Ada sebuah realita yang menggantikan posisi cita dalam angan yang akan ia kejar. Chanyeol bercita-cita untuk menjadi seorang arsitek. Namun karena keadaan ekonomi dan depresi membuatnya terpaksa putus untuk melanjutkan perguruan tinggi yang tengah ia geluti masa itu.

Bertemu dengan sang idola juga mendesaknya dalam sebauh fantasi liar berdasarkan simbolis mutualisme. Dirinya begitu terhormat ditempanya bekerja paruh waktu. Dan berhubung Baekhyun juga merupakan pemilik sebuah bar terkenal di Seoul, tempat di mana ia bekerja sebagai seorang bartender, maka tidak diragukan pula jika dia menjadi salah satu orang yang di tawarkan pekerjaan dengan kesepakatan matang oleh wanita bermarga Byun itu.

Dengan ketampanan dan aura kelelakian yang kental beserta ketampanan bernilai 100, ia diberi tawaran untuk menjadi model di mana tempat Baekhyun beradu akting.

Bukan dengan mudah pula Chanyeol menerima penawaran yang mempertaruhkan harga dirinya itu. Ia memerlukan waktu lebih dari satu bulan untuk berpikir matang sebelum melangkahkan kaki ke gedung agensi tempat Baekhyun bernaung dan menandatangani kontrak.

Sesi perkenalan dan casting adalah hal tercanggung di dalam hidupnya. Ia bukan hanya sekali bertelanjang di depan para wanita, namun jika itu berhadapan dengan beberapa wanita juga pria yang menjadi staff hingga kepala agensi, Chanyeol seperti ingin menggantungkan kepala di atas gedung pencakar langit lalu menendangnya ke bawah kota.

Dan saat ia di sentuh oleh salah satu pemain wanita untuk menguji kemampuan aktingnya, ia terlena dan berakhir dengan beesetubuh di hadapan banyak orang. Hingga kini ia tidak merasa canggung lagi di hadapan kamera dan melakukan adegan seks berbagai cara atas naskah skenario, dari di dalam rumah hingga di tempat umum yang sepi, Chanyeol selalu menjajalkan penisnya di lubang vagina para pemeran wanita yang binal. Termasuk favoritnya, Baekhyun.

Matahari masih bertengger dengan bangga di atas langit biru polos tanpa awan. Aktivitas yang digeluti sebagian besar oleh orang-orang masa produksi juga semakin padat memenuhi jalanan.

Beberapa pertengkaran kecil antara mereka yang terlibat perbedaan pendapat juga tak luput dari atensi. Beberapa yang lain juga ada yang memadu kasih tanpa perlu repot-repot memedulikan dimana mereka berada.

Sedang Baekhyun tengah berdiri di bawah rindangnya pohon ek, baru keluar dari gedung agensi setelah dipanggil menemui kepala tertinggi mereka mengenai keuntungan agensi yang melonjak naik setelah dirinya beberapa kali memerankan adegan bersama lelaki yang ia ajak untuk menjadi bintang disana, Park Chanyeol. Dia hanya dipanggil untuk diinformasikan secara langsung jika bayarannya akan naik beberapa persen kedepannya. Selain ada kesepakatan 'rahasia' anttara dia dan boss, mungkin Baekhyun benar tidak akan datang kemari.

Baekhyun mengetikkan pesan di papan selancar internet saat mendapatkan informasi dari sekretaris bahwa hari ini tidak ada kegiatan apapun yang harus di lakukannya.

Si cantik itu mengecek arloji putih dipergelangan dan mendesah bosan. Kiranya sudah sepuluh menit dia disana, menunggu seseorang yang memiliki janji dengannya. Dengan alasan itu pula ia tidak perlu repot-repot mengemudi membawa audi kesayangan.

Baekhyun berdecak sebal saat sebuah mobil volvo berwarna hitam mengkilap menerangi intensitas cahaya yang tertangkap pupilnya. Saat ia mengangkat kepala, Chanyeol menatapnya dengan senyum jahil yang kekanakan dari kursi kemudi.

"Halo, cantik. Sudah lama?"

Baekhyun memutar bola mata dan bergegas masuk ke volvo-nya, Chanyeol tertawa dengan suara lembut dan memakaikannya sabuk pengaman. Saat Baekhyun membuat posisinya menjadi nyaman, ia membuka suara.

