.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Enjoy!

Chapter 6 : Top priority

Day 10

Seharusnya perusahaan tidak hanya memberi cuti dua belas hari dalam satu tahun. Seharusnya perusahaan memberikannya cuti lebih, terlebih untuknya yang senantiasa mengalami penderitaan batin akibat kelakuan sang atasan. Sayangnya penderitaannya tidak digubris oleh sang atasan, seperti yang satu ini.

"Kau bilang apa?"

"Aku ingin kau menjemput seseorang," jawab orang yang berbicara di telepon itu, "dan mengantarnya ke tempat yang kutentukan, juga mengatakan pada tetangganya sesuai dengan yang kukatakan."

"Tidak, tunggu! Menjemput seseorang dan mengantarnya?" Kirishima bertanya sembari mengangkat tangan seolah-olah si penelepon dapat melihatnya. "Kau tahu aku ini Manajer dan bukannya Driver 'kan?"

"Uh-huh! Aku tahu, tapi saat ini kuturunkan jabatanmu sementara," jawab si penelepon yang tengah menghubunginya itu. "Tinggalkan semua pekerjaanmu dan lakukan yang kukatakan!"

Kirishima mencoba menarik napasnya sebelum ia berkata, "Dengar ya, Direktur Operasional yang tengah mengambil unpaid leave! Kalau-kalau kau lupa, biar kuingatkan bahwa perusahaan kita ini bukan perusahaan yang hanya bergerak di bidang transportasi saja!"

"Aku sudah tahu itu, tapi kita perlu sesekali memperluas wawasan di bidang transportasi," jawab sang Direktur Operasional. "Seperti misalnya, menjemput dan mengantarkan sendiri orang yang kumaksud."

Mengerutkan dahi Kirishima pun bingung dengan sang atasan yang lagi-lagi memberikan pekerjaan yang tak sesuai dengan jobdesknya. Ia melamar di tempat ini bukan untuk menjadi seorang Driver. Kenapa sang atasan ngotot memintanya untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Driver?

"Bakugou Katsuki, kau ini seorang Direktur yang difasilitasi dengan Driver," protes Kirishima. "Bagaimana kalau kau minta tolong pada Driver-mu saja dan bukan pada seorang manajer yang punya setumpuk pekerjaan lain untuk diurus?"

Tapi tentu saja sang atasan tidak mendengarkan usulannya. Sang atasan kerap kali menggunakan pendapatnya sendiri. Diktator satu itu tidak pernah bisa menerima pendapat orang lain. Direktur arogan, kasar, atasan paling tidak bertanggung jawab satu ini, Kirishima heran bagaimana caranya orang ini menjadi Direktur tanpa koneksi dari atas.

"Tidak bisa," jawab Katsuki seperti yang sudah diduganya, "tugas ini memerlukan kecerdikan dan keputusan selevel manajer."

Menyipitkan mata, Kirishima berkata, "Oh ya?"

Sembari menganggukkan kepala, Katsuki kembali berkata, "Percayalah padaku dan lakukan yang kukatakan! Kau tidak akan menyesalinya, Kirishima."

Tidak begitu meyakinkan, tapi saat ini nada bicara sang atasan terdengar lebih 'job oriented' dibandingkan dengan 'personal oriented'. Pikir Kirishima, mungkin atasannya ini memang membutuhkan bantuannya untuk sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan. Semoga saja ia tidak salah menduga. "Jadi, siapa yang perlu kujemput?"

"Midoriya…"

Hilang sudah keyakinan Kirishima mendengar marga yang disebutkan oleh atasannya. Ia tahu seseorang dengan marga 'Midoriya' dan orang itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Maka itu tanpa banyak pertimbangan, Kirishima langsung berkata, "Kalau begitu, lupakan saja! Aku tidak tertarik untuk mendengarkan lebih lanjut."

Sang atasan sepertinya sudah menduga akan mendapatkan reaksi seperti ini darinya. Berbeda dengan nada tidak sabarannya yang biasa, sang atasan berkata, "Tenang, ini bukan hanya urusan personal biasa."

Bila sang Direktur berharap bahwa ia akan mudah terpancing dengan mendengarnya, maka harapan sang Direktur terkabul. Pemuda berambut merah marun yang merupakan bawahannya itu menyipitkan matanya dan walaupun masih curiga, ia berkata, "Benarkah?"

Katsuki tahu bahwa lawan bicaranya tak bisa melihatnya, namun secara refleks ia menganggukkan kepala. Pemuda yang tengah duduk di dalam kamar dan melayangkan pandangan pada seorang gadis yang berdiri di halaman rumah itu kembali berkata, "Ini urusan penting, menyangkut kelangsungan perusahaan."

"Kelangsungan… perusahaan?" Kirishima mengulangi perkataannya, sepertinya tugas kali ini benar-benar tidak berhubungan dengan urusan pribadi. "Memangnya siapa orang ini? Komisaris perusahaan?"

"Lebih penting dari itu," jawab Katsuki serius sembari mendekat pada jendela dan mencengkeram teralis yang menghalangi pandangannya pada gadis di depan matanya. "Dia orang yang dapat menentukan kelangsungan hidupku."

Mengerutkan dahi, Kirishima pun menjauhkan teleponnya sedikit. "Maaf?"

"Kalau kau tidak segera menjemputnya," lanjut Katsuki, "aku benar-benar celaka."

"Err…," kata sang sekretaris terdengar ragu-ragu, "lalu kenapa kalau kau yang celaka? Apa ada hubungannya dengan perusahaan?"

"Yah," jawab sang atasan sembari berbalik dan memasukkan jemarinya ke kantung celana, "bukannya kau yang mengharapkan agar aku cepat kembali ke kantor?"

"Memangnya kalau kujemput orang ini, kau akan segera kembali ke kantor?"

"Begitulah," jawab Katsuki sambil mendekat pada meja kerjanya, memandangi ponsel lain yang dibiarkannya tergeletak di atas meja. "Tapi kalau kau tidak menjemputnya, kurasa aku takkan kembali lagi bekerja lagi."

"Hah?" Kirishima menjauhkan ponselnya sejenak dan memandangi layar. Dahinya berkerut ketika melihat nama yang tertera di layar. Seharusnya contactnya benar, tapi entah kenapa ia sedikit ragu bahwa ia tengah berbicara dengan orang yang namanya tertera pada layar. "Kau serius?"

Mengangguk, Katsuki pun kembali berkata, "Akan kuketikkan alamatnya, setelahnya langsung kau bawa dia dan tempatkan di tempat yang kukatakan. Kau mengerti?"

"Sekarang juga?"

"Iya," jawab Katsuki. "Ada masalah?"

"Bukan ada masalah sih," jawab Kirishima, "hanya saja, sejak tadi aku belum menemui Iida karena kau menelepon. Kupikir sebaiknya aku menemuinya dulu sebelum berangkat."

"Iida?" Katsuki berkata sambil menyipitkan mata. "Iida Tenya?"

