NOTE : Tolong baca dan jangan skip Author Note di bawah. Sekian. Selamat menikmati :)

Chapter 3

Close to You

.

.

.

Kiranya beberapa saat yang lalu merupakan ketegangan tak berarti saat Baekhyun bahkan merasa sebentuk angin sejuk menyapa kulit wajahnya.

Berpegangan pada titian tangga kayu, dia turun dengan pelan tanpa ada niat untuk membangunkan setiap makhluk yang tengah terlelap kini. Melirik jam dinding usang di atas jendela, Baekhyun bernafas lega saat ia mendapatkan waktu yang tepat untuk pergi dari rumah ini.

Berbekal pengalamannya yang bertahun mengendarai mobil seorang diri di kota yang besar dan kejam, Baekhyun mulai menghidupkan mesin mobilnya. Mendengar suara lengkingan kuat seorang pria tidak tahu diri yang merupakan ayahnya dan bernafas lega saat mengira jaraknya telah tertempuh kiranya lima puluh meter dari rumah tua itu.

Baekhyun menghidupkan stereonya, mendengarkan lagu lama yang diputar di salah satu stasiun dan mengambil batang rokoknya di dalam dasbor. Mematiknya dengan satu tangan sementara batang putih itu ia selipkan diantara bibir tipisnya.

Baekhyun mencoba menikmati batang manis itu tanpa berniat memikirkan apapun selain pekerjaan erotisnya yang akan menjumpai kata finish jika dia tidak segera memperbarui kontraknya dalam waktu dekat.

Dia melupakan ponselnya di dalam mobil dan sibuk berdebat dengan sang ayah empat jam yang lalu. Membenci saat dia harus terpaksa menjenguk ayahnya, si lelaki kaku yang gemar mengatur itu dikarenakan kabar yang ia dengar mengenai kondisi ayahnya.

Dan saat ia melajukan mobil kesayangan membelah jalanan gelap gulita khas pedesaan yang rimbun pepohonan tinggi, dia hanya mendapati ayahnya yang bernyanyian di bilik kamarnya dengan gitar kesayangannya dan menatapnya lembut. Baekhyun membenci seorang pembunuh. Lebih membenci lagi saat satu fakta pahit itu merupakan profesi ayahnya kiranya enam tahun yang lalu.

Maka dengan bermurah hati dan menahan emosinya yang membumbung, Baekhyun menerima tawaran ayahnya untuk menginap. Menemaninya untuk menghabiskan waktu untuk memahat kayu dan membuat ornamen rumah yang bergaya khas rumah klasik eropa. Menemukan fakta bahwa ayahnya kini mengidap candu pada obat-obatan terlarang.

Hal itu membebani pikiran Baekhyun terlebih saat ia mengingat kenangan sang Ibu yang masih terbingkai apik di jejeran dinding rumahnya. Kenangan berdarah yang paling menyakitkan semasa hidupnya itu menyeruak memenuhi pikiran Baekhyun hingga ia tidak bisa manahan diri untuk tidak membentak sang ayah yang saat itu datang dengan membawa secangkir teh hangat untuknya. Meneriaki kepada lelaki yang membunuh ibunya itu untuk berhenti bersikap baik padanya.

Dia bahkan tidak ingin menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kabarnya jika pertanyaan itu keluar dari bilah bibir terkutuk sang ayah.

Semua itu membuat dada Baekhyun sesak hingga ia tidak dapat berpikir jernih dan memarkir mobilnya dengan asal di sebuah basement apartemen mewah yang bukan miliknya. Menghirup banyak-banyak oksigen ke dalam paru-parunya dan membuka pintu mobil dengan kasar.

Sudah terbiasa bagi Baekhyun untuk bertamu dan menginap di rumah lelaki itu. Terkadang dia juga memiliki andil besar dalam mengendalikan emosi tidak terkendalinya yang ia tidak tahu kenapa. Fakta bahwa keluarganya hancur di tangan ayah kandungnya dan dirinya yang berkerja di bidang yang kotor membuat Baekhyun memeluk erat lelaki itu sesaat setelah pintu apartemen dibuka dan menumpahkan segala tangis yang ia tahan selama perjalanan pulang.

