Author's note :

Sebelumnya, saya pernah info bahwa walaupun judulnya 90Days, nggak mungkin saya akan tulis 90 chapter, jadi jangan kaget ya kalau tiba-tiba day nya diloncat seperti kali ini. Kemudian, supaya kalian nggak bingung, kata Day di judul pun akan diganti sama Chapter, tapi sebagai penanda waktu saya tetap akan pake kata 'Day' di dalam cerita. Thank you :D

.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Enjoy!

Chapter 3 : Call your name

Day 4

Katsuki meletakkan lap yang dipegangnya di atas meja dan menggerakan sedikit tubuhnya. Ia baru saja akan beranjak ke ruang tamu dan mengistirahatkan diri di ruang keluarga ketika melihat gadis yang baru saja keluar dari rumah sakit. Mengangkat tangan, gadis itu berusaha meraih sudut yang melebihi jangkauannya.

Ia mengamatinya sesaat. Si gadis tengah berjinjit sembari memegangi bingkai kaca dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain terulur ke sudut yang lebih tinggi. Kelihatannya gadis itu tengah berusaha keras untuk mencapai sudut tersebut walaupun dalam hati Katsuki tahu bahwa sudut itu tak mungkin diraih hanya dengan melompat-lompat kecil. Dipenuhi rasa ingin tahu, Katsuki akhirnya mendekat pada si gadis dan berdiri di belakangnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tadinya ia akan terus berdiam diri bila saja gadis itu tidak berpaling dan melebarkan bola mata ketika menyadari kehadirannya.

"Sedang apa kau di sini, Izuku?"

Dengan mengerjapkan matanya, gadis itu menunjukkan lap kotor yang dipegangnya dan ia berkata, "Membersihkan kaca?"

"Aku tahu," jawab Katsuki yang memindahkan lap di tangan si gadis ke tangannya sendiri. Ia pun mengambil tempat gadis itu dan berdiri di sampingnya, "Tapi bukankah sudah kukatakan padamu untuk duduk saja sebelumnya?"

Melihat lap di tangannya sudah berpindah ke tangan pemuda berambut pirang nan pucat itu, Izuku pun mencoba mengambilnya dengan refleks. Sayang gerakan tangan Katsuki sedikit lebih cepat darinya sehingga gadis itu hanya mendapatkan lengannya. Namun bukan Izuku namanya kalau menyerah begitu saja. Walaupun kekuatannya tak seberapa, gadis itu mencoba menarik lengan pemuda yang merebut lap dari tangannya itu. Ia berharap dengan demikian pekerjaannya akan kembali padanya.

Sayangnya bukannya lap yang ia dapat melainkan wajah lelah pemuda itu yang dihadapkan padanya. Pemuda itu bahkan menambahkannya dengan nada peringatan yang sudah Izuku hapal dengan baik.

"Izuku…"

Masih keras kepala, Izuku kembali berkata, "Aku ingin membantu. Katsuki sendirian saja tidak mungkin membersihkan rumah seluas ini."

Alis terangkat dan Katsuki berkata, "Memang tidak mungkin, ini seharusnya pekerjaan para pelayan yang entah ada di mana sekarang. Seenaknya saja mereka meninggalkan villa dalam keadaan berdebu seperti ini."

Meskipun Izuku tahu bahwa seharusnya pelayanlah yang mengerjakannya, tetap saja gadis itu tidak bisa berdiam diri dan membiarkan pemuda yang mengaku sebagai suaminya itu yang membersihkan rumah. Tidak mungkin ia hanya duduk dan ongkang-ongkang kaki di sofa sementara suaminya sibuk marah-marah dan mengelap ruangan dengan jengkel. Hilang ingatan pun bukan alasan baginya untuk duduk dan bersantai sementara suaminya berkeliling melakukan pekerjaan rumah.

"Iya." Izuku mengangguk menyetujui ucapan sang suami. Gadis itu kemudian berkata lagi penuh harap. " Makanya izinkan aku membantumu, Katsuki."

"Kau ini baru saja keluar dari rumah sakit," kata si pemuda mengingatkan. "Lebih baik kau duduk saja di sofa."

"T-tapi itu 'kan tugasku sebagai istri…"

Sekali ini dengan nada tak ingin dibantah, Katsuki berkata, "Duduklah Izuku!"

Walaupun baru bertemu pemuda ini beberapa hari, Izuku sudah dapat membedakan intonasi yang digunakan pemuda itu. Seperti saat ini misalnya, sesekali pemuda itu akan mengeluarkan nada itu ketika Izuku tidak menurut. Kalau sudah seperti ini, biasanya Izuku sekalipun tak dapat mengucapkan apa pun lagi. Gadis itu lebih memilih untuk patuh walaupun wajahnya akan menunjukkan ekspresi kecewa yang teramat jelas di mata Katsuki.