"Maafkan aku, oke?"

"Aku selalu memaafkan keterlambatanmu tuan lamban." Cibirnya. Chanyeol yang sudah mengenalnya dengan baik tidak mempermasalahkan sikap sinis itu, karena ia tahu jika Baekhyun tidak akan pernah bertahan lama memusuhinya.

"Jadi kita akan makan dulu atau bagaimana?"

"Oh, aku tidak terbayang jika ini akan menjadi kencan pada akhirnya." Sindirnya. Chanyeol menyalakan mesin mobil dan menghardikkan bahunya. "Tapi jika itu benar, itu bukan ide buruk."

"Tentu saja. Tidak sama sekali." Tambah Chanyeol. Saat mobilnya berbelok di penghujung jalan utama, Baekhyun terbatuk karena merasa haus. Chanyeol yang mendengarnya menoleh sekilas. "Kita bisa berhenti di apotek jika kau mau."

"Boleh." Balas Baekhyun sambil menurunkan sedikit kaca mobil dan menghirup udara yang berhembus. "Kapan lagi kita ada jadwal bersama?"

Buka Chanyeol setelah beberapa saat tertelan keheningan.

"Itu besok, sekretarisku memberitahuku beberapa detail dsn tentang adegannya." Baekhyun masih menatap keluar jendela saat menjawab pertanyaannya.

"Benarkah?" Chanyeol terlihat tersenyum dari suaranya. "Kau bisa tanyakan ke sekretarismu langsung jika kau meragu."

"Itu sama saja membunuh diri sendiri namanya."

Saat mendengar jawaban Chanyeol, Baekhyun melemparnya menatapnya dan tersenyum geli tapi tidak mengerti seluruhnya. "Kenapa kau menyebutnya menjadi penyebab kematianmu?"

"Dia seram. Kau tahu."

Baekhyun jelas tertarik dengan pembahasannya. Jadi dia membenarkan duduk bahkan lebih condong pada Chanyeol. "Seseram apa?"

"Sangat seram."

"Seperti monster?"

"Kau tahu. Dia hyper sex. Sebenarnya bukan itu masalahnya, tapi dia selalu memaksaku mengeluarkan milikku untuk dia oral."

Baekhyun terlihat menahan tawanya, wajahnya memerah kemudian dia menyerah dan tertawa lepas. Chanyeol meringis melihatnya. "Tapi oralnya sangat bagus, asal kau tahu." Belanya. Baekhyun memberi jeda pada tawanya kemudian menatapnya menggoda.

"Masih hebat mana dengan oral yang kulakukan?"

"Aku perlu perbandingan," desahnya.

"Baik. Mari buktikan, malam ini. Di apartemenmu."

"Malam ini, Miss. Byun." Chanyeol mengulangnya dengan nada licik.

Ketika mobil berhenti di depan apotek di tepi jalan, Baekhyun turun dan berselang sepuluh menit ia kembali dengan kaplet yang ia butuhkan dan beberapa kemasan familiar lainnya.

"Oh, apa kau membeli test pack?"

"Dan pengaman." Baekhyun memperlihatkan beberapa kotak kontrasepsi dan dua buah test pack dalam kemasan. Chanyeol mengerang frustasi. "Wow. Kau bersungguh-sungguh." Komentarnya dan menyalakan mesin mobil. Baekhyun menyimpan barangnya.

"Dan untuk apa test pack?"

"Aku akan memeriksa diriku, aku perlu melakukannya mengingat seminggu yang lalu kita mendapatkan adegan berempat bersama Kris dan Sehun tanpa kondom." Jelasnya. Chanyeol mendengus saat mendengar nama pria lain keluar dari bibir Baekhyun.

"Sebenarnya kita akan membahas apa?"

Kata Baekhyun memulai kembali. Mengingat tujuan utama mereka bertemu untuk membahas sesuatu yang Chanyeol ajukan padanya. Mungkin sebuah diskusi atau kontrak, tapi dia bahkan tidak membicarakan kontraknya dengan manajemen meski kontaknya kini hanya tinggal satu tahun sebelum ia memutuskan untuk kembali menandatangani kontrak lagi atau memilih keluar dari agensi.