Lelaki itu tentu terkejut. Ia belum siap menerima segala tangis wanita yang membuat hatinya hancur saat mendengarnya. Belum sempurna untuk menenangkan tangis pilu di dadanya yang menyesakkan bagi siapapun yang memiliki hati. Hingga satu elusan lembut jemari yang bermain di kepala sang wanita membuatnya mendongak dengan segala ekspresi yang melemahkan dirinya. Hingga dekapan kembali ia berikan pada sang wanita.

"Hey, Baek. Ada apa?"

Ia merasakan gelengan lembut di dadanya hingga wanita itu menarik diri. Ia membawanya pada sofa dan menghapus jejak air mata di pipi si merpati malang. "Ada apa, hm? Apa yang membuatmu begitu sedih?"

"Tadi aku menemui ayahku." Ia memulai ceritanya. Menatap mata bulat si lelaki yang memancarkan cahaya lembut yang selama ini ia butuhkan untuk singgah. Namun menggeleng pelan saat sebentuk rasa hangat itu mulai menggerogoti dinding hatinya. "Aku tidak tahu. Hal kelam beberapa tahun silam tetap bermain di benakku bahkan saat ayahku telah mencoba menjadi pria yang baik, dia memperlakukanku dengan baik. Bahkan aku yang membentak dan mendiaminya."

"Terus?"

Dia mendapat usakan nyaman di rambutnya hingga ia mencoba menyimpan rasa itu di dalam memorinya dengan memejamkan mata. "Tapi aku tidak bisa menerima kebaikannya, Chanyeol. Ayahku tetaplah seorang pembunuh. Dan fakta lain jika dirinya merupakan pecandu narkoba membuatku hancur tak berdaya."

Baekhyun membuka matanya. Mendapati Chanyeol yang menyibak anak rambut ke belakang telinganya dan bernafas teratur.

"Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini, dan dia—"

Ucapannya terputus oleh sebuah kecupan penuh yang lembut hingga bibirnya kelu untuk bersuara. Tidak mendorong maupun membalas kehangatan bibir Chanyeol yang terasa memabukkan di bibirnya dan meniti ekspresi lembut Chanyeol di atas matanya.

Mereka cukup lama di dalam posisi itu hingga saat Chanyeol merasa Baekhyun mulai membaik, dia melepaskan tautan bibir mereka dan membelai halus pipi Baekhyun.

"Jangan berkata seperti itu. Kau masih memilikiku di sini. Aku selalu ada untukmu."

Baekhyun tidak tahu sebuncah rasa apa yang meledak di perutnya dan obat pelemah apa yang di suntikkan oleh angin ke lututnya hingga ia merasa selemah jeli.

Sedang hatinya mulai bertanya, bagaimana melawan semua rasa berlebihan ini sementara tidak ada kalimat pengikat terlebih status selain ikatan tak resmi mereka sebagai partner hubungan badan.

...

Di luar sedang hujan lebat. Sementara dua cucu adam dan hawa itu tengah sibuk dengan pekakas dapur beserta aroma gosong dari makanan yang mereka coba masak.

Chanyeol yang tengah membersihkan noda kering tumpahan saus di kompor di buat berhenti saat suara lengkingan Baekhyun memecah keheningan. Lelaki itu segera berlari ke arah Baekhyun, melihat lebih dekat apa yang terjadi hingga dia dikejutkan oleh titik darah di atas piring.

"Astaga, Baekhyun. Apa yang terjadi?"

Chanyeol segera mengambil tangannya dan membersihkan noda sabun serta darah di jemari Baekhyun dengan air keran yang masih hidup.

"A-aku memikirkan kondisi ayah."

Chanyeol menatap wanita itu dengan manik tidak bisa di artikan. Bahkan di saat wanita itu begitu membenci sosok pembunuh yang merangkap sebagai ayah kandungnya, ia masih sempat memikirkan kondisinya yang hidup sebatang kara.

Chanyeol tidak banyak berucap mengenai hal yang Baekhyun alami. Bukannya tidak peduli. Hanya saja ia tidak tahu harus bagaimana karena dia paham betul perbedaan pemikiran antara seorang wanita dan pria menjadikan suatu hal bisa dalam sebuah pandangan yang bertolak belakang.

Jika Baekhyun berpikir bahwa ia tetap akan mengirimkan uang dan pakaian hangat sedang ia menghujami sang ayah dengan kalimat menusuk, Chanyeol justru beranggapan bahwa meninggalkannya tanpa memberi kabar jauh lagi bermurah hati adalah hal yang wajar dan setimpal. Tidak peduli bahwa dia merupakan ayah kandungnya atau bukan. Pembunuh tetaplah pembunuh.

