On previous chapter :

"Anda Bakugou-san?"/ Katsuki tidak dapat menjawab./

"Bukankah itu Midoriya?" Pemuda berambut merah itu turut mengikuti arah pandang Katsuki dan mengamati gadis berambut hijau yang kini tengah berbicara dengan atasan mereka. "Bagaimana mungkin dia ada di sini? Dan… kenapa dia sepertinya tidak mengenalmu?"/

"Gedung ini," potong Katsuki tiba-tiba, "milik perusahaan Todoroki?"/

Kedua rekannya terdiam sejenak sebelum menjawab. Salah satu dari mereka akhirnya berkata, "Memangnya aku belum mengatakannya?"/

"Lagipula, kurasa ini bagus untukmu." Aizawa kembali melanjutkan ucapannya. Ia menatap bawahannya tajam dan kembali berkata, "Melarikan diri sama sekali tidak cocok untukmu, Bakugou."


Boku no Hero Academia by Horikoshi Kóhei

90 days by cyancosmic

Warning : AU, OOC a lot, Typos, Fem!Izuku

I'm not taking any profit for this ff : )

.

.

.

Enjoy!

Chapter 14: Catch your attention

Day 36

Tokyo, Avorende Tower

Harum biji kopi yang tengah diseduh memenuhi indera penciuman Izuku. Ia menghirup aroma yang menguar dari secangkir kopi di tangannya sebelum memindahkannya ke konter. Sembari menunggu suhu yang tepat, gadis itu beralih pada susu cair yang telah dibuka untuk dituangkan pada cangkir. Setelah dirasa cukup, ia mengangkat kembali kotak susunya dan menyajikan kopi untuk satu-satunya tamu yang telah menunggu.

"Silakan, Coffee Latte-nya!" Gadis itu berkata sambil menyerahkan cangkir berisi minuman di hadapan si pembeli. Senyumnya terkembang begitu melihat si pembeli mengambil kopi dan menyesap minumannya perlahan. Tidak sabar menunggu reaksi pemuda itu, ia pun berkata, "Bagaimana kopinya, Shouto?"

Pemuda dengan rambut dwiwarna itu mengangkat kepalanya sejenak ketika mendengar namanya disebut. Diturunkannya cangkir yang ia pegang dan diletakkannya di atas meja sementara kedua manik dwiwarnanya tertuju pada si gadis barista. Senyumnya mengembang saat melihat gadis itu dan berkata, "Pas seperti biasa, Izuku. Terima kasih!"

Seulas senyum pun muncul di wajah gadis itu saat mendengarnya. Berhubung hari masih pagi dan tidak banyak pembeli yang datang, ia pun bersandar pada konter dan menemani pembeli satu-satunya itu. Dengan menopang dagu pada satu tangan, gadis itu berkata, "Senang mendengarnya!"

Mengangkat alis, pemuda yang duduk di hadapan si barista itu kembali mengangkat cangkir dan menyesap kopi yang ia pesan. Setelah beberapa kali menyesap kopi barulah ia berkata pada gadis berambut hijau di hadapannya. "Maaf kau jadi harus ikut denganku bekerja sepagi ini karena Orang Tua itu mengatur banyak sekali jadwal meeting."

"Tidak apa-apa," jawab Izuku sambil menggelengkan kepala. "Aku senang bisa menemanimu, terlebih aku pun diizinkan untuk membuat kopi seperti sekarang."

"Segera katakan padaku kalau kau kelelahan," Shouto kembali berkata sambil menatap khawatir pada gadis di hadapannya. Tangannya menyentuh satu tangan gadis itu dan menggenggamnya. "Jangan memaksakan diri!"

Izuku kembali mengangguk dan berkata, "Aku tahu."

Menghela napas, Shouto pun kembali menatapnya. Kedua manik dwiwarnanya bersinar lembut saat ia menatap gadis itu, begitu juga dengan semua tingkah lakunya. Sikapnya membuat gadis barista di hadapannya seringkali salah tingkah dan menggaruk pipinya karena perhatian yang pemuda itu berikan. Beberapa kali ia akan mengalihkan perhatian dari Shouto dan berbisik pelan padanya.

"Shouto," cicit Izuku ketika pemuda itu kembali memandanginya, "mereka memandangi kita."

"Hm," jawab Shouto yang seringkali tak acuh setiap kali Izuku memperingatkan. Ia terus saja menatap gadis itu dengan manik dwiwarnanya seolah gadis itu dapat menghilang bila ia tak memerhatikan lekat. "Biarkan saja mereka, Izuku!"

Paham terhadap tingkah tunangannya, gadis berambut hijau itu hanya bisa memaklumninya. Ia membiarkan pemuda itu menggenggam tangannya sebelum rutinitasnya yang super padat itu dimulai. Tunangannya bilang, inilah caranya untuk mengisi energi di dalam tubuh sebelum menghadapi hari yang menyebalkan.

"Apakah hari ini juga jadwalmu padat, Shouto?"

Shouto mengangguk sementara tangannya membawa tangan gadis itu ke wajahnya. Ia menyentuhkan tangan si gadis ke pipinya dan berkata, "Sampai jam delapan malam. Tapi jangan khawatir, aku akan menjemputmu untuk makan siang."

"Tapi bukankah akan mengganggu jadwalmu?" Izuku bertanya padanya. "Aku bisa makan siang di kantin."

