti mengapa rasanya bisa sesakit ini saat melakukannya lagi, ia bahkan mengeluarkan air mata ketika Chanyeol mulai memenetrasi senggamanya. Padahal ini bukan pertama kalinya ia dianggurkan lumayan lama.
Dipeluknya tubuh besar Chanyeol yang berada di atasnya, menelusukkan kepalanya pada ceruk leher sang kekasih, menyembunyikan matanya yang basah sekaligus meredam isakannya di sana. Sementara si dominan perlahan menggerakkan pinggulnya, satu tangan berada di belakang kepala Baekhyun sedang tangan lain menyangga badannya agar tak menimpa tubuh yang lebih kecil.
Berat napas Chanyeol terdengar kentara di telinga Baekhyun. Seiring kian melajunya hantaman, si pemuda manis menggigiti bibirnya yang bergetar. Ia pun tak paham, semakin dirinya coba menahan isakan semakin deras pula lelehan hangat keluar dari matanya. Ada yang salah, kenapa ia menangis di saat tak lagi merasakan sakit pada rektumnya?
Baekhyun mendekap punggung telanjang Chanyeol makin erat, mencengkeram dengan kuku-kuku jarinya hingga tercipta bekas kemerahan. Desah kenikmatan ia loloskan, bercampur isak yang tersamarkan. Namun ternyata pendengaran sang dominan lebih tajam dari yang Baekhyun perkirakan.
"Baek, kau menangis?" tanya Chanyeol menghentikan aktifitasnya. Ia sedikit mengangkat badan, mendorong lembut bahu Baekhyun agar kekasihnya itu mau menunjukkan wajah. "Baek..."
"Gwaenchana," serak Baekhyun lirih, pilih berpaling ke samping sebab tak ingin Chanyeol melihat wajah basahnya lama-lama.
"Apa sakit?"
Masih memalingkan wajah, Baekhyun mengangguk lantas menjawab pelan, "Em, sedikit," seraya menyedot cairan yang berkumpul di hidungnya.
Sejenak Chanyeol tertegun, memandangi rupa kekasih manisnya yang tampak berantakan. Diraihnya sebelah wajah Baekhyun kemudian, mengelus pipinya dengan ibu jari—secara halus menghadapkan kembali wajah Baekhyun ke arahnya. "Maaf... maaf," ucapnya disela menciumi kedua mata yang lebih mungil. "Seharusnya kau bilang. Apa perlu kukeluarkan?"
"Jangan," seketika Baekhyun menolak, meraih leher belakang Chanyeol dan melingkarkan kedua tangannya di sana. Bahkan kakinya refleks mengunci pinggul sang dominan—yang tanpa sengaja memperdalam penyatuan keduanya. "Tidak-ahh apa-apa, sakitnya sudah berkurang."
"Kau yakin? Jangan memaksa, Baek. Aku tidak ingin menyakitimu." Disugarnya ke atas poni basah Baekhyun oleh Chanyeol, lanjut mencium keningnya cukup lama. Hal yang malah menyebabkan air mata pemuda carrier kembali menetes. "Kau kesakitan, Baek. Lihat, air matamu tambah banyak. Aku akan berhenti—"
"Bodoh."
"Apa?"
"Lanjutkan saja, kumohon."
"Kau mengataiku bodoh, Baekby. Aku tidak akan melanjutkan." Chanyeol sudah mengambil ancang-ancang untuk bangkit, iseng mengerjai kekasihnya yang memang langsung merengek sambil mengencangkan belitan tangannya. Sungguh-sungguh tidak mengizinkan Chanyeol beranjak.
"Andwe, jangan berhenti, kumohon," rengek Baekhyun tersedu, sekali lagi menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher sang kekasih. "Aku juga tidak tahu kenapa aku sangat cengeng malam ini. Mungkin karena aku merindukanmu, Chan. Aku..." si mungil berdeham, sedikit tersedak oleh air matanya sendiri. "Aku sangat merindukan Chanchan. Jadi, kumohon... jangan berhenti."