Disebelahnya, Chanyeol terlihat memandang serius jalanan yang tidak terlalu ramai. Mengabaikan pertanyaan Baekhyun.

"Hei, kau dengar aku? Chanyeol?" Baekhyun melambaikan tangannya di depan wajah melamun Chanyeol dan lelaki itu terlihat tersentak. "Ya, apa yang kau katakan?"

Baekhyun memutar bola matanya. "Lupakan." Balasnya dan menatap lurus ke depan. Chanyeol sedikit panik dan menyentuh bahunya. "Hei, jangan marah, oke? Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu. Maafkan aku." Sesalnya. Baekhyun menatapnya sekilas dan menghela nafas pelan.

"Tidak apa, kita bisa membicarakannya setelah makan siang."

Dan mobil pas berhenti di parkiran sebuah restoran Jepang.

"Kau mengecat rumahmu?" Baekhyun masuk dengan Chanyeol yang mempersilakannya. Ia meletakkan tasnya di sofa dan berbalik menghadap Chanyeol yang menutup pintu. Matanya penuh gairah, tatapannya dalam dan sarat akan kebutuhan. Baekhyun menggigit bibir kecil dan berjalan mengikis jarak, mengalungkan lengan di lehernya kemudian menciumnya dengan sensual.

Chanyeol menggeram. Menarik tubuh ramping itu lebih dekat dan mencumbu lebih dalam. Baekhyun meleguh lembut, dengan suara serak yang menggoda. Chanyeol melepaskan ciuman dan membalik tubuh itu. Membawa tangan pada payudaranya dan meremas dengan teratur.

"Ohh, Sial. Chanyeol." Baekhyun berpegangan pada lengan kokoh pria itu, mendongakkan wajahnya yang merona saat lidah Chanyeol menyapu di sepanjang tengkuk. Lidah Chanyeol berputar dan bibirnya melumat dengan lembut.

Baekhyun mendesis geram. Membalik diri dan mendorong Chanyeol, memojokkannya pada dinding dan kembali menciumnya dengan keras.

Chanyeol membalas dengan tak kalah liar, menghisap lidahnya yang lembut dan hangat. Melumat habis bibirnya yang halus dan kenyal. "Asshh... Chanhh"

Baekhyun melepas diri. Menarik tangan Chanyeol menuju sebuah ruangan yakni kamar Chanyeol. Sedangkan pria itu sendiri hanya diam dan mengikuti kemana Baekhyun membawa mereka, matanya tertuju pada gundukan sintal bokongnya yang bulat dan hampir keluar dari gaun. Chanyeol membawa tangannya meremas bokong itu, membuat Baekhyun membalik wajah dan mengerling nakal lalu tertawa centil. Chanyeol menyeringai.

Ia merogoh saku dan menemukan kunci kamarnya. Baekhyun menunggu dengan tangan dilipat dan memerhatikannya. "Kau tinggal sendiri tapi masih mengunci pintu kamarmu?" Baekhyun nyaris tak percaya itu. Chanyeol melempar tatapan nakal kemudian menariknya masuk ke dalam.

"Aku punya seorang ibu yang posesif, dia tahu sandi apartemenku. Dia akan membuka dan mengeledah seisi ruangan jika ia bisa membukanya."

"Kenapa kau begitu takut?"

"Oh, sayang. Mulutmu benar-benar ingin tahu segalanya. Dia akan terkena serangan jantung saat tahu aku sering membawa para wanita den memajang foto kemaluan mereka di dinding privatku."

"Red Room of Pain, apa kau memilikinya?" Chanyeol menoleh padanya. Matanya menyala dan terkejut, Baekhyun menghardikkan bahu acuh dan berjalan mengitari kamarnya yang luas. "Kau sebenarnya orang kaya. Tapi kau tidak bersikap sebajingan itu."

"Apa kau mau aku bawa ke sana?"

"Ya, tapi lakukan lain waktu. Sekarang aku lebih ingin liar dan di luar kendali."

Baekhyun memerhatikan Chanyeol yang berjalan ke sudut ruangan dan melepas kemejanya dengan elegan. Saat Baekhyun mendapati matanya terpaku pada pahatan tubuhnya yang menawan, ia mendekat dan menjalankan tangannya di sekitar dada dan biseps lelaki itu.

