Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Naruto © Masashi Kishimoto

Nanairo no Compass © Seira Schiffer

.

Rated : T

.

Generation of Miracle x Hinata Hyuuga

.

Sesuatu berubah saat kau berbicara

Dan kau pun masih belum menyadarinya

.

RnR

.

Sekembalinya di apartemen, seorang gadis bersurai indigo menyibukkan diri dengan barang-barangnya. Waktu menunjukkan pukul 9.00 malam ketika dia selesai membongkar isi koper berhias bunga lavender.

Hinata harus bersyukur karena dirinya tidak perlu membersihkan setiap ruangan yang ada. Karena Neji telah memberitahu bahwa orang-orang suruhan dari sahabatnya sudah membersihkan tempat yang akan dihuni Hinata.

"Baiklah. Semua sudah beres." Gadis itu mengulas senyum kecil, "Sebaiknya aku mandi, ini belum terlalu malam."

TING TONG

"Iya sebentar." Seru Hinata berjalan ke arah pintu.

CKLEK

Tampak seorang laki-laki berumur awal 30 tahun membawa kardus coklat dengan ukuran 50x30x30. Pria itu mengenakan seragam pengantar barang dengan rapi.

"Iya. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Tanya Hinata sopan.

"Ada paket untuk Anda, Nona Hinata Hyuuga." Jawab sang pengantar barang. "Dari Kepala sekolah Teiko Academy."

"Teiko?" Gumam Hinata masih dalam kebingungan, "Oh… saya tanda tangan di mana?"

Sang kurir menunjukkan tempat untuk Hinata tanda tangan, "Di sini, Nona."

Setelah itu, laki-laki tersebut menyerahkan kardus ke tangan Hinata lalu pamit. Karena penasaran, Hinata lantas bergegas ke kamar saat pintu kembali terkunci. Hinata membuka benda itu dengan antusias.

"Sugoi…" Ucapnya kagum. "Empat setel seragam Teiko. Ditambah jas almamater. Wah… ada sepatu dan tasnya juga. Kakkoi ne…"

Senyum Hinata merekah dengan indah ketika melihat benda-benda tersebut. Tadi waktu dia sedang merapikan pakaian, dia mendapat e-mail dari Kepala Sekolah Teiko Academy bahwa untuk jadwal pelajaran dan buku paket akan diberikan besok di sekolah. Serta untuk besok Hinata diberi waktu sehari untuk menyesuaikan diri di sana.

"Almamater Kaasan memang menakjubkan." Puji Hinata.

"Astaga. Aku sampai lupa untuk mandi. Sabun.. sabun…" Gadis itu meraih kantong yang berisi alat-alat mandi dan beberapa helai pakaian untuk dibawanya ke kamar mandi.

Beberapa menit dia gunakan untuk membasuh diri. Selanjutnya, dia meletakkan kardus tersebut ke atas lemari pakaian setelah seragam-seragam sekolahnya dia masukkan ke lemari. Merasa tubuhnya sangat lelah, dia memilih membaringkan diri di ranjang. Berharap mimpi segera menyapa.

.

Bunyi alarm terdengar dari ponsel flip biru behias gantungan berbentuk panda mungil. Gadis itu sedikit terganggu dengan suara yang—menurutnya—cukup bising tersebut. Sampai akhirnya dia suara itu menyadarkannya dari alam mimpi.

"Engh…" Pertama kali sebelum dia melihat dengan jelas, gadis itu meraih ponsel kesayangannya. Dilihatnya dengan cermat layar yang bertuliskan angka 05.00 pagi. "Hoamm…"

Hinata bangkit kemudian berjalan kea rah kamar mandi dengan handuk yang disampirkan di bahu. Sebenarnya dia ingin memasak untuk sarapan, tapi dia baru sadar bahwa kemarin dia lupa membeli gas. Akhirnya, hari ini dia harus merelakan uang pemberian Neji untuk jajan.

Usai mandi, Hinata mengenakan seragam musim dingin berlengan panjang tak lupa dasi pita di kerah seragam berwarna serupa dengan warna rok—biru muda. Dia sengaja mengurai rambutnya yang akan menyaingi panjang punggunya itu. Tak lupa poni yang sengaja dia potong sejajar dengan alisnya agar tidak terlalu menutupi penglihatannya.

"Selesai. Penampilanku sudah rapi." Dia meraih sepatu pantovel hitam serta ponsel flip kesayangannya. Sesampainya di pintu, dia baru mengenakan sepatu. Sopan santun yang diajarkan oleh keluarga Hyuuga tidak begitu saja dia lupakan.

CKLEK

"Itekimasu." Ujarnya kemudian mengunci pintu apartemennya.

Dalam perjalanan, Hinata menyempatkan diri untuk membeli seporsi takoyaki dan dua bungkus roti melon. Dia memakan takoyaki untuk sarapan ketika dia menanti kedatangan bus. Hinata tak memperdulikan pandangan orang-orang terhadapnya. Dia sudah tidak lagi memperdulikan penilaian mereka. Untungnya bus yang akan dia tumpangi tiba saat acara sarapan dadakannya rampung.