Pemuda yang menata rambutnya tinggi ke atas itu menganggukkan kepalanya. "Iya, dia ingin bertemu denganmu sebenarnya, tapi karena kau sedang tidak masuk, mau tidak mau aku yang akan menggantikanmu menemuinya."

Selama beberapa saat, pemuda berambut pirang pucat itu terdiam mendengar laporan bawahannya. Sikap diamnya tentu saja membuat lawan bicaranya penasaran dan memanggil-manggil namanya. Untunglah akhirnya pemuda satu itu kembali berkata, "Tidak perlu. Kau jemput saja orang yang kumaksud."

"Lho? Tapi dia sudah datang, masa kutinggal begitu sa…"

"Aku yang akan menemuinya."

Tanpa mendengarkan respon bawahannya, Katsuki langsung mematikan sambungan. Ia meletakkan ponselnya di atas meja kerja dan beranjak ke lemari pakaian. Diambilnya beberapa kemeja yang ada di dalamnya beserta setelan yang biasa dikenakannya dan diletakkan di atas ranjang. Setelahnya ia mengganti pakaian sehari-hari yang sebelumnya dikenakan dengan setelan yang telah dikeluarkannya.

Tak berapa lama ketika ia hendak mengancingkan lengan kemeja, seseorang mengetuk pintu kamarnya sehingga ia bergerak menghampiri pintu. Namun sebelumnya, Katsuki menyempatkan diri untuk memasukkan ponsel dengan casing hijau itu ke dalam laci meja terlebih dahulu, baru mendekat pada daun pintu. Diputarnya gagang pintu dan ditariknya untuk menampilkan seorang gadis berambut hijau yang tengah menatap balik padanya.

"Katsuki, apa hari…" Perkataan gadis itu terputus ketika melihat penampilan Katsuki. Dengan mengerjapkan matanya dan menggerakkan kepala bingung, gadis berambut hijau daun itu berkata, "Katsuki mau… pergi?"

"Ya," jawab pemuda itu sembari mengikuti arah pandangan gadis itu. Tangannya bergerak merapikan kancing kemeja yang ditinggalkannya tadi dan berkata, "Maaf, ada pekerjaan yang mendesak dan tidak dapat kutinggal."

"O-oh," ucap gadis itu seraya menggerakkan jemarinya "Begitu…"

Melihatnya, Katsuki pun menundukkan kepalanya agar sejajar dengan gadis di hadapannya. Ia juga meletakkan jemarinya di atas tangan si gadis dan berkata, "Ada apa, Izuku?"

Izuku, gadis yang sebelumnya tertunduk itu pun mengerjapkan sedikit matanya ketika pipinya disentuh oleh pemuda di hadapannya. Ia menatap pemuda berambut ash blonde itu dan perlahan mulai menyunggingkan seulas senyum. Sembari menggelengkan kepala, Izuku berkata, "Tidak ada. Apa Katsuki akan kembali sebelum makan malam?"

"Akan kucoba," janji Katsuki sambil mengusap sedikit pipi gadis itu. "Nanti akan kutelepon kalau ternyata aku tidak sempat makan malam."

Walau sekejap gadis itu sempat terdiam untuk sesaat. Sikap diamnya sempat membuat alarm dalam otak Katsuki kembali berbunyi, khawatir ia melakukan kesalahan. Namun pada akhirnya gadis itu berkata, "Oh, baiklah kalau begitu."

Gadis itu sudah akan beranjak, namun alarm dalam otaknya terus meraung-raung, karenanya ia pun menarik tangan gadis itu dan menggenggam tangannya agar gadis itu berbalik. Sesuai keinginannya, gadis itu pun menoleh padanya dan menatapnya bingung. Namun Katsuki hanya balas memandanginya dengan khawatir dan sebuah pertanyaan pun meluncur dari bibirnya.

"Apa kau marah," tanya pemuda itu sambil menatapnya, "karena aku pergi bekerja?"

Mengerjapkan mata, gadis itu berkata sambil menggeleng gugup, "T-tidak. Aku tidak marah, Katsuki."

"Benar?"

Gadis itu mengangguk kuat-kuat. "Sungguh. Hanya… aku sedikit terkejut dan lupa…"

"Lupa?"

Kembali Izuku menganggukkan kepalanya, "Aku… lupa… bahwa Katsuki juga bekerja. Padahal itu hal yang wajar tapi aku tidak pernah menanyakannya."

"Hanya karena itu?" Katsuki kembali mengerutkan dahi.

Kembali gadis itu mengangguk dan kepalanya terangkat sedikit, "Apakah… mulai besok juga… Katsuki akan terus bekerja?"

"Kuharap tidak," jawab pemuda itu sambil menyentuhkan satu tangannya di atas kepala gadis itu. "Aku sedang mengambil unpaid leave selama sebulan, jadi seharusnya aku tidak perlu ke kantor besok."

"Oh begitu," ucap si gadis sambil menatap pemuda itu. Ketika itu sesuatu menarik perhatiannya sehingga ia mengulurkan tangan pada kerah kemeja abu-abu yang dikenakan Katsuki. Ia menyentuhkan tangannya dan merapikannya hingga ke bahu pemuda itu. Begitu selesai gadis itu tersenyum puas dan mendongakkan sedikit kepalanya sambil berkata, "Kalau begitu, selamat bekerja, Katsuki."

Jemari Katsuki menggantung di tempat ketika melihat gadis itu mendongakkan kepala ke atas dan menatapnya. Kata-kata yang sebelumnya nyaris keluar dari mulutnya langsung lenyap begitu saja, semua karena pemandangan yang tersaji di depan matanya ini. Ia sampai harus mengalihkan pandangan dan menutup sedikit mulutnya untuk dapat berkata, "Ya, terima kasih."

Izuku mengangguk, tak menyadari keanehan pada pemuda itu. Bahkan sembari mengambil satu langkah mundur, gadis itu menunjuk ke koridor dan berkata, "Kalau begitu, kutunggu di depan, ya?"

Tanpa menunggu jawaban Katsuki, Izuku sudah berlalu darinya dan meninggalkan pemuda itu. Ia berjalan melewati koridor, menuruni anak tangga dengan perlahan sembari berpegang pada handrail. Begitu tiba di ruang keluarga, seseorang menghampirinya dan berkata, "Bagaimana Midoriya-san? Apa Bakugou-san setuju dengan menu makan siangnya?"

Menggelengkan kepala, Izuku berkata, "Katsuki tidak akan makan siang di rumah, Tsuyu-san. Dia harus pergi bekerja."

"Eh?" Gadis pelayan itu sedikit kebingungan mendengar perkataannya. "Bakugou-san pergi bekerja? Saya kira beliau mengambil cuti selama sebulan?"

Izuku mengangkat bahunya dan berkata, "Ada pekerjaan yang tak bisa ditinggal olehnya."

Si gadis pelayan mengerutkan dahi sambil menatap Izuku. Baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, sang Tuan Rumah berjalan menuruni anak tangga sembari memakai setelan jasnya. Ia pun membungkukkan badan sedikit ketika Tuannya menghampiri sementara Nona yang tinggal bersama mereka itu membalikkan badan.

