Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Naruto © Masashi Kishimoto
Nanairo no Compass © Seira Schiffer
.
Rated : T
.
Generation of Miracle x Hinata Hyuuga
.
Halaman baru itu, suatu hari akan terbuka
Dan cerita baru akan mengukir tanda
.
RnR
.
"Jadi…" Kagami menggaruk tengkuk sejenak, "Kau lari karena umpatanku tadi?"
Hinata menunduk penuh rasa bersalah, "Gomenasai… S-saat itu aku benar-benar kaget."
Waktu istirahat mereka gunakan untuk meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi. Berulang kali Hinata mengutarakan rasa bersalahnya pada pemuda berambut merah dengan gradasi gelap tersebut. Sementara Kagami hanya menghela napas panjang. Si gadis duduk sambil menundukkan kepala di sisi lain Kagami menyandarkan punggung di kursi.
"Kukira karena apa." Si pemilik alis cabang kemudian melipat tangan di dada, "Jadi kau itu penghuni kamar nomor berapa?"
"Nomor 7." Jawab Hinata masih menunduk.
"Oh…" Kagami menganggukkan kepala, "Kamarku nomor 6. Berarti kamar kita hanya bersebelahan."
"Haik." Balas Hinata mengangggukan kepala.
"Apakah kau bisa mengangkat kepalamu? Kau masih takut padaku?" Kagami mengernyit bingung.
Spontan Hinata langsung mengangkat kepala. Walau dia masih belum berani menatap langsung iris Kagami.
Pemuda itu hanya mengusap wajahnya pelan, "Hah… Kudengar dari Kuroko, ada seorang gadis berambut indigo bermata lavender menjadi murid baru di kelasnya. Kurasa itu kau, 'kan?"
Hinata mengangguk kecil.
"Kudengar kau lolos tes masuk. Jadi, soal-soal di tes itu mudah ya?" Ujar Kagami.
Hinata menggeleng, "Tidak. Ada beberapa yang sulit kok."
"Tapi... dari rumor yang kudengar, kau bisa menjawab 90% dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan." Tukas Kagami mencari kebenaran dari desas-desus yang beberapa kali ia dengar dari teman-teman sekelasnya.
"A-ah…. Mungkin itu hanya kebetulan saja." Sahut Hinata merendah.
"Kau setakut itu padaku sampai tidak mau menatapku, ya?" Tanya Kagami akhirnya. Sejak tadi Hinata hanya menunduk dan tidak berani menatap wajahnya. Membuat pemuda itu ingin sekali menarik wajah Hinata agar mau menatapnya langsung.
"I-Iie…" Segera Hinata melakukan apa yang diperintahkan oleh rekan kerjanya itu. Dia memberanikan diri untuk menatapnya. Sejujurnya, Hinata tidak takut padanya hanya saja ketika melihat Kagami, membuat dirinya kembali mengingat tingkah konyol saat pertama kali melihat pemuda beralis cabang tersebut.
Kagami gemas sendiri dengan jawaban Hinata, "Lalu kenapa dari tadi kau memandang lantai terus?"
"E-etto…" Hinata mulai memainkan jari telunjuknya, "B-bukan seperti itu… tetapi, aku malu pada diriku sendiri."
"Kenapa a-aku harus lari saat itu. P-padahal kau tidak berniat menjahatiku." Lanjut Hinata dengan suara kecil.
"Masalah itu sudah kita selesaikan, bukan?" Hinata mengangguk.
"Jadi… tidak ada alasan lagi bagimu harus takut padaku. Mengerti?" Kembali gadis itu mengangguk.
Sejurus kemudian, pemuda 30 cm lebih tinggi dari Hinata itu mengulurkan tangan. "Ayo kita mulai semua dari awal. Kagami Taiga. Dari kelas 1-D. Yoroshiku."
Hinata mengulas senyum sebelum membalas uluran tangan tersebut. "Hyuuga Hinata desu. 1-B. Yoroshiku Onegaishimasu, Kagami-san."
Usai memperkenalan diri, ekor mata Kagami melihat jam dinding. "Waktu satu jam istirahat kita sudah habis. Oh iya, karena kau masih baru di sini kau bisa meminta bantuanku kalau kau sedang kesulitan. Jangan sungkan."
Saat melihat Kagami mulai bangkit, Hinata ikutan berdiri. Kagami akan melangkah keluar dari ruang karyawan, sebelum Hinata membuka suara.
"Kalau diperhatikan lagi, Kagami-san itu sangat manis. Apalagi alis bercabang milik Kagami-san. Lucu sekali." Gumam Hinata lirih namun mampu didengar oleh si pemilik dari alis yang sedang dipujinya. Tak ayal pujian itu membuat pemuda berwajah sangar tersebut mengeluarkan semburat merah di kedua pipi.
Karena malu dan mulai gugup, Kagami menutupi wajahnya dengan telapak tangan kirinya, "Aku tidak manis."
Pintu ruangan kembali tertutup setelah Kagami mengatakan hal itu. Meninggalkan Hinata yang masih saja mengulas senyum.
