Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Naruto © Masashi Kishimoto

Nanairo no Compass © Seira Schiffer

.

Rated : T

.

Generation of Miracle x Hinata Hyuuga

.

Dapatkah kalian mendengarnya?

Suaraku yang penuh dengan airmata kesepian

.

RnR

.

.

:::: Midorima's POV ::::

.

"Shin-chan, kau mau ke mana?" Seru Kaasan yang menyembulkan kepala dari dinding dapur.

"Toserba." Jawabku sambil mengenakan sepatu santai.

"Sarapan dulu, Sin-chan." Perintahnya.

"Tidak perlu, Kaasan. Aku sarapan di luar saja, nanodayo." Tolakku beralih membenarkan penampilan. "Itterasai, Kaasan."

Sebelum menutup pintu samar-samar terdengar gerutuan dari Kaasan atas tingkahku ini. Kurasa Tousan akan menjadi pelampiasan Kaasan karena aku. Membayangkannya tanpa sadar membuatku terkekeh. Mungkin karena aku adalah anak tunggal di keluarga ini.

Terlebih lagi, karena ini akhir pekan. Mereka ingin menghabiskan waktu dengan keluarga. Mengingat aku ini anak basket. Tentunya waktuku di sekolah lebih banyak daripada di rumah. pun juga mereka. Ayahku adalah seorang dokter sekaligus pemilik dari Rumah sakit ternama di Tokyo. Midori Hospital. Sementara Ibu bekerja di perusahaan yang dirikan oleh Kakekku. Ayah dari ibuku. Hal itulah membuat rumahku setiap hari kecuali akhir pekan tampak sepi.

Yeah… Mau bagaimana lagi, hari ini aku bangun kesiangan. Karena itu aku tidak sempat menyaksikan tayangan Oha-Asa. Itulah yang membuatku rela melewaktan sarapan bersama Ayah dan Ibu. Bagaimana jika hari ini cancer berada di urutan terakhir? Terus jika aku tidak membawa lucky item, bisa saja aku akan terus kena nasib buruk. Tidak. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padaku.

Alhasil, aku harus melihat unggahan di situs Oha-Asa yang kuikuti. Memang tidak ada peringkat di situs itu. Tapi, aku bersyukur paling tidak di sana tertulis lucky item apa yang harus dibawa oleh cancer.

Gantungan kunci berbentuk rubah. Aku harus segera mendapatkannya. Kulangkahkan kaki ke arah Toserba yang sudah menjadi langgananku. Di tengah perjalanan, aku sedikit merenggangkan otot. Pagi ini aku sama sekali belum olahraga. Tak heran jika otot-ototku terasa kaku.

KLINTING

Seperti dugaan, Toserba ini selalu ramai. Bahkan dipagi hari seperti ini, tempat ini menjadi incaran beberapa orang. Mungkin karena tempat ini cukup strategis. Ditambah di sini sangat lah komplit. Semua aksesoris terdapat di sini. Pokoknya top-lah untuk ukuran toko yang cukup besar.

Tak mau membuang waktu lebih lama, kuedarkan pandangan ke seluruh penjuru rak gantungan kunci. Melihat-lihat apakah ada benda yang sedang kucari. Dan akhirnya aku melihatnya. Tepat di belakang gantungan kunci berbentuk tokoh kartun.

Baru saja akan kuambil, sebuah tangan mendahuluiku.

"Hei, aku dulu yang melihatnya, nanodayo." Seruku tak terima. Bisa-bisanya dia mendahuluiku. Aku duluan yang melihatnya. Pokonya tak akan kubiarkan lucky itemku direbut. Sebagai laki-laki aku tidak akan menyerah.

"Midorima-san?"

Tunggu. Sepertinya aku mengenal suara ini. Kutolehkan kepala untuk mellihat siapa gerangan pemilik suara merdu ini.

Tepat di hadapanku berdiri gadis berambut indigo yang menggerai rambut panjangnya. Selama ini aku hanya melihatnya berbalut seragam sekolah. Hari ini aku melihatnya mengenakan baju polos berwarna biru lengan pendek yang dipadankan dengan celana jeans selutut. Cantik sekali.

