Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Naruto © Masashi Kishimoto

Nanairo no Compass © Seira Schiffer

.

Rated : T

.

Generation of Miracle x Hinata Hyuuga

.

Sikap keras kepala ini

Ada sebagai naluri pertahanan

.

RnR

.

Cklek

Suara pintu berderit terdengar tatkala Hinata membukanya. Begitupun dengan kegelapan yang akhir-akhir ini selalu menyambut.

"Tadaima." Salam sang gadis sebelum menyalakan lampu apartemen.

Cahaya lampu mulai menerangi ruangan. Hanya ada sofa hitam dan meja kaca dengan karpet sewarna bergaris merah. Walau ruang itu adalah ruang multifungsi untuk ruang tamu dan ruang keluarga, tak ada benda elektronik yang menghiasi ruangan tersebut. Saat Hinata tinggal di sini, belum pernah Hinata menghiasi apartemennya. Bahkan interior seperti sofa, meja, karpet, cabinet, lemari dan kasurpun sudah ada saat dia menginjakkan kaki ke sini. Belum terpikir oleh Hinata membeli Tv.

Memiliki laptop dan ponsel saja sudah cukup untuknya. Apalagi kulkas dan kompor gas yang memang sudah disediakan oleh pemilik apartemen. Bagi Hinata barang-barang sekunder seperti Tv belum terlalu dia perlukan. Mengingat dirinya lebih lama berada di luar apartemen dari pada bersantai di tempat tinggalnya itu.

CKLEK

Hinata membaringkan tubuh di kasur. Kaki yang sudah terlepas dari sepatu dan kaos kaki itu tampak menggantung di bibir ranjang. Rasa lelah yang menghinggapi terasa sampai tulang punggung.

Dia melirik jam dinding berwarna putih. Jarum panjangnya menunjuk angka 12, sementara jarum pendeknya menunjuk angka 5.

"Tinggal dua jam lagi." Desahnya.

Alih-alih memikirkan pekerjaan paruh waktunya, Hinata memilih memandang atap kamarnya. Warna biru langit yang mendominasi, sedikit banyak membuat perasaan Hinata tenang.

Baru saja berniat merilekskan pikiran, gadis itu kembali tebayang-bayang insiden di klub basket tadi.

.

::: Flashback On :::

.

"Hinata-san." Seru Teppei dengan menepuk bahu Hinata.

"E-eh… Doushite, Sensei?" Balas Hinata sedikit terbata-bata.

"Sudah waktunya." Selepas berbisik seperti itu, Teppei memanggil anggota regular tim basket untuk berdiri di hadapannya beserta Hinata yang masih ada di sisinya. Sementara Kagami disuruh Teppei untuk membangunkan si rambut navy yang masih tak sadarkan diri.

Tak butuh waktu lama dua orang berkulit berlawanan warna itu bergabung dalam barisan di hadapan Teppei. Hanya saja, si kulit tan tampak menahan sakit.

"Tch. Pukulanmu keras sekali. Kau ini petinju atau perempuan, sih?" Decak si rambut navy masih mengelus pelan bagian perutnya.

"Urusai." Desis si gadis musim semi masih kesal.

"Cukup." Tangan kanan Teppei terangkat sebagai simbol untuk diam, "Karena hari ini kita mendapatkan anggota baru. Sudah seharusnya kita saling memperkenalkan diri."

Seorang pemuda berambut merah mulai bersuara, "Akashi Seijuurou. Posisi Point Guard. Nomor punggung 4. Jadi, akulah pemimpin mereka. Dan perkataanku adalah absolute."

'Apa-apaan itu? Abosolute? Yang benar saja.' Batin Hinata sedikit mencibir.

"Kau meragukan keabsolutanku?" Hinata menggelengkan kepala cepat.

'Pantas Kagami-san takut padanya. Dia menyeramkan.' Hinata bergidik ngeri pada si pemuda merah ini.

"Ore wa Midorima Shintarou. Posisi Shooting Guard. Nomor punggung 7, nanodayo." Ujar si rambut hijau berkacamata.

Hinata memandang datar, 'Jadi si tsundere tadi namanya Midorima-san?'

"Ore wa… Nyam… Murasakibara Atsushi… Nyam… Nomor 5. Posisi… Nyam… Center. Dan aku suka makanan manis… Nyam… aku paling benci jika makananku direbut… Nyam… akan kuhancurkan orang itu." Pemuda berambut ungu yang membawa satu bungkus berukuran jumbo memperkenalkan diri sambil makan.

'Apa dia mendedikasikan diri sebagai pecinta makanan manis?' Kali ini Hinata cukup menggelengkan kepala.

"Aomine Daiki. Nomor punggung 6. Posisi Ace. Dan yang bisa mengalahkanku adalah diriku sendiri." Ungkap si korban kekerasan Satsuki penuh percaya diri.

'Motto macam apa itu?'

"Sekarang giliranku, ssu." Pemuda sewarna matahari mengangkat tangan dengan wajah berseri-seri. "Ore wa Kise Ryouta desu, posisiku sebagai Small Forward, ssu. Nomor punggungku adalah 8. Aku adalah seorang model tapi sebenarnya cita-citaku adalah menjadi seorang pilot. Aku suka bernyanyi. Aku tidak suka dengan Unagi dan cacing. Mereka benar-benar membuatku jijik, ssu. Dan Mottoku adalah 'Jujurlah pada dirimu sendiri'. Dan aku berada di kelas—"

PLAK

"Urusai, Kichan." Pangkas Satsuki bertambah kesal. Melihat temannya ini benar-benar mengidap penyakit hiperaktif akut.