Yang Baekhyun tidak tahu, pengakuannya barusan berhasil mengeraskan rahang Chanyeol. Pria bermarga Park itu diam-diam mengepalkan satu tangannya, meremas kencang bahan seprai yang memang sudah kusut. Niatan untuk mengerjai kekasih mungilnya yang tiba-tiba cengeng, sirna dalam sekejap. Dadanya bergejolak, ia terdiam beberapa detik sampai suara lembut Baekhyun membawa kesadarannya kembali.
"Chan?"
"Aku akan pelan-pelan. Katakan jika aku menyakitimu," pungkas Chanyeol. Tanpa perlu menunggu tanggapan, dilepasnya lilitan tangan Baekhyun dari lehernya—untuk selanjutnya ia taruh di masing-masing sisi kepala Baekhyun, menggenggamnya erat sembari mulai melanjutkan aktifitasnya yang tadi tertunda.
Baekhyun mengerang, air matanya tidak juga mau berhenti kala Chanyeol menciumi keseluruhan wajahnya, kedua mata, hidung, pipi kanan dan kiri, lalu berakhir melumat bibirnya. Gerakan sang dominan terkesan pelan dan hati-hati, namun dalam hingga mampu menggeliatkan tubuh Baekhyun yang berada di bawahnya. Meracau pada tiap dorongan yang Chanyeol berikan.
"Ahh-aku sangat merindukanmu, Chan-hh," desah resah si pemuda manis, tak bosan mengutarakan kerinduannya. "Park Chanyeol, aku mencintaimu."
Namun ia tidak mendapatkan balasan.
.
.
Temaramnya ruangan tak menghalangi Baekhyun mengamati rupa pria di hadapannya. Pria yang tengah tertidur lelap di bawah selimut yang hanya menutupi sebatas pinggang. Baekhyun memperhatikan betul-betul, bagaimana tubuh Chanyeol terlihat semakin 'matang' dari tahun ke tahun mereka bersama. Kontur wajahnya pun terpahat kian tegas, nampak lebih dewasa dan sangat dominan.
Jujur saja, hal tersebut sebenarnya sedikit banyak menurunkan kepercayaan diri Baekhyun di depan Chanyeol. Ya, terkadang seorang Byun Baekhyun merasa minder mempunyai kekasih yang nyaris sempurna seperti Park Chanyeol. Ia memang bersyukur... juga cemas di saat bersamaan.
Oh, ayolah... siapa pula yang tidak was-was mempunyai kekasih macam pacar Baekhyun ini. Tampan, berbakat, karir menjanjikan, dan bisa dibilang sukses di usianya yang masih terbilang muda. Terlebih Chanyeol bekerja di bidang music entertainment, banyak idol-idol cantik serta tampan yang menjadi koleganya. Munafik seandainya Baekhyun bilang ia tidak cemburu. Ia bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan para idol tersebut.
Baekhyun jelas tahu, meski sibuk Chanyeol selalu menyempatkan dirinya untuk workout—setidaknya sekali dalam seminggu. Kekasihnya itu sungguh rajin menjaga bentuk badannya. Amat berbeda dengan Baekhyun yang sekadar joging saja malas-malasan, mengakibatkan lemak bertumpuk di beberapa bagian tubuhnya. Tidak salah kalau Kyungsoo dan Luhan sering memanggilnya dwaeji.
Nah, apa kalian sekarang paham kekhawatiran Baekhyun? Ia pun tak jarang bertanya dalam hati, apa yang membuat Chanyeol mempertahankan hubungan dengannya sampai sejauh ini? Baekhyun tidak sedang merendah saat ia berkata bahwa dirinya banyak kekurangan, karena kenyataannya memang begitu.
Pertama, untuk ukuran laki-laki, tubuh Baekhyun tidaklah tinggi. Oh, tentu ia bersyukur karena Kyungsoo masih lebih pendek darinya—tapi tetap saja, kadang kala ia merasa sangat kecil ketika berdiri berdampingan dengan sang kekasih. Kedua, wajah. Baekhyun pun bersyukur banyak yang mengatakan wajahnya manis, tetapi sebagai laki-laki (walau ia seorang carrier), tampan tetap yang menjadi ukuran.