Selama dua hari bernaung di apartemen lelaki itu, Baekhyun kerap pula mendapatkan telepon dari sang manajer yang mempertanyakan dimana keberadaannya.

Juga si Boss besar yang melipat tangan di ruang teratas gedung produksi yang menunggu kedatangannya untuk membicarakan kontraknya yang tengah dalam masa abu-abu.

...

Sementara Chanyeol sibuk berbenah diri setelah tiga ronde sesi percintaan panas keduanya dan bersiap untuk pergi ke untuk melakukan shooting yang akan di jadwalkan hari ini. Shooting apalagi selain film biru?

Terkadang itu membuat mereka berdegup kencang karena menebak siapa dan seperti apa lawan mainnya di film berkonten dewasa itu.

Chanyeol berjalan ke luar kamar dengan menjinjing jaketnya, mendapati Baekhyun yang melamun di sudut perapian dengan tubuh polos yang hanya ditutupi oleh sebuah kemeja putih seusai percintaan mereka.

Chanyeol mendekat pada wanita itu. Meraih dagunya yang runcing untuk ia lihat wajah cantik yang berair muka gelisah.

"Jangan terlalu banyak memikirkan."

"Aku tidak memikirkan apapun." Tukas Baekhyun sambil membuang wajahnya. Entah kenapa mendengar Chanyeol akan pergi untuk melakukan shooting membuat hati Baekhyun berat. Membiarkannya tetap dalam pekerjaan itu sementara dirinya yang hampir membulatkan tekad untuk tidak lagi melakukan hubungan badan dengan lelaki lain selain lelaki di depannya ini, membuat Baekhyun berpikiran bahwa Chanyeol juga harus melakukan hal yang sama.

"Jadi, apa yang kau lamunkan, hm?"

Nada bicaranya yang seperti ini menjadi hal yang Baekhyun sukai meski bimbang di hati masih terpantri. Di liriknya wajah tampan yang memancarkan beribu pesona bagi kaum hawa itu dan membuka bilah bibirnya yang kering. Tapi, lagi-lagi dia menelan mentah-mentah argumen dirinya dan tersenyum kecil.

Memangnya siapa dirimu yang berhak melarangnya?

"Kau pulang jam berapa?"

Chanyeol melirik jam tangannya sejenak dan menimbang beberapa opsi pertemuan yang memakan waktu berjam-jam kemudian menatap Baekhyun. "Kurasa sebelum jam 4 sore. Ada apa?"

"Aku ingin membicarakan sesuatu. Tapi, aku harus pulang dan menemui seseorang."

"Siapa?"

"Oh Sehun..."

Chanyeol menaikkan alisnya sedikit tinggi saat mendengar nama itu keluar dari bibir merah Baekhyun. "Untuk?"

"Kau akan tahu nanti. Tapi sebelum itu aku akan pulang ke apartemenku, ada barang yang harus ku ambil karena aku membutuhkannya."

"Berhati-hatilah."

Ia tidak tahu kenapa kalimat itu keluar dari bibir Chanyeol. Maka ia hanya mengangguk kecil.

"Ingin ku antar?"

"Tidak perlu. Aku kan membawa mobil."

Baekhyun melirik jendela yang membawa masuk angin lembut yang menyibak helai halus rambutnya.

"Tidak apa. Sebenarnya jadwal shooting-ku dua jam lagi," Baekhyun memiringkan kepalanya. "Aku hanya ingin membeli sesuatu untukmu. Kita belum makan dari tadi."

"Aku akan memasak untuk kita." Ia tersipu karena acara memasak paginya di ganggu oleh Chanyeol dan berakhir dengan bercinta dengan panas di sudut perapian.

"Tapi aku akan membersihkan diri dahulu."

Baekhyun yang ingin berdiri mengurungkan niatnya karena selangkangannya yang begitu perih di hajar Chanyeol tadi. Melihatnya, lelaki itu dengan sigap memampah Baekhyun menuju kamar mandi yang ada di dalam kamarnya.

"Ingin kutemani?"