Walau begitu, ketika melihat Hinata ekspresi Satsuki berubah cerah. "Hinata-chan. Aku adalah manager mereka. Dan sekarang kita akan selalu bersama."

"Ore wa Kuroko Tetsuya desu. Nomor punggung 15. Aku adalah pemain bayangan." Kuroko mengemban senyum manis.

"Aisshh… kenapa kau selalu muncul lebih lambat dari suaramu, Tetsu?" Aomine yang memang dari awal tidak menyadari kehadiran Kuroko cukup kaget mendengar suara tanpa wujud itu.

"Itu karena Aomine-kun saja yang bodoh tidak menyadarinya." Tukas Kuroko mengeluarkan ekspresi watados.

"A-apa…"

"Kagami Taiga. Posisiku sebagai Ace sama seperti Aomine dengan nomor punggung 10. Semoga kau betah di sini." Senyum lima jari terlukis di wajah sangarnya.

KLEK

Suara sendi lutut Kagami berbunyi, akibat tingkah kuroko yang mendorong lutut Kagamk dengan tempurung lutut miliknya. "Aarrgghh… apa yang kau lakukan Kuroko?!"

"Jangan menggoda Hinata-san di hari pertamanya. Kau membuatnya takut, Kagami-kun." Jawab Kuroko menampilkan ekspresi datar.

"Urusai." Desis Kagami yang sekarang mengalami syok lutut.

"Namaku Teppei Kiyoshi. Di sini posisiku adalah pelatih." Jelas Teppei lalu menatap Hinata, "Sekarang giliranmu, Hinata-san."

"Um…" Gadis itu berojigi sejenak, "Hajimemashite. Watashi wa Hyuuga Hinata desu. Yoroshiku onegaishimasu."

Tak mendengar kelanjutan dari perkenalan Hinata, Teppei akhirnya bersuara. "Hanya itu?"

Hinata mengangguk. "Haik."

Senyum kaku tercetak jelas di bibir Teppei, "O-oke. Baiklah semuanya cepatlah ganti baju dan segera lakukan pemanasan."

"Haik."

"Dan Satsuki-san, tolong jelaskan pada Hinata-san tentang tugas-tugas seorang manager." Lanjutnya.

.

::: Flashback Off :::

.

"Aku masih penasaran… bagaimana bisa aku mendaftar ke klub basket tanpa sepengetahuanku?" Hinata berpikir keras mencari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi. Dan nihil, kepalanya malah tambah pusing.

"Sudahlah mau disesali bagaimanapun juga, aku akan tetap terjebak di klub basket." Gumamnya sembari menutup mata, "Mungkin sudah saatnya."

.

Rambut yang sudah digelung itu ditutupi oleh topi hitam dengan bordiran huruf 'H' di sisi kanan topi. Kaos coklat berlengan panjang dipadukan dengan jeans navy tampak cocok dipakai oleh Hinata.

Merasa tak ada lagi barang yang ketinggalan, gadis itu berjalan ke arah pintu. Sepatu putih yang setia menemaninya terbalut apik di kaki. Usai mematikan lampu ruangan, Hinata melangkah keluar dan mengunci pintu sebagai proteksi keamanan dari hal-hal yang tak diinginkan.

CKLEK

Selangkah meninggalkan hunian, gadis itu dikejutkan dengan keberadaan si rekan kerja yang tengah asik bersandar di dinding yang memisahkan pintu apartemen mereka.

"Kagami-san?"

Pemuda itu mengulas senyum sambil melambai, "Yo."

"Kenapa Kagami-san ada di sana?" Hinata bertanya bersamaan dengan kunci yang dia masukkan ke dalam tas.

"Sebenarnya aku menunggumu. Yah… karena kita kan bekerja di tempat yang sama. Jadi… kenapa tidak berangkat bersama saja. Daripada sendirian." Ungkapnya sedikit gugup.

"A-ah… maaf merepotkan." Hinatapun ikut terbata-bata.

Sepanjang perjalanan, mereka berdua lebih banyak diam. Bicarapun paling hanya mengomentari kejadian atau hal apa yang mereka lihat sepanjang jalan. Setelah itu mereka kembali diam. Hinata tidak masalah dengan hal itu, karena dia memang pendiam. Sedangkan untuk Kagami sendiri memang tidak pandai berkata-kata.

KLINTING

"Wah… ada pasangan baru ternyata." Goda Alex sedari tadi melihat dua sejoli itu dari kaca café.

Hinata mengerutkan alis bingung. "Hah?"

"Siapa?" Tanya Kagami pada Alex yang masih setia tersenyum pada mereka.

"Padahal baru kemarin kalian berkenalan. Ternyata kau agresif juga ya, Taiga. Aku salut padamu." Puji Alex sebelum dia pergi ke ruang manager.

BLUSH

Pipi pualam Hinata mau tak mau berubah warna semerah tomat. "…"

"Ehem." Kagami ikut menutupi wajahnya yang memerah, "Kau tidak perlu memikirkan perkataan Alex. Dia memang seperti itu."

Sejenak terasa aura canggung diantara mereka. Baik Kagami maupun Hinata tidak tahu mau berbicara apa. Salahkan Alex yang berbicara seenak jidatnya. "Ano… Lebih baik kita segera ganti pakaian, 30 menit lagi pengunjung akan datang."