"Kau sangat seksi." Baekhyun mendongakkan wajah dan mencium jakun pria itu dan mengulumnya. Chanyeol mendesis, selalu tertohok dengan sisi liar Baekhyun yang menggoda hingga titik pertahanannya.

"Bagaimana dengan kesepakatan tadi siang?" Bahkan belum sempat ia bertanya lebih lanjut, tangan Baekhyun telah sampai pada ziper celananya, membuka dan menurunkan celananya. Chanyeol mengumpat karenanya. Baekhyun sangat jalang.

"Sial. Kau memang benar-benar jalan terbaik."

"Tentu saja aku." Wanita itu merosot ke bawah, menarik kesejatian Chanyeol keluar. Benda itu mencuat menampar wajahnya dengan keras. Baekhyun berkikik ria lalu menggenggam kejantanan besar itu, membawanya untuk dijilat.

Lidahnya mengorek uretra Chanyeol, membuat Chanyeol mendesis nikmat. Pria itu menjambak rambutnya, memasukkan penis besarnya kedalam mulutnya yang menganga dan menggenjotnya dengan keras.

Mata Baekhyun terpaku padanya, memerhatikan lamat-lamat bagaimana pria itu sangat kenikmatan dengan apa yang ia berikan. Chanyeol menarik diri saat mendengar Baekhyun yang tersedak.

Ia menarik dagu Baekhyun hingga wanita itu berdiri dan memberinya ciuman sebagai pujian atas kehebatannya. Baekhyun meleguh, meremas rambutnya dan membawa mereka pada sisi ranjang.

Tanpa melepas french kiss mereka, keduanya membuka pakaian yamg tersisa.

"Aku atau sekretarismu?"

"Apa kau dalam masa subur?"

"Jawab aku, lebih baik aku atau sekretarismu?"

Chanyeol melepas ciuman mereka dan menatap Baekhyun matah. "Kau tidak perlu jawaban dariku, kau satu-satunya yang bisa membuatku datang dengan keras dan mendesah lepas."

Terakhir, Baekhyun melepas celana dalamnya lalu membuangnya dengan gerakan dibuat-buat lambat. Meremas kedua payudaranya dan mendorong Chanyeol ke ranjang. Menggenggam kejantanannya yang besar dan keras dengan nafas berat, mengulurkan lidahnya yang panas dan menyapu permukaan penis yang sensitif. Ia mulai mengoral dengan sangat baik.

"Kau ingin melihatku penuh dengan cairanmu, kan? Kalau begitu datanglah untukku."

Chanyeol menggeram dan mencegah Baekhyun untuk mengoral kembali miliknya. Ia membalik keadaan, mengukung Baekhyun di bawahnya dan membuka pahanya lebar.

Vagina bersihnya terlihat lembab, bibirnya yang gemuk disingkap oleh Chanyeol. Memperjelas sebuah lubang yang mengatup dan menganga. Tanpa pikir panjang Chanyeol menenggelamkan wajahnya di selangkangan Baekhyun. Menyumbui vaginanya dengan rakus.

Baekhyun mendongak dengan kedua mata terpejam erat, kedua tangannya mengepal dan pahanya semakin menekan kepala Chanyeol. Aktivitas di bawah sana semakin gencar. Tangannya mengusap klitoris bengkak

"OHH—YA! ISAP DIA! YEAH! OHH—SAYANGHH"

Chanyeol membawa dua jari untuk memasuki vaginanya yang berkedut. Baekhyun melengkung dengan indah, mengelinjang saat Chanyeol memutar jarinya di dalam sana dan menekan tonjolan kecil di dalamnya.

"Oh, shit. Fuck, just fuck me! Fuck me now, yeah, oh my godness!"

Pria mana yang tahan dengan dirty talk? Tidak ada, termasuk pula Chanyeol. Pria itu menatap Baekhyun dengan nafsu, meremas payudaranya dan melumatnya ganas. Chanyeol melepas cumbuannya dan merangkak ke atas. Menyambung ciuman panas dengan Baekhyun dan berbagi cairan yang Baekhyun keluarkan. Mereka meleguh dan mendesah.

"Apa kau dalam masa subur?" Chanyeol menarik dua jarinya dan membawanya ke mulut, mengisapnya dan mendesis. "Cairanmu sangat nikmat."

