Chapter 4
Move
.
.
.
Suasana sedikit asing membuat Chanyeol tidak tahan berdiri di tempatnya. Beberapa jam yang lalu Baekhyun pulang kerumah dengan wajah pucat dan tatapan mata kosong. Ia mempertanyakan keadaan wanita itu, namun yang ia terima hanyalah tindakan penolakan.
Chanyeol tidak tahu apa yang terjadi padanya. Jadi ia hanya berasumsi bahwa ada sesuatu yang telah terjadi padanya karena setahu dirinya Baekhyun berkata bahwa ia mengunjungi kantor hari ini. Dan mungkin saja ia berdebat dengan bos mereka mengenai kejelasan kontrak Baekhyun sekarang.
Sedang wanita itu tengah fokus pada laptopnya, mengetik sebuah email yang diterimanya dari beberapa perusahaan yang ingin memakainya sebagai model produk tertentu. Ia tentu mengabaikan manajernya dan mengatur jadwalnya sendiri.
Kedua mata Chanyeol menyipit kecil, setahunya Baekhyun menghentikan kontraknya dan mereka telah berbicara tentang itu seminggu yang lalu setelah sesi bercinta keduanya di apartemen Chanyeol.
"Kau memperbarui kontrakmu?"
Baekhyun melirik sekilas pada pria itu dan menghela nafas. "Tantu."
Chanyeol mengangguk. Di dalam hati sedikit kecewa dengan keputusan Baekhyun tetapi mencoba menghargainya. Ia tidak berhak melarang wanita itu, ia hanya partner seks saja.
Melirik wajah lelah itu, ia sedikit mencondongkan tubuhnya untuk melihat wanita itu. "Baek,"
Dia melihat Baekhyun mengangkat kepalanya dengan alis yang naik sebelah. Bertanya dengan bahasa isyarat.
"Jujur saja, aku takut kita terkena penyakit menular seks, Baek."
Baekhyun menghentikan laju jemarinya di atas tuts laptop, menatapnya tersinggung.
"Tidak tidak tidak. Aku tidak bilang kau... Ya, maksudku yang lain. Orang lain yang menjadi pasangan seks kita saat shooting, aku takut mereka ada yang mengenakan narkoba, dan mereka selalu mengeluarkannya di dalammu. Aku.." dia melarikan jemarinya ke rambut. Meremasnya sebelum menghembuskan nafas dengan bahu yang turun.
"Aku tidak tahu kenapa aku begitu khawatir..." ia menatap hazel cokelat itu lembut, seolah menularkan perasaannya yang berpancar dari sana, "...terhadapmu."
"Kenapa?"
"Aku tidak ada alasan."
Baekhyun menatapnya sedikit lama. Mengangguk pelan dan mulai menegakkan tubuhnya.
"Dengar, Chanyeol. Dengan kau sebagai partner seksku, bukan berarti aku tidak bisa melakukan seks dengan orang lain. Kita bekerja sebagai artis film biru, Chanyeol. Terlalu wajar jika aku berhubungan seks semauku karena itu adalah hal yang biasa aku dan kau-pun lakukan, kita bukan siapa-siapa lantas kenapa kau marah saat aku melakukannya dengan pria lain?"
"Apa maksudmu?" Baekhyun tidak membalas. Ia mengabaikan pria itu dengan memilih bergelut dengan tulisan di layar laptopnya.
"Dalam kontrak itu tercatat hal-hal fisik bersama orang lain tidak diperbolehkan, dengan garis bawah di luar shooting. Tidak ada seks selain kau menyerahkan tubuhmu untukku demikian sebaliknya."
"Benarkah? Lalu kau sebut apa dirimu yang membiarkan aku di sentuh orang lain saat bahkan kau memberiku petuah akan berhati-hati?"
"Aku tidak mengerti..." Chanyeol mengernyit dan mengangkat wajahnya. Matanya menelisik manik Baekhyun yang berkaca-kaca.
"Aku pikir kau tahu apa yang terjadi, Chanyeol." Ujarnya, dengan kilat putus asa di matanya.
"Astaga, Baekhyun. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Chanyeol menyentuh bahunya, ingin memeluk wanita itu tapi Baekhyun menolaknya. Dia tidak menyangka bahwa topik ini membuatnya begitu emosional.
"Baek, aku benar-benar minta maaf jika aku menyinggung hatimu. Aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya, aku hanya—"
"Aku di perkosa Sehun."
"Apa?"
Baekhyun mengangkat wajahnya yang memerah dan menatap Chanyeol lembut. "Aku di sentuh orang lain, Chanyeol. Jadi apa gunanya aku bersembunyi dari dunia? Aku memang telah kotor. Maka dari itu aku menandatangani kembali kontrak itu."
"Aku pikir kau tahu akan apa yang terjadi padaku, Sehun, si bajingan itu. Hingga aku kini memperbaharui kontrakku, aku pikir kau bisa menilai sikapku. Ternyata tidak."
Chanyeol melepaskan pegangannya pada sisi meja. Ia menatap Baekhyun dalam, ke matanya. "Baek, kau salah menilai situasi."
"Aku percaya padanya. Aku percaya bahwa dia baik." Ia bergetar mengatakan dalam tangisnya. Chanyeol tidak bisa lebih sakit melihatnya hancur seperti ini. "Tolong ingat kata-kataku."