"Baka." Decak Kagami sepeninggal Hinata. Pemuda beralis cabang itu mengacak rambut kesal. Baru saja dia berdamai dengan Hinata, sekarang mereka akan canggung lagi.

'Sialan.' Rutuk Kagami dalam hati.

Sementara itu, di tempat yang ditutupi bayangan koridor ada dua sosok berdiri mengintai. Mereka melihat kejadian itu dari awal kedatangan Kagami-Hinata sampai si pemuda beralis cabang itu pergi ke loker pekerja laki-laki.

"Kau lihat itu. Kagami sudah berani mendekati Hinata." Si rambut coklat muda bermata kucing memicingkan mata tak suka.

"Cih. Si alis cabang itu." Geram si mata lentik tak suka, "Seharusnya dia meminta ijin kita dulu."

"Awas saja kalau dia berani macam-macam dengannya." Tanggap si rambut coklat.

.

Dengan seragam maidnya yang cukup feminim, Hinata merapikan meja-meja café dengan cermat. Rambutnya digelung dengan rapi menampilkan leher jenjangnya. Meskipun udara terasa dingin, di dalam café sudah ada pemanas ruangan yang bekerja dengan baik.

Melihat meja-meja yang telah rapi, Hinata berniat ke ruang istirahat. Di sana Hinata akan memejamkan mata sejenak sebelum bertugas.

CKLEK

Mata Hinata terbelalak melihat sosok tinggi besar salah satu rekan kerjanya itu tampak pucat, "Nebuya-san. Ada apa denganmu?"

"Perutku lapar. Hinata… Tolong… aku…."

BRUK

Nebuya langsung terkapar usai menyelesaikan kaliamatnya. Pemuda itu benar-benar tidak kuat lagi menahan rasa lapar. Dia bukan jagonya menahan lapar. Tapi dia jago makan. Seperti Kagami. Bahkan si pecinta burger itu kalah dengan nafsu makan Nebuya.

"Ne-Nebuya-san…" Hinata menggoyangkan bahu Nebuya. "Ada apa denganmu?"

PLAK

Sebuah pukulan telak mendarat di kelapa Nebuya. Sang pelaku tampak santai-santai saja dengan hasil tindakannya. "Kau membuat Hinata khawatir, Baka."

"Arrgghh… kenapa kau malah memukulku, Kou?" Erang Nebuya.

"Berhentilah mengeluh dan cepat ganti bajumu." Tambah si wajah cantik.

"Aku lapar, Rei." Adu Nebuya berharap sahabat sejiwanya itu mau mengerti penderitaan yang tengah dia alami.

"Lalu?" Respon Rei datar tak peduli.

"Hwuaa… Kenapa kau seperti itu. Paling tidak buatkan aku makanan. Aku lapar." Seru Nebuya sangat keras.

"Oyamaa..! Kau gila, ya? Jangan teriak, baka!" Marah Koutaro.

"Urusai. Aku sangat lapar…!" Nebuya tak peduli.

"Diamlah, baka. Atau dia akan—"

BRAK

"—datang."

GLEK

Seorang wanita berambut pirang membuka pintu ruang istirahat karyawan dengan sangat kasar. Jelas terlihat dia sangat kesal. Urat-urat di pelipisnya tampak jelas di mata.

"Hei cecunguk-cecunguk bodoh…! Kenapa kalian masih ada di sini? Kalian ingin usahaku jadi bangkrut, hah?! Cepat kerja sana…!" Bentaknya murka, "Dan kau botak, cepat ganti pakaian…!"

"H-Haik." Jawab mereka serempak lalu pergi ke posisi masing-masing.

DRAP DRAP DRAP

Kagami dan seorang pemuda bername tag Himuro Tatsuya menatap rekan-rekan mereka yang berlari terburu-buru dari arah ruang istirahat dengan heran.

"Kenapa lari-lari?" Tanya Himuro mengamati ekspresi masing-masing rekannya. Mencoba mengabsen siapa yang tidak ada pada rombongan lari dadakan tersebut.

"Manager mengamuk." Ungkap Rei masih menormalkan deru napas.

"Hah… kenapa kalian meninggalkanku?" Protes Hinata yang datang paling akhir. Normal saja, karena kecepatannya tidak seperti rekan-rekannya. Mengingat hanya dia pekerja perempuan di sini selain si manager galak.

"Kau baik-baik saja, Hinata?" Kagami tampak cemas.

Hinata mengelus dada, "Alex-san benar-benar menakutkan jika sedang marah."

"Nebuya di mana?" Himuro kembali bertanya.

"Dia dihabisi si penyihir itu." Seru Koutaro.

PLAK PLAK PLAK

"Baka. Kau ingin kita ikut dihabisi." Kelas Rei yang tidak ingin berurusan dengan si wanita penyihir.

"Mulutmu itu perlu di plester." Timpal Kagami ikut kesal.

"Sepertinya masih ada wasabi sisa kemarin di pendingin. Ingin rasanya kusumpalkan ke mulutmu, Koutaro." Himuro berkata dengan senyum manis.

Hinata hanya geleng kepala.

.

"Sudah 3 hari Niisan belum menghubungiku. Apakah Niisan sibuk bekerja dan kuliah?" Perasaan khawatir mulai menggelayuti pikiran Hinata. "Jika aku menghubunginya sekarang, mengganggu tidak ya?"