Namun gadis itu pun tak menurutinya begitu saja. Bukannya duduk seperti yang diminta, si gadis justru menundukkan kepala di samping Katsuki, memalingkan pandangan sementara bibirnya merengut. Hanya permasalahan sepele memang, tapi bagi gadis yang tak suka dikekang itu, hal seperti ini justru membuatnya merasa dibatasi oleh si pemuda.

Ia tahu maksud suaminya baik. Ia tahu bahwa suaminya tak ingin ia terlalu kelelahan sehingga memperingatkannya seperti itu. Tapi tetap saja Izuku tidak suka. Terlebih di saat ia ingin mengenal pemuda di sampingnya ini lebih baik.

Hal semacam ini sepertinya luput di mata Katsuki. Pemuda itu benar-benar serius mengerjakan pekerjaannya hingga tak menyadari bahwa gadis yang dimintanya duduk masih berdiri di sampingnya. Ia baru menyadarinya ketika akan berpindah ke samping untuk mengelap kaca. Ketika dilihatnya gadis itu masih tertunduk dengan bibir merengut, barulah ia menyadari kesalahannya.

Kepala tertunduk, sorot mata yang tak mengarah padanya sudah cukup membekas di ingatan Katsuki. Katsuki sudah melihatnya berkali-kali baik sebelum mereka berpisah maupun setelah mereka berpisah. Melihatnya cukup untuk membuat pemuda itu menghentikan kegiatannya dan mendekat pada si gadis. Ia tahu bahwa lagi-lagi ia mengecewakan gadis itu.

Hanya permasalahan sepele sebenarnya. Katsuki hanya ingin gadis ini istirahat karena tidak mau gadis ini tumbang, tapi gadis itu tidak mengerti. Ingin mengalah pun tidak mudah rasanya. Sekalipun ia tahu bahwa mungkin ia benar, tetap saja ekspresi kecewa sudah terlanjur muncul di wajah si gadis. Jalan satu-satunya untuk melenyapkannya hanyalah mengalah. Dan itulah yang ia coba lakukan saat ini.

"Ini...," Katsuki akhirnya menyerahkan lap di tangannya pada gadis yang masih berdiri di sampingnya.

Perkataan pemuda itu membuat perhatian Izuku kembali beralih padanya. Masih dipenuhi dengan ekspresi kecewa, gadis itu mengarahkan pandangannya pada kedua manik merah Katsuki sebelum turun ke tangannya.

Ketika melihat benda yang diperebutkan tengah terulur padanya, bola mata si gadis pun langsung membelalak lebar. Ia menatap Katsuki dengan tidak percaya sehingga Katsuki harus menyodorkannya sekali lagi. Masih dengan ragu-ragu, diterimanya benda itu dan mendekat pada tepian jendela.

Melihat si gadis ragu-ragu, Katsuki pun menggerakkan tangannya, mencoba mengatakan pada gadis itu bahwa ia mengizinkan. Gadis itu sendiri sepertinya memahami maksudnya dan akhirnya mulai mengelap kaca seperti yang diinginkannya. Beberapa saat lamanya gadis itu menggosok-gosokkan lap ke kaca hingga akhirnya ekspresinya berubah serius.

Saking seriusnya gadis itu tidak menyadari bahwa di belakang punggungnya, kedua manik merah itu tengah mengawasinya dengan tajam. Tentu saja tak semudah itu Katsuki setuju dan melepaskan pengawasannya dari gadis itu. Pikirnya, bagaimana kalau gadis itu tiba-tiba tumbang karena harus melompat-lompat saat mebersihkan kaca? Bagaimana kalau nantinya gadis itu demam karena terlalu lelah bekerja? Dan masih banyak kekhawatiran lainnya. Saking khawatirnya, Katsuki tak dapat menahan helaan napas dari bibirnya dan membuat gadis itu menolehkan kepalanya.

Dengan ekspresi yang seakan tidak tahu apa-apa, Katsuki pun balas menatap gadis itu. Namun sepertinya gadis itu sedikit menyadari kegelisahannya sehingga akhirnya gadis itu menunduk dan menyerahkan kembali lapnya.

"Aku... akan duduk," ujar gadis itu akhirnya. "Maaf..., Katsuki."

