Disclaimer : I Own Nothing
Cinta Bersemi Di Hetalia Academia
Rating: K – T
Romance/Friendship/Humor
OC(Indonesia) x Germany x Netherlands x Japan x Inggris x Prussia x ?
Harem Stories
A/N : Nama Oc : Indonesia dan Nickname : Indie (By Netherlands)
XXXX
2. INDIE AND NETHERLANDS
Selama pelajaran berlangsung, Indonesia hanya menghela napas. Hari pertama ke sekolah, gadis itu telah memberikan kesan buruk pada lingkungan baru. Berbeda dengan rencana awalnya, berkenalan dengan normal, mengamati pelajaran dengan normal, menikmati masa sekolah dengan normal, dan memiliki teman baru yang normal. Namun takdir berkata lain, di hari pertama sekolah Indonesia sudah dibuat jengkel oleh dua pemuda berambut pirang, yang satu orangnya sombong dan angkuh sementara yang satu lagi adalah seorang yang playboy genit dan satu lagi pemuda berambut pirang yang membuat harus membuka kembali lembaran memori di masa lampau. Netherlands...Pemuda yang sangat tidak diharapkan oleh Indonesia untuk bertemu kembali. Tetapi dunia terasa terlalu sempit bagi Indonesia sehingga gadis itu bertemu kembali dengan Netherlands.
Indonesia sekali lagi menghela napas.
"PLUK"
"Ah?" Terdapat sepucuk surat kecil yang berwarna kuning mendarat di atas tumpukan buku Indonesia. Gadis berambut hitam itu mengambilnya dan membukanya kemudian membaca goresan tinta hitam yang membentuk sebuah kalimat.
Hai Indonesia-chan. Mari kita berteman
Salam kenal, Hungary
Indonesia menoleh ke arah sumber surat itu terlempar. Manik coklat menangkap seorang gadis muda berambutkan coklat panjang tersenyum ramah sembari melambaikan tangan ke arah Indonesia.
'Wah~ Gadis yang sangat cantik...' Indonesia berdecak kagum melihat kecantikan Hungary ditambah dengan senyumannya yang menawan bak bidadari. Gadis Asia Tenggara bernapas lega kemudian membalas senyuman. 'Hehehe...Teman Baru'
Indonesia kembali fokus dalam menyimak pelajaran. Suasana terasa sangat sunyi, tidak ada sedikit suara bising yang terdengar kecuali suara sang guru sedang memberikan materi pelajaran. Seluruh mata murid tertuju pada papan tulis yang telah dipenuhi oleh coretan rumus matematika, apabila mereka tertinggal maka tamatlah riwayat mereka jika materi hari itu dijadikan bahan ujian bulan depan. Mata sibuk fokus mengamati rumus sementara tangan sibuk mencatat.
'Aku tidak boleh mengecewakan negaraku. Aku masuk ke academia karena beasiswa sekaligus perwakilan dari negara asia tenggara. Aku berhasil mengalahkan Malaysia, Singapore, kamboja dan menganggap aku bermain curang padahal aku belajar mati matian untuk masuk sekolah dunia ini. Akan aku buktikan pada mereka, aku tidak bermain curang. Indonesia pantas menjadi pemenang!' Tekad Indonesia yang menggebu-gebu.
Ketika Indonesia terlalu fokus pada formula rumus di papan, gadis itu tidak menyadari ada sepasang mata misterius yang semenjak tadi mengamati dirinya dengan sangat dalam.
'Indie...'
Flash Back
"Tuan Netherlands, benda apa itu? Saya baru pertama kali melihat benda itu," tanya polos Indonesia
"Ah ini...Pulpen celup."
"Pulpen tinta, Tuan Netherlands? Hmm...itu buat apa?"
"Kamu bisa menggunakannya untuk menulis. Lihat ini." Pemuda mempraktekan kegunaan alat tulis tersebut.
"Wah...Hebat ya. Tulisannya kelihatan lebih gelap dan rapi berbeda dengan menggunakan arang," kagum gadis kecil berambut hitam.
Melihat kepolosan gadis kecil itu, Netherlands memberikan pulpen sebagai hadiah. " Kamu boleh memilikinya, Indie," ucap pemuda berambut pirang sembari menyondorkan pulpen celup berwarna merah berlapis emas.
"Eh?Benarkah itu, tuan Netherlands?!"
"Hn."
"Terima kasih, Tuan Netherlands. Indie akan menganggapnya harta karun," senang gadis mungil itu, mulutnya ketarik membentuk senyuman bahagia sambil memeluk erat pulpen pemberian majikannya."Terima kasih, tuan," ucapnya sekali lagi.
... ... ... ... ... ...
"Tuan Menir, kita terdesak! Mereka berhasil menyudutkan pasukan kita," salah satu anak buah prajurit negara Netherlands berlari pucat menghadap atasannya untuk melaporkan bahwa pasukan mereka diserang
"Aku tidak menyangka mereka memberontak. Neth, apa yang akan kita lakukan?"
"INDIEE..." Netherland memanggil nama Indonesia dengan gigi gemertuk menahan kesal. Kedua bola matanya membulat dan telapak tangan saling terkepal dengan erat.
"BRAKKK!" suara pintu yang didobrak. "SERANG!" Suara seseorang yang tadinya mendobrak pintu masuk, sedang berteriak.
"INDIE Apa maksudnya semua ini?! Kamu Mengkhianatiku?!"