Ia membawa jemarinya untuk menghapus aliran hangat yang turun di pipi putih itu mengecupnya lama. Membawa si wanita ke dalam pelukan yang sarat akan perlindungan.
"Jangan percayai orang. Percayai situasi."
Baekhyun mencengkram dadanya kencang, menumpahkan tangisan di sana dan berteriak untuk melepaskan segala emosi di dadanya.
Chanyeol pun hanya diam. Dia mengelus punggung wanita itu sesekali mencium puncak kepalanya dengan melantunkan kalimat, "jangan berkata seperti itu, semua akan baik-baik saja. Aku di sini."
Dan lagi-lagi, Baekhyun jatuh pada jurang Chanyeol. Terperangkap di labirin hatinya dan tidak memiliki jalan keluar. Bingung akan semuanya, harus keluar, atau tetap di sana.
Mereka tidak memiliki status, dan ia selalu meyakinkan dirinya bahwa ia mencintai pria itu. Dan pria itu juga tidak pernah berusaha meyakinkan perasaan padanya, hanya perlakuan hangatnya yang membuat Baekhyun bingung.
Kenapa ia terlalu baik padanya?
Akankah Chanyeol juga mencintainya?
Ia menunggu waktu yang tepat? Jika iya, untuk apa?
Pertanyaan itu terus berkecamuk di kepala Baekhyun yang berputar.
...
"Hubungi aku nanti, Baek." Manajernya berucap setelah pamit undur diri.
Baekhyun menatap punggung pria itu dengan ekspresi tak terbaca. Pelan-pelan mengambil langkah pertama keluar dari gedung agensi, ia melirik beberapa staff produksi yang menyapanya seperti biasa. Tersenyum tipis ke arah mereka dan berhenti saat merasakan seseorang yang mengikutinya hingga ke basement.
Ia berbalik, menatap sosok itu lekat-lekat dan berdecih kesal.
"Berhenti mengikutiku! Berhenti disana!"
Baekhyun berteriak ke pada sosok Sehun yang berdiri di belakangnya. Terlanjur muak karena selama ia berada di kantor untuk membicarakan tentang shooting selanjutnya yang akan ia bintangi, Sehun selalu membututi.
Wajah pria itu bahkan tetap sama, ia hanya menatapnya datar. Memintanya untuk bertemu di sebuah cafe untuk berbicara. Dan tentu Baekhyun menolaknya, ia telah di perkosa. Dan kekecewaannya telah membalur seluruh hati nuraninya hingga ia membenci sosok yang kini berdiri di depannya.
Dengan menentang tasnya, Baekhyun berjalan mendekati pria itu, berhenti sekiranya 5 meter agar pria itu bisa mendengar dengan jelas suaranya tanpa perlu berteriak.
"Kenapa, Sehun?" Ia bertanya. Suaranya nyaris tenggelam.
Pria itu masih pada posisi dan ekspresi yang sama. "Aku mencintaimu, Baekhyun."
"Omong kosong." Baekhyun berdecih. "Aku muak denganmu," ia melanjutkan. "Kau," ia mengarahkan telunjuknya pada pria itu. Membiarkannya menunggu apa yang selanjutnya akan Baekhyun katakan. "Pergilah."
Wajahnya datar menatap pria itu.
"Ayolah, Baek. Kenapa kau lebih memilih Chanyeol daripada aku? Apa kelebihannya?"
"Berhenti membawa orang lain dalam masalah ini. Di sini hanya ada kau dan aku. Tidak Chanyeol atau siapapun."
"Kalau begitu berikan satu alasan, kenapa aku selalu kau tolak."
"Aku tidak bisa. Aku tidak ada perasaan lebih terhadapmu. Dan mengetahui sifatmu yang sebenarnya, membuatku muak."
Sehun berdecih, ia tertawa sinis. "Dan kau membuang setiap orang yang tidak berharga bagi hidupmu? Ayahmu. Lalu aku, dan lebih memilih si bajingan itu. Lucu sekali, Baekhyun."
"Oh Sehun. Dengar, kau tidak berhak mencampuri urusanku. Dan aku ingin kau pergi, karena aku muak—terhadapmu."
"Mengapa?"
"Kau tidak pernah menyerah, Sehun. Aku sedikit kagum akan keteguhan hatimu. Tapi obsesimu menghancurkan semuanya, aku bukan tidak tahu kalau kau membenci setiap pria yang masuk ke dalam kehidupanku. Tanpa alasan. Lalu kau menghancurkanku, dengan memperkosaku. Tidak cukupkah kau membuatku merasa rusak?"
Sehun maju beberapa langkah, hingga berdiri di hadapan Baekhyun. Ia menelisik wanita itu dari atas hingga bawah.
Dada Baekhyun berdenyut sakit karena tatapan menilai itu. Ia merendahkannya.
"Kau baru merasakannya? Kau memang telah rusak, Baekhyun. Dasar jalang."
PLAK!
Bekas merah jelas terlihat di pipi Sehun yang pucat. Pria itu masih terdiam dengan kepala yang menatap ke bawah karena tamparan Baekhyun yang mengolengkannya.
