Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Naruto © Masashi Kishimoto
Nanairo no Compass © Seira Schiffer
.
Rated : T
.
Generation of Miracle x Hinata Hyuuga
.
Meski aku ingin sendiri
Haruskah aku mengatakan bahwa aku kesepian?
.
RnR
.
Tak seperti biasa, hari ini wajah-wajah bosan menghiasi ruang kelas 1-B. Terlihat beberapa murid ada yang menopang dagu sambil mengetuk-ngetukkan jari mereka di atas meja, ada yang menghela napas jemu bahkan ada yang membaca buku pelajaran alih-alih menghilangkan rasa jenuh di hati.
Pasalnya, dentang bel sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, Sakurai-sensei—Guru Sosiologi—belum juga menampakkan diri. Hal itulah yang menyebabkan para murid kebosanan menunggu beliau walau sekedar lima menit. Lantaran Sakurai-sensei dikenal sebagai Guru yang sangat menghargai waktu.
"Kenapa Sakurai-sensei belum datang, sih?" Gerutu Kaname sebal.
"Sudah lima menit nih." Tambah yang lain dengan nada dongkol.
"Tidak biasanya." Sahut seorang siswi heran.
"Oi. Ketua, sana panggil Sensei gih." Seru salah satu siswa.
Seorang pemuda bername-tag Yamada Shigure beranjak dari bangku. "Baiklah."
Kemudian, pemuda berambut hitam ebony itu berjalan ke luar kelas guna memanggil sekaligus menjemput Sakurai-sensei.
Sepeninggal sang ketua kelas, para murid menunggu dengan tenang. Tanpa keberadaan Guru ataupun Ketua Kelas, mereka sama sekali tak berani membuat keributan. Sebab, mereka tahu bahwa hal tersebut hanya akan membuang-buang waktu. Selain itu, membuat kebisingan disaat waktu pembelajaran sedang berlangsung adalah suatu pelanggaran. Dan tidak terima kasih, mereka tidak ingin menerima points hukuman.
"Oyamaa… ini kenapa lama sekali." Jengkel seorang siswa.
"Menyebalkan. Bisa-bisa kita kehilangan satu jam pelajaran nih." Sahut Shinwa kemudian menempelkan pipi ke meja.
SREK
Pintu kelas bergeser, dan sekejap pandangan seluruh murid tertuju ke salah satu akses keluar-masuk para murid.
"Minna. Sakurai-sensei sedang rapat di luar kota. Tapi Sensei memberi tugas individu." Terang Shigure menunjukkan sebuah kertas memo.
"Kalau bukan disuruh browsing di internet pasti harus cari referensi di perpustakaan." Tebak Yuki.
"Tepat." Shigure kembali menatap selembaran kertas yang berada di tangannya. "Jadi, kali ini kita disuruh mencari materi hari ini diinternet atau dibuku yang ada di perpustakaan sekolah. Ditambah harus ada artikel yang menguatkan bahan materi kita hari ini."
"Artikel?"
"Seperti berita di Koran atau internet. Kalian simpan artikel tersebut dan dibawa pada pertemuan selanjutnya. Kalau bisa sih dijadikan satu folder. Jadi, nanti kalian kumpulkan data kalian di flashdisk-ku."
Shigure kembali membaca perintah yang tertulis di memo. "Di sini ditulis, materi tersebut disalin di buku catatan untuk digunakan sebagai bahan ajar pertemuan selanjutnya. Dan dipertemuan itu akan ada kuis."
"Oyamaa…." Kaname ikutan menempelkan pipi di meja, "Sakurai-Sensei selalu bisa membuat muridnya memutar otak."
"Ini hanya saran dariku." Shigure melipat kertas tersebut sembari menatap lurus anggota kelas. "Belajarlah sungguh-sungguh dimateri ini. Karena kuis dari Sakurai–sensei lebih menakutkan dari pada masa jomblo kalian."
TAK
Sebuah penghapus karet tepat mengenai dahi Shigure.
"Oi. Ketua sialan. Jangan menyangkut-pautkan masalah itu." Geram sebagian dari mereka.
"Tapi sungguh, kalian memang harus berhati-hati." Shigure mengusap pelan dahinya yang memerah, "Oh ya, dua jam ini kita bisa langsung mencari materinya. Aku sudah meminta ijin Nanami-sensei untuk mencari materi ini di perpustakaan."
"Okay, let's go minna. Library, we're coming."
Selama di perpustakaan, sang gadis indigo tak henti-hentinya mencari referensi lebih dari 5 buku berbeda yang ada di sana. Tak jauh darinya, seorang pemuda bersurai baby blue dan gadis bumble gum sesekali melirik kearahnya.
'Sampai kapan kau akan menutup diri, Hinata-chan/san?' Batin mereka bersamaan.
"Hyuuga." Panggil Shigure seraya membenarkan letak kacamatanya.
"Ya?" Sahut Hinata menatap sang ketua kelas.
"Sekarang giliranmu untuk menggunakan komputer." Tukasnya.
"Haik."