"Aku dan rakyatku sudah muak dengan kalian! Pergi dari negaraku, Iblis putih! Kami menginginkan kemerdekaan. Kami tidak sudi lagi diperintah olehmu dan mereka," jawab gadis berambut hitam yang diikat ke belakang membentuk ponytail, mengenakan pakaian formal pasukan kemerdekaan. Gadis itu beserta pengikutnya serius ingin mengusir Netherlands dan pengikutnya dari ibu pertiwi.
"Indie...Kita bisa membicarakan dengan baik baik," kata Netherlands dengan nada sedikit halus sembari menyondorkan tangannya untuk menyentuh pipi agar emosi gadis itu mereda namun langsung ditepis oleh Indie. Kini gadis itu sudah bertekad dengan bulat, melupakan semua memori tentang sang Maneer idolanya. Dihadapan gadis itu sekarang Netherlands tak lain adalah seorang penjajah bangsa bukan majikannya lagi.
"Jangan sentuh aku ! Aku bukan Indie yang kamu kenal, Menir."
Pemuda jangkung berambut pirang jabrik itu tersentak kaget dengan ucapan Indie. Seorang gadis kecil yang ceria dan pintar itu selalu mengikuti kemana pun dia pergi namun sekarang di hadapannya walau raga gadis itu masih tetap Indie yang dikenalnya namun jiwanya bukan lagi untuk mengabdi pada dirinya tapi demi kemerdekaan bangsa.
"Apa yang telah merasuki dirimu, Indie?"
"Kebiadaban negaramu membuatku sadar, Menir. Banyak rakyatku yang meninggal karena kerja paksa, pajak tinggi, pemerkosaan, penyiksaan dan perampasan hak. Aku tidak akan membiarkan kalian menyentuh mereka lagi."
Netherlands menghela napas, "Aku tidak ingin melukaimu Indie."
"Hmph...Kalau anda tidak ingin melukai, aku yang akan melukai anda, Menir," Indie tertunduk kemudian tersenyum evil.
"SLASH!"
"NETH!" Sahabat pemuda jangkung itu berteriak saat Indie mengayunkan bambu runcingnya ke Netherlands. Pemuda jangkung itu berhasil menghindar namun ujung bambu itu melukai kening kanannya.
Darah mengucur turun dari dahi Netherlands, kedua manik hijau pemuda pirang itu membulat tidak percaya. Tanpa mengenal kasihan, Indie bergerak cepat untuk mengayunkan bambu runcingnya sekali lagi. "NETH!" Kawan Netherlands bergegas mengambil pistol dari balik pakaiannya untuk menolong kawannya sebelum terbunuh oleh mantan gadis pelayan itu tetapi dia kalah cepat dengan pengikut Indie yang telah menancapkan bambu runcingnya terlebih dahulu ke samping perut. Seketika kawan Netherlands dan pengikutnya ambruk kesakitan dan berlumuran darah.
"Deon!" Netherlands jatuh terduduk dengan tubuh bergetar dan mata mebulat setelah melihat kawan sekaligus wakilnya jatuh berlumuran darah. Seakan tidak mempercayai ini semua, Giginya gemertuk menahan emosi sedih bercampur marah. Misi gagal. Semua pengikutnya sudah berjatuhan di luar sana dan kini hanya dia seorang yang masih bertahan walau terluka di bagian kening.
"K-Kau menang...Indie," Netherlands terpaksa mengakui kemenangan Indie sembari memegangi keningnya yang tidak berhenti mengucurkan darah. "Aku kalah..."
Flashback end
Netherlands menggertakan gigi menahan amarah apabila teringat masa lalu dimana Indie mengkhianatinya namun kembang api dalam diri Netherlands perlahan mulai reda, dia sudah tidak urusan lagi dengan gadis Asia Tenggara setelah pemimpin Netherlands menarik mundur pasukannya dan mendeklarasikan kemerdekaan Indie. Manik emerald Netherlands tidak bisa lepas pandangan dari gadis berambut hitam legam itu. Entah apa yang membuat senyuman itu muncul begitu saja dari wajah datar Netherlands.
"EHHH~ Ternyata kamu bisa tersenyum juga, Neth," ucap Kroasia yang duduk di belakang Netherland ketika melihat pemuda pirang jabrik itu tersenyum.
"Hah?" heran Netherlands dengan nada datar.
"Hmm... Apa yang membuatmu terlihat senang, Neth?"
"Tidak ada," dalih Netherlands sembari menoleh ke belakang.
"Hmmm...Benarkah? Aku perhatikan kamu dari tadi mengamati murid baru itu," usil Kroasia sambil melirik ke arah murid baru diikuti senyum evil mengembang di bibirnya. "Apa kau naksir dia,Neth?"
"... ... ..." Tanpa sepatah kata, Netherlands membalikkan badannya kembali fokus ke depan.
'Mencurigakan...' curiga Kroasia.
Kehidupan sekolah Indonesia berawal dari sini, bertemu dengan musuh bebuyutan, pemuda dari berbagai negara dengan beragam sifat, mendapatkan teman baru, dan masih banyak cerita yang akan dialami Indonesia. Persahabatan dan cinta.
TBC...
Maafkan aku karena sudah lama tidak update cerita ini. Tapi aku akan berusaha melanjutkan cerita ini sebab aku tidak menyangka lumayan banyak yg ngefav dan ngefollow cerita ini meski Cuma satu chapter. Sekali lagi maafkan saya.
Don't Mind To reviews...THANK YOU