Chanyeol mencubitnya untuk itu. Dia masih kesakitan dengan kewanitaannya yang menjadi tempat Chanyeol bermain kasar sesukanya dan kini ia di buat tersipu saat Chanyeol memasukkan tubuh polosnya di dalam bath up yang entah sejak kapan telah terisi air kemudian membolakan mata saat Chanyeol secara tergesa membuka seluruh lapis kain yang melekat pada tubuhnya.

"Apa yang kau lakukan?!" Baekhyun menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Bertingkah seolah dia tidak pernah melihat tubuh telanjang lelaki itu. Chanyeol terkekeh dan melepas kain terakhir di tubuhnya dan menekuk kaki Baekhyun. Masuk ke dalam bath up besar yang terisi Baekhyun dan air yang melimpah.

Chanyeol tersenyum dengan kurang ajar. Mengambil spons dan menuangkan cairan kental sabun berekstrak madu dan susu kemudian mulai menggosokkannya secara lembut di bahu Baekhyun.

Wanita itu tidak berkutik. Ia menatap dalam wajah serius Chanyeol yang tengah membalurkan seluruh foam lembut itu ke tubuh depan bagian atasnya dan tersadar saat Chanyeol mengangkat kedua lengannya. Lelaki itu menggosok lembut lengan dan ketiaknya kemudian meraih tangan Baekhyun. Melakukan hal yang sama pada kedua tangannya dan tersentak saat Chanyeol meraih betisnya.

Lelaki itu tersenyum jenaka dan menggosok mulai dari sela-sela jari kakinya yang berhias cat kuku merah hingga paha dalamnya yang sensitif. "Ahh"

Baekhyun menggigit bibirnya saat satu desahan itu keluar dari bilah bibir tipisnya. Seperti menekin, ia terdiam dan menyesali keterbuaiannya akan sentuhan-sentuhan lembut Chanyeol di sekitar pahanya. Lain Baekhyun , lain pula Chanyeol.

Lelaki itu menyeringai tampan namun tetap menjalankan pekerjaannya pada kaki Baekhyun yang lain sembari melirik si cantik yang menggigit bibirnya menahan gairah. Ia tahu itu. Baekhyun tengah membutuhkan sesuatu.

Tanpa banyak bicara, dia memberi isyarat agar Baekhyun membalik tubuh. Chanyeol menyimpan spons yang tadi ia gunakan untuk menggoda tubuh Baekhyun dan membalur cairan serupa di telapak tangan dan memijatnya di atas punggung lembut Baekhyun.

Kulitnya yang halus dan kenyal membuat Chanyeol mendamba hingga ia memberikan pijatan untuk merileksasi wanita itu.

"Aku rasa kau cukup lelah setelah melayaniku tadi pagi." Ujarnya saat Baekhyun menoleh kecil padanya. Baekhyun tidak menjawab. Tapi Chanyeol tahu bahwa ia tersenyum di baliknya.

"Apa aku bermain terlalu kasar?" Tanyanya saat Baekhyun meringis ketika dia membenarkan posisi untuk duduk berhadapan dengan Chanyeol. Kini giliran Baekhyun yang meraih botol sabun dan melumurinya pada tangan. Membuat foam yang banyak kemudian ia ratakan di tubuh Chanyeol. Cukup lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing sementara tangan Baekhyun kini mulai merayap ke bagian selatannya yang telah mengeras sejak lama.

Baekhyun memutar jemaru di batang itu, bagai dia tengah menggosok lengan Chanyeol dan membersihkan batang keras itu. Yang sebenarnya selalu bersih.

Baekhyun menggigit bibir dan menyeringai. Menerima ciuman penuh Chanyeol dan semakin gencar melayangkan pijatan juga gerakan naik turun memompa kejantanan besar lelaki itu sedang ketua telapak tangan Chanyeol kini mulai membuka paha Baekhyun. Satu tangannya ia gunakan untuk merenas gundukan sintal di dadanya sedangkan yang satu lagi tengan menyapa klitoris sang wanita yang sensitif.

Satu desahan lembut menjadi pemisah tautan bibir keduanya. Chanyeol memutar jemarinya di klitoris Baekhyun dan memasukkan satu jemari pada lubang kecil yang terbuka. Menjilat rahang indah Baekhyun saat wanita itu mengadah dan meleguh pelan.