Siswa-siswa kelas 1-B menjalankan amanat dari Sakurai-sensei dengan baik. Walau ada satu-dua murid yang cekikikan karena membaca artikel yang lumayan lucu. Tak hanya itu, diantara mereka juga ada yang iseng mengisi TTS Koran yang disediakan di sana.
CTAK
"Baka. Jawabannya konspirasi tahu." Ucap seorang pemuda yang telah memukul dahi temannya.
"Hahaha… aku lupa." Tawa si teman menyadari kebodohannya.
Saat jam istirahat berlangsung.
Hinata memakan bekal di bawah salah satu pohon rindang di taman. Gadis itu tampak lahap menikmati makanannya. Sebagai pelengkap, Hinata tak lupa membuat jus jeruk. Sambil menutup kelopak mata, Hinata menikmati setiap kunyahan dari hasil masakannya.
"Hah… Nyaman sekali." Ujar Hinata setelah menelan makanannya.
Suara gelak tawa tiba-tiba mengisi gendang telinga Hinata. Tak ayal bola mata Hinata bergulir ke sumber suara. Dan sekelompok anak-anak yang menikmati waktu istirahat terpantul diiris mata Hinata. Mereka tampak senang dan bersuka cita. Saling berbagi makanan dan bercerita.
Dia baru sadar. Bukan hanya mereka. Banyak murid-murid yang bergerombol sekedar menikmati masa-masa menjelang musim panas ini. Hanya dia seorang yang duduk sendirian di bawah pohon yang sigap menghalau sinar matahari.
.
BRUK BRUK BRUK
Dari dalam GYM terdengar jelas suara benda jatuh. Jika kita telusuri lebih lanjut, akan terlihat para anggota klub basket yang sudah tumbang di tengah lapangan. Deru napas cepat terdengar dari bibir mereka. Seolah udara yang mereka hirup begitu terbatas. Hingga membuat mereka harus meraupnya sebanyak mungkin.
"Hah… hah… hah…."
Sang kapten merah menekuk wajah tak suka, "Kenapa berhenti?! Lanjutkan latihannya!"
Teppei menasehati si surai merah, "Seijuurou, biarkan mereka istirahat."
"Tidak sensei, mereka bisa lebih dari ini." Akashi bersikeras.
"Sudah cukup, Sei." Kembali, Teppei mengingatkannya.
"Tapi—"
PLUK
Tangan Teppei bertengger di bahu Akashi untuk menghentikan pemda itu memulai debat. "Jangan memaksakan diri, teman-temanmu sudah lelah. Kau juga, istirahatlah."
Akashi menghela napas sejenak, "Hah… baiklah Sensei."
PROK PROK PROK
"Baiklah minna. Waktunya istirahat." Komando Teppei mengistirahatkan anggotanya.
Tanpa ditunggu, Satsuki membagi minuman dan handuk secara rata. Dan dengan senang hati mereka menerimanya. Seperti orang yang hidup di padang pasir, mereka begitu gembira melihat air yang disodorkan oleh Satsuki.
"Oyamaa… sepertinya aku tidak bisa merasakan kakiku lagi, ssu." Si mata topas mulai megadu.
"Hah… hah… setan mana yang masuk ke tubuh iblis itu?" Gumam Kagami kembali berbaring di lantai.
"Kenapa aku harus merasakan ini… hah… padahal aku sudah membawa lucky item-ku hari ini, nanodayo." Sambat si penggemar OhaAsa.
BRUK
"Lapar. Momochin, makanan." Pinta Murasakibara yang menghabiskan air mineral dalam beberapa teguk. Si pemuda bertubuh besar itu mengelus perutnya tanda bahwa dia sudah lapar.
"Aku membuat lemon madu untukmu." Tawar Satsuki menyodorkan makanan buatannya sendiri.
"Lemon madu~~" Wajah Murasakibara bersinar-sinar mendengar makanan manis itu. Dengan senang hati, dia mengambil kotak makanan berwarna pink tersebut.
Tatkala, membuka wadah pink tersebut, wajah penuh pancaran kebahagiaan itu meredup. Berganti dengan raut pasi seolah melihat hantu.
"Kau bisa menghabiskannya, Mukkun." Kata Satsuki mengulas senyum. "Aku memang membuatnya untukmu."
Murasakibara langsung saja mengembalikan kotak bekal itu pada pemiliknya.
"Aku tidak mau." Murasakibara berseru bak anak kecil. "Aku akan mati jika makan racun itu setiap hari."
"Mukkun!" Satsuki ikut berseru tak terima.
"Akachin. Panggil Hinatachin ke mari." Si anak besar itu merajuk pada sang ketua klub basket. Dengan memasang wajah memelas, berharap Akashi akan mengabulkan permintaannya.
"…." Tak ada jawaban dari sang kaisar merah.
"Gara-gara Akachin, Hinatachin marah dan tidak datang lagi." Marah Murasakibara pada Akashi yang masih bungkam.
Tak hanya Akashi, mereka yang ada di sana ikut membisu. Mengindahkan segala rengekan si pecinta makanan manis dengan hening. Tak ada satupun yang bisa membalas pernyataan dari sang Center.
.