"Hinata-san." Panggil Kuroko.

"?" Hinata mengangkat wajah dari meja dan berbalik hanya untuk membalas tatapan si pemain bayangan.

Kuroko melihat kerisauan di mata Hinata, "Kau baik-baik saja?"

"Nandemonai yo." Jawab Hinata. Gadis itu tidak mau merepotkan seseorang hanya karena kerisauan tak berdasarnya ini.

Kuroko tidak yakin dengan jawaban Hinata, namun dia mencoba mengerti gadis itu, "Jika kau ada masalah, kau bisa bercerita padaku. Kita kan teman."

'…Kita kan teman….'

DEG

"Kuroko-san…" Senyum kecil menghias wajah Hinata, "Kau tidak perlu mengkhawatirkanku."

Senyum itu langsung lenyap ketika Hinata kembali memeriksa ponselnya. Tak ada panggilan bahkan pesan dari Neji. Biasanya jika pemuda itu tidak bisa menghubungi Hinata. Dia akan tetap memberi kabar. Jika seperti ini, tidak salah jika gadis bermata lavender itu dirundung khawatir.

"Niisan… kenapa kau tidak memberi kabar sih?" Bisik Hinata tambah panik, "Akan kukirimi pesan saja."

'Hinata-san sepertinya benar-benar mencemaskan Kakaknya.' Kuroko sebenarnya ingin membantu, tapi pemuda itu tidak tahu bagaimana caranya.

DENG DENG

Bel berbunyi. Mau tak mau Hinata harus mematikan ponselnya. Sudah aturan tertulis bahwa setiap ponsel milik murid maupun guru harus dimatikan. Hanya pada setiap pelajaran yang berlangsung tidak diperbolehkan menggunakan ponsel. Mereka—para guru dan murid—hanya diperkenankan menggunakan alat-alat elektronik yang disediakan oleh sekolah. Baru saat istirahat atau jam kosong saja para murid boleh menghidupkan ponsel.

Pelajaran matematika kali ini, entah kenapa terasa sangat panjang bagi Hinata. Dia senang jika pelajaran favoritnya lebih panjang. Hanya saja kali ini, situasinya berbeda. Gadis itu ingin cepat-cepat segera istirahat. Ia ingin melihat apakah sang kakak sudah membalas pesannya atau belum.

"…nata."

"Hinata." Panggil Karasuma kesekian kalinya.

"E-eh… iya, Sensei?" Sahut Hinata setelah dipanggil lebih dari 5 kali. Hal pertama yang dia dapati adalah pandangan heran plus cemas dari Karasuma serta pandangan bingung dari teman sekelasnya.

Karasuma menghentikan penjelasannya alih-alih menanyai keadaan si murid kehormatan. "Hinata. Apa kau sedang ada masalah?"

Dia menggeleng. "Gomen Sensei. Tidak akan saya ulangi."

'Kau kenapa, Hinata-chan/san?' BatinSatsuki dan Kuroko bersamaan.

"Kalau kau sedang tidak sehat, kau bisa ke UKS." Saran Karasuma masih terpancar aura kekhawatiran.

Hinata mengulas senyum untuk meyakinkan Wali kelasnya, "Tidak, Sensei. Saya baik-baik saja."

"Baiklah. Kalau ada apa-apa kau bisa cerita pada Sensei." Pria itu mengamati Hinata sejenak sebelum melanjutkan pelajaran.

Kali ini Hinata sedikit memfokuskan diri ke pelajaran. Dia tidak ingin dicap sebagai murid tidak taat peraturan. Lagipula dia adalah murid kehormatan di sini. Mana mungkin dia mau mencemarkan nama baiknya.

DENG DENG

Bel pergantian pelajaran berdentang. Sesaat Karasuma meninggalkan kelas, Satsuki langsung berbalik ke belakang untuk melihat kondisi Hinata yang dia rasa aneh. "Hinata-chan. Kau sakit? Kenapa hari ini kau banyak melamun?"

"Aku baik-baik saja, Satsuki-chan. Jangan khawatir." Yakin Hinata sambil mengulas senyum.

"Tapi—"

"Jika kita tidak berganti pakaian, Hiruma-sensei akan marah." Potong Hinata tak ingin mendengar kelanjutan kalimat dari gadis musim semi itu.

'Hinata-chan.' Batin Satsuki sedih.

Pemanasan kali ini tidak terlalu berat seperti minggu-minggu kemarin. Kali ini para murid hanya diminta untuk berlari mengelilingi lapangan 5 kali. Tapi, mereka belum bisa bernapas lega. Karena Hiruma-sensei adalah tipe guru yang suka memberi kejutan pada murid-muridnya. Kadang, kalau dia memberi pemanasan tidak terlalu berat maka pelajarannya akan 5 kali lebih berat dari pemanasan. Sebaliknya, jika pemanasannya berat kadang pelajarannya tidak terlalu berat, contohnya saja permainan bola voli.

"Hari ini kita akan melakukan olahraga ketangkasan tubuh." Terdengar keluhan dari para murid usai Hiruma-sensei memberi penjelasan.

"Kenapa? Kalian tidak terima?" Ucap Hiruma-sensei membuat para murid sukses terdiam.

"Ada 4 bagian dari pelajaran kali ini. Selama satu menit untuk masing-masingnya minimal kalian harus dapat 10 untuk Pull Up, 30 untuk Sit Up dan 50 untuk Back Up. Khusus lari sprint 50 m, untuk perempuan maximal waktunya 10 detik. Sedangkan untuk laki-laki waktunya 7 detik." Lanjutnya, "Baiklah, akan saya panggil urut nomor absen."