"Kurasa aku akan kembali sebelum jam tujuh," ucap sang Tuan Rumah sembari mengamati jam di tangannya. "Apa kau ingin kubelikan sesuatu, Izuku?"

Nona yang menumpang tinggal itu menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata, "Tidak, Katsuki cukup kembali saja."

"Kau yakin?" Katsuki bertanya sambil merapikan jasnya. "Kau tidak ingin makanan, pakaian, bunga, atau apa pun?"

Izuku mengerjapkan matanya sedikit. Ia menatap sang suami di sampingnya sebelum akhirnya gadis itu berkata, "Apakah biasanya Katsuki membawakan sesuatu untukku sepulang kerja?"

Pertanyaan itu membuat Katsuki tertegun sejenak. Selama beberapa saat, keduanya hanya berpandang-pandangan, sebelum akhirnya si pemuda tersenyum kecil. Lalu pemuda berambut ash blonde itu berkata, "Tidak selalu, kau hampir tidak pernah memesan apa pun kecuali kau benar-benar membutuhkannya."

Sekali lagi gadis itu mengangguk dan berkata, "Aku pun sedang tidak membutuhkan apa pun saat ini."

Katsuki menyentuhkan tangannya pada kepala gadis itu dan mengacak-acak rambutnya sesaat sebelum berlalu. Sembari memutar-mutar kunci mobil di tangannya yang satu pemuda itu pun berjalan melewati keduanya. "Kalau begitu, aku pergi dulu."

"Ya," jawab Izuku yang berjalan mengikuti suaminya, "hati-hati, Katsuki!"

Suaminya itu hanya menggerakkan tangan sebagai tanda bahwa ia mendengarkan sebelum menuruni tangga dan menuju ke garasi tempat mobilnya disimpan. Ketika sang suami sudah tidak terlihat lagi sosoknya, Izuku pun berbalik menatap pelayan di sampingnya. Lalu dengan sedikit penasaran gadis itu berkata, "Apakah… biasanya kami selalu seperti ini?"

Memiringkan kepalanya sedikit sang pelayan kembali berkata, "Maksud Nona?"

"Katsuki," ucap gadis berambut hijau gelap itu sembari menunjuk ke tempat suaminya terakhir terlihat, "apakah hanya menyentuh kepalaku saja setiap pergi bekerja?"

Tanpa mengiyakan atau menyangkal, gadis pelayan itu berkata, "Apakah Nona keberatan?"

"Tidak," jawab gadis itu sembari menyentuh puncak kepalanya dan termenung selama beberapa saat. Namun tiba-tiba gadis itu mendongak ke arahnya dan ia berkata, "Tsuyu-san, apa kau sudah menikah?"

"Saya?" Gadis pelayan itu bertanya sembari menunjuk dirinya sendiri. "Tidak. Saya belum menikah. Kenapa Nona menanyakannya?"

"O-oh," gadis itu berkata dengan nada suara yang berangsur-angsur turun. "Aku… hanya ingin tahu."

Mengangkat alis, Asui Tsuyu menatap nona yang pikirannya sudah tidak berada di tempatnya itu. Melihat tingkahnya, sepertinya samar-samar Tsuyu mengerti apa yang ada di pikiran sang Nona. Namun ia menahan diri, berusaha untuk tidak ikut campur dalam urusan keduanya. Ia khawatir bahwa ia akan menyakiti salah satunya bila ia berbicara.

"Mungkin…," kata gadis itu sembari menurunkan tangannya dari kepala, "aku terlalu banyak menonton drama."

"Ng?"

Tsuyu masih hendak bertanya, namun sang Nona sepertinya sudah tidak ingin membicarakannya. Ia pun menghargai keinginan sang Nona dan menutup mulutnya. Dalam diam, gadis pelayan itu mengamati ketika sang Nona berjalan menaiki tangga dan berbelok menuju ke koridor yang mengarah ke kamarnya. Ia baru melepaskan pandangannya dari Nona itu ketika sang Nona sudah tak terlihat lagi.

Sementara sang Nona yang dimaksud, tengah berjalan perlahan menuju ke kamarnya. Walaupun pelan, langkah kakinya akhirnya membawanya menuju ke kamarnya. Diputarnya kenop pintu dan didorongnya hingga memperlihatkan ruangan kamarnya. Setelahnya, gadis itu pun masuk ke dalam dan berbalik untuk menutup pintu.

Bersandar pada daun pintu, gadis itu pun menundukkan kepala. Ia diam dan menghela napasnya.

Tangannya menyentuh kepalanya yang sedikit berdenyut dan ia memejamkan mata sembari meringis. Beberapa hari ini kepalanya memang terasa sakit, namun tak sampai membuatnya kehilangan kesadaran. Ia masih bisa mengatasinya.

Namun, sakit kepala yang ringan tak membuat ingatannya kembali. Sakit kepala semacam ini hanya membuatnya terdiam sambil meringis sesaat, tapi tak ada memori yang muncul di kepalanya. Hanya sakit kepala yang membuatnya pingsan lah yang membawa ingatannya. Hanya sakit kepala semacam itu, yang dapat membawanya lebih dekat dengan suaminya dan itulah yang ia butuhkan saat ini.

Ia tahu, suaminya tak melakukan apa pun padanya karena ingatannya belum kembali. Karena ia tak ingat apa yang biasanya dilakukan bila suaminya pergi bekerja maka suaminya berlalu begitu saja. Mungkin juga karena ia tak kunjung mengingat makanya suaminya kembali bekerja. Karena tak ada gunanya berada di sisinya bila ia tak dapat mengingat apa pun.

"Ayolah," gumam gadis itu sembari memegangi kepalanya, "aku masih bisa mengatasi yang ini. Ayolah!"

Punggung yang sebelumnya disandarkan pada daun pintu, perlahan-lahan mulai turun. Kaki yang sebelumnya menopang tubuh si gadis pun mulai lunglai. Sakit kepala yang dirasakan gadis itu kian menyiksa hingga ia meringis menahan tangis. Walaupun begitu, tak ada satu pun isakan meluncur dari bibirnya. Ia hanya terus mengernyit, hingga akhirnya permintaannya terkabul. Hingga akhirnya kegelapan menghampiri dan memunculkan memori yang telah dilupakannya.

"Kacchan," ucap gadis kecil itu sembari mengulurkan tangan pada bocah berambut ash blonde di hadapannya. "Kacchan, tunggu aku!"

Menoleh ke arahnya, anak laki-laki berambut ash blonde itu mengerucutkan bibir. Lalu anak itu berkata, "Lamban!"

Tidak peduli, Izuku terus mengulurkan tangannya hingga akhirnya ia berhasil menyentuh lengan bocah cilik yang sebaya dengannya. Ia terengah-engah dan merapatkan dirinya pada bocah itu. Sambil memeluk erat lengan bocah di sampingnya, Izuku berkata, "Kacchan, ini di mana? Kenapa kita belum juga tiba di rumah?"