.
Tak terasa seminggu sudah Hinata menempuh pendidikan di Teiko Academy. Selama seminggu ini, sang gadis lavender menjalani hari-hari yang normal jika gadis itu melupakan tingkah laku Satsuki saat di sekitarnya. Entah kenapa gadis bersurai pink itu selalu menempel padanya. Tak jarang Satsuki mencoba mengajaknya untuk makan bersama bahkan memintanya untuk masuk ke klub yang sama dengannya. Alasannya, hanya dia satu-satunya gadis di sana—klubnya.
"Hinata." Panggil Karasuma-sensei sesaat setelah pelajarannya selesai.
Gadis yang dipanggil mengalihkan padangan, "Doushite, Sensei?"
"Bisa ikut dengan Sensei sebentar? Ada sesuatu yang harus Sensei bicarakan denganmu." Jelas Karasuma sambil merapikan buku-bukunya.
"Ten—"
"Kenapa tidak nanti saja, Sensei? Aku mau mengajak Hinata-chan makan bersama." Potong Satsuki merasa tidak terima.
"Maaf jika Sensei mengganggu acara makan kalian, Satsuki. Tapi ini sangat penting." Ujar Karasuma dengan tenang. Sudah lama dia menjadi guru, jadi sudah biasa dia menghadapi murid macam Satsuki ini.
"Tap—"
"Perintah langsung dari Kepala sekolah." Karasuma memotong kalimat yang akan diucapkan oleh manager klub basket tersebut.
Satsuki nampak murung. "Gomenne, Satsuki-chan. Aku tidak bisa ikut. Sampai jumpa."
Satsuki menghentakkan kaki ke lantai sambil menatap Sang wali kelas sebal, "Karasuma-Sensei, menyebalkan."
"Gomenasai. Tapi Sensei tidak bisa membantah perintah Kepala Sekolah." Terang Karasuma.
Akhirnya Hinata berjalan mengikuti Karasuma. Karena sekarang sudah jam istirahat, Hinata bisa melihat banyak siswa-siswi berada di koridor kelas. Ada yang hanya berbincang-bincang, ada juga yang hanya melihat ke luar bangunan sekolah.
CKLEK
Hinata masuk ke ruangan khusus para Guru. Di sana banyak Guru-guru yang sudah berkumpul untuk makan bersama. Ada juga beberpa guru yang memilih berbincang-bincang. Sementara yang lain sedang mengerjakan sesuatu di meja mereka.
"Konnichiwa, Karasuma-Sensei." Sapa Guru yang dikenal Hinata sebagai guru olahraga yang mengajar di kelasnya.
"Konnichiwa, Hiruma-Sensei." Sapa balik Karasuma.
"Kau mau makan?" Tanya Hiruma.
"Tidak. Aku sudah bawa bekal." Tolak Karasuma sopan.
"Wah… wah… seperti biasa. Istri Karasuma-Sensei sangat pehatian ya?" Sahut Guru yang lain sambil terkikik pelan.
Karasuma hanya mengulas senyum mendengar godaan dari para Guru untuknya. "Ya.. begitulah."
"Duduklah, Hinata." Perintah Karasuma saat dirinya menjatuhkan diri ke bangku empuk miliknya.
"Jadi… hal apa yang ingin Sensei bicarakan?" Tanya Hinata to the point.
"Hari ini tepat seminggu kau di sini." Hinata mengangguk sambil mendengarkan. "Sesuai peraturan Academy, seharusnya kau sudah ikut sebuah klub."
"Klub?"
Karasuma memberi selembar kertas untuk Hinata. "Itu daftar klub yang ada di Teiko Academy."
Hinata memperhatikan daftar klub dengan seksama. "Jadi…"
"Besok Senin Sensei ingin mendengar bahwa kau sudah masuk ke sebuah klub."
"Hari ini kau bisa mencari informasi tentang klub di Academy ini. Mungkin itu bisa membantumu." Tutur Karasuma.
Hinata masih memperhatikan kertas yang diberikan oleh Karasuma, "Tapi… bukankah harus ada formulir pendaftaran?"
Karasuma mengulas senyum kecil. "Di sini, kau bisa mendaftar di perpustakaan. Setiap komputer di sana sudah disediakan aplikasi untuk para siswa-siswi mendaftar klub."
Hinata menautkan alis bingung, "Pakai komputer?"
"Kepala Sekolah berpikir bahwa penggunaan kertas formulir hanya akan membuat tumpukan sampah kertas semakin banyak. Lagipula Academy ini mengusung tema cinta alam. Mana mungkin Kepala sekolah mau membuang ratusan kertas hanya untuk difungsikan sebagai lembar formulir." Jelas Karasuma sambil terkekeh.
"Tapi kau tidak perlu bingung. Saat membuka aplikasi itu, masukkanlah normor ID Card Siswi milikmu. Kemudian secara otomatis akan diputarkan video tutorial pengisian formulir." Lanjut Karasuma lalu menyenderkan punggung ke kursi.
