SPY AND KILLER
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto, saya cuma pinjam karakternya
SPY AND KILLER © ShiraNoHikari
Genre: Crime/friendship/Romance (maybe)
Pairing: Sasuke Uchiha/Sakura Haruno
Warning : OOC, typo bertebran dimana-mana, alur terlalu cepat atau malah terlalu bertele-tele, mudah ketebak, dan masih banyak warning yang lainnya.
RnR!
DLDR!
.
.
Happy Reading!
.
.
Chapter 7
.
.
"Cih. Bodohnya aku. Kenapa juga aku harus bertanya baik-baik kepadamu. Akan kupaksa kalian semua membuka mulut kalian." Sakura memandang garang kepada kelima lawannya.
"Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau cari senjata yang bissa kau gunakan." Sasuke melangkah maju didepan Sakura. Melirik kearah Sakura sebentar, kemudian kembali memandang musuh didepannya.
"Aku sudah dapat. Tolong kau alihkan orang itu." Sakura menunjuk dengan dagunya kearah musuh yang membawa sebuah katana.
"Katana? Baiklah. Aku maju duluan." Sasuke berjalan pelan kearah musuh didepannya. Sampai ditengah-tengah Sasuke mempercepat langkahnya, berlari menerjang musuh yang sudah memasang kuda-kuda menyerang.
Bughh bagghh bukghhh
Baku hantam tak dapat terelakan. Sasuke sekaligus melawan kelima orang itu. Sementara Sasuke megalihkan perhatian lawannya, Sakura mulai berjalan pelan dengan sedikit berlari menuju orang yang membawa katana dipinggangya.
Sedikit lagi Sakura hampir sampai. Namun, salah seorang yang dilawan Sasuke menyadari pergerakan Sakura. Sakura mundur kebelakang saat orang itu mengayunkan katana miliknya. Sakura terus menghindari sabetan katananya. Hingga tanpa sadar jarak Sakura dengan Sasuke cukup jauh.
Sakura mengernyitkan dahinya ketika lawannya sudah berhenti mengayunkan katananya. Sudah lelahkah? Mungkin itulah pertanyaan yang terbesit dibenak Sakura.
.
..
Sasuke beberapa kali sempat melirik Sakura yang dengan gerakan hati-hati mendekati musuh yang membawa katana.
'Sedikit lagi' pikir Sasuke
"Hei lawanmu disini." Kata orang yang sedari tadi melayangkan pukulannya kearah Sasuke, namun dapat ditahan oleh Sasuke.
"Cih."
Sasuke menghindari pukulan dan tendangan yang sedari tadi diarahkan ketubuhnya. Lima orang yang dihadapinya, namun belum satupun pukulan ataupun tendangan mengenainya. Sasuke mulai jengah sedari tadi hanya menghindari serangan saja.
Sasuke melangkah maju, mengarahkan pukulan kesalah satu lawannya. Namun berhasil ditangkis lawannya. Tidak berhenti disitu serangan Sasuke, Sasuke melakukan tendangan dengan kaki kanannya sambil memutar badannya.
Satu lawan tumbang.
Dua
Tiga
Empat
Li—
Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Sakura. Dan benar saja, satu orang mendekat kearah Sakura dengan mengayunkan katana yang dipegangnya.
Bughh
Satu pukulan mendarat diwajah Sasuke. Sasuke tak menyadari pukulan tersebut karena perhatiannya sedang di Sakura.
"Hei. Musuhmu disini. Kau meremehkan kami?" Orang itu meludahkan darah. Mungkin akibat tendangan Sasuke sebelumnya. Orang-orang tadi yang berhasil dilumpuhkan Sasuke juga sudah berdiri.
"Sasuke, bagaimana keadanmu?!" sakura sedikit berteriak memanggil sasuke.
Sasuke mengalihkan pandangan lagi kearah Sakura yang sedang berlari kearahnya, melihat katana yang dipegang oleh Sakura. "Sepertinya kau berhasil." kata Sasuke, kemudian kembali memandang musuh didepannya. Sasuke tidak ingin terkena pukulan lagi.
