Author's note:

Before starting the story, I'll humbly apologize for the characterization… I know, Kacchan is an explosive type, so it's almost impossible for him to be like this. But, in this story he's already grown up so maybe he has changed a little (maybe, just maybe).

Aniway, aside from that excuse, I hope you guys really like the story.

Happy reading all! Cheers!

.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Day 2 : Who I am?

"Kau bilang apa tadi, Bakugou?"

Katsuki memejamkan sedikit matanya dan memijat dahinya begitu mendengar suara di ujung telepon. Ia menghela napasnya sedikit sebelum akhirnya berkata, "Pelankan suaramu, Kirishima! Ini di rumah sakit."

Lawan bicara di telepon tentu saja tidak menggubris perkataannya. Masih dengan suara nyaring yang sama, sang penelepon berkata, "Dokumen di atas mejamu sudah menumpuk, tahu! Aku tidak peduli walau kau di depan pintu gerbang Neraka sekalipun, pokoknya kau harus menyeret kakimu ke kantor!"

"Jangan bercanda!" Katsuki berkata dengan nada sinis. "Di Neraka tak ada sinyal!"

"Terserahlah," lawan bicaranya sudah enggan membalas candaannya. "Aku tak peduli di mana pun kau berada, yang jelas tumpukan dokumen itu harus segera…"

"Dengar, Kirishima!" Katsuki akhirnya memotong perkataan lawan bicaranya. "Aku baru saja mengalami kecelakaan."

"Aku tak mau dengar kebohonganmu kali i…," lawan bicara yang dipanggilnya Kirishima itu memotong sendiri ucapannya ketika menyadari perkataan Katsuki. "Apa kau bilang?"

"Aku baru saja kecelakaan," ulang Katsuki. "Hampir saja dipersilakan masuk oleh penghuni Neraka, tapi sayangnya mereka bilang aku belum cukup umur."

Kirishima menelan ludah. "Aku tidak ingin bercanda saat ini, Bakugou."

"Aku pun tidak sedang bercanda," jawab Katsuki dengan nada serius. "Kemarin, mobilku menghantam pembatas jalan, bagian depannya rusak parah. Sepertinya untuk beberapa hari aku takkan bisa bekerja."

"Omong kosong," balas lawan bicaranya dengan cepat. "Kalau hanya mobil, kau masih punya yang lain, itu bukan alasan untuk…"

"Kepalaku terbentur," potong Katsuki cepat, "tanganku pun harus di gips selama beberapa minggu."

"Lalu?" Kirishima masih tak percaya. "Kalau tangan kiri yang di gips bukan masalah 'kan? Kau masih bisa menandatangani semua dokumen itu dengan tangan ka…"

"Tidak bisa, kedua tanganku di gips." Katsuki beralasan sembari memainkan jemari di tangan kanannya. Kalau saja lawan bicaranya tahu apa yang tengah dilakukannya, pastilah orang itu akan mengamuk lagi di telinganya. "Kau mau aku menandatangani dokumen dengan kaki?"

"Kenapa tidak?"

"Daripada itu, jauh lebih baik seseorang yang kedua tangannya baik-baik saja yang mengurus semua dokumen tersebut," kata Katsuki sambil memejamkan sedikit matanya, membayangkan bahwa lawan bicaranya pasti tengah membelalak lebar mendengar perkataannya. Ia pun mengangguk-angguk dan berkata, "Orang yang paling dapat diandalkan, seorang 'tangan kanan' yang serba bisa…"

"Bakugou Katsuki! Kuperingatkan kau, kalau kau melimpahkan pekerjaanmu lagi padaku…"

"Nah Kirishima," kata Katsuki mengakhiri perkataannya, "kuberi kau kepercayaan penuh atas semua dokumen di mejaku."

"Jangan…"

"Mau kau bakar, kau hancurkan, atau kau bagi-bagikan juga tidak masalah buatku," lanjut pemuda yang mengaku baru saja mengalami kecelakaan itu.

"Da-sar-sam-…"

"Semua terserah padamu!" Katsuki kembali memotong ucapannya. "Yang pasti usahakan jangan sampai mereka beranak cucu saat aku masuk nanti!"

Tanpa mengindahkan makian penuh kasih sayang dari bawahannya, Katsuki pun menekan icon berwarna merah pada layar handphonenya. Tak hanya itu, pemuda yang baru saja membolos kerja itu juga mematikan handphonenya sekaligus supaya mereka tak mengganggunya lagi, Sempat ia melirik pada akuarium di samping dan terpaksa ia tahan keinginannya untuk mencelupkan gadget tersebut ke dalam air. Kalau saja ia tidak ingat bahwa semua urusan finansialnya berhubungan dengan benda itu, pasti saat ini handphonenya sudah berenang-renang di dalam sana.

Baru saja ia berubah pikiran dan hendak memasukkan smartphone miliknya ke dalam saku, sesuatu bergetar di kantung kemejanya. Penasaran, pemuda berambut pirang pucat itu menggerakkan tangan ke bagian kiri kemejanya dan mengeluarkan smartphone lain dengan casing berwarna hijau tua. Smartphone itu masih bergetar ketika berada di tangannya, sehingga Katsuki mendekatkan smartphone tersebut dan membaca notifikasi yang tertera pada layar.