Chanyeol memutar jarinya di dalam sana. Dinding vagina Baekhyun yang lembut begitu membuat Chanyeol menggebu dan menahan hasratnya hingga ujung kepala. Maka dengan satu tarikan tangan, Chanyeol membuat Baekhyun menjadi berada di luar air dengan mengangkat pinggilnya melintang di tangah bath up dan menyibak kewanitaan merah muda yang seperti kuntum bunga.

Chanyeol tak perlu waktu lama untuk membuat kepalanya tenggelam di sana dengan bibir yang menyapa bibir lembut vagina Baekhyun yang harum. Dia menyasap, menjilat, membuat lidahnya bermain di sekitar lubang kecil yang sebentar lagi akan melebar karena di masuki sesuatu yang besar dan panjang.

"C-chan! Ohh—yess, baby. Jangan berhenti." Itulah nikmatnya melakukan seks bersama Baekhyun. Desahan dan kalimat yang keluar dari bibir tipisnya menyebabkan Chanyeol semakin bernafsu hingga ke ubun-ubun.

Lelaki itu membuat kedua jemarinya menyibak kewanitaan Baekhyun yang berkedut hebat dan tersenyum bangga saat cairan wanita itu berlomba-lomba keluar dengan sensual. Sementara Baekhyun menetralkan nafasnya. Chanyeol kembali membuat bibirnya yang begitu memuja kewanitaan Baekhyun dan kembali mencumbuinya.

Baekhyun yang tidak tahan meremas kedua payudaranya yang sesekali menjadi sasaran empuk telapak tangan Chanyeol untuk di remas. Ia mengatupkan giginya saat cairannya kembali memenuhi mulut Chanyeol yang luar biasa. Ia menatap lelaki itu dan tersenyum puas.

Baekhyun menurunkan kakinya dan membuat air di dalam bath up menjadi kosong karena ulah tangannya yang lain. Chanyeol tersenyum dengan mata yang penuh nafsu saat jemari Baekhyun bermain di dadanya yang keras. Mendesis saat Baekhyun memutar jemari diantara kejantanannya yang telah sekeras kayu dan menjalankan bibir lembutnya di dada hingga perut kotak Chanyeol.

Baekhyun menunduk dan menunggingkan pantatnya tinggi-tinggi untuk menyantap si jagoan Chanyeol. Menjilat di sepanjang batang berurat yang berwarna kemerahan itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya hingga mencapai tenggorokannya.

Wajah Baekhyun memerah dan matanya terpejam saat mulut dan tangannya berkonsentrasi penuh untuk memberikan service terbaik bagi batang kenikmatan yang sebentar lagi akan membawanya menuju surga dunia.

Chanyeol meleguh dalam. Menggeram dan mengumpat sementara telapak tangannya memijat dan menampar pantat Baekhyun hingga memerah.

Baekhyun menggoyangkan pantatnya, Chanyeol yang paham betul segera memasukkan telunjuknya ke dalam anus wanita itu hingga membuat Baekhyun melepaskan kulumannya dan memekik sakit. Chanyeol yang diantara gusar dan tengah dalam nafsu tertinggi hanya memasukkan jemarinya lebih dalam hingga kini Baekhyun memutihkan matanya dengan mulut terbuka.

Satu jarinya mulai menekan kenikmatan di lubang anusnya sementara vagina gadis itu Chanyeol rasakan berkedut cepat. Maka dengan sekali angkat, tubuh ringan itu Chanyeol baringkan di atas ranjangnya. Paha wanita itu ia singkap hingga memperlihatkan dua buah lubang yang menganga kecil dan berkedut hebat.

Chanyeol segera membawa mulutnya untuk bercumbu dengan sang pujaan hati hingga Baekhyun kembali merasa menapak di awan.

"Ahh, hmmm—yess, hisap terus. Hisap itu! Oh, sayang.."

Baekhyun mengapit pahanya saat Chanyeol tetap memutar lidahnya di permukaan lubang vaginanya sementara dia telah klimaks untuk yang ke tiga.

Chanyeol mengangkat wajah dan tersenyum padanya. Merangkak naik dan mengukung tubuh Baekhyun di dalam tubuhnya yang hangat dan menggesekkan kejantanannya di depan pintu kemaluan Baekhyun yang terus berkedut dan semakin memerah.