Adu pukul terus berlanjut. Satu lawan dua. Sakura beberapa kali mengayunkan katananya dan dihindari dengan baik oleh musuhnya. Namun, saat Sakura melakukan serangan kejutan salah satu musuh tumbang terkena tusukan katana diperutnya, sedang satu lagi masih berusaha melawan Sakura.
Melihat temannya terkena tusukan katana, pria bertubuh tegap itu menggeram dan mengeluarkan senjata api. Beberapa peluru berhasil dihindari Sakura. Namun ada satu tembakan yang tak sempat dihindari Sakura dan akibatnya bahu Sakura tergores peluru yang melesat.
Kali ini giliran Sakura yang menggeram marah. Dia melesat maju dengan gerakan cepat mengayunkan katannya. Geraakan Sakura tidak sia-sia, karena sabetan katananya berhasil mengenai musuh, dan musuhpun tumbang.
"Sakura! Kau sudah selesai?" panggil Sasuke yang berjalan menghampiri Sakura. Sepertinya Sasuke telah mengalahkan lawannya.
Mendengar namanya dipanggil Sakura menoleh kearah sang pemanggil. Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kau..." Sakura melongok kebelakang melihat dua orang yang terkapar tak berdaya, "Sepertinya juga sudah selesai." Sakura melirik lagi kebelakang Sasuke. Tapi—
"Sasuke awas!"
DOR!
Sasuke menoleh kearah Sakura dengan gerakan slowmotion. Matanya terbelalak kaget.
Brukh
Tubuh Sakura oleng. Sebelum tubuh Sakura sempat menyentuh tanah, Sasuke segera menangkapnya.
"Sakura? Hei, Sakura! Cih, sialan." Sasuke mengumpat kasar, meletakkan tubuh Sakura perlahan ketanah dan berdiri. Sasuke menghampiri lawan yang melepaskan tembakan kearah Sakura—ah tidak tapi kearahnya.
Menendang jauh senjata api yang digenggam lawannya jauh. Sasuke menarik kerah baju lawannya dan meninju wajahnya beberapa kali sampai lawannya benar-benar tak sadarkan diri. Dia kembali berlari kearah Sakura, menggendong gadis itu ala bridal style menuju kearah mobil yang tak jauh darinya.
.
.
.
"Bagaimana?" Tanya Sasuke saat seorang dokter keluar dari ruangan yang didalamnya ada Sakura.
"Bahunya cedera cukup parah akibat tembakan tersebut. Tapi untuk sekarang dia sudah baik-baik saja. Dan sepertinya tembakan itu diarahkan kejantungmu, karena sepertinya senjata api yang digunakan berbeda dengan senjata api yang biasanya. Satu tembakan dapat menembus tulang." Apa yang dikatakan dokter itu cukup untuk membuat Sasuke terkejut.
"Terima kasih, dokter." Sasuke sedikit membungkukkan badan kearah sang dokter, kemudian melangkah masuk kedalam ruangan.
Srekk
Sakura menoleh kearah pintu yang baru saja dibuka oleh Sasuke. Memandang Sasuke dengan senyum lemahnya.
"Hai. Kau baik-baik saja?" Tanya Sakura masih dengan senyum lemahnya.
Mendengar perkataan gadis itu, membuat Sasuke menghela napas. Dia mendekat kearah Sakura.
"kau bodoh ya?" Sasuke bersedekap dan menaikkan salah satu alisnya. Dia heran dengan orang didepannya. "Seharusnya aku yang bertanya. Bagaimana keadaanmu?" kali ini Sasuke menarik kursi yang berada di samping ranjang yang Sakura tempati dan duduk dikursi tersebut.
"Seperti yang dibilang dokter tadi. Rasa sakitnya sudah berkurang tapi masih sedikit susah untuk menggerakkannya dengan bebas." Sakura tersenyum lagi menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Sasuke.
Dasar wanita aneh. Mungkin begitulah yang dipikirkan Sasuke terhadap Sakura sekarang. Keadaanya sedang tidak baik namun masih saja bisa tersenyum.
"Kn. Kalau begitu aku pergi dulu. Akan kulaporkan keadanmu ke kakashi." Sasuke beranjak dari kursinya dan hendak meninggalkan ruangan Sakura, sampai suara Sakura menginterupsi gendang telinganya dan membuatnya berhenti melangkah. Menoleh kearah Sakura.
"Hn?"