Para murid mulai mengambil posisi. Tak sedikit dari mereka memilih untuk merenggangkan otot tubuh. Dan yang lainnya memilih untuk mencari tempat teduh. Biasanya mereka memilih duduk di dekat teman yang bertubuh lebih besar. Jadinya mereka akan tertutupi oleh bayangan dari tubuh besar teman mereka.

Hanya butuh waktu 1 jam 30 menit bagi mereka untuk menyelesaikan tugas dari Hiruma. Dan baru itu mereka bisa bernapas lega, lihat saja sang Guru Killer sedang tersenyum. Tandanya mereka menyelesaikan tugas dengan bagus. Jika tidak, wajah guru itu akan tampak datar seperti triplek.

"Bagus sekali. Kalian semua lolos." Puji Hiruma kemudian melihat arloji, "Waktu kalian masih 30 menit sebelum istirahat. Kalian boleh melakukan apapun, tapi jangan sampai membuat keributan."

Kepergiaan Hiruma disambut kelegaan dari para murid yang tepar di lapangan outdoor.

"Hah… akhirnya…." Seru Yuki senang. Nerakanya sudah berlalu.

"Hi—"

Hinata beringsut pergi meninggalkan teman-temannya yang ingin bermain. "Gomene, Satsuki-chan. Aku ingin ke UKS."

"K-kau sakit? Akan kuantar." Baru ingin berdiri, Satsuki kembali terdiam.

"Tidak. Sebaiknya kau tetap bersama dengan yang lain. Aku akan baik-baik saja." Tukas Hinata mengulas senyum sekilas.

"Hinata-san mau ke mana?" Terdengar suara maskulin di samping Satsuki.

"Oyamaa…! Jantungku." Satsuki mengelus dada sambil melihat Kuroko yang berwajah datar, "Kau mengagetkanku, Tetsu-kun."

"Gomenne, Momoi-san." Ucap Kuroko meminta maaf.

"Hinata mau ke UKS. Aku ingin mengantarnya, tapi… entah kenapa dia selalu menghindariku. Apa benar kata Akashi-kun jika dia membenci kita?" Pikiran Satsuki mulai terpengaruh perkataan dari si kapten basket. "Tapi… kenapa?"

"Hinata-san membenci kita?" Entah kenapa perkataan dari sang kapten juga memenuhi kepala Kuroko.

Di sisi lain, sang gadis yang sedang diperbincangkan tengah berlari menuju kelas.

"Gomenne Satsuki-chan jika aku membohongimu. Tapi aku harus melihat apakah Niisan sudah menghubungiku atau belum." Gumamnya.

Sebelum berbelok ke tikungan, gadis lavender itu mendengar geraman seseorang dari arah berlawanan.

"Gara-gara si merah itu aku harus membuat surat permohonan maaf ke klub baca. Tch. Memangnya siapa si Hinata itu sampai dia memaksaku untuk memindahkannya ke klub basket?" Desis gadis dengan tanda merah dengan simbol sekolahnya di lengan kanan. Tanda bahwa dia adalah anggota dewan. Entah apa posisinya.

DEG

"Apa dia tidak berpikir jika sampai ketahuan kepala sekolah, bisa panjang masalahnya. Itupun, aku yang akan lebih banyak mendapat hukuman." Tambahnya sambil menghentakkan kaki sebagai pelampiasan rasa kesal.

"C-Choto matte kudasai, senpai." Sela Hinata coba menghentikan gadis berambut sebahu itu.

Entah sihir apa yang terjadi, wajah sangarnya tadi langsung sirna. Berganti dengan wajah ramah dengan seulas senyum. "Ada yang bisa kubantu?"

Hinata malah menjadi gugup sendiri, "Ano… Senpai tadi menyebut nama Hinata. Hinata siapa?"

Dalam sekejap ekspresi tadi langsung berubah. Mendengar nama yang membuatnya repot akhir-akhir ini, mau tak mau membuat gadis itu memutar bola mata. "Siapa lagi? Hanya ada satu Hinata di sini."

"Hyuuga Hinata?" Hinata memastikan.

Gadis itu mengangguk. "Memangnya kenapa kau bertanya?"

"Etto… senpai tadi bilang ada seseorang yang memindahkannya dari klub baca ke klub basket. Apakah benar seperti itu?"

"Arrgghhh… Kau tahu, si pemilik gunting keramat itu mengancamku untuk memindahkan si Hyuuga agar masuk ke klub basket. Dengan kata lain dia menyuruhku menyabotase formulir yang seharusnya dikirimkan ke klub baca." Rutuk si gadis rambut sebahu.

Hinata terbelalak mendengar pengakuan dari gadis itu. "J-jadi… dia yang membuatku masuk ke klub basket?"

"Tunggu…" Sesaat ucapan Hinata membuat dia terdiam. Keringat dingin mulai mengalis di pelipisnya, "Kau… Hinata Hyuuga?"

"Iya, senpai." Hinata mengangguk mantap.

"Oyamaa…!" Sontak dia kaget dan langsung mencengkeram bahu Hinata. "L-lupakan apa yang kuucapkan tadi. Kau harus melupakannya."

"Tapi—"

Tanpa berucap lebih panjang, gadis tadi berlari pergi.