"Lakukan dengan cepat, ohhgod, itu sakit." Baekhyun otomatis menggigit bibir bawah Chanyeol saat penyatuan basah itu dilakukan dengan satu kali sentakan tanpa melebarkan lubangnya lebih dulu. Chanyeol menatap wanita di bawahnya dan tersenyum tampan. Entah kenapa kali ini rasanya begitu dalam hingga dia merasa di awang-awang bahkan hanya dengan baru mengubur diri di dalam tubuh Baekhyun yang hangat.

"Kau mencengkramku dengan kuat, sayang."

"Ah, aku—" ucapan Baekhyun terputus saat Chanyeol mencium penuh bibirnya dan mulai menarik dirinya sebatas kepala kemudian menyentak hingga habis dengan keras hingga Baekhyun "AHH!"

Pekikannya menjadi apa yang Chanyeol sukai. Maka, dia terus menyentak dengan keras dan dalam namun juga memiliki tempo hingga tidak menyakiti wanita itu. Hingga dia—

"Ahh Ahh Ahh, f-fuck, yess, yeah, yeah... Ohh Park Chanyeol, fuck me."

Chanyeol menyeringai dan menambah kecepatan untuk itu. "Ohh, yeah, yeah, kau masih menjadi favoritku dari pertama kali." Ucap Chanyeol di sela sela ciuman mereka. Jalinan saliva keduanya menciptakan desiran hangat hingga Baekhyun semakin megeratkan pelukannya saat hentakan itu semakin menjadi dan jepitan kuat otot vaginanya yang terus ia latih membuat Chanyeol juga ikut mendesah dan mendesis dengan keras.

Sungguh. Mereka dua jiwa panas yang selalu menggebu untuk mengejar suatu yang di sebut pencapaian dalam bercinta.

Dua insan yang melebur dalam satu cetakan suara yang tak bisa keluar dari tenggorokan saat raganya hilang untuk terbang sementara menggapai kenikmatan dan kembali ke bumi saat mata keduanya bertemu sayu dan kecupan dalam menjadi penutup dari percintaan luar biasa.

.

.

.

"Sehun, sebenarnya kita mau kemana?"

"Mengantarmu."

Kiranya telah 1 jam Baekhyun di buat bingung dengan tujuan lelaki bersurai light brown di sebelahnya sementara ia terus menggenggam erat ponselnya yang sekarat.

"Pembicaraan jenis apa yang membutuhkan tempat sesepi hutan?"

"Pembicaraan rahasia yang harus di lakukan di tempat rahasia pula."

Menggeser tubuhnya sedikit, Baekhyun mencondongkan tubuhnya untuk bernafas sedikit lebih banyak. Ia mendengus keras setelah membuka matanya. "Sebenarnya saat inipun telah bisa masuk ke inti. Tidak ada siapapun yang berpotensi mengetahui apa yang ingin kau sampaikan padaku."

Sehun sesekali melirik kaca spion yang menimbulkan tanda tanya bagi Baekhyun yang berperasaan buruk akan dirinya.

"Benarkah?"

"T-tentu." Ia menjawab sedikit ragu. "Bukankah tujuan awalmu adalah mengantarku pulang?"

"Ya. Itu memang benar."

"Tapi, ini bukan jalan yang benar. Harusnya kau berbelok ke kiri," Sehun meliriknya. "Oh, apakah itu penting?" seringaian lambat menyebar di wajahnya. Menyebabkan Baekhyun yang perlahan mulai menyimpulkan dan membelalakkan mata.

"Sehun,"

"hm"

"Turunkan aku sekarang."

"Apa?"

"Turunkan aku di sini."

"Tidak semudah itu sayang."

Baekhyun yang ketakukan dengan tangan gemetat menampar lelaki itu dengan keras hingga tanpa perkiraan, Sehun menginjak rem hingga tubuh keduanya terpental ke depan.

Baekhyun mengatur nafasnya yang cepat dan mengabaikan tampilannya yang sedemikian rupa untuk membuka pintu mobil. Membolakan matanya saat menyadari pintunya terkunci.

"S-sehun.."

Lelaki itu bergerak dan mengangkat wajahnya dari stir yang menghantam dahi hingga menyebabkannya berdarah. Baekhyun yang melihatnya sontak terkejut bukan main.

