Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Naruto © Masashi Kishimoto
Nanairo no Compass © Seira Schiffer
.
Rated : T
.
Generation of Miracle x Hinata Hyuuga
.
Meski aku sudah tidak bisa kembali
Masalalu akan terus menghantuiku
.
RnR
.
"Ada yang salah." Nebuya berbisik pelan pada Reo. Sementara Kotaro mengamati Hinata yang masih membersihkan meja dan menata taplak meja bagian kanan sementara Kagami sebaliknya. Mereka saling memunggungi seolah tak ingin melihat wajah masing-masing.
Lalu Kotaro mengangguk setuju, "Atmosfir di sini rasanya lebih berat."
"Rasanya susah bernapas." Lanjut Reo.
Himuro mendengar percakapan-percakapan ketiga sahabatnya. Dia kemudian mengalihkan pandang pada dua orang yang sedang dibicarakan. Melalui sudut pandangnya, Himuro dapat melihat jarak yang tercipta antara Hinata dan Kagami mulai lebar. Ekspresi dua orang itu juga membuat Himuro berpikir ada yang aneh.
"Kalian benar. Mereka sedang bertengkar." Ungkap Himuro setelah mengalihkan mata dari dua sosok yang menjadi bahan pembicaraan.
"Kenapa kalian belum pulang? Kalian mau menginap di sini?" Alex bertanya ketika wanita itu melihat gerombolan pria yang bersembunyi di ruang istirahat.
"Sepertinya ada yang aneh dengan Kagami dan Hinata." Celetuk Himuro memberitahu.
"Aneh?" Alex seketika mencari sosok Hinata dan Kagami yang saling berjauh-jauhan, "Kalian pulanglah. Café akan segera tutup."
"T-tapi—"
"Pulang." Potong Alex langsung pergi untuk menghampiri Hinata dan Kagami.
Tak ingin bermasalah dengan Alex, keempat laki-laki itu memilih pulang dan memendam rasa penasaran akan apa yang dilakukan oleh managernya itu.
TAP TAP TAP
Alex berjalan pelan sambil sesekali mengamati mereka. Ekspresi datar yang ditunjukkan oleh wajah mereka membuat Alex mengusap wajah kasar.
"Kalian berdua kemarilah." Daulat Alex setelah dirinya duduk di salah satu kursi.
Tak lama kemudian, baik Hinata maupun Kagami duduk di hadapan Alex. Seolah mereka akan melakukan sesi tanya jawab.
"Kalian sedang bertengkar?" Alex memulai sesi introgasi.
"Iie. Kami baik-baik saja." Jawab Hinata tanpa menunggu persetujuan Kagami.
"…." Kagami sendiri memilih diam. Lebih tepatnya dia tidak tahu apa yang akan dia jawab atas pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh Alex.
Walaupun sekilas terlihat mengerikan bak penyihir, dimata Kagami managernya itu memiliki intuisi yang cukup tajam. Terlebih jika itu bersangkutan dengan para pekerja di café miliknya.
"Alex-san tidak perlu khawatir. Saya akan bekerja dengan giat." Hinata beranjak dari tempat duduk alih-alih untuk berojigi sebelum pamitan pulang, "Saya harus pulang. Maaf telah membuat Alex-san khawatir. Sumimasen."
Alex maupun Kagami menatap kepergian Hinata dalam diam. Mereka menatap dengan pancaran yang berdeda. Alex melihat dengan pandangan datar. Sedangkan Kagami dengan pandangan penuh arti.
"Hah… aku juga ingin pulang. Sampai besok." Kagami ikutan pamit.
BLAM
Setelah pintu café tertutup, Alex hanya menghela napas lelah. "Rumit sekali."
.
DENG DONG
Bel masuk berdentang keras. Dikenal sebagai sekolah yang menjunjung tinggi sikap disiplin, tak tampak satupun murid yang masih berjalan baik di koridor kelas maupun halaman sekolah ketika bel sudah berdentang. Mereka semua sudah duduk manis di kelas masing-masing dengan tenang. Menunggu Guru yang akan mengajar.
Tepat di bagian belakang deretan tempat duduk, tampak seorang gadis belia duduk asyik membaca pelajaran pertama yang akan diajarkan. Sebagai murid kehormatan, gadis itu tak bisa berpangku tangan dan menyia-nyiakan waktu untuk memikirkan hal yang tidak berguna.