Ketiga, ia tidak pintar, tidak bisa memasak, malas, dan terlalu bergantung pada Chanyeol.
"Pukul berapa sekarang?"
Baekhyun sontak terperanjat, sipitnya melembar kala mata terpenjam Chanyeol tiba-tiba membuka. Serasa tertangkap basah saat sedang mengintip orang mandi. Pipinya mendadak merona, padahal ia hanya ketahuan memandangi kekasihnya yang tengah terlelap—kekasih yang sudah dipacarinya selama enam tahun. Aneh, kenapa pula ia harus merasa malu? Toh, dia sudah biasa terpergok ketika melakukan hal yang sama.
"Kenapa wajahmu merah?" Chanyeol bertanya seraya meraih ponselnya di nakas samping tempat tidur, hendak mengecek jam sebab yang ditanya tidak menjawab—malah menguburkan wajahnya ke balik selimut. "Baru pukul enam, tumben kau sudah bangun," lanjutnya setengah heran, menyibak selimut lalu beranjak turun dari ranjang.
Merasakan gerakan di sampingnya, perlahan Baekhyun membuka kain yang dijadikannya penutup wajah. Hanya sebatas bawah mata, masih enggan menunjukkan pipinya yang merona kemerahan. "Aku cuma mendadak terbangun," jawab lelaki manis itu kemudian. Matanya aktif mengikuti pergerakan Chanyeol menuju lemari, mengambil kaus beserta celana olahraga lantas memakainya.
Setelahnya si pria Park tak menyahut apa-apa lagi, hanya tersenyum sekilas sebelum ia menghilang ke dalam kamar mandi. Baekhyun termenung di atas ranjang—dengan selimut yang telah turun hingga ke dadanya. Ia sedang berpikir, haruskah dirinya ikut Chanyeol berolahraga? Jujur, Baekhyun sangat ingin menurunkan berat badannya.
"Baiklah, Byun Baekhyun. Angkat bokongmu dan mulailah hidup sehat," bisik Baekhyun pada dirinya sendiri, dengan semangat ia melompat keluar dari belitan selimut. Sempat tersandung dan tersungkur, tapi ia segera bangkit—tanpa mempedulikan tubuh telanjangnya yang terekspos. Ia harus cepat bersiap-siap kalau tidak mau ditinggal Chanyeol. Ya, ia akan mengawali perubahannya mulai pagi ini.
"Mau ke mana? Tidak lanjut tidur lagi?" tanya Chanyeol sepintas, agak berkerut kening tapi tak sungguh butuh jawaban. Ia berjalan ke arah cermin, melewati Baekhyun yang sibuk memakai celana.
"Aku akan ikut olahraga dengan Chanchan."
Sedetik, gerakan Chanyeol menyisir rambut, terhenti. Maniknya sejurus menatap sosok Baekhyun yang terpantul pada cermin, setelan olahraga memang telah melekat di tubuh mungilnya. Kekasihnya itu menuju kamar mandi, mungkin untuk mencuci muka. Namun sebelum benar-benar masuk, Chanyeol lebih dulu berucap, "Kenapa tiba-tiba?"
"Hm?" Baekhyun berbalik, melihat Chanyeol yang masih menghadap cermin, membelakanginya. "Kurasa aku harus mulai olahraga. Lihat, lemakku sudah di mana-mana." Ia menunduk, menjawab dengan nada sedih seolah mengasihani tubuh gembulnya.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa mengajakmu hari ini, Baek."
Dibuatnya Baekhyun mendongak cepat, secepat rasa kecewa yang kini menelusuki dadanya. "Kenapa?"
"Aku akan langsung ke studio setelah olahraga," jawab yang lebih tinggi, memutar badan untuk berhadapan dengan kekasihnya.
"Oh, aku tidak apa-apa pulang sendiri nanti."