"Kalau begitu aku juga akan ikut makan di kantin," jawab Shouto cepat. "Aku ingin makan siang bersamamu."

Sekali lagi Izuku hanya dapat tersenyum mendengar tingkah sang kekasih yang enggan melepaskan pandangan sekejap pun darinya. Ia menepuk-nepuk pelan tangan pemuda itu dengan penuh sayang sehingga membuat pemuda itu menyandarkan kepala pada tangan gadis itu dan memejamkan matanya.

Selama beberapa saat pemuda itu hanya diam dan membiarkan rasa aman dan tenteram menguasainya. Ia memejamkan mata, terlena oleh aroma kopi yang menguar dari tangan si gadis. Ia ingin menikmati suasana ini lebih lama sebetulnya bila gadis itu tidak menepuk bahunya dan mengingatkan bahwa sudah tiba waktunya untuk masuk kantor.

"Sudah waktunya?" Shouto berkata seolah-olah ia tak tahu bahwa sudah saatnya untuk mulai bekerja. "Cepat sekali."

Gadis berambut hijau di hadapannya hanya dapat memberikan senyum manis diiringi dengan kepalan kedua tangan saat memberikan semangat. Suaranya membuat pemuda di hadapannya menghela napas sejenak dan meletakkan satu tangan untuk mengacak rambutnya pelan. Baru setelahnya pemuda itu bangkit dari kursi yang ia tempati dan beranjak menuju ke lift.

Setelah pemuda itu pergi, barulah Izuku berbalik pada mesin kopinya dan membersihkan noda yang berceceran di atas konter. Seiring dengan berjalannya waktu, para pengunjung mulai berdatangan dan banyak di antara mereka yang memilih untuk menunggu sembari memesan kopi. Bersama dengan karyawan yang lain, ia membantu menyiapkan kopi bagi para tamu yang datang. Ia nyaris tidak menyadari berapa lama waktu berlalu hingga seorang pemuda tiba di konternya dan memesan minuman.

"Satu Americano panas dan satu Café Latte," ujar suara itu.

Izuku pun menggerakkan kepalanya dan menoleh ketika mendengar suara yang terdengar familiar di telinganya. Ia tertegun sejenak ketika melihat rambut pirang kelabu dan sosok tinggi tegap berdiri di depan konter. Sosok itu sepertinya juga mirip dengan seseorang yang ia kenal, namun ia tak dapat mengingatnya. Ia hanya dapat memandangi pemuda itu lama hingga karyawannya menyerahkan papercup bertuliskan nama pemuda itu padanya. Tak punya pilihan lain, ia pun segera bergerak membuatkan pesanan.

Pemuda berambut pirang yang mengenakan kemeja hitam itu segera bergeser ke konter pengambilan ketika ia selesai membayar. Ia tengah memasukkan kartu kredit yang telah ia gunakan ke dalam dompet ketika Izuku meletakkan papercup berisi Americano miliknya. Melihatnya, entah kenapa Izuku ingin sekali mengucapkan pesanannya sehingga ia berkata, "Satu Americano milik Bakugou-san?"

Tanpa banyak bicara, pemuda berambut pirang pucat itu mengambil papercup yang ia letakkan di atas meja. Pemuda itu bahkan tidak menoleh padanya dan memilih untuk menggerak-gerakkan papercupnya untuk menurunkan suhu di dalam gelas sebelum meminumnya. Sikapnya membuat Izuku mengernyitkan dahi sedikit dan hendak menggumamkan namanya untuk kedua kali.

"Café latte untuk Bakugou-san?"

Sekali lagi pemuda itu hanya menyambar Café Latte yang telah ia letakkan di atas konter. Tanpa banyak bicara, pemuda itu meninggalkan tempat dengan Café Latte di tangannya. Melihatnya, Izuku hanya bisa mengernyitkan dahi dan menggerakkan kepalanya, namun ia memutuskan untuk tak memikirkannya sekali ini.


Day 37

Tokyo, Averende Tower

"Midoriya-san selalu datang pagi-pagi, ya?" Salah satu karyawannya akhirnya berkata padanya. "Kau selalu datang berbarengan dengan Todoroki-san."

"Ah,ya," jawab Izuku sambil menjalankan mesin kopi. "Shouto harus datang pagi karena ada meeting yang tidak bisa ia tinggal. Makanya aku ikut dengannya."

Karyawannya mengangguk dan menggumamkan o panjang saat mendengar penjelasannya. Namun pembicaraan mereka belum berhenti sampai di situ. Mendengar ceritanya, karyawan di tempatnya malah semakin penasaran dan berkata, "Kalian tinggal bersama?"

Sembari memiringkan kepalanya sedikit Izuku pun berkata, "Begitulah. Shouto bilang sebaiknya aku tinggal dengannya saja. Lagipula kami sebentar lagi akan menikah."

"Ah, begitu rupanya," ujar si karyawan saat mendengar perkataan Izuku. "Tanggal berapa pernikahan kalian dilangsungkan?"

Menggerakkan kepala, gadis itu berkata, "Sekitar akhir bulan depan."

"Eh? Cepat sekali!" Karyawannya berkata saat mendengar kabar tersebut. "Selamat ya, Midoriya-san, eh, Todoroki-san?"

"Ah, panggil saja aku Izuku," ucap Izuku sambil tertawa mendengar panggilan yang diberikan oleh karyawannya. Ia mengangkat tangannya dari mesin kopi dan mencuci tangannya yang terkena noda kopi. "Aku belum terbiasa dengan panggilan Todoroki."