Wanita itu dengan tangan bergetar mengambil tisu di atas dasbor dan mengelap cairan lengket itu dengan pelan, berusaha mengabaikan tatapan datar Sehun padanya. Lelaki itu membuka sabuk pengamannya. Mengangkat kedua tangan Baekhyun dan mengikatnya dengan menggunakan dasi.

Baekhyun tentu memberontak dengan menendang apapun yang dicapai kakinya. Namun, sekali lagi. Sepertinya dewi fortuna tidak memihak padanya.

Melihat betapa gencarnya Sehun membuka pahanya dan menyingkap rok serta merobek paksa celana dalamnya hingga kewanitaannya tertampang di depan wajah bengis Sehun.

Lidah Sehun menyapu di lipatan basah, menyapa si ranum merah muda yang memabukkan. "Lihatlah, betapa indahnya dirimu. Kau menjaga semua yang kau miliki dengan sangat baik."

Sehun melirik Baekhyun yang membuang wajahnya ke jalanan di depan mereka. Bersyukur bahwa dia bukan wanita lemah yang senang melayangkan tangisan penuh kalimat memohon dan pandangan minta di iba.

Jauh dari itu, Baekhyun hanya mendecih dan mendesis jijik pada lelaki yang kini memasukkan kejantanannya pada lubang vaginanya yang terbuka. Membenci jika ia harus menahan untuk tidak mendesah sementara Sehun mentertawakannya.

"Mendesahlah jika aku memang menginginkannya, sayang."

Di dalam hati. Dia mengutuk lelaki yang tengah memperkosanya ini hingga neraka jahanam.

"Ohh—kau sangat nikmat, Baek. Beruntung sekali Park Chanyeol dapat menyentuh dan merasakanmu setiap saat." Sehun menyeringai saat melihat kilat benci yang memancar di mata Baekhyun.

"Keparat kau!"

Apakah ini yang dikatakan Chanyeol untuk berhati-hati?

.

.

.

TBC

AN :

Gaada yg peduli sama plotnya apa. Kebanyakan riview cuma bahas adegan ranjangnya. Padahal ngetik plot dan alurnya ga semudah kalian komen "next, hot."

Iya, ini memang ff bokep kalo kata kasarnya. Tapi kan aku juga berusaha menyuguhkan alur, bukan hanya adegan ranjang semata.

Karna bukan itu tujuan utama saya menulis fanfic ini.

Hai, sider. Mungkin saya tidak pernah menyapa kamu di beberapa kesempatan tapi di sini saya akan menyapa dan bertanya kepada kamu.

"Gimana rasanya menikmati karya orang tanpa menghargai?"

Saya tau. Bahwa ini fanfic yang begitu vulgar dan mari jangan munafik, kalian menyukainya kan?

Karna kalau tidak. Tidak akan mungkin kalian singgah dan membaca hingga habis.

Sebagai seorang penulis, saya butuh umpan balik. Tanggapan kalian. Masukan. Kritik. Saran. Bukan hanya—

Heol, kalau setelah ini masih juga pada baca sampai habis tapi ga kasi tanggapan —yaudah. Saya unpublish.

Ckck, cuslah kamu buat ff sekali kali biar tau gmn rasanya jd author tp ga di hargai. Mungkin aku bukan hanya 1 yang berkeluh kesah seperti ini, karena kebanyakan author di FFN pun pindah bahkan berhenti nulis karena tidak adanya apresiasi dan sikap menghargai yang baca.

Mau contoh?

Banyak. Ga perlu di sebutkan jg sudah tau.

Terkadang kita harus bersyukur, masi ada beliau-beliau yang memberikan bacaan luar biasa secara cuma-cuma. Dan kenapa tidak mencoba memberikan apresiasi? Apakah tunggu si author berhenti nulis atau marah dulu baru sok sok an muncul di kolom riview dengan "yahhhh sayang banget, padahal aku suka sama karyanya. Bagus semua."

Tapi kemana aja kamu selama ini? Jadi sider?

Sudah baca gratis. Mengapresiasi pun tak mau. Entah tonggak atau batu apa yang ada di dalam hatimu.

Bukan sekedar curahan hati yang kecewa akan pembaca sekarang. Namun juga saat melihat kilas balik banyaknya author ChanBaek yang luar biasa yang berhenti menulis dan pindah lapak karena Readers-nya yang ngelunjak dan tidak tahu diri.

Kamu pikir kamu siapa?

HA

Mind about it.