'Incoming call alert : Shouto'

Melihat nama yang tertera di layar, Katsuki langsung menyentuhkan jemarinya pada icon berwarna merah dan menggesernya. Sama dengan yang ia lakukan pada handphonenya, ia pun mematikan handphone di tangannya itu sebelum memasukkannya kembali ke kantung celana.

Ia tahu, mematikan handphone saja takkan cukup untuk membuat pemuda itu menyerah. Malahan dengan berbuat demikian, ia justru membuat pemuda itu curiga dan mencari-cari alasan untuk mempercepat kepulangannya. Namun untuk saat ini, Katsuki tidak mau ambil pusing. Biarlah ia memikirkan urusan itu nanti, yang jelas, saat ini Katsuki tidak mau waktu berharganya diganggu dengan memikirkan si penelepon.

Perlahan, Katsuki kembali berjalan menyusuri koridor dan melangkah menuju ke kamar yang terletak di paling ujung. Begitu ia tiba di depan pintu, Katsuki menggerakkan tangannya dan menggeser dengan hati-hati, berharap agar penghuni di ruangan itu tidak terbangun. Waktu baru menunjukkan pukul tujuh pagi, masih terlalu cepat bagi penghuni kamar untuk membuka matanya. Karenanya, Katsuki pun mengambil tempat di samping tempat tidur dan kembali menyentuhkan kepalanya pada tepian ranjang. Tangannya terulur pada sang penghuni yang menempati kamar tersebut.

Ujung jemarinya berhasil menggapai helaian rambut yang menghalangi pelipis gadis itu dan menyingkirkannya. Ia memandangi hasil kerjanya selama beberapa saat, sebelum membawa jemarinya berpindah menuju ke pipi gadis itu dan mengusapnya lembut. Kelopak mata si gadis bergerak sedikit ketika ia melakukannya, namun tak ada tanda-tanda si gadis akan membuka mata. Karenanya, Katsuki pun membiarkan jemarinya tetap berada di sana, sembari mengamati wajah si gadis.

Terlelap begitu damai, Midoriya Izuku terbaring di atas ranjangnya. Ia bahkan tak menyadari bahwa ada pemuda yang menghabiskan waktu semalam suntuk hanya untuk memandangi wajahnya. Ia tetap terlelap dalam diam, dengan napas yang berembus teratur.

Katsuki mengantuk, sangat mengantuk, tapi ia tidak ingin terlelap. Ia ingin terus mengamati wajah itu. Ia ingin terus memandangi alis yang melengkung sempurna di atas kelopak mata, mengamati bulu mata lentik yang berjejer rapi di atasnya, juga bintik-bintik kecil di bawah mata gadis itu. Ia berharap waktu berhenti saat ini, dengan dirinya berada di samping si gadis dan mengamatinya yang tengah terlelap.

Hanya saja, Katsuki tahu bahwa waktu tidak pernah berhenti untuknya. Benda melingkar yang memantulkan cahaya matahari pagi itu yang mengingatkannya. Benda yang sebelumnya dipakai Katsuki untuk membuat gadis itu percaya, bahwa dirinya adalah suami si gadis, berkilau mengintimidasi, seolah memberinya ultimatum bahwa waktunya tinggal sedikit sebelum sang pemilik sesungguhnya datang dan merebutnya dari Katsuki.

Cincin itu bukan miliknya. Cincin itu bukan pertanda bahwa gadis ini adalah istrinya. Cincin itu merupakan pertanda bahwa gadis itu adalah tunangan orang lain. Tapi entah kenapa, Katsuki malah mengklaim benda itu. Ia membuat si gadis beranggapan bahwa dirinya lah yang memberikan cincin itu dan bukan Todoroki Shouto, tunangan yang sesungguhnya.

Oh! Jangan salah! Katsuki sama sekali tidak menyesal merebut gadis ini dari tangan tunangannya. Sejak awal ia sudah membulatkan tekad untuk merebut gadis ini kembali dan langit membantunya dengan menghilangkan ingatan gadis ini. Bukan salahnya kalau pada akhirnya ia mengklaim benda tersebut sebagai miliknya. Justru salah si pemberi, yang tak berada di samping gadis itu dan mengira bahwa benda itu cukup untuk membuat si gadis terikat padanya.

Hanya karena sebuah cincin, Todoroki Shouto mengira sudah memenangkan gadis itu. Sebuah kesalahan besar karena mengira bahwa sebuah cincin sudah cukup untuk menghalau dirinya. Kesalahan besar karena mengira dirinya akan diam saja dan membiarkan miliknya direbut. Gadis ini adalah milik Bakugou Katsuki, bukan Todoroki Shouto.

"Ng…"

Suara lemah yang diiringi dengan kelopak mata yang bergerak perlahan membuat Katsuki tersentak dari lamunannya. Ia pun mengangkat sedikit kepalanya dan menatap pada sumber suara. Sembari memegangi tangan si gadis, Katsuki pun menanti hingga manik sehijau zamrud itu keluar dari tempat persembunyiannya.