Karyawannya hendak menanggapi, namun ketika melihat ada pengunjung yang sudah mengantri di depan konter ia pun menghentikan ucapannya. Dengan senyum terkembang, ia berjalan mendekat pada meja kasir dan menyapa pengunjungnya. "Selamat pagi. Ada yang bisa kubantu?"

"Satu Americano dan satu Café Latte," ucap suara yang sudah Izuku kenali. Lagi-lagi kepalanya terangkat saat mendengar suara itu dan ia tak heran ketika menemukan pemuda berambut pirang pucat yang tengah mengantri di depan kasir.

"Ah, Bakugou-san, ya?" Karyawan yang sebelumnya mengobrol dengan Izuku kembali berkata. "Ada lagi yang kau butuhkan, Bakugou-san? Sandwich, mungkin? Kami sedang ada promo Buy One Coffee get One Sandwich."

"Oh," jawab pemuda itu tak acuh dan menyerahkan kartu kreditnya. Ia membiarkan kasir mengambil kartu kredit sementara manik merahnya menatap ke arah lain.

"Bagaimana? Apakah Anda mau sandwich juga? Baru saja matang lho!"Si karyawan kembali berkata. "Kami membuatnya setiap hari pagi-pagi. Sandwich ini buatan tunangannya Todoroki-san."

Pengunjung yang tengah menunggu pesanan itu tidak mengatakan apa pun mendengar celotehan kasir yang melayaninya. Ia hanya bergumam singkat dan tanpa mengindahkan pembicaraan tersebut, pemuda itu berkata, "Jadi totalnya berapa?"

"E-eh, tunggu sebentar!" Si kasir terkejut dan segera menggesek kartu kredit yang diberikan ke mesin EDC. Ia memasukkan nominal pembayaran dan menunggu hingga transaksi berjalan. Baru setelahnya ia mengembalikan kartu tersebut pada si pengunjung seraya berkata, "Terima kasih!"

Pemuda berambut pirang yang sebelumnya mengantri itu tidak mengatakan apa-apa dan langsung bergeser ke tempat pengambilan. Sembari menunggu, pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku bajunya dan menghabiskan waktunya di sana. Manik merahnya terlihat begitu serius saat memandangi layar.

Melihatnya, Izuku mencoba untuk meletakkan Americano itu di sampingnya dan menunggu reaksi pemuda itu. Ia menaruh papercup berisi Americano tepat di samping kanan si pemuda, berharap tangan si pemuda akan menyenggol gelasnya. Tapi bukannya menyenggol, pemuda itu malah sengaja menggeser papercupnya sementara jemarinya terus berselancar di atas layar ponsel. Sepertinya pemuda itu sedang sibuk, tapi kalau memang waktunya padat kenapa ia masih bisa membeli kopi di jam kerja?

Alis Izuku terangkat seiring dengan rasa penasaran saat melihat pemuda itu. Ia pun meletakkan satu café latte yang dipesan si pemuda di samping kirinya. Kali ini sebelum pemuda itu menggeser papercup yang ia berikan, Izuku lebih dulu menyapanya dengan berkata, "Sedang sibuk, Bakugou-san?"

Jemari yang sebelumnya menari lincah di atas layar tiba-tiba terhenti saat mendengar suaranya. Namun manik merah yang bercahaya itu tidak sekalipun menatapnya. Bibirnya terbuka, tapi pemuda itu hanya mengambil café latte yang ada di samping. Ia menggumamkan terima kasih pelan sebelum memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tanpa berkata apa pun lagi, pemuda itu langsung beranjak dari kursinya dan meninggalkan Izuku yang masih memandangi punggungnya.

Punggung yang tegap, bahu yang rata dan langkah yang mantap membuat mata kaum hawa tertuju padanya. Hanya saja Izuku justru merasa aneh saat melihatnya. Tiba-tiba saja matanya terasa panas dan saat ia mengerjap, setitik airmata meluncur turun dari pelupuk matanya. Buru-buru ia menggerakkan jemari untuk menghapusnya dan mengangkat kepala untuk memandangi punggung yang kian lama kian menjauh. "Aneh," gumamnya sambil menatap punggung si pemuda berambut pirang itu, "kenapa aku merasa sedih saat melihatnya?"


Day 42

Tokyo, Averende Tower

"Orang itu datang setiap hari, ya?"

Izuku menoleh pada karyawan yang mengajaknya bicara. Ia tersenyum singkat sebelum berkata, "Siapa?"

"Itu lho," ujar karyawannya sembari mengelap cangkir untuk kopi, "pemuda tinggi tampan yang berambut pirang. Dia datang hampir setiap hari pada jam seperti ini."

Manik hijau itu berputar searah jarum jam ketika mendengar ucapan si kasir. Rambut hijaunya ikut bergerak saat kepalanya dimiringkan dan gadis itu pun berkata, "Maksudmu Bakugou-san?"

"Ah, ya," ujar karyawannya sambil menunjuk gadis yang akan segera menyandang nama Todoroki itu, "namanya Bakugou-san. Dia tampan sekali ya, Midoriya-san?"