"Siapa orang yang dimaksud senpai?" Bisik Hinata pada angin.

Mengabaikan rasa penasaran yang hinggap, Hinata buru-buru kembali ke kelas. Rasa khawatirnya pada sang kakak lebih besar dari pada rasa penasarannya atas perkataan senpainya tadi.

Sayang sekali, ponsel Hinata tak terlihat notifikasi apapun. Yang berarti tak ada panggilan ataupun pesan masuk dari sang Kakak.

"Niisan." Lirih Hinata memandang ponsel dengan sedih.

Untuk mengobati rasa kekecewaannya, Hinata memilih berganti seragam. Tentunya setelah dia menutup pintu dan jendela kelas dengan rapat. Setelah itu, dia hanya meletakkan kepala di lengan sambil melihat apakah Neji akan mengiriminya pesan.

Tak terasa kegiatan menunggu itu membuat Hinata mengantuk. Alhasil, gadis lavender tersebut ketiduran sambil menggenggam erat ponsel flip miliknya. Dia tak menyadari kehadiran siswi lainnya yang berganti pakaian. Bahkan saat seluruh teman-temannya kembali ke kelaspun Hinata masih tertidur pulas.

DENG DENG

"Momoi-san, ajak Hinata-san ke atap. Kami akan menunggu kalian." Perintah Kuroko sebelum meninggalkan gadis musim semi itu.

"Hm." Gumam Satsuki tak jelas.

Setelah kepergian Kuroko, Satsuki membalikkan badan. Tampak jelas wajah Hinata yang asik tertidur. Sesaat rasa ragu hinggap didiri Satsuki.

"Apa aku harus membangunkannya? Tapi… dia sangat nyenyak sekali." Satsuki entah sadar atau tidak mengulas senyum setiap melihat Hinata tertidur.

Tak sengaja, iris pink itu melihat pesan yang dituliskan Hinata.

'Niisan kenapa kau tidak membalas pesanku?'

Senyum terukir kembali di wajahnya, "Mungkin firasatku salah. Sepertinya Hinata sedang risau karena merindukan kakaknya."

Satsuki mengelus kepala Hinata lembut. "Tidurlah dengan nyenyak, Hinata-chan. Akan kusampaikan pada mereka jika kau sedang sakit."

Akhirnya, Satsuki memilih untuk pergi ke atap sendirian. Dia tidak tega jika membangunkan Hinata.

"Murasakicchi, jangan makan dulu. Momoicchi dan Hinatacchi belum datang, ssu." Perintah Kise karena sedari tadi si Titan ungu sibuk makan. Padahal yang lain menahan lapar karena menunggu kedatangan dua manager klub basket mereka.

"Aku bawa bekal yang banyak. Jadi Kisechin tidak perlu khawatir." Balas si Titan tak mau didebat.

KRAUS KRAUS

"Kenapa mereka tidak datang bersamamu, Kuroko?" Tanya Midorima.

"B-bukan berarti aku ingin manager baru kita itu bergabung dengan kita, nanodayo." Lanjutnya sambil membenarkan letak kacamata.

"Hahaha… kau masih saja tsundere, Mirodimacchi." Ejek Kise sambil menjulurkan lidah. Ini pelampiasan Kise karena tidak bisa membalas perkataan Murasakibara.

"Aku tidak tsundere." Tolak keras si kacamata.

CKRIS CKRIS

Suara gunting terdengar jelas. Serempak mereka terdiam. "Hentikan perdebatan tak jelas kalian. Jika tidak ingin berkenalan dengan guntingku."

"Taiga." Panggil Akashi.

"Hn?" Sahut Kagami disela dirinya minum air mineral.

"Apa hubunganmu dengan Hinata?" Lanjut si kapten merah.

"Uhukh… Uhukh…." Pertanyaan dari Akashi mampu membuat Kagami terbatuk karena keget. "A-apa maksudmu, Akashi?"

"Diantara kami semua hanya kau yang menyapanya 'Yo' seolah kalian sudah kenal lama. Bahkan Kuroko yang teman sekalasnya tidak seakrab dirimu." Tatapan tajam dihadiahkan Akashi cuma-cuma untuk Kagami.

"Benar juga, ssu. Kagamicchi juga mengatakan 'semoga betah di sini'. Waktu itu kau benar-benar membuatku ingin memukulmu, Kagamicchi." Tambah Kise menatap sebal pada Kagami.

"Itu juga alasanku kenapa menekuk lutut Kagami-kun kemarin." Kuroko menatap datar ke Kagami seolah apa yang dia lakukan kemarin adalah benar.

Si kacamata ikut ambil suara. "Kau membuatku penasaran, nanodayo."

GLEK

"I-itu…"

"Apalagi pernyataanmu tentang masakannya yang enak." Ujar Aomine yang baru terdengar suaranya.

SET

Dengan cepat gunting menghunus tepat di ujung hidung mancung Kagami. "Apa yang kau sembunyikan dariku, Taiga?"

"A-aku…" Napas Kagami terasa tercekik.

CKLEK

Pintu atap terbuka. Tampak Satsuki datang sendirian tanpa kehadiran Hinata. Gadis musim semi itu berjalan cepat ke arah mereka.

"Gomenne, Minna-san." Satsuki mengucapkan permintaan maaf.

Kagami menghela napas lega. Dia merasa telah menghirup bau surga.

'Aku selamat. Terimakasih, Momoi.'