Chanyeol tak lekas menyahut, pilih menghampiri Baekhyun yang setia berdiri di depan pintu kamar mandi. Diraihnya pipi Baekhyun dengan kedua tangannya, membuat si mungil mendongak dan menatapnya. "Beberapa hari belakangan Lee Sajangnim memintaku untuk menjadi instrukturnya. Aku pasti nanti akan mengabaikanmu, Baek," jelasnya, tersenyum meminta pengertian.
"Begitu, ya?"
Kentara sekali kekecewaan dalam suara Baekhyun, dan jelas Chanyeol mengetahui itu. "Mungkin lain kali. Kalau mau kau bisa joging di taman, akhir pekan begini banyak orang yang berolahraga di sana," ia coba mengusulkan.
Namun si kecil justru terdiam. Kelopaknya bergerak pelan, memandangi netra lawan tatapnya dengan bibir bawah tergigit. Tampak menimbang sesuatu.
"Baek?"
"Oke," putus Baekhyun akhirnya, menampilkan senyum ceria seperti biasa yang mengundang Chanyeol untuk mengecup bibirnya.
"Good, kuberi tumpangan sampai ke taman."
Dan Baekhyun hanya mengangguk mengiyakan. Seharusnya ada yang ingin ia tanyakan sejak semalam, ada yang perlu Chanyeol luruskan. Tetapi Baekhyun tak cukup nyali, tak punya keberanian untuk menanyakannya. Ia takut belum mempersiapkan hati, pula takut menambah kerenggangan di antara keduanya.
Siapa wanita itu, Chanchan?
.
.
.
Masih gamblang dalam ingatan Luhan pertama kali ia bertemu dengan Baekhyun, delapan tahun silam. Saat itu kampusnya tengah mengadakan festival musim panas tahunan. Ada pertunjukkan musik, pameran karya seni mahasiswa, bazar buku, dan tentu saja pasar jajan—tempat terfavorit orang-orang (termasuk Luhan) dalam acara bertajuk apa pun. Ia ingat menjadi salah satu panitia di bazar buku, sedang kelaparan sehabis mengangkuti buku-buku yang tidak sedikit jumlahnya. Karenanya ia melipir ke stan penjual donat di pasar jajan, namun ternyata di sana ia malah berkelahi dengan seorang anak berseragam sekolah menengah. Jambak-jambakan hingga berguling-guling di tanah, hanya karena memperebutkan satu-satunya donat yang tersisa di stan tersebut.
Kenangan yang memalukan, memang. Namun, perkelahian itu justru yang membuat keduanya tahu satu sama lain, dan akhirnya bersahabat sampai sekarang. Sebab, tidak ada yang tahu bagaimana seseorang akan mendapatkan sahabat sejati, kan? Alasan mereka bersahabat pun sepele, makanan.
Ya, Luhan dan Baekhyun sama-sama pecinta makanan. Semua jenis makanan, manis, asin, gurih, asian, westren, apa saja. Mereka akan bahagia melahapnya. Terutama Baekhyun, dia adalah pemakan segala.
Maka itulah kini ia menerka-nerka, ada apa dengan Byun Baekhyun-nya?
"Oke, Bitch, ini bukan kebiasaanmu." Tak tahan, Luhan pun memutuskan bertanya. "Jus stroberi tanpa gula dan tanpa susu? Kau juga menolak traktiran cheese cake-ku. Ada apa? Cepat katakan pada Hyung."
"Dia sedang diet."
"Diet?" Luhan mengulangi, bertanya dengan nada meledek dan menyemburkan tawanya. "Yang benar saja, diet tidak ada dalam kamus Byun Baekhyun," lanjutnya cekikian, benar-benar tidak percaya pada jawaban Kyungsoo baru saja.
"Tadi pagi dia bahkan pergi joging," Kyungsoo menambahkan, menyampaikan informasi yang diketahuinya tanpa seizin si objek pembicaraan, dan tanpa rasa berdosa. Dengan santai telunjuknya giat bermain pada layar tablet di hadapan, mengunggah foto-foto kue buatannya ke akun Instagram khusus tokonya.
"Benarkah?" si pria manis keturunan Tiongkok menyahuti, membelalak berlebihan sengaja menggodai sahabatnya yang sejak tadi menekuk muka.