Hinata mengangguk mengerti, "Wakarimashita. Besok Senin akan saya usahakan agar menjadi hari pertama saya bergabung dalam klub."
"Kau bisa kembali ke kelas." Karasuma berhenti sejenak untuk melihat jam, "Masih ada 20 menit. Kau bisa mulai mencari informasi di perpustakaan atau papan pengumuman."
"Haik." Hinata mulai beranjak dan sedikit membungkukkan badan—berojigi sebelum meninggalkan ruangan para Guru, "Sumimasen, Sensei."
Selama di koridor kelas, Hinata mulai melihat-lihat klub-klub apa saja yang ada di sini.
"Klubnya banyak sekali." Kagum Hinata saat menatap lembar kertas itu. Mungkin ada hampir 20 klub yang ada di sana. Disaat dirinya berpikir di mana dia harus mendaftar, tak sengaja ekor matanya menangkap beberapa poster di pasang di papan pengumuman.
Di papan itu, Hinata melihat beberapa kertas dengan gambar beberapa klub yang tahun lalu meraih kejuaraan baik itu juara tingkat daerah ataupun nasional. Hebatnya tidak hanya satu atau dua klub yang memenangkan kejuaraan, namun hampir belasan klub di Academy ini memenangkan kejuaraan yang di adakan di daerah Tokyo ataupun sampai tingkat Nasional.
"Banyak sekali piala yang mereka dapatkan." Gumam Hinata takjub. Lihat saja, mungkin satu klub bisa membawa dua atau tiga piala dan itu tidak jauh dari angka tiga besar.
Setelah puas memandangi papan pengumuman, gadis itu berjalan menuju kelas. Beruntungnya dia karena tidak melihat sosok Satsuki. Dan seperti biasa, Kuroko pun juga tidak tampak. Sempat terpikir oleh gadis itu, apakah Satsuki dan Kuroko memiliki hubungan. Namun mengingat alasan Satsuki setiap istirahat, pemikiran itu dia tepis jauh-jauh.
Akhirnya waktu istirahat itu, Hinata gunakan untuk tidur di kelas. Bahkan dia mendapati Satsuki memandangnya dengan takjub. Gadis itu hanya mangatakan, "Tidurmu pulas sekali. Sebenarnya, aku tidak tega membangunkanmu. Tapi kalau tidak dibangunkan, Sensei akan marah."
Karena saat istirahat Hinata tidak sempat mencari info tentang klub, kesempatan terakhirnya adalah saat pulang sekolah. Tepat setelah mendengar bel pulang, Hinata bergegas merapikan buku-bukunya. Bahkan panggilan Satsuki dan Kuroko hanya dia balas dengan gumaman.
Hinata berhenti di koridor menuju loker sepatu. Gadis itu mengeluarkan kertas klub dari dalam saku rok. Beberapa menit dia mengamati tulisan-tulisan di atas kertas putih tersebut. Hingga akhirnya dia hanya menggaruk tengkuk bingung.
"Seharusnya tadi aku bertanya pada Satsuki-chan. Tapi… jika aku bertanya padanya, bukannya memberiku saran, dia akan merengek memintaku masuk ke dalam klubnya." Akhirnya terdengar helanaan napas lelah dari mulut Hinata.
DRRT DRRT
Hinata mengambil ponselnya dan melihat sejenak siapa yang menghubunginya.
"Moshi-moshi, Niisan."
"Hinata. Kau sudah pulang sekolah?"
Hinata menyenderkan tubuh ke loker sepatu, "Belum. Hari ini Karasuma-sensei memintaku untuk observasi."
"Observasi?"
Hinata mengangguk, "Umm.. katanya aku diwajibkan untuk masuk sebuah klub."
"Hn. Kau sudah tahu ingin masuk klub mana?"
Hinata menghela napas lagi, "Itu masalahnya, Niisan. Banyak sekali klub di sini. Aku sendiri bingung."
"Saran Niisan, kau ikuti saja klub-klub yang kau kuasai."
Merasa akan mendapat nasehat dari Neji, Hinata menegakkan tubuhnya, "Maksud Neji-nii?"
"Bakatmu itu banyak sekali, Hinata. Kau bisa bernyanyi, suaramu sangat bagus. Bermain piano, bahkan memasak."
"Niisan benar." Jawab Hinata sambil membuka loker sepatu.
"Lalu kenapa kau bingung?"
Saat melepas uwabakinya, Hinata menjawab, "Masalahnya klub-klub itu terlalu banyak anggota."
"Lalu?"
Hinata menghentikan tangannya untuk mengambil sepatu sekolah, "Niisan tahu sendiri 'kan? Kalau aku…"
"Hah… gomen Hinata. Aku lupa soal itu." Neji sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan, "Lalu kau mau memilih yang mana?"
Hinata mengangkat bahu, "Tidak tahu."
"Mungkin kau bisa masuk klub yang anggotanya sedikit atau mungkin yang sama sekali tak disadari oleh orang-orang."
"Maksud Niisan?"
"Klub membaca. Biasanya jarang ada orang yang minat untuk masuk klub itu. Kau bisa mendaftar di sana. Tapi… di Teiko apakah ada klub seperti itu?"
