.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Enjoy!

Chapter 8 : Time limit

Days 14

11.00 pm, San Fransisco, USA

Bunyi denting es membentur dinding gelas terdengar menggema berulang kali di dalam ruangan yang hanya diterangi sinar bulan. Suaranya terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian yang mencekam. Di dekatnya, seorang pemuda dengan bekas luka bakar di sebelah matanya tengah menempati sofa bersandaran tinggi. Satu tangannya menyangga pipinya sementara tangannya yang lain memegangi gelas berisi cairan berwarna kuning. Matanya terbuka namun pandangannya kosong seolah-olah pemuda itu hanya melihat namun tak memerhatikan dan mendengar namun tak menyimak.

Setelah dentingan yang ia perdengarkan berulang kali, pemuda dengan rambut berbeda warna itu menghentikan gerakannya. Ia meletakkan gelas yang dipegangnya di meja samping dan bangkit berdiri dari kursi empuk dengan sandaran tinggi yang ditempatinya. Sembari menghela napas, pemuda itu berjalan mendekat pada jendela dan mengamati pemandangan yang terlihat dari apartemen berlantai dua puluh sembilan miliknya.

Di hadapannya, bangunan pencakar langit yang bersinar diterangi pencahayaan yang berkerlap kerlip tidak menarik minatnya. Pemandangan Golden Gate yang terlihat dari jendela apartemennya pun tak mampu mengalihkan pikirannya. Pemuda itu tetap menatap dengan kosong sementara pikirannya terus berkelana mimikirkan orang yang saat ini berada jauh di belahan dunia yang lain. Orang yang menyedot seluruh perhatiannya dan mengisi hampir sembilan puluh persen isi otaknya.

Sudah sepuluh hari, mungkin lebih, sejak orang itu terakhir menghubunginya dan selama itu pula, ia nyaris tak bisa memejamkan mata. Sejak itu pula setiap menitnya ia lalui dengan memandangi ponselnya, berharap berharap ada setitik informasi mengenai orang itu atau lebih baik lagi bila orang itu sendiri yang menghubunginya. Ia sudah sangat merindukan suaranya yang bagaikan candu dan kata-katanya yang mampu menyalakan api di dalam dirinya.

Tapi kini, sudah lebih dari sepuluh hari sejak orang itu memperdengarkan suaranya. Sejak orang itu menghilang dan lenyap tanpa kabar. Berita-berita seputar dirinya pun tak ada yang terdengar, bahkan bantuan temannya pun tak mampu menyingkirkan kekhawatiran yang semakin besar setiap harinya. Firasatnya tidak enak soal ini.

Aku sudah meminta bantuan kepolisian setempat dan melaporkan Midoriya sebagai orang hilang, hanya saja kepolisian bergerak terlalu lambat. Daftar pencariannya belum dikeluarkan hingga hari ini, mereka seolah enggan memproses laporanku.

Pesan yang baru diterimanya itu membuatnya mencengkeram ponsel yang ada di tangannya. Ia memejamkan mata dan merapatkan giginya, merasa geram. Ia sudah meminta bantuan temannya untuk menyelidiki keberadaan gadis itu, tapi segalanya sia-sia. Seolah setiap pencariannya menemui jalan buntu setiap kali mereka mendekati kebenaran. Seolah-olah, seseorang sengaja menjebak mereka hanya untuk memerangkap mereka dalam keputusasaan.

Tangannya mengepal, menghantam dinding di samping jendela berulang kali. Baginya ini mustahil. Tak mungkin tunangannya menghilang begitu saja. Gadis itu tak mungkin pergi begitu saja di saat hari pernikahan mereka sudah semakin dekat. Gadis itu tidak akan pergi dari sisinya dan meninggalkannya begitu saja setelah segala yang diperbuatnya untuk gadis itu. Gadis itu takkan kembali lagi pada orang itu. Gadis itu sudah tak punya perasaan lagi pada pemuda itu. Iya 'kan?

Ini tidak sama lagi. Ini tidak sama seperti dulu. Dia bukan lagi Shouto yang hanya dapat menatap tanpa melakukan apa-apa sekalipun perasaannya begitu besar pada gadis itu. Ia bukan lagi hanya sekedar teman bagi gadis itu. Bagi gadis itu, dialah tunangannya, bukan lagi… pemuda itu. Bukan lagi seperti dulu, saat ialah yang berada di pihak yang harus merebut gadis itu.

"Midoriya?"

Gadis berambut ikal kehijauan yang dilihatnya di samping gang kecil yang berada di seberang kantornya menggerakkan kepala ke arahnya saat mendengar namanya disebut. Wajahnya yang pucat dengan manik hijau zamrud yang berkaca-kaca tak luput dari penglihatan Shouto. Terlebih ketika ia mendengar gadis itu tergagap saat memanggil namanya.

"T-T-Todoroki? K-Kenapa… ?"

Shouto tahu, seharusnya ia bersikap sopan dengan berpura-pura tidak melihat airmatanya atau menanyakan hal lain. Namun akal sehatnya sudah meninggalkannya jauh dan perasaannyalah yang mengambil alih. Bukannya membicarakan hal lain, pemuda itu malah dengan frontalnya berkata, "Kau menangis? Apa yang terjadi?"

"B-b-bukan apa-apa." Gadis itu berkata sambil menggeleng gugup, seperti kebiasaannya. "Bukan apa-apa."

Cara gadis itu mengelak, malah membuatnya semakin penasaran. Kakinya malah semakin jauh memasuki gang kecil tempat gadis itu berada dan meninggalkan jalan raya yang hendak dilaluinya. Ia terus berjalan hingga akhirnya ia tiba di hadapan gadis itu.

Semakin dekat ia berjalan, akal sehatnya malah semakin jauh meninggalkannya. Sekarang Shouto dapat melihat dengan jelas, jejak airmata yang sebelumnya mengaliri pipi si gadis. Jejak isakan yang sebelumnya meluncur dari bibir mungilnya. Juga getaran di pundaknya tanpa seorang pun menghentikannya. Semuanya begitu jelas seiring setiap langkah yang diambilnya dan tanpa ia sadari setitik amarah mulai berkobar di dalam dirinya.

"Ada apa?" Ia mengulangi kembali pertanyaannya sekalipun si gadis terlihat gugup. "Siapa yang membuatmu seperti ini?"

"T-Tidak ada apa-apa, Todoroki," jawab gadis itu sembari mengangkat kedua tangannya. "Sungguh!"