Dada wanita itu naik turun karena emosinya. Ia itu segera berbalik dan berjalan meninggalkan pria yang bergeming itu. Namun, sebelum ia membuka pintu mobilnya, wanita itu membalikkan tubuh, menatap dari kejauhan sosok Sehun yang masih berdiam diri dengan tatapan putus asa.
"Tolong pergi, dari hadapanku. Dan hidupku."
Sehun mengangkat wajahnya, besertaan dengan bantingan pintu mobil yang menggema di telinganya.
...
Saat ini Baekhyun tengah membereskan pakaiannya, ia berniat tinggal sementara di apartemen Chanyeol agar Sehun tidak mengganggunya.
Sesekali mata bening itu melirik pada Chanyeol yang tengah menonton di ruang TV sambil tertawa. Baekhyun tersenyum kecil dan menggeleng. Segera menjejalkan paksa dua hingga tiga lipat baju pada kopernya.
Bunyi bel di tengah teriknya siang itu menggema di seluruh penjuru ruangan, Baekhyun melongokkan kepala untuk melirik Chanyeol yang juga menatapnya. "Siapa itu?" tanyanya.
Wanita itu menghardikkan bahu. Menyusun kembali pakaiannya saat Chanyeol beranjak untuk memeriksa tamunya.
Saat ia kembali, dua bungkus plastik dari restoran cepat saji memenuhi kedua tangan pria itu. Baekhyun mengernyit. "Siapa yang memesan makanan?"
"Aku pikir kau?" Chanyeol menatapnya bingung. Baekhyun menggeleng cepat. "Aku tidak memesan apapun hari ini."
"Benarkah?"
Baekhyun beranjak dan duduk di sofa tunggal di depan Chanyeol. Ia segera membuka bungkus plastik putih itu dan membulatkan matanya, "Pizza dan Ice Cream. Di siang hari. Wow." Ia tertawa bahagia.
"Kurirnya hanya berkata untuk nona Byun Baekhyun dan menyebutkan apartemenmu,"
"Kau membayar dia di depan?"
"Tidak, katanya sudah di bayar."
Baekhyun membulatkan bibirnya. Alisnya tertarik ke atas antusias. "Well, welcome home, sayang." Ucapnya saat membuka kotak itu menjilat bibirnya. Dua porsi Pizza dengan topping Pepperoni terlihat menggoda cacing di perutnya.
Baekhyun mengambil dua slice dan memutuskannya, memberikannya satu ke pada Chanyeol.
"Pas sekali, aku sudah lama tidak makan Pizza." Kata Chanyeol. Menikmati potongan Pizza di dalam mulutnya.
Baekhyun yang telah habis tiga slice membuka kotak Ice Cream dan mencicit lari ke dapur untuk mengambil sendok. Ia makan dengan lahap hingga Chanyeol tersenyum sendiri melihatnya.
Mereka makan dengan selingan obrolan ringan, Baekhyun yang hanya memakai celana dalam dan kaus tanpa dalaman membuat terus menggoda Chanyeol dengan menjilat sendok Ice Creamnya bagai tengah menjilat batang miliknya.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol membentaknya. Mata itu mengerjap polos, "makan Ice Cream."
"Kau menggodaku?"
"Tidak." Chanyeol menarik alisnya dan menyipitkan mata. "Sekali lagi aku melihatmu menggodaku, aku akan menerkammu di sini."
Baekhyun menggigit bibir dan merapatkan pahanya. Dia sebenarnya telah terangsang sejak tadi, hanya saja Chanyeol tidak terlalu peka.
Ia menyuap Ice Creamnya lagi, dengan mata yang fokus pada televisi, Baekhyun menjilat lagi sendoknya hingga tangkai dan jemarinya yang terkena lelehan Ice Cream. "Yummy," katanya.
Dan itu tidak lepas dari pandangan Chanyeol.
Pria itu mendesis dan menjatuhkan sisa Pizza di tangannya pada kotak, berdiri di hadapan wanita itu dan menciumnya kasar. "Eumhh" Baekhyun meleguh karena rasa Pizza dan Ice Cream di lidah keduanya beradu, ia mengalungkan lengan di leher pria itu, membalas lumatannya tak kalah sensual.
Tangan Chanyeol meraba perut ratanya di balik t-shirt, menangkup payudaranya yang bebas dan meremas dengan keras hingga Baekhyun meleguh di dalam ciuman mereka. Kepala keduanya berputar ke kiri dan kanan untuk mencari posisi menghabisi bibir satu sama lain.
Lelehan saliva menetes di sudut bibir Baekhyun yang terbuka, membuat lidah Chanyeol lebih tergesa membelit lidah wanita itu. Baekhyun melumat lidah Chanyeol bersamaan dengan kedua putingnya yang di pelintir oleh jemari Chanyeol. Menyebabkan keduanya mendesah keras dan semakin bernafsu.
Chanyeol mulai membelai punggung wanita itu, semakin turun dan menangkup pantatnya yang bulat, meremas dengan gerakan teratur. Baekhyun menggeliat di bawah kukungan pria itu, semakin merapatkan dirinya pada pria itu.
"Ahh—eumhh—uhh"
Chanyeol semakin semangat saat mendengar suara-suara yang Baekhyun keluarkan. Jemarinya menekan klitoris Baekhyun. "Ohh!"