"Di mana Hinata-san?" Kuroko celingak-celinguk mencari keberadaan Hinata.

"Etto.. Hinata sakit. Aku membiarkannya tidur di kelas, kurasa dia kelelahan."

"Aku memang tidak terlalu berharap padanya." Ujar Aomine kembali bersandar ke pagar atap.

Penyataan dari Aomine seketika membuat mereka terdiam.

.

"Hinata-chan… bangun. Sebentar lagi bel masuk." Ujar Satsuki sambil menggerak-gerakkan bahu Hinata.

"Enghh… Satsuki-chan?" Suara lenguhan Hinata yang baru bangun tidur terdengar. "Arigatou…"

"Tidurmu nyenyak sekali." Cerita Satsuki.

Senyum kaku terhias di wajah Hinata, "A-ah… aku pasti terlihat sangat bodoh saat tidur."

Mengesampingkan gumaman Hinata, Satsuki menceritakan apa saja yang terjadi saat dia dan anggota team basket makan siang. Mulai dari pertengkaran Kise dan Midorima sampai Murasakibara dan Aomine yang berebut makanan. Kuroko, Kagami dan Akashi adem ayem sendiri, karena malah untuk ikut berdebat. Mereka bertiga jenis orang yang lebih suka menghabiskan jam istirahat dengan hal yang bermanfaat. Sampai-sampai bagian yang membuat rasa penasaran Hinata membuncah.

Alis Hinata bertautan, "Untuk apa Akashi-san membawa gunting?"

"Kau tidak tahu ya? Akashi-kun itu absolute. Saat ada seseorang menentang perintahnya maka dia akan menghunuskan gunting merahnya itu pada orang yang menentangnya." Jelas Satsuki.

"Oh…"

"Makanya orang-orang memberinya sebutan pemilik gunting keramat. Karena setiap melihat gunting merah itu berada di tangan Akashi-kun, mereka akan ketakutan."

DEG

"Akashi-san itu… si pemilik gunting keramat?" Satsuki mengangguk.

"Kau tahu, si pemilik gunting keramat itu mengancamku untuk memindahkan si Hyuuga agar masuk ke klub basket."

Kembali ucapan dari gadis tadi terngiang di benak Hinata.

Ingin rasanya Hinata bertanya lebih, namun bel yang berdentang menghentikan niatnya. Pelajaran kali ini Hinata kembali tidak bisa membagi apa yang harus dipikirkannya. Alhasil, tak ada satupun penjelasan yang masuk ke kepalanya.

.

'Aku harus bicara dengan, Akashi-san.'

Hinata berjalan cepat menuju Gym. Setelah ijin pada Kuroko dan Satsuki untuk piket sebentar, gadis itu secepat kilat membereskan kelas dan menyelesaikan tugasnya.

Baru saja menginjakkan kaki di Gym, sebuah seruan memekakkan telinga terdengar dari si rambut kuning.

"Hinatacchi~~"

GREB

Pelukan maut dari Kise membuat Hinata sama sekali tak bisa bergerak. "Kudengar kau sakit, ssu. Apa kau baik-baik saja?"

"O-oi… lepaskan Hinata." Kagami yang merasa tak suka langsung melepas dekapan Kise dari Hinata. Lihat saja, Kagami bisa menduga roh Hinata akan segera melayang jika dia tidak melepaskan pelukan maut itu.

"Kagamicchi kenapa sih. Aku kan khawatir pada Hinatacchi, ssu." Sebal Kise.

"Jika kau melakukan hal seperti itu lagi, dengan senang hati kau akan menerima ignite pass dariku, Kise-kun." Tambah Kuroko yang entah sejak kapan berada di hadapan Hinata untuk melindunginya dari pemuda hiperaktif itu.

"Hidoi~~ aku hanya bercanda, ssu." Kise menggembungkan pipi.

Hinata mencoba mengabaikan kejadian yang baru saja menimpanya, "Apakah kalian melihat Akashi-san?"

"Kenapa kau mencarinya?" Tanya Kagami heran.

Hinata melihat ke arah lain serta memainkan telunjuknya untuk mencari alasan. "Etto… biasanya dia tidak pernah absen. Jadi… aku hanya penasaran saja."

"Sepertinya dia diajak Teppei-sensei pergi." Jawab Kuroko yang sebernarnya melihat ada hal yang disembunyikan oleh Hinata.

"Dan menyuruh kita untuk menunggunya, ssu." Tambah Kise.

"Souka." Hinata menganggukan kepala mengerti.

Kemudian, gadis itu melangkah menuju bench. Di mana di sana sudah ada seorang pemain berambut ungu yang asik makan maibo.

KRAUS KRAUS

"Doumo, Murasakibara-san." Sapa Hinata.

"Um…" Balasnya.

Setelah itu tak terdengar pembicaraan lagi. Hinatapun mengalihkan pandang ke lapangan.

"Aku tidak tahu kalau kau masih menyimpannya." Hinata kembali membuka suara setelah terdiam cukup lama.

"Eh?" Sejenak si Titan menghentikan acara makannya.

"Botol minumanku." Hinata menunjuk ke arah botol di samping Murasakibara. "Ada namaku di sana. Tepat di tepi bawah botol."

"…."

Tidak mendapat respon dari Murasakibara, akhirnya Hinata berjalan ke arah Akashi yang baru saja datang bersama Teppei.

"Aku ingin bicara denganmu, Akashi-san." Hinata menatap langsung iris heterocrom Akashi, "Hanya berdua."