Mendengarnya, Katsuki pun tahu bahwa sikapnya membuat Izuku tidak nyaman. Gadis ini tidak seharusnya minta maaf. Gadis ini tidak salah apa-apa. Katsuki hanya ingin melindunginya, kenapa...jadi begini? Kenapa ia tidak bisa mengalah? Kenapa ia begini kekanakan hingga membuat gadis itu yang harus meminta maaf akibat pertengkaran kecil?

"Kat...suki?"

Gadis itu sedikit terkejut ketika melihat pemuda itu mendekat padanya. Lap yang ditawarkannya tergantung begitu saja di tangannya tak diambil. Alih-alih mengambil lapnya, pemuda satu itu justru membungkukkan badan di hadapannya dan memeluk pinggangnya. Sebelum Izuku menyadarinya, pemuda itu sudah mengangkatnya tinggi seraya berkata, "Ayo cepat! Aku tidak bisa menahanmu lama-lama!"

Awalnya gadis itu hanya mengerjapkan mata. Masih sedikit bingung gadis itu pun berkata, "A-apa aku.. cukup berat?"

Tidak. Sama sekali tidak berat. Katsuki malah heran karena bobot gadis itu sudah jauh berkurang dibanding yang diingatnya dulu. Tapi... memangnya kapan terakhir kali ia memeluk dan mengangkat gadis itu seperti ini? Apa yang ia tahu soal bobot gadis itu padahal sudah hampir dua tahun sejak ia memeluk gadis itu?

"K-Katsuki?"

"Tidak," jawabnya cepat sambil menatap gadis itu. Satu tangannya menahan Izuku sementara tangannya yang lain menunjuk ke suatu sudut. "Coba kau ulurkan tanganmu ke sana, sepertinya di sana masih kotor!"

"I-ini?"

"Ke kanan sedikit lagi."

Mencoba merentangkan tangannya, Izuku pun mencoba meraih sudut yang dimaksud. Ia menggosok bagian tersebut dengan segenap kekuatannya sebelum mengalihkan pandangannya dengan takut-takut pada pemuda itu. Begitu dilihatnya pemuda itu mengangguk, gadis itu pun mengambil napas penuh kelegaan.

Sayangnya, masih banyak sudut yang perlu digosoknya dengan cermat. Dibantu oleh Katsuki, Izuku menggosok kaca sementara pemuda itu mengangkatnya sesekali bila ia membutuhkan bantuan untuk sudut yang tak dapat diraih. Begitu terus hingga akhirnya kaca di ruang keluarga selesai dibersihkan.

"S-sudah," Izuku akhirnya berkata. "Turunkan aku, Katsuki!"

Mendengar permintaan gadis itu, Katsuki pun membungkukkan kembali badannya dan meletakkan si gadis hingga telapak kakinya menyentuh lantai. Mengamati sejenak hasi kerjanya, Katsuki pun menganggukkan kepala. Ia pun bergumam, "Lumayan juga."

"Benarkah?"

"Ya," jawabnya sambil menyentuh kepala Izuku, "kerja bagus."

Pujian itu membuat bibir si gadis bergetar sedikit sebelum membentuk lengkungan yang manis. Lengkungan itu pun menulari Katsuki dan membuat si pemuda menorehkan garis lengkung yang sama. Hanya saja berhubung ia tak ingin memperlihatkannya pada gadis itu, Katsuki pun mengalihkan pandangannya. Ia mengangkat tangannya dari kepala Izuku sementara tangannya yang lain menyentuh kaus yang dikenakannya.

"Sebaiknya aku ganti baju dulu," ucap pemuda itu sembari berbalik. "Kau juga sebaiknya gantilah bajumu!"

"Ng..."

"Kamarmu ada di ujung," tunjuk pemuda itu sembari menaiki anak tangga dan mengarahkan telunjuknya ke kanan. "Baju-bajumu sudah kupindahkan semua ke sana."

"O-oh..."

Mengikutinya, gadis itu pun melangkahkan kaki mendekat padanya. Ia menaiki beberapa anak tangga hingga akhirnya ia berada di belakang si pemuda. Namun begitu Izuku sudah berada di dekatnya, pemuda itu melangkahkan kakinya berlawanan dengan arah yang ditunjuknya. Melihatnya, Izuku pun kembali memanggil namanya.

"K-Katsuki..."

Katsuki menoleh mendengar namanya dipanggil. Alisnya terangkat dan ia bergumam.

"M-mau..." tanya gadis itu sembari menyentuh kaus berwarna orange miliknya, "mau kemana?"

Pemuda berambut pirang pucat itu mengerjapkan matanya sedikit. Ia mengarahkan telunjuknya ke tempat yang akan ia tuju seraya berkata, "Ganti baju?"