Tak seperti biasa, kali ini Hinata merasa sekolahnya hari ini menjadi lebih… tenang. Entah itu perasaannya sendiri atau memang seperti itu adanya. Pasalnya, hari ini Hinata bisa menghitung berapa banyak kalimat yang sudah dia ucapkan seharian ini.
Tapi dia tidak terlalu mempedulikannya, toh baginya pelajaranlah yang dia prioritaskan.
Pulang sekolahpun, gadis itu memilih ingin langsung kembali ke apartemen untuk sekedar mengulang pelajaran hari ini. Kalaupun tidak, dia akan mencari referensi lain untuk pelajarannya hari ini. Rasanya dia malas berada di sekolah lebih lama selain untuk menimba ilmu.
"Hinata." Panggil Karasuma ketika melihat Hinata berjalan seorang diri menelusuri koridor kelas.
Hinata berhenti melangkah alih-alih untuk berbalik melihat si pemanggil, "Ya, Sensei? Doushite?"
"Hari ini ada ekskul?" Tanya Karasuma masih mengulas senyum ramah.
Hinata menggeleng, "Tidak."
"Bisa membantuku untuk merapikan berkas-berkas di ruang guru?" Tanyanya sambil menunjuk ruang guru dengan jempol. "Berkasnya terlalu banyak, aku kesulitan jika merapikannya sendiri."
"Tentu Sensei." Balas Hinata setelah berpikir sejenak.
TAP TAP TAP
Karasuma berjalan di depan Hinata sambil mengucapkan banyak terima kasih pada Hinata karena mau membantunya. Bagi Hinata sendiri membantu Guru yang merupakan wali kelasnya sendiri sudah suatu tugas dan kewajiban untuknya. Lagipula, hari ini dia tidak terlalu memiliki banyak rencana.
CKLEK
"Etto… Semuanya sudah pulang ya?" Hinata celingak-celingguk tak mendapati seorangpun di dalam ruang guru.
"Biasanya di jam seperti ini banyak Sensei yang harus mengajar ekskul. Sebagian ada juga yang sudah pulang." Tutur Karasuma berjalan ke arah meja kerjanya.
"Oh." Hinata mengangguk pelan, "Lalu berkas mana yang harus saya rapikan?"
"Duduklah." Karasuma mempersilahkan Hinata untuk duduk di kursi depan meja kerjanya. Sementara dirinya masih mencari berkas-berkas yang akan mereka rapikan.
Hinata duduk di kursi yang sama saat dia dipanggil oleh Karasuma untuk berdikusi tentang kegiatan ekskulnya. Sembari menunggu berkas-berkas yang sedang dicari sang Wali Kelas, Hinata melihat benda-benda yang berada di meja pria itu.
Tak banyak benda-benda di sana. Hanya ada benda-benda elektronik seperti laptop, charger, dan ponsel. Kertas-kertas pun minim sekali di sini. Bahkan di meja Guru-guru yang lainpun tak banyak kertas yang menumpuk.
Hanya saja ada satu benda yang membuat Hinata sedikit terkesan. Foto yang dipajang oleh Karasuma dengan figura minimalis di samping laptopnya. Dalam foto itu terdapat sosok sang wali kelas yang memeluk seorang pemuda yang lebih muda. Hinata mengira bahwa pemuda itu adalah anak Karasuma. Di sana, Hinata bisa merasakan hubungan erat ayah-anak.
Dan Hinata pun tak kuasa untuk tidak menarik bibir ke atas. Seolah foto itu mengingatkan sosok Ayah dan Kakaknya. Ya. Mungkin, anak Karasuma seusia dengan Neji.
"Kau melihat apa?" Tanya Karasuma sambil membawa beberapa berkas yang sejak tadi dicari.
"Iie." Hinata menggeleng pelan, "Sensei sepertinya sangat dekat dengan anak Sensei ya?"
BRUK
Usai menaruh tumpukan berkas di meja, Karasuma mengalihkan pandang ke figura foto yang dia pajang. "Begitulah."
Hinata mengangguk mengerti, "Etto… berkas-berkas ini bukannya data diri siswa-siswi di sekolah ini?"