Di saat yang sama di Universitas Konoha. Seorang pemuda berambut panjang duduk melamun di sudut cafeteria universitas. Dua minuman dingin dihadapannya tidak terlalu menggugah seleranya. Kelihatan dari caranya memutar-mutar sedotan minuman kafein tersebut.
"Yo." Sapa pemuda berambut hitam legam. Pemuda tampan itu mengambil tempat di hadapan Neji. Sambil menyambar gelas berisi minuman yang sama seperti Neji, pemuda itu menatap heran pemuda dihadapannya.
"Hn." Jawab pemuda yang disapa terdengar lesu.
"Are… kau kenapa? Wajahmu cemberut seperti itu." Nijimura tampak berpikir sejenak. "Kau sedang datang bulan ya?"
PLAK
Pukulan ringan diterima Nijimura. Alhasil, mantan pemain basket itu hanya merintih pelan merasakan sakit dibagian kepala.
"Kau membuat mood ku semakin buruk, Dobe." Neji memangku dagu tak peduli erangan dari sahabatnya.
"Aish. Lalu kau ini kenapa?" Tanya Nijimura penasaran. Pasalnya, sahabatnya ini selalu berwajah datar dan sangat jarang menampakkan ekspresi lesu seperti ini.
"Kau mana paham." Jelas Neji lalu menyeruput minumannya.
"Apa ada hubungannya dengan adikmu?" Tebak Nijimura.
"Entahlah…" Neji memberi jeda, merasa ragu untuk menjelaskan, "Sepertinya… ada yang aneh dengannya."
"Dia dibully lagi? Atau dia diganggu di sekolahnya yang baru?" Tanya Nijimura bak polisi, "Apa ada masalah di sana?"
Neji menggeleng ringan, "Dia tidak bilang apapun. Dia bilang semua baik-baik saja."
"Lalu apa yang kau khawatirkan?" Nijimura menyeruput minumannya.
"Tsk. Sudah kubilang aku merasa aneh." Decak Neji mulai kesal dengan kebodohan Nijimura.
Alis Nijimura bertautan, "Apanya yang aneh? Bukankah adikmu sudah bilang semua baik-baik saja?"
Kembali sulung Hyuuga menghela napas, "Hah… Hinata itu bukan tipe gadis yang akan langsung mengatakan apa yang dia rasakan. Sejak kecil dia selalu memendam masalah untuk dirinya sendiri. Dan sampai sekarang, sifat itu tidak pernah hilang."
"Pantas saja." Sahut Nijimura, "Hei Onna, tidakkah menurutmu adikmu sudah cukup besar untuk melindungi dirinya sendiri? Sekali saja, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri."
"…." Neji diam mendengarkan.
"Karena kau pasti tahu bahwa adikmu bukanlah gadis lemah. Adikmu hanya gadis yang terlalu baik hati. Tapi sesungguhnya dia adalah sosok yang kuat." Lanjut Nijimura memberi petuah.
Neji menyunggingkan senyum miring seolah mengolok, "Heh… sejak kapan kau belajar tentang petuah hidup?"
"Ck. Kau ini menyebalkan sekali sih onna. Tidakkah kau tahu sangat jarang aku memberi petuah kepada orang lain." Geram Nijimura jengkel mendengar respon Neji.
"Oh. Haruskah aku merasa tersanjung?"
"Hei. Paling tidak beri aku ucapan terimakasih."
Neji memutar bola mata bosan, "Buang jauh-jauh harapanmu."
"Kau ini pelit sekali sih, Onna." Sindir Nijimura langsung.
"Hn." Jawab Neji tak peduli.
"Bahkan saat aku mencarikan apartemen untuk adikmu kau juga tidak berterimakasih padaku. Kau malah memukulku." Pemuda itu kembali mengingat-ingat saat dirinya mendatangi Neji untuk bertanya pasal ujian semester dan malah dia mendapatkan pukulan maut dari pemilik sabuk hitam beladiri di Konoha University.
"Kau pantas mendapatkannya, Dobe. Bukankah aku bilang untuk mencarikan apartemen yang kecil saja? Kau malah mencarikan apartemen yang mewah." Kesal Neji masih belum padam.
Nijimura menggembungkan pipi, "Hei. Aku punya alasan untuk menempatkan adikmu di situ."
"Alasan?" Tanya Neji heran. Seakan-akan sinyal bahaya berbunyi dari kelapa.
"Oi. Oi. Jangan salah sangka dulu." Dengan cepat, Nijimura memberi penjelasan atas apa yang akan membuat Neji salah paham, "Sebelumnya sepupuku tinggal di sana dan sudah membayar tagihan air dan listrik tiga bulan ke depan. Karena sepupuku pergi mendadak ke Inggris , aku berikan saja alamat apartemennya agar ditempati adikmu."
"…." Neji memandang tak percaya.
"Berhentilah menatapku seperti itu, Onna." Seru Nijimura tak tahan mendapat pandangan mengintimidasi terus-terusan.
"Hn." Neji melihat jam tangannya, "Aku harus kerja. Sampai jumpa besok, Dobe."