Ternyata hanya butuh 15 menit dengan bus untuk sampai ke sekolahnya. Sebenarnya Hinata mau saja berjalan untuk sampai ke sekolah. Hanya saja dia belum terlalu yakin dengan jalurnya. Dia hanya penduduk baru di kota besar seperti Tokyo. Makadari itu, Hinata menulis beberapa tempat tertentu untuk mengingatkannya akan jalur perjalanan pulang sekolah.

Sesampainya di gerbang Teiko Academy, dia melihat beberapa murid juga memakai seragam sama sepertinya. Bedanya, mereka melihat Hinata seperti melihat alien.

"Siapa dia?" Tanya seorang siswa sambil menatap si surai indigo.

"Pasti murid baru." Timpal teman siswa tersebut, "Aku pernah mendengar gossip bahwa ada seorang siswi yang berhasil lulus tes masuk ke sekolah kita di pertengahan semester awal."

Siswa di sampingnya membulatkan mulutnya, "Jadi, dia orangnya?"

"Cantik juga ya." Puji mereka masih mengamati Hinata.

Terdengar bisikan orang-orang di sekitar Hinata yang tengah membicarakannya. Merasa risih, akhirnya Hinata memilih pergi ke ruangan kepala sekolah. Lagipula dia tidak tahan dengan tatapan mereka. Seolah dirinya adalah makhluk asing di dunia yang asing.

TOK TOK TOK

"Masuk." Perintah seseorang dari dalam ruangan.

Hinata membuka dan mendorong pintu tersebut, "Sumimasen."

"Ara.. Hinata Hyuuga. Senang bisa melihatmu langsung." Kepala sekolah tersenyum ramah, "Baguslah seragamnya terkirim tepat waktu. Kemarin saya sampai harus kirim ulang karena kau sudah pindah di kota ini. Tapi tak masalah, karena kau sudah menerimanya."

"Haik." Hinata mengangguk kecil.

"Ini untuk jadwal dan kelas barumu." Wanita berambut hitam sebahu tersebut memberikan secarik kertas untuk pada siswi barunya. "Ada peta di sana. Kau bisa mempelajari tempat-tempat di sini dengan itu."

"Arigatou." Tutur Hinata penuh sopan santun.

"Sekarang kau boleh melihat-lihat kelasmu seperti yang kukirimkan lewat e-mail kemarin. Semoga kau betah di sini." Tukasnya masih setia menampilkan senyum ramah.

"Un. Arigatou. Saya permisi." Hinata berojigi sebelum keluar dari ruangan bebau mint tersebut.

Gadis si surai indigo itu melewati koridor kelas yang panjang. Tak ayal dia dapat berpas-pasan dengan beberapa murid di sana. Tak lupa jendela lebar yang dipasang di sisi kanan dan kiri sepanjang koridor berfungsi melihat keadaan luar sekolah dan keadaan dalam kelas itu sendiri.

Dengan kondisi seperti ini, Hinata dapat melihat hal-hal apa saja yang berada di luar bangunan sekolah. Dan tak sengaja dia mendengar keriuhan para siswi di halaman depan. Cukup penasaran dengan penyebab keriuhan tersebut, Hinata menengokkan wajah ke luar jendela koridor. Gadis ayu itu bisa melihat beberapa klub olahraga tengah melakukan latihan pagi.

'Sekolah ini benar-benar berbeda. Banyak sekali klubnya.' Batin Hinata.

Setelah rasa penasarannya terjawab, dia kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas barunya. Dan tak disangka ruang kelas yang akan dia gunakan selama setahun ke depan persis apa yang dia bayangkan.

Hinata memasuki ruangan kelas dengan wajah percaya diri, tak ada lagi wajah malu-malu yang dia tunjukkan. Kembali dia merasakan berbagai macam tatapan yang dilemparkan orang-orang di sana. Namun tak satupun Hinata gubris. Gadis itu lebih memilih kursi kosong di belakang dekat dengan jendela. Dengan begini dia bisa melihat pemandangan lapangan outdoor.

Selama menunggu bel masuk, Hinata mencoba menghafalkan peta Teiko Academy dengan baik. Gadis itu tidak ingin tersesat di sekolah terbesar di Tokyo ini. Sekolah dengan luas Dua kali dari stadion sepak bola.

Konsep yang digunakan dalam pembangunan Academy super megah ini memengang teguh prinsip cinta alam. Hinata bisa melihat tak sedikit taman yang sengaja dibangun di beberapa sudut Academy. Dan beberapa pohon kecil-kecil menghias sepanjang jalan menuju Gedung olahraga indoor.

Tak terasa waktu yang digunakan gadis itu menghapalkan letak-letak bangunan dan ruangan di Academy selesai saat terdengar bel masuk.

DENGG DENGG

Serentak mendengar suara itu, baik siswa maupun siswi merapikan diri dan duduk di kursi masing-masing. Tak lama setelah itu seorang guru laki-laki memasuki kelas dengan senyum ramah terpatri di wajahnya

"Berdiri." Seorang laki-laki berkacamata berdiri mengomando teman-temannya, "Beri salam."

"Ohayou Sensei." Sapa para murid dengan riang dan penuh penghormatan.

"Ohayou." Balas sang guru setelah meletakkan buku pelajaran di mejanya.

Murid-murid kembali duduk, Sang gurupun berdiri siap menyampaikan suatu informasi. "Saya diberitahu akan ada murid baru di kelas saya jadi mohon nona yang duduk di kursi paling belakang untuk memperkenalkan diri di depan kelas."