"Ya." Karasuma menatap berkas di hadapannya sejenak, "Begini. Kepala sekolah memintaku untuk memilah-milah profil murid sesuai urutan kelas, nomor absen serta kegiatan yang mereka ikuti."
"Jadi…" Karasuma menyalakan laptop yang tadi sempat dia sleep. Lalu, dia hadapkan ke Hinata agar gadis itu melihat urutan kelas dan nomor absen dari masing-masing murid. "Kau bisa memisahkan data murid sesuai kegiatan ekstrakurikuler yang mereka ikuti. Sementara aku akan memilah kelas dan nomor absen."
Setelah pembagian tugas yang diberikan, baik Karasuma maupun Hinata mulai melakukan pekerjaan masing-masing. Suasana cukup tenang, saat mereka mengerjakan tugas masing-masing. Sampai akhirnya Karasuma melontarkan panggilan.
"Hinata." Panggilnya.
Hinata menghentikan kegiatannya sekedar untuk menatap sang wali kelas. "Doushite, Sensei?"
"Kulihat akhir-akhir ini kau sering diam dan sudah dua minggu ini kau sama sekali tidak ikut ekskul basket. Apa kau ada masalah?" Karasuma melemparkan tatapan penasaran pada Hinata.
Hinata membisu.
"Bukannya aku ingin ikut campur. Hanya saja, aku tidak bisa tinggal diam ketika muridku ada masalah." Lanjut Karasuma.
Tak mendengar suara si murid, Karasuma kembali melontarkan kalimat. "Hinata. Ada yang ingin kutanyakan padamu. Dan kuharap kau mau menjawabnya."
"…." Walaupun gadis pemilik mata amethyst itu terdiam, namun matanya memancarkan persetujuan agar Karasuma melanjutkan kalimatnya.
"Kohona High School adalah sekolah dengan akreditasi A. Untuk ukuran sekolah yang diisi anak-anak pintar, kenapa kau memilih pindah ke Teiko Academy? Padahal kau tahu sendiri bahwa ada tes masuk untuk setiap orang yang ingin menjadi bagian dari Academy ini saat pertengahan semester." Tanya Karasuma yang ingin mendengar secara langsung alasan kenapa Hinata mau pindah di Teiko Academy.
"Keluarga saya memiliki perusahaan interior yang cukup besar. Beberapa saat yang lalu, perusahaan itu bangkrut. Dan ayah saya dituduh sebagai koruptor." Hinata mulai bercerita.
Gadis itu menatap datar nama dirinya yang kebetulan sedang ia pegang.
"Kukira teman-temanku akan menghibur atau sekadar meneguhkan hatiku. Tapi, tidak. Mereka justru membuangku seperti sampah." Hinata tertawa miris untuk dirinya sendiri.
Karasuma menatap siswinya itu dengan prihatin. "Hinata."
Gadis bersurai indigo tersebut melanjutkan kegiatannya sambil menceritakan masalalunya, "Aku tidak minta dikasihani. Aku juga tidak meminta mereka melakukan apapun."
Dan dia kembali berhenti ketika dia merasa tangannya yang mulai gemetar.
"Tapi apa? Mereka menatap jijik padaku. Memperlakukanku seperti hewan. Mencaci maki keluargaku. Mereka membuatku seolah berada di neraka. Dan merekalah orang-orang yang selama ini kusebut teman."
TES TES
Isakan kecil mulai terdengar dari bibir Hinata. Gadis yang selalu mencoba menguatkan dirinya sendiri itu akhirnya roboh oleh pertanyaan Sang Wali kelas.
"…." Karasuma tak mampu berkata-kata. Pria itu memilih mendengarkan cerita siswinya itu sampai selesai. Karena dia tahu, Hinata tak selamaya bisa memendam masalahnya sendiri.
Air mata Hinata tak henti menganak sungai di pipi pualamnya. "Memang benar jika ayahku masuk penjara. Benar bahwa keluarga kami menjadi miskin. Kehidupan kami memang serba terbatas setelah kejadian itu. Tapi kami memiliki harga diri."
SET
Secara kasar, dia mengusap air mata dari wajahnya. Walau matanya masih memerah karena habis menangis, dalam sekejap tatapannya berubah menjadi kosong. "Alasan kenapa aku pindah ke sini adalah sekarang ayahku ada di kota ini. Bukan untuk mencari ikatan yang sudah merusak kepercayaanku."