Ia melebarkan kaki Baekhyun, menurunkan celana dalam wanita itu dan membuangnya ke sofa tunggal. Mengambil kedua pahanya untuk mengarahkan vagina merah Baekhyun pada tonjolan berbungkus celana jeansnya.
"Ahh, Chan. Anghh.. Yess" Ciuman mereka terlepas saat Chanyeol menggerakkan tonjolannya pada vagina basah Baekhyun. Ia turun mengecupi payudara Baekhyun dan memasukkannya ke dalam mulutnya yang hangat, menarik putingnya yang mencuat dan menekan dengan lidah.
"Ahh.. Terus, yeah, isap itu, ohh sayang."
Chanyeol semakin gencar mengerjai putingnya, ia menjilat, menggigit, melumat dan mengusapkan wajahnya di bagian sintal itu dan mendesis nikmat.
"Cumbu vaginaku, Yeol. Dia merindukan sapuan lidahmu."
Perkataan liar Baekhyun membuat Chanyeol terengah. Pria itu melepas kulumannya pada puting Baekhyun dan mensejajarkan wajahnya di kewanitaan merah muda yang berdenyut.
Mengusap jemarinya di tengah klitoris yang bengkak dan memutar mereka dengan lembut. "Ohhh—yeah, so good." Baekhyun memejamkan matanya.
Chanyeol yang melihat itu menjilat bibirnya yang kering, ia menjulurkan lidah besarnya di lipatan basah itu, menjilat dan membuka mereka dengan bibirnya hingga wanita di atasnya menjerit keras.
Cairan yang keluar dari lubang vaginanya yang tak luput dari mata gelap Chanyeol, ia menjilatnya, memasukkan lidahnya di lubang kecil yang terbuka itu dan langsung di sambut dengan kedutan hingga setengah lidahnya masuk ke dalam liang senggama wanita itu.
"F-fuck, baby, yess—ohh, eat that! Yes, eat my pussy" Baekhyun meracau ribut. Menakan kepala pria itu diantara pahanya dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Melihat itu, Chanyeol semakin gencar dalam aksinya, ia mengeluarkan lidahnya yang memutar di lubang vagina lembut itu, melumat labia yang basah dan menggetarkan klitoris merah itu dengan lidahnya. "Ohh yes, god! Chanyeol!" Baekhyun datang dengan keras.
Mata Chanyeol terbuka, semakin bernafsu saat melihat lubang merah yang kini berkedut dan mengalirkan cairan putih kental terpampang di depan wajahnya. Ia segera menjilat dan mengemutnya dengan mata yang tertutup. Menikmati perlakuannya yang panas.
Suara kecipak terdengar nyaring bersamaan dengan lengkingan Baekhyun saat dua jari Chanyeol masuk ke dalam lubangnya yang merekah.
"Ahh Ahh Yess, ya! Jilat itu, sodok, yeahh I like it—uhh Yeolhh"
"Yes, baby, you like it, huh?" Chanyeol bertanya sambil menggerakkan dua jemarinya dengan cepat.
"Yeahh yeahh I fucking like it, yeshh eat my pussy like—thathh"
Chanyeol tertawa, matanya yang berkabut nafsu menatap Baekhyun panas. Beralih pada jemarinya yang keluar masuk di lubang Baekhyun. Bunyi kecipak menggema di ruangan itu. Berpadu dengan desah serta teriakan Baekhyun.
Wanita itu menarik diri, merangkak dan mencium bibir tebal Chanyeol yang bersimpuh di bawahnya dan meleguh.
Ia melucuti pakaian pria itu dengan tergesa. Meraba dadanya yang keras dan menjilatnya. "Ohh" Leguhan Chanyeol terdengar. Baekhyun semakin gencar.
Ia membawa jemarinya yang lentik untuk berputar di batang Chanyeol yang keras dan hangat, menaik turunkannya dan mengelus kepala penisnya dengan telunjuk hingga precum pria itu semakin keluar dengan deras.
Baekhyun terkikik centil dan mengecup bibir tebal yang terbuka itu. "Sekarang giliranku." Bisiknya di depan bibir yang ingin menciumnya lagi.
Chanyeol menyamankan posisinya di atas sofa panjang, berbaring dengan kaki berselonjor dan menarik Baekhyun untuk berada di atasnya. Segera mencium bibir merah itu kasar dan memasukkan tiga jari besarnya pada kewanitaan Baekhyun. "Emhhh!"
Baekhyun melengkung indah, ia melebarkan pahanya yang berjongok di atas tubuh Chanyeol, membiarkan tiga jemari panas yang mengocok vaginanya hingga semakin meluberkan cairan putih.
"Anghh ahh Chanyeolhh"
"Enak?" bisik Chanyeol, diangguki oleh Baekhyun. Wanita itu mengejang saat pelepasan menghantamnya keras. Ia tidak tinggal diam barang untuk menetralkan nafasnya, ia malah turun ke bawah untuk bertemu dengan si batang raksasa.
"Ice Creamku," Baekhyun bangkit dan mengambil Ice Creamnya, memasukkan dua sendok ke mulutnya dan menuangkan beberapa sendok ke atas tubuh Chanyeol dari dada hingga batang kejantanannya yang tegak menantang.
Pria itu mendesis. Berbanding terbalik dengan si wanita yang tertawa genit.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Membuat Chanyeol ingin menghabiskan bibir merah itu.