"Maaf aku sudah membuatmu repot Sasuke." Kali ini suara Sakura sedikit lirih dan dia sedikit menundukkan kepalanya. "Kalau saja—"
"Tak apa. Itu bukan kesalahanmu. Seharusnya aku yang minta maaf, karena kecerobohanku." Sasuke memotong cepat perkataan Sakura. Sebelum perempuan itu semakin berbicara panjang lebar menyalahkan dirinya.
"Terima kasih."
Sakura mengangkat kepalanya. Dia terkejut. Memandang Sasuke dengan tatapan tidak percaya. Sakura hendak mengatakan sesuatu sebelum Sasuke kembali angkat bicara.
"Beristirahatlah. Aku akan meminta Kakashi untuk memberimu waktu istirahat." Kali ini Sasuke benar-benar sudah pergi dari ruangan Sakura. Meninggalkan Sakura yang masih memandang kearah pintu yang baru ditutup oleh Sasuke dengan pandangan yang miris.
"Ah, benar juga. Temari belum memberi tahu pukul berapa mereka akan bertemu." Sakura yang tersadar akan hal itu, langsung merogoh saku celannya yang digunakan untuk menyimpan nomor ponsel Temari, namun bukannya kertas yang bertuliskan nomor Temari lah yang terambil oleh Sakura Melainkan sebuah kertas yang dia ambil dari mayat Hinata waktu itu. Kertas yang hampir saja terlupakan oleh Sakura.
Dia membacanya. Terkejut dengan isinya.
Sudahkah kau bersenang-senang.
Berhentilah.
"Apa maksudnya ini?"
.
..
…
Taman Konoha
"Sudah lama, Temari?" Gadis bersurai soft pink itu bertanya dengan senyum terpasang diwajah cantiknya.
"Tidak. Aku juga baru sampai." Balas seorang wanita yang dipanggil Temari. Tangannya menepuk tempat duduk disebelahnya, mengisaratkan gadis bersurai soft pink itu untuk duduk disampingnya.
"Sudah lama ya. 3 tahun?" Temari membuka percakapan untuk mereka. Sakura hanya memandang lurus. Menatap beberapa orang yang sedang berada ditaman tersebut.
"Kira-kira segitulah. Bagaimana kabarmu dan..." jeda. Sakura menoleh kearah Temari. Dan Temari pun menatap kearah Sakura. "….kelargamu?" sedikit ragu Sakura mengucap kata keluarga. Karena Sakura cukup tahu tentang masalah yang terjadi didalam keluarga wanita itu.
"Yeah, kami sudah lebih baik daripada sebelumnya. Lalu, bagaimana denganmu dan… dia?" Terlihat sekilas raut sendu dikedua matanya ketika menjawab pertanyaan dari Sakura. Namun, hanya sekilas karena langsung saja Temari tersenyum semringah kearah Sakura.
Sakura sedikit terkejut mendengar perkataan Temari.
"Baguslah. Keadaan ku cukup baik. Dan….dia sudah mati, beberapa tahun yang lalu." Sakura menunduk. Raut wajahnya menyendu. Sedangkan Temari? Dia sudah membelalakkan matanya. Terkejut. Namun cepat-cepat Temari berusaha untuk menenangkan Sakura sebelum—
"Hai." Sebuah suara mengejutkan mereka berdua. Suara laki-laki. Laki-laki itu merangkul bahu kedua perempuan itu. Namun sedikit menekankan tangannya pada bahu kanan Sakura—bahu yang cedera.
Sakura mendesis. Namun cepat-cepat dia berbalik dan ingin memukul si pemilik suara.
"Le—KAU?!" bukan lagi wajah kesal yang ditunjukan Sakura, melainkan wajah yang sangatlah terkejut. Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum tipis.
"Hai. Bagaimana kabarmu.."Jeda laki-laki itu masih tersenyum tipis."…Saku?"
-TBC-
A/N: sudah beraa lama fic yang satu ini saya telantarkan, sampai ada jaring laba-labanya.
mungkin akan butuh waktu lama sampai fic yang satu ini selesai. tapi saya janji akan menamatkannya.
terima kasih bagi yang masih ngikutin maupun baca fic saya.
Salam cinta,
Shira
smg.18092018.631