"Jangan memforsir dirimu, Onna. Kalau kau sakit siapa yang akan menemaniku? Kita kan best couple di sini." Seru Nijimura menghantarkan kepergian Neji dengan nada menggoda.
"Ck. Urusai, Dobe." Bentak Neji merasa dipermalukan dengan sikap sang sahabat.
Semakin lama punggung Neji semakin mengecil, dan senyum menggoda Nijimura tadi beralih menjadi senyum kecil.
"Di sana adikmu tidak sendirian, Neji. Kau tidak perlu khawatir."
.
KRIET
Lembayung senja mulai mengintip dari balik tirai. Bayang-banyang rak-rak buku di perpustakaan terus memanjang seiring tenggelamnya sang surya. Seorang gadis berambut Indigo masih setia membaca buku dan menulis beberapa hal penting di catatan.
"Sebanyak itukah tugas yang kau miliki sampai kau tidak menyadari kedatanganku, Hinata?" Suara maskulin mengalun merdu di indra pendengaran sang gadis.
Hinata terpaksa mendongak alih-alih untuk mengetahui si pemilik suara yang memanggil namanya, "…."
Melihat gadis itu hanya terdiam, Akashi menyilangkan tangan di dada lalu bersender ke kursi. "Kau masih marah padaku, ya?"
"Tidak." Sahut Hinata singkat sebelum melanjutkan kegiatannya.
Kedua pemuda-pemudi itu masih saling membisu. Si gadis yang memang lebih memfokuskan diri untuk menyelesaikan tugasnya. Sementara si pemuda memilih mengamati gadis dihadapannya.
"Hinata." Panggil Akashi.
Kembali dia menghentikan kegiatan tulis-menulisnya untuk sekedar menatap Akashi. "Apa?"
Dua iris berbeda warna itu menatap Hinata dengan serius. Akashi tampak berpikir sejenak sebelum mengeluarkan kalimat.
"Tidakkah kau merasa lelah hanya diam saja?" Akashi melirik buku-buku yang berserakan di hadapannya dengan datar.
"Melakukan kewajibanmu… terlebih memendam masalah sendiri?" Lanjut Akashi mendekatkan diri pada Hinata. "Asal kau tahu, banyak cara untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, jangan kabur lagi."
Mendengar perkataan Akashi membuat Hinata membisu. Tanpa meminta ijin pada Hinata, Akashi menepuk pelan surai indigo itu. Senyum kecil tertoreh di wajah dinginnya.
"Sampai jumpa. Hinata." Akashi pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas meninggalkan area perpustakaan.
Dalam keheningan, sang gadis menatap kepergian Akashi dengan raut datar. Raut yang berhasil menyembunyikan ratusan ekspresi dari orang-orang sekitarnya.
Murasakibara sedang menikmati maibou di taman sekolah sambil menunggu teman-temannya. Dia memakan maibou dengan lahapnya. Sudah menjadi rahasia umum, dimana sang Titan berhati anak-anak itu sangat menyukai makanan bahkan maibou-lah yang menjadi cemilan favoritnya.
"Mereka lama sekali." Ujar si pemuda sambil memakan maibou.
TAP TAP TAP
Mata sayu itu tanpa sengaja menangkap sosok gadis bertubuh mungil yang sangat dia kenal. Dalam sekejap, wajah sayu itu mengulas senyum. Ditinggalkannya maibou kesayangan di bangku taman.
"Hinatachin~~" Panggilnya berlari ke arah si gadis.
"Doumo." Balas Hinata dengan sopan.
GREP
Tanpa persiapan, si raksasa ungu menerjang tubuh mungil Hinata.
Hinata yang merasa tak nyaman dengan kelakukan Murasakibara, mencoba melepaskan pelukan dari si raksasa. "Murasakibara-san. Sesak—"
Murasakibara mengerti akan kondisi Hinata melepaskan pelukannya. "Hehe… gomenasai, Hinatachin."
"Hinatachin ayo kembali ke klub basket." Rayunya.
Hinata menghembuskan napas lelah. "Murasakibara-san, maaf. Tapi aku—"
"Aku tidak mau dengar!" Seru Murasakibara seketika menutup telinga seolah tak ingin mendengar kalimat Hinata. "Hinatachin harus kembali. Memangnya Hinatachin mau melihat aku sekarat?"
"Murasakibara-san, kau berlebihan."
"Tidak." Dia menggeleng cepat, "Hinatachin belum pernah merasakan masakan Momochin. Aku yakin umurku akan berkurang tiap harinya jika makan masakannya."
Menghela napas. "Kagami-san 'kan bisa memasak."
"Aku maunya masakan Hinatachin." Murasakibara mulai merajuk.
"Oi. Titan. Apa yang kau lakukan di sana?!" Teriak seorang laki-laki berkulit gelap dari kejauhan. Karena penasaran, pemuda berambut navy itu mendekati sang titan.
"Hyuuga." Gumam Aomine pada dirinya sendiri. Pemuda itu menatap penuh arti pada Hinata.
"Doumo, Aomine-san." Sapa Hinata mencoba bersikap sopan.