Merasa terpanggil Hinata berdiri dan melangkah maju ke depan kelas. Dia berbalik guna melihat calon teman-teman sekelasnya. Dengan menghirup napas panjang lalu menghembuskannya, Hinata memulai perkenalan diri. "Hajimemashite. Watashi wa Hinata Hyuuga desu. Yoroshiku onegaishimasu."

"Kalian semua berteman baiklah dengan dia." Sang guru yang tadinya menatap anak-anak didiknya kemudian beralih pada netra lavender milik Hinata, "Kepala sekolah sudah memberitahu saya jika saat ini kau dalam masa penyesuaian. Jadi walaupun kau tidak mengikuti pelajaran, kau harus tetap memperhatikan apa saja yang dijelaskan."

"Haik. Wakarimashita." Hinata mengangguk mengerti.

"Kau bisa memanggilku Karasuma-sensei. Aku wali kelasmu tahun ini. Dan aku adalah guru music dan matematika." Jelas Karasuma-sensei, "Sekarang kau bisa duduk."

Pelajaran matematika membuka hari Hinata di sekolah ini. Sekilas memang tidak terlalu sulit, karena menurutnya Karasuma-sensei menerangkan rumus-rumus matematika dengan cara yang mudah Hinata pahami. Tidak sampai di situ, Karasuma-sensei pun memberikan trik-trik cara cepat untuk menguasai pelajarannya. Sungguh, metode ini tidak pernah ditemuinya selama dia bersekolah.

'Mungkin aku bisa mendapat nilai tinggi dengan mudah jika mendengarkan penjelasan Karasuma-sensei.' Batin Hinata memuji sang wali kelas.

Pelajaran matimatika sekarang berada di dalam list mapel favorit Hinata. Dia tidak keberatan jika seharian harus mendapatkan pelajaran matematika dari Karasuma-sensei.

Tak terasa waktu dua jam pelajaran berlalu dengan cepat bagi Hinata. Karasuma-sensei menghentikan pembahasan tentang materi barunya. Pria itu merapikan buku-buku pelajarannya lalu berjalan ke pintu keluar.

"Sekian pelajaran hari ini. Sampai jumpa besok." Ucap Sensei tepat sebelum menutup kembali ruang kelas.

"Sekarang pelajaran olahraga ya?" Tanya salah satu siswa berambut coklat cepak.

"Pelajaran yang kusukai." Sahut teman yang lain.

"Kau lupa siapa yang mengajar?" Timpal yang lain mulai mengeluarkan seragam olahraga.

"Kyaa.. Kaname-kun kau jangan menghancurkan kesenanganku." Pekik seorang gadis bersurai pirang sebal karena perkataan dari sang teman.

"Materi kali ini tentang apa?" Gadis berambut pink yang berada tepat di hadapan Hinata bertanya ke gadis di sampingnya.

"Kudengar tentang voli." Balasnya.

"Wah… pasti seru." Serunya kemudian berbalik menatap Hinata yang berada tepat di belakang bangkunya, "Hinata-chan. Boleh kupanggil seperti itu?"

"Tentu." Jawab Hinata singkat.

"Kau ikut ke lapangan bersama kami 'kan?" Tanyanya.

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

"Namaku Momoi Satsuki. Kau bisa memanggilku Satsuki."

"Haik. Satsuki-san."

Selesai Hinata dan Satsuki berbincang-bincang, tak terasa para siswa sudah meninggalkan ruang kelas. Yang berarti para gadis yang akan berganti pakaian di dalam kelas. Setelah yakin menutup semua jendela da pintu, para gadispun mulai mengganti seragam musim dingin mereka dengan seragam olahraga berlengan pendek berwarna putih polos dan celana panjang berwarna baby blue dengan garis putih di pinggir celana model sport tersebut.

Saat berganti seragam pun mereka menyempatkan untuk mengobrol. Seolah bahan pembicaraan mereka tidak ada habisnya. Ditengah-tengah keseruan itu, Hinata yang tidak membawa seragam olahraga hanya diam dan mengamati.

Usai berganti pakaian, Satsuki dengan seenaknya sendiri menarik tangan Hinata untuk mengikutinya berjalan ke lapangan Outdoor. Semua murid berbaris dengan rapi di lapangan sembari menunggu sang guru Killer menurut apa yang sudah didengar Hinata dari perbincangan para siswi.

Seorang guru berambut putih dengan raut wajah tegas memperjelas bahwa dia adalah Guru yang keras dan tak suka dibantah. Sekilas melihat keberadaan Hinata, sang guru menunjuknya.

"Kau yang namanya Hyuuga Hinata?" Hinata mengangguk.

"Namaku Hiruma Kousuke. Kau bisa memanggilku Hiruma-sensei. Untuk kali ini kau boleh absen di pelajaranku. Kepala sekolah sudah mengijinkannya." Lanjut Hiruma-sensei.

Tanpa menunda waktu, Hinata segera keluar dari lapangan setelah susah payah melepaskan cengkraman dari Satsuki.

"Dan untuk kalian semua, cepat lakukan pemanasan dengan lari 5 kali putaran mengelilingi lapangan." Perintah sang guru saat Hinata baru saja duduk di bangku taman yang menghadap langsung lapangan sepak bola yang sudah dimodifikasi menjadi lapangan voli.