Tapi, kenapa dia ada di sini? Bodoh. Kenapa juga aku tadi meneriakinya? Sial. Pasti dia akan berpikir aku pemuda yang kasar.

Katakan sesuatu, Shin. Atau kau akan membuatnya berpikir bahwa kau itu aneh.

"A-apa yang kau lakukan di sini, nanodayo?" Astaga, apakah hanya ini yang bisa kukatakan. Suaraku juga bergetar. Rasanya aku ingin mengubur diriku sekarang.

"Tentu saja untuk membeli sesuatu. Tidak boleh?" Sudah kuduga. Pertanyaanku tadi memang aneh.

Okay Shin, berperilakulah biasa saja. Aku menarik napas panjang. "Tidak. Hanya saja, aku belum pernah melihatmu di sini, nanodayo."

"Ini memang kali pertama aku ke sini." Jelasnya sambil menggaruk pipi.

"Pantas." Sahutku singkat. Kualihkan kea rah lain, mencoba mengurasi rasa gugup yang mendera.

"Kalau begitu, Mata ashita ne, Midorima-san." Ucapnya membuatku kembali pada kenyataan.

Sedikit rasa kecewa menggelayuti hatiku ketika dia melangkah pergi. Apa yang kupikirkan? Bagaimana aku bisa kecewa? Kepalaku sedang error mungkin.

Kugelengkan kepala ringan, sebelum mencari benda yang sama seperti milik Hinata.

"Habis?" Gawat. Kenapa bisa habis? Tenang Shin, mungkin kau terlalu terburu-buru sehingga membuatmu tidak terlalu fokus. Bisa saja gantungan kunci itu terselip di tempat lain. Bukankah hal yang lumrah jika gantungan kunci tak berada di tempatnya? Ya. Pasti seperti itu.

Arrghh… masih belum ketemu juga. Aku menyerah. Aku memilih bertanya pada penjaga toko. Mungkin saja ada stok di gudang.

"Sumimasen, Baasan." Ujarku sesopan mungkin.

"Ya?" Seorang wanita berusia 40 tahun menatapku ramah. "Ada yang bisa saya bantu, anak muda?"

"Gantungan kunci rubahnya masih ada?" Aku menunjuk tempat gantungan kunci, "Di sana sudah habis."

"Wah, sayang sekali. Itu stok terakhir." Terlihat raut penyesalan yang ditunjukkannya. Sial. Kurasa nasib sial mulai menempel padaku.

"Yah, mau bagaimana lagi." Aku hanya bisa menghela napas pasrah.

"Maaf ya."

Kuanggukkan kepala sembari tersenyum kecil. Ketika keluar dari Toserba, aku memantabkan diri untuk mencari keberadaan Hinata. Harap-harap dia akan memberikan gantungan itu padaku.

Tak butuh waktu lama, aku mendapati sosok gadis berbaju biru sedang berjalan pelan diantara banyaknya orang di trotoar. Rambutnya dapat mempermudahku mencari keberadaannya.

"Hinata!" Teriakku. Itu membuatnya berhenti sejenak dan menolehkan kepala ke segala arah. Mencari siapa yang tengah memanggilnya. Dan saat itulah tatapan kami bertemu.

.

:::: Midorima's End POV ::::

.

Pemuda berambut hijau itu berlari kecil mendekati Hinata.

"Gantungan itu. tolong berikan padaku." Pinta sang pemuda.

Sang gadis hanya mengeratkan pegangannya pada plastic tempat gantungan kunci berada. "Kenapa?"

"S-soalnya…" Midorima tampak bingung mau menjelaskan bagaimana. Terlihat dari dia mengedarkan pandangan ke segala arah.

"Soalnya?" Ulang Hinata meminta Midorima untuk melanjutkan kalimatnya.

"Oha-asabilangituluckyitembintangcancerhariini." Wajah Midorima bersemu merah. Setelah mengucapkannya dalam satu tarikan napas, Hinata tampak takjub. Bibirnya sedikit terangkat. Tapi, Midorima tak melihat itu karena dia memejamkan mata. Sangat malu.

"Pfftt…" Suara tawa Hinata membuat Midorima membuka mata. Pemuda itu takjub sekaligus heran. Kenapa Hinata tertawa?