Ia tidak percaya. Sama sekali tidak bisa percaya. Gadis ini bukan penipu ulung. Setiap kebohongannya terdengar begitu jelas setiap kali ia bicara. Hanya dengan melihatnya, Shouto tahu bahwa sesuatu telah terjadi, sesuatu yang melukainya, sesuatu yang membuatnya bersedih. Dan Shouto tak bisa memaafkan siapapun yang membuat gadis itu menjadi seperti ini.

Dugaan pertamanya melayang pada sang pemilik kafe tempat gadis itu bekerja. Pemilik kafe bertubuh kekar dan mantan aktor itu memang tidak pernah kasar terhadap gadis ini. Tapi tetap saja, Shouto harus menanyakannya. Ia pun menggerakkan kepalanya pada pintu di belakang si gadis yang mengarah ke kafe dan berkata, "Apa Toshinari-san memarahimu?"

"H-hah? T-tidak!" Gadis itu berkata dengan terkejut. "Tidak terjadi apa pun! Sungguh!"

"Kalau begitu orang lain," Shouto melanjutkan interograsinya. "Siapa? Rekan kerjamu yang lain? Seniormu? Siapa?"

Pertanyaan Shouto yang bernada mendesak membuat gadis itu panik. Bukannya memberikan sebuah nama, gadis itu malah menggeleng semakin kuat dan kakinya mulai melangkah mundur, menjauhi dirinya. "T-tidak, bukan. Sungguh tidak ada apa-apa, Todoroki-kun! Sungguh!"

Bohong. Kebohongan yang jelas sekali. Namun reaksi gadis itu membuat Shouto sadar, ia tidak bisa memaksa gadis itu. Ia tidak bisa membuat gadis itu membuka mulutnya dengan cara ini. Saat ini, ia bukanlah siapa-siapa. Gadis itu menganggapnya sebagai teman, sebagai orang asing, sebagai orang yang belum layak untuk diajak berbagi rahasia.

Menyadari hal itu, Shouto pun menelan ludah. Ia menghela napas melihat sikap gadis itu dan berkebalikan dengan rasa ingin tahunya, pemuda itu akhirnya memasang topeng tanpa ekspresi di wajahnya lalu berkata, "Oh begitu!"

Tanpa adanya desakan, gadis itu pun langsung menunjukkan kelegaan yang jelas terpancar dari wajahnya. Gadis itu memang tidak dapat menyembunyikan apa pun, bahkan perasaannya sendiri. Shouto bisa membacanya semudah membaca telapak tangannya.

"I-iya," jawab si gadis dengan bahu yang mulai sedikit rileks. Ia kembali menyunggingkan senyum yang biasa ia tunjukkan bila bertemu dengannya. Dengan senyum itu, si gadis berkata, "Todoroki-kun baru pulang kerja?"

Menganggukkan kepala, Shouto pun menjawab. "Ya, sudah jam enam soalnya."

"O-oh, benar," ucap si gadis sembari melirik pada ponsel yang dipegangnya. Untuk sesaat, kesedihan kembali mampir dan tak luput dari pandangan Shouto. Namun si gadis mengerjapkan matanya, mengganti raut wajahnya dengan keceriaan semu. "Todoroki-kun selalu pulang jam segini? Apa kantormu tidak pernah lembur?"

"Khusus untuk yang lain mungkin," jawab pemuda itu sambil mengangkat bahu. "Kasusku berbeda."

Gadis itu mengangkat alisnya. "B-begitu, ya?"

Raut keceriaan gadis itu lenyap dan digantikan dengan kesedihan, sama seperti sebelumnya. Sepertinya pembicaraan mengenai jam pulang kerja tidak membuat suasana hati si gadis menjadi lebih baik. Mungkin ia harus menggantinya dengan topik lain.

"Kau belum pulang, Midoriya?" Ia kembali bertanya sambil menatap gadis itu.

Menggerakkan kepala ke arahnya, gadis berambut hijau daun musim semi itu menatapnya dan berkata, "Belum, shift-ku belum berakhir. Aku sedang mengambil istirahat sebentar."

Menoleh ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya, Shouto kembali berkata, "Jam berapa shiftmu selesai biasanya?"

"Sekitar pukul delapan atau lebih," jawab gadis itu, kelihatan seperti berusaha mengingat-ngingat. Ia menatap pemuda dengan warna rambut berbeda yang tengah merengutkan dahi mendengar jawabannya dan gadis itu pun kembali tersenyum. Sepertinya ia mengerti arti kerutan di dahi si pemuda. "Jangan samakan aku denganmu, Todoroki-kun! Kau bekerja dari pukul delapan hingga enam, sementara aku hanya bekerja dari jam dua belas hingga pukul delapan."

"Pukul delapan," gumam Shouto, mengulangi ucapan gadis mungil di hadapannya. "Masih dua jam lagi."

Sekali ini si gadis mengangguk dan ia berkata, "Uh-huh, masih dua jam lagi, tapi biasanya tidak terasa saat aku bekerja."

Shouto kembali bergumam sedikit mendengar ucapan Midoriya. "Apa biasanya kau selalu pulang selarut itu?"

"Eh, tidak, tidak terlalu larut," jawab Midoriya sambil menggerakkan tangannya. "Masih banyak orang pada jam seperti itu. Rekanku yang lain malah sampai pukul sepuluh."

"Di mana rumahmu?"

"Ah, aku tinggal sedikit jauh dari sini," ucap gadis itu. "T-tapi tidak masalah, stasiunnya dekat dari rumahku. Walaupun harus memakan satu jam perjalanan, tapi tidak akan terasa bila…"

"Berarti tiba di rumah pukul sembilan?"

"Eh, iya," lanjut gadis itu sembari menganggukkan kepala, tak tampak tersinggung karena ucapannya dipotong oleh Todoroki. "T-tapi itu tidak terlalu malam, masih banyak yang berkeliaran di jalan dan lampu-lampu masih terang. Karenanya…"

"Kau tidak mengambil apartemen di dekat sini?" Todoroki kembali bertanya. "Kurasa di dekat sini banyak apartemen yang dapat disewakan dengan harga murah."

Kali ini raut wajah gadis itu menggelap sedikit dan ia berkata, "Tidak. Aku… lebih suka di rumah."

"Hm?"

"A-ah, pokoknya begitu," kata si gadis sembari memaksakan kembali raut wajah cerianya. "Todoroki-kun sendiri bagaimana? Apa Todoroki-kun selalu pulang jam segini? Di mana rumahmu?"

"Dekat," jawabnya, "hanya lima belas menit bila berjalan kaki."

"Wah, dekat sekali," ucap gadis itu dengan takjub. "Bila seperti itu, Todoroki-kun bisa pulang dulu untuk tidur siang di rumah juga tidak perlu cemas terlambat ke kantor. Menyenangkan sekali, Todoroki-kun."

"Tidak, tidak semenyenangkan itu…"

"Eh?" Midoriya mengerjapkan matanya mendengar komentar pemuda itu. Ia hendak mengucapkan sesuatu, namun tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Mungkin karena itulah ia memilih untuk menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah, menunggu seseorang membuka percakapan untuknya.

"Ngomong-ngomong," ucap Shouto akhirnya ketika Midoriya tak lagi berkata-kata, "Beberapa hari yang lalu aku melihat Bakugou di kafe. Apa tempat kerjanya di dekat sini?"

Sepertinya kali ini pembicaraannya tepat pada sasaran. Dari sudut matanya, Shouto dapat melihat bahwa gadis itu gelisah walaupun ia memaksakan diri untuk berkata, "K-Kacchan... bekerja di tempat yang jauh."

"Oh?" Shouto mengangkat alisnya, berpura-pura terkejut mendengar informasi itu. Padahal jauh di dalam benaknya, ia sudah menyimpan informasi itu rapat-rapat sejak pertama kali melihat pemuda itu berkunjung di kafe. "Kupikir tempat kerjanya dekat makanya ia dapat berkunjung. Di mana ia bekerja?"

"D-Dua jam perjalanan jauhnya dari kota ini," jawab gadis itu dengan tergagap.

"Dua jam?" Kali ini Shouto tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. "Apa dia sedang ada meeting atau apa di tempat ini waktu itu?"

"Tidak, dia… hanya ingin menemuiku," jawab gadis itu sambil menundukkan kepala. "Terkadang… ia sering melakukan hal seperti itu, walaupun belakangan ini ia sudah terlalu sibuk untuk melakukannya."

"Terlalu sibuk?"

Gadis itu kembali diam, membuat Shouto khawatir bahwa dirinya mungkin terlalu memaksa gadis itu untuk bicara. Namun kekhawatirannya langsung lenyap ketika melihat gadis itu membuka mulutnya dan berkata, "Dia… dipromosikan untuk menjadi manajer. P-pekerjaannya bertambah sibuk belakangan ini."

Shouto mengangguk pelan mendengar informasi yang diucapkan Midoriya. Menjadi seorang manajer di usia yang belum mencapai dua puluh lima tahun memang sesuatu yang luar biasa. Terlebih setahunya pemuda itu bekerja tanpa mendapatkan koneksi dari siapapun, berbeda dengan dirinya yang memang sudah menempati jabatan tinggi sejak ia masuk ke perusahaan ayahnya.

"Hebat sekali," pujinya jujur. "Bakugou pasti bekerja keras."

"Sangat… keras," jawab gadis itu sambil menundukkan kepala. "Ia… ia baru saja sembuh dari sakit, tapi… ia sudah bekerja lagi. Aku mencoba melarangnya tapi… ia tidak mendengarkan."

"Dia… pasti punya banyak tanggung jawab," ucap Shouto walaupun nadanya terdengar tidak yakin. Ia sendiri tidak ingin membela pemuda yang dianggapnya sebagai rival itu, tapi gadis ini mungkin takkan suka mendengarnya menjelek-jelekkan pemuda itu. "Jarang sekali ada orang yang dipromosikan sebagai Manajer walaupun usianya di bawah dua puluh lima tahun. Apakah perusahaannya perusahaan besar?"

Midoriya terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. "Perusahaan manufaktur internasional terbesar di negara ini."

Sekali lagi Shouto mengangguk. Ia tahu perusahaan yang dimaksud oleh gadis itu. Walaupun berbeda bidangnya, perusahaan manufaktur tempat Bakugou bekerja merupakan perusahaan besar yang dapat dibandingkan dengan perusahaannya. Setahunya, tempat itu memiliki standar pekerja yang ketat dan tak mudah mencapai jenjang karir di sana. Ia salut mendengar pemuda arogan itu telah mendapatkan tempatnya.

"Temanmu benar-benar hebat," puji Shouto. Namun teringat perkataan Midoriya sebelumnya, ia pun kembali berkata, "Pekerjaan di sana memang sulit, makanya tak heran bila Bakugou sekalipun jatuh sakit karenanya."

"Ya," jawab gadis itu sambil menundukkan kepala. "Ya…"

"Apa…ini yang membuatmu sedih?" Shouto berkata hati-hati, takut menyinggungnya.

Seperti sebelumnya, Midoriya tak langsung menjawab. Ia lebih banyak diam dan Shouto harus menunggu beberapa saat untuk mendapatkan jawabannya. Ketika gadis itu mengangguk dan membuka mata, barulah Shouto dapat bernapas lega.

"Kacchan bilang… itu bukan urusanku," ucap gadis itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku… tak seharusnya mencampuri urusan pekerjaannya. Aku… seharusnya diam saja dan bekerja di kafe. Tidak perlu memusingkan soal kesehatannya."

Bila sebelumnya Midoriya yang bergeming, kali ini giliran Shouto. Pemuda itu menatap gadis di hadapannya cukup lama, sebelum akhirnya ia berkata, "Dia… berkata seperti itu?"

Mengangguk, Midoriya melanjutkan ceritanya. "Kacchan bilang… pekerjaan ini penting untuk masa depan kami. Ia ingin memberikanku hidup yang lebih baik, yang membuatku santai setiap hari dan hanya mengurus anak-anaknya. Makanya… makanya ia terus berusaha mencari uang…"

Shouto terdiam. Kata 'anak-anak', 'hidup yang lebih baik', 'masa depan', sepertinya hubungan keduanya sudah lebih dari yang dapat dibayangkan olehnya. Sepertinya hubungan mereka, bukan lagi sesuatu yang dapat ia masuki dengan mudah.

"Tapi… untuk apa rumah," ucap gadis itu dengan bibir bergetar menahan tangis, "bila Kacchan harus bekerja sekalipun ia sakit. Untuk apa santai setiap hari bila sekarang calon ayah anak-anakku bekerja seolah hendak mempertaruhkan nyawanya. Untuk apa?"

"Midoriya…"

"Aku tidak meminta rumah yang mewah, juga tidak meminta kehidupan yang santai," lanjut gadis itu dengan airmata yang jatuh ke pelupuk matanya, "tapi bagi Kacchan, sepertinya aku hanya gadis bodoh yang tak bisa memikirkan masa depan."

Tanpa suara, Shouto menyentuhkan satu tangannya ke pundak gadis itu. Perkataannya membuat Shouto teringat akan kehidupannya sendiri sehingga ia berkata, "Tidak. Kau benar, Midoriya. Semua itu tak ada gunanya. Rumah yang mewah, hidup yang santai tidak ada gunanya. Itu tidak menjamin anak-anakmu akan hidup bahagia."

"Aku sudah mencoba mengatakannya," ujar gadis itu sembari menundukkan kepala, tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang kini telah berurai airmata. "Tapi Kacchan meneriakiku. Dia mengusirku. Dia… marah."

Salah satu tangan Shouto mengepal erat dan amarah yang sebelumnya hilang kini kembali muncul ke permukaan. Giginya dirapatkan sementara matanya terpejam ketika membayangkan sosok pemuda yang tengah mereka bicarakan.

Marah? Bisa-bisanya pemuda itu marah pada seorang gadis yang tak menuntut apa-apa darinya. Bisa-bisanya pemuda itu kesal pada seorang gadis yang memerhatikan kesehatannya. Bisa-bisanya pemuda itu meneriaki gadis yang suaranya tak lebih dari cicitan pelan dan lembut. Betapa Shouto tidak bisa mengerti kenapa pemuda itu sanggup melakukan hal seperti itu dan lebih tidak mengerti lagi karena gadis ini masih menangisinya.

Seharusnya gadis itu meninggalkan pemuda brengsek itu. Pemuda itu tak dapat menghargainya, pemuda itu tak mengerti dirinya seperti Shouto. Kenapa justru pemuda itu yang dipilihnya dan bukan dirinya? Shouto tidak mengerti.

Ingin rasanya Shouto berteriak dan meminta Midoriya untuk memutuskan saja pemuda semacam itu. Tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa melakukannya. Bila ia bertindak dengan mengikuti emosi, Midoriya justru akan menjauh darinya. Ia hanya dapat menyimpan emosinya rapat-rapat, memejamkan matanya agar pandangan kebencian yang tertuju pada Bakugou Katsuki tidak terlihat oleh gadis itu dan sesekali memberikan kata-kata untuk menyemangati gadis itu.

"Tidak apa," ucap Shouto walau terdengar seperti kebohongan di bibirnya, "suatu saat Bakugou akan mengerti."- Tidak. Ia tidak berharap pemuda itu mengerti. Ia berharap pemuda itu menjadi brengsek, lebih brengsek lagi dari sekarang, sehingga akhirnya Midoriya akan meninggalkannya.

"A-aku tahu…"

'Jangan, kau tidak boleh tahu, kau tidak boleh mengerti!' Shouto menjerit dalam benaknya. Sementara bibirnya menunjukkan senyum dan ia berkata, "Bersabarlah padanya!"

Gadis itu mengangguk sementara sorot mata Shouto memandangnya lekat tanpa sekalipun mengalihkan perhatiannya. Berlawanan dengan ucapannya, Shouto justru tidak ingin gadis itu bersabar lagi. Shouto lebih ingin gadis itu marah dan muak pada pemuda itu.

"A-akan kucoba," jawab gadis itu sambil menganggukkan kepala, sama sekali tidak menyadari maksud Shouto yang sebenarnya. "Akan kucoba berbicara lagi dengannya."

Sekali lagi batin Shouto meneriakkan hal yang berbeda, sementara dengan seluruh pengendalian dirinya, pemuda dengan bekas luka di wajahnya itu berkata, "Bagus!"

Walaupun tak bergerak sesuai harapannya, semua kebohongannya membuat gadis itu menghapus airmatanya. Sembari mengangkat kepala, gadis itu kembali menunjukkan senyum manisnya dan ia berkata, "Terima kasih, Todoroki-kun."

Menggerakkan kepalanya sedikit, Todoroki kembali membalas senyum gadis itu dan ia berkata, "Senang mendengarnya."

Gadis itu mengangguk dan kepala gadis itu bergerak sedikit gelisah ketika melirik jam di ponselnya. Ia menatap Shouto dengan panik sebelum berkata, "Celaka, lebih sepuluh menit dari seharusnya. Seniorku pasti akan mengoceh."

Mendengar gadis itu hendak mendapat kesulitan, Shouto pun otomatis berkata, "Apa perlu aku masuk untuk menjelaskan?"

Ucapannya sontak membuat gadis itu menggerakkan tangan dan dengan canggung berkata, "T-tidak perlu. Kenapa Todoroki-kun yang menjelaskan? Ini kesalahanku."

"Tapi…"

"Tidak apa-apa," jawab gadis itu sambil menunjukkan kembali senyumannya. Kemudian gadis itu membuka pintu belakang dan kembali berkata, "Terima kasih sekali lagi, Todoroki-kun. Kapan-kapan akan kutraktir untuk hari ini."

Shouto ingin berkata bahwa bukan itu yang ia inginkan. Ia ingin berkata bahwa ia hanya ingin waktu gadis itu. Ia hanya ingin mengobrol sekalipun ia tahu bahwa kebohongannya akan menyakitinya sendiri. Tapi sayangnya, ia hanya dapat mengangguk dan berpura-pura menganggapnya sebagai gagasan bagus. "Akan kutunggu, kalau begitu."

Setidaknya sekali lagi sebuah cengiran tersungging di bibir gadis itu dan ia berkata, "Sampai jumpa!"

Tak banyak bicara, gadis itu pun masuk dan menutup pintu. Ia masih memandangi gadis itu sebelum menyandarkan salah satu bahunya pada dinding tembok. Pandangannya masih tertuju pada pintu yang dimasuki gadis itu sementara bibirnya berujar, "Menikah. Mereka akan segera menikah."

Menggelengkan kepala, ia pun berbalik, dan mulai berjalan. Namun sebelum meninggalkan gang itu, Shouto kembali berbalik, menatap ke arah pintu tempat Izuku menghilang. Kemudian ia pun berkata, "Mungkin… aku masih punya sedikit waktu."

Waktu. Dulu ia memohon sedikit waktu. Memohon agar gadis itu tidak segera menikah dengan pemuda brengsek itu. Ia memohon agar ia diberikan waktu yang cukup untuk menyusup masuk di antara mereka, untuk merebut gadis itu. Dan langit pun mengabulkan permohonannya.

Sekarang, ia tidak lagi membutuhkan waktu, ia punya banyak waktu. Ia sudah memiliki gadis itu dan mereka akan segera menikah. Tidak ada lagi yang dapat menghalangi mereka.

Kecuali, bila pada akhirnya langit memutuskan untuk mengabulkan doa orang lain yang serupa dengan doanya di masa lalu.

.

.

.

Day 15

Shizuoka, Japan

"Katsuki!"

Suara teriakan yang belakangan ini terdengar familiar membuat pemuda berambut ash blonde itu menurunkan majalah yang dipegangnya dan menatap jengkel. Dari balik sofa tempatnya berbaring, pemuda itu menunjukkan wajah kesalnya. Namun ekspresi kekesalannya langsung berganti ketika melihat sosok berambut hijau yang menyertai bersama suara tersebut.

"Apa lagi wanita sialan?" Pemuda itu berkata sambil menatap wanita dengan warna rambut sama sepertinya terlebih dahulu. "Apa lagi yang kau butuhkan? Sikat gigi? Sikat wc? Sikat pakaian? Kau sudah membuatku bolak balik membeli tiga sikat, sekarang apa lagi yang kau inginkan?"

Di samping wanita itu, gadis berambut hijau yang menyertai terpaksa menutup mulutnya untuk menahan semburan tawa yang nyaris sulit dihentikan. Walaupun begitu, kedua 'tsuki' yang tengah beradu mulut sudah lebih dulu menyadarinya sehingga pandangan keduanya tertuju padanya. Tak punya pilihan, si gadis pun berdehem-dehem dan berkata, "Tiga sikat itu sudah kuberikan pada Tsuyu-san, dan dipergunakan dengan baik, Katsuki. Jangan khawatir!"

Mendengar itu, Katsuki hanya mendecakkan lidah dan beranjak bangun dari sofa yang ditempatinya. "Kupikir wanita sialan ini hanya mengada-ngada."

Wanita yang dimaksud hanya mengangkat satu alisnya mendengar tuduhan putra tunggalnya itu. Tanpa rasa takut atau bersalah sedikit pun, wanita itu berkata, "Aku memang hanya mengada-ada. Habisnya aku tidak suka putraku hanya berleha-leha sepanjang hari di sofa seperti seorang pengangguran."

Manik semerah delima Kacchan langsung menatapnya dengan mengintimidasi dan ia berkata, "Apa kau bilang wanita sialan?"

"Seram," ujar wanita itu sambil bersembunyi di balik gadis berambut hijau yang menjadi tamengnya, "Izu-chan, tolong aku! Katsuki menyeramkan sekali."

Tertawa, gadis yang dimintai tolong sebagai tameng itu berkata, "Katsuki, Mama Mitsuki hanya bercanda."

Mendengar gadis itu bicara, manik merah yang sebelumnya mengintimidasi pun melembut. Walau masih meninggalkan seraut kejengkelan pada sang Ibu, ekspresi pemuda itu perlahan-lahan berubah saat menghadapi si gadis. Dengan suara yang lebih pelan, ia berkata, "Kau tidak seharusnya membela wanita sialan ini, Izuku."

"Umh…"

"A-aku tidak bilang itu salah," Katsuki kembali berkata dengan cepat ketika melihat gadis itu tertunduk dan merasa telah berbuat kesalahan. Tangannya buru-buru menyapu rambut hijau si gadis dan berkata, "Hanya wanita ini memang… memang…"

Di belakang punggung si gadis, wanita berambut ash blonde yang dimaksud malah mengangguk-angguk dengan sorot mata menghina seolah menikmati kesulitan putranya. Melihat itu, amarah putranya langsung timbul dan ia pun mengulurkan tangan pada wanita itu berusaha untuk mendapatkannya. Namun segesit putranya, wanita itu mengelak sehingga tangan Katsuki hanya meraih angin belaka dan membuatnya mengumpat tertahan.

Tertawa karena melihat putranya tak berhasil memberinya pelajaran membuat gadis di sampingnya menoleh padanya. Lalu dengan mengerutkan dahi, gadis itu berkata, "Mama Mitsuki, jangan goda Katsuki lagi!"

"Yah, tapi…"

Dari balik punggung gadis itu, kini giliran putranya yang memberinya tatapan mengancam dan sorot mata yang mengatakan akan membuat perhitungan dengannya soal ini. Tapi Mitsuki hanya merengut menatapnya dan sembari mengangkat kedua tangannya, ia berkata, "Baik, baik, aku mengerti, Izu-chan. Aku mengerti. Aku hanya bosan. Katsuki mengurungku di rumah seharian. Aku ingin keluar. Mungkin kalau aku keluar aku akan berhenti menggoda Katsuki."

"Apa yang kau ocehkan, wanita sialan?"

"Memangnya kau tidak bosan, Izu-chan?" Wanita itu kembali berkata lagi sambil merangkul Izuku. "Kau tidak mau jalan-jalan? Tidak mau keluar? Bosan 'kan di rumah terus seharian? Kau tentunya tidak mau jadi pengangguran seperti putraku yang hanya bisa tidur-tiduran di sofa 'kan?"

"Mm, aku…"

"Dasar wanita sialan ini," ujar Katsuki sembari mendekat lagi padanya, "lagi-lagi berkata seenaknya!"

"Aku ingin… keluar," ucap gadis itu terbata-bata, "t-tapi, kalau itu tidak diperbolehkan…"

"Oh, tentu saja boleh!" Mitsuki berkata cepat mewakili putranya. "Ayo! Aku melihat di dekat sini ada supermarket. Bagaimana kalau kita belanja bahan untuk makan malam, Izu-chan?"

"Tapi… bahan makan malam sudah dibeli oleh Tsuyu-san," jawab Izuku sambil menggerakkan kepala bingung. "Kurasa kita tidak perlu belanja."

"Tsuyu-san pulang karena ibunya sakit," Mitsuki lagi-lagi menjawab menggantikan putranya. "Bagaimana ini? Kalau kita tidak makan malam, kita akan mati kelaparan malam ini."

"Umh…"

Manik hijau zamrud gadis itu menatap takut-takut pada suaminya. Ia menunggu sang suami yang masih menatap ibunya dengan jengkel. Ketika melihat suaminya menghela napas dan menyentuhkan tangan pada rambutnya, ia pun mengangkat kepala. Kemudian terdengar suara suaminya berkata, "Baiklah. Hanya untuk belanja makan malam saja."

Di sampingnya, wanita yang merupakan sumber masalah itu tersenyum lebar padanya. Sambil merangkul putranya yang jelas enggan untuk dipeluk, ia pun berkata, "Begitu dong, Katsuki! Jangan mengunci ibu dan istrimu di dalam rumah saja."

"Aku tidak menguncimu, wanita sialan." Katsuki balas berkata sambil menyingkirkan wajah ibunya. "Kau bebas keluar dan pergi dari rumah ini. Dengan senang hati kupersilakan."

"Izu-chan!"

Sekali lagi Katsuki menggeram sebelum berbalik untuk mengambil kunci mobilnya. Beberapa saat lamanya pemuda itu meninggalkan ruang keluarga sebelum kembali muncul dengan sebuah kunci di tangannya. Sebuah sunglass hitam juga turut menyertai penampilannya sehingga ibunya mengomentari dan mengatainya sebagai orang buta. Namun yang bersangkutan hanya menjawab bahwa ia membutuhkannya karena sinar mentari sore menyilaukan matanya.

Mengikuti Katsuki, ketiganya beranjak menuju ke halaman tempat mobil pemuda itu diparkir. Ia mendekat dan membuka pintu mobilnya sendiri sebelum ibunya kembali berteriak.

"Katsuki! Di mana tata kramamu, astaga?" Ibunya berkata membuatnya mengerutkan dahi saking bingungnya. "Mentang-mentang istrimu kehilangan ingatan, lantas kau tinggalkan semua tata krama yang kuajarkan? Sudah kubilang 'kan untuk membukakan pintu mobil untuk istrimu lebih dulu? Apa kau lupa?"

Manik merah Katsuki menatapnya seolah hendak menelan wanita itu bulat-bulat. Namun melihat balasan yang sama di manik ibunya, membuat Katsuki menyerah kali ini dan mengikuti perintah ibunya tanpa banyak bertanya.

"T-terima kasih, Katsuki," ucap Izuku ketika melihat Katsuki membukakan pintu mobil untuknya. "A-aku bisa menutupnya sendiri."

Namun yang dikatakan Katsuki hanya, "Awas tanganmu," sebelum menutup pintu mobil dan kembali ke kursi pengemudi. Ia tidak mau repot-repot membukakan pintu untuk sang Ibu, yang memang sepertinya tidak membutuhkannya. Ketika ia sudah mengenakan seat beltnya, mesin dijalankan dan ia mengemudikan mobilnya di jalan raya.

"Pelan-pelan," balas ibunya ketika melihatnya sudah menginjak gas dan mencapai angka di atas enam puluh. "Aku tidak suka kau mengemudi bagai seorang pembalap."

"Cerewet," balas Katsuki yang mulai menurunkan kecepatannya. "Tutup mulut atau kuturunkan kau di jalan!"

Yang bersangkutan, tentu saja tak dapat menutup mulutnya hingga membuat Katsuki jengkel. Walaupun begitu, setiap pertengkaran kecil mereka mendapat hadiah berupa tawa kecil gadis yang duduk di samping Katsuki. Mendengar itu, Mitsuki dapat bernapas lega, setidaknya ancaman Katsuki takkan berlaku selama gadis itu tertawa mendengar pertengkaran mereka.

Setelah beberapa ronde pertengkaran sengit yang terjadi di mobil, akhirnya ketiganya tiba di supermarket. Mereka sudah akan masuk dan mengambil troli ketika tiba-tiba wanita sumber masalah itu memegangi perutnya. Dengan mengerutkan dahi, ketiganya berhenti sementara sang wanita berkata, "Celaka! Aku sakit perut!"

Katsuki tampak tidak tertarik, sementara Izuku jelas-jelas khawatir. "Mama Mitsuki baik-baik saja? Mau pulang?"

"Tidak, jangan! Sudah jauh-jauh ke sini!" Wanita itu berkata sambil memegangi perutnya. "Sebaiknya kucari toilet terdekat saja."

"Mau kutemani?"

"Tidak perlu!" Wanita itu menjawab dan segera bergegas, "Kalian temukan saja bahan makanannya. Ingat! Aku mau sukiyaki untuk malam ini."

Sebelum Izuku dapat menghentikannya, wanita itu sudah menghilang meninggalkan Katsuki, Izuku dan sebuah troli belanjaan. Izuku menoleh ke arah suaminya sebentar sebelum akhirnya berkata, "Umm, aku tidak tahu bahan untuk membuat sukiyaki. Apa Katsuki tahu?"

Menggelengkan kepala, Katsuki menjawab sembari mendorong troli belanjaan, "Tidak. Masukkan saja apa yang kelihatannya bisa dimakan."

"E-eh?"

"Ayo, Izuku!" Pemuda itu berkata sambil menoleh ke arah gadis itu. "Kita pilih saja bahan apa yang ada sebelum ibuku datang."

Walau terlihat tidak yakin, gadis berambut hijau yang mengenakan pakaian casual berupa kemeja putih dan celana pendek selutut itu mengikuti suaminya. Ia menoleh ke kanan dan kiri, mengamati bahan-bahan yang mungkin bisa dimanfaatkan. Beberapa kali ia berhenti namun di mana pun ia berada, suaminya selalu ada di sampingnya tak meninggalkan sisinya. Walaupun harus menguap atau terlihat bosan, paling tidak suaminya tahu apa yang harus dilakukan.

"Tahu," ucap Izuku sambil mengambil bahan makanan tersebut. "Sayuran juga kurasa."

Katsuki membiarkan gadis di sampingnya memilih bahan makanan. Dari sudut matanya, ia mengamati gadis yang tengah membandingkan telur di tangan kiri dengan di tangan kanannya. Melihat sikapnya, membuat senyum tipis terukir di bibir pemuda itu. Siapa yang sangka, kedamaian kecil seperti ini bisa membuatnya begitu bahagia. Padahal dulu, ia selalu merengut setiap kali diminta membeli bahan makanan bersama gadis itu.

"Katsuki, menurutmu telur yang mana yang sebaiknya kupakai?"

Pertanyaan si gadis membuat senyumnya lenyap dan dengan alis terangkat pemuda itu berkata, "Keduanya juga tidak masalah."

"Tapi," ucap gadis itu sambil mengangkat telur di tangan kiri, "yang ini lebih mahal sedikit, walaupun sepertinya bagus," ia juga mengangkat tangan kanannya, "tapi yang ini pun kualitasnya tak kalah bagus, walaupun ada yang cacat."

"Yang lebih mahal saja kalau begitu," jawab Katsuki singkat.

"Tapi…," gadis itu berkata sambil mengangkat telur yang sedikit cacat, "yang ini…"

"Kalau begitu masukkan saja yang ini," ucap Katsuki sambil menunjuk telur yang berada di tangan kanan. "Tak perlu dipusingkan, Izuku. Yang mana pun tak masalah buatku."

"Begitu?"

Mengangguk, Katsuki kembali berkata, "Daripada memusingkan soal tahu, lebih baik kita memusingkan soal daging. Sepertinya hari ini daging sedang diskon besar-besaran."

"Apa… itu masalah?"

"Masalah besar," jawab Katsuki sembari menarik trolinya menjauh dari bagian telur. Ia menyesuaikan langkah kakinya dengan langkah kaki Izuku dan begitu mereka sudah tiba di bagian daging, pemuda itu pun berhenti. Ia menggerakkan kepalanya ke arah kerumunan di depan seraya berkata, "Lihat itu! Kerumunannya sudah sampai seperti itu."

Melihat kerumunan yang dipenuhi ibu-ibu membuat Izuku menelan ludah. Beberapa ibu-ibu saling dorong, saling rebut, berteriak dengan nyaring, untuk mendapatkan sepotong daging. Bisa dilihat, pertempuran yang sangat sengit tengah terjadi di supermarket tersebut.

Mendecak kesal, Katsuki berkata, "Wanita sialan itu pasti sudah tahu ini. Makanya ia pura-pura sakit perut."

"E-eh…"

"Ayo, ke tempat lain saja.."

"T-tapi, kita membutuhkan daging," kata Izuku sambil menatap kerumunan yang dipenuhi ibu-ibu itu. "Nanti Mama Mitsuki tidak bisa memakan bagiannya."

"Aku tidak peduli." Katsuki berkata cepat. "Siapa yang sudi bergabung dengan kerumunan itu?"

Izuku masih mengerutkan dahi dan menatap kerumunan ibu-ibu yang berjuang memperebutkan daging. Ia menatap arena cukup lama sebelum akhirnya dengan mantap berkata, "Aku… akan berusaha."

"Hah?"

"Akan kucoba," gadis itu berkata sambil maju selangkah. "Mungkin aku bisa."

Menatap gadis yang tengah membulatkan tekadnya itu membuat Katsuki menghela napas. Ia yang lebih tahu dari siapapun bahwa bila sudah mantap, gadis itu takkan bisa dicegah oleh siapapun. Ia juga yang lebih tahu dari siapapun bahwa gadis ini lebih lemah dari serentetan ibu-ibu yang menjadi lawannya dan ia tidak mau mengambil risiko. Ia tak mau gadis ini terluka atau terbentur dan akhirnya membahayakan kepalanya yang sekarang ini menjadi sumber masalah. Ia tak mau gadis ini terlalu cepat mengingat karena harus bertempur melawan ibu-ibu yang memperebutkan daging.

Tak punya pilihan, Katsuki akhinya menghela napas. Direntangkannya satu tangannya menghalangi jalan gadis itu dan meskipun enggan, ia berkata, "Kau jaga saja trolinya dan jangan pergi ke manapun."

"Tapi…"

Tanpa mendengarkan protesnya, Katsuki menggerakkan kepala dan merenggangkan jemarinya sementara kakinya melangkah maju. Ia tak mau didebat lagi soal ini sehingga ia memilih untuk mendekati perebutan diskon daging di supermarket yang tengah berlangsung sengit itu. Ditariknya napas kuat-kuat sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kerumunan dan hanyut di dalamnya.

Sementara itu, Izuku yang mengamatinya di dekat troli berisi belanjaan hanya bisa menatap cemas ketika melihat pemuda itu sudah menghilang dari hadapannya. Ia sedikit kesulitan menemukan pemuda itu di antara kerumunan ibu-ibu yang tengah berebut daging diskonan. Hanya saja, ketika ia melihat sekelebat warna ash blonde di antaranya, ia tahu bahwa pemuda itu baik-baik saja. Setidaknya, pemuda itu terlihat sanggup mengintimidasi siapapun yang berani merintangi jalannya untuk memperebutkan daging makan malam mereka.

Selalu dan selalu saja begitu. Bakugou Katsuki selalu memanjakannya, selalu melindungnya selalu mengutamakannya lebih dari apapun. Hanya saja, sekalipun tahu pemuda itu memikirkannya, entah kenapa Izuku merasa sesak. Pemuda itu selalu mengalah lebih banyak dibanding yang ia inginkan. Pemuda itu lebih sering tidak membantah dan mendengarkan permintaannya tanpa banyak berdebat dan terkadang kebaikan pemuda itu justru membuatnya sesak. Ia merasa, seperti orang asing bagi pemuda itu.

Seharusnya tidak seperti ini. Ia ingin berdebat dengan pemuda itu, ingin beradu mulut sebelum pemuda itu mengalah. Ia ingin seperti sang ibu mertua yang sepertinya dapat menangani temperamen anaknya dengan baik. Ia sungguh iri pada wanita itu. Di mata Izuku, keduanya terlihat begitu akrab, mereka terlihat begitu dekat satu sama lain dan ia ingin menjadi bagian dari mereka. Bukan sebagai orang yang hanya bisa menertawakan ketika keduanya mulai beradu mulut.

Seharusnya Katsuki tidak seperti ini. Di dalam ingatannya, Katsuki tidak mudah mengalah seperti ini. Dulu pemuda itu terbiasa berbicara dengannya seperti caranya berbicara dengan sang Ibu. Mendecak kesal, merengut dan marah, tapi bukan seperti ini. Entah sejak kapan pemuda itu bersikap penuh pengendalian diri terhadapnya. Apa sebenarnya yang terjadi sebelum ia kehilangan ingatan?

Ketika menyebut-nyebut soal ingatan, kepalanya kembali berdenyut menyakitkan membuatnya harus berpegang pada troli untuk menjaga keseimbangan. Ia mencengkeram gagang troli dengan erat hingga tidak menyadari bahwa pegangannya membuat troli itu berguncang dan menjatuhkan beberapa apel yang ia beli sebelumnya.

Terkejut, ia pun melepaskan pegangannya pada troli dan bergerak mengikuti apel yang terus menggelinding itu. Sembari memegangi kepalanya, ia memusatkan pandangannya pada apel tersebut. Untunglah ia tak harus mengejarnya jauh karena tiba-tiba saja apel itu menubruk kaki seseorang dan menghentikan lajunya.

Mengambil kesempatan itu, dengan tergesa-gesa Izuku mendekat dan membungkuk untuk mengambil apel yang ada di dekat kaki orang itu. Namun sebelum ia melakukannya, orang di hadapannya lebih dulu membungkukkan badan dan menyerahkan apel itu padanya. "Silakan!"

"O-oh," ucap Izuku sambil menerima apel yang telah diambilkan itu. Ia pun menundukkan kepala dan mengangkat kepalanya sedikit untuk mengucapkan terima kasih. "Terima…"

Ucapannya berhenti di tempat, begitu juga dengan orang yang berdiri di hadapannya. Sosok berambut pirang dengan postur tubuh kurus dan menakutkan itu juga terdiam ketika melihatnya. Mulut sosok itu ternganga dan ia hendak mengucapkan sesuatu namun tak dapat dikatakannya.

Hal yang sama pun terjadi pada Izuku. Melihat sosok ini, melihat orang ini membuat sesuatu dalam ingatannya kembali melonjak. Sepertinya ia tahu orang ini, sepertinya ia kenal sosok kurus kering dengan pipi yang tirus hingga ke tulang dan bola mata gelap di hadapannya. Sosok itu terlihat familiar walaupun ia tak dapat mengingatnya.

Sebelum ia dapat bertanya, gadis itu sudah memegangi kepalanya terlebih dulu. Rasa nyeri yang lebih besar menyerangnya hingga membuat pandangannya menggelap. Ia memegangi kepalanya dan nyaris saja terjatuh jika seseorang tidak menahannya. Ia pikir orang di hadapannyalah yang menahannya.

"Izuku!"

Tangan yang kekar, sosok yang kuat yang memandangnya dengan penuh kekhawatiran menahannya tepat sebelum ia menghantam lantai. Bersamanya, Izuku menyerahkan seluruh bobot tubuhnya sebelum akhirnya benar-benar kehilangan kesadarannya. Pemuda itu segera memeluknya dan tanpa banyak bicara, pemuda itu mengangkat tubuhnya dan menggendongnya keluar dari pusat perbelanjaan. Pemuda itu segera menghilang tanpa mengucapkan apa pun pada orang yang dilihat oleh Izuku.

Namun sebelum ia bergerak, orang yang tadi ditemui Izuku menyentuh bahunya membuat pemuda itu menoleh padanya. Orang itu pun berkata, "Young Bakugou?"

Manik merah Katsuki melebar. Ia pun menatap pria kurus berambut pirang yang ada di hadapannya. Tapi dahinya berkerut, ia tak mengenali sosok ini. Ia hanya bisa menatap bingung pada orang yang memanggilnya seperti itu. Setahunya, hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.

Bibirnya hendak mengucapkan sesuatu, namun rasa berat di tangannya membuat kesadarannya kembali. Perhatiannya pun kembali pada sosok yang ada di pelukannya dan kali ini, Katsuki langsung berbalik dan tak menghiraukan lagi pria ceking yang ditemuinya. Langkahnya dipacu cepat dan terburu-buru keluar dari supermarket hingga beberapa detik kemudian, Katsuki sudah mencapai parkiran mobilnya.

Ia menemukan ibunya tengah bersandar pada mobil. Ketika melihat anaknya, sang Ibu melambai-lambai dengan ceria, namun ketika melihat kedua tangan yang membawa seorang gadis yang pingsan, raut wajahnya pun turut berubah. Wanita itu hendak bertanya, namun Katsuki lebih dulu menghentikannya dengan ucapannya.

"Pintu, buka pintunya!"

Mengikuti ucapan Katsuki, sang ibu pun membukakan pintu mobil sementara anaknya meletakkan dengan hati-hati gadis yang tak sadarkan diri itu di bangku penumpang. Ia sendiri buru-buru memutari mobilnya dan memasuki pintu pengemudi sementara sang Ibu duduk di belakangnya untuk menjaga gadis itu.

"Apa yang terjadi?" Wanita itu berkata sambil menatap Katsuki. "Kenapa tiba-tiba Izuku..?"

Katsuki tidak menjawab. Ia tidak bisa mengatakan apa pun. Tangannya mencengkeram kemudi dengan erat dan ia menekan pedal gas kuat-kuat, tak peduli bila sebelumnya ibunya memintanya untuk tidak mengemudi seperti seorang pembalap. Pikirannya berpacu dan ia berusaha mengingat sosok yang baru ditemuinya.

Sosok yang baru ditemuinya itu mengenalinya dan caranya berbicara mengingatkan Katsuki akan masa lalunya. Besar kemungkinannya bila sosok itu mengenal Izuku dan besar pula kemungkinan orang itu akan menyebarkannya pada orang lain perihal pertemuan mereka. Ia tahu, bila berita ini tersebar, orang itu akan melaporkannya lebih dulu dan membuat semua ini berakhir. Padahal ia belum menginginkannya berakhir. Ia ingin mempertahankannya sedikit lebih lama.

Jangan sekarang! Jangan saat ini. Ia masih membutuhkan waktu. Ia masih ingin bersama dengan gadis itu. Ia masih ingin berada di sisi gadis itu. Hanya sedikit lebih lama lagi sebelum gadis itu menikah dengan orang itu. Biarkan ia bersama gadis itu hingga saat itu tiba.

"Kumohon," doanya sambil meringis menahan tangis, "sedikit lagi, hanya sedikit lagi. Berikan aku waktu."

'Hingga gadis itu sendiri yang memutuskan untuk mengakhirinya.'

.

.

.

(t.b.c)

Author's note :

Selamat Idul Adha buat yang merayakan XD dan kalau ada yang butuh api buat bakar sate, ExplodoKing kita sudah siap untuk membantu! Ya, Kacchan?

Aniway :

Fujoshi desu : pake Todo-kun juga bolehhh, nih silakan! Boleh dipinjem! Tapi ati-ati, selaen Izuku, semuanya nggak bisa jinak. Bisa-bisa, kamu dibekuin sama yang satu itu :P

Wohoo! Iida sudah dekat, tapi iblis granat larinya makin jauh. Eh sayangnya uda lari jauh malah ketemu kenalan :P

Dan btw, ane setuju, ane suka banget liat dua Bakugou ini adu mulut. Sama kayak Izu-chan (walopun ketawanya nggak manis kayak Izu-chan) ane demen liat dua orang ini berantem bak anak kecil :P terlebih dua-duanya juga mulut sampah XD tapi… sampe kapan nih mereka bisa berantem, apalagi Kacchan uda ketemu ama kenalan TTATT

Miharu 348 : betul! Wiseman says, regret always comes late, kalo nggak namanya bukan regret :P Katsuki menyesal, tapi entah dengan Shouto. Dia punya banyak waktu, tapi kalau dia nggak bergerak…kita tahu apa yang terjadi :P

Shin Aoi : iyahhh, sekutu Kacchan bertambah, tapi musuh juga bertambah Bakugou, hati-hatilah :P sudah bertemu kenalan, dan siap-siap saja, kenalan yang ditemuin nggak semudah itu dikelabui lho! Dan iyah, Shouto uda positif mau nyingkirin Kacchan kok, wong itu rivalnya doi :P tapi yah… nggak semudah itu menjebloskan iblis granat kita ke dalam penjara, ya, iblis granat? #dikejeriblisgranat #kabur

Shion : Holla Shion XD apa kabarrr? :D Wohoo! Team Tododeku kembali menyuarakan suaranya XD akhirnya muncul lagi team Tododeku! Dan… ehem, Midoriya, iya sih, diboongin, dibuat lupa, disakitin, tapi… kalo jadi dia… dimodusin dua cowok masa depan cerah… kayaknya ane mau tukeran tempat deh :P #kidding #bisabisaanestressduluan

Guest : hollaaa XD Makasih banyak oyyy :D keep reading yaaaa #ikutmanjanginvokal

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!