Kembali gadis itu memiringkan kepalanya. "Kenapa... di sana?"

"Hm?" Alis Katsuki terangkat dan ia berkata, "Bajuku di sana."

Dahi si gadis berkerut dan ia kembali bertanya, "Kenapa... bajumu berada di tempat yang berbeda dengan... bajuku?"

Katsuki menatapnya selama beberapa saat. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya ia berkata, "Apakah... baju-baju itu seharusnya berada di tempat yang sama?"

Gadis itu kembali menunjukkan raut wajah kebingungan dan ia berkata, "Apakah tidak?"

Sembari menyentuhkan satu tangannya lagi di rambut hijau si gadis, Katsuki kembali berkata, "Kau ini masih kehilangan ingatan, Izuku."

"Y-ya?"

"Kalau kau sudah dapat mengingatku, baru aku akan memindahkan kembali baju-bajumu ke kamarku," jawab pemuda itu sembari mengusap rambut yang selalu berantakan itu. "Untuk sekarang, mungkin akan lebih nyaman untukmu bila berada di kamar yang berbeda denganku."

"Ke.. napa?"

"Memangnya kau nyaman dengan pemuda asing yang tidur di sampingmu?"

"Tapi...," Izuku berkata sambil menatap pemuda itu dengan sedikit takut-takut, "bukankah Katsuki suamiku?"

Benak Katsuki mengatakan 'Ya' tapi hati kecilnya berkata, 'Tidak'. Tidak sinkronnya hati kecilnya dengan benaknya membuatnya sedikit terlambat ketika mengatakan, "Y-Ya, aku suamimu."

"Lalu?" Gadis itu kembali bertanya lagi. "Apa masalahnya?"

Tidak ada masalah selama mereka suami istri yang sesungguhnya. Justru Katsuki sangat mendambakan memeluk gadis itu di antara kedua tangannya ketika memejamkan mata dan menemukan gadis itu lagi ketika ia membuka mata. Tapi sayangnya, ia bukan suami gadis itu. Itulah masalah terbesar yang tidak diketahui gadis itu.

Mengangkat tangannya dari atas kepala gadis itu, Katsuki pun akhirnya berkata, "Tidak. Aku yang tidak bisa."

"Kat..suki?"

Tanpa mengucapkan apa pun lagi, pemuda itu menarik dirinya menjauhi Izuku. Ia terus berjalan ke arah yang berlawanan hingga akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu. Tangannya meraih gagang pintu itu dan mendorongnya sedikit hingga pintu terbuka. Ketika sosoknya sudah lenyap dari pandangan, barulah Izuku kembali menundukkan kepalanya.

"Padahal... begitu dekat," ujar Izuku sambil menatap tangan yang sebelumnya memegangi baju pemuda itu. "Tapi... tidak cukup."

Menghela napas, Izuku pun menatap sekali lagi pada koridor yang sebelumnya dilalui pemuda itu. Ia berdiam diri beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya dan melangkahkan kaki menuju ke tempat yang disebutkan oleh pemuda itu. Untuk sekali ini, gadis itu memilih untuk patuh tanpa memprotes.

Sementara itu, Katsuki sendiri bersandar di balik pintu kamarnya. Cukup lama ia menyandarkan kepalanya sebelum akhirnya ia membuka mata. Menggelengkan kepala, Katsuki pun berjalan menuju ke lemari putih besar yang ada di samping ranjang dan membuka pintunya. Pemuda berambut pirang pucat itu memilih kaus tanpa lengan berwarna merah yang cocok dengan kulitnya sebelum mengganti kausnya yang basah karena keringat.

Ia baru saja selesai mengenakan baju ketika suara getaran mengganggu pendengarannya. Mendekat ke arah sumber suara, pemuda yang kini mengenakan kaus berwarna merah itu menuju ke meja kerja yang ada di kamarnya dan menemukan sumber yang mengusik telinga. Melihat benda itu bergetar, Katsuki pun mengulurkan tangannya dan mengambil benda itu.

Handphone berbungkus casing hijau tua di tangannya itu bergetar tanpa suara. Sebelumnya Katsuki memang sudah mematikan nada dering dan menggantinya dengan fungsi getar. Namun sepertinya fungsi getar pun tak lagi efektif bila bergetarnya sekeras ini. Mungkin lain kali ada baiknya ia mematikan saja seluruh nada dering maupun fungsi getar di handphone tersebut.