"Berisik, Deku," jawab bocah cilik itu sambil menggerakkan tangannya, enggan dipeluk oleh gadis mungil di sampingnya. "Aku masih mau mencari kunang-kunang, kenapa kau malah mengikutiku?"

"Eh?" Gadis itu berkata dengan bingung. "Kacchan masih mau mencari kunang-kunang? Tapi ini sudah malam."

"Dasar bodoh!" Bocah cilik itu membalas, "Kunang-kunang 'kan memang keluar di malam hari."

"T-tapi," kata si gadis kecil sambil memandangi sekelilingnya. Ketika melihat daun yang bergoyang-goyang di kegelapan, gadis itu pun kembali bergidik ngeri dan bergegas memeluk lengan bocah berambut ash blonde di sampingnya. Tubuhnya gemetar, sementara ia menatap waspada pada pohon yang bergoyang. "K-Kacchan…"

"Berisik, Deku!" Bocah cilik di sampingnya berkata sambil terus melangkah. Berkatnya, mau tak mau Izuku pun mengikutinya walaupun sesekali pandangannya akan tertuju ke belakang, mengawasi. "Kalau kau takut, kenapa kau ikut? Sudah kubilang jangan ikut 'kan tadi?"

"A-aku…,"kata gadis itu sembari mengintip ke belakang, "aku ingin ikut, karena sepertinya Kacchan hanya sendirian…"

"Hah? Memangnya kenapa kalau aku sendirian aku sudah biasa sendirian!"

"Tapi nanti Kacchan kesepian…"

Bocah laki-laki itu menatapnya jengkel. Dengan menggerakkan tangannya yang dipeluk oleh si anak perempuan, bocah itu berkata, "Aku bisa sendirian! Aku tidak butuh…"

Ucapannya terhenti ketika melihat gadis cilik itu tersandung akar pohon sehingga ia jatuh terjerembab dengan keras. Melihatnya cukup untuk membuat wajahnya pucat pasi dan langsung menghampiri gadis cilik itu serta mengangkat tangannya. Namub bukannya mengungkapkan kekhawatiranny, ia malah berkata, "Kau ini! Kenapa ceroboh sekali sih?"

"S-sakit," kata gadis itu dengan airmata yang sudah menggenang di pelupuk mata, siap untuk jatuh. "S-sakit, Kacchan…"

"Makanya lihat ke depan kalau jalan!" Bocah cilik itu berkata tanpa ampun. Ia mengeluarkan botol air minum dari dalam tas selempangan kecil yang dibawanya dan berjongkok sedikit untuk melihat lukanya. Sembari memegang senter di mulut, anak laki-laki berambut ash blonde itu membasuh luka di lutut si gadis dan menempelkan plester di lututnya. "Sudah, hanya luka kecil. Tidak perlu sampai menangis begitu."

Gadis kecil itu tidak mendengarkannya. Walaupun luka di lutut sudah diberi penanganan ala kadarnya, si gadis masih terus saja menangis keras. Tak punya pilihan, anak laki-laki itu menghela napas dan menghadapkan punggungnya di depan gadis cilik itu.

"Ayo naik!"

Tangis si gadis berhenti sesaat dan ia menoleh. Melihat bocah laki-laki yang bersamanya sudah menghadapkan punggung, memintanya naik, si gadis cilik pun langsung mendekat. Ragu-ragu ia melingkarkan tangannya pada leher bocah itu, sementara si bocah bangkit berdiri dengan hati-hati sementara tangannya menahan kaki gadis cilik itu.

"Jangan lepaskan tanganmu dari leherku!" bocah itu kembali berkata, "Kalau tidak kau bisa jatuh."

Mengangguk, gadis cilik itu pun mengeratkan pegangannya. Ia menyandarkan kepalanya pada punggung si bocah laki-laki dan membiarkan dirinya dibawa bocah itu. Tangisnya sudah reda, gemetarnya sudah hilang tapi ia masih ingin pulang.

"Kacchan…kapan kita bisa pulang?"

Yang ditanya hanya menggelengkan kepala, "Berisik, nanti kalau sudah melihat kunang-kunang."

"Kunang-kunangnya di mana?" gadis cilik itu kembali bertanya. "Daritadi sepertinya kita hanya berputar-putar saja. Apa kita tersesat?"

Bocah yang ditanya tidak menjawab. Ia hanya diam dan terus berjalan. Sebetulnya, samar-samar anak perempuan itu tahu bahwa bocah yang berjalan bersamanya itu juga takut dan gemetar. Ia sudah tahu bahwa mereka tersesat karena sedari tadi mereka hanya berputar-putar saja. Tapi karena bocah yang menggendongnya tak mengatakan apa pun, gadis itu juga tak berkomentar.

Paling tidak hingga sesuatu mengganggu pandangannya dan membuatnya memanggil nama bocah itu lagi.

"Kacchan…"

Mendengar namanya dipanggil anak laki-laki itu berkata, "Apalagi?"

"Kunang-kunang…"

Anak laki-laki yang sebelumnya memimpin jalan itu pun berhenti mendengar ucapannya. Menoleh ke arahnya, anak laki-laki itu menatapnya bingung. Namun Izuku menggerakkan telunjuknya dan mengarahkan ke samping, di mana banyak cahaya berkumpul. Melihatnya, manik merah si anak laki-laki pun bersinar dan mulutnya menganga lebar.

"Kunang-kunang!" Anak laki-laki itu berkata dengan keras. "Kunang.. kunang… wow!"

Izuku pun mengamati sekelilingnya yang sontak dipenuhi cahaya temaram dari tubuh serangga tersebut. Berkatnya, ia pun tertarik untuk mengulurkan tangan pada salah satunya dan berkata, "Cantik sekali."

"Ya 'kan? Betul 'kan?" Si anak laki-laki kembali berkata sambil berputar mengamati satu persatu kunang-kunang di sekeliling mereka. "Kunang-kunangnya cantik."

Gadis cilik itu kembali menatapnya dan ia pun mengangguk. "Ya, cantik."

Dalam diam mereka mengamati cahaya lembut yang bersinar di sekeliling mereka. Untuk beberapa saat hanya ada keheningan dan kepakan sayap si kunang-kunang. Hingga akhirnya salah satu dari mereka memilih untuk bicara.

"Deku…"

Menggerakkan sedikit kepalanya, gadis kecil itu berkata, "Ya, Kacchan?"

Hening sejenak, gadis kecil itu menunggu hingga anak laki-laki itu kembali berbicara. Hanya saja, walaupun beberapa detik telah berlalu, si bocah laki-laki masih tetap bergeming sehingga gadis kecil itu memanggil lagi namanya. Ketika pemuda itu menoleh dan menghadapkan wajahnya, gadis kecil itu pun mengangkat alis.

"Aku…"

Belum sempat anak laki-laki itu bicara, di kejauhan mereka mendengar suara-suara yang menyebut nama keduanya. Sontak, keduanya kembali terdiam dan saling memandang satu sama lain. Mengernyitkan dahi, salah satu dari mereka berkata, "Kacchan, kau dengar?"