Kali ini Izuku hanya tersenyum simpul mendengar komentar karyawannya. Ia tidak memungkiri kenyataan bahwa pemuda berambut pirang dengan manik merah yang seringkali datang berkunjung itu memang tampan seperti yang dikatakan karyawannya. Hanya saja ada sesuatu yang sedikit janggal setiap kali ia menatap pemuda itu. Mungkin ini hanya perasaannya saja, tapi entah mengapa ia seperti dihindari oleh pemuda itu.

"Dia juga sangat cool. Sulit untuk mengajaknya bicara." Karyawannya kembali meneruskan celotehnya. "Kurasa dia tipe yang hanya terbuka pada orang yang berhasil merebut hatinya. Tipe laki-laki yang langka di zaman seperti ini."

Izuku memilih untuk tidak berkomentar. Benaknya membayangkan pemuda berambut pirang yang seringkali duduk tepat di hadapannya. Padanya, pemuda itu tak pernah berbicara lebih dari dua patah kata. Hanya ucapan terima kasih satu-satunya ucapan yang pernah diterimanya dari pemuda itu.

"Menurutmu bagaimana, Midoriya-san?"

"Ng?" Kepala Izuku bergerak ke arah karyawannya. Ia meletakkan penyaring kopi yang tengah dipegangnya dan meletakkannya di bak cucian. "Bagaimana apanya?"

"Bakugou-san," ulang si karyawan sembari mendekat dan membawa serta piring kecil yang tengah di lap olehnya. "Bagaimana menurutmu?"

Gadis berambut hijau itu tampak berpikir sejenak sebelum menggelengkan kepala. Ia tersenyum sedikit dan berkata, "Aku tidak tahu. Maaf!"

Mengerutkan dahi karyawannya terlihat tidak puas dengan jawabannya. Ia semakin mendekat pada Izuku dan kembali berbisik, "Kau tidak tahu? Bagaimana bisa?"

"Ng, ya, aku tidak tahu," ulang Izuku lagi. "Kurasa dia memang tampan seperti yang kalian katakan, tapi hanya itu yang bisa kukatakan."

"Kau tidak tertarik padanya? Tidak ingin mengobrol lebih dekat?" Karyawannya kembali menyelidik. "Ada pria tampan yang sulit diajak bicara, kau tidak merasa tertantang untuk mengajaknya mengobrol dan membuka hatinya?"

Sekali lagi Izuku menggerakkan kepalanya dan berkata, "Ti-dak?"

Karyawannya menghela napas mendengar jawaban gadis itu. Ia pun kembali mengelap piring yang dipegang dengan tekun dan berkata, "Midoriya-san, aku tahu kau sudah punya seorang tunangan, tapi kurasa tidak masalah bila sekali-kali kau melirik pria lain. Kau tidak boleh terlalu setia pada satu orang pria saja, Midoriya-san! Nanti pria itu akan menganggap dirinya di atas angin dan tak menghargaimu lagi."

Dahi Izuku berkerut sedikit dan ia mengulangi perkataan si karyawan, "Apa… maksudnya?"

"Maksudku, pria itu makhluk yang senang dengan tantangan, jadi kalau ia melihat seorang wanita hanya diam dan tunduk seolah wanita itu adalah miliknya, pria itu akan menjadi bosan," karyawan berkata dengan nada serius. "Kalau seperti itu, nanti ia akan meninggalkanmu. Kau harus punya taktik agar pria itu tidak tinggi hati dan menganggapmu gampangan."

"Benarkah…," Izuku berkata sembari menatap karyawannya ragu, "itu?"

Menganggukkan kepala, si karyawan kembali berbisik dan berkata, "Percayalah padaku, Todoroki-san mungkin kelihatannya sangat menyukaimu, tapi begitu ia tahu tidak ada pria yang menjadi saingannya, ia bisa saja beralih pada wanita lain yang lebih menantang! Apalagi pria seperti dia pasti sudah bosan dengan wanita yang mudah didapat."

Kerutan di dahinya semakin dalam. Izuku mengerjapkan mata dengan bingung mendengar perkataan karyawannya. Ia bertanya-tanya, benarkah Shouto adalah orang seperti itu? Shouto yang selama ini selalu baik dan tidak pernah marah itu mungkinkah akan bosan padanya?

Saat ia tengah memikirkan kemungkinan tersebut, terdengar suara ketukan di meja kasir yang membuat keduanya terlonjak. Karyawannya yang tengah memegangi piring pun menghampiri suara tersebut dan terkejut ketika menemukan seorang pengunjung tengah mengantri di depan konter. Ekspresi bosan yang ia tampilkan sudah cukup untuk membuat karyawannya tergagap saat berkata, "A-a-ada yang bisa kubantu, Bakugou-san?"

Menghela napas, pemuda berambut pirang pucat yang tengah dibicarakan itu memegangi buku menu yang diletakkan di atas meja. Setelah ia membolak-balik halaman, ia mengucapkan pesanan yang sama dengan yang selalu dipesannya. "Satu Americano dan satu Café latte."

Mengulangi pesanannya sekali lagi, pemuda itu menyerahkan kartu kreditnya pada si kasir. Ketika ia melakukannya, karyawan yang tengah menerima menggesekkan kartu pada mesin kembali berkata, "Anda selalu sarapan pada pukul segini ya, Bakugou-san?"

Seperti biasanya pemuda itu tak acuh terhadap pertanyaan yang diajukan karyawannya. Bahkan hingga kasir menyerahkan kartu, pemuda itu tetap tidak menjawab dan hanya bergeser ke samping. Tanpa ia ketahui, sikapnya membuat si kasir menggelengkan kepala dan menyilangkan tangan di depan dada pada Izuku.