Ia membungkuk dengan pantat yang menjulang di belakang dan menjalankan lidahnya untuk menjilat Ice Cream di dada Chanyeol. "Ohh" Chanyeol meleguh rendah. Matanya tak lepas dari mata Baekhyun yang juga menatapnya.
Lidah wanita itu berputar di sekitar puting kerasnya, melingkupinya dengan gigitan kecil dan mengecapnya kembali. Chanyeol menganga dan menghembuskan nafas keras. Menarik dagu Baekhyun dan mencium wanita itu.
Baekhyun melumat bibir bawah Chanyeol dengan kasar, melepaskannya sekali kemudian merangkak ke bawah untuk berhadapan dengan si kebanggaan yang gagah.
Di kecupnya penis gemuk itu dan melumat kepalanya. "Ohh Baekhyun!" Chanyeol menutup matanya karena rasa yang memabukkan.
Baekhyun tersenyum dan mengerling, "ya?" jawabnya dengan suara serak. Chanyeol membuka matanya dan menatapnya bengis. "Habiskan dia." Katanya. Wanita itu menggigit bibirnya. "Baik, tuan."
Chanyeol mengerang karena si nakal menyebutnya tuan. Ia segera melahap penisnya ke dalam mulutnya yang kecil, menyedotnya hingga pipinya mencekung dan mengeluarkannya lagi.
Ia meludah di batang berurat itu, memaju mundurkan tangannya dengan ramasan kencang. "Hah—ahh—ah"
Baekhyun tersenyum bangga saat mendengar desahan Chanyeol yang pendek dari bibirnya yang terbuka. Mata pria itu tertutup, mendalami kenikmatan di pangkal penisnya.
Wanita itu kembali memasukkan daging tak berulang itu ke dalam mulutnya hingga ke tenggorokan, menggetarkan mulutnya hingga ia mendengar Chanyeol mendesis dan menjambak rambutnya karena rasa yang melingkunginya.
"Yeah, Baek. Eat my cock, do you like it?"
Baekhyun mengangguk diantara kepalanya yang bergerak maju mundur. Chanyeol mengambil sejumput rambut Baekhyun, memegang sisi kepala wanita itu dan menumburkan bibir Baekhyun dengan pinggulnya, seluruh kejantanan besar itu berada di mulut Baekhyun untuk beberapa saat dan terlepas saat semburan sperma Chanyeol dengan keras menembak tenggorokan Baekhyun hingga membuatnya berlari ke kamar mandi dan muntah dengan hebat.
Pria itu melirik ke belakang, merasa bersalah karena membuat Baekhyun muntah.
Ia beranjak dalam keadaan telanjang bulat dan melihat Baekhyun yang membasuh wajah merahnya di wastafel.
"Baek, maafkan aku." Katanya. Suaranya menggema karena ruangan itu kedap suara.
Baekhyun mengangkat wajahnya dan terengah. Ia menggeleng kecil sambil menatap. Chanyeol dari cermin lebar di depan mereka. "Aku hanya sedikit sensitif," Katanya pelan. Ia bersandar di sisi wastafel.
Saling menatap dan terengah. Chanyeol berjalan ke arahnya, mengabaikan tatapan Baekhyun yang terpaku pada penisnya yang setengah berdiri. "Maaf," ia memegang bahu Baekhyun lembut. Menatap ke dalam matanya dengan pancaran lembutan.
Baekhyun tersenyum dan mengambil lengan pria itu. "Tidak apa-apa."
"Benarkah?"
"Um-hm... Mau melanjutkan?" Bisik Baekhyun. Chanyeol mengangkat alisnya. "Kalau kau tidak keberatan."
"Aku tidak akan keberatan jika kau tidak menindih tubuhku." Candanya. Chanyeol tertawa dan menggigit hidungnya main-main.
"Baiklah kalau begitu."
Baekhyun mencium bibir pria itu dengan lembut, melumatnya pelan. Chanyeol diam merasakannya hingga darahnya berdesir. Ia memeluk pinggang ramping itu dan menaikkannya dalam sekali angkat ke dalam gendongannya. Mendudukkan Baekhyun di keramik tinggi tempat Baekhyun meletakkan barang-barangnya sebelum mandi.
Wanita itu meleguh saat jari tengah dan manis Chanyeol masuk ke dalam vaginanya, melebarkan mereka hingga ia merasa cukup. Chanyeol melepaskan ciumannya dan menjilat leher Baekhyun, meninggalkan banyak jejak di sana sebelum matanya melihat ke bawah.
Tiba-tiba ia menarik Baekhyun ke dalam gendongannya dan mendudukkan wanita dengan posisi menghadap cermin lebar di depan mereka. Membangkang lebar dengan memperlihatkan vagina merekah Baekhyun yang merah dan basah.
Tubuh Baekhyun menggelinjang karena matanya menangkap pemandangan vaginanya yang menggairahkan. Di belakangnya, Chanyeol mengocok kejantanannya yang seketika terbangun sepenuhnya karena pemandangan di depannya.
Ia mendongak saat jemari Chanyeol berjalan di pahanya, merambat untuk membelai bibir vaginanya dan berhenti di klitnya, dan memelintirnya kencang. "AHH!"