"Aku dalam masa subur."

"Kalau begitu aku akan ambil kondom tadi. Kau tunggu disini."

"No!" Baekhyun menggenggam tangannya saat pria itu hendak beranjak dari atas tubuhnya. "Ada apa?"

"Aku ingin merasakan kau lebih nikmat dan banyak. Aku tidak ingin ada pelindung, aku ingin kau seutuhnya di dalamku dan dengan keras."

"Itu sangat beresiko. Kau bisa hamil, Baekhyun."

"Kau bisa melepaskannya di tubuhku, atau di wajahku, atau di mulutku."

Chanyeol terlihat menimbang tawarannya. "Baiklah kalau begitu."

Ia Kembali menindih tubuh itu, mencumbu leher putihnya dengan ganas, tangannya yang kasar terkesan nikmat saat meremas kedua payudara Baekhyun. Ia mendesah pasrah di bawah kekuasaan pria itu dan mendesahkan namanya keras-keras.

Chanyeol menempelkan kelamin mereka yang sama-sama mengeluarkan pelumas alami dan menggeseknya. Keduanya mendesis. "Langsung?"

"Ya."

"Ya apa, Miss Byun?"

"Masuki aku dan bawa aku ke surga. Buat aku datang dengan keras."

Dan dalam sekali hentakan, Chanyeol mengubur diri di dalamnya. Chanyeol mendesis dan Baekhyun merintih. "So fucking good, do you like my pussy?"

"Hrmmm... Your pussy so fucking good, really good for my big cock."

"Move... Please..."

Chanyeol menarik hingga kepala, dan mengubur dalam-dalam. Baekhyun mengerang keras. "Ohh, Chanyeol."

Chanyeol memegang sisi pinggulnya dan menghujat dalam-dalam. Chanyeol membuka pahanya dan menatap panyatuan mereka yang basah, bunyi kecipak terdengar sangat keras dan desahan mereka begitu membakar gairah masing-masing.

Setiap kali Baekhyun mengetatkan vaginanya, Chanyeol juga semakin mendorong dengan keras dan cepat.

"Mhhh... Yeah, yeah, yeah... So fucking good"

Chanyeol membalik tubuh putih mengilapnya, dengan sekali dorongan ia kembali masuk ke dalam lubangnya yang berkedut dan terbuka.

"Sangat basah, Baekhyun. Tidak pernah mengecewakan." Chanyeol berbisik di samping cuping telinganya, menjilat dan sesekali menggigitnya. Baekhyun tak menjawab, desahannya semakin mengudara saat Chanyeol membawa jarinya untuk memutar klitorisnya.

"Lubang ini,"

Plak

"Ohh"

"Sangat nikmat,"

Plak

"Angghh"

"Dan kau suka saat penis ini memasukimu dan memerkosamu dengan kasar, hm?"

Plak

"Aaahh—yes, yes, I like it. I like it."

"Apa, Baekhyun?"

"Nikmat."

"Kau suka?"

"Ya."

"Ya apa, Baekhyun?"

"Ya, sir."

"Rasakan ini." Chanyeol menyingkap bokongnya yang indah dan memerhatikan lamat-lamat bagaimana lubang vaginanya menyedot panisnya. "Oh, shit. Oh, shit."

"Ahh, ohh! Bawa aku! Bawa aku!"

"Give me that, Baekhyun. Give me that."

Baekhyun datang dengan keras. Squirt dengan hebat, Chanyeol menghentikan genjotannya dan melepas penisnya. Terlihat lubang vaginanya yang menganga dengan cairan menggairahkan di segala sisi. Tanpa pikir panjang ia menekan bibirnya yang seksi di sana, melumatnya dengan lapar. Membersihkan seluruh cairannya hingga vagina itu mengilap.

Chanyeol menjauhkan wajahnya dan mendesis, ia mendekatkan mulut pada Baekhyun dan menciumnya.

Baekhyun mendorong tubuh panas itu dan mengangkang di tengah kejantannya. Membawa tubuhnya turun dan menanam kejantanan besar itu di dalam dirinya. Baekhyun mendesah keras, sangat keras hingga Chanyeol meremang sangat terangsang. Seumur-umur ia melakukan seks dengan banyak wanita, Baekhyun adalah satu-satunya yang membuatnya bergairah hingga ke ubun-ubun. Maka saat ia mengendarai penis itu dengan sesuka hati, Chanyeol manarik tangannya, membawanya berciuman dalam dengan tangan meremas kedua payudara indah dan pinggul yang bergerak kesetanan.