"Ada." Hinata mengukir senyum, "Klub Baca. Tempatnya di perpustakaan."
"Nah. Kau bisa masuk ke sana jika kau tidak mau berinteraksi dengan orang banyak."
"Arigatou, Oniisan." Hinata bersyukur karena Neji memberikan solusi dari masalahnya.
"Hn. Oh iya, Hinata. Kapan kau akan menjenguk Tousan?"
Selesai mengganti uwabaki dengan sepatu pantofel, Hinata masih terduruk manis di depan loker sepatu. "Mungkin besok. Aku akan membawakan Tousan banyak makanan."
Terdengar tawa kecil Neji. "Jangan membuat Tousan makan banyak-banyak, nanti kalau Tousan menjadi seperti Chouji bagaimana?"
"Hahahaha…. Tidak mungkin aku membiarkan Tousan sampai obesitas." Tawa renyah Hinata terdegar jelas di telinga Neji.
"Aku senang bisa mendengar suara tawamu lagi. Well, kalau begitu aku tutup teleponnya. Titip salam untuk Tousan. Sampai jumpa, Hinata."
TUT TUT TUT
"Aku sayang Niisan." Gumam Hinata kemudian beranjak berdiri. Ditatapnya ponselnya sesaat sebelum dirinya berniat memasukkan ponsel kesayangannya itu ke dalam tas.
BRUK
"Aahh…" Lenguh Hinata saat dirinya terhempas ke tanah yang kotor.
Tanpa meminta maaf, Sang pelaku kabur begitu saja. Hinata memandang sekilas bahwa pemuda yang sempat menabraknya itu mengenakan seragam basket dengan tas yang disampirkan ke punggung. Pemuda berambut kuning itu tampak tergesa-gesa.
Walau sosok itu sudah menghilang di tikungan, Hinata masih menatapnya tajam. "Dasar tidak punya sopan santun. Aish… bisa-bisanya dia kabur saat—"
"Gantungan ponselku." Sadar bahwa gantungan panda di ponselnya menghilang, gadis itu segera bangkit dan mencari ke sekitar di mana dia menjatuhkan gantungan pemberian Neji.
Dia bahkan membongkar isi tasnya untuk memeriksa apakah gantungan itu jatuh di dalam tas atau tidak. Sampai tiga kali dia memeriksa di sana namun tak ada sama sekali. Kemudian terbersit kejadian yang membuat moodnya buruk.
"Pemuda tadi." Secepat kilat Hinata berlari mengejari Sang pelaku.
DRAP DRAP DRAP
"Kenapa kau berhenti, Tetsuya?" Tanya pemuda berambut merah.
"Bukankah itu Hinata-san?" Gumam Kuroko yang kebetulan melihat gadis itu berlari terburu-buru ke suatu tempat.
"Eh. Hinata-chan?" Ulang Satsuki yang ikut memandang arah mata Kuroko menatap. "Kenapa dia berlari?"
'Hinata? Si siswi kehormatan itu, ya?' Batin satu-satunya pemuda berkacamata yang membawa pigura foto di tangan kanannya.
"Gawat ada orang dari arah berlawanan." Ujar Satsuki gusar. "AWAS!"
Dengan reflek yang bagus, Hinata mampu mengelak dari orang yang hampir dia tabrak. Beruntunglah gadis itu memiliki reflek yang cepat. Karena kalau tidak, dia tidak menjamin kalau tubuhnya tidak memar jika mereka sampai tabrakan.
"Gomenasai." Seru Hinata tanpa menghentikan laju larinya.
Sementara orang itu hanya terdiam di tempat. Merasa kalau baru saja dia terhindar dari tabrakan yang tak kalah sakit dampaknya.
Merasa sampai di tujuan, Hinata memasuki sebuah ruangan berpintu ganda. Satu-satunya ruangan yang terlintas di pikiran Hinata saat mengingat seragam yang dikenakan oleh si pemuda.
"Kenapa dia masuk ke GYM?" Kuroko menatap heran.
"Jadi. Dia gadis yang sedang dibicarakan itu ya?" Bisik si rambut merah lirih seraya tersenyum misterius.
TAP TAP TAP
Satsuki langsung saja berlari kencang ke GYM untuk menemui Hinata. Gadis itu entah kenapa merasa senang sekali berada di sekitar gadis pemilik iris lavender tersebut. Padahal Satsuki merasa jika gadis itu mencoba menghindarinya. Tapi… dia selalu mendapati dirinya berada di dekat Hinata.
"Hah… hah… hah…" Hinata menunduk sambil memegang dada. "Akhirnya ketemu juga."
"Are… kau siapa, ssu?" Tanya pemuda yang dikejar Hinata.
Hinata mengacungkan tangannya. "Kembalikan."
Pemuda tadi menautkan alis, "Kembalikan? Kembalikan apa, ssu?"
Hinata tidak langsung menjawab. Gadis itu masih mencoba menormalkan deru napasnya. "Berbaliklah."