"Ikuti aku." Akashi berjalan lebih dulu dari Hinata. Membuat agar gadis itu harus mengikutinya.

"Mereka mau ke mana?" Tanya Kagami yang daritadi memperhatikan.

"Aku tidak tahu." Kuroko menggedikkan bahu.

"Tapi wajah Hinata-chan terlihat sangat serius." Sahut Satsuki yang ternyata ikut mengamati.

Akashi memilih ruang ganti pemain untuk ia dan Hinata bisa bicara empat mata. Pemuda yang identik dengan warna merah itu sedikit heran dengan sikap Hinata.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

Hinata menatap Akashi tajam.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Akashi merasakan ada hal yang tidak beres akan terjadi.

"Apa benar…" Hinata berhenti sejenak, "Kau yang membuat Ketua dewan siswa mengganti formulir klubku?"

Awalnya manik heterocrom itu terbelalak, namun dalah sekejap wajah Akashi berubah datar. "Ya."

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin kau berada di klub itu. Sudah cukup kau menghindari orang lain. Kau bukan gadis introvert, Hinata. Aku hanya ingin kau bersosialisasi dengan orang lain." Jelasnya.

"Memangnya apa urusanmu dengan sifat anti-sosialku? Punya hak apa kau sampai mengatur hidupku." Desis Hinata tak suka dengan keputusan sepihak Akashi.

"Aku hanya ingin membantumu, Hinata." Tukas Akashi masih dengan nada datar dan tenang.

Hinata menghela napas. Gadis itu mengusap wajahnya pelan. "Kukira memang sudah saatnya aku membuka diri. Tapi ternyata… semua ini karena campur tanganmu."

Akashi mencoba menjelaskan pada gadis itu maksud perbuatannya. "Hinata, aku tidak ingin mempermainkanmu. Tapi, hanya ini caraku untuk membantumu."

"Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi dengan Ketua Dewan?" Hinata kembali menatap Akashi, "Dia dimarahi dan disuruh membuat surat permohonan maaf. Dan kau masih bisa bersikap biasa saja?"

"Aku melakukan ini untukmu, Hinata." Tegas Akashi.

Hinata berdecak setelah mendengar jawaban Akashi, "Tch. Gomenne kurasa aku harus pergi."

"Hinata." Panggilan Akashi diabaikan oleh Hinata.

BLAM

Suara pintu tertutup menjadi akhir perbincangan mereka berdua.

Raut tenang Akashi langsung berubah menjadi dingin.

"Aida Riko." Desisnya sambil mengepalkan tangan dengan erat. Buku-buku jarinya sampai memutih karena saking erat kepalannya.

Perasaan kesal, marah dan kecewa bercampur aduk di dalam hati dan pikiran Hinata. Gadis itu berjalan dengan cepat menuju arah bench untuk mengambil tasnya.

"Hinata-chan, apa yang—"

SET

"Kenapa kau terburu-buru, Hinata?" Tanya Satsuki melihat temannya itu terlihat kecewa dan sedih. Apalagi sampai membawa tas dan berniat pulang.

"Hinatacchi kau mau ke mana?" Tambah Kise yang berjan mendekat.

"Gomenasai. Aku harus pergi." Singkat, padat dan jelas.

GREB

Satsuki menggenggam tangan Hinata. Berusaha menghentikan gadis itu agar mau menjelaskan apa yang terjadi. "Kenapa kau selalu menghindari kami? Apa kau membenci kami? Kenapa, Hinata-chan?"

"Aku tidak membenci kalian." Jujur Hinata.

"Lalu kenapa? Jika kau punya masalah kau bisa bicara denganku. Dengan kami. Kita teman." Seru Satsuki putus asa.

"Dengar, Satsuki-chan. Sejak awal aku belum menyetujui untuk berteman denganmu." Ujar Hinata datar.

"Tapi—"

"Aku tidak suka dipaksa untuk berteman." Hinata melepaskan genggaman Satsuki pada pergelangan tangannya. "Marahlah padaku. Dengan begitu, mudah bagiku untuk keluar dari sini. Dan satu lagi… aku tidak percaya dengan ikatan pertemanan."

"…." Satsuki terdiam. Dan bahkan mereka yang mendengar perkataan dari Hinata ikut terdiam. Seolah tak percaya kata seperti itu keluar dari bibir Hinata.

"Sayonara." Ucap Hinata sebelum dirinya benar-benar menghilang dari balik pintu.

BLAM

TBC

Wahh… Akhirnya sampai juga ke bagian ini *bernapas lega*

Chapter ini sedikit lebih panjang dari chapter-chapter sebelumnya.

Tapi Seira harap kalian puas dengan chapter ini.

Seira ingin mengucapkan banyak terima kasih atas review, likes, follows ceritaku pada : Onxy Dark Blue, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, Lizadz, Akina Yumi, Ayu493, Birubiru-chan, Hinata127, naruhina03, purebloods07, seventhplayer, sharingan12115, Shiroi Tensi, unaruhina04, Gagaganbatte, Shyoul Lava, Ranmiablue, Novita610 dan Wysan.

Dan orang-orang yang membaca ceritaku yang belum Seira sebutin, Seira mengucapkan terimakasih banyak.

And Then…

Silahkan Review

Kritik dan saran akan selalu Seira terima ^^

See you next chapter, minna-san (^-^)v

.

Seira Schiffer