.

.

.

Boku no Hero Academia not mine

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

.

.

.

Enjoy!

Chapter 11: Please don't!

Day 24

San Fransisco, USA

Suara pintu kaca yang tiba-tiba didorong hingga terbuka membuat perhatian gadis berambut hitam itu teralih dari komputernya. Tangannya yang tengah mengetikkan kalimat pun terhenti di udara sementara pandangannya tertuju pada pemuda yang mendekati meja. Alis menukik tajam ketika gadis itu melihat pemuda itu kembali menunjukkan ponsel yang dipegangnya.

'Apalagi sekarang?' pikir gadis itu sembari mengerutkan dahi. Manik hitamnya memandangi layar, menelusurinya dengan seksama dan menemukan retakan yang cukup sensasional di sana.

Menyadari fokus perhatian sekretarisnya, pemuda dengan warna rambut berbeda yang merupakan bawaan dari lahir itu berkata, "Rusak, layarnya retak lalu padam."

"Bagaimana bisa layarnya sampai retak begini?" Tangan si sekretaris terulur menerima ponsel yang diberikan oleh atasannya itu. "Apa karena terjatuh?"

Alis pemuda itu terangkat sedikit dan ia berkata, "Aku melemparnya ke dinding."

Sekali ini gadis itu mendongak dan menatap sang atasan. Manik hitamnya menyiratkan berbagai pertanyaan tak terucap terkait tindakan impulsif yang dilakukan sang C.E.O. Tapi berhubung atasannya itu sudah berbalik ia pun memutuskan untuk menyimpan semua pertanyaannya seorang diri. Ia pun tak ambil pusing dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam salah satu laci seraya berkata, "Akan kuberikan pada teknisi untuk diperbaiki. Tapi sementara itu apa kau punya ponsel lain, Todoroki-san?"

"Ya," jawab pemuda itu sembari berjalan menuju ke pintu, "aku akan membelinya. Sementara itu apa kau bisa membantuku, Yaoyarozu-san?"

"Apa yang bisa saya bantu, Todoroki-san?"

"Tolong pesankan satu tiket ke Jepang untukku sekarang," ucap pemuda itu sembari melirik jam tangannya. "Paling bagus apabila ada penerbangan satu jam lagi, tapi penerbangan malam pun bukan masalah buatku. Yang penting carikan saja yang tercepat."

"Ten…tu," jawab gadis itu dengan sedikit ragu. Tapi kemudian gadis itu menambahinya dengan, "Todoroki-san, kuharap aku salah, tapi kau tidak lupa bahwa sebentar lagi ada rapat pemegang saham, bukan?"

Manik heterochrome pemuda itu kembali dihadapkan padanya. Sembari mengangkat bahu pemuda itu berkata, "Tua Bangka itu memegang seluruh sahamku. Dia saja sudah cukup untuk menghadiri rapat itu seorang diri sebagaimana biasanya."

Menggelengkan kepala, gadis yang menjabat sebagai sekretaris itu menjawab, "Kali ini tidak bisa, Todoroki-san. Ayah Anda secara khusus meminta Anda untuk ikut serta dalam rapat pemegang saham ini. Anda hanya akan memancing amarahnya bila Anda tidak hadir."

"Biar saja," jawab Shouto acuh. Tidak mau repot-repot memikirkan konsekuensi yang akan Ia hadapi. Tangannya sudah menggeser pintu sementara kakinya hendak melangkah maju. Ia tak menyadari ada seseorang yang tengah menanti di balik pintu sembari melipat kedua tangan di depan dada.

"Rapat pemegang saham bukan ke arah sini, Nak!" tukas orang yang menghalangi jalan dan membuat Shouto menengadah menatapnya. Seketika itu juga raut wajah pemuda dengan rambut berbeda warna berubah, namun diabaikan dengan segera oleh pria yang menghalangi jalannya. "Apa kau tersesat?"

"Tidak," jawab Shouto cepat. "Aku tidak punya riwayat buta arah, Ayah."

"Senang mengetahuinya," jawab sang Ayah sabar. Ia meletakkan satu tangannya di bahu putranya dan berkata, " Ayo, Nak! Ruang meeting di sebelah sana kurasa."

Sembari menyingkirkan tangan sang Ayah dari bahu, pemuda itu pun berkata, "Aku tidak ikut."

Alis pria berambut merah itu terangkat mendengar ucapan putranya dan ia berkata, "Apa maksudnya, Shouto?"

"Maksudku, aku tidak akan menghadiri meeting," jawab Shouto sembari berbalik menatap sang Ayah sembari menyingkir untuk mempersilakannya lewat. "Kau sendiri saja sudah cukup."

Pria itu tidak terkejut tentu saja. Ia sudah sangat mengenal sikap anaknya. Biarpun begitu, ia tidak menunjukkannya dan malah berkata, "Dan kenapa kau tidak akan menghadirinya, Shouto? Kau tahu sepenting apa rapat kali ini, 'kan? Yaoyarozu? Kau tidak mengatakan padanya?"

"Saya baru saja mengatakannya," jawab si gadis yang suaranya terdengar lebih pelan dibanding saat ia berbicara dengan Shouto. "Tapi Todoroki-san mengatakan seperti yang baru ia ucapkan tadi."

Mengangguk, pria besar itu mengangkat tangannya dan menggerakkannya santai agar sang sekretaris berhenti bicara. Mengikuti perintahnya, Momo pun mengatupkan mulutnya sementara matanya memandang waspada pada dua orang majikannya. Ini bukan pertama kalinya mereka adu pendapat di hadapan karyawan, tapi setiap kali itu terjadi, Momo tetap saja merasa panik. Seolah-olah itu salahnya.

"Shouto," panggil pria berambut merah itu, "kau harus mengerti, rapat ini sangat penting, Nak!"

"Kalau memang penting," ucap pemuda itu sembari berbalik, "seharusnya kau tidak memintaku menghadirinya. Hal yang penting untukmu berbeda denganku."

"Aku ingin kau menghadirinya," balas sang ayah tenang, "agar kau mulai belajar hal-hal yang penting untukku, Nak!"