Pemuda tadi tambah bingung dengan sikap dan perkataan Hinata. "Ano… aku tahu kau penggemarku. Tapi aku harus latihan basket. Jadi—"
"Hinata-chan~~" Panggil seorang gadis bersurai pink yang tak lama kemudian diikuti oleh tiga orang laki-laki di belakangnya.
"Satsuki-chan." Lirih Hinata melihat sosok Satsuki dari ekor matanya memasuki area GYM.
'Kenapa harus Satsuki-chan?' Batin Hinata sambil menutup mata.
Si pemuda berambut merah menatap tajam Hinata, "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kenapa kau membuat keributan, nanodayo?" Tambah si rambut hijau sambil membenarkan kacamatanya yang tak berpindah se-mili pun.
"Hinata-san… apakah kau mengenal Kise-kun?" Sahut Kuroko melihat Hinata yang ternyata mengejar salah satu temannya.
"Dengar. Aku tidak mengenal temanmu, Kuroko-san. Dan…" Hinata membalikkan tubuh Kise lalu menarik gantungan ponsel yang tersangkut di tas pemuda berambut kuning itu.
"Aku hanya ingin mengambil ini." Tunjuk Hinata pada mereka.
Hinata menatap tajam Kise, "Dan untukmu. Aku bukan penggemarmu."
"Aku harus pergi. Sumimasen. Matta ashita ne, Satsuki-san, Kuroko-san."
BLAM
"Hinata-chan…" Lirih Satsuki.
"Apakah dia gadis yang selama ini ingin kau kenalkan dengan kami, nanodayo?" Tanya si rambut hijau.
"Um…" Satsuki menatap sedih.
Kuroko yang mendapati senyuman aneh terlukis di wajah sang kapten hanya menautkan alis bingung, "Kenapa kau tersenyum, Akashi-kun?"
Akashi kembali menampakkan raut datar dan memandang balik Kuroko, "Kelihatan sekali kalau dia menghindari kita."
Si rambut kuning ikut bersuara, "Apa maksudmu, Akashi-cchi?"
"Kalau bukan introvert, dia pasti membenci kita." Akashi berjalan kea rah loker pemain. Sebelumnya dia berhenti sejenak untuk melanjutkan kalimatnya, "Sudahlah. Lebih baik kita latihan hari ini. Aku sedang bersemangat."
Setelah itu Akashi benar-benar menghilang, meninggalkan ketiga pemain basket regular Teiko dengan wajah pucat pasi.
"Oha-Asa benar, keberuntungan cancer hari ini berada di peringkat terakhir." Kata si rambut hijau dengan kacamata yang sudah melorot sampai ujung hidung macungnya.
"Kuharap aku masih bisa pulang hari ini." Gumam Kuroko lirih dengan aura suram disekitarnya.
"Tubuhku akan remuk, ssu." Dan terdengar keluhan lebay dari si model majalah.
Di perpustakaan tampak seorang gadis berjalan cepat menuju komputer yang akan ia gunakan. Selanjutnya, dia mendudukan diri di salah satu bangku dan mulai mengeluarkan kartu pelajarnya.
SET
"Jadi… ayo kita mendaftar." Kata Hinata lalu mengeklik icon aplikasi yang dimaksud oleh Karasuma. Gadis itu mengikuti alur pendaftaran sesuai perintah yang tertera di layar komputer.
Gadis itu dengan teliti dan berhati-hati mendaftar di lembar formulir. Untuk kolom terakhir gadis itu mengisi kolom alasan dengan penjelasan singkat namun kuat. Baru saja akan mengeklik selesai, suara buku jatuh sukses mengagetkan konsentrasinya.
BRUK
"Astaga." Hinata terlonjak kaget.
"Hinata?" Muncul sosok pemuda yang dikenalnya akhir-akhir ini.
"Kagami-san?" Panggil Hinata mendapati sang pemuda yang sudah berdiri di sampingnya.
"Kenapa kau ada di sini?" Tanya Kagami melirik layar monitor rekan kerjanya itu.
"Aku mau mendaftar klub."
"Klub?" Kagami menautkan alis, "Klub apa?"
"Membaca."
Tampak raut kaget tergambar jelas di wajah Kagami, "Membaca? Itu klub terisolir. Sedikit yang ikut klub itu. Kenapa tidak ikut klub basket?"
'Memang itu yang kuinginkan.' Batin Hinata.
"Etto… aku senang membaca." Sahut Hinata dengan jujur.
"Oh." Kagami hanya mengangguk mengerti. Saat dia melihat jam dinding, dirinya terkejut. " Sial sudah waktunya."
Kembali mendengar umpatan dari Kagami, membuat Hinata sedikit mengerti ketakutan—rasa kesal—pemuda itu, "Apakah kaptenmu itu sangat menakutkan?"
"Dia itu iblis. Aku tidak ingin membuatnya marah karena terlambat. Sampai jumpa." Kagami melambaikan tangan sebelum berlalu.
"Ya." Balas Hinata.