"Hn." Balas Aomine singkat untuk kemudian mengalihkan pandang ke arah sang raksasa ungu. "Kau dicari Akashi."
Murasakibara hanya menggembungkan pipi kesal, "Tidak mau."
Mendengar penolakan membuat Aomine mendecakkan lidah. "Kau mau dia membunuhmu ya?"
Murasakibara mengalihkan pandang tak peduli, "Aku tidak mau menuruti Akaschi jika dia belum bisa membuat Hinatachin kembali."
SREK
Tanpa perasaan, Aomine menarik kerah seragam Murasakibara dari belakang. "Jangan menyusahkanku, Titan."
Walau berat badan Murasakibara lebih besar dari Aomine, pemuda tan tersebut dengan mudahnya menggeret paksa sang Titan.
"Tidak. Aku ingin Hinatachin." Rengek si bayi raksasa.
"Ck. Diamlah. Dasar bayi besar." Aomine dengan kasarnya menyeret tubuh besar Murasakibara yang menggembungkan pipi sebal. Beberapa langkah menjauh dari Hinata, Aomine memilih berhenti dan melirik gadis itu.
"Oi. Hyuuga." Seru Aomine mengambil alih perhatian Hinata.
Dia membalas tatapan lurus Aomine.
"Kau yang terus tersenyum. Bukankah itu sedikit licik?" Sinis Aomine.
Hinata mengerutkan kening, "Apa maksudmu?"
Tanpa menjawab, Aomine hanya melambaikan tangan dan melanjutkan untuk menyeret Murasakibara. Meninggalkan Hinata yang bertanya-tanya apa maksud dari perkataan dari sang Ace Teiko.
.
DRRT DRRT
Merasakan getaran dari ponselnya, Hinata segera melihat layar demi mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Moshi moshi, Niisan." Sapa Hinata sesaat setelah mengangkat sambungan telepon.
"Hinata, bagaimana kabarmu dan ayah?" Tanya Neji dari seberang sana.
"Kami baik-baik saja. Besok aku akan menjenguk Tousan. Niisan mau menitipkan pesan?"
"Kalian jaga kesehatan dan…" Neji memberi jeda, "Jika kau memiliki masalah, Niisan mohon agar kau mau menceritakannya. Kalau kau tidak ingin menceritakan pada Tousan, kau bisa menceritakannya pada Niisan. Jangan memendamnya sendiri, Hinata."
"Ya. Aku tahu. Tapi aku baik-baik saja."
Helaan napas terdengar oleh Hinata, "Hinata, kau sudah besar. Niisan tidak ingin mendengar jika kau dibully di sekolahmu yang baru."
"Aku tahu, Niisan."
"Kau tidak lupa perkataanku waktu itu 'kan?"
"Umm." Hinata refleks mengangguk.
"Baiklah. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Satu hal lagi, aku tidak akan bisa menghubungimu beberapa minggu kedepan. Aku memiliki tugas menumpuk dari Kampus. Tapi kalau ada waktu luang, aku akan menghubungimu."
"Iya. Sampai jumpa, Niisan."
"Sampai jumpa, Hinata."
TUT TUT TUT
Selagi memandang layar ponsel yang sudah berubah menjadi gelap, Hinata termenung sejenak. Dia menghelakan napas lelah. Memilih membaringkan tubuh di atas kasur, gadis itu memikirkan apa yang akan dia lakukan hari ini.
"Café tutup. Tugasku juga sudah selesai. Belajar? Sudah. Mau tidur tapi masih sore." Dia menatap kosong atap apartemen-nya.
"Kosong?" Sesuatu masuk ke dalam benak Hinata. Mendadak senyum tersungging di wajahnya. "Okay… karena uangku jajanku masih sisa. Lebih baik kugunakan untuk menghias apartemen."
Beberapa saat setelah Hinata membersihkan diri dan berganti pakaian. Gadis itu mengambil dompet dan tas sebelum pergi.
"Allright, ayo berbelanja." Seru Hinata menyemangati diri.
CKLEK
"Hinata." Sebuah suara menginterupsi langkah Hinata.
"Kagami-san? Ada apa?" Hinata sedikit kaget dengan kehadiran pemuda itu di samping pintunya. Sedikit kikuk, Hinata menatap Kagami.
"A-aku..." Pemuda beralis cabang itu tergagap saat berkata.
Hinata menautkan alis, "Kau ingin mengatakan sesuatu?"
"Sebenarnya… a-aku…" Muak dengan sikap gagapnya sendiri, Kagami mengusap kasar wajahnya.
Hinata hanya diam memperhatikan.
"Bukan apa-apa. Sampai jumpa besok, Hinata."
BLAM
Kagami yang tahu-tahu menutup pintu, membuat tanda tanya besar berputar di kepala Hinata.
"Kagami-san kenapa sih?" Tak mau tahu akan ke-anehan Kagami, Hinata memutuskan melanjutkan rencana yang sudah dia susun.
Begitu sampai di Supermarket terdekat, Hinata segera mengambil keranjang belanja. Dikeluarkan selembar kertas yang tertuliskan daftar barang-barang yang akan dia beli.