"Tapi Hinata, bukankah sebuah rasa sakit hanya bisa disembuhkan dengan hal yang menyebabkan rasa sakit itu sendiri?" Karasuma menatap Hinata prihatin, "Maksudku, teman yang membuatmu terluka. Mungkin teman juga yang bisa menyembuhkannya."
Hinata terkekeh mendengar penuturan Karasuma, "Gomenasai. Bagiku, teman yang dimaksud oleh Sensei hanyalah… imajinasi." Dia lalu menggeleng pelan, "Tak ada hal seperti itu di dunia ini. Tak akan ada."
.
CKLEK
Seorang pemuda yang baru selesai mandi mendapati seseorang berbaring di kasurnya. Apalagi dengan santainya si tamu tak diundang membaca majalah gravure.
"Oh, Daiki. Haruskah aku memasang tanda 'ketuklah pintu sebelum masuk' di pintu sebesar badanmu agar kau bisa membacanya? Karena kurasa ingatanmu tentang peringatanku sudah mulai hilang." Dengan senyum ramah, pemuda tadi berujar dengan nada kesal.
"Ck. Kau ini cerewet sekali sih?" Decak si tamu masih membaca majalah favoritnya.
Merasa diabaikan, pemuda yang lebih tua dari Aomine membuka lemari untuk mencari baju. "Pulanglah. Aku tidak menerima anak yang sedang kabur dari rumah."
"Oi, Sipit. Apa kau…." Aomine memotong kalimatnya merasa tak yakin akan menanyakan pertanyaan yang masih berputar-putar di otaknya.
Si sipit—Shoichi—memakai baju polos berlengan pendek seraya mengernyitkan dahi, "Apa yang kau inginkan?"
Aomine membuka lalu menutup mulutnya seperti ikan. Pemuda berkulit tan itu masih tak yakin apakah dia akan mengatakan apa yang sedang dipikirkannya atau tidak.
"Tsk. Kalau hanya ingin membuang waktuku lebih baik kau pulang." Gerutu Shoichi tak tahan melihat sikap labil dari sepupunya itu.
Mengabaikan decakan Shoichi, Aomine akhirnya berbicara. "Aku mau cerita."
"Apa?" Shoichi sedikit heran. Pasalanya Aomine jarang sekali mau bercerita. Walaupun ada masalah, dia memilih untuk diam dan menyelesakannya sendiri.
Setelah memikirkan masak-maak, Aomine memilih mengutarakannya. "Apa yang akan kau lakukan jika seorang gadis menolak berteman denganmu?"
Shoichi menghilangkan lengkungan senyum dari wajahnya hanya untuk berganti ekspresi heran. "Hah, kau sedang membicarakan dirimu sendiri ya?"
"Jawab saja." Aomine merasa kesal sendiri berbicara dengan sang sepupu.
"Menurutku gadis itu benar." Aomine terkejut mendengar jawaban Shoichi. Saking terkejutnya, pemuda itu sampai menutup majalah favotirnya dan berlaih duduk.
"Kenapa?"
"Karena kalau sampai dia berteman denganmu mungkin keperawanannya akan hilang." Tukas asal Shoichi sambil menggedikkan bahu.
BRUK
Aomine kembali membaringkan tubuhnya, "Sialan. Aku sungguh-sungguh."
SET
Mendengar rutukan Aomine, Shoichi menjadi sedikit tertarik dengan ceritanya, "Katakan. Siapa gadis bernasib sial yang telah kau target untuk kau jadikan teman?"
Masa bodoh dengan ejekan yang dilontarkan Shoichi, Aomine memilih menyebutkan akar permasalahannya. "Hyuuga."
"Hyuuga?" Aomine mengangguk mantap, "Apa kau tahu bahwa ayahnya dipenjara karena dituduh koruptor?"
"…." Aomine terdiam.
Shoichi mengelus dagu. "Okay. Jadi… kenapa kau ingin berteman dengan si Hyuuga ini?"
"Dia… sangat aneh."
Shoichi memutar bola mata bosan, "Jawaban macam apa itu."
"Gadis itu… terlalu menghindar. Seolah tak ingin diraih." Ujar Aomine tanpa sadar.