Menghela napas, pemuda itu pun berkata, "Kupikir aku sudah mengatakannya sebelumnya, bahwa aku tidak pernah ingin menjadi penerusmu."

Topeng ketenangan yang selama ini dikenakan sang ayah pun mulai retak. Kesabarannya pun habis dan ia tak lagi ingin bersilat lidah dengan sang penerus. Dengan nada tegas dan tak ingin dibantah, ia pun berkata, "Shouto, kembali ke tempatmu! Sekarang!"

Sayangnya, mendengar nada tegas itu, putranya pun membalas dengan nada yang serupa. Bahkan kedua manik heterochrome itu menyipit dan berkata, "Kau tidak berhak mengaturku!"

Pintu dibanting sementara sang putra keluar dari ruangan. Pria bertubuh besar dan berambut merah itu menghela napas sementara tangannya diletakkan di atas rambutnya. Satu tangannya menunjuk pada sang sekretaris dan berkata, "Katakan pada petugas di bawah untuk menutup pintu masuk orang maupun kendaraan!"

Mengerutkan dahi, sang sekretaris pun berkata, "Todoroki-san takkan suka hal ini, Sir."

"Ah ya," jawab sang ayah sambil mengibaskan tangannya. "Itu bukan informasi baru bagiku."

Menghela napas, sang sekretaris pun menekan tombol telepon. Ia mengucapkan perintah sesuai dengan instruksi atasannya dan mengakhirinya dengan ucapan terima kasih. Setelah ia melakukannya, barulah sang atasan berjalan meninggalkannya. Namun ketika melihat arah yang dituju pria besar itu, sang sekretaris pun berkata, "Sir, ruang meeting bukan di sana!"

"Aku tahu," jawab pria besar itu sembari mendorong pintu kaca yang ada di depan ruangan Momo. Ia tak mengucapkan apa pun lagi dan membiarkan gadis itu bertanya-tanya sementara ia memandangi satu persatu isi ruangan tersebut.

Pria itu berjalan menuju ke meja kerja yang ada di dekat jendela. Ia menghampiri meja itu dan meletakkan tangannya di atas kursi bersandaran tinggi di belakang meja. Diputarnya kursi itu sementara ia duduk di atasnya.

Selama beberapa saat, pria itu duduk diam sembari melipat kedua tangannya di atas perut. Matanya terpejam dan ia pun menghentak-hentakkan kursi beberapa kali hingga menimbulkan bunyi berderit. Ia masih ingin berdiam diri lebih lama, namun ia tak suka membuang waktu. Jadi ia pun meletakkan tangannya di atas meja dan bangkit berdiri.

Saat ia melakukannya, tangannya menyenggol mouse yang berada di atas meja dan secara otomatis menghidupkan monitor. Ia menghela napas dan menggerakkan mouse untuk mencari perintah 'Sleep' agar layar kembali padam. Namun ketika ia mencarinya, layarnya menampilkan sesuatu yang membuatnya mengerutkan dahi.

Ia menatap layar selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menyandarkan kembali bahunya. Ditekannya salah satu tombol pada telepon yang ada di atas meja hingga mengeluarkan nada tunggu yang sudah ia kenali dengan baik. Setelah menanti selama beberapa waktu, akhirnya sang sekretaris pun menjawab, "Ya, Todoroki Enji-san?"

"Yaoyarozu," ucap pria itu sambil menyentuhkan satu tangan ke janggutnya, "aku ingin kau memesankan dua tiket penerbangan first class."

Sang sekretaris terdiam sebentar. "Boleh saya tahu ke mana tujuan Anda?"

Pria besar itu menyunggingkan senyum sinisnya dan ia berkata, "Jepang, tentu saja."

.

.

.

Day 28

Shiozuoka, Japan

Bersembunyi di sudut ruangan, gadis berambut hijau daun itu mencoba menghapus airmata yang mengalir turun dari pipinya. Beberapa kali digosoknya wajahnya dengan tangan, berharap dengan demikian airmatanya akan berhenti mengalir. Sayang upayanya tak membuahkan hasil. Stok airmata untuk ditumpahkan masih terlalu banyak.

Tak jauh darinya, si pemuda penyebab airmata itu menggerakkan kepala dengan gelisah, tidak nyaman dengan kehadiran si gadis. Namun ia tak mengupayakan apa pun untuk menghentikan airmatanya mengalir. Justru ia malah mengacak rambutnya sendiri dan berkata, "Bisa diam, tidak?"

Diam? Ia harus diam seperti apa lagi? Ia sudah menangis tanpa suara dan sekarang pemuda itu memintanya untuk diam? Dia harus sehening apa baru pemuda itu puas?

"Terserahlah," kata pemuda itu sambil bangkit berdiri dan beranjak ke pintu. Ia menarik gagang pintu dan menghilang di baliknya, meninggalkan si gadis seorang diri. Setelah pemuda itu pergi, barulah si gadis menghentikan upayanya menghapus airmata.

Ia menoleh ke belakang, pada meja yang ada di hadapannya. Pandangannya terpaku pada sumber masalah yang ada di meja. Foto-foto. Itulah masalahnya.

Ia tidak tahu, siapa yang mengirimkan foto-foto itu pada tunangannya. Ia tidak tahu bagaimana foto-foto itu dapat mengabadikan dengan sempurna dirinya dan seorang pemuda lain. Ia tidak tahu bagaimana foto-foto itu dapat begitu persuasif dan mengundang kesalahpahaman siapapun yang melihatnya. Tapi terlebih, ia tidak percaya bahwa tunangannya begitu mudahnya memercayai semua yang tercetak dalam foto-foto itu.

Gadis itu mencoba bergeser dan mengambil salah satu foto yang ada di atas meja. Ia memandanginya dan sekali lagi airmatanya mengalir.

'Dasar bodoh!' pikir gadis itu saat melihat potret yang dipegangnya. 'Senyummu terlalu lebar.'