Sebelum ia siap melebur, Chanyeol mencabut penisnya dan Baekhyun merangkak turun ke bawah, kembali mengoral penisnya hingga ia datang dengan sangat keras.

Menyisakan kenangan seks terhebat dengan aroma khas mengudara.

"Siapa namanya?"

"Min Yonggi. Dia partnermu selanjutnya."

"Bermain dengan anak sekolahan? Well, menarik."

Baekhyun tersenyum congkak. Dia menatap sekertarisnya yang berjalan mengelilingi ruangan sambil membawa pulpen, berlagak serius.

"Di dalam skenario itu kau memang berlaga sebagai siswi, dia merupakan pacar barumu."

Baekhyun menganggukkan kepala kecil. Matanya menatap ruangan rias yang terdengar dibuka, tanpa menolehpun ia sudah tahu itu siapa.

"Hey." Baekhyun menyapa. "Berapa lama lagi?"

Baekhyun melirik sekretarisnya, mengisyaratkan baginya untuk memberi kedua cucu adam-hawa itu waktu privasi. Baekhyun mendesah saat sekretarisnya melangkah keluar dengan wajah pasrah. Lalu beralih pada lelaki yang berdiri di depannya.

"Jadi, ada apa, Sehun?"

"Semalam kau berkencan dengan Chanyeol?"

"Tidak. Kami hanya bertemu untuk membahas sesuatu?"

"Benarkah?" Baekhyun menaikkan alisnya terganggu. "Bukankah mengagumkan jika aku berbohong? Kami hanya berbicara dan berakhir di ranjang."

"Itu terdengar seperti sebuah jackpot baginya, apakah kau ada waktu lusa besok?"

"Aku harus shooting beberapa adegan dengan Chanyeol dan Luhan. Ada apa?"

Sehun menghela nafas lemah. Ia mendekat dan membawa tangan Baekhyun ke dalam genggaman, "Jadi, bagini. Sebenarnya aku—"

"Apa yang kau lakukan disini? Bukankah kau harus menghapalkan script-mu? Dan kau, Baekhyun. Kau ada shoot adegan, sekarang, dan orang-orang menunggumu."

Sehun melepaskan tangan Baekhyun, dan wanita itu mengerjapkan mata. Terlalu terkejut saat Chanyeol tiba-tiba datang dan mengejutkan mereka.

"Bergeraklah, guys."

Yonggi menggapai payudara Baekhyun yang tersingkap di balik kemejanya yang kekecilan dan meremasnya dengan lembut. Wanita itu mendesah lemah, mengutuk kinerja mulut Yonggi yang luar biasa untuk seukuran anak kelas dua SMA.

"Berbaliklah." Baekhyun berbalik, memegangi sisi roknya yang tersingkap dan mendesis saat merasakan penisnya yang panjang membelah dengan perlahan. Tanpa pelumas dan terasa perih.

"Ah, Ah, Ah, yaa... Ohh... Emmhh"

Sesekali lelaki itu mengeluarkan dari lubang satu dan memasuki lubang satunya, begitu seterusnya hingga Baekhyun merintih saat analnya ditumbuk dengan kasar.

"Kau sangat menggairahkan. Sshh." Tangan Yonggi menggerayang di sepanjang tubuh halus Baekhyun.

"Ohh, god, so fucking good."

"Arghh"

"Fuck me, Fuck."

"Yes, baby. I do. I fuck you. Do you like it?"

"Emhhh... Yess, so like it"

Yonggi tipikal lelaki yang tak banyak bicara. Ia hanya mendesis dan menggeram, sesekali. Dan Baekhyun yang berusaha dengan sekuat tenanga untuk membuatnya datang hingga tiga kali di atas tubuhnya.

...

"Fuck, fuck me harder. Yeah." Suara berat Luhan menggema di bilik kamar, suara pekikan Baekhyun terdengar membakar dan desisan Chanyeol begitu liar membakar seisi ruangan.