Gadis itu mengamati mereka yang sedang melakukan pemanasan dengan terpaksa. Dengan ekspresi kesal, jengkel dan marah di wajah mereka, Hinata bisa menebak jika guru olahraganya ini adalah sosok yang tidak disukai oleh kelasnya ataupun murid dari kelas lain. Baru satu putaran saja wajah mereka seperti menahan kata-kata umpatan untuk sang guru.

Dan seperti dugaan Hinata, selesai melakukan pemanasan mereka semua terkapar bak ikan yang dibiarkan kepanasan di bawah sinar matahari tanpa air. Hinata seperti melihat keadaan di mana para budak yang merasa lelah karena dipaksa kerja rodi.

Sampai sang guru memberikan nasehat cuma-cuma karena melihat kondisi anak didiknya yang sudah seperti ikan dehidrasi. Setelah penyampaian pencerahan itu, mereka memulai materi bola voli. Untuk hari ini, sang guru hanya memberi pengetahuan dasar mengenai voli. Servis, passing, blok, dan posisi-posisi pemain voli. Sehabis itu, para murid disuruh untuk mempraktekkannya dengan membentuk beberapa kelompok untuk bermain voli beregu.

Satsuki berjalan ke arah Hinata, "Hinata-chan. Kau mau ikut main voli?"

"Eh? Aku?" Hinata menunjuk dirinya sendiri.

"Kau mau?"

"Etto… sebenarnya aku mau. Hanya saja—" Hinata menunjukkan seragam yang dia gunakan.

Menyadari kebodohannya, Satsuki hanya menepuk dahinya pelan. "Oh… gomenne. Aku lupa jika kau tidak menggunakan seragam olahraga. Tehe.."

"Kalau begitu minggu depan kau mau ikut 'kan?" Lanjut Satsuki penuh harap.

"Tentu."

"Kalau begitu aku main dulu, Hinata-chan." Satsuki mengulas senyum manis. "Jika kau berubah pikiran, kau bisa bergabung dengan kami. Dari pada sendirian di sini."

Setelah kepergian Satsuki, Hinata kembali terdiam. Seolah-olah ada banyak hal yang dia pikirkan.

"Kenapa—" Hinata mulai berujar, "—dia mengatakan aku sendirian saat ada seseorang di sampingku?"

Hinata menatap sosok pria berwajah imut berambut baby blue. Mendengar penuturan Hinata, sesaat pemuda itu terlihat terkejut sebelum wajahnya kembali datar. Dia menatap Hinata dengan wajah flatnya. "Kau bisa melihatku?"

"Kau hantu?" Pemuda itu menggeleng.

"Demo… kau bisa merasakan hawa keberadaanku?" Tanya pemuda itu dengan nada heran dan penasaran.

Hinata mengernyit, "Tentu saja. Aku melihatmu terjatuh di putaran pertama dan tidak ada orang yang membantumu. Lalu kau berjalan ke sini sendirian."

"..." Dia terdiam.

"Mereka sahabatmu, 'kan?" Si surai baby blue mengangguk.

Hinata menatap teman-teman sekelasnya. "Tapi… bagaimana mereka bisa tidak sadar akan keberadaanmu?"

"Bahkan tidak ada yang menyadari jika kau telat dan baru masuk saat wali kelas datang." Lanjut Hinata kembali menatap pemuda itu dengan heran.

"…." Dia kembali terdiam.

"Jangan biarkan orang lain menganggapmu seperti hantu." Hinata mulai beranjak berdiri. "Kau itu manusia."

DEG

"Cotto matte kudasai, Hyuuga-san." Hinata menghentikan langkah ketika namanya dipanggil.

"Ore wa Kuroko Tetsuya." Pemuda itu memperkenalkan diri. "Aku ingin berteman denganmu."

Sesaat Hinata terdiam, lalu gadis itu menarik kedua ujung bibirnya kecil. "Senang berkenalan denganmu, Kuroko-san."

.

"Hinata-chan. Ayo ke kantin." Ajak Satsuki saat istirahat.

Hinata menatap Satsuki dengan rasa bersalah, "Gomenne… aku membawa bekal."

Satsuki mengerucutkan bibir, "Yah… padahal aku ingin mengajakmu berkenalan dengan teman-teman klubku."

'Syukurlah aku tadi membeli roti melon.' Batin Hinata bersyukur, karena jujur dia tidak mau lagi mengulangi kesalahannya di masa lalu.

"A-ah… Gomenne. Lain kali saja, Satsuki-san." Tutur Hinata lembut.

"Kalau begitu lain kali kita makan bersama-sama ya? Aku ingin memperkenalkanmu dengan teman-temanku." Ujar Satsuki sumringah.

'Kurasa aku harus bersembunyi dari Satsuki-san setiap istirahat.' Gumam Hinata dalam hati.

"Sampai jumpa, Hinata-chan." Pamit Satsuki dibalas Hinata dengan senyum kecil. Baru saja ingin mengalihkan pandangan, netra Hinata melihat sosok Kuroko yang juga tengah menatap dengan tatapan mengobservasi.

"Doushite, Kuroko-san?" Tanya Hinata.

"Nandemonai. Sumimasen, Hyuuga-san." Pamit Kuroko meninggalkan bangkunya dengan tanda tanya di kepala Hinata.