Masih terbaring lemah, si gadis perlahan mengangkat kelopak matanya. Manik hijau zamrudnya tertangkap oleh manik delima Katsuki, dan seketika itu sang pemilik berkata, "Ohayou… Katsuki…"

Suara pelan dengan sedikit jeda membuat pemuda yang mendengarnya melengkungkan kembali bibirnya. Ia mengangkat tangan yang digenggamnya itu dan dan menyentuhkannya ke bibir. Kemudian ia pun berkata, "Ohayou, Izuku."

Walaupun ia tidak berhasil mengingat siapa dirinya, namun ia mengerti bahwa dirinya lah Izuku yang dimaksud oleh pemuda itu. Membalas senyuman si pemuda, gadis itu pun menorehkan garis lengkung yang sama di wajahnya sebelum menggerakkan kepalanya ke arah jendela. Melihat sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan, gadis itu pun berkata, "Sudah pagi?"

Katsuki mengangguk menyetujui, "Sudah pagi."

Perhatian sang gadis kembali teralih pada pemuda di sampingnya. Ia mengamati sedikit penampilan pemuda yang mengaku sebagai suaminya itu dan berkata, "Katsuki… tidur nyenyak?"

"Ah…," Katsuki mengalihkan perhatiannya. Tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak memejamkan matanya sedikit pun sejak kemarin. Sebagai gantinya, pemuda satu itu berkata, "Aku memejamkan mata sebentar."

Menatap Katsuki, si gadis pun kembali berkata, "Katsuki… tidak bisa tidur?"

Tahu tidak ada gunanya berbohong, Katsuki pun mengangguk dan berkata, "Aku sulit tidur kalau bukan di rumah."

"Rumah," gadis itu mengulangi perkataan Katsuki. "Rumah… kita?"

Katsuki mengangguk, "Rumah kita."

Sedikit keingintahuan kembali tersirat di wajah gadis itu. Ia menatap Katsuki dan kembali bertanya, "Seperti… apa?"

Alis Katsuki terangkat mendengar pertanyaannya. "Ya?"

"Rumah...," ujar gadis itu, "yang kita tempati, seperti apa?"

Mendengar pertanyaan bernada ingin tahu dari gadis itu, Katsuki pun kembali terdiam. Sebelum menjawab, Katsuki lebih memilih untuk berkata, "Kenapa kau bertanya?"

"Aku… aku ingin mengingatnya," jawab gadis itu cepat. "Aku ingin mengingat, sebelum kita kembali."

Tidak. Katsuki tidak ingin gadis itu mengingat. Katsuki ingin gadis itu tetap seperti ini. Kalau tidak, ia takkan punya kesempatan untuk berada di sisi gadis ini. Walaupun begitu, Katsuki memilih untuk menyimpan sendiri pikirannya dan malah berkata, "Aku senang kalau kau mau melakukannya, tapi jangan paksakan dirimu."

"Tapi…," kata gadis itu, "Katsuki akan sedih, bila aku tidak bisa mengingat."

"Aku… sedih?"

Gadis di hadapannya kembali mengangguk dan ia berkata, "Ketika aku tidak bisa mengingat tentang Katsuki, Katsuki bersedih. Makanya… makanya kalau aku bisa mengingat seperti apa rumah kita, mungkin… mungkin Katsuki tidak akan… sedih."

Katsuki mengerjapkan matanya ketika mendengar alasan Izuku. Ia menatap gadis yang tertunduk di hadapannya itu sebelum menyentuhkan satu tangannya pada kepala gadis itu. Ia pun menyentuhkan kepalanya ke bahu si gadis dan berkata. "Terima kasih."

"Kat…suki?"

"Tapi… seperti ini pun tak apa," lanjut Katsuki sambil menatap manik sehijau zamrud milik gadis itu. "Tak bisa mengingat rumah, tak bisa mengingatku pun… tak apa. Aku sudah cukup bersyukur bahwa kau masih hidup."

"T-tapi…"

"Jangan dipikirkan," ucap pemuda itu lagi sambil mengusap-usap rambut gadis itu perlahan dan mengangkat kepalanya, "Kehilangan ingatan bukan masalah besar untukku dibanding kehilanganmu."

Gadis itu terdiam sedikit mendengar perkataan Katsuki. Ia menatap manik delimanya yang memandanginya itu sebelum kembali menundukkan kepala. Dibiarkannya pemuda itu menyentuh rambutnya sementara dengan sedikit pelan ia berkata, "Katsuki… baik sekali."

Alis Katsuki kembali terangkat saat mendengar perkataan gadis itu. Apa… katanya? Dia baik? Apa ia tak salah dengar?

"Aku… pasti beruntung sekali," ujar gadis itu, "memiliki suami seperti Katsuki."

Tangan yang selama ini mengusap-usap kepala gadis itu terhenti ketika mendengar ucapan si gadis. Bahkan sang pemiliknya pun hanya dapat tertegun ketika mendengar perkataan tersebut. Tenggorokannya tercekat hingga ia tak dapat mengucapkan apa pun sebagai respon.