Si anak laki-laki mengerutkan dahi dan ia berkata, "Ada… suara yang memanggil-manggil."

"Mungkin itu Tou-san," kata si gadis cilik sambil mengangkat kepalanya. Mulutnya sudah terbuka dan hendak bersuara ketika si anak laki-laki itu menahannya. "Kenapa Kacchan?"

"Tunggu! Tunggu dulu!" Anak laki-laki itu kembali berkata, "Jangan menyahut!"

"Kenapa?" Gadis kecil itu bertanya. "Mungkin saja itu Tou-san! Kalau kita tidak menyahut, mereka tidak akan tahu bahwa kita di sini."

"Tidak," ujar anak yang menutup mulutnya itu, "Kaa-san pernah bilang di hutan ini ada seekor rubah yang dapat meniru suara. Kalau sampai kita mengikuti suaranya, maka dia akan memakan kita!"

Gadis cilik itu menatapnya selama beberapa saat. Tidak percaya akan apa yang didengarnya. Namun ketika suara-suara yang memanggil namanya kembali bergema di kejauhan, gadis cilik itu pun mulai bergidik. "L-lalu kita harus bagaimana?"

Mengerutkan dahi, si anak laki-laki pun berpikir keras. Ia terdiam cukup lama sebelum suara berkeresak mengganggu pendengarannya. Dengan segera, anak laki-laki itu menurunkan si gadis cilik dari punggungnya dan memosisikan si gadis kecil di belakang sambil menggenggam jaring penangkap serangga bagaikan senjata.

"K-Kacchan…" ucap gadis kecil itu sembari memegangi ujung baju anak lelaki di depannya.

"Jangan berisik!" Anak laki-laki itu berkata. "Kalau kita tidak bersuara, pasti dia akan pergi dengan sendirinya."

"B-benarkah?"

"Ya," jawab anak laki-laki itu sembari menggenggam jaringnya erat, "jangan jauh-jauh dariku, Deku!"

Gadis kecil itu menatap anak laki-laki yang menghadapkan punggung padanya. Ia mengintip sedikit dan melihat tangan anak itu pun bergetar, sama sepertinya. Namun entah mengapa, gadis kecil itu malah mengeratkan pegangannya pada si anak laki-laki dan bersembunyi di belakangnya. Ia memejamkan mata dan mulai berdoa.

"Katsuki!"

"Izuku!"

Bersamaan dengan suara yang terdengar, si anak laki-laki mengayunkan jaring penangkap serangganya sekuat tenaga sembari berteriak. Membabi buta, anak laki-laki itu menyerang pria dan wanita yang menghampiri mereka hingga akhirnya jaringnya ditangkap dan si wanita berkata dengan marah, "Katsuki! Hei! Berhenti! Dasar anak kurang ajar!"

"K-Katsuki-kun, ada apa?"

"Ah," ucap si gadis kecil sambil menunjuk mereka, "Tou-san, Mama Mitsuki?"

Menghentikan serangannya, si anak laki-laki kembali berkata, "Jangan mengajak mereka bicara, Deku! Mereka ini rubah dan mereka…"

Tanpa banyak bicara, wanita dengan warna rambut ash blonde yang sama dengan si anak laki-laki langsung menghantam tinjunya ke kepala anak itu. Bersamaan dengan itu, si anak laki-laki kembali mengamuk dan memusatkan serangannya pada wanita itu. Sembari berkata, "Apa yang kau lakukan, wanita sialan?"

"Begitu sikapmu pada ibumu, anak sialan?"

Melihat pertengkaran keduanya, pria yang memiliki warna rambut yang serupa dengannya itu menghampirinya. Ia mengusapkan jemarinya pada Izuku dan berkata, "Kau baik-baik saja, Izuku? Apa kau terlu.. Ah! Kenapa tanganmu?"

"Aku jatuh," jawab Izuku pelan ketika pria itu mengangkat sikunya yang juga cedera saat ia terjatuh. "Tapi Kacchan mengobatiku."

"Oya?" Pria itu berkata sambil meniup-niup siku anak gadisnya. Dengan wajah prihatin, sang Ayah pun kembali berkata, "Maaf ya, seharusnya Tou-san lebih cepat menemukanmu."

Menggeleng, Izuku kembali berkata, "Tak apa, aku bersama Kacchan."

"Hm?" Ayahnya mengerjapkan mata dan berkata, "Katsuki-kun?"

Izuku mengangguk dan ia berkata, "Iya, selama bersama Kacchan, aku akan baik-baik saja, Tou-chan! Aku tidak apa-apa."

Sembari mengucapkannya, Izuku menatap anak laki-laki yang masih berdebat dengan sang ibu. Masing-masing dari mereka mengeluarkan suara nyaring yang memekakkan telinga untuk mempertahankan argumen. Dari cara mereka berbicara, sepertinya tak ada yang akan mengalah dalam waktu dekat.

Biarpun begitu, gadis kecil itu menatap anak laki-laki berambut ash blonde di sampingnya dan seulas senyum mengisi wajahnya. Anak laki-laki yang walaupun ketakutan tetap saja melindunginya. Anak laki-laki yang bermulut kasar namun memiliki kebaikannya sendiri. Ia sangat suka anak laki-laki yang seperti itu dan kini ia paham kenapa ia memilih laki-laki itu menjadi pendamping hidupnya.

Tangannya terulur hendak menghampiri bocah laki-laki berambut ash blonde itu, namun tiba-tiba kabut melingkupinya dan menghalangi pandangannya. Gadis itu pun mencoba mengulurkan tangan dan meraba-raba, berharap bahwa ia akan berhasil menggapai si anak laki-laki.

"Midoriya…"

Gadis kecil itu menoleh. Ada suara lain yang memanggilnya, atau malah ayahnya yang sedang dipanggil? Eh! Tapi di mana ayahnya? Bukankah ayahnya ada di belakangnya tadi? Di mana mereka semua sekarang? Kacchan? Tou-san? Mama Mitsuki?

"Izuku…."

Mengerutkan dahi, Izuku yakin bahwa suara yang sama itu tengah memanggilnya. Ia pun berusaha untuk mendekat dan menggerakkan kepala mencari suara tersebut. Entah mengapa, suara itu juga familiar, tapi ia tidak memanggil dirinya dengan sebutan 'Deku' seperti yang selama ini ia tahu. Suara ini memanggilnya 'Izuku'.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban. Namun dengan keras kepala Izuku tetap melangkahkan kakinya. Di depan, dikelilingi kabut tebal, ada seseorang yang berdiri memunggunginya. Ia tidak dapat melihat wajahnya karena kabut itu, tapi sosok di depan itu mengulurkan tangan padanya.

"Kat…suki?" Izuku balas bertanya sambil mengulurkan tangan. "Katsuki? Kau-kah itu?"

Dari balik kabut, sosok itu mencengkeram tangannya. Izuku pun mundur selangkah saking kagetnya. Namun ada sesuatu yang membuatnya berhenti dan berdiam diri di tempat.