Di dalam foto, gadis berambut hijau daun yang dikomentarinya tidak mengatakan apa-apa. Gadis itu bahkan tak menyadari bahwa dirinya tengah dipotret saat makan siang bersama seorang pemuda. Hanya satu senyuman dan posisi tubuh yang terlalu dekat, tunangannya langsung marah besar. Seolah tunangannya tak tahu bahwa di dunia ini hanya pemuda itu seorang yang ada di hatinya.

Pemuda yang turut tercetak dalam foto tersebut tidak membantu dan justru menambahkan minyak ke dalam api. Maniknya yang berbeda warna terpaku sepenuhnya pada gadis di hadapannya. Tanpa gerakan mesra atau pun kata-kata manis pun gadis itu tahu, pemuda itu terpesona pada gadis yang duduk di hadapannya. Dan itulah yang dipersoalkan oleh tunangannya dan membuat pemuda itu marah besar.

'Kau menggodanya,' tuduh tunangannya berang sembari melempar foto-foto tersebut ke atas meja bulat di antara mereka. 'Sikapmu lah yang membuatnya menjadi seperti itu. Aku sudah tahu bahwa kau selalu saja tidak tegas. Kau tidak menolaknya sedari awal dan membuat si dispenser sialan itu mendekatimu, Deku.'

Benarkah itu salahnya? Benarkah semua itu karena dia yang tidak tegas dan membiarkan orang lain mendekatinya? Ia tidak mengerti.

Seingatnya, ia hanya tersenyum dan bersikap ramah karena pemuda itu pelanggannya. Pemuda itu membeli kopi di kafe tempat ia bekerja, apakah salah bila ia tersenyum dan menyapa pemuda itu? Apakah seharusnya ia bersikap galak dan tidak ramah saat menghadapi pelanggannya? Itukah yang tunangannya ingin ia lakukan pada setiap pelanggan yang datang ke kafe?

Tidak mungkin'kan? Ini konyol. Tunangannya marah karena hal yang menurutnya tidak masuk akal. Ia hanya karyawan biasa di kafe milik Toshinari Yagi, mantan aktor yang ia kagumi. Ia bahkan tidak bermaksud untuk menggoda dan hanya tersenyum ramah layaknya seorang pramuniaga menyapa pelanggannya. Tapi kenapa tunangannya salah paham? Kenapa pemuda bermata heterchrome yang ikut terpotret itu pun salah paham? Ia tidak menyukai pemuda itu.

Seharusnya tunangannya tahu, hatinya hanya untuk satu orang di dunia ini. Dari lima belas tahun yang lalu hingga sekarang, hatinya hanya milik satu orang dan ia tidak pernah menyerahkannya pada orang lain. Lalu kenapa tunangannya tidak mengerti? Kenapa tunangannya tidak bisa memaklumi pekerjaannya? Kenapa tunangannya harus memaksanya berhenti bekerja?

Apakah tunangannya baru bisa diyakinkan setelah mengurungnya di rumah? Apakah dengan begitu tunangannya akan merasa yakin bahwa ia hanya melihat pemuda itu seorang? Apakah Apakah pengorbanan semacam itu, yang harus ia berikan agar tunangannya tetap percaya padanya?

"Sudah kau pikirkan?"

Suara itu membuat Izuku terlonjak kaget. Nyaris saja, ia menjatuhkan foto yang ada di tangannya. Perlahan ia memutar tubuhnya dan menemukan pemuda berambut ash blonde itu di belakangnya. Ketika manik hijaunya bertemu dengan manik merah si pemuda, ia pun menundukkan kepala. Tangannya bergetar begitu pula dengan suaranya yang berkata, "A-aku…"

"Kau tidak perlu bekerja," ujar si pemuda sembari mendekat dan menyentuh pundaknya. "Cukup aku saja yang melakukannya."

Dulu, sentuhan itu tak membuatnya takut. Dulu sentuhan itu memberikannya rasa aman dan perlindungan. Tapi sekarang, ia tidak yakin. Ia tidak dapat menemukan rasa aman dan perlindungan dari tangan itu. Yang ada hanya rasa takut. Ia takut pada tangan pemuda itu. Tangan yang pernah memberikan rasa sakit padanya.

"A-aku…"

"Akan kupastikan semua yang kau butuhkan tersedia di rumah," kata pemuda itu sembari memaksanya mendekat, "kau tidak perlu lagi bersusah payah dan berpanas-panasan di jalan setiap hari. Kau tidak perlu lagi melayani pelanggan bawel yang menyalah-nyalahkanmu, tak ada lagi orang yang akan mengancam keselamatanmu dan tak ada yang perlu kau takuti. Kau hanya perlu tinggal di rumah. Hanya itu."

"A…"

"Bayangkan betapa nyamannya hidupmu kelak," bisik pemuda itu di telinganya, "Nyonya Bakugou."

Tangan gadis itu mendingin, sementara bibirnya bergetar. Suaranya terdengar pelan dan mencicit ketika ia berkata, "B-bagaimana kalau aku tetap ingin bekerja?"

"Apa?"

"B-bagaimana," ucap gadis itu dengan suara lebih keras, "kalau aku tidak mau tinggal di rumah?"

Tangan yang semula diletakkan di bahunya mulai mengeratkan pegangan, membuat gadis itu mengernyit sedikit. Raut wajah pemuda itu seketika berubah dan ia berkata dengan suara meninggi, "Kenapa? Kenapa kau tidak mau tinggal di rumah dan tetap ingn bekerja? Aku sudah menawarkanmu kenyamanan. Tak seharusnya kau menolaknya, Deku! Pakai otak sedikit!"

Menelan ludah, gadis itu kembali berkata, "Aku… sudah memikirkannya."

"Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan," bantah pemuda itu, "Gadis lain akan bersorak sorai penuh terima kasih ketika suaminya mengatakan bahwa ia tidak perlu bekerja. Gadis lain akan patuh dan tinggal di rumah sesuai dengan keinginan sang suami. Kenapa kau tidak bisa melakukannya?"

Si gadis berambut hijau menelan ludah dan ia pun berkata, "Karena aku… bukan gadis lain yang kau maksud."

"Apa?"