Mengesampingkan soal getaran, Katsuki memandangi layar handphone yang kini menyala dan menampilkan deretan huruf yang membentuk kata 'Shouto'. Lagi-lagi nama itu yang muncul di layar menggantikan nama-nama seperti 'Iida' maupun 'Uraraka'. Bila melihat banyaknya panggilan telepon yang ditinggalkan pemuda itu, Katsuki tahu sepertinya ia tidak bisa mengabaikan panggilannya kali ini.

Tapi biarpun begitu, Katsuki menunggu hingga teleponnya berhenti dan padam. Ia menghela napas lega begitu telepon berakhir dan membuka fitur chatting untuk menuliskan pesan. Jemarinya pun menari di atas handphone yang bukan miliknya itu dan ia berpesan, 'Maaf, Shouto. Aku tidak bisa menerima telepon. Sedang bersama Nenek.'

Balasan pun datang lebih cepat dibanding yang diduga Katsuki.

'Izuku? Di mana kau sekarang? Iida dan Urarakan bilang kau menghilang. Di mana kau?'

Katsuki tahu, kedua orang itu pasti akan memberitahukan Shouto bila terjadi sesuatu pada Izuku. Namun ia sudah memikirkan jawabannya dan ia berkata, 'Ya, aku di rumah Nenek. Tidak sempat mengabari mereka, tapi aku baik-baik saja.'

'Nenek?'

Jemari Katsuki kembali mengetik. Sepertinya Shouto tidak tahu bahwa Izuku masih punya Nenek. Memang Izuku yatim piatu karena kedua orang tuanya sudah meninggal, tapi gadis itu masih punya Nenek dari pihak Ibunya. Katsuki rasa hanya segelintir orang yang mengetahui fakta tersebut.

'Ya,' ketik Katsuki sembari mengambil tempat di pinggir ranjang dan duduk di sana. 'Nenekku sakit keras sehingga aku pergi menjenguknya.'

Tak seperti sebelumnya, kali ini Katsuki harus menunggu sedikit lebih lama sebelum balasannya datang. Sembari menunggu, ia pun menempelkan punggungnya pada ranjang dan mengamati handphone yang ada di tangannya. Ia baru mendekatkan benda itu ke wajahnya ketika merasakan getaran dan langsung membaca tulisan yang tertera di atasnya.

'Sakit apa?'

'Gegar otak,' ketik Katsuki. Dulu Neneknya Izuku pernah jatuh dan gegar otak hingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Tapi sekarang sepertinya beliau baik-baik saja dan sehat walafiat. 'Beliau belum sadarkan diri dari kemarin.'

Kembali, jawaban tidak langsung muncul setelah Katsuki menuliskan pesannya. Sekali lagi Katsuki harus menunggu sedikit lebih lama dan memejamkan mata sebelum akhirnya ia berkata, 'Begitukah? Semoga Nenekmu cepat sembuh.'

'Terima kasih' ketik Katsuki cepat. Ia pikir semua pembicaraan ini sudah berakhir hingga pesan baru kembali muncul.

'Apakah di sana sama sekali tidak bisa mengangkat telepon? Aku merindukan suaramu.'

Sembari mendengus sinis, Katsuki pun langsung mematikan handphone. Pemuda satu itu pun melemparkan benda berwarna hijau itu ke sisi samping ranjangnya sebelum akhirnya berguling ke samping. Ia pun memejamkan matanya dan kembali memikirkan pesan tunangan gadis itu.

Merindukan suaranya katanya? Pemuda yang telah merebut gadis itu darinya dan membawanya sejauh mungkin gelisah karena tak dapat mendengar suara gadis itu selama beberapa hari? Konyol sekali. Bila dibandingkan dengan apa yang ia lakukan, ini sama sekali tidak ada apa-apanya.

Selama dua tahun ini pemuda itu sudah menyembunyikan Izuku darinya. Membawanya jauh, memblokir semua komunikasinya dengan gadis itu. Ia bahkan tak mengizinkannya bertemu kembali dengan gadisnya dan ketika Katsuki berhasil menemuinya, gadis itu justru menunjukkan ekspresi yang tak ingin dilihatnya. Kegelisahan yang dialami Todoroki Shouto sama sekali tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan yang ia alami.

Dan jangan kira Katsuki akan berbaik hati dengan membiarkannya menemui atau berbicara dengan gadis itu. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan di saat gadis itu sedang kehilangan ingatan dan tidak tahu kenyataan yang sebenarnya. Kesempatan semacam ini tak mungkin disia-siakannya begitu saja hanya karena seorang Todoroki Shouto ingin mendengar suara gadis itu 'kan?

Tapi... biarpun begitu Katsuki sadar bahwa ia tidak mungkin berkomunikasi dengan Shouto hanya melalui fitur chatting. Tunangan Midoriya Izuku itu tidak dapat dikelabui semudah dirinya membohongi rekan atau karyawan Izuku. Bisa saja ia mengatakan pada teman Izuku bahwa dirinya harus merawat nenek. Bisa saja ia membohongi karyawan gadis itu dan mengatakan bahwa toko akan direnovasi selama tiga bulan selama ia masih membayarkan gaji mereka selama ini. Bisa saja ia mengelabui semua orang, tapi ia tidak mungkin mengelabui Todoroki Shouto semudah itu.

Ia harus berpikir ekstra bila ingin mengelabui pemuda itu. Kalau memang suaralah yang diinginkan oleh si pemuda, maka Katsuki harus memutar otak. Tentu saja ia tidak mungkin membiarkan Izuku sendiri yang menjawab telepon pemuda itu. Ia pasti akan membiarkan orang lain mengangkat teleponnya. Orang lain yang memiliki suara yang sama dengan Izuku.

Tapi... di mana mencari orang yang seperti itu? Mencarinya saja pasti membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum ia berhasil menipu Shouto. Ia membutuhkan jalan pintas yang mudah dan cepat, bukan cara yang lama seperti ini.

Pikir. Pikir. Bagaimana caranya? Kalau bukan suara, lalu apa yang dapat meyakinkan Shouto? Foto? Tidak. Tanpa suara foto saja tak ada artinya. Ia sendiri akan ragu bila tiba-tiba menerima foto tapi orang yang bersangkutan hanya mengirim pesan. Bisa saja foto itu dimanipulasi, bisa saja foto itu berbohong. Hanya satu yang dapat meyakinkan pemuda itu dan Katsuki rasa tak ada jalan lain lagi. Ia harus membuat Todoroki mendengar suara gadis itu.

Ng! Tunggu sebentar! Kalau tidak salah dulu sekali Kirishima pernah berkata bahwa ada seseorang yang dapat menirukan suara orang lain. Mungkin kalau ia berhasil menemukan orang itu dan memintanya bersuara seperti Izuku...

Tidak mau membuang waktu, Katsuki pun langsung membuka matanya. Ia mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju ke meja untuk mengambil handphone lain yang ada di atasnya. Begitu ia sudah mendapatkannya, Katsuki pun menyalakan handphone berlayar lebar miliknya itu dan mencari nama kontak yang ditujunya. Ia tidak sabar hingga akhirnya orang yang dihubunginya itu mengangkat telepon dan menjawab panggilannya.

"Apa lagi?"

Suara bernada enggan yang menyapa Katsuki membuatnya yakin bahwa ia tengah berbicara dengan orang yang tepat. Melihat jam di tangan dan mendengar suara Kirishima, Katsuki sepertinya punya dugaan. Tanpa basa-basi pemuda itu pun berkata, "Lembur, Kirishima?"

Pertanyaan sensitif yang diajukan Katsuki membuat lawan bicaranya terdiam selama beberapa saat. Tak lama kemudian, dari telepon terdengar bunyi geraman diiringi dengan bunyi benda patah di belakang. Beberapa saat kemudian, sang lawan bicara pun berkata, "Hee? Menurutmu?"

"Ah, tumpukan dokumen itu sudah kau bereskan?"

"Dokumen?" Lawan bicaranya kembali berkata, "Kau masih berani menanyakan soal dokumen? Kau pikir ini gara-gara siapa? Kau pikir tumpukan dokumen ini milikku, hah? Di mana kau sekarang, Bakugou?"

Tak mau memberitahu lokasi, Katsuki hanya menjawab seperlunya. "Di suatu tempat. Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan."

"Lalu apa?" Kirishima membalas dengan kejengkelan yang jelas dalam intonasinya, "Kapan kau kembali ke kantor?"

Berpikir sebentar, Katsuki pun menjawab, "Tiga bulan lagi?"

"Tiga bulan la..."

Nada tinggi lawan bicaranya langsung disela Katsuki. Pemuda itu mengabaikan sepenuhnya protes dan geraman Kirishima dan berkata, "Daripada itu Kirishima, apa kau tahu seseorang yang memiliki kemampuan meniru suara?"

"Meniru suara?" Nada suara Kirishima kembali tenang. "Kenapa kau menanyakan itu?"

Memutar manik merah, Katsuki berkata, "Aku membutuhkan bantuannya. Kau punya nomor kontaknya?"

"Membutuhkan bantuannya?" Kirishima mengulangi perkataan atasannya itu. Sang bawahan pun terdiam cukup lama sebelum memelankan suaranya dan berkata, "Kejahatan apalagi yang kali ini kau lakukan?"

"Hei, jangan seenaknya berasumsi bahwa aku melakukan kejahatan!"

"Apalagi?" Sang lawan bicara kembali memperdengarkan nada tinggi diiringi keputusasaan. "Tidakkah kau punya belas kasihan, Bakugou? Pekerjaan yang kau tinggalkan sudah banyak, dan kau masih menambahnya dengan ulahmu yang tidak bertanggung jawab? Apalagi yang harus kuselesaikan kali ini? Melenyapkan seseorang? Mencuri dokumen? Mengikuti seseorang? Apa?"

"Tidak, bukan itu," jawab Katsuki cepat. "Aku hanya ingin tahu kontak si peniru suara. Carikan untukku!"

"Carikan untukmu?" ulang lawan bicaranya. "Kau pikir aku punya waktu senggang untuk..."

Tidak mau menedengar protes Kirishima, Katsuki pun memotong ucapan pemuda itu. Tahu bahwa bawahannya itu tidak bisa membantah, ia pun berkata, "Kirishima, kuberi waktu satu menit untuk mencari orang itu beserta kontaknya."

"Sudah kubilang aku tidak punya waktu senggang untuk..."

Tidak mau ambil pusing, Katsuki langsung memutuskan telepon. Ia bahkan tidak mau repot-repot menunggu hingga satu menit dan malah mematikan handphonenya. Diletakkannya kembali benda itu ke atas meja sementara ia kembali ke luar. Satu masalah selesai, ia tinggal menunggu bawahannya itu mencarikan kontak yang dimintanya dan ia akan meminta orang itu untuk berbicara dengan Shouto.

Sedikit lega satu masalah terselesaikan, Katsuki pun beranjak keluar dari kamarnya. Ia melangkahi ambang pintu dan berjalan di koridor. Dalam beberapa langkah, ia sudah tiba di ruang tengah yang terhubung dengan ruang keluarga. Sembari menuruni anak tangga, Katsuki mengarahkan pandangannya pada sosok yang telah lebih dulu mengambil tempat di sofa.

"Izu..."

Belum selesai Katsuki memanggil namanya, tubuh gadis itu tahu-tahu semakin miring ke kanan dan jatuh menubruk sofa. Sedikit tergesa-gesa, Katsuki pun menghampirinya. Kepanikan melandanya ketika ia mendekat dan menemukan gadis itu sudah terbaring dengan setengah tubuhnya rata dengan sofa.

Tangannya menyentuh dahi gadis itu sementara tangannya yang lain menyentuh dahinya sendiri. Ia memejamkan mata selama beberapa saat untuk menilai kondisinya. Ketika dirasanya tidak ada masalah barulah ia kembali membuka matanya. Kedua manik merahnya terarah pada gadis yang terbaring dengan nyaman di sofa.

Sembari menghembuskan napas dengan teratur, gadis itu menyembunyikan kedua manik hijau zamrudnya di balik kelopak. Salah satu sisi kepalanya menempel rata dengan sofa sementara kedua tangannya bergelung di dekat tubuh. Beberapa helai rambut hijaunya jatuh menutupi wajah sehingga Katsuki pun mengulurkan tangan dan menyingkirkannya.

"Kau mengagetkanku saja," ujarnya sembari menggerakkan tangan untuk menepikan rambut hijau gadis itu agar tidak menghalangi wajah. "Kukira... kau sakit."

Tidak ada suara yang menanggapi perkataannya. Gadis itu masih terlelap, dengan sofa sebagai ranjangnya. Bergumam pelan, gadis itu sedikit tersenyum ketika merasakan jemari Katsuki menyisiri rambutnya. Bahkan di tengah ketidaksadarannya, gadis itu memanggil namanya dengan pelan hingga membuat seluruh indera Katsuki terjaga.

"Ka... tsuki..."

Gerakan tangan Katsuki langsung berhenti ketika mendengar namanya terucap dari bibir gadis itu. Ia memandangi gadis itu selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia mendekat dan menyentuhkan dahinya dengan dahi gadis itu. Matanya terpejam sementara tangannya memeluk kepala gadis itu.

"Lagi...," ucap pemuda itu, "kumohon sebutkan lagi..."

Gadis itu kembali bergumam namun tak ada nama Katsuki meluncur dari bibirnya. Matanya tetap terpejam sementara gadis itu terbuai dalam mimpi. Melihatnya, Katsuki pun menyentuhkan tangannya dan mengusap pelan rambut gadis itu.

Ia memandanginya selama beberapa saat, mengingat bagaimana gadis itu menyebut namanya sebelumnya.

"Keluar! Keluar dari tokoku! Aku tidak ingin melihatmu lagi, Bakugou Katsuki!"

Katsuki kembali memejamkan mata dan mendekat pada gadis itu. Ia terdiam begitu lama hingga gumaman Izuku menyadarkannya. Bangkit dari posisinya, si pemuda pun menyentuh rambut gadis yang terlelap di hadapannya itu.

Masih sambil memandanginya pemuda itu pun berkata, "Selamat tidur, Izuku."

.

.

.

(t.b.c)

Author's note:

Holla All XD thank you untuk review, favorit maupun follow nya XD, sungguh support yang luar biasa berhubung saia nggak biasa dengan genre 'drama', terlebih fandom baru TTATT

But, aniway :

Shin Aoi : Holla Ao :D iyaaa, dia protektif, posesif, tapi berlebihan semua, sama kayak quirksnya yang meledak-ledak, di sini doi pun meledak dalam hal lain :P

Nah, saia juga setuju, sepertinya Deku bisa jadi istri yang baik, saia percaya. Kalaupun nggak bisa, jadi istri yang ceroboh dan nggak bisa diandelin juga imut-imut kok. Kacchan maupun Shouto suka keduanya :P

Fujoshi desu : XD iyaaa, di mana2 Kirishima tetep best buddy nya Katsuki dan ane buat sedikit tertindas karena image dia sepertinya cocok

Iyah, dia pun stress karena ulah dia sendiri TTATT #pukpukKacchan tapi bener juga, mau Kacchan gmana pun tetep suka :P

Nah, ane belom sempet buat untuk acara ultah deku Orz, pengen coba sesekali, mungkin nunggu ultah Kacchan (kapan woi) ato Shouto?

Hikaru Rikou : LOL, Hikacchi, saya juga pernah begituu, jadi saia mengerti XD nah, sejujurnya ane berusahaa banget supaya kita nggak buang2 tisu dengan menahan diri bikin adegan baper, tapi… ternyata malah jadi ikutan baper… ane… akan berusaha supaya nggak bikin Hikachi baperan dlu, supaya pas baper, bapernya sekalian :P #savedworld #irittisu

Uapaaah? Trisum?wiiiiii….. duo egois macem Kacchan ato Shouto mana mau bagi2 Izuku :P dua2nya sama2 posesif gitu :P Andai mereka mau teken ego masing-masing mungkin bisa jadi trisum #oi

Hm, ane lebih biasa action sebenernya :P tapi ane mau coba genre lain, makanya lagi nyoba drama XD sedikit lebih sulit karena bawanya perasaan terus, orz … dan perasaan itu… sesuatu yang dikendalikan sama sekeliling, jadinya… double sulitnya buat ane

Miharu348 : nah! nah! halo Tododeku shipper. Saya saat ini masih di tengah2 kayak Hikaru, mau sama siapapun saya okey :P mungkin harus hari ke 90 dulu baru saya bisa mutusin mau sama siapa Deku :P

Jeruk : wow! Holla Jeruk-san XD terima kasih sudah baca ff ini :P

Aniway, iya diaku2 jadi istrinya, makanya boongnya mesti pinter si Katsuki nih :P dan saia pun menantikan pas Shouto pulang nanti. Gmana jadinya kalo mereka b3 ketemu XD

Dan, huhuhu, terima kasih suka sama Kacchan romantic side, soalnya jujur saya pikir dia OOC di sini… ha… ha….

fajrikyoya : holla XD bakudeku shipper, senang sekali kamu uda baca dan ikut fave and follow. Tapi jujur saia nggak tau mau jadi sama siapa ini endingnya … soalnya kalo saya terlanjur mutusin di satu titik, pasti keliatan dari sekarang #susahboongorangnya makanya saya tetep biarin mereka trisum dulu sampe… hari ke 90?

Tutturu : username kamu kiyut banget XD salam kenal btw :D dan iya, tododeku blum ada, berhubung todonya ngomong ama kacchan, dan dekunya pun lupa ama todo… makanya kemunculan doi masih dikit banget TTATT

kyunauzunami : Holla Kyu :D hahaha, behind the scene? Kapan2 ane coba ya, berhubung Izuku nya ganti gender, behind the scenenya agak bingung buat ane :P tapi next time ane coba XD thank you masukannya

Yep, KatsuDekuTodo punya peran penting, karena mereka nggak bisa dipisahin. Sama kayak Kacchan, Shouto pun punya potensi buat sama Deku. Sayang aja Shoutonya lagi di ln jadinya Kacchan pake deh kesempatannya :P

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!