Menelusuri satu per satu rak, Hinata melihat-lihat label harga dan barang yang menarik perhatiannya. Karena bagaimanapun juga, gadis itu tetap harus menyisihkan uang belanja. Berhemat adalah hal yang dia jalani selama ini.
Saat berada di bagian barang mudah pecah, perhatian Hinata memusat pada sebuah vas bunga minimalis berukiran unik. Menyebabkan sang gadis mendekat ke arah vas tersebut.
"Cantik sekali." Puji Hinata akan rupa kriya seni tiga dimensi tersebut dengan kagum. Lantas, gadis itu memasukkannya ke dalam keranjang.
Beberapa saat kemudian, keranjang milik Hinata sudah setengah penuh terisi oleh barang-barang yang dia inginkan.
"Kurasa sudah semua." Ujarnya melihat daftar yang sudah dia buat.
Berniat akan ke kasir, dia mendapati seseorang tiba-tiba merapat padanya. Sejenak dia membatu ketika merasakan tubuh seseorang yang berdempetan dengannya.
DRAP DRAP DRAP
Suara derap langkah terdengar sangat keras. Dan itu membuat sang pemuda semakin merapatkan tubuhnya pada Hinata.
"Kise-kun!" Seru gerombolan gadis ber-make-up tebal.
Suara itu terdengar berisik ketika melewati bagian rak tempat Hinata dan sang pemuda berdiri. Otot-otot Hinata `yang sempat menegang mulai rileks, setelah mendengar teriakan dari` para gadis itu.
"Tolong menjauh dariku, Kise-san." Hinata akhirnya berkata juga setelah dirinya cukup merasa risih dengan kedekaan mereka. "Kau membuatku tak nyaman."
"Hehehe… gomenne, Hinatacchi." Tawa tak berdosa disuarakannya.
Menghela napas sejenak, sang gadis memilih untuk pergi. Akan tetapi, pemuda itu tak mengijinkan
"Chotto matte." Kise merangkul lengan Hinata menolak keinginan gadis itu untuk pergi. "Kenapa Hinatacchi selalu menghindar sih?"
"…." Hinata tak menjawab, dia lebih ingin menyingkirkan rangkulan Kise dari lengannya.
"Tak akan kulepaskan kalau Hinatacchi tidak menjawab, ssu." Rengek Kise.
Hinata mencoba melepaskan rangkulan super kuat itu, "Bukankah sudah kujawab waktu itu? Aku tidak ingin berteman. Jadi lepaskan tanganku, Kise-san."
Kise menggembungkan pipi sebal. "Iie. Hampir 2 minggu Hinatacchi tidak masuk klub. Bahkan setiap saat Murasacchi selalu meminta Akasicchi agar mau masuk ke klub, ssu."
"Kenapa kalian tidak mengeluarkanku saja?" Tanya Hinata heran. Bukankah akan lebih mudah untuk mengeluarkannya? Kenapa mereka memaksa dirinya untuk bergabung ke dalam klub?
"Eh?" Kise memandang Hinata dengan tatapan bingung kemudian berganti tersenyum lebar. "Hinatacchi adalah bagaian dari kami, ssu. Jadi mana mungin kami akan mengeluarkan Hinatacchi."
"…"
"Kise-kun. Akhirnya ketemu juga." Ujar seorang gadis dari rombongan fans Kise.
Para gadis mulai mendatangi dan mengerumuni Kise.
"Gomen minna, tapi aku sedang bersama temanku, ssu. Jadi, beri kami privasi, okay?" Kise mengedipkan mata berharap fans-nya akan memberi dia ruang untuk bersama Hinata.
"TIDAK." Tolak mereka bersamaan. "Kise-kun bersama kami saja."
"Kami mau minta foto."
"Kise-kun!"
"Kise-kun!"
"Minna. Kumohon." Kise merasa kelabakan sendiri mendapati fans-fansnya yang berdesak-desakan untuk merangkul atau meminta foto bersamanya.
Dan hal itu membuat Hinata ikut terdorong sampai menabrak pinggir rak.
DUGH
Tanpa memperdulian kondisi Hinata, para fans Kise terus berdesak-desakan meminta jatah foto bareng.
"Kise-kun. Ayo foto bareng denganku."
"Hari ini Kise-kun makin tampan deh."
"I love you Kise-kun."
Hinata mulai bangkit berdiri sembari menyentuh bahunya yang terantuk rak. Barang belanjaannya jatuh. Namun untungnya, tak ada yang pecah. Meskipun begitu, tanda persimpangan tercetak jelas di dahinya.
"Dasar berisik." Seru Hinata cukup marah.
Mereka yang sedang melakukan aksi meminta foto langsung terhenti.
"Eh…"
Hinata menatap nyalang mereka, "Bisa tidak jaga kelakuan kalian?"
"H-hinatacchi…" Gagap Kise tak tahu bahwa ekspresi marah Hinata cukup menakutkan.
"Uhh… siapa sih? Nggak jelas banget." Tutur salah seorang fans.