Ia mengerutkan dahi dan melihat benda yang sama dengan yang dikenakannya di jari manisnya. Benda berkilau yang melingkari jemari manisnya, juga melingkari jemari orang ini. Tapi setahunya, Bakugou Katsuki tidak mengenakan cincin yang sama di jari manisnya.

"Kau…"

.

.

.

Pemuda itu sudah menunggu lebih dari dua jam. Sudah dua jam lamanya ia duduk, menunggu di ruang meeting, namun tak ada seorang pun yang menemuinya. Ia sudah mencoba bertanya pada resepsionis di depan, tapi sang resepsionis hanya tersenyum dan mempersilakannya duduk kembali. Ingin rasanya ia meninggalkan tempat ini, sayangnya akal sehatnya berusaha bertahan karena sadar bahwa ia membutuhkan jawaban.

Untunglah, setelah dua jam dan tujuh belas menit kemudian, orang yang ingin ditemuinya menampakkan sosoknya. Mengenakan setelan merah marun dengan kemeja berwarna abu-abu dan dasi hitam yang serasi, Bakugou Katsuki akhirnya berkenan menemuinya. Dengan gaya arogannya yang biasa, pemuda satu itu mengambil tempat duduk di seberangnya dan melipat kedua tangan di depan dada.

"Lama menunggu?"

Menyipitkan mata, ia pun berkata, "Begitulah. Menemuimu ternyata tidak semudah yang kuduga, Bakugou."

Mengangkat bahu, pemuda bersetelan merah marun itu berkata, "Kau tidak membuat janji sebelumnya denganku. Masih bagus aku berkenan menemuimu, Iida."

Iida Tenya, pemuda berkacamata yang sudah menunggu selama lebih dari dua jam itu hanya menelan ludah mendengar jawaban Direktur Perusahaan Manufaktur terbesar ketiga di negaranya. Kalau bukan karena permintaan sahabatnya, ia tak akan mau menemui pemuda sombong yang sudah sangat terkenal sejak mereka bersekolah di U.A dulu. Ia sudah tahu akan mendapat perlakuan seperti ini saat menemui pemuda itu.

"Kau masih tetap sombong seperti biasanya, ya, Bakugou," ujar Iida sambil menggelengkan kepala. "Rambut rancung dan kata-kata beracunmu juga masih tetap pada tempatnya."

Mengangkat alis, pemuda berambut ash blonde itu berkata, "Apa kau datang menemuiku hanya untuk mengomentari penampilanku?"

Menggerakkan sedikit kepalanya, Iida berkata, "Tentu tidak. Aku juga tidak mau mengganggu waktumu yang berharga hanya untuk reuni."

Pemuda bersetelan merah marun itu menyipitkan matanya dan kembali berkata, "Jadi?"

"Aku tidak enak mengungkit hal ini," ucap Iida sambil menatap manik merah delima yang mengintimidasi itu, "tapi apa kau tahu bahwa Midoriya menghilang?"

Menyipitkan mata, Bakugou Katsuki pun berkata, "Oh? Dia menghilang?"

"Kau tidak tahu?"

Mengangkat bahu, pemuda bersetelan jas merah marun itu berkata, "Entah, sudah dua tahun aku tak menemuinya."

"Beberapa hari yang lalu," ujar Iida sambil menyipitkan mata kembali ketika mendengar ucapan lawan bicaranya "aku mendengar kabar dari karyawannya, bahwa toko kopinya hendak direnovasi sehingga ia memecat para karyawannya dan memberi uang pesangon ke rekening mereka masing-masing."

Sembari menggerakkan sedikit kepalanya, Katsuki kembali berkata, "Lalu?"

"Kau tidak merasakan ada yang aneh?"

"Aneh?" Pemuda berambut ash blonde itu mengerutkan dahi, "Tidak. Memang apa yang aneh bila tokonya direnovasi dan karyawannya diberi pesangon? Bahkan menurutku, dia terlalu baik kalau sampai memberi uang pesangon."

"Hanya itu yang ada di pikiranmu?" Iida bertanya sambil mengerutkan dahi. "Kau tidak merasa curiga atau apa terhadap tingkah janggal Izuku padahal kau lebih lama bersamanya dan lebih mengenalnya dibanding kami?"

Melipat kedua tangannya di depan dada, Katsuki kembali berkata, "Apa yang kau inginkan sebenarnya?"

"Sebagai teman dekatnya," ujar Iida sambil menatap Direktur Perusahaan yang ia datangi itu, "aku tidak percaya bahwa Midoriya akan melakukan hal itu tanpa memberitahu kami sebelumnya."

"Oh?"

"Aku dan Uraraka adalah teman dekatnya," ucap Iida sambil menatap Katsuki yang tidak banyak menunjukkan reaksi apa pun, "tapi ia tidak memberitahukan kami soal rencana renovasi itu sebelumnya. Padahal biasanya Midoriya akan menceritakan lebih dulu pada kami dan bukannya pergi mendadak seperti ini. Ini seperti…"

Di hadapannya, pemuda bersetelan jas merah marun itu menggerakkan kepalanya sedikit dan mengorek telinga dengan jarinya. Tampak jelas bahwa pemuda itu tidak tertarik untuk mendengar. Terlebih ketika ia berkata, "Jadi kau datang menemuiku hanya untuk menceritakan hal ini?"

"Tidak," jawab Iida sambil memerhatikan reaksi pemuda berambut ash blonde itu. "Aku hanya ingin mendengar pendapatmu sebagai mantan kekasihnya."

Bila Iida mengharapkan pemuda itu akan bereaksi emosional ketika mendengar perkataannya, maka ia salah. Bakugou Katsuki tetap tenang dan ia menggerakkan bahunya sedikit. Lalu ia pun berkata, "Kau ingin mendengar apa?"

"Entahlah," jawab Iida sambil mengangkat bahu. "Kekhawatiran? Panik? Cemas?"

Sembari memutar bola matanya, Katsuki berkata, "Aku tidak tertarik mengomentari soal kekecewaanmu terhadap perubahan sikap Deku."

"Bukan soal itu," ucap Iida sedikit memaksa karena melihat Katsuki begitu tak acuh terhadap masalah yang tengah mereka bicarakan. "Aku ingin tahu pendapatmu soal sikap Midoriya. Apa menurutmu dia… diculik?"

"Diculik?" Katsuki berkata sambil menyipitkan mata. "Mungkin juga. Mungkin pewaris tunggal Endeavor itu yang menculiknya dan membawanya ke Amerika."

"Kenapa kau mengira begitu?"

"Entahlah," jawab Katsuki. "Kalau kau bilang diculik, hanya ada orang itu yang terlintas di pikiranku."

"Kenapa begitu?"

"Bukankah mereka bertunangan?" Katsuki balas bertanya. "Tidak aneh kalau orang itu menculiknya karena ingin mempercepat pertunangan mereka, bukan?"