"Eh… sudah selesai?" Baru ingin mengakhiri proses pendaftaran, layar monitor sudah kembali ke jendela windows. Tanpa menaruh curiga, Hinata hanya mengangkat bahu. "Aku harus pergi belanja."
TAP TAP TAP
Sambil berjalan pulang, Hinata melihat kanan kiri untuk mencari toko yang menyediakan bahan kebutuhan sehari-hari. Hingga akhirnya, gadis itu menemukan sebuah toko murah yang menyediakan bahan-bahan makanan untuk bisa Hinata gunakan selama seminggu bahkan sebulan. Beberapa saat setelah memilih bahan makanan, Hinata meletakkan barang belanjaannya ke meja kasir.
"Obaasan. Tolong hitung ini." Hinata membuka dompetnya hanya untuk mengeluarkan beberapa lembar uang hasil kerja paruh waktunya.
"Semuanya 3.520 yen." Wanita berumur sekitar kepala empat itu memberikan kantong plastik pada Hinata.
Hinata memberikan uang 4 lembar seribu yen pada si Bibi. "Ini."
"Kembaliannya, Nona." Ujar pemilik toko sambil mengulurkan kembalian Hinata.
"Terimakasih telah berkunjung. Semoga harimu menyenangkan." Lanjut wanita itu sambil mengantarkan Hinata ke pintu keluar.
"Arigatou baasan." Sahut Hinata dengan nada sopan.
.
Hari Minggu mungkin akan digunakan sebagian orang untuk bersantai. Di hari bebas seperti ini tempat-tempat seperti taman hiburan akan penuh oleh lautan manusia. Pantai pun tak akan luput dari orang-orang yang ingin bersantai.
Berbeda dengan seorang gadis bersurai indigo. Dia menghabiskan hari Minggu untuk menjenguk sang Ayah. Sebagai anak yang dilahirkan di keluarga yang memegang ketat sopan santun dan etika, membuat Hinata harus menjaga satu-satunya orang tua yang dia miliki. Karena Kaasannya lebih dulu dipanggil Kamisama.
"Ohayou Hyuuga-san." Sapa Opsir kepala ketika batang hidung Hinata terlihat di kantor polisi.
"Ohayou." Sapa balik Hinata dengan senyuman ramah.
"Kau bisa memanggilku Shoichi." Ujarnya memperkenalkan diri. "Kau mau menemui Ayahmu?"
Hinata mengangguk.
"Kau bisa menunggu di ruang tamu. Akan kupanggilkan Hiashi-san." Shoichi mempersilahkan Hinata duduk di ruang khusus tamu.
Tak berapa lama kemudian, Shoichi datang bersama Hiashi. Pria paruh baya itu tampak tersenyum kecil melihat sang putri sematawayangnya datang untuk menjenguk seperti janjinya.
"Hinata." Panggil Hiashi.
"Tousan. Syukurlah… Tousan sehat-sehat saja." Hinata memeluk Hiashi rindu.
"Kalian bisa memanggilku kalau sudah selesai." Pamit Shoichi undur diri.
"Tousan. Aku membuatkan beberapa masakan untuk Tousan." Hinata membuka kotak bekal makanan yang sengaja dia siapkan untuk sang ayah.
Air mata Hiashi tiba-tiba meleleh. "Tousan kangen sekali dengan masakanmu."
Dengan penuh kasih sayang Hinata menghapus air mata yang mengalir di pipi Hiashi. "Tousan jangan khawatir. Setiap minggu, Hinata akan memasak untuk Tousan."
"Itadakimasu." Hiashi memakan dengan lahap omurice dengan beberapa sayur dan daging sebagai pelengkap. Tak lupa ocha buatan Hinata yang menjadi minuman favoritnya.
"Bagaimana dengan sekolahmu, Hinata?" Tanya Hiashi selesai menghabiskan makanan yang dibuat oleh Hinata.
"Lancar." Jawab Hinata sembari merapikan tempat makan yang disediakan untuk Hiashi.
"Kau sudah mendapat teman?" Tanya Hiashi lagi, kali ini Hinata tidak langsung menjawab.
Hinata menggenggam tangan Hiashi lalu mengulas senyum. "Tousan tidak perlu khawatir tentang sekolahku. Hinatamu ini akan baik-baik saja. Tousan belum tahu saja kalau anak gadismu ini juga mengaliri darah Tousan. Hinata 'kan tangguh dan mandiri." Ujar Hinata sambil terkekeh.
Akhirnya hari Minggu itu Hinata habiskan untuk membicarakan tentang kondisi sekolahya. Sebaik mungkin Hinata ingin menghindari pembicaraan tentang teman. Karena dia masih tidak ingin memiliki ikatan itu.
'Ada apa denganmu, Hinata?'
Hiashi sebenarnya sadar, bahwa sang anak selalu mengalihkan pembicaraan setiap dia menyingung tentang topik teman. Namun, Hiashi tidak bisa memaksa Hinata untuk bercerita. Karena dia ingin Hinata sendiri yang menceritakannya.
.
"Hinata-chan~~~" Satsuki memeluk lengan Hinata erat sesaat gadis itu baru memasuki ruang kelas.