Shoichi menyeringai. "Aku tak tahu kalau pemuda berbau hentai sepertimu bisa tertarik dengan gadis Hyuuga yang aneh."
"Aku dengan si Hyuuga itu?" Shoichi mengangguk, "Mana mungkin."
"Coba saja kau hitung berapa gadis yang berhasil membuatmu uring-uringan seperti ini? Bahkan Satsuki saja tidak sampai membuatmu kabur ke apartemenku. Lalu kenapa dengan si Hyuuga ini?"
"Aku sama sekali tidak tertarik dengannya." Aomine menyangkal pernyataan Shoichi.
"Selain hitam kau ini bebal." Shoichi paling tidak bisa menang dengan sifat keras kepala seorang Aomine.
"URUSAI..!" Teriak Aomine kembali membaca—melihat—majalah gravurenya.
Memilih meninggalkan Aomine, Shoichi beralih pada berkas-berkas yang ada di meja dekat ranjangnya. "Aku mau membuat laporan, jangan sekali-kali menggangguku dengan rengekanmu."
"Aku hanya menyukai Mei-chan." Gumam Aomine lirih.
.
Musim panas akan segera datang, cuacapun mulai terasa lebih hangat. Para murid tak lagi harus mengenakan jaket tebal. Karena musim semi akan segera berakhir.
Sama halnya dengan gadis bermarga Hyuuga itu, dia menikmati cuaca hangat ini dengan berjalan-jalan di halaman sekolah.
"Hinata-san." Suara yang dikenal Hinata menghentikan langkah gadis itu.
Hinata mengernyitkan dahi. "Kuroko-san?"
"Ano… bisa bicara sebentar?" Kuroko sedikit canggung dengan Hinata.
Kuroko memilih untuk mengajak Hinata ke bangku taman yang tak jauh dari tempat mereka bertemu tadi. Dan sepertinya tak hanya mereka yang ada di taman. Karena mungkin ada puluhan siswa-siswi yang ikut menikmati cuaca ini.
"Hinata-san, aku tidak tahu apa yang Hinata-san dan Akashi-kun bicarakan di ruang ganti waktu itu. Tapi, apakah Hinata-san tahu bahwa setelah kepergian Hinata-san, Akashi-san sangat murka?"
.
:::: Flashback On ::::
.
BLAM
Selepas kepergian Hinata, Aida Riko datang bersama Hyuga Junpei. Kedatangan kedua Dewan siswa itu menarik perhatian anggota klub basket.
"Bagaimana ini? Dia pasti membunuhku." Riko cemas akan nasib yang akan dia alami.
"Tenanglah, Kaichou." Junpei yang berdiri di sampingnya hanya bisa menenangkan si gadis. Karena bagaimanapun memang mereka tak bisa menduga apa yang akan dilakukan si iblis merah itu.
Alih-alih mendengarkan ucapan Junpei, Riko malah semakin gelisah. "Aku akan mati."
"Oyamaa… tenangkan dirimu." Jengkel dengan sikap Riko, Junpei hanya berseru lirih.
"Kenapa Kaichou datang ke mari?" Tanya Kuroko.
"A-a-ano…." Riko masih menggenggam erat lengan Junpei dengan erat.
"Sebenarnya kami datang karena—"
TAP TAP TAP
Kalimat Junpei terpotong saat semua orang di ruangan itu mendengar langkah berat seorang dari ruang ganti. Semua mata menatap satu-satunya pemuda beriris heterokrom di klub basket.
GLEK
Aura membunuh menguar kuat dari dalam diri Akashi.
"Bukankah aku pernah mengatakan untuk membunyikannya? Kenapa kau memberitahu Hinata, hah?" Bentak Akashi penuh amarah. Dan saat dia marah, dia butuh pelampiasan.
"A-a-a-aku—" Junpei menggenggam tangan Riko kala merasa bahwa Riko mulai merasa sangat ketakutan.
"Dia tidak sengaja menceritakannya." Jelas Junpei dengan nada tenang. Walau sejak tadi, dia berdoa agar pemuda berambut merah itu tak mengeluarkan gunting keramatnya.
"Tidak sengaja katamu? Apa kau tahu akibat dari kecerobohannya itu?" Akashi mulai medekat ke arah Riko sambil menatapnya tajam, "Kurasa aku harus membungkam mulut embermu itu."