Iida terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya berkata, "Justru Todoroki meminta bantuanku untuk menyelidiki di mana Midoriya sekarang."

Menganggukkan kepala sembari memainkan jemari, Katsuki hanya bergumam singkat.

"Dan sama sepertimu," ujar Iida sambil memerhatikan reaksi sang Direktur, "di kepalanya pun hanya terlintas satu orang yang mungkin menculik Midoriya."

"Oh ya?" Katsuki berkata sembari menurunkan jemarinya. Manik merahnya menatap tajam pada tamunya dan ia berkata, "Kalau begitu, kenapa kau membuang waktumu di sini, Mata Empat? Tidakkah seharusnya kau bergegas mencari dan menemukan kekasih Todoroki Shouto itu?"

"Itulah yang sedang kulakukan," jawab Iida seraya menaikkan kacamatanya, "Bakugou Katsuki."

Untuk sesaat, hanya keheningan semata yang menyelimuti mereka. Keduanya tetap diam sementara pandangan mata keduanya saling menyerang satu sama lain. Hingga akhirnya, keheningan dipecahkan oleh suara tawa si pemuda berambut ash blonde. Bahkan pemuda itu menunjuknya dan berkata, "Jadi, itulah tujuanmu datang menemuiku."

"Benar," jawab Iida sambil melipat jemarinya di atas meja meeting, "aku merasa di sinilah petunjuk pertamaku berada."

"Sayang sekali," balas Katsuki dengan nada sinis yang terdengar jelas, "tak ada petunjuk yang dapat kuberikan untuk membantumu."

Menyipitkan mata, Iida kembali memandanginya. "Kau yakin, tidak tahu apa-apa soal Midoriya, Bakugou?"

"Begitulah." Katsuki menjawab sambil mengangkat bahu. "Kau sudah membuang waktumu dengan menemuiku."

"Tapi…," Iida kembali bertanya, "darimana kau tahu bahwa Todoroki bertunangan dengan Midoriya Izuku?"

"Hm?"

"Tak seorang pun yang mengetahuinya kecuali kami dan Shouto sendiri," jawab Iida sambil menatap pemuda itu. "Mereka pun bertunangan baru-baru ini, jadi aneh kalau kau yang sudah lama tak menemuinya tahu bahwa Midoriya sudah bertunangan dengannya."

Jemari Katsuki yang sebelumnya mengetuk-ngetuk meja meeting langsung berhenti di tempat. Kepalanya bergerak dan manik merahnya menatap pada pemuda berkacamata di seberangnya. Menyipitkan mata, pemuda itu pun berkata, "Lalu?"

"Jangan-jangan," balas Iida tanpa merasa terintimidasi oleh manik semerah delima yang memandanginya, "kaulah yang menculik Midoriya, Bakugou?"

Kembali terdiam, pemuda berambut ash blonde itu kembali berkata, "Hanya karena… aku mengetahui soal pertunangannya? Apa kau tahu di dunia ini ada yang namanya 'media sosial'? Kalau tahu mungkin kau bisa memulai petunjukmu dari sana."

"Tidak ada yang mengetahuinya selain aku, Uraraka juga Todoroki sendiri dan kami berempat bukanlah orang yang akan mengumbar hal ini pada media sosial," ucap Iida dengan penuh keyakinan. "Todoroki sengaja tidak menyebarkannya karena tidak mau menyusahkan Midoriya. Begitu pula Midoriya tidak menyebarkannya karena tidak ingin menimbulkan masalah bagi Todoroki. Karena itu mereka…"

"Memangnya aku sehilang akal itu sampai menculik tunangan seseorang?" Katsuki bertanya sambil mengetukkan kembali jemarinya. "Masih banyak gadis di dunia ini, kenapa aku harus menculik tunangan Todoroki Shouto?"

"Karena…," Iida berhati-hati sebelum mengemukakan alasannya, "kau masih memiliki perasaan yang besar, pada Midoriya."

"Begitu?" Katsuki kembali berkata dengan nada cuek, "Kalau memang begitu, aku akan berlari menemuinya dan memaksanya kembali. Aku bukan orang yang akan membiarkan orang lain merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."

"Itu…"

"Tentunya, melihatku tetap bergeming dan membiarkannya, kau sudah paham jawabanku, 'kan, Iida?"

Iida tidak menjawab. Ia tetap memicingkan matanya.

"Bagiku, gadis itu sudah tidak berarti," jawab Katsuki sebelum berbalik, "mau diculik atau dibunuh sekalipun, aku tak akan berpaling lagi padanya."

Setelah mengatakannya, pemuda berambut merah marun itu bangkit dari tempat duduknya dan mendorong pintu yang memisahkan ruang meeting dengan kantornya. Ia berjalan melewati beberapa karyawan yang membungkukkan badan padanya dan segera kembali ke ruangannya. Tanpa banyak bicara, ia segera menghampiri sofa dan menundukkan kepalanya di sana.

'Tidak berarti,' batinnya menertawakan ucapannya sendiri. 'Omong kosong apalagi yang kau katakan, Bakugou Katsuki?'

Memejamkan mata, Katsuki pun melipat tangannya seolah sedang berdoa. Ia tak mengucapkan apa pun walaupun pikirannya dipenuhi oleh gadis itu. Gadis yang paling berharga, jauh lebih berharga dibanding karir ataupun nyawanya sendiri. Gadis yang membuatnya melakukan semua hal tak masuk akal ini, agar gadis itu kembali padanya.

"Lho? Kau masih di sini?"

Walaupun mendengar ada orang yang mendatangi ruangannya, Katsuki masih tetap menundukkan kepalanya. Ia mengenal suara itu dan tak masalah bila suara tersebut tak diacuhkannya.

"Laporan di mejamu sudah beres, sebaiknya kau berterimakasih padaku!"

Alih-alih mempersoalkan laporan, pemuda berambut ashblonde itu malah bertanya, "Apa kau sudah menjemput dan mengantar orang yang kusebutkan tadi?"

"Oh?" Orang yang baru datang itu terkejut mendengar perkataannya. "Sudah. Tapi, wanita tua itu tampaknya mengenalimu. Siapa dia sebenarnya?"

Katsuki mengangkat kepalanya. "Aku akan menemuinya kalau begitu."

"O-oi, kau tidak mau melihat pekerjaan anak buahmu?"

"Kau saja yang lakukan," jawab Katsuki sambil berjalan meninggalkan ruangan. "Bukankah kau dibayar untuk itu?"

"Dasar sam…"

Sebelum pemuda berambut merah itu menyelesaikan ucapannya, Katsuki sudah lebih dulu menoleh dan memberikan pandangan mengintimidasi padanya. Akibatnya, mulut sang bawahan pun langsung menutup sempurna sementara matanya mengerjap, menunggu perintah.

Namun bukannya membalas ucapannya dengan makian atau amarah, pemuda berambut ash blonde itu malah berhenti di tempat dan mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membaca pesan yang masuk dan perlahan-lahan ekspresi wajahnya mulai berubah. Serta merta, pemuda itu pun berbalik dan langsung menggerakkan kakinya menuju ke parkiran.