Baekhyun kesal, jelas. Niat seriusnya menurunkan berat badan malah dijadikan bahan ejekan teman-temannya. "Aku hanya ingin mulai hidup sehat," gerutunya, yang sayangnya tak dihiraukan Luhan—atau lebih tepatnya, menolak menghiraukan.
"Ya, Soo-ya... ayo taruhan tiga puluh ribu won. Aku yakin Baekhyun tidak akan bertahan lebih dari seminggu."
"Tiga hari."
"Ya!
Luhan kembali meledak dalam tawa, puas melihat teriakan kesal Baekhyun sementara Kyungsoo tetap pada wajah tak terganggunya—mungkin karena tidak ada pengunjung lain sehingga ia membiarkan teman-temannya berbuat rusuh di tokonya. "Kau juga harus ikut, Baek. Enam puluh ribu won jika kau bertahan sampai hari ketujuh," tambah Luhan.
"Kalian menyebalkan." Baekhyun meneguk jusnya hingga tandas, hanya dengan beberapa teguk—tanpa sedotan. Awas saja kalau dietnya berhasil, Baekhyun berjanji akan telanjang di depan kedua teman jalangnya ini, lalu memamerkan bentuk tubuhnya yang baru. Dan tentu saja meminta jatah enam puluh ribu won atas kemenangannya.
"Aku tahu 'mulai hidup sehat' bukan alasan utamamu," kata Luhan selanjutnya begitu tawanya mereda. Di kursi sampingnya, Kyungsoo mengangguk menyetujui meski matanya terus fokus pada layar tablet. "Nah, sekarang cepat ceritakan ada apa sebenarnya?"
Yang ditanya tidak segera menjawab, bingung. Sebelum ini Baekhyun bukanlah orang yang peduli dengan bentuk tubuh seseorang, termasuk dirinya sendiri. Toh, dulu Chanyeol bilang ia menerima Baekhyun apa adanya, jadi ia tidak ambil pusing walau berat badannya naik berapa pun—asal masih dalam tahap normal. Namun, secara perlahan dan diam-diam, hal itu justru menjadi kegelisahaannya saat ini. Terkhusus sejak ia melihat Chanyeol dan entah siapa, di depan restoran Prancis tempo hari.
Haruskah ia menceritakannya pada Luhan dan Kyungsoo?
"Aku iri denganmu, Hyung," ia akhirnya bersuara, yang otomatis menaikkan sebelah alis Luhan. "Kau juga suka makan, tapi badanmu tetap ideal. Tidak adil sekali."
"Itu karena metabolismeku lebih kuat darimu. Dan aku bukan orang yang malas berolahraga sepertimu, Byun Dwaeji Baekhyun."
Baekhyun berembus napas berat, berkerucut bibir tak senang dengan sebutan dwaeji untuknya. Namun demikian, ia membenarkan juga perkataan Luhan tersebut.
"Ah, bagaimana kejutan anniversary kalian?"
"Dia langsung mengusirku begitu masakan selesai kubuat. Dasar tidak tahu terima kasih." Lagi-lagi Kyungsoo menyela jawaban, kali ini diikuti lirikan tajam ke arah Baekhyun, masih tidak terima usiran temannya itu beberapa hari lalu.
"Maaf, Kyungsoo-ya..." Ya, Baekhyun serius menyesal. Seandainya ia tidak buru-buru mengusir Kyungsoo, pasti ia tidak akan kesepian saat Chanyeol ternyata tidak pulang, tapi—
"Kalau begitu, sudah pasti bitch yang satu ini mengalami malam panas di hari jadinya. Aku benarkan, kan?"
"Oh? Hm... ya, begitulah," —mungkin memang lebih baik ia mengusir Kyungsoo malam itu, karena nyatanya ia tidak siap mendapatkan pandangan mengasihani dari teman-temannya. Ia memilih untuk berbohong, dan memendam kegelisahannya seorang diri.
.
.
.
TBC
Hahaha... harap maklum kalau work-nya sampai jamuran.
How? How? Ada yang punya pengalaman pribadi macam Baekhyun nggak, sih?
Review juseyooooong...