SET
"Jangan keterlaluan, Akashi." Junpei menarik tubuh Riko agar berada di belakangnya. Selagi dirinya berhadapan langsung dengan Akashi.
Teman-temannya yang lain masih membatu sejak Akashi membentak ketua dewan siswa. Mereka masih mencerna apa yang sedang terjadi. Namun, hanya Kise yang berani berbicara saat teman-temannya masih terdiam.
"B-benar-ssu. Akashicchi jangan terburu-bu—"
SWING
Gunting merah itu melayang ke arah Kise. Untung saja gunting itu tak mengenai wajahnya. Walaupun gunting tersebut berhasil memotong beberapa helai surai kuningnya.
GLEK
"A-aku diam, ssu." Kisepun memilih berlindung di belakang Midorima.
"Mirodimacchi, lakukan sesuatu, ssu." Bujuk Kise karena sepengetahuannya, Midorimalah yang paling dekat dengan Akashi.
"Diamlah." Perintah si rambut hijau. Pemuda itu sebenarnya juga cukup terkejut saat gunting merah itu meluncur ke arah Kise secara tiba-tiba.
"Gara-gara kau rencanaku hancur." Desis Akashi menunjuk Riko dengan nada sengit.
Akashi yang kembali berjalan mendekati Riko malah didorong oleh Junpei sampai dirinya mundur tiga langkah ke belakang.
DEG
Yang lain spontan menahan napas kaget. Sejak awal dilihat dari sudut manapun Akashi sudah murka, dan sekarang ada orang yang berani mendorongnya. Mendorong Akashi saat dia dalam keadan nomal bagi mereka adalah bencana, apalagi mendorongnya saat dia dalam keadaan murka. Mau cari mati?
Akashi terkekeh singkat, "Hah… pas sekali. Moodku juga sedang buruk."
BUG
Pukulan mentah-mentah dari Akashi mampu membuat Junpei terpental beberapa meter ke belakang.
BUG BUG BUG
Berulang kali Akashi memukul wajah Junpei sampai pemuda dengan jabatan wakil dewan itu babak belur. Meskipun dia sudah membuat wajah Junpei seperti itu, rasa amarah belum sepenuhnya hilang dari dirinya.
Tak tega melihat wajah sahabat kecilnya babak belur lebih dari ini, Riko pun memilih meminta Akashi untuk menghentikan pukulan-pukulan yang akan pemuda itu layangkan lebih banyak lagi.
"Hentikan. Hentikan. Kumohon. Maafkan aku Akashi. Kumohon jangan memukulnya lagi." Riko berharap Akashi mau mendengarkannya.
Dan tak diduga, Akashi menghentikan pukulan yang akan dia layangkan untuk Junpei. Iris heterokrom pemuda itu tampak menyala terang. "Aku akan melepaskanmu. Asalkan kau bisa membuat Hinata kembali ke tim ini lagi."
BRUK
Akashi melemparkan tubuh Junpei yang sudah tak sadarkan diri. Tanpa merasa bersalah, pemuda itu melangkahi tubuh tak berdaya itu.
"Latihan hari ini cukup sampai di sini." Si kapten merah mengambil perlengkapannya lalu pergi meninggalkan ruang Gym yang berubah menjadi ring tinju dalam beberapa menit yang lalu.
.
:::: Flashback Off ::::
.
"Aku memang tidak tahu apa penyebab Hinata-san tidak percaya pada pertemanan. Apalagi tentang masa lalu Hinata-san." Kuroko menunjukkan wajah sedih.
"Tapi… tidaklah baik menatap masa lalu terus. Hinata-san juga harus melihat masa depan." Lanjutnya.
"Kau benar, Kuroko-san. Tapi, aku tidak ingin kembali mengulang kejadian itu." Hinata bangkit berdiri, "Seperti yang kau bilang, Kuroko-san… kau tidak tahu apapun tentang masalaluku. Jaa."
Seraya melihat punggung Hinata yang semakin menjauh, Kuroko bergumam. "Sebenarnya ada apa dengan masalalumu, Hinata-san?"
.
:::: Hinata's POV ::::
.
Pulang sekolah enaknya dihabiskan dengan jalan-jalan. Lagipula, hari ini cafe tutup. Gajiku juga sudah kukumpulkan. Hampir sebulan aku berkerja part time di sana. Dan hasilnya selalu aku tabung.