"Doushite, Satsuki-chan?" Hinata heran dengan sikap Satsuki.
"Aku bahagia sekali." Gadis serba pink itu masih setia memeluk Hinata.
"Ohayou, Hinata-san." Kuroko yang biasanya berwajah datar sekarang bisa mengulas senyum kecil.
Sejenak Hinata terheran namun ia coba menyingkirkan hal itu. Baru itu Hinata menjawab salam dari pemuda pemilik surai baby blue itu, "Ohayou, Kuroko-san."
"Kyaa..! Tetsuya-kun jangan mengagetkan kami." Teriak Satsuki kaget akan kehadiran tiba-tiba dari teman sekelasnya. Gadis bersurai pink itu menggembungkan pipi marah.
"Hanya kau yang kaget melihat Kuroko-san, Satsuki-chan." Jelas Hinata.
Satsuki merasa aneh dengan perkataan Hinata, "Hinata-chan bisa merasakan hawa kehadiran Tetsuya-kun?"
Hinata mengangguk, "Tentu saja. Kuroko-san bukan hantu."
Mendengar penjelasan dari Hinata Satsuki hanya mengangguk. Setelah itu, dia menceritakan kegiatan klub basket dengan semangat. Bahkan dari hal terkecilpun dia ceritakan. Dan hal ini membuat insting Hinata kembali menyala.
'Kenapa perasaanku tidak enak, ya?' Batin Hinata menatap wajah Kuroko yang masih setia tersenyum.
'Kuroko-san bisa tersenyum? Padahal setiap hari wajahnya datar. Sedangkan Satsuki-chan, seperti mendapat kabar gembira. Tapi… mungkin memang kebetulan saja. Bukan urusanku.' Hinata hanya mengangkat bahu tidak peduli.
Awalnya Hinata memang mengabaikan kenyataan itu. Namun saat pulang sekolah, gadis itu mendapati Satsuki menyeretnya ke suatu tempat.
"Kau mau membawaku ke mana, Satsuki-chan? Aku harus ke klub." Tolak Hinata sesopan mungkin.
Satsuki mengangguk, "Aku tahu. Akan kuantar ke klub barumu."
"Tapi ini mengarah ke… GYM." Ujar Hinata yang kembali ditarik oleh Satsuki.
"Aku tahu."
"Tapi—"
Kuroko yang berjalan di samping Hinata ikut bersuara, "Meskipun ini hari pertama bagi Hinata-san, Hinata-san tidak perlu gugup."
'Maksud mereka apa, sih?'
SET
"Kami datang." Seru Satsuki mengalihkan perhatian orang-orang di klub basket.
"Teppei-san, kami membawakan manager baru kita." Tambah Kuroko sambil menunjuk Hinata.
"Eh?"
"Jadi… kau Hinata Hyuuga yang ingin menjadi manager klub basket?" Pernyataan yang keluar dari mulut Teppei tidak langsung masuk ke telinga Hinata. Namun butuh proses beberapa waktu.
1 detik
2 detik
3 detik
"NANI!" Seru Hinata akhirnya tersadar, "T-tidak. Mungkin Sensei salah. Aku tidak mendaftarkan diri ke klub basket."
Teppei menunjukkan formulir pendaftaran Hinata yang berada di ponsel pantatnya, "Ini copy-an dari formulirmu yang di kirim ke e-mailku dari ketua dewan siswa."
Hinata mencoba membantah bahwa dirinya mendatarkan diri di klub eksis seperti basket ini. "T-tapi… aku kemarin sama sekali tidak memilih klub basket."
"Ini mungkin salah. Ya. Mungkin salah ketik nama." Lanjut Hinata masih mencoba mengelak.
"Tapi ini ID Card siswi milikmu bukan." Tanya Teppei kembali memastikan.
"Iya. Tapi—"
"Aku tadi mendengar jeritan. Ada apa?" Akashi memotong ucapan Hinata.
"Hinata-san akan menjadi manager kita mulai hari ini." Jelas Kuroko.
"Bisa tidak kau muncul dengan normal, Tetsu?" Si kulit hitam sedikit terlonjak mendapati rekannya selalu muncul tiba-tiba.
"Jadi dia manager baru klub kita, ssu?" Tanya Kise.
"Kau gadis yang ribut kemarin kan, nanodayo?"
"Dengar. Aku tidak mengerti kenapa formulir pendaftaranku bisa seperti itu. Tapi yang jelas, kemarin aku tidak memilih klub basket." Jelas Hinata sekali lagi.
"Mung—"
"Mataku sehat." Hinata memotong ucapan Satsuki, "Lagipula aku tidak punya kualifikasi untuk menjadi manager basket."
"Benar juga, ssu. Seorang harus memiliki kualifikasi khusus untuk menjadi manager kita." Ujar si kuning mengeluarkan pemikirannya.
"Benar. Aku tidak mengerti strategi basket. Bahkan aku tidak mengerti posisi pemain basket." Jelas Hinata mencoba agar klub basket tidak mau menerimanya.