Beruntung? Gadis itu menganggap dirinya beruntung memiliki suami seperti dirinya? Gadis itu…

"Katsuki," gadis itu mengangkat manik sehijau zamrudnya dan menatap pemuda berambut ash blonde di hadapannya dengan sedikit antusias. "Apa… selama ini aku istri yang baik bagi Katsuki?"

"A… itu…"

"Seperti apa aku selama ini, Katsuki?" Gadis itu bertanya lagi. "Aku… aku ingin tahu."

Pemuda itu terdiam sejenak mendengar pertanyaan gadis itu. Manik semerah delimanya bertemu dengan manik kehijauan gadis itu. Untuk beberapa saat, ia tak mengatakan apa pun, hingga gadis itu memanggil namanya sekali lagi. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, tapi bila ia tidak menjawab gadis itu akan sangat curiga. Ia tak punya pilihan selain berkata, "Kau… kau istri yang baik."

Gadis itu mengerutkan dahinya dan sedikit keraguan menyusup ke dalam hatinya. Kenapa… pemuda itu tak langsung menjawab? Kenapa… kelopak mata pemuda itu bergetar saat ia bertanya seperti apa dirinya? Apakah… itu pertanyaan yang sulit untuk pemuda itu? Apakah… pemuda itu … berbohong padanya?

Ia tidak percaya dan karenanya ia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Katsuki, kalau aku istri yang buruk, katakan saja! Aku... aku akan berubah."

Kelopak mata pemuda itu kembali bergetar dan tanpa bisa dicegahnya, pemuda itu mendekatkan diri dan memeluknya. Gadis itu merasakan gelengan lemah di bahunya diikuti dengan perkataan, "Tidak. Kau benar-benar baik. Sangat baik."

"Katsuki…" Gadis itu memaksanya, tapi yang dikatakan pemuda berambut pirang pucat itu tetap sama.

"Gadis yang baik. Istri yang sangat baik." Ia berkata. "Aku… bersyukur memilikimu."

"Kat…"

"Sangat…," lanjut pemuda itu sembari mencengkeram erat rambut ikal si gadis, "bersyukur."

Mendengar perkataannya, gadis itu ingin sekali menjawab, namun ia menahan ucapannya. Sesaat sebelum memeluknya, ia sempat melihat ekspresi di wajah pemuda itu. Seperti itukah wajah yang begitu bersyukur karena memiliki istri seperti dirinya? Kenapa wajah itu… tidak menunjukkan kebahagiaan dan kebanggaan? Kenapa… wajah itu menunjukkan kesakitan dan kesedihan? Bukankah kalau ia sangat bersyukur, ia tak akan menunjukkan wajah seperti itu?

Istri yang baik, tidak akan membuat suaminya berwajah seperti itu saat mengatakan bahwa ia bersyukur 'kan? Apakah… ia sungguh-sungguh istri yang baik bagi pemuda itu? Atau pemuda itu hanya menenangkannya semata karena ia tidak bisa mengingat apa pun?

Izuku bingung. Sangat bingung. Namun setiap kali ia melihat manik delima di mata pemuda itu, Izuku tahu bahwa pemuda ini memiliki perasaan yang sangat besar padanya. Sepasang manik delima yang terus mengawasinya ketika ia terlelap dan sepasang mata yang terus menjaganya sekalipun ia takut karena tak bisa mengingat apa pun. Ia merasa aman ketika melihat dirinya terpantul di manik merah itu, walaupun terkadang, ada perasaan lain yang tidak ia kenali setiap kali ia memandang jauh ke dalamnya.

Masih banyak yang ingin Izuku ketahui tentang pemuda ini, namun sayangnya, Izuku tak dapat memikirkannya lebih lanjut karena mendengar suara pintu diketuk. Suara itu membuat pemuda yang memeluknya pun mengangkat kepalanya dari bahu Izuku dan menjauhkan diri sedikit. Tak lama kemudian, pintu digeser dan seorang perawat masuk sembari membawa troli.

"Selamat pagi," sapa si perawat sambil meletakkan makanan yang berada di dalam nampan stainless ke meja di samping tempat tidur Izuku. "Saya letakkan makanannya di sini, ya?"

Izuku mengangguk dan membiarkan perawat meletakkan nampan berisi makanan tersebut. Ia memerhatikan ketika si perawat menoleh sedikit pada pemuda di sampingnya dan berkata, "Apakah Tuan Bakugou ingin makanan Anda diletakkan di sini?"

Katsuki menoleh mendengar perkataan si perawat dan ia berkata, "Ah, ya."

Si perawat meletakkan satu nampan makanan lain di atas nampan milik Izuku. Tak lama kemudian, ia pun undur diri dan menghilang di balik pintu. Sementara itu perhatian Izuku terarah pada dua buah nampan yang ada di atas meja dan kembali menatap Katsuki. Sembari meringis, ia pun berkata, "Aku penasaran dengan menunya."

Alis Katsuki kembali terangkat. Tangannya menyentuh salah satu nampan dan membuka penutupnya. Ia tidak terkejut melihat bubur dengan beragam sayur terhidang di hadapannya. Sambil menunjukkan isi makanannya pada Izuku, pemuda itu berkata, "Mungkin aku akan membeli makanan di kantin."