"Kau percaya dengan Oha-Asa?" Tanya Hinata setelah berhasil mengendalikan rasa lucu dari kalimat Midorima.

"Kenapa?" Sedikit nada kesal Midorima tertuang dalam ucapan.

Hinata menggosok hidungnya dengan jari telunjuk, "Gomenne. Aku baru tahu kalau kau pemuda yang menarik, Midorima-san."

Midorima mematung akan pernyataan Hinata. Wajahnya memerah. Dipalingkan wajahnya ke tempat lain. Tak ingin Hinata melihat wajahnya.

"Tapi, aku tidak bisa memberikan ini pada Midorima-san. Gomenne."

"Akan kubeli." Midorima mencoba menawar.

"Tidak bisa." Hinata menggeleng mantap.

"Akan kuberikan apapun." Midorima mendesak.

"Tidak." Hinata masih menolak.

Dilain tempat. Seorang pemuda tampan tengah berdiri kokoh di depan pintu apartemen. Kaus berwarna biru gelap menempel pas di badannya. Tak lupa celana jeans gelap sepanjang lutut. Pemuda itu tampak keren dalam balutan pakaian kasual tersebut.

TOK TOK TOK

Kembali dia mengentuk pintu apartemen. Seakan menghiraukan peraturan yang ada, dia mengetuk pintu apartemen berulang kali. Sudah cukup lama dia mengetuk pintu tapi tak ada tanggapan. Dia akan terus mengetuk pintu sampai sang pemilik membukanya.

CKLEK

Pintu apartemen itu terbuka lebar. Menampilkan sesosok pemuda yang amat sangat dia kenal. Baju seragam berwana biru malam dan wajah segarnya membuat dia berpikir bahwa sepupunnya ini akan berangkat kerja.

"Yo." Sapa Aomine ramah dan bersemangat.

Shoichi menatap pemuda dihadapannya dengan pandangan malas dan kesal. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Seulas senyum watados menghias wajah Aomine, "Hanya berkunjung."

"Pulanglah." Shoichi memutar bola mata sebelum mengunci apartemennya.

"Kau mau kerja?" Tanya Aomine mengikuti langkah kaki Shoichi.

Tanpa membalikkan bada, Soichi berkata. "Tidak. Aku mau ke bar."

"Seriusan." Tukas Aomine membuat rupa Shoichi tambah jengkel.

"Jangan ganggu aku, Daiki." Shoichi memperingatkan.

Aomine hanya menggedikkan bahu santai, "Aku hanya mau ikut ke kantormu."

"…" Shoichi merasa tak yakin dengan jawaban sang sepupu. Ditatapnya wajah Aomine dengan seksama. Apakah ada yang aneh dengan dirinya.

"Kenapa?" Tanya Aomine mendapati dirinya ditatap tajam oleh sang sepupu.

"Terserahlah. Tapi jangan mengangguku." Shoichi hanya mengusap wajah pelan, merasa sia-sia jika meladeni sepupunya. Waktunya hanya akan terbuang sia-sia. Mengingat betapa bebalnya otak Aomine.

Akhirnya dua pemuda itu menaiki mobil yang dikemudikan oleh Shoichi. Sebenarnya Aomine memiliki motor, namun akan repot jadinya jika dia menggunakan motor untuk ke kantor Soichi. Maka dari itu, dia lebih suka numpang di mobil Shoichi. Apalagi Shoichi yang mengemudi. Paling tidak dirinya bisa santai.

Selama perjalanan, tak ada yang membuka suara. Shoichi fokus pada jalan, sedangkan Aomine fokus pada kegiatan membaca majalah favoritnya.

"Hah… Bisa tidak jauhkan majalah itu dari teritoriku?" Tegur Shoichi tidak mengalihkan pandangan.

"Hn." Gumam Aomine tak menggubris perkataan Shoichi.

Tak mendapati pergerakan dari Aomine, senyum penuh kejengkelan terukir indah di bibirnya. "Oh. Begitu ya."

SET

Shoichi menginjak rem secara mendadak. Aomine sedikit kaget merasakan mobil yang ditumpanginya berhenti tiba-tiba. Pemuda berkulit gelap itu mengomