SPY AND KILLER

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto, saya cuma pinjam karakternya

SPY AND KILLER © ShiraNoHikari

Genre: Crime/friendship/Romance

Pairing: Sasuke Uchiha/Sakura Haruno

Warning : OOC, typo bertebran dimana-mana, alur terlalu cepat, mudah ketebak, dll.

RnR

.

.

Happy Reading!

.

.

Chapter 6

.

.


"Ayo cepat kesana!"

"Ada apa sih?"

"Cepat. Cepat."

Suara keributan yang tidak biasanya terdengar di koridor sekolah, kini mulai terdengar menghiasi pagi para mahasiswa di Konoha Arts University. Beberapa diantaranya, berbondong-bondong berlari menuju satu titik.

"Sebenarnya apa yang sedang terjadi, Sasuke?" Sakura—gadis yang tengah bingung dengan keadaan sekelilingnya, semakin dibuat bingung lantaran beberapa murid yang berlari tadi menuju dimana letak kelasnya dan Sasuke.

"Sebaiknya kita juga kesana."

Sasuke dan Sakura berjalan menuju ketempat yang sudah ramai sekali dengan para murid yang tengah dirundung rasa penasaran.

Mereka berdua sebisa mungkin harus mencapai yang paling depan, guna melihat apa yang sebenarnya sedang mereka lihat. walaupun harus dengan susah payah, karena harus berdesakan dengan beberapa orang.

"Astaga! Apa-apaan ini?" terkejut, itulah reaksi yang diperlihatkan oleh Sasuke dan Sakura sekarang, setelah melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Ya, mereka terkejut karena melihat mayat dari Hinata, orang yang baru beberapa hari yang lalu mengajar musik dikelas mereka.

"Aku akan menghubungi, Kakashi. Kau cek dia." Sasuke berkata sambil merogoh ponsel di sakunya, dan menekan-nekan benda tersebut untuk menghubungi kapten mereka.

Sakura menuruti saja apa yang dikatakan oleh Sasuke, dia mulai mendekati mayat Hinata dan mengeceknya. Dilihatnya mayat Hinata, dan hanya ada satu luka tembak tepat ditengah dahinya dan menembus tengkoraknya. Sakura asumsikan, bahwa Hinata kehilangan nyawanya karena hal tersebut.

"Apa itu?" tak sengaja saat Sakura ingin mengcek tangan Hinata, dia menemukan sepucuk kertas yang sedang digenggam wanita itu. sebelum sempat membuka potongan kertas tersebut, Sakura ingat akan sesuatu. Jadinya Sakura memasukan potongan kertas tersebut kedalam saku celananya.

"Sebentar, jika peluru itu menembus tengkoraknya, itu berarti pelurunya... ah, benar juga." Sakura bergumam sambil berpikir dengan asumsinya.

"Ah, ini dia ketemu." Sakura sedikit berteriak senang dengan apa yang dia temukan, dan suara Sakura sampai di gendang telinga Sasuke, dan itu sukses membuat perhatian Sasuke tertuju pada Sakura.

"Apa yang kau temukan?" begitu selesai menelepon Kakashi, Sasuke bergerak menuju kearah Sakura, dan bertanya padanya apa yang mebuatnya terlihat cukup puas.

"Ini." Sakura menyerahkan hasil dari penemuanya, dan sedikit menjelaskan keadaan Hinata.

"Peluru?"

"Ya. Sepertinya itu peluru yang menewaskan Hinata. Satu tembakan tepat ditengah dahinya, dan menembus tengkoraknya." Sakura berbicara sambil sedikit menoleh kearah mayat wanita yang malang tersebut.

"Tembakan jarak jauh. Snipper?" Sasuke bergumam pelan, seperti sedang bertanya pada diri sendiri, tapi hal itu masih cukup bisa didengar oleh Sakura.

"Sepertinya begitu."

"Minggir, minggir. Semuanya kembali ke kelas kalian!"

Sebuah suara yang cukup familiar terdengar diantara mereka semua, yang sedang menyaksikan kejadian tersebut. Suara itu adalah tak lain dan tak bukan adalah suara dari sang kepala sekolah itu sendiri. Tsunade Senju.

Kepala sekolah datang dengan seorang yang Sasuke dan Sakura cukup kenal. Kakashi Hatake. Kapten mereka berdua. Dan beberapa orang lain lagi, yang mereka yakini berasal dari kepolisian setempat.

Tsunade dan Kakashi mengambil alih tempat kejadian untuk diolah lebih lanjut, sedangkan Sasuke bertugas untuk menjelaskan apa yang telah mereka temui.

Sedangkan Sakura, dia sedang memperhatikan keadaan sekitar. Sampai sebuah suara mengalihkan atensinya dari hal yang dari tadi sedang dia amati.

"Sa…kura?"

Sakura menoleh begitu mendengar namanya dipanggil.

"Te...Temari?" ya, dia. Wanita yang membuat semua atensinya teralihkan.

Temari, wanita berambut pirang dengan kuncir empatnya.

"Kenapa kamu bisa ada disini?" masih dengan rasa terkejutnya Sakura bertanya. Bagaimana dengan penyamaran yang dia lakukan, jika ada seseorang yang mengenalinya disini. Ini akan buruk.

"Aku mengajar disini. Hei, seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Sakura. Ngapain kamu berada disini?" tatapan Temari sedang memicing ketika memperhatikan Sakura.

"Ah, itu, anu, aku.. Disini.. Aihh, lupakan sajalah. Yang lebih penting kita sudah lama tidak bertemu, tapi sekalinya bertemu malah dengan ada kejadian seperti ini." Jujur saja, Sakura bingung ingin mengatakan apa. Karena tidak mungkin jika dia bilang, dia sedang menyamar menjadi murid disini guna untuk melakukan penyelidikan. Pasti semuanya akan kacau.

"Kamu benar, Sakura." Katanya dengan sedikit menunduk kecewa. Namun sedetik kemudian dia mengangkat kepalanya menatap Sakura, dan berkata, "tapi, mungkin besok kita bisa bertemu dan berbicara banyak, Sakura."

"Tapi-" belum selesai Sakura berbicara, Temari sudah memotong ucapannya. Sepertinya Sakura memang sudah menjadi langganan jika perkataanya selalu dipotong. Oh malangnya Sakura.

"Tidak ada tapi-tapian. Ini nomorku, dan kita bertemu besok di Taman Konoha." Temari menyerahkan kertas yang bertuliskan nomor ponselnya kepada Sakura. " Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai bertemu besok."

Baru hendak akan melangkah untuk pergi, temari teringat akan sesuatu. "Oh iya, Sakura. Rambutmu itu…" dia menggantungkan kalimatnya. Dan itu membuat detak jantung Sakura entah mengapa menjadi meningkat dua kali lipat.

"Rambutku? A-ada apa dengan rambutku, Temari?" Sakura bertanya dengan sedikit gugup dan was-was.

"Cantik. Aku suka. Kalau begitu sampai jumpa." Dan entah mengapa, ucapan Temari itu, membuat Sakura sedikit lega.

"Terima kasih." Katanya sambil tersenyum kearah Temari.

Temari berbalik, dan akan segera pergi dari tempat kejadian pembunuhan tersebut. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, Temari kembali menoleh kearah Sakura dan berkata, "oh iya, aku hampir lupa, saat kita bertemu kembali, ada seseorang yang ingin menemuimu." Dia berbalik dan berjalan semakin meninggalkan tempat itu.

Dan Sakura masih setia memperhatikan Temari dengan senyum masih terpampang diwajahnya, walaupun wanita itu sudah tidak terlihat lagi oleh mata Sakura. Ditangannya juga ada kertas yang bertuliskan nomor Temari.

"Siapa dia?"

"Astaga. Kau membuatku terkejut, Sasuke!" Sakura terlonjak kaget saat tangan kekar Sasuke menyentuh bahu Sakura. "Seorang teman lama."

"Ayo pergi." Tanpa mendengarkan jawaban dari Sakura, Sasuke pergi melangkah meninggalkan tempat kejadian pembunuhan tersebut.

"Hei, tunggu!"

Dengan sedikit mempercepat langkahnya akhirnya Sakura berhasil menyamai langkah kaki lebar Sasuke.

"Kita mau kemana?"

"Sunagakure." Sasuke berhenti. Tatapan matanya beralih menatap Sakura. Sakura juga berhenti, manati apa yang selanjutnya akan diucapkan laki-laki itu. "Kujelaskan nanti di mobil."

.

.

"Jadi?"

Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam sebuah mobil sedan hitam. dan Sakura sudah tidak sabar untuk tahu, kenapa mereka harus pergi ke Sunagakure.

"Kau benar-banar wanita yang tidak sabaran, ya." Kata Sasuke sambil menghidupkan mesin mobil.

"Kita akan ke Sunagakure." Sasuke mengatakan hal itu tepat saat mobil akan berjalan.

"Hah? Kemana tadi kau bilang? Ke Sunagakure?" Sakura hanya memastikan apa yang didengarnya tidaklah salah.

"Kupikir pendengaranmu normal."

"Jangan menghinaku. Mau apa kita ke Suna? Perjalanan dari Konoha ke Suna kan memakan waktu sampai 3 hari jika ditempuh melalui jalur darat." Sakura benar-benar tidak bisa menebak jalan pikiran seorang Sasuke Uchiha.

"Kita akan mengunjungi rumah Akasuna Sasori." Dan hal yang baru saja diucapkan oleh Sasuke mampu membuat Sakura cukup terkejut.

"APA!" nada bicara Sakura kali ini cukup tinggi, "maaf. Setidaknya beritahu aku dulu." Benar-benar Sasuke itu. Bagaimana bisa dia memutuskan hal itu tanpa memberi tahu Sakura, secara Sakura itukan partnernya.

"Sudahlah. Sekarang kan kau sudah kuberi tahu. Kita ke Suna dengan pesawat terbang." Sasuke juga cukup terkejut mendengar nada bicara sakura yang meninggi sehingga dia refleks menoleh kearah Sakura, walaupun cuma sebentar.

"Terserah kau sajalah." Dengan begitu perbicaraan mereka berdua berhenti disitu.

Sasuke masih fokus terhadap jalanan yang berada didepannya. Sedang kan Sakura melihat keluar jendela. Saat ini mereka sedang menuju ke bandara untuk pergi ke Sunagakure.

Perjalanan dari Konoha Arts University menuju bandara sebenarnya tidaklah cukup jauh, cuma memakan waktu 15 menit. Tetapi karena keadan jalanan kali ini cukup ramai, jadi mungkin bisa memakan waktu kurang lebih setengah jam.

Sakura masih setia mengamati keadaan sekitar dengan melihat dari kaca mobil. Saat sudah memasuki kawasan yang tidak cukup ramai akan kendaraan, Sakura melihat sebuah mobil berwana hitam yang berjarak kurang lebih dua ratus meter tepat dibelakang mobilnya.

Awalnya sakura merasa biasa saja, namun dia segera menyadari gerak gerik mobil tersebut sangat mencurigakan. Seperti mobil tersebut sedang mengikutinya. Segeralah dia mengalihkan pendangannya menghadap Sasuke.

"Tidakkah kau merasa bahwa kita sedang diikuti?" Sakura berkata dengan sangat serius sambil sesekali melirik kaca depan yang mengarah ke jalanan dibelakang. Dan benar saja mobil tersebut masih dibelakangnya, bahkan ketika Sasuke membelokkan jalur, yang sebenarnya bukan jalur menuju ke bandara.

Sasuke mengalihkan perhatian dari jalanan didepan menoleh karah Sakura, setelah itu beralih melihat apa yang sedang dilihat oleh Sakura.

"Ya, aku sudah tahu." Kini Sasuke kembali terfokus kejalanan didepannya. "Mereka mengikuti kita sejak kita keluar dari area parkir."

"Ah, itu kenapa kau membelokkan jalur ketika dipersimpangan tadi." Ternyata Sasuke benar-benar cerdik. Berarti rumor yang mengelu-elukannya itu ternyata bukan hanya sekedar rumor, melainkan nyata. Seperti yang saat ini dilihat oleh Sakura. Sasuke cepat menyadari ada yang aneh dengan sekitarnya.

Sasuke melajukan mobinya semakin cepat, membelah jalanan yang sangat sepi. Dan tekadang melirik kearah mobil yang sedang mengikuti mereka.

"dalam keadaan seperti ini hanya ada dua pilihan. Melawan atau kabur." Kata-kata Sakura tersebut tentunya dibenarkan oleh Sasuke. Melawan atau kabur.

"Dan kau sudah tahu jawabannya apa."

Sasuke dan Sakura saling pandang dan mengangguk mantap. Kemudian Sasuke terfokus terhadaap jalanan didepannya sedangkan Sakura sesekali melirik kebelakang.

Sasuke semakin kencang menekan pedal gas mobilnya, sehingga mobilnya melaju dengan tambah cepat. Sedangkan mobil yang mengikuti mereka sepertinya sudah sadar jika sasaran mereka sudah mengetahui bahwa mereka sedang diikuti. Jadi tanpa ragu juga mobil yang mengikuti Sasuke dan Sakura menaikkan kecepatan lajunya.