'Kenapa dengannya?' Gadis itu mengangkat bahu tak peduli lalu membuka bungkus roti melon yang dia beli tadi pagi. Dia menikmati kudapan makan siang itu sambil melihat beberapa orang yang makan di taman.

Hari ini bisa Hinata lalui dengan lancar. Lupakan tentang Satsuki yang tidak satu detikpun berhenti berbicara tentang seluk beluk Academy. Mulai dari guru-guru yang terkenal baik dari guru malaikat atau guru killer, klub, bahkan pemuda-pemuda tampan di sana. Dan selama pembicaraan yang dikuasi oleh Satsuki, gadis bermarga Hyuuga itu hanya mengangguk mencoba mengerti.

"Aku harus mencari pekerjaan. Tidak mungkin aku hanya mengandalkan uang pemberian Niisan." Hinata terdiam di gerbang Academy. "Sebaiknya aku mengikuti arah jalan pulang. Kurasa ada beberapa lowongan pekerjaan di sekitar sana."

Akhirnya gadis itu memilih berjalan perlahan-lahan sambil melihat ke kanan kiri. Dia berharap ada lowongan pekerjaan yang ditempelkan di jendela toko-toko atau café yang dia lewati. Dan bersyukurlah, karena gadis itu menemukan apa yang dia cari. Hanya saja, tidak semudah itu mendapatkan pekerjaan di Tokyo. Apalagi jika dia masih seorang pelajar.

"Sudah 3 toko tapi tidak ada yang mau menerima." Hinata menghela napas lelah.

"Tidak boleh menyerah. Semangat, Hinata." Hinata menyemangati diri sendiri. Dihirupnya udara sebanyak mungkin lalu dihembuskan perhalan, "Setelah ini mungkin aku akan mendapatkan pekerjaan."

Dia kembali berjalan. Dengan penglihatannya yang jeli, Hinata melihat secarik kertas lowongan kerja tertempel di dinding kaca sebuah café bernama Dream Café. "Ada café yang buka lowongan. Kaasan doakan aku agar diterima di sini."

KLINTING

Gadis yang masih mengenakan seragam Teiko Academy itu menginjakkan kaki ke dalam café. Dia sempatkan untuk melihat-lihat café itu. Kesan pertama yang dia dapatkan adalah café ini disatu sisi menampilkan kesan rumahan dan disisi lain menampilkan kesan modern.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang wanita berambut pirang berkacamata.

Hinata terlihat sedikit gugup, "A-ano… bisa saya bicara pada manager tempat ini?"

"Saya sendiri. Ada apa?" Wanita itu duduk di bangku yang berada tepat di sampingnya.

Hinata berojigi memberi hormat, "Hajimemashite. Saya Hinata Hyuuga. Tadi saya menemukan ini di depan."

"Kau mau melamar di sini?" Hinata mengangguk.

Manager wanita itu melihat Hinata dengan seksama, "Kenapa siswi Teiko Academy memilih untuk bekerja part time?"

"Etto.. saya tinggal sendirian. Dakara… saya harus bisa menghidupi diri saya sendiri mengingat saya tinggal di kota padat seperti ini."

Dia mengangguk-angguk mendengar penjelasan Hinata, "Baiklah. Kau diterima. Gajimu 1000 yen per jam."

"Kyaa..!" Pekik Hinata spontan. Mendapati tatapan heran dari sang manager dia menutup mulut lalu membungkuk, "Gomenasai."

"Kau bisa mulai kerja nanti. Jam kerjamu mulai dari jam 07.00 malam sampai jam 11.00 malam. Untuk seragam sudah ada di loker pekerja." Jelasnya sedikit terkekeh dengan sikap gadis di hadapannya. Gadis ini mengingatkannya dengan seseorang.

"B-benarkah?" Tanya Hinata tak percaya.

"Ya." Tukas sang manager meyakinkan, "Kau bisa memanggilku Alex."

Hinata mengembangkan senyum lebar, "A-arigatou. Doumo arigatou, Alex-san."

"Ya. Sampai bertemu nanti." Alex bangkit berdiri.

"Sumimasen." Hinata membungkukkan badan lalu meninggalkan café tersebut.

'Akhirnya dapat pekerjaan juga. Arigatou Kami-sama.' Batin Hinata penuh syukur karena telah mendapatkan pekerjaan dengan cepat.

Malam harinya sejam sebelum Hinata mulai bekerja, dering ponsel menginterupsi kegiatan gadis itu yang tengah menyiapkan makan malam.

"Moshi-moshi." Sapa suara dari sebrang sana.

"Moshi-moshi, Niisan." Balas Hinata.

"Bagaimana hari pertamamu?"

"Menyenangkan."

"Mereka baik denganmu 'kan?"

"Ya.. kurasa."

Neji diam sejenak sebelum kembali bersuara. "Ada yang menganggumu?"

"Tidak." Hinata menggeleng tanpa sadar.

Terdengar helaan napas pelan dari sebrang sana, "Jika ada yang menganggumu katakan saja pada Niisan. Jangan takut. Oke?"

"Haik." Hinata memainka ujung rambutnya, "Bagaimana kuliah Neji-nii?"

"Lancar." Jawab Neji yang membuat senyum kecil muncul di wajah Hinata.

"Syukurlah. Niisan sehat saja 'kan di sana?"