Izuku tertawa mendengar komentarnya dan ia berkata, "Kalau begitu, aku juga!"

Perkataan gadis itu diikuti dengan tindakannya yang hendak turun dari ranjang sembari menumpukan dirinya pada tiang infus di sampingnya. Namun sebelum ia berpijak, Katsuki sudah memutari ranjang tersebut sambil menahan tangan gadis itu. Ia pun berkata setelahnya, "Biar aku saja yang membeli. Kau di sini saja, Izuku!"

"Tapi…" Katsuki ragu-ragu. "Aku juga ingin ikut."

Menggelengkan kepala, Katsuki berkata, "Kau masih lemah, harus banyak istirahat. Sebaiknya kau di sini saja!"

Sebenarnya Izuku masih ingin membantah, namun mendengar perkataan yang sama untuk kedua kalinya, Izuku akhirnya memilih untuk patuh. Ia membiarkan Katsuki mengitari kembali tempat tidurnya, sebelum pria itu beranjak menuju ke pintu. Ia masih bisa melihat punggung pemuda itu sebelum benar-benar menghilang di baliknya. Ketika pemuda itu meninggalkannya, barulah ia menatap ke arah lain.

"Katsuki," gumamnya, "Bakugou… Katsuki."

Katsuki sendiri berjalan menuju ke koridor yang mengarah ke lift. Ia turun ke lantai dasar, mengikuti petunjuk arah yang bertuliskan 'Food Court' dan melangkahkan kakinya ke sana. Sayangnya, ia tidak menemukan apa pun selain kios-kios yang masih tertutup. Ia lupa bahwa jam baru berlalu tiga puluh menit sejak ia menelepon Kirishima sebelumnya. Belum waktunya kios-kios ini buka dan menghidangkan makanan.

Menarik satu bangku di dekatnya, Katsuki pun duduk dengan punggung menempel dengan sandaran kursi. Pemuda berambut pirang pucat yang tidak beraturan itu menengadah menatap langit-langit kantin. Matanya terpejam sementara ingatannya kembali berputar pada percakapan mereka sebelumnya.

'Aku pasti beruntung sekali.'

Katsuki menggeleng pelan.

'Memiliki suami seperti Katsuki.'

Sekali ini mata Katsuki kembali terbuka dan ia kembali menatap langit-langit. Matanya sedikit menyipit dan ia kembali menelan ludah. Izuku merasa beruntung karena memiliki suami seperti dirinya. Entah apa yang akan gadis itu katakan, kalau ia ingat akan peristiwa yang sudah lama berlalu itu.

"Kacchan! Kacchan sakit!" Gadis itu meringis, menahan sakit di pergelangan tangannya. "Lepaskan aku!"

Berjalan di depan si gadis, Katsuki mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat, menyeretnya untuk terus berjalan. Beberapa pasang mata memandang penuh ingin tahu pada mereka, namun tak ada satu pun yang berniat untuk menolong si gadis. Lebih baik bagi mereka untuk menjaga jarak aman dibanding berurusan dengan Bakugou Katsuki.

"Kacchan…"

Entah tidak mendengar, entah berpura-pura tidak mendengar, pemuda itu terus saja berjalan dengan Izuku terseok-seok di belakangnya. Begitu tiba di depan lift, ia menempelkan kartu dan menekan tombol yang menunjukkan lantai tempat apartemennya berada. Pintu lift pun kembali tertutup ketika keduanya sudah masuk. Perlahan lift bergerak membawa mereka menuju tempat tinggal Katsuki.

Lift membawa mereka naik, lantai demi lantai. Di dalam, baik pemuda yang mencengkeram tangannya maupun si gadis, tak ada yang bicara. Keduanya seolah tenggelam dalam pikiran masing-masing. Paling tidak hingga pintu lift kembali terbuka dan menunjukkan bagian depan pintu masuk apartemen Katsuki. Tanpa banyak bicara, pemuda itu menempalkan kembali kuncinya dan menunggu hingga lampu hijau di atas gagang pintu berkedip sebelum mendorong pintunya.

Tanpa menutup pintunya, pemuda itu menyeret Izuku masuk dan baru melepaskannya begitu mereka sudah berada di ruang keluarga. Mengambil tempat duduk di salah satu sofa, pemuda itu kembali berkata, "Duduklah, Deku!"

Gadis itu tidak bergerak. Ia masih berdiri tepat di tempat Katsuki meninggalkannya.

"Kubilang duduk, sialan!" Katsuki berkata dengan nada tinggi. "Duduklah, sebelum aku kehilangan kesabaranku!"

Pembangkangan hanya akan membuat Katsuki semakin naik darah. Gadis ini paham akan hal itu dan memilih untuk tidak membantah. Perlahan, gadis berambut ikal itu melangkahkan kakinya mengikuti Katsuki dan mengambil tempat di salah satu sofa yang jauh dari tempat Katsuki duduk. Menundukkan kepala, gadis itu pun kembali diam.

"Aku melihatmu dengan Shouto," ujar Katsuki. "Apa yang kau lakukan dengannya?"

Gadis itu masih menunduk. Tidak mengatakan apa pun.

"Jawab, Deku!"