Isyarat itu membuat Izuku kembali memutar bola matanya. Ia menatap pemuda yang kembali mengeluarkan ponsel sembari menunggu pesanannya dibuatkan. Seperti biasa, perhatian pemuda itu hanya tertuju pada apa yang ditampilkan oleh layar dan tidak tertarik untuk berbicara dengan sekitarnya. Sedikit banyak, sikapnya membuat Izuku memutuskan untuk memberi sedikit pelajaran untuknya.

Diambilnya kopi yang telah ia seduh dan ia masukkan ke dalam papercup bertuliskan 'Bakugou-san'. Ia memasukkan takaran seperti biasa untuk Americano milik pemuda itu, bedanya ia juga menambahkan topping lain ke dalam Americano miliknya. Dengan sengaja ia menambahkan sea salt dan mengaduknya pelan-pelan. Setelahnya ia menyerahkannya ke samping pemuda itu dan segera berbalik untuk membuat pesanan yang satunya.

Kali ini, Izuku sengaja membuat pesanannya yang lain sedikit lebih lambat. Ia sengaja berlama-lama mengaduk kopi yang seharusnya ia campurkan ke dalam papercup. Ia menunggu hingga tangan si pemuda berambut pirang itu meraih kopi yang ada di sebelah kanannya. Diamatinya saat pemuda itu menggoncang-goncangan papercup yang dipegangnya sesaat sebelum ia mendekatkan ke bibirnya.

Manik hijau Izuku terus tertuju pada papercup yang dipegangi pemuda itu. Ia memerhatikan saat pemuda itu menyesap kopinya dan menantikan reaksinya. Ditunggunya hingga pemuda itu menurunkan papercupnya sebelum menyerahkan café latte yang juga dipesan pemuda itu.

Pemuda itu meletakkan Americano yang diminumnya di samping sebelum mengalihkan pandangan pada café latte yang diletakkan Izuku. Ketika ia melihat pesanannya yang satu lagi, pemuda itu pun memasukkan ponselnya ke saku dan segera mengambil pesanannya. Kali ini pun pemuda itu langsung berlalu tanpa mengucapkan apa-apa pada Izuku.

Melihatnya, Izuku pun mengerutkan alisnya dan menatap punggung pemuda itu. Ia yakin ia sudah banyak sekali memasukkan sea salt, tapi pemuda itu tak mengatakan apa pun. Apakah seharusnya ia memasukkan banyak gula agar pemuda itu bicara?

Ia penasaran. Ia sangat ingin tahu kenapa pemuda itu tak sekalipun bicara padanya. Ia yakin pemuda itu bukan tunawicara, buktinya ia masih bisa berbicara dengan kasir. Tapi setiap kali pemuda itu beralih ke konter pengambilan, pemuda itu tak bicara sepatah kata pun dan selalu sibuk dengan ponselnya. Padahal saat membeli maupun meninggalkan konter, pemuda itu sama sekali tidak melihat ponsel.

Apakah jangan-jangan ini bukan perasaannya semata? Apakah jangan-jangan pemuda itu memang menghindarinya? Apakah pemuda itu adalah orang yang dikenalnya namun tak bisa diingatnya? Izuku ingat waktu pertama kali mereka bertatapan, pemuda itu sangat terkejut. Ia dan rekannya memanggil namanya waktu itu dan mungkin itulah percakapan terpanjang yang mereka lakukan selama ini. Sisanya, pemuda itu hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun padanya.

Mungkinkah pemuda itu tidak tahu bahwa ia kehilangan ingatan? Mungkinkah pemuda itu mengira bahwa ia sudah melupakannya dan membalasnya dengan tidak menggubrisnya?

Kepalanya terangkat dan ia pun berbalik dan hendak keluar dari konter untuk menanyai pemuda itu langsung. Saat ia melakukannya, karyawannya yang tengah berjalan di belakang sambil membawa air panas pun menubruknya tanpa sengaja. Akibatnya, air panas pun mengenai tangannya sehingga ia meringis.

"Astaga! Midoriya-san!" Karyawannya berkata dengan panik. "Tanganmu…"

"T-tidak apa-apa," Izuku berkata sembari memegangi tangannya yang sedikit nyeri akibat terkena siraman air panas. Ia menggerakkan tangannya yang lain untuk menenangkan si karyawan dan bergerak menuju bak cuci piring. "Bukan luka besar."

"Tapi kulitnya sampai memerah," ujar si karyawan yang mulai panik melihat rona merah mulai menyebar di tangan gadis berambut hijau itu, "bagaimana ini?"

"Tidak a-…"

Sebelum Izuku menyelesaikan ucapan, seseorang sudah lebih dulu menarik tangannya dengan kasar dan menyalakan kran. Selama beberapa saat ia menahan tangan Izuku dan membiarkan air dingin menyirami tangannya yang tersiram air panas. Sesekali orang yang menarik tangannya akan membolak-balikkan tangannya hingga rasa nyerinya mulai berkurang.

"Apa ada handuk bersih?" Orang itu bertanya pada si karyawan sementara kedua tangannya tetap sibuk memegangi tangan Izuku yang diletakkan di bawah pancuran. "Sebaiknya kau segera membungkusnya dengan handuk basah sebelum mengoleskan salep luka bakar."