Neji terkekeh dengan pertanyaan sang adik. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. kau baik-baik saja 'kan di sana?"

"Ya. Aku sangat baik di sini."

"Sudah dulu ya, Hinata. Aku harus kerja." Pamit Neji sesaat setelah Hinata mendengar keriuhan di sana. Hinata yakin jika kakaknya sedang istirahat dan sekarang harus kembali bekerja.

Hinata paksakan untuk tersenyum, agar Neji tidak mendengar nada yang berbeda dari suaranya, "Niisan jangan memforsir diri dengan bekerja. Jaga kesehatan."

"Titip salam untuk Tousan." Lirih Neji.

"Haik. Aku sayang Neji-nii."

"Aku juga."

TUT TUT TUT

Sedetik kemudian air mata Hinata menetes. Sedih rasanya mendengar kakaknya harus bekerja mati-matian menggantikan ayahnya. Makanya, Hinata tidak ingin lagi membebani sang kakak. Uang yang dikirimkan oleh Neji akan Hinata simpan baik-baik dan tidak akan dia sentuh sebelum dia benar-benar membutuhkan uang.

Gadis itu memakan makan malamnya dengan khidmat. Sepi rasanya jika tidak ada keluarga. Tapi, mau bagaimana lagi Hinata tidak bisa berkeluh kesah meminta sang kakak untuk menemaninya. Usai makan malam dan mencuci piring, gadis itu kembali ke kamar alih-alih mengambil topi berwarna hitam setelah menggelung rambutnya ke atas. Dengan modal tas kecil, sepatu warna putih dengan gradasi ungu, serta kemeja berwarna ungu muda dengan jeans abu-abu panjang Hinata berangkat bekerja.

"Itekimasu." Pamit Hinata setiap pergi dari apartemen.

TAP TAP TAP

Sambil menbenarkan letak topinya, Hinata berjalan perlahan menuju lift. Gadis itu sudah yakin dengan penampilannya saat ini. Hari pertamanya kali ini, dia harus memberi kesan sebagai pekerja yang berdedikasi tinggi pada pekerjaan.

TING

Pintu lift terbuka. Seorang pemuda beralis cabang terlihat memukul kecil kedua bahunya. Sambil melangkah keluar, pemuda itu merenggangkan kedua tangan ke atas.

"Aish… dasar kapten sialan. Tidakkah dia merasa cukup dengan latihan pagi tadi?" Umpat pemuda bersurai merah hitam tersebut.

Hinata sebenarnya memperhatikan pemuda itu saat pintu lift terbuka. Gadis itu sedikit terkejut mendengar umpatan seorang laki-laki secara langsung. Tanpa dia sadari tangannya bergetar. Entah untuk alasan apa, dia merasa takut.

Dan tingkah Hinata itu memancing perhatian dari sang laki-laki.

DEG

Sejenak iris merah maroon dan lavender itu bertemu tapi terputus dengan Hinata yang langsung menunduk dan berjalan cepat ke arah lift. Pemuda itu hanya bisa mengernyit bingung. Alhasil, dia berhenti berjalan dan menatap gadis yang ia anggap aneh.

'Dia kenapa?' Batin pemuda itu masih mengamati polah tingkah Hinata yang masih berjalan sambil menundukkan kepala. Tidak hanya itu saat Hinata mencoba menegakkan kepala dan mata mereka kembali bertemu, buru-buru Hinata kembali menundukkan kepala dan menekan tombol lift dengan cepat. Terlalu cepat hingga terkesan dia ketakutan.

'Tunggu. Kenapa dia harus takut?' Sang pemuda berpikir, 'Apa dia takut padaku?'

"Oi.. Matte..!" Teriaknya membuat si gadis kembali menekan tombol lift dengan cepat berharap pintu lift cepat tertutup.

DRAP DRAP DRAP

Pemuda itu semakin dekat. Dan jantung Hinata berdetak semakin kencang.

TING

Pintu lift akhirnya tertutup tepat sebelum sang pemuda mendekatinya.

'Huft… s-syukurlah.' Hinata menghela napas panjang dengan napas ngos-ngosan seperti baru saja lari marathon.

Dia kemudian bersandar di dinding lift sembari memegang dada. Jelas dia merasakan detak jantungnya yang menggila, "Hah… M-menakutkan sekali…"

TING

Tak butuh waktu lama pintu lift kembali terbuka. Bedanya kali ini Hinata berada dilantai satu. Karena masih merasa was-was, Hinata segera saja pergi dari apartemennya.

TAP TAP TAP

Detak jantung gadis bersurai ungu itu sudah kembali normal. Namun tangannya masih gemetar ketika mengingat pemuda tadi.

"Pemuda itu satu lantai denganku." Hinata menghela napas untuk kesekian kalinya dalam sehari ini, "Kuharap dia tidak mengingat wajahku."

Berhasil menenangkan diri, dia kembali berjalan dengan tegak dan memasang wajah seperti biasa. Bukan wajah ketakutan seperti tadi.

Hanya saja karena merasa ketakutan tiba-tiba seperti tadi, membuat Hinata merasa sedikit haus. Kerongkongannya terasa sangat kering. Sadar bahwa dia membawa susu coklat yang tadi sempat dia buat, Hinata mengeluarkan botol minum sedang berwarna ungu dengan tulisan Hinata di bawah botol.