Walaupun sudah mendengar nada perintah, gadis itu tak kunjung menjawab. Ia tetap menunduk, seolah tak mendengar ucapannya.

Melihatnya, Katsuki pun kembali naik darah sehingga ia berkata, "Jawab aku, sialan!"

Kepala gadis itu diangkat dan ia menatap Katsuki. Tidak ada isakan, tidak ada airmata. Gadis iitu hanya menatap Katsuki. Kelelahan terpancar dari kata-katanya.

"Apa lagi… yang harus kukatakan?"

"Apa pun!" Katsuki kembali membentak. "Aku ingin tahu kenapa kau bersamanya? Kenapa kau bisa tertawa seperti itu bersamanya sementara kau tidak pernah menunjukkan tawa seperti itu di hadapanku?"

Gadis itu menatap Katsuki dan ia berkata, "Kau ingin aku tertawa?"

"Apa?"

"Diteriaki seperti ini olehmu," ujar gadis itu dengan pandangan yang membuat tenggorokan Katsuki tercekat, "dan kau masih memintaku untuk tertawa?"

Katsuki ingin sekali membantah. Namun ia tidak dapat mengatakan apa pun. Pandangan gadis itu seolah menyalahkannya, seolah mengatakan bahwa ini semua salahnya yang membuat hubungan mereka menjadi seperti ini.

Menjawab permintaan Katsuki, gadis itu pun membuka mulutnya dan suara tawanya memenuhi ruangan. Ya, gadis itu tertawa, tapi bukan tawa yang sama seperti yang Katsuki lihat saat gadis itu bersama Todoroki Shouto. Gadis itu tidak menitikkan airmata saat tersenyum di depan Shouto. Gadis itu seharusnya tertawa bahagia, bukan seperti ini.

"Hentikan…," Katsuki berkata. "Hentikan kubilang!"

"Kau ingin aku tertawa, bukan?" Gadis itu balas berkata. "Aku sudah tertawa."

Bukan. Bukan yang seperti ini. Ini… menyakitkan. Gadis ini… tidak ingin tertawa. Gadis ini hanya menunjukkan ekspresi yang belakangan ini sering Katsuki lihat. Ekspresi yang selalu membuat Katsuki tersiksa, ekspresi yang membuatnya harus menelan berbagai pil untuk menenangkan diri.

"Tidak," kata Katsuki sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak seperti ini. Kau tidak seperti ini di depannya."

Izuku mengangguk. "Ya, aku sendiri pun tidak pernah merasa menjadi diriku sendiri ketika bersama Bakugou Katsuki"

Katsuki ingin berteriak, ingin marah dan membentak ketika mendengar perkataan gadis di hadapannya. Tapi anehnya, semua amarahnya seolah terkunci ketika manik hijau zamrud itu menatapnya. Dulu manik hijau zamrud itu tidak menatapnya seperti ini. Manik hijau zamrud itu tidak memberinya ekspresi muak dan terluka… seperti ini…

"Kau bertanya kenapa aku bisa tertawa di depan Shouto?" Gadis itu kembali berkata, "Kenapa kau tidak bercermin dan menatap dirimu sendiri. Haruskah aku tertawa di hadapan orang yang meneriakiku 'sialan' setiap kali aku tidak menjawab?"

Sejak kapan ia meneriaki gadis ini 'sialan'? Sejak kapan perkataan lembutnya berubah menjadi makian? Sejak kapan gadis ini mulai berhenti tertawa dan menatapnya seperti ini?

"Benar juga," kata gadis itu sambil mengangguk, "kenapa aku masih terus bersamamu, padahal ada orang sebaik Shouto di dekatku."

Manik merah Katsuki melebar. Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Izuku… Izuku tidak bisa hidup tanpanya. Izuku…

"Kenapa aku harus bertahan mati-matian," lanjut gadis itu, "untuk seseorang yang tidak menghargaiku?"

Tidak menghargainya? Katsuki selalu menghargainya. Katsuki selalu menganggapnya berharga. Karena itulah Katsuki selalu menjaganya mati-matian, menjauhkannya mati-matian dari orang lain karena ia takut mereka akan merebut miliknya. Tidak sadarkah gadis ini bahwa semua itu ia lakukan karena gadis ini sangat berharga?

"Aku… tidak menghargaimu?" Katsuki mengulang ucapannya. "Aku?"

Gadis itu terdiam sejenak, tidak berani mendekat padanya dan mencengkeram lagi pergelangan tangannya erat. Ia berusaha berpaling, namun Katsuki memaksa agar pandangannya kembali terarah padanya. Tidak punya pilihan, Izuku pun kembali menatapnya dengan membawa seluruh kekecewaan dan rasa sakit yang selalu ia dapatkan ketika bersama pemuda itu.

Melihatnya, Katsuki pun menurunkan tangannya. Bukan ini. Bukan ini cara manik sehijau zamrud itu menatapnya dulu. Bukan ini.

"Kenapa?" Gadis itu berkata lagi sambil menatap mata Katsuki. "Kau mau memukulku? Silakan!"

Tidak. Katsuki tidak ingin memukulnya. Gadis ini gadis yang sangat berharga baginya. Katsuki… tidak ingin memukulnya.