Bukannya menjawab, baik Izuku maupun karyawannya justru terpana melihat pemuda yang muncul di samping mereka. Manik hijau Izuku mengerjap saat melihat pemuda itu sementara kepalanya bergerak miring. Dibanding menjawab pertanyaan pemuda itu, Izuku malah berkata, "Bakugou-san?"

Mendengar namanya disebut, manik merah pemuda itu pun tertuju padanya. Satu alisnya terangkat sedikit mendengar namanya dipanggil dan pemuda itu pun berkata, "Handuk. Apakah ada?"

"A-akan segera kuambilkan," ucap karyawannya yang segera melesat ke dapur dan meninggalkan keduanya di depan. Tak lama kemudian ia pun muncul dengan handuk bersih di tangan yang langsung diserahkan pada pemuda berambut pirang itu. "I-ini handuknya!"

Katsuki mengambil handuk yang diberikan tanpa banyak bertanya. Ia membasahi handuk tersebut dengan air dingin. Dengan hati-hati ia mengangkat tangan Izuku dari pancuran dan membalutnya dengan handuk yang sudah dibasahi. Sembari melakukannya, ia pun berkata, "Lukanya tidak parah, tapi sebaiknya kau segera ke dokter."

"Ah, t-terima kasih," ucap Izuku saat pemuda itu melepaskan tangannya.

Pemuda berambut pirang itu hanya menaikkan alisnya sekali lagi. Begitu tak ada lagi yang perlu dilakukannya, ia pun segera berbalik dan mengambil dua papercup yang ia letakkan di meja sebelumnya. Ia menyesap papercup miliknya terlebih dulu sebelum kembali berjalan dan meninggalkan Izuku dan karyawannya. Namun sebelum itu terjadi, Izuku sudah menghalangi langkahnya.

"T-tunggu sebentar Bakugou-san,"ucap Izuku yang berdiri menghalangi jalan.

Alis terangkat dan pemuda berambut pirang itu berhenti di tempat. Ia tidak mengatakan apa pun dan menunggu gadis di hadapannya bicara.

Izuku mengambil napas dan menghembuskannya terlebih dulu. Baru setelahnya ia mengangkat kepala dan berkata, "Kupikir ... sepertinya aku salah membuat pesanan. Apakah kopimu terasa aneh hari ini?"

Selama beberapa saat pemuda itu hanya diam sambil menatap ke arah lain. Namun perlahan-lahan, manik merah yang sebelumnya tak pernah tertuju padanya akhirnya bertemu kembali dengan manik hijaunya. Sembari mengangkat bahu pemuda itu berkata, "Kukira aku salah menyebut pesanan."

Perlahan, seulas senyum merayap muncul di wajah Izuku. Ia pun tertawa kecil saat mendengarnya dan berkata, "Maafkan aku. Apakah kau keberatan bila menunggu sebentar? Akan kubuatkan kopi yang baru untukmu."

Kepala pemuda itu bergerak sedikit dan ia berkata, "Mungkin lain kali."

"A-eh?" Izuku berkata sambil menatap pemuda berambut pirang itu. Ekspresi kekecewaan yang begitu gamblang terlihat di wajahnya. Ia pun menundukkan kepalanya dengan sebelah tangan memegangi tangannya yang sedang terluka dan berkata, "B-begitu, ya?"

Tidak terdengar suara dari pemuda itu, namun tak lama kemudian Izuku melihat pemuda itu menunjuk tangannya. Padanya pemuda itu berkata, "Setelah tanganmu sembuh."

Kepala terangkat dan Izuku pun mengerjapkan mata mendengarnya. "Eh?"

"Sebaiknya kau cepat ke dokter," tunjuk pemuda itu ke arah tangannya yang masih terbungkus handuk. "Setelahnya baru aku akan datang dan menagih satu Americano."

Untuk sesaat Izuku menatapnya sebelum seulas senyum lembut kembali terkembang di wajah. Gadis itu pun mengangguk mantap dan berkata, "Baiklah. Aku janji."

Nyaris tak terlihat, tapi Izuku yakin ia menangkap seulas garis lengkung yang lembut dari wajah pemuda berambut pirang di hadapannya. Hanya saja pemuda itu dengan segera memalingkan wajah dan baru saja hendak mengucapkan sesuatu ketika seseorang memanggil nama gadis itu. Ketika mendengarnya, Izuku pun mengalihkan pandangan dan melihat tunangannya tengah berjalan mendekat pada mereka.

"Kau tidak apa-apa?" Tunangannya yang baru saja datang langsung menghampiri keduanya dan menyentuh tangannya yang terbungkus handuk dengan hati-hati. "Mereka bilang kau tersiram air panas, apa kau baik-baik saja?"

"Ah, aku baik-baik saja, Shouto," ucap Izuku sambil menepuk-nepuk tangan tunangannya. Kepalanya bergerak pada pemuda di hadapannya dan berkata, "Nyerinya pun sudah nyaris hilang karena Bakugou-san sudah membungkusnya dengan handuk basah."

Manik dwiwarna tunangannya mengerjap mendengar nama yang meluncur dari bibir si gadis. Perlahan-lahan ia mengangkat kepalanya dan mengalihkan pandangan dari tangan gadis itu. Sembari menyipitkan mata, Shouto pun berkata, "Bakugou?"