Sementara Hinata ingin membasahi kerongkongan, di sisi lain terdapat seorang pemuda sedang rebutan sesuatu dengan seorang anak laki-laki.

"Es krimnya untukku." Ujar pemuda yang lebih dewasa.

"Untukku." Sang anak kecil tidak ingin mengalah.

"Aku yang duluan pesan." Tukas pemuda itu ikutan keras kepala.

"Kenapa Onichan tidak mau mengalah dengan anak kecil?" Seru si anak bersikeras mendapatkan es krim kesukaanya.

"Kalau aku mengalah, aku tidak bisa merasakan es krimnya." Balas si pemuda dengan wajah malas serta nada polos bak anak kecil.

"HUAAA…! ONICHAN HIDOI..!" Si anak kecil mulai merengek.

Keributan dua laki-laki berbeda umur itu membuat Hinata harus menghentikan keinginannya untuk membasahi kerongkongannya.

"Suara apa itu?" Hinata menoleh mencoba melihat sumber keributan.

Tak jauh dari tempatnya, dia melihat seorang pria bertubuh bongsor seperti titan menunduk dan bertengkar dengan anak kecil yang mungkin tidak lebih tinggi dari perutnya. Dan yang lebih membuatnya heran adalah mereka meributkan es krim.

Karena merasa kasihan, Hinata berjalan mendekati anak yang sedang menangis tersedu-sedu.

PLUK

Hinata berjongkok untuk mensejajarkan tinggi dengan anak itu. Dia mengelus kepala si anak dengan lembut, tak lupa senyum kecil di wajahnya.

"Kenapa kau menangis?" Tanya Hinata lembut.

"Hiks… O-onichan itu… Hiks… Hiks… t-tidak mau m-memberikan es krimnya untukku." Jelas si anak dengan sesenggukan.

Hinata melirik pemuda yang lebih besar kemudian berdiri dan memesan es krim yang diinginkan oleh si anak kecil. Si pedagang es krim mengatakan bahwa itu es krim terakhir. Dengan jawaban seperti itu, Hinata mengetahui kenapa kedua laki-laki beda umur ini saling bertengkar.

'Kekanakan sekali.' Hinata terkikik dalam hati.

"Tidak apa. Tolong berikan padaku." Ujar Hinata lalu memberikan sejumlah uang pada si pedagang.

Pemuda itu menatap es krim yang ada di tangan Hinata dengan mata berbinar. "Es krimku."

"Iie." Hnata menatap si pemuda dengan tatapan lembut. Ia merasa berhadapan dengan anak kecil walaupun pemuda di hadapannya lebih tinggi darinya.

"Ini untuk anak kecil yang manis." Hinata memberikan es krim rasa coklat itu kepada anak kecil. Membuat raut tak suka terhias di wajah sang pemuda.

Anak kecil itu menatap tak percaya es krim yang disodorkan untuknya. "I-ini… untukku?"

Hinata mengangguk, "Tapi kau harus berjanji untuk tidak menangis lagi."

Si anak kecil langsung mengusap wajahnya dengan semangat. Seakan-akan dia tidak pernah menangis. Kemudian dia mengambil es krim itu dengan wajah bersinar-sinar.

"Arigatou, Neechan." Ujar si anak sambil memamerkan gigi susunya.

"Ya. Tapi kau harus berjanji dengan Neechan." Hinata membelai surai hitam milik anak itu, "Seorang laki-laki tidak boleh menangis seperti itu. Kau ingin menjadi superhero kan? Superhero tidak boleh menangis. Mengerti?"

Sebuah anggukan semangat didapatkan Hinata, "Ya sudah. Keluargamu pasti mencarimu, cepat pulang. Jangan membuat mereka khawatir."

"Haik. Arigatou Neechan." Ujar si anak riang yang kemudian berlari pergi meninggalkan Hinata dan pemuda tadi sendirian.

"Kenapa kau tidak memberikannya padaku?" Tanya si pemuda saat Hinata bangkit berdiri.

Mendengar pertanyaan dari pemuda itu untuknya, Hinata berbalik dan menatap si pemuda yang memiliki surai ungu sebahu.

"Dengar." Hinata memberanikan diri menatap langsung iris ungu milik si pemuda. "Aku tahu kau pasti tidak suka ketika aku memberikan es krim itu pada anak kecil tadi."

"Hanya saja… membuat seorang anak kecil menangis bukanlah hal baik. Untuk orang dewasa seperti kita, kadang mengalah bukanlah hal yang buruk." Lanjut Hinata.

"Tapi aku yang mengantri duluan." Tukas si pemuda masih belum menerima jawaban gadis asing di hadapannya.

Hinata menghela napas lalu menyodorkan botol minumnya, "Ini memang bukan yang kau inginkan. Tapi ini susu coklat buatanku. Rasanya mungkin hampir sama dengan es krim tadi. Sebagai permintaan maaf, aku berikan ini untukmu."

Tidak mendapat respon dari si pemuda, Hinata berinisiatif meraih tangan besar si pemuda lalu memberikan botol minumannya.

"Kenapa aku yang harus mengalah? Aku duluan yang memesan es krimnya." Si pemuda menatap Hinata dengan marah.

"Aku tidak tahu siapa yang lebih dulu memesan. Tapi jika kau yang mendapatkan es krim itu. Aku yakin kau tidak akan bisa menikmatinya."