Untuk keperluan sehari-hari aku biasanya berbelanja setiap minggu. Dan untunglah penggunaan gas dan listrikku lebih sedikit karena aku jarang di apartemen.
Ngomong-ngomong soal apartemen, rasa-rasanya di sana terlalu kosong. Mumpung ada uang sisa.
"Ya. Tak ada salahnya untuk menghias ruangan itu." Ujarku sembari mengulas senyum puas.
Pasalnya beberapa hari yang lalu aku sempat menghitung jumlah pengeluaran dan pemasukan selama sebulan. Mengingat uang dari Neji-nii tak berani kugunakan, aku memanfaatkan uang part time dan uang yang diberikan Academy sebagai murid kehormatan.
"Kira-kira apa yang harus kubeli?" Pikirku sambil membayangkan apa jadinya apartemenku yang kosong kuhias.
HWAAA
Tangisan? Sore-sore begini kenapa ada suara tangisan? Dulu waktu bertemu Murasakibara-san juga seperti ini. Tapi, kira-kira siapa yang menangis?
Alhasil aku memilih mencari sumber tangisan. Dan ketemulah dua anak laki-laki.
"Doushite?" Tanyaku pada seorang anak berambut biru dongker.
"Dia mendorongku." Jawabnya sambil sesenggukan.
"Tapi dia dulu yang mengejekku." Seorang anak berambut hitam membela diri.
Dengan penuh kasih sayang, aku bertanya lembut pada mereka. "Namamu siapa?"
"Kyo Sumire." Tutur si rambut biru dongker. Sesenggukannya sedikit mereda. Anak manis.
"Namamu?" Tanyaku pada si rambut hitam.
"Shiro Asuka." Ucapnya dengan wajah merah yang sangat lucu. Astaga, ingin sekali kucubit pipi mereka.
Mengabaikan rasa gemasku, aku menyentuh pundak mereka. "Kenapa Kyo-chan dan Shiro-chan bertengkar?"
"Dia bilang aku tidak bisa bernyanyi karena suaraku jelek." Shiro menunjuk Kyo dengan kesal.
Merasa tak terima, Kyo pun ikut menuding Shiro. "Dia juga mengejekku karena suaraku seperti keledai."
"Benarkah? Bagaimana kalau kita buktikan saja?" Dasar anak kecil. Tingkah mereka lucu sekali.
"Maksud Neechan?" Mereka berujar bersamaan dengan kepala dimiringkan karena bingung.
"Neechan ingin bernyanyi bersama kalian." Seruku sambil tersenyum lima jari.
"Lagu apa?" Tanya Shiro yang penasaran dengan maksudku.
"Mungkin kalian tahu lagu Yume Wo Kanaete soundtrack Doraemon?" Mereka mengangguk mendengar tawaranku. Dan kemudian, aku memilih berdiri untuk memulai intronya.
Di dalam hatiku selalu selalu aku lukiskan
(Aku lukiskan)
Peta duniaku yang akan membawa mimpi-mimpiku
(Baling-baling bambu)
Terbang ke langit, mengarungi waktu, ke negeri nun jauh pun
Bukalah pintu, aku ingin pergi sekarang juga
(Pintu ke mana saja)
Mereka mengulang kembali kata-kata yang terucap olehku seperti dilagunya. Sama persis.
Akankah kulupakan, ketika aku dewasa?
Disaat itu, ayo kita ingat sekali lagi
Shalalalala… dari dalam hatiku
Selalu ada mimpi yang bersinar
Doraemon, penuhilah seluruh dunia dengan mimpi-mimpi
Shalalalala…. Ayo kita menyanyi
Semuanya ayo bergandengan tangan
Doraemon, penuhilah seluruh dunia dengan mimpi-mimpi
Kami berputar dan saling bergandengan tangan saat menyanyikan reff dari lagu ceria itu.
Jika kau temukan yang ingin kau lakukan dan tujuanmu
(Jika kau temukan)
Janganlah kau ragu, pakai sepatum ayo keluar
(Mesin waktu)
Shiro dan Kyo bergantian mengulang lirik yang kunyanyikan.
Jangan khawatir kau tidak sendirian, karena ada aku
Ayolah kita mencari harta karun yang berkilauan
(Kantong empat dimensi)
Aku menepuk bahu Shiro sambil tersenyum kecil.