Izuku sekali lagi mengangguk dan menggerakkan kepalanya ke arah pemuda berambut pirang yang sedari tadi berdiri di hadapannya. Sikapnya membuat tunangannya mengikuti arah pandangan matanya dan menatap pemuda berambut pirang yang sudah tak asing. Hanya satu orang yang ia tahu memiliki nama Bakugou dan senang berkeliaran di sisi tunangannya.

"Ah," ucap Shouto sambil menatap pemuda itu, "begitu."

Pemuda yang diperkenalkan Izuku pun memberinya tatapan tanpa ekspresi. Ia mengangguk sedikit saat mendengar namanya disebutkan dan berkata, "Bakugou Katsuki, senang bertemu Anda."

"Senang," balas Shouto dengan nada getir, "bertemu Anda juga, Bakugou-san."

"Sama-sama," jawab pemuda di hadapan Shouto dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca. "Kalau begitu, aku duluan."

Tanpa banyak bicara, pemuda berambut pirang itu langsung berjalan melewati keduanya. Ia bahkan tak lagi menoleh ke belakang dan terus berlalu meninggalkan keduanya. Setelah ia tak lagi terlihat, barulah Shouto mengalihkan perhatian pada tunangannya kembali.

"Kau tidak apa-apa, Izuku?" Shouto kembali berkata sambil menatap Izuku. "Tanganmu baik-baik saja? Ayo kita segera ke dokter!"

"Aku baik-baik saja, Shouto," jawab Izuku cepat untuk menenangkan tunangannya. "Kau tidak perlu cemas."

Menggelengkan kepala Shouto kembali membujuknya dengan berkata, "Kita ke dokter, ya? Supaya tidak membekas."

Izuku masih ragu-ragu sehingga ia berkata, "Tapi bukankah Shouto ada meeting? Apa Paman Enji tidak keberatan bila kau tidak hadir?"

"Jangan pikirkan dia," jawab Shouto cepat. Kali ini tanpa menunggu jawaban Izuku, pemuda itu menarik tangannya yang tidak terbungkus handuk dan berkata, "Ayo kita ke dokter!"

Walaupun sedikit ragu Izuku tidak punya pilihan selain mengikuti tunangannya. Langkah kakinya bergerak seiring dengan langkah tunangannya. Mereka terus berjalan hingga tiba di depan sebuah mobil mewah berwarna silver yang diparkir di tempat khusus Direksi. Izuku mendekat pada pintu mobil yang telah lebih dulu dibukakan oleh tunangannya dan masuk ke dalam.

Tak lama kemudian, tunangannya mengitari mobil dan mengambil tempat di sampingnya. Mesin pun dinyalakan dan mereka berkendara di jalanan pagi yang cukup padat. Sembari berkendara, tunangannya menghela napas dan bergumam, "Ada-ada saja. Padahal kau sedang kehilangan ingatan tapi tanganmu malah tersiram air panas."

"Ah, ya," jawab Izuku sambil mengangkat tangannya, "aku kurang hati-hati."

Menggelengkan kepala, Shouto pun berkata, "Mungkin seharusnya aku tidak mengizinkanmu bekerja."

Terkejut, Izuku segera mengalihkan pandangan pada tunangannya dan dengan panik ia berkata, "I-Ini salahku yang kurang hati-hati. Aku akan berhati-hati lain kali, tapi tolong izinkan aku bekerja, Shouto."

Kembali menghela napas Shouto menggerakkan kepalanya sedikit pada gadis yang duduk di sampingnya. Pada gadis itu ia berkata, "Aku hanya tidak mau kau terluka. Mengertilah, Izuku!"

"Aku… mengerti," ucap Izuku perlahan. "Tapi, aku suka bekerja di sana."

"Ng?"

"Aku suka… kesibukan saat membuat kopi," ucap Izuku sambil menundukkan kepala dan menyentuh tangannya yang dibalut dengan handuk. "Walau melelahkan tapi setiap hari rasanya menyenangkan."

"Tapi tetap saja..."

"Kumohon, Shouto!" Gadis itu kembali berkata dengan nada membujuk.

Menatap gadis di sampingnya sekali lagi Shouto hanya dapat menghela napas. Ia mengangkat tangannya dari kemudi dan menyentuhkannya di atas kepala gadis itu. Walau sedikit keberatan ia tidak punya pilihan selain berkata, "Baiklah, tapi lain kali kau harus berhati-hati. Aku tidak mau melihatmu terluka."

Mengangguk, Izuku pun kembali menyunggingkan senyumnya dan berkata, "Aku akan lebih hati-hati."

"Bagus," ucap Shouto senang. Ia pun mengangkat tangannya dan kembali meletakkannya di atas kemudi. Pandangannya kembali tertuju pada jalanan saat ia berkata, "Ngomong-ngomong Bakugou-san itu kenalanmu, Izuku?"

"Oh," ucap Izuku saat mendengar nama itu disebut. "Dia pelanggan tetap di kafe. Entah kenapa dia selalu memesan minuman yang sama hampir setiap hari."

Manik dwiwarna Shouto berputar sejenak dan ia berkata, "Setiap… hari?"

"Ya, dia selalu memesan Americano dan Café Latte hampir setiap hari," ulang Izuku yang kini mulai membayangkan pemuda berambut pirang yang tengah mereka bicarakan. "Tapi dia tidak banyak bicara dan baru tadi dia berbicara panjang lebar denganku. Sepertinya dia orang yang sulit bicara."