Hinata melemparkan tatapan tajam untuk mereka, "Gara-gara kalian, belanjaanku jatuh ke lantai. Bukannya minta maaf, kalian bertanya siapa aku?"
GLEK
'H-hinatacchi marah, ssu.' Kise menjadi kikuk.
"Kise-kun. Kita pergi saja yuk." Ajak salah satu dari mereka meminta pergi.
"Iya. Lebih baik kita ke café saja." Setuju yang lain.
"Gadis ini aneh." Sahut gadis lain.
Tanpa fans Kise ketahui, pemuda itu memandang Hinata seolah meminta tolong.
Awalnya, Hinata ingin pura-pura tak melihat, tapi wajah memelas Kise membuat Hinata risih.
"Pemuda itu tetap di sini." Ujar Hinata tiba-tiba.
Mereka memandang Hinata heran. Dalam hati bertanya-tanya siapa gadis ini sampai berani memerintah mereka membiarkan Kise bersamanya.
"Dia berjanji akan menemaniku hari ini. Kalian ingin idola kalian menjadi pemuda yang ingkar janji?" Tanya Hinata spontan.
"…."
"Bukankah sebagai penggemar yang baik, kalian harus menghargai privasi idola kalian? Dia juga bagian dari masyarakat. Jadi dia juga ingin memiliki privasi seperti orang lain. Memangnya kalian ingin dia terkurung di rumah selamanya karena kalian?" Ungkap Hinata mencoba menolong Kise.
Dan siapa duga, pernyataan Hinata membuat hati fansnya melunak. Dan membenarkan perkataan Hinata.
"Gomenne, Kise-kun."
"Gomen kalau kami menganggu waktu Kise-kun."
"Kami hanya ingin menghabiskan waktu dengan Kise-kun."
Kise merasa canggung sejenak merasakan suasana ini, tapi dia abaikan. Karena dia sadar ini tidak akan terjadi dua kali. "Anoo… Minna, gomenasai. Tolong beri aku privasi hari ini. Karena jarang sekali aku bisa keluar dari kesibukanku, ssu."
Mereka—fans—mengembangka senyum ceria. "Tentu Kise-kun."
"Kami akan terus menyemangatimu."
"Aishiteru Kise-kun."
"Jaa, Minna." Akhirnya Kise mengucapkan salam perpisahan pada para fansnya.
"Jaa, Kise-kun..!"
Setelah keluar dari supermarket, mereka berdua berjalan beriringan. Kise berada di sisi kanan sedangkan Hinata di sisi kiri. Seperti aturan tak tertulis akan sopan-santun seorang laki-laki saat berjalan dengan seorang gadis.
"Arigatou, Hinatacchi." Kise mengucap banyak terimakasih, karena tanpa Hinata mungkin dia masih dikelilingi oleh fansnya seperti gula dikerubungi semut. "Jarang sekali aku bisa menikmati hari seperti ini selain di sekolah, ssu."
"Hn. Sampai jumpa, Kise-san." Tak membuang-buang waktu, Hinata langsung berpamitan.
"Eh?"
Gadis itu berjalan menuju apartemennya dengan hening. sehening malam, sampai dia dapat mendengar derap langkah yang mengikutinya sejak tadi.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Dengan wajah bodoh, Kise berdiri di samping Hinata. "Tehe… Aku kan ingin menemani Hinatacchi sesuai janjiku, ssu."
"Tidak perlu."
"Tidak mau, ssu. Aku bukan pemuda yang ingkar janji." Sekejap Kise langsung merebut kantong belanjaan Hinata, "Biar aku yang bawa. Aku 'kan seorang pria."
"…." Tanpa menolak, Hinata membiarkan Kise mambawa belanjaannya.
Akhirnya, mereka berdua berjalan bersama menelusuri jalan. Dan seperti yang Hinata duga, banyak gadis yang memandang ke arah mereka. Tentu saja hal itu karena keberadaan Kise di sampingnya.
GREP
Langkahnya terhenti saat merasakan genggaman tangan besar Kise di pergelangan tangannya.
"Hinatacchi, ada es krim." Kise menunjuk mobil es krim. "Hinatacchi ayo beli es krim, ssu."
Kise menarik tangan Hinata. Pasrah, gadis itu mengikuti kemana sang copy cat akan membawanya.
Pemuda itu memesan dua es krim. Es krim strawberry dan Es krim coklat.
"Ini." Kise menyodorkan es krim rasa coklat untuk Hinata.
"Tidak." Tolak Hinata dengan sopan.
"Sudahlah terima saja, ssu." Kise mengambil tangan Hinata dan memberikan es krim itu ke tangannya.
"Kita duduk di sana saja." Kise kembali menarik Hinata untuk duduk di bangku taman yang dia tunjuk.
Suasana sore menjelang malam cukup indah terlihat di taman ini. Mereka menikmati es krim dalam diam. Meski malam akan datang sebentar lagi, masih ada beberapa anak yang bermain di taman bersama keluarganya.
Hinata hanya memandang datar mereka.
"Hinatacchi, tahu tidak pemandangan kota Tokyo saat malam hari?" Ucap Kise memecahkan keheningan diantara mereka.