"Apa maksudmu?" Pemuda itu menggaruk pelipis bingung.

'Seperti anak kecil saja.' Batin Hinata saat melihat tingkah laku pemuda di hadapannya ini. Seakan teringat sesuatu, gadis itu tersenyum kecil dan menatap lembut mata ungu si pemuda.

"Begini. Es krim adalah makanan yang manis. Menikmati makanan yang manis membutuhkan suasana yang bahagia atau menyenangkan agar kita bisa menikmatinya dengan maksimal." Jelas Hinata.

"Tapi…" Hinata berhenti sejenak, "Jika kau memakan es krim coklat yang manis itu ketika ada anak kecil yang menangis sesenggukan karenamu, apakah kau bisa menikmati es krim itu?"

"…." Dia terdiam memikirkan perkataan si gadis bertopi.

"Kau pasti akan merasa bersalah dan tertekan. Rasa manis es krim tidak akan bisa kau nikmati jika kau tertekan. Makanya, aku memberikan es krim itu pada anak kecil tadi dan aku memberimu susu coklatku agar kau tidak tertekan dan bisa menikmati manisnya susu coklat." Terang Hinata dengan sabar.

Si pemuda akhirnya mengangguk mengerti, "Souka… jadi, aku bisa menikmati susu coklat ini dengan maksimal?"

Hinata mengangguk sebagai jawaban.

Wajah pemuda tadi beralih menjadi berbinar-binar, "Arigatou na."

"Jaa." Hinata berbalik arah dan meneruskan perjalanan ke tempat kerja. Saat melihat jam di layar ponselnya, dia terkejut.

'Tinggal 15 menit lagi. Kyaa… aku harus lari.' Tanpa basa-basi lagi, gadis dengan rambut digelung tadi berlari kencang, mengabaikan rasa haus yang sempat dideranya.

"Oi..! Atsushi, kenapa kau lama sekali?" Tanya seorang laki-laki berambut navy yang memakai jaket warna biru dongker.

"Aomine-chin." Pemuda beriris ungu yang dipanggil Atsushi mengalihkan perhatian pada sahabatnya, "Aku ingin menikmati susu coklatnya."

Aomine menggaruk kepala bingung. "Apa maksudmu?"

Tanpa menggubris pertanyaan Aomine, Atsushi berlalu meninggalkan pemuda berkulit tan tersebut.

"Aku lupa tidak menanyakan namanya. Tapi... kuharap kita bertemu lagi." Gumam Atsushi dengan aura berbinar-binar bak anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah.

"Oi.. jangan tinggalkan aku." Teriak Aomine dari kejauhan. Pemuda berkulit tan itu akhirnya mengejar si titan ungu yang pergi terlebih dulu.

.

KLINTING

"Hah… hah… masih ada waktu lima menit." Buru-buru Hinata memasuki ruang loker dan memakai seragam secepat kilat namun hasilnya terlihat cukup rapi.

CKLEK

"Kenapa kau ngos-ngosan seperti itu, Hinata?" Tanya Alex yang tadi sempat mendengar derap langkah yang terkesan terburu-buru.

"Gomen. Tadi ada masalah kecil yang membuatku hampir terlambat. Tapi tidak masalah, karena aku sudah berada di sini." Jawab Hinata setelah berhasil mengontrol napasnya.

"Oh iya. Aku ingin bilang sesuatu." Manager berdarah amerika itu mengingat-ingat apa hal yang akan dia katakan, namun dia lupa. Sampai…

KLINTING

"Aku baru ingat." Alex menatap pemuda yang baru saja memasuki café miliknya, "Aku hanya ingin bilang bahwa koki disini juga bersekolah di Teiko Academy."

Hinata membalikkan badan untuk melihat siapa orang yang dimaksud oleh managernya. Dan betapa terkejut dirinya melihat sosok pemuda yang tadi mengumpat tak jelas di hadapannya. Pemuda itu juga cukup terkejut melihat gadis yang tadi menatapnya dengan sorot ketakutan.

"Namanya Kagami Taiga." Alex memperkenalkan pemuda itu pada Hinata. "Dia adalah rekan kerjamu di sini."

TBC

Yosh..! Akhirnya update juga. Te he ˊ▽ˋ

Gomen Seira telat update. Tapi sesuai janji, Seira update hari Minggu (˚ω˚)

Walau maksudnya Minggu malam tapi masih hari Minggu kan *ditendang*

Nah… akhirnya Hinata di sini mulai bertemu dengan karakter Generation of Miracles. Tapi maksud Seira GOM di sini itu Seijuurou, Shintarou, Tetsuya, Daiki, Atsushi, Ryouta, dan Taiga. Kan ada 7 orang kan. Cocok sama judulnya Nanairo no Compass.

Oh iya… maksud judulnya itu Kompas Tujuh warna. Jadi maaf kalau readers pada bingung. *bows*

And Next Seira ingin mengucapkan banyak terima kasih pada : Onxy Dark Blue, Jay Leonardo, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Guest, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, dan Lizadz.

Minna…! Ditunggu Review nya

Kritik dan saran akan Seira terima ^^

Review dari kalian bisa membuat Seira bersemangat menulis. Jadi jangan sungkan, guys ~(ˊ▽ˋ)~

See you next chapter guys (ˊ3ˋ)

.

Seira Schiffer