"Tapi Hinata-san bisa merasakan hawa kehadiranku." Bela Kuroko. Pemuda itu terlihat ingin sekali agar Hinata bergabung di klub yang sama dengannya.
'Kuroko-san jika kau ingin membantuku, jangan memujiku di sini.' Batin Hinata sambil menepuk kening melihat betapa polosnya seorang Kuroko Tetsuya.
"Tapi… jika hanya itu tidak bisa disebut kualifikasi, nanodayo." Si kacamata menolak pembelaan Kuroko.
"Benar. Hanya karena merasakan kehadiran Tetsu bukan berarti dia hebat." Balas si dim setuju pendapat si rambut hijau.
"Kalau begitu. Bagaimana dengan fakta jika Hinata bisa memasak?" Kagami memasuki GYM dengan santai.
"Kagami-san?" Panggil Hinata pada sosok tinggi tersebut.
"Yo." Pemuda itu melambaikan tangan padanya.
"Memasak?" Si surai ungu yang datang bersama Kagami memiringkan kepala, "Apakah masakannya enak?"
"Masakanku kalah." Jelas Kagami yang ternyata ikut membela Hinata.
"Kau lolos." Tanpa basa-basi, si rambut navy langsung menerima kehadiran Hinata.
Akashi mengangguk setuju.
"Lolos 1000%, ssu." Tambah Kise dengan raut bahagia dengan aura berbunga-bunga.
Si rambut hijau membenarkan letak kacamatanya, "Aku meloloskanmu karena mereka juga meloloskanmu. Jadi jangan kira aku meloloskanmu karena tahu kau bisa masak enak, nanodayo."
'Tsundere.' Batin orang-orang yang hanya menggelengkan kepala melihat si rambut hijau yang mengidap tsundere akut.
"Aku setuju dengan Kagami-chin kalau begitu." Tukas si penyuka makanan.
"Ya. Aku juga berpikir seperti itu, Murasakibara-kun." Tambah Kuroko ikut menyuarakan pendapat.
"Kau dengar sendiri 'kan, Hinata-san? Mereka menerimamu." Ujar Teppei sambil tersenyum.
Hinata membatu mendengar pernyataan dari Teppei. Gadis itu seakan menjadi computer yang error. Dia merasa hang. Pikirannya kosong. Klub yang ingin dia jauhi malah dia masuki. Lebih parahnya, mereka menerima Hinata karena bisa memasak.
Satsuki yang tidak suka mendengar kata masakan langsung menghentakkan kaki kesal. "Kenapa kalian seperti bahagia sekali mendengar bahwa masakan Hinata-chan enak?"
Si rambut navy dengan santai menjelaskan, "Oi, Satsuki. Kau tahu sendiri masakanmu itu seperti racun. Aku bersyukur karena si lavender itu mau masuk klub kita. Karena secara langsung membebaskanku dari masakan penghantar mautmu itu."
"Benar. Momoi-chin perlu belajar dari Hinata-chin." Tambah si titan ungu.
"Masakan Momoi-cchi membuatku beberapa kali merenggang nyawa, ssu." Ujar Kise sambil mengelus perutnya.
"Kau dengar sendiri 'kan? Mereka sudah tidak kuat merasakan masakanmu." Pemuda berkulit hitam itu menunjuk ke arah kawan-kawannya.
PLAK
"Aduhh… apa yang kau lakukan?" Pemuda itu mengelus kepalanya yang baru saja di pukul oleh Satsuki.
PLAK PLAK PLAK
Satsuki terus memukul pemuda itu tanpa ampun. "Kau benar-benar jahat, Dai-chan."
"Jangan panggil aku seperti itu." Serunya tak terima.
"Aku 'kan memasakan itu dengan penuh cinta untuk kalian." Ujar Satsuki masih sebal.
"Nah itu. seharusnya kau tidak memasak untuk kami. Karena cintamu itu bisa membuat kami terbunuh." Kata Daiki tanpa memperhatikan wajah Satsuki yang sudah memerah menahan amarah.
BRUK
Daiki terkapar karena pukulan maut dari Satsuki mendarat di perut atletisnya.
"AHOMINE NO BAKA!" Teriak Satsuski memandang tubuh Aomine tanpa rasa bersalah.
Sementara itu, Hinata masih membatu di tempat. Tak tahu apa yang harus dia katakan. Rencananya hancur ketika dia ingin menjatuhkan dirinya sendiri.
'Kenapa… kenapa aku harus bisa memasak?' Ratap Hinata dari dalam hati.
TBC
Yosh..! Chapter 2 akhirnya update :-D
Gomen Seira telat dua minggu (;_;)v
Seira ingin mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada : Onxy Dark Blue, Jay Leonardo, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Guest, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, Lizadz, Ranmiablue, Birubiru-chan, Gagaganbatte, dan wysan.
Jangan lupa bagi kalian yang membaca cerita ini, boleh direview kok
Kritik dan saran akan selalu Seira terima ^^
Jangan sungkan, minna ;-)
See you next chapter guys (^-^)v
.
Seira Schiffer