"Kacchan pernah bertanya seperti apa mimpi masa depanku?" Ia terus bersuara sekalipun tangannya gemetar, membayangkan hal yang akan terjadi selanjutnya. "Yang seperti itu, bukan masa depan yang kuinginkan, Kacchan."

"Yang kau inginkan?" Pemuda itu berkata dengan nada mencemooh. "Bukankah kau tidak tahu masa depan apa yang kau inginkan? Bukankah selama ini aku yang menciptakannya untukmu? Aku yang menyediakan segalanya untukmu dan kau hanya perlu bergantung padaku. Apa susahnya?"

Gadis itu terdiam. Tidak dapat mengucapkan apa pun. Memangnya kapan ia meminta masa depan yang seperti itu? Gadis itu tidak bermimpi menjadi seorang ratu, yang hanya perlu diam di istana sementara sang suami menyediakan segala sesuatu untuknya. Walaupun ia tidak tahu, apakah ia tidak boleh memilih masa depan yang ia inginkan? Apakah ia harus selalu tunduk pada keinginan seorang Bakugou Katsuki?

"Kacchan," ucap gadis itu akhirnya, "kurasa… kau salah paham."

Manik merah pemuda itu menyipit dan ia berjongkok untuk menyamakan tinggi dengannya. Ia tidak mengatakan apa pun, tapi sikapnya membuat Izuku kembali bersuara.

"Aku tidak pernah memintamu untuk menyediakan segala sesuatu untukku," lanjut gadis itu sambil menundukkan kepala. "Aku bahkan tidak pernah meminta apa pun selain kehadiranmu. Aku juga tidak pernah mengekangmu untuk melakukan apa pun. Kau berhak mengatur dirimu sendiri."

Masih tidak menjawab, pemuda itu tetap bungkam. Pandangannya tetap tertuju pada si gadis, menyimak ke mana arah pembicaraan ini.

"Lantas kenapa kau bersikeras mengurungku? Kenapa kau bersikeras menjauhkanku dari dunia luar? Kenapa kau tidak membiarkanku melakukan hal yang kuinginkan?" lanjut si gadis sambil menggelengkan kepala. "Aku tidak mengerti."

"De…ku?"

"Aku tidak suka dikurung," gadis itu berkata lagi. "Kenapa… kau berniat mengurungku di rumah?"

"Lalu kenapa?" Pemuda itu berkata dengan nada tinggi. "Aku calon suamimu. Aku berhak melakukan apa pun yang kurasa perlu untuk menahanmu di sisiku."

Gadis itu menatapnya dan sesaat ekspresinya berubah. Ia menatap pemuda itu. Kengerian membayanginya ketika melihat wajah pemuda itu dan seketika itu juga ia tahu apa yang harus ia katakan. Kepalanya menunduk dan gadis itu berkata, "Maaf, maafkan aku, Kacchan."

"Maaf? Maaf untuk apa?"

Tidak menjawab, gadis itu malah mengulangi lagi permintaan maafnya, dan berkata "sepertinya, aku harus memikirkan ulang soal pertunangan kita."

Ketika gadis itu mengatakannya, ekspresi pemuda bermanik merah di hadapannya pun berubah. Ia mencengkeram tangan gadis itu erat-erat membuat si gadis mengernyit sakit. Bahkan ia tak peduli ketika gadis itu gemetaran dan terus menggunakan suara tinggi untuk menghadapinya.

"Kau tidak bisa melakukannya," kata pemuda itu, "kau tidak boleh melakukannya."

"S-sakit, Kacchan," ringis si gadis, "kau menyakitiku."

"Kau kira aku akan membiarkanmu pergi ke pelukan pewaris Endeavor itu? Kau kira aku akan membiarkannya mengambil dariku? Kau salah besar. Salah besar, Deku!"

Ia tergagap mendengar tuduhan itu dan berkata, "B-Bukan! Aku tidak akan pergi ke mana pun. Aku tidak memilih Todoroki-kun atau siapa pun. Aku hanya, aku…"

"Kenapa kau berlari ke pelukannya?" Pemuda itu bertanya seolah tidak mendengar ucapannya sebelumnya. "Kau tidak puas dengan statusku, Deku? Tidak puas hanya dengan seorang Manajer sehingga menggoda pewaris Endeavor Group?"

"T-tidak!" Gadis itu membantahnya. Kepalanya digelengkan kuat-kuat walaupun tak ada gunanya. "Tidak. Bukan itu, Kacchan. Aku bahkan tak menginginkan status atau apa pun."

"Kalau begitu kenapa kau harus memikirkan ulang pertunangan kita?" Pemuda itu balas meneriakinya. "Apa yang kurang dariku? Apa yang kurang sehingga kau harus memikirkannya kembali? Aku sudah memberikanmu semua yang kau butuhkan. Apalagi yang masih kurang?"

"S-sakit…," rintihnya, "Kacchan! Kumohon! Jangan seperti ini!"

"Apa yang ia berikan padamu tapi tak bisa kuberikan? Apa yang diberikan Todoroki Shouto padamu, Deku?"

"T-tidak, ini tidak ada hubungannya dengan…"

Tangan pemuda itu melayang dan Izuku pun terdiam. Manik hijau zamrudnya membelalak lebar memandangi pemuda itu. Satu tangannya menyentuh pipinya yang terasa panas dan airmatanya pun mengalir. Tenggorokannya bahkan tidak sanggup untuk berkata, "Kac…chan…?"

"Jangan berbohong padaku, Deku!" Pemuda itu berkata sambil menunjuknya. "Jangan bohong! Orang itu pasti memengaruhimu, orang itu membuatmu berpaling dariku."

Izuku tak bisa menjawab, ia hanya menatap pemuda itu.

"Sialan!" Pemuda di hadapannya membentak. "Sialan!"

Gadis itu kembali diam dan ia memejamkan mata. Tangannya masih memegangi pipinya sementara ia tertunduk. Ia tahu lebih baik ia tidak mengucapkan apa pun, walaupun dalam hatinya ia menjerit, memanggil nama pemuda itu.

Tapi siapa? Siapa yang harus ia mintai tolong?