Tak perlu kau menangis saat tersesat di jalan
Aku akan menolongmu dengan alat ajaib
Tak lupa aku menghapus air mata Kyo yang masih tersisa dipipi chuby nya.
Shalalalala… ayo kita melangkah
Sambil bersiul dengan nyaring
Doraemon, gembira rasanya ke kota itu
Shalalalala…. Di masa depan kita
Akan penuh dengan segala mimpi
Doraemon semua akan tersenyum bila ada dirimu
Kami kembali berputar. Bedanya, mereka memintaku menggendong mereka secara bergantian.
Saat aku dewasa pun, takkan pernah kulupakan
Perasaan yang berharga selalu dan selamanya
Shalalalala… dari dalam hatiku
Selalu ada mimpi yang bersinar
Doraemon kabulan mimpiku dengan kantongmu itu
Shalalalala… ayo kita menyanyi
Semuanya ayo bergandengan tangan
Doraemon, penuhilah seluruh dunia dengan mimpi-mimpi
Lagu berakhir dengan senyuman manis yang merekah dari bibir mereka. Tak ayal membuaku ikutan tersenyum senang.
"Nah... kalian dengar sendiri 'kan? Suara kalian indah. Jadi jangan bertengkar lagi ya." Aku mengelus lembut surai mereka.
"Suaramu keren." Puji Kyo dengan cengiran lebar.
"Kau juga." Kulihat Shiropun tampak senang.
Sesaat akupun ingat jika memiliki permen di tas. Jadi kuambil permen-permen itu untuk kuberikan pada mereka. "Permen untuk anak manis seperti kalian."
Shiro dan Kyo menerima dengan girang. "Arigatou, Oneechan."
"Douita."
"Neechan pergi dulu ya. Kalian jangan bertengkar lagi. Okay. Jaa." Kulambaikan tangan pada mereka berdua.
"Jaa." Mereka membalas lambaian tanganku.
Begitulah anak kecil, mereka mudah bertengkar dan mudah pula untuk berbaikan. Jika bisa, aku juga ingin kembali ke masa itu lagi.
.
:::: Hinata's End Pov ::::
.
Diwaktu yang sama. Disebuah kelas yang sangat meriah, seorang guru membagikan kertas formulir pada anak didiknya. Dan disambut dengan senang hati oleh mereka.
"Ini surat persetujuan untuk orangtua kalian." Terang sang Guru.
"Ini untuk darmawisata lusa 'kan Sensei?" Tanya seorang pemuda berambut orange bertubuh besar.
Guru itu mengangguk, "Ya. Besok kumpulkan ke Sensei saat istirahat."
"Jadi… kita akan ke Tokyo?" Tanya gadis berambut merah dengan kacamata.
Si rambut putih bergigi tajam menyeringai, "Kuharap kita akan bersenang-senang di sana."
TBC
*Mengintip dari balik tembok* Gomenasai minna, Seira updatenya telat banget.
Soalnya Seira sedang flu seminggu ini dan minggu kemarin kakak Seira menikah. Jadi waktu itu Seira belum bisa nulis untuk kelanjutannya *reader = banyak alesan lu thor*
T-tapi Seira senang banyak sekali yang minta cerita ini update kilat *terharu*
Seira inginnya juga begitu, tapi... apa daya dengan imajinasi yang tak kunjung datang *mewek*
Walaupun sangat telat, tapi Seira harap kalian puas dengan cerita kali ini.
Tak lupa Seira ingin mengucapkan banyak terima kasih atas review, likes, follows ceritaku pada : Onxy Dark Blue, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, Lizadz, Akina Yumi, Ayu493, Birubiru-chan, Hinata127, naruhina03, purebloods07, seventhplayer, sharingan12115, Shiroi Tensi, unaruhina04, Gagaganbatte, Shyoul Lava, Ranmiablue, Novita610, ameyukio2, oortaka, Irma97 dan Wysan.
Dan orang-orang yang membaca ceritaku yang belum Seira sebutin, Seira mengucapkan terimakasih banyak.
And Then…
Silahkan Review :)
Kritik dan saran akan selalu Seira terima ^^
See you next chapter, minna (^-^)v
.
Seira Schiffer