"Kau boleh memukulmu sepuas hatimu, Bakugou Katsuki!" Gadis itu berkata lagi sambil menatapnya. "Tapi aku takkan pernah jadi milikmu!"

Tak pernah menjadi milik… nya? Bukankah… selama ini Izuku adalah miliknya? Bukankah selama ini ia mempertahankannya… karena Izuku adalah miliknya?

Katsuki memegangi kepalanya. Ia menatap gadis itu sembari menggelengkan kepala. Tidak. Ini tidak seharusnya seperti ini. Ia sangat mencintai gadis ini. Ia tidak ingin menyakiti gadis ini. Kenapa? Kenapa gadis ini menatapnya seperti itu?

Izuku… Izukunya yang ia cintai. Izuku yang ingin dilindunginya… Kenapa menatapnya seperti itu? Kenapa Katsuki tidak menemukan kebahagiaan yang ia cari? Kenapa Katsuki hanya menemukan kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan rasa sakit, di bola mata yang ia cintai itu?

Sebelum ia dapat menyadarinya, kedua tangan Katsuki sudah mencengkeram erat kepalanya. Pemuda itu menjerit dan terus menjerit, namun gadis itu tak mendekat padanya. Gadis itu hanya menatapnya, takut dan ngeri.

Jangan… jangan melihatnya seperti itu! Gadis itu tidak pernah melihatnya seperti itu. Kalau gadis itu hanya menunjukkan ekspresi seperti itu ketika bersamanya, lebih baik gadis itu pergi. Lebih baik gadis itu… pergi saja.

"Pergi," Katsuki berkata tanpa sadar. "Pergi!"

Benak Katsuki meminta gadis itu untuk pergi, tapi batinnya menjerit. Ia tidak ingin gadis itu beranjak. Walaupun begitu, setiap kali ia menatap ke manik sehijau zamrud dan tak menemukan apa yang ia cari, ia kembali berteriak, "Pergi!"

Gadis itu tidak menunggu. Ia segera bangkit dari sofa dan berlari menuju pintu sembari menatap Katsuki dengan waspada. Begitu ia sudah berada di ambang pintu, gadis itu menatapnya sekali sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan meninggalkannya. Ia mendengar bunyi pintu ditutup dan saat itu keheningan pun melandanya.

"Deku…" Katsuki berkata sambil memegangi kepalanya. Ketika manik sehijau zamrud itu tidak tertuju padanya, barulah kesadarannya kembali. Namun sudah terlambat untuk mengatakannya.

"Jangan… pergi…"

Daun pintu yang menyembunyikan gadis itu tetap tergantung di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda bahwa gadis itu akan kembali.

"Jangan pergi…"

Sudah terlambat. Ia sudah sangat terlambat untuk mengatakannya.

"Izuku…"

Katsuki tersentak ketika ia merasakan ada sedikit guncangan di tangannya. Manik merahnya langsung bergerak mencari-cari dengan panik. Namun ia terkejut ketika melihat sepasang manik hijau zamrud yang ia cari berada di hadapannya. Sesaat, ia mundur dan sedikit gentar saat melihatnya. Ia takut menemukan pandangan terluka dan kesakitan itu lagi.

"Katsuki?" Suara bernada khawatir memenuhi indera pendengarannya dan perlahan-lahan, manik merahnya menangkap kesan berbeda yang dipancarkan oleh kedua manik sehijau zamrud itu "Katsuki baik-baik saja?"

"A-aku…," Katsuki masih tergagap sedikit. Ia berusaha menguasai dirinya sendiri dengan berkata, "Y-ya, baik-baik saja. Kenapa kau ada di sini, Izuku?"

"Aku… aku menyusulmu karena kau tidak kembali," ujar gadis itu dengan ragu-ragu. "Apa… apa kau benar-benar baik-baik saja?"

Cepat-cepat Katsuki menganggukkan kepalanya dan berkata, "Ya, aku baik-baik saja."

"Benarkah?"

Sekali lagi pemuda berambut pirang pucat itu mengangguk dan menyunggingkan sedikit senyum yang dipaksakan. Ia tahu, kekhawatiran gadis itu tidak berkurang, karenanya ia pun kembali berkata, "Daripada itu, bukankah sudah kukatakan untuk tidak meninggalkan tempatmu, Izuku? Kenapa kau ke sini? Apa kau baik-baik saja? Kepalamu pusing?"

Gadis berambut hijau itu menggelengkan kepala dan ia berkata, "Aku tidak apa-apa, Katsuki. Aku baik-baik saja."

Mengikuti Izuku, Katsuki pun menggeleng dan ia berkata, "Kau seharusnya banyak beristirahat, Izuku! Ayo kita kembali ke kamarmu!"

"T-tapi…," kata gadis itu sembari memegangi ujung kemejanya.

"Ayo!" Katsuki berkata sambil bangkit berdiri dari kursi yang ditempatinya dan memapah gadis di sampingnya.

Melihat reaksi pemuda di sampingnya, dahi si gadis pun berkerut dan ia berkata, "Apa… apa aku merepotkan Katsuki?"