Shouto tidak mengucapkan apa pun sebagai tanggapan. Namun tangannya yang mengepal erat di atas kemudi sudah cukup untuk menunjukkan perasaannya. Sayang tunangannya tidak menyadarinya dan malah bercerita panjang lebar soal pemuda yang tidak ingin ia dengar lagi namanya.

Heran, padahal Shouto sudah berusaha setengah mati agar mereka berdua tidak lagi bertemu. Tapi entah kenapa pemuda itu masih muncul di sekitar Izuku layaknya magnet. Mungkin sudah saatnya ia mengambil tindakan untuk semua kebetulan semacam ini.

"Oh ya bicara soal kafe, di bawah apartemenku pun akan dibuka kafe," Shouto tiba-tiba berkata sambil memutar kemudinya, "apa kau tertarik untuk melihatnya, Izuku?"

"Kafe? Oh, ya?" Izuku berkata dengan nada riang. "Di mana? Aku tidak tahu ada kafe yang akan dibuka di sekitar apartemen."

"Ada, satu," lanjut Shouto, "pemiliknya merupakan salah satu kenalanku dan kalau kau berminat aku bisa mengenalkanmu padanya. Kau bisa bekerja di sana kalau mau."

Menggerakkan kepalanya sejenak Izuku pun berkata, "Ah, bekerja di sana, ya?"

"Bagaimana menurutmu?" Shouto kembali bertanya sementara dari sudut matanya ia mengamati reaksi gadis yang duduk di sampingnya itu. "Apa kau tertarik untuk bekerja di sana? Lebih dekat dengan apartemen sehingga kau tidak kelelahan."

Izuku bergumam sedikit sebelum berkata, "Menarik, tapi kurasa sebaiknya aku fokus pada kafe di kantormu dulu, Shouto."

"Kenapa? Kau 'kan belum melihat tempatnya?"

Tertawa, Izuku pun berkata, "Bukan begitu, masalahnya aku sudah janji pada Bakugou-san untuk membuatkan Americano sebagai ganti yang hari ini. Mungkin setelah itu aku akan memikirkannya kembali."

Shouto menyipitkan mata mendengarnya. Tangannya yang berada di atas kemudi memperlihatkan buku-buku jarinya yang memutih karena ia mencengkeramnya terlalu kuat. "Berjanji padanya?"

Tanpa menyadari perasaan Shouto, gadis itu menganggukkan kepala dan berkata, "Ya, tadi aku sengaja mencampurkan seasalt untuk membuatnya bicara, tapi ternyata tidak berhasil. Jadi aku berjanji untuk membuatkan Americano yang biasanya ia minum sebagai ganti hari ini."

Sekali lagi Shouto terdiam sementara manik dwiwarnanya tertuju ke tempat lain. Ia menatap jalanan di sampingnya sebelum berkata. "Begitu, rupanya."

Menyadari perubahan nada suara tunangannya, Izuku pun menoleh pada pemuda itu. Kepalanya bergerak sedikit saat ia berkata, "Ng? Ada apa, Shouto?"

Tunangannya menoleh dan menatapnya. Rasa nyeri menusuk daging di telapak tangan Shouto, namun pemuda itu tetap memasang senyum menenangkan di wajah seraya berkata, "Tidak, tidak ada apa-apa, Izuku."

.

.

.

(t.b.c)


A/N :

Tada! Double update! Roda gigi saya buat ff ini akhirnya kembali berputar XD, btw :

Fujoshi desu XD : coba itu koleksinya tolong di share pada alamat email di bawah ini :P tolong dibagi demi kelangsungan hidup roda gigi 90 days di kepala author (#malahmalak #gakgituoy) Nah, akhirnya Fujocchi terjebak juga seperti ane. Tapi entah kenapa ane sudah cenderung condong pada satu pilihan sih sekarang :P

Votiel : ehe, mau ke mana pun si pirang berlalu, mantan pacar tetep aja membayang-bayangi. Emang ngenes banget mantan yang satu ini :P

Arisa-chan : holla Risa-chan :D apa kabarr? Saia uda lama nggak nongol di 90days gegara kemaren ngikut event :P terus keterusan, terus kena wb, terus kejebak rl, dan baru akhirnya jalan lagi setelah beberapa bulan lamanya XD saia bersyukur masih diberikan ide buat melanjutkan ff ini, lol

Aniway, Kacchan emang ngenes dan miris nasibnya, mau move on eh mantannya beneran depan mata. Nggak bisa melarikan diri walaupun ingin, dan sekarang pacar sah nggak rela kalau mantan pacar muncul terus di depan mata. Mau CLBK aja susah banget. Super ngenes memang Abang Iblis Granat satu ini.

Tapi dibilang sosok rambut pirang, begitu liat aslinya Izuku malah nggak ngenalin :P padahal abang yang selama ini jagain Dedek Izuku, tapi Dedek malah nggak inget. Sakit kayaknya kokoro si Abang T_T

Btw, PS : saia masih pertimbangin nih :P tapi saia ngomong paitnya dulu, mohon maaf banget kalo nggak jadi ane realisasi berhubung… hutang saya juga ada di ff lapak sebelah T_T saia nggak kuat sama interaksi si Jingga dan si Kelelawar.

And for all of you thank you for reading this fic and if you mind, please leave any review so I know there's someone read this fic.

Thank you once again and PLUSSSS ULTRAAAA!