Chanyeol tersenyum bangga. Di usapnya lubang vagina yang kini mengatup dan terbuka dengan tatapan tajam.
"Lihatlah kondisi vaginamu, Baek. Siap sodok kapan saja." Bisik Chanyeol di belakang telinganya. Baekhyun menengadah dan mendesah feminim. Merasakan jemari Chanyeol membelah dirinya kembali dan mengocoknya tanpa ampun. Kakinya tertutup saat klimaks menghantamnya untuk yang ketiga kali.
Chanyeol membawa tiga jemarinya ke bibirnya, memasukkannya ke mulutnya dan mendesah. "Nikmat." Katanya.
Baekhyun menatapnya dari bawah. Terengah karena lelah dan mencium leher pria itu. "Masukkan," katanya serak.
"Apa?"
"Penismu"
"Kemana?"
Baekhyun menegapkan posisinya dan membuka lebar pahanya, membelai lubangnya yang berkedut. "Ke sini, Chan-ah."
Chanyeol mendesis keras. Ia segera membalik tubuh Baekhyun dan menjilat lubang itu, mengocok miliknya dan mengarahkannya tepat di pintu masuk yang merekah. Menggesek hingga mendesah keras.
Baekhyun dapat merasakan cairannya semakin keluar saat Chanyeol menggerakkan kelamin mereka, ia menarik pria itu dan menggenggam kejantanannya, meremasnya sebelum menuntun pelan-pelan masuk ke dalam tubuhnya.
"Arghh"
"Ahhk"
"Perih?"
"Sedikit."
"Aku bergerak—ahh"
Chanyeol menarik sebatas ujung dan memasukkan hingga twins ballnya menabrak klitoris bengkak Baekhyun. Mengulanginya dengan tempo pelan dan selalu menaikkan intensitasnya.
"Ahh, fuck, yeahh like that"
Nafas pendek keduanya saling bersahutan, keringat mengalir dari seluruh bagian tubuh, suara serak saling bersahutan karena perpaduan kelamin di bawah sana yang menghadirkan rasa nikmat bukan main.
Baekhyun menarik kepala Chanyeol, mengajaknya berciuman sementara ia mengetatkan diri, merasakan tumbukan Chanyeol makin pas pada titiknya. Chanyeol menutup matanya, membiarkan Baekhyun mendominasi ciumannya sementara ia terfokus pada rasa batangnya yang dipijat lembut oleh dinding Baekhyun yang melingkupinya selagi ia menghentak dalam.
"Arghh, Baek. Ya tuhan," ia melepas bibir mereka, beralih pada dua puncak kemerahan yang menantang untuk dihabisi. Maka ia melakukannya; mangobrak-abrik mereka dalam kehangatan mulutnya yang sialan nikmat.
Menghantarkan Baekhyun dalam tepian orgasme yang membanjir batang perkasa Chanyeol. Pria itu melepaskan pungutannya, melihat dirinya yang keluar masuk dengan cepat di vagina Baekhyun yang merekah dan berdenyut. Membawa jemarinya ke klitorisnya yang bengkak dan mengurut dengan gerakan atas bawah sesuai tempo pinggangnya.
"Ahh! yess, babe. Hmmn... Feels so good." Baekhyun merasakan matanya kembali ke rongganya. Ia menengadah dan membuka bibirnya, menghirup oksigen dengan cepat dan mengeluarkannya lagi dengan cepat, sesuai tempo Chanyeol yang keluar masuk tubuhnya.
"Shit, remasanmu membuatku gila." Ucap Chanyeol. Menyenderkan kepalanya pada dada Baekhyun dan memejamkan mata. Merasakan lebih dalam kenikmatan di pangkal kemaluannya hingga seluruh sistem sarafnya.
"Kau tidak pernah mengecewakan, Baek."
Baekhyun tersenyum diantara matanya yang terpejam erat, mengencangkan otot vaginanya karena perlakuan mulut Chanyeol. Ia mengukurkan tangannya untuk mengusap klitorisnya, menggosok dengan cepat diiringi suara melengkingnya karena pelepasan yang ia dapatkan.
Chanyeol mendiamkan diri, mencabut batangnya hingga lubang terbuka Baekhyun terpampang menggoda. Ia mencumbu seperti biasa; luar biasa.
"Astaga, uhhh yess babyhh"
Ia mengangkat kepalanya, mencium bibir berisik kesukaannya itu dan memasukkan kejantanannya dalam sekali dorongan.
Menghentak dengan keras, menjemput pelepasan berkali-kali hingga langit senja menjemput.
...
Saat ini Chanyeol dan Baekhyun tengah berada di apartemen Chanyeol. Setelah mereka bertemu dengan Sehun dan terungkapnya siapa yang mengantar dua kotak Pizza beserta satu kotak Ice Cream. Tentu saja dia. Si wajah datar.
Chanyeol juga sempat beradu urat dengan pria itu, dan Baekhyun tidak menyukai bagaimana cara Sehun ingin tetap menjumpainya setelah kejadian di parkiran kantor produksi semalam.
Baekhyun juga menceritakan tentang Sehun yang membuang pil kontrasepsi Baekhyun saat ia tengah memperkosanya. Membuat Chanyeol sakit kepala dan segera membanting stir untuk melaju ke apotek. Diam diam berharap agar Baekhyun tidak hamil.