Katsuki? Tapi, Katsuki baru saja menyakitinya, bukan? Pemuda itu membentaknya, pemuda itu memukulnya, pemuda itu ingin mengurungnya. Ia justru ingin lari dari pemuda itu.

Lalu kalau begitu, siapa pemuda yang mengaku sebagai suaminya dan memperlakukannya layaknya benda palling berharga di dunia ini? Siapa pemuda yang menatapnya dengan menahan tangis dan kerap berada di sisinya ketika ia membuka mata? Apakah pemuda itu orang yang sama dengan Katsuki yang dilihatnya dalam mimpi?

"Kau membacanya!"

Izuku tersentak. Napasnya tersengal-sengal. Bukan. Bukan Katsuki. Katsuki tidak pernah menggunakan suara tinggi padanya. Ini bukan Katsuki. Ini bukan pemuda yang ia kenal.

Lalu siapa orang itu? Siapa orang yang meneriakinya barusan dan menggunakan nada tinggi padanya? Siapa orang yang melayangkan tangan pada pipi kirinya dan mengatakan hendak mengurungnya? Siapa orang itu?

Itu dia.

Itu pasti dia.

Tapi entah kenapa, hatinya berdoa. Semoga bukan dia.

Semoga bukan… Katsuki Bakugou.

Tidurnya gelisah. Sangat gelisah. Ia bergerak ke kiri dan kanan, berharap bahwa dengan demikian kekhawatirannya akan lenyap. Namun segalanya sia-sia, ia tahu itu. Ia pun akhirnya menyerah dan memaksa manik hijaunya keluar dari tempat persembunyian.

"Midoriya-san," ucap seseorang yang sudah berada di sisi tempat tidurnya dan menyadari ketika ia membuka mata. "Kau sudah sadar."

"Tsuyu," kata si gadis yang kini sudah terbiasa untuk memanggil si pelayan dengan namanya tanpa embel-embel apa pun. Tangannya menyentuh pelipisnya yang basah dan ia pun mengerutkan dahi karenanya. "Di mana ini?"

"Kamar Anda, Midoriya-san. Sudah tiga hari Anda terbaring karena demam tinggi," jawab si pelayan sambil bangkit berdiri dan mengambil lap yang telah mengering dari dahi gadis berambut hijau itu. Ia meletakkan lap itu di dalam wadah sebelum kembali berpaling pada Izuku. Mereka berpandangan selama beberapa saat hingga akhirnya ia berkata, "Apa mimpi buruk kembali menghantuimu, Midoriya-san?"

Pertanyaan itu membuat Izuku bergeming sejenak sebelum menjawab, "Ya."

Mengangguk, pelayannya pun kembali berkata, "Tapi sepertinya mimpi burukmu kian menakutkan."

Alisnya terangkat, Izuku pun mencoba untuk tertawa mendengar komentar pelayannya, menganggapnya sebagai lelucon belaka.

"Kenapa kau bilang begitu, Tsuyu? Kupikir kau akan bilang ini kemajuan karena aku tertidur hanya tiga hari dibanding sebelumnya."

Si pelayan justru menggelengkan kepala. Raut wajahnya tidak berubah. Tetap datar dan serius, seolah tidak sedang bercanda. "Sebelumnya, Anda hanya berteriak satu kali dalam mimpi, tapi sekarang Anda terus menerus gelisah dan menangis. Menurut saya, mimpi buruk Midoriya-san kali ini jauh lebih mengkhawatirkan."

Lidah gadis itu kelu. Ia tak dapat membalas ucapan si pelayan. Memang benar, sebelumnya suara-suara dan bisikan itulah yang ia takuti. Bisikan-bisikan yang seolah ingin menyeretnya dan membuatnya kesepian. Tapi ternyata ada hal yang jauh lebih mengerikan dibanding suara bisikan itu. Lebih membuatnya gentar, walaupun hanya mendengar namanya.

"Ah, sebaiknya kupanggil Bakugou-san," ucap gadis pelayan sambil bangkit berdiri. "Sebelum Anda menjerit-jerit lagi seperti waktu itu."

Mendengar nama itu disebut, tangannya refleks meraih meraih pergelangan tangan si pelayan. Sebelum ia dapat mencegahnya, kata-kata sudah lebih dulu terucap dari bibirnya. "J-jangan panggil!"

Alis menukik tajam, si pelayan pun balas memandangi Nona yang menumpang tinggal di villa milik Tuannya itu. Banyak pertanyaan tersirat manik gelap yang memandanginya itu, namun si pelayan hanya mengungkapkan satu di antara berbagai pertanyaan yang ingin ia ajukan. Dengan nada lembut dan menenangkan, sang pelayan pun berkata, "Kenapa? Bukankah sebelumnya Anda juga mencari-cari Bakugou-san?"

Getaran di tangan yang memeganginya membuat sang pelayan menunduk menatap lengannya. Sesaat, sang pelayan terdiam sementara matanya memandangi tangan yang gemetar berusaha menahannya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun dan menyentuhkan tangannya sendiri di atas tangan yang gemetaran itu.

"Anda…"

Sebelum sang pelayan melanjutkan ucapannya, pintu tiba-tiba terbuka dan pemuda yang tengah dibicarakan pun masuk ke dalam ruangan. Kelelahan dan lingkaran hitam di bawah matanya terlihat semakin parah, namun manik merahnya langsung terbuka ketika bertatapan dengan manik hijau si gadis. Ekspresinya melembut sedikit dan ia berkata, "Kau sudah sadar."

Gadis itu tidak mengatakan apa pun ketika melihat pemuda itu masuk. Manik hijaunya melarikan diri dari si manik merah sementara wajahnya pucat pasi. Jelas ini bukan reaksi seorang gadis yang malu-malu saat suaminya datang menjenguk.

Pemuda itu menelan ludah ketika melihat manik hijau sang istri berusaha menghindarinya. Ia tahu ini akan terjadi, namun ia tetap memasang topeng pengendalian dirinya erat. Dengan langkah mantap, ia pun berjalan mendekat pada tepian ranjang.