"O-oi, ada apa?" Bawahannya langsung bertanya begitu melihat kepanikan di wajah atasannya. "Apa terjadi sesuatu?"

Tidak menjawab, Katsuki masih terus melangkahkan kakinya. Namun ia menghentikannya sesaat ketika teringat sesuatu. Berbalik menghadapi bawahannya, ia berkata, "Ngomong-ngomong, aku ingin kau menyewa detektif untuk menyelidiki orang yang baru kutemui itu."

"Orang yang baru kau temui?" Sang bawahan kembali mengernyitkan dahi, berpikir keras. "Sia…Ah! Iida Tenya maksudmu?"

"Ya," jawab si pemuda berambut ash blonde itu, "selidiki dia dan apa saja yang sudah didapatkannya tentangku, juga…"

Suara Katsuki memelan ketika mengucapkannya hingga membuat si bawahan harus menajamkan telinga untuk dapat mendengarnya. Hanya saja saat sang bawahan menangkap maksudnya, ia pun membelalakan mata dan berkata, "H-hah? Kenapa aku harus melakukan itu? Hei! Bakugou?!"

Yang ditanya sudah tak menghiraukan lagi ucapannya dan segera berlari melintasi koridor. Satu pesan di ponselnya sudah cukup untuk membuatnya mengabaikan sekeliling dan segera kembali. Kecemasan dan kepanikan melandanya saat ini. Ia begitu takut dan bila Iida Tenya melihatnya sekarang ini, pastilah semua kebohongannya akan terbongkar.

Siapa bilang ia tidak peduli lagi? Siapa bilang masih banyak gadis lain di dunia ini? Bagi Bakugou Katsuki, gadis itu hanya ada satu di dunia ini. Gadis yang berharga melebihi karir atau pun nyawanya sendiri. Gadis yang segala kebutuhannya adalah prioritas utama bagi Katsuki dan tak ada pengecualian. Gadis yang ingatannya sedang dipertaruhkan karena Katsuki ingin agar gadis itu kembali berpaling padanya.

Karenanya, ia tak bisa mengabaikan begitu saja ketika ada pesan masuk di ponselnya yang berkata:

'Nona kembali kehilangan kesadaran. Apa yang harus saya lakukan, Tuan?'

.

.

.

(t.b.c)

Author's note:

Fujoshi desu xD : badai sudah datang! Badai sudah datang! Kacchan harus puter otak buat ngadepin badai XD

Wooh, lagu Re-pray, lagu yang uda lama nggak didenger, jadi kepengen denger lagi gegara Fujocchi.. Sekarang sih ane lagi demen2nya dengerin soundtrack Kimi no na wa XD

Shin Aoi : iya Kacchan kejem, TTATT, ane juga merasa kalo dia itu kejem, Ao-chan. Tapi lagi, sekarang dia uda tobat #semoga dan uda cukup nyesel #dikejauhandengersuarateriakSHINE #authormulaibacadoa

Iyaaa, Todoroki demen karena hal sepele, tapi lama-lama jadi besar karena sering ketemu #mungkinininamanyacinlok

Dan si Abang mata panda yang kamu bilang, saya masukin karena doi sepertinya lucu juga kalo dimasukin di 'Harem'nya Izuku, tapi lagi, saya belom ada rencana untuk libatin dia lebih jauh… sepertinya Shouto ama Kacchan aja uda cukup sengit soalnya :P

Wokeeehh, siap! Ane juga menunggu saatnya Todoroki posesif :P #marikitanantikankemunculansidispenser

Miharu348 : love is simple, love is blind, love is… Todoroki Shouto :P

Hikaru Rikou : Uit… Hikacchi, ar you serious? Si Mr. Explodo nggak bisa dibunuh pake golok soalnya. Apa kita coba racunin dia atau minta bantuan Best Jeanist buat nata rambut rancungnya?

Iyahh, finally Todoroki mulai bergerak, tapi berhubung doi masih di USA, makanya dia minta bantuan si Ketua Kelas :P

Dan … Bagaimana caranya mereka 'saling menikahi'? saya bingung di sini #sokpolos #authormintaditimpuklagirupanya

Febby Anastacia :hola Febby XD salam kenal

Ehe, nggak jadi pasang tampang sedih dong sekarang :P kan suami Deku masih Kacchan sekarang :P

ererigado : Holla Ereri-chan, akhirnya melanglang juga ke fandom ini ya? XD Senang sekaliiii, akhirnya kita bisa ngobrol lagiii soal ff XD ditunggu ripiumu selanjutnya :D

kyunauzunami : *highfive Kyuu-chan! Saia juga suka semua XD mau dipasangin ama siapa pun Izuku tetep oke #quirkOneforAllactive #dibelakangterdengarteriakanDetroitSmash #authortewas

Jeruk : Holla Jeruk-san :D makasihhh uda fave flashbacknya dan, dan… seperti yang kamu bilang, kalo bukan milik itu baru berasa nyeselnya double TTATT, dasar Kacchan

Terus, terus, memang bener, aku pun dilemma, nggak pengen ingetannya balik, tapi kesian sama Mas Dispenser yang di LDR in terus nggak tahu apa-apa. Tapi kalo ingetannya balik, kesian kita yang uda setengah mati berubah TTATT

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!

Aniway, berhubung Shouto nggak muncul di sini dan saya kangen berat ama doi, maka saya buatkan sedikit tambahan buat Abang Dispenser. Hope you guys don't mind XD

.

.

.

Omake :

I(Izuku) : (baca naskah) Mendongak ke atas itu bagaimana sih, Author-san? Lho? Mana Author-san?

S (Shouto) : (pas lagi lewat) ada apa, Midoriya?

I : oh, hai Todoroki-kun! Ini! Di naskah bagianku, aku harus mendongak ke atas. Apa kau paham bagaimana maksudnya?

S : (ikutan baca naskah, duduk di samping) coba praktekkan padaku!

I : eh? Oh… hmm… begini? (agak nunduk, mata natep ke atas)

S : ….

I : Salah ya? Sepertinya aku kurang berbakat soal i… Err…T-Todoroki-kun, h-hidungmu berdarah! Biar kuambilkan tissue.

S: Tidak usah repot-repot, Midoriya! Lanjutkan saja!

I: t-tapi darahnya banyak sekali dan… Gyaa! Todoroki-kun! Jangan pingsan dulu! Aduh… bagaimana ini? (nengok sana-sini nyari bantuan)

S : (nengok ke samping, liat Author-san nyumput di balik lemari, terus angkat satu jempol dan berkomat-kamit) Good job, Author-san!

Ar (Author) : (bales angkat jempol) sama-sama Shouto-ku…eh? (di belakang, Author ngerasa ada aura membunuh yang susah diabaikan)

K : Hoo…

Ar: a-Anu Katsuki-kun… tunggu dulu! Ini tidak seperti yang kau duga… ini…

K : Howitzer…

Ar : (lari, lari sekuat tenaga) Gomennnn!