Chanyeol tidak takut jika ia hamil anaknya, hanya saja ia risau jika Baekhyun hamil anak Sehun, karena saat ia memperkosanya, Baekhyun tidak dapat meminum pilnya karena telah di buang.
Nyalinya membuat Chanyeol marah. Baekhyun tidak pernah melihat pria itu marah sebelumnya, ia adalah sosok lembut berhati hangat. Meski ia bringas di ranjang, tak Baekhyun pungkiri bahwa ia adalah pria terhangat yang pernah ia kenal.
Wanita itu merasa beruntung kenal dengan pria yang sebelumnya menjadikan dirinya narasumber itu. Tak pernah terlintas di benaknya mereka akan seperti ini.
Chanyeol memutar kursinya, membiarkan Baekhyun makan dengan tenang sementara dirinya memotongkan daging untuk wanita itu. "Makan dengan banyak, Baek."
Baekhyun mengangkat wajahnya. Menatap pria itu dan suara tawanya terdengar kemudian. Chanyeol tersenyum kecil, "apa yang lucu?"
"Kau hanya terlihat lucu saat kau makan."
Ia mencabikkan bibirnya ke bawah.
"Bukankah aku terlihat seperti anakmu? Kau memotongkan daging dan aku memakannya, kau mengambil minum dan aku meminumnya." Ia tertawa diantara kunyahannya.
Pria itu meliriknya sekilas dan tertawa diantara ekspirasi dari hidungnya. "Kau lebih cocok di sebut Istriku."
Baekhyun yang tengah meminun susunya sontak terbatuk. Batukannya cukup keras hingga Chanyeol berpindah ke arahnya dan mengelus punggungnya. "Kau baik?"
Ia mengangguk dan meminum air yang Chanyeol sodorkan. Mengerjap cepat dan mendesah lega. "Sial, Chanyeol. Aku hampir mati," katanya bercanda.
Chanyeol mengusak rambutnya tampa sadar dan kembali ke tempat duduknya. Melihat Baekhyun lekat-lekat, wanita itu kembali memakan dagingnya dengan lahap. "Maafkan aku." Bisiknya.
Baekhyun mengangkat bahu. "Aku hanya tergesa-gesa." Elaknya. Berusaha bersikap sesantai mungkin, meski dadanya terasa nyeri karena berdegup terlalu kencang.
Isi di piring keduanya hampir habis saat Baekhyun melihat jarum jam dan menaruh sumpitnya. Dilihatnya Chanyeol yang terus memandangi dadanya. Membuat Baekhyun menyilangkan lengannya di sana.
"Kenapa kau melihati payudaraku seperti remaja lelaki mesum yang baru saja pubertas?"
"Oh—astaga, tidak, itu terlihat luar biasa."
Wanita itu memicingkan matanya. "Ayolah, Baek. Aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu."
Baekhyun memutar mata. Melepaskan tangan pada dadanya dan meminum airnya. Mengetukkan jemari pada sisi meja. Teringat akan diskusi mereka tadi setelah bercinta di apartemen Baekhyun.
Ia berbicara jujur tentang perasaannya tentang pekerjaannya dan Chanyeol. Menginginkan dia dan pria itu keluar dari agensi dan menjadi orang biasa. Dan ternyata Chanyeol juga memikirkan hal yang sama. Namun ia masih menimbangkannya, mengingat Baekhyun baru saja menandatangani kontrak kembali dan jadwal shootingnya dengan beberapa produk kosmetik dan pakaian dalam yang mengharuskan wanita itu mulai sibuk lagi minggu depan.
Baekhyun sedikit kesal karena Chanyeol terlihat antara ingin dengan tidak, hanya karena tidak enak hati. Dan Baekhyun mengatainya berhati hello kitty, yang memicu Chanyeol menerkamnya kembali saat mobil Chanyeol berbaris indah diantara jajaran mobil lainnya di basement apartemennya.
Ia bersyukur bahwa CCTV lebih condong ke arah berlawanan dan petugas keamanan tidak patroli saat itu.
"Kau kemana?" Tanya Chanyeol saat Baekhyun beranjak dengan ekspresi masam di wajahnya. Ia panik, seingatnya ia tidak membuat kesalahan.
"Pergi. Menghindari orang yang sedang mempertimbangkan perasaan tidak enaknya pada orang lain." Singgungnya. Segera melangkah keluar, sedang Chanyeol menatap tubuh yang hanya berbalut kemeja kebesarannya itu dengan tatapan bingung.
"Baik. Baik, kalau begitu. Kita akan ke kantor sekarang. Aku akan memutuskan kontraknya, dan kau juga. Jangan marah padaku, oke?"
Baekhyun berbalik dan menatap Chanyeol tanpa sepatah kata kemudian meninggalkannya menuju kamar pria itu. Membanting pintunya dengan keras.
Chanyeol menghela nafas dan memejamkan mata saat pintu kamarnya tertutup rapat. Ia melirik bekas makan malam mereka dan membereskannya dengan tangan seribu. Menyebabkan suara dentingan begitu keras memenuhi dapur.