Melihat kehadiran Tuannya, sang pelayan pun membungkukkan kepala dan mencoba untuk memberikan privasi bagi keduanya. Sayang, tangannya ditahan erat-erat oleh gadis yang baru sadar itu, sehingga membuat Tuannya memandanginya dengan memicingkan mata. Sejujurnya, ia tidak mau mencari masalah dengan Tuannya saat ini.

"Saya permisi dulu," ucap si pelayan sambil menepuk-nepuk tangan gadis yang mencengkeramnya. Pesannya jelas. 'Saya tidak ingin membuat marah, Bakugou-san, Midoriya-san. Tolong mengertilah!'

Sepertinya gadis itu pun mengerti pesan tak terucap dari si pelayan. Tangannya yang sebelumnya menahan si pelayan pun akhirnya melonggar dan terlepas, membuat pelayannya mengangguk puas. Gadis itu masih bisa melihat si pelayan membungkuk sekali lagi sebelum akhirnya meninggalkan keduanya.

"Bagaimana keadaanmu?"

Tangan si pemuda yang terulur ke arahnya membuatnya kembali tersentak. Ia ingin menoleh namun semua kata-katanya lenyap. Alhasil, ia hanya dapat menelan ludah, sembari menunduk menatap selimut. Ia bahkan tak bisa menatap pemuda di sampingnya itu.

Katsuki memandanginya selama beberapa saat. Ia sudah tahu gadis ini akan bersikap demikian. Ia sudah menduganya. Hanya saja, ia terus mempertahankan topengnya. Ia terus memasang wajah tanpa ekspresi sekalipun perasaannya sakit dan terluka melihat gadis itu tak mau menatapnya.

"Sepertinya demammu belum sembuh," ujarnya beralasan sembari menarik kembali tangannya. "Akan kuminta Tsuyu untuk kembali merawatmu dan membawakan makanan."

Pemuda itu bangkit dari sisi ranjangnya dan membalikkan badan. Ketika manik merah itu tidak tertuju padanya, barulah gadis itu dapat mengangkat kepalanya, barulah gadis itu dapat menatapnya. Ia tahu, seharusnya ia menjaga lidahnya bila ia ingin memastikan doanya terkabul. Tapi ketika melihat bahu yang turun dan kepala yang menunduk dari pemuda yang dikira suaminya, ia pun tak bisa lagi menutup mulutnya.

"Katsuki…"

Jantung pemuda itu berdegup ketika mendengar namanya disebut. Perlahan-lahan ia menggerakkan kepala dan memutar tubuhnya kembali, menatap gadis itu. Ia mengira mereka tidak akan berbicara kali ini. Ia mengira, gadis itu akan mengabaikannya dan terus menerus takut padanya.

Sayangnya, tak semudah itu bagi Katsuki untuk bertemu dengan manik hijau zamrud yang dikasihinya. Ketika pemuda itu membalikkan kembali tubuhnya, gadis itu malah menunduk, mengarahkan pandangan pada selimut, enggan menatapnya.

"Kau… suamiku, bukan?"

Manik merah itu menatapnya tanpa suara. Andai saja gadis itu mengangkat kepala, mungkin gadis itu bisa melihat bahwa topeng tanpa emosi yang dikenakan pemuda itu pun mulai retak, menampilkan sedikit emosi yang selama ini berusaha mati-matian ditahannya. Walau begitu, ia mencoba mempertahankan nada suaranya dan pemuda itu berkata, "Kenapa kau bertanya, Izuku?"

Mengerutkan dahi, gadis itu pun kembali berkata, "Apakah bukan?"

"Menurutmu?" Pemuda itu berkata sambil menggerakkan kakinya, mendekat pada ranjang. Ia menelan ludah sebelum menjawab, "Tidak biasanya kau seperti ini."

Lagi-lagi gadis itu berpaling. Lagi-lagi gadis itu tidak mau menatapnya. Katsuki ingin menjerit. Ingin memaksa gadis itu agar menghadapkan wajah padanya. Tapi ia takut, ia sungguh takut. Saat ini ingatan gadis itu seolah berada di atas gelas kaca yang tidak stabil. Satu perkataan atau tindakan gegabah dapat menjatuhkan gelas itu dan menumpahkan seluruh ingatan di dalamnya.

"Seperti apa aku biasanya, Katsuki?" Gadis itu balik bertanya padanya. Kepalanya bergerak, menyiratkan keraguan di dalam dirinya.

"Kau…," ucapnya sambil mengulurkan tangan ke wajah gadis itu. Ia ingin memutar wajah gadis itu, memaksanya menatapnya. Namun ia hanya menyentuhnya, dan merasakan kulit gadis itu di jemarinya. Ia sudah cukup puas, dengan sentuhan kecil seperti ini.

Tapi Tuhan justru mengabulkan permohonannya.

Perlahan-lahan kepala gadis itu terangkat, sementara manik hijaunya menyapu wajah Katsuki. Bibir, hidung, hingga akhirnya manik merahnya terpaku pada manik hijau si gadis. Hanya saja, bukan ekspresi seperti ini yang ingin dilihatnya.

Mungkin Tuhan justru tengah memberinya hukuman.

Manik merahnya masih terus terpaku pada manik hijau Izuku. Kata-kata yang sebelumnya hendak ia lontarkan pun tertahan ketika melihat manik itu. Sebagai gantinya ia berkata, "Izuku…"

Manik hijau itu pun membalas tatapannya. Walaupun tangannya gemetar, walaupun manik hijaunya berkaca-kaca, ia tetap berkata, "Aku… bukan istrimu, 'kan?"

Katsuki kehilangan kata-kata. Pertanyaan gadis itu membuat mulutnya terbuka, namun ia tak sanggup menjawab. Apa yang harus ia katakan? Apakah ia harus terus berbohong untuk meyakinkan gadis itu? Ataukah ia harus berkata jujur? Ia tidak tahu, sudah sampai di mana gadis ini mengetahui semuanya. Ia tidak tahu, sudah sejauh apa ingatan gadis ini kembali.

"Orang yang menghubungimu," lanjut gadis itu sambil menatapnya, "adalah tunanganku, bukan?"