"Merepotkan?" Katsuki mengulang pertanyaan si gadis dengan bingung. "Tidak. Kau tidak merepotkan. Kenapa kau bilang begitu?"

"Karena…," kata gadis itu sembari menunduk, "Katsuki tidak bisa memejamkan mata ketika di dekatku, dan… dan begitu tertidur, Katsuki pun memanggil namaku dengan gelisah. Aku… apa sebenarnya aku… sangat merepotkan Katsuki sebelumnya? Apa aku bukan istri yang baik sebelumnya?"

"Tidak," sanggah Katsuki cepat. "Bukan karena itu…"

"Katsuki tidak perlu berbohong," kata gadis itu lagi. "Kalau aku bukan istri yang baik, Katsuki boleh mengatakannya padaku."

"Tidak, aku…"

"Jangan berbohong padaku!" Izuku menggelengkan kepalanya. "Kalau aku istri yang baik, Katsuki tidak akan memanggil namaku seperti itu. Katsuki tidak akan bersedih ketika menatapku, juga tidak akan menghindariku. Aku… aku pasti bukan istri yang baik."

Untuk sesaat, Katsuki sampai tidak tahu harus mengatakan apa. Ia sudah banyak berbohong dan ia akan terus berbohong. Sekarang ketika gadis itu meminta untuk tidak berbohong padanya, Katsuki tidak tahu apakah ia tengah berbohong atau berkata jujur.

"Izuku…"

Kepala gadis itu terangkat dan ia menatap pemuda yang ada di sampingnya.

"Kalau kau bukan istri yang baik," kata pemuda itu lagi, "aku tak mungkin berada di sini dan menjagaimu semalaman suntuk."

"Tapi…"

"Untuk apa aku takut kehilangan istriku," lanjut si pemuda, "kalau ia bukan istri yang baik."

Masih menatap pemuda itu, Izuku pun menoleh ke arahnya. Namun yang ditemuinya hanya manik semerah delima yang memantulkan bayangannya. Manik semerah delima yang takut kehilangannya dan belum pernah ia temukan di mata orang lain.

Ia tahu, pemuda ini mungkin tak sepenuhnya berkata jujur. Tapi, ia juga tahu bahwa pemuda itu memiliki perasaan yang sangat besar padanya. Perasaan besar yang mungkin telah menyakiti pemuda itu dan mungkin tanpa sadar, selama ini ialah yang telah menyakitinya.

Izuku tak ingin percaya, tapi ia tidak punya pilihan. Ia tak ingin mendebat pemuda ini lagi. Ia tak ingin menyakiti pemuda ini lebih lanjut.

"Apa… aku benar-benar istri yang baik, Katsuki?"

Katsuki kembali menatap manik sehijau zamrud yang memancarkan keingintahuan itu. Ia tidak ingin mengubah manik itu menjadi kesedihan lagi, ia tak ingin melihatnya lagi. Ia tahu konsekuensi perbuatannya nantinya, tapi untuk saat ini, ia tak ingin lagi melihat mimpi buruk itu. Karenanya, ia pun berkata, "Ya. Ya, Izuku."

.

.

.

(t.b.c)

Author's note :

Ups! Oke, sedikit tambahan, untuk penyebutan setelah Izuku kehilangan ingatan, panggilan Kacchan untuknya akan jadi 'Izuku' , sementara sebelumnya, Kacchan akan panggil dia 'Deku'. Karena… (mungkin nanti penjelasan Kacchan beda) buat saya kata 'Deku' itu lebih cocok disebut dengan sedikit teriak, sementara kalo dia lagi adem, lebih cocok panggil 'Izuku'. (nggak, nggak gitu oy!)

Aniway :

Fujoshi desu XD : YAY! Highfive! Senang karena berhasil bikin seorang fujo doki2 sendiri :P dan… yak ane sadar banget ambil judul yang uda terkenal, tapi… tenang, storynya nggak bakalan sama, walaupun untuk genrenya agak nyerempet dikittttt…..

Hikaru Rikou : Holla Hikacchi! Kita ketemu lagi XD semoga kamu juga kepikiran buat meramaikan fandom sini :P Thank you banget uda menyempatkan diri untuk repiu dan saya berusaha semoga jadi story yang tetep kamu suka XD

: Holla Zzich XD salam kenal. Iya, di fandom ini, ini fic pertama saya, so please be easy on me (w/ glittering puppy eyes- makin ditampol malah)

LOL, iya, nggak bakalan ampe 90 kok, tenang. Saya pake 90 hari karena saya pikir kayaknya kecepetan deh kalo bikin orang suka dalam waktu kurang dari itu, walopun sebenernya suka sendiri nggak ada ukuran waktu sih. Begitu pertimbangan awalnya XD

Shin Aoi : holla Ao, salam kenal XD

Betulll, garis besar ceritanya seperti itu. Nasib Todo-kun sendiri… ehem, berhubung dia masih di Amerika, semoga dia tetap tenang dan adem ayem di sana ya (nggak mungkin)

kyunauzunami : Holla Kyu! Kita ketemu lagi juga di sini XD senang sekali kalo kamu suka ceritanya, semoga kamu makin suka dan makin jatuh cinta lagi sama cerita ke depannya

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!