Sementara Baekhyun kini telah berdiri di ambang pintu dapur dengan sebuah ponsel dan kunci mobil. Ia juga telah mengganti bajunya dengan t-shirt tanpa lengan dan jeans biru panjang. Chanyeol membalik tubuhnya dan mengerjap ke arah Baekhyun yang melihatnya datar dengan kunyahan permen karet di mulutnya. Melemparkan kunci mobil pria itu hingga Chanyeol tersadar. Segera memakai baju dan menyusulnya menuju basement.
...
"Bagaimana itu bisa terjadi di saat waktu genting seperti ini, Chanyeol? Baekhyun? Bukankah ini sangat terburu-buru?"
Di sebuah ruangan dengan nuansa vintage menjadi tempat Chanyeol dan Baekhyun mengajukan niat keduanya yang ingin menyudahi kontrak di saat bersamaan. Wajah sang boss terlihat tersinggung saat Chanyeol mengutarakan keinginannya secara transparan dan to the point.
Pria setengah baya namun masih terlihat muda itu melirik wanita yang berada di samping Chanyeol. Wajahnya terlihat pucat serta lehernya terlihat beberapa ruam. Dia mengernyit. Seperti menemukan sesuatu yang tidak beres.
"Apa rencanamu setelah ini?"
"Mungkin aku akan pindah ke suatu negara dan memulai usaha mandiri."
Baekhyun segera mengangkat wajah dan menatap Chanyeol terkejut. Apa-apaan ini? Lelaki itu akan meninggalkannya di saat dia sudah tidak menjadi apa-apa?
"Bagaimana dengan kau, Baekhyun?"
Baekhyun mengalihkan wajahnya ke bos dan menelan kering liurnya. "Mungkin memulai karir di sebuah institusi atau lembaga kemasyarakatan."
"Kau seorang yang peka juga, huh? Aku kurang yakin kau akan di terima mengingat kau—" matanya menelisik Baekhyun bawah ke atas kemudian melanjutkan, "kau cantik, jadi mungkin mereka bisa menerimamu. Jadi, aku ingin mengucapkan semoga beruntung untuk karir barumu."
Baekhyun mengrenyit. Padahal dia tidak yakin akan itu. Sedang Chanyeol menukik alisnya tidak suka kepada si tua memuakkan itu. Apa dia baru saja meremehkan Baekhyun? Jelas sekali. Dia memicu Chanyeol untuk mengeluarkan bom atomnya namun diintrupsi oleh dobrakan pintu yang mengejutkan ketiga orang di dalam ruangan itu.
Dapat mereka lihat beberapa aparat kepolisian sedang berbincang dengan staff serta beberapa artis lain terlihat panik. Chanyeol menaikkan alisnya, mendapati Baekhyun yang menatapnya penuh kelembutan sebelum kemudian wanita itu menarik lengannya dan menyeret ia untuk ke luar dari sana.
"Apa itu tadi?" Chanyeol membuka suara dengan sebuah pertanyaan sementara Baekhyun terlihat fokus mengendarai volvo-nya membelah jalanan dengan kecepatan cukup tinggi.
"Perusahaan itu ilegal. Mereka juga menyeludupkan alat seks pembantu yang ilegal di korea karena beberapa dari mereka bisa membuat orang yang mengenakannya tak sadarkan diri."
"Maksudmu alat BDSM?"
"Singkatnya begitu. Tapi alat tersebut terhubung dengan alat setrum listrik untuk menstimulasi pihak wanita," Baekhyun menoleh padanya sebentar, "dan aku pernah menjadi salah satu pemeran wanita yang tak sadarkan diri di tengah pengambilan video."
Wajah Chanyeol tampak terkejut. Ia tidak bisa mengecilkan diameter bola matanya sementara Baekhyun mulai memelankan laju kendaraan dan berdecih. "Aku sudah biasa pingsan saat shooting. Bahkan sebelum kau masuk, aku juga pernah menjadi korban yang digiring untuk memuaskan nafsu para staff dan investor gelap yang menanam saham di agensi sialan itu."
.
.
.
TBC
Cot :
Berdoa aja semoga aku ga ngaret dan ff yang lain berjalan lancar agar semua idenya tersalurkan dengan benar. Wkwk. Pusing karna kebanyakan yang harus di kerjakan. Ya gitulah, aku selalu kerja serempak—ga pernah satu satu— dari dulu begitu, ga tau juga kenapa ga bisa satu satu.
Dan mungkin karena kebiasaan. Dan saat bersamaan idenya ngalir deras, tapi kalo ngerjain satu aja, stuck. Aneh emang. Tapi gapapalah ya, selagi aku bisa menangani.. Walau ngaret update, yamaap:( aku sudah berusaha kok heuheu
Ps. Thanks yang udah fav, follow dan riview.. Itu sangat membuat author terharu karena merasa di hargai 3
Cek karyaku yang update berjamaah ini ya! Hehe kalau berkenan:3
— Obliviate (Feat Breakfastcouple92) - Chapter 1 (*new) ; wp&ffn
— Love Shot - Chapter 6 ; ffn
— Love is True (Feat Meput) - Chapter 2 ;wp&ffn
Btw, Honey Drip Drip aka Gang Bang juga ada di Wattpad ya
U-name nya; herajung99
SEMUA YG DI UP HARI INI, ADA NC—kecuali LIT krna masih permulaan. HAHAHAHA YUHUU. BHAY!