"Tidak."
"Wah… sayang sekali, ssu. Padahal pada malam hari suasana di sini sangat indah dan ramai." Ungkap Kise dengan takjup.
"…" Hinata mengerutkan alis.
"Karena aku kadang melakukan sesi pemotretan kapan saja, jadi aku tahu bagaimana suasana kota Tokyo saat malam, ssu." Kise membanggakan diri akan profesi yang digelutinya.
"Ohh..." Hinata hanya manggut-manggut.
"Hinatacchi pernah mengunjungi Tokyo tower?" Tanyanya dengan mata berbinar-binar.
"Tokyo tower…." Pandangan Hinata menerawang dua kata itu.
"Saat malam hari, dari puncak Tokyo Tower kita bisa melihat seluruh sudut kota Tokyo yang indah. Lampu-lampu di jalan dan rumah penduduk menjadi background pemandangan yang romantis, ssu."
Kise menceritakan bagaimana pengalamannya saat berkunjung ke Tokyo Tower saat malam hari dan bagaimana suasana di sana. Bak, anak kecil yang tengah bercerita mata Kise tampak berbinar-binar. Tak jarang dia menggerak-gerakkan tangan untuk menjelaskan ceritanya.
"Aku ingin mengajak Hinatacchi ke sana." Tutur Kise menatap dalam Hinata.
Hinata menatap Kise sejenak dan mengukir senyum kecil. "Kau terlalu baik, Kise-san. Tapi tidak, terimakasih."
Kise menggembungkan pipi, "Aku tidak terima penolakan. Hinatacchi tidak boleh menolak permintaanku, ssu."
"Kise-san…" Hinata berhenti makan es krimnya. "Cukup."
"…." Kise terhenyak kaget mendengar perintah Hinata.
"Aku hargai usaha kalian untuk berteman denganku." Hinata memberi jeda, "Tapi kalian tidak bisa memaksaku."
"Kami hanya ingin berteman dengan Hinatacchi, ssu."
Hinata mengangguk mengerti. "Aku tahu. Hanya saja aku tidak ingin kalian terlalu berharap."
"Kecewa itu sakit lho, Kise-san." Hinata tersenyum miring.
"…."
TAP
Hinata lalu beranjak dari bangku taman.
"Baiklah… Terimakasih untuk traktirannya, Kise-san. Lain kali akan aku ganti." Hinata berojigi sebentar alih-alih untuk berpamitan. "Sampai jumpa, Kise-san."
"Biar kuantar, ssu." Tawar Kise.
Hinata menolak dengan sopan, "Tidak perlu. Nikmati saja kebebasanmu dari waktu-waktu sibukmu."
Gadis bersurai indigo itu akhirnya melangkah pergi. Menjauhi tempat Kise yang masih duduk nyaman. Dan sebelum gadis itu melangkah keluar dari taman kota, seruan Kise mampu menghentikan langkahnya.
"HINATACCHI..!"
Hinata memiringkan kepala, berasumsi apa yang diinginkan sang idola para gadis itu. Kise mendekatkan telapak tangan di samping bibirnya. Tanda bahwa dia akan berteriak atau meneriakkan sesuatu. "KAU SUDAH TAHU BAHWA KAMI TAKKAN BISA MENDEKATIMU DENGAN BEGITU MUDAHNYA, 'KAN?"
Kise menghirup napas sebelum melanjutkan, "KARENA ITU, KAMI HARUS MEMAKSAMU. KAMI INGIN AGAR KAU MEMANDANG KAMI SEPENUHNYA."
Tak memberi waktu Hinata berkomentar, Kise langsung menyelonong pergi meninggalkan Hinata yang masih membatu di tempat.
TBC
*Bows* Gomenasai…! Seira nggak bisa menepatin janji untuk selalu update hari minggu. Awalanya sih mudah, tapi semakin hari inspirasi semakin jarang datangnya, kayak nya inspirasiku udah kaya bang toyib *pundung*
Tapi jangan khawatir, Seira akan berusaha untuk melanjutkan cerita ini sampai tamat. Jadi, mohon sabar Minna.
Untuk Reihyu dan Chibi Hina mohon sabar ya. Seira akan coba cari inspirasi dulu.
Thanks for Reviews, Likes, and Follows :
Onxy Dark Blue, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, Lizadz, Akina Yumi, Ayu493, Birubiru-chan, Hinata127, naruhina03, purebloods07, seventhplayer, sharingan12115, Shiroi Tensi, unaruhina04, Gagaganbatte, Shyoul Lava, Ranmiablue, Novita610, Wysan, Ameyukio2, Hatakerohim97, Moulucifer666, Oortaka, Irma97, Chibi Hina, Arashi, Tsuki, Yukina, Kyosuke, Hiro-kun, Sasuke dark, Naruto, Park Soah, Nanami, Yuki Asuna, Mirai, Hime, Konoha Village, Byakugan, Hyuuga Hinata, dan Hinata lover.
Don't forget to Review
Kritik dan saran akan selalu Seira terima ^^
See you next chapter guys (^-^)v
.
Seira Schiffer