Sasuke sempat melihat ke spion depan mobilnya, dan menyadari bahwa mobil yang sedari tadi mengikutinya menambah kecepatan lajunya. Jadi, perkiraan Sasuke, pastinya mereka tahu bahwa Sasuke dan Sakura sudah sadar sedang di ikuti.

"Baiklah siapkan senjatamu." Sasuke mengeluarkan sebuah pistol yang berada di dasboard mobilnya, sedangkan Sakura mengerutkan dahinya. "Ada apa?" merasa ada yang aneh dengan Sakura, sasuke memutuskan untuk bertanya.

"Aku tidak bawa senjata apapun." Kata Sakura dengan polos.

"Apa? Bagaimana bisa kau—"

"Kau juga tidak bilang apa-apa kepadaku sebelumnya, jika akan pergi. Kalau kau bilang dari awal aku pasti sudah mempersiapakan senjataku." Sekarang giiliran Sakura yang memotong perkataan Sasuke. Sakura sedikit kesal dengan sikap Sasuke. Sakura pikir, Sakura hanya akan menjalankan tugas menyamarnya saja di Universitas, jadi dia tidak membawa senjatanya. Apakah itu salah Sakura? Tidak kan.

Sasuke menghela napas. Lalu dia menyodorkan pistolnya kepada Sakura. Sedangkan Sakura diam tak berkutik memerhatikan sodoran pistol tersebut. Karena pistolnya tak kunjung diambil oleh Sakura, Sasuke menatap Sakura dengan satu alis terangkat.

"Sku tidak bisa menggunakannya." Katanya lirih, sambil membuang muka.

"Apa! Kau tidak bisa menggunakannya?" kali ini Sasuke yang dibuat terkejut oleh perkatan Sakura.

"Sudahlah. Aku masih bisa menggunakan tangan kosong. Sebaiknya kau fokus menyetir. Sepertinya tempat ini sudah cukup."

Sasuke yang mendengarnya hanya bisa menghela napas saja. Kakashi benar-benar membuat Sasuke frustasi dengan mengirim gadis disebelanya ini sebagai partnernya. Kejutan apa lagi yang akan dibuat gadis merah muda itu untuknya. Entahlah Sasuke sudah tidak mau memikirkannya. Sekarang yang terpenting adalah membereskan pengganggunya itu.

Sepertinya benar kata Sakura, jika daerah ini sudah cukup untuk memberi pelajaran kepada keparat yang mengikutinya. Selain jauh dari perumahan, daerah itu sepertinya juga jarang di lewati oleh orang. Jadi itu adalah tempat yang sangat sempurna.

"Persiapkan dirimu."

Sakura hanya mengangguk mantap sebagai jawabannya. Dan tiba-tiba Sasuke memutar setir dan menekan pedal rem dan gasnya dengan sangat penuh perhitungan. Hingga akhirnya mobil yang dikendarai Sasuke dan Sakura berputar sembilan puluh derajat untuk menghadang mobil yang yang sedang melaju dengan sangat tinggi dibelakangnya.

Trik yang digunakan Sasuke ternyata cukup akurat. Sebagai akibatnya mobil yang mengikuti mereka tidak sempat menekan pedal remnya untuk menghentikan laju mobilnya. Walaupun sempat menekan pedal rem pun, mereka tidak akan sanggup menghentikan mobilnya karena kecepatan laju mobil dan waktunya tidak memungkinkan untuk hal itu. jadi mau tidak mau, tabrakan pun terjadi diantara dua mobil tersebut. Namun, beruntungnya tabrakan tersebut tidak terlalu parah.

Tanpa membuang waktu lagi Sasuke dan Sakura keluar dari dalam mobil. Tak lama setelah mereka keluar, orang yang berada didalam mobil yang mengikutinya pun juga ikut keluar.

Semuanya berjumlah lima orang.

"Siapa kalian? Mau apa kalian mengikuti kami?" Sakura berbicara dengan sedikit berteriak dengan nada suara yang dingin dan juga tegas. Sasuke tertegun mendengar nada sakura berbicara.

"Perlukah kami menjawab pertanyaanmu, Nona?"

—TBC—

A/N:

Akhirnya, saya dapat up ini fn sedikit lebih cepat daripada biasanya.

Terima kasih bagi yang sudah menyempatkan waktu kalian untuk membaca cerita ini. Dan juga maaf, belum bisa cukup memuaskan kalian semua.

R&R


Best regards,

Shira

[24032018]