Ketiganya tengah beradu akting, bergemul dengan liar. Melantunkan dirty talk yang semakin menyulut api gairah.

Luhan yanh menerima tusukan di vaginanya hanya bisa mengangkang dan mendesah dengan pasrah, sedangkan Baekhyun membiarkan Chanyeol mengorek lubangnya dengan dua jari dengan Luhan yang sesekali mencumbui payudara Baekhyun yang berada di depan wajahnya.

Chanyeol mengeluarkan penisnya. Menatap Baekhyun dengan kalap dan menangkap tubuhnya dalam gendongan. Ia berbaring dengan Baekhyun yang mengangkangi kejantanannya dan Luhan yang mengangkang di depan bibirnya.

"Anhh, yahhh"

Baekhyun tanpa pikir panjang segera memasukkan penis itu ke vaginanya yang basah dengan mudah. Mengetatkan hingga membuat urat Chanyeol terlihat jelas. Baekhyun semakin melebarkan paha saat kamera menyorot kelamin mereka dan lumatan Chanyeol pada vagina Luhan semakin gencar saat kamera lain menyorot pada dirinya.

"God, yessss!"

Baekhyun mendesis saat Chanyeol menggenjot dengan cepat dari bawah. Tangannya kini bertumpu pada betis Chanyeol, kepalanya mendongak dan bibirnya meracau. Kelamin mereka yang keluar-masuk dengan kedua bola kembar Chanyeol yang bertabrakan dengan klitorisnya membuat mereka semakin menggila. Bahkan beberapa kru juga mulai mengeluarkan kejantanan mereka dan mengurutnya.

Luhan beranjak dari wajah Chanyeol dan mendekati kelamin yang tengah menyatu itu. Membawa tangan untuk memberi kenikmatan pada klitoris Baekhyun, sesekali menjilat kedua bola Chanyeol.

"Give me, cum in my pussy, babyhh! Yessshhh!"

Chanyeol menenggelamkan penisnya dalam-dalam. Menembakkan tiga kali spermanya pada rahim Baekhyun.

Baekhyun berteriak saat Luhan melepas penis itu dari vaginanya, menyebabkan cairan kental itu mengalir keluar dengan deras dan lubangnya yang terbuka membuat Luhan kalap.

Wanita itu segera menaiki tubuh Chanyeol, posisi 69 dan memakan vagina Baekhyun. Sambil melakukan blow job pada penis Chanyeol yang kembali berdiri. Ia membuka belahan vagina Baekhyun yang merah dan terkatup, menusuknya dengan panis Chanyeol, bersamaan dengan Chanyeol yang menenggelamkan tiga jari pada vagina Luhan. Ketiganya mengejar kenikmatan dengan menggebu.

.

.

.

TBC

.

.

.

An :

Hehe, halo ?

w tau ini triple lama :) maaf pisan karna file di words, memo dan wps di hp ilang, jadinya yaa...

Oh iya, w juga sengaja update abis lebaran biar dosa w dan yang baca ini ga semakin mayak(?) hhwhwh

First of all, jangan pada demo kenapa ada orang lain yang naena sama canbek, karna ini fanfic b*kep dan alurnya begitu, para aktris dan aktor blu pilem pasti gonta ganti pasangan, kan?

Tapi sans aja. Karna ini ff canbek ya tentu aja titik fokusnya antara baek dan chan. Ehe nikmati aja alurnya~

W minta maap kalo ga hoteu huhu karna yaaa, w juga kaga baca ulang (*panas dingin cong) jadi kalo ada typo dan adegannya maksa, maapin yak karna begitulah adanya(?)

Selamat soure semwa mwah

Ini emang hardcore dan lemon +++ liat aja judulnya aksowkowk jadi bahasa dllnya sangat vulgar, makanya w bilang sebelumnya bahkan di summary, jangan batha kalo belom thukup umur, w kaga mau ngeracunin kalian *alahhh

Ps. Berlanjutnya fanfic ini ditangan kalian, jika riview banyak menunjukkan betapa kalian antusias dengan fanfic ini dan dengan senang hati w bakal update teyus uwu, so, riview yaw?! *maksa*

Pss. Typo itu sebuah seni yang mengasah kemampuan otak kalian untuk auto-correct dan melatih emosi. Wakakak apasi w bacot amat

Sampai jumpa!