Tangan Katsuki bergetar. Tidak. Seharusnya Izuku belum tahu sejauh ini. Ia tidak tahu siapa orang yang dipanggilnya tunangan. Ia masih bisa berbohong. Ia masih bisa mengelak. Ia masih bisa…

"Kenapa?" Gadis itu bertanya dan airmata jatuh menuruni pipinya. "Kenapa kau berbohong?"

"Izu…"

"Aku percaya padamu," kata gadis itu dengan suara yang pecah. "Aku percaya setiap kata-katamu. Aku percaya bahwa kau suamiku, Katsuki."

Mulut Katsuki terkatup. Manik merahnya memicing seiring setiap kata yang diucapkan gadis itu.

"Kenapa kau berbohong padaku?"

Perkataan terakhir gadis itu membuat semua topeng yang dikenakan Katsuki pun runtuh. Semua ekspresi yang selama ini berusaha disembunyikannya akhirnya muncul ke permukaan. Manik merahnya menyipit, berusaha menahan perasaannya. Walaupun suaranya yang pecah dan pelan tak dapat ia tutupi.

"Apa yang… harus kukatakan?"

"Katsu…"

"Sudah sejelas ini," ujar pemuda itu pelan,"kau masih belum mengerti juga?"

Izuku mengerutkan dahi dan menatap pemuda bermanik merah yang tengah menunduk. Ia ingin bertanya, namun pemuda itu lebih dulu mengangkat kepalanya, menatapnya dengan manik merah yang membuat tenggorokannya tercekat.

"Apa ingatanmu belum memberitahukannya padamu?" Katsuki kembali bertanya. Kali ini pertanyaannya datang bertubi-tubi, kata-katanya terucap tanpa dipikirkan dulu olehnya. Ia tahu bahwa memori Izuku berada dalam wadah yang seperti kaca, tapi semua pertanyaannya seolah hendak menghancurkan gelas yang menahan memori Izuku. "Apa mereka tidak memberitahumu bahwa aku hanyalah mantan kekasih yang kau tinggalkan? Mantan kekasih yang kejam, posesif, tidak pengertian, kasar dan arogan? Mantan kekasih yang membuatmu merasa tidak berharga sebagai seorang wanita?"

Izuku menggelengkan kepala. Ia tidak ingin mendengar ini. Ini bohong. Katsuki tidak seperti ini. Katsuki yang ia kenal sebulan ini sangat lembut. Katsuki yang ia tahu sangat baik hati. Tidak seperti ini.

'Kumohon jangan!' batinnya seiring dengan setiap kata yang diucapkan pemuda itu, 'Jangan katakan apa-apa lagi, Katsuki! Kumohon!'

Sayangnya pikirannya tak menjangkau pemuda di hadapannya. Seolah-olah pemuda itu sengaja menghancurkan harapannya, sengaja merusak citra yang telah dibuatnya selama ini. Alih-alih suara pelan menahan tangis, Izuku malah mendengar suara tawa. Suara tawa yang kejam dan dingin, seperti bukan Katsuki yang dikenalnya beberapa hari ini.

"Benar, aku menipumu," ujar Katsuki sembari tertawa sekalipun matanya menahan tangis. "Aku menahanmu, aku menculikmu, aku mengisolasimu dari dunia luar. Bajingan brengsek yang merebutmu dari tunanganmu."

'Jangan!' batin gadis itu sambil menatap pemuda di hadapannya. Manik hijau di mata gadis itu berkaca-kaca, sia-sia berusaha menjaga memori yang telah dibuatnya selama sebulan ini. 'Jangan!'

"Aku menghancurkan semua mimpi-mimpimu!"

Airmata jatuh tanpa bisa dihentikan. Manik hijaunya menatap pemuda itu, tapi airmatanya terus mengalir. Ketika mereka saling memandang, barulah ia menyadari bahwa bukan hanya dirinya dan memorinya yang telah hancur.

Pemuda ini pun sama. Perasaannya hancur dan ia tak repot-repot menutupinya. Semua topeng pengendalian diri yang dikenakannya terlepas, menunjukkan seorang pemuda yang telah kehilangan sesuatu yang amat berharga. Sesuatu yang membuat jiwanya remuk dan membuat manik merahnya meredup, kehilangan cahaya.

"Aku orangnya," ucap pemuda itu sembari menunjuk dirinya sendiri. "Semua itu, aku yang melakukannya."

Tenggorokannya tercekat dan airmatanya terus mengalir. Hancur. Gambaran pemuda baik hati di ingatannya sudah hancur. Ia tak lagi mengenal pemuda di hadapannya ini. Ia tak lagi mengenal sosok yang begitu terluka dan hancur seperti ini. Walaupun anehnya ia tak bisa memalingkan pandangan dari pemuda itu. Manik hijaunya terus menatap pemuda itu, sementara bibirnya berkata dengan gemetar hal yang sudah ia ketahui jawabannya. "Ke… napa?"

Paling tidak semua kata-kata Katsuki terhenti ketika mendengar pertanyaannya. Pemuda itu kembali bungkam dan hanya menundukkan kepala, membuat ekspresinya tidak terbaca. Ketika akhirnya ia membuka mulut, suaranya justru terdengar sangat pelan dan membuat airmatanya kembali mengalir.

"Aku… mencintaimu."

Ia mengerjapkan mata dan memandang pemuda itu. Satu-satunya kepingan terakhir dari citra pemuda itu yang belum hancur. Satu-satunya hal yang ia tahu tetap ada, baik pada citranya yang dulu maupun sekarang. Dan hal itu belum berubah.

"Tapi… waktu ternyata tidak berpihak padaku," ujar pemuda itu yang membuat si gadis mengerutkan dahi. "Aku… tidak akan pernah bisa merebutmu kembali."

Benaknya menjerit. Lagi-lagi Izuku berteriak 'Jangan!' Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan anehnya hatinya masih berkata 'Jangan!'

Walaupun begitu, mulutnya tak mengatakan apa pun. Sekalipun benaknya menjerit, memohon agar Katsuki tidak melanjutkan kalimatnya, ia tak mengucapkannya. Ia tetap bergeming, menanti tanpa berbuat apa-apa.

Sesuai dugaannya, pemuda itu pun mengangkat kaki dan menjauh darinya. Ia mundur dan berbalik. Namun sebelum ia mencapai pintu, Katsuki kembali berbalik dan ia berkata, "Kalau kau sudah lebih baik, akan kuminta Tsuyu untuk membereskan barang-barangmu."

'Jangan!' batinnya sambil menundukkan kepala, menahan mati-matian seluruh perasaannya. 'Jangan!'

"Selanjutnya," ucap pemuda itu sambil menarik pintu, "biar Todoroki Shouto yang memulihkan ingatanmu."

.

.

.

Author's note :

Voilaa! Finally the glass is broken, walaupun belom semuanya TTATT. Oi, Katsuki, belom 90 hari ini! #senggol2iblisgranat #diledakin

Aniway :

Fujoshi desu XD : Yosh! This is SPARTA! Dan masih berlanjut, walaopun sayangnya iblis granat sepertinya telah mengibarkan bendera putih

Ehem, iya memang, duo husband berebut waifu itu bikin melting memang, sama bikin jingkrak2 juga di ranjang #anakbaikjangantiru #savekasur tapi sayangnya iblis granat kita gagal stay cool, dan malah menjerumuskan diri sendiri. Iblis granat, why? Why?

Nah, si Tomu-Tomu sendiri, memang nggak beres, tapi entah kenapa, nggak sabar pengen munculin dia XD nantinya kemunculan abang Tomu-Tomu, semoga di edisi berikutnya si abang muncul XD

Miharu348 : Wohoo! Jadi, Micchan Tododeku rupanya! Tenang Micchan, ada bekingan orang kuat di belakang Todo-kun! Tuh, dibeliin tiket First Class lagi :P

Hikaru Rikou : walah, ayo bernapas lagi Hikacchi! Tenang, ini marathon, bukan sprinter. Mari menghemat energi, dan save your breath for the last :P

Ah, Kacchannya uda keburu menyerah nih, Hikacchi, dia uda mau balikin ke Abang Dispenser, sepertinya shipper Katsudeku terpaksa bikin hari Patah Hati Nasional gegara doi, tapi konon kesempatan masih ada selama janur kuning belum melengkung XD

Dan, ehem, saya nggak sengaja sebenernya. Berhubung percakapannya saya lebih suka yang tersirat, jadi kadang2 malah jadi misteri. Maaf ya, jadi harus meres otak dikit, buat nangkep maksudnya TTATT

LOL. Bolehhh, manggil apapun bebas, Hikacchi XD saya juga suka seenaknya kasih panggilan :P dan YAY, makasih kalau kamu seneng bacanya dan anggep masterpiece. WOHOO! Lagi-lagi hidung saya meroket tinggi bacanya XD

kyunauzunami : Iyaa, Kyu-chan, papi Tengkorak itu golput :P mau Tododeku ato Katsudeku sepertinya dia nggak peduli, yang penting putri satu-satunya bahagia dan aman sentosa. Tapi jangan-jangan, sebenernya Papi Tengkorak itu dukung harem deku kayak kamu? Apa kita nobatin aja Papi Tengkorak jadi Presiden Harem Deku?

Hemm, alesan kenapa Tomu-Tomu bunuhin orang di sekitar Izu-chan? Kenapa ya? #soksokpolos #malinginmuka #kabur

LOL, iyaaa, Kacchan uda kehabisan waktu, walopun belom 90, sementara Todo uda mau dateng, dag dig dug, tingga; 62 hari tersisa sebelum menuju deadline. Berjuanglah, Abang Dispenser, Kacchan!

Aozora : LOL, satu lagi Tododeku shipper ternyata XD ayo sama-sama bersorak buat Papi Enji! Tanpa dukungan beliau, niscaya penerbangan first class hanya wacana semata.

Shin Aoi: *pukpuk Ao-chan, nggak apa-apa, Ao-chan! Trio kece badai nggak semengerikan yang Ao kira kok, tuh liat, iblis granat kita senyum-senyum manis. Todo-kun dengan muka nggak berekspresi dan Izu-chan senyum misterius. Ya? Nggak ngeri 'kan ya? Makanya jadi tameng ya? #panik #darikejauhanterdengarteriakanHowitzer, Detroit, amaGiantIce

Lol, Kiri-chan bilang makasih ama Ao-chan, walopun dia tetep racik bubuk sianida buat dimasukin ke kopi atasan :P

Apa boleh buat, Mami Inko, yang sabar ya, habisnya Anda Maminya Tokoh Utama #keingetmemeyangbilangmaminyatokohutamaselalutewas, tapi kalo Tomu-Tomu sendiri, sepertinya itu karenaanak kecil itu terkadang lebih kejam dibanding orang dewasa #peribahasaapaini

Dan Abang Dispenser muncul dikiiiit kali ini, tapi moga2 next chapter dia muncul lebih banyak. Namanya disebut beberapa kali, begitu juga fotonya, semoga cukup terpuaskan kali ini ya :P

Untuk suara Kacchan, IYA BETUL! Set lagi suaranya ke mode default yang biasa. Suara yang bikin Deku ketar ketir. Ini dia, Kacchan default mode on. Tsundere mode on. Dan pesannya, iyaa, dari Abang Dispenser. Sebelum doi banting henponnya dan bikin tuh henpon tewas :P

Wow, sekarang Ao-chan menjelma menjadi Detektif Ao! Gawat! Kasus semakin pelik, Detektif Ao! Apa yang mesti kita lakukan? XD

Arisa-chan :iyaaa, kena bentak Kacchan TTATT, terus dihancurin lagi imagenya, Kacchan emang supertega #toeltoeliblisgranat #dikasihlirikanmaut #resletingmulut #keepsilent

PS : hemmm, Fem!Kacchan sepertinya boleh juga #ketawa2mesum #iblisgranatdisamping #diledakinlagi #authordiledakinduakalitoday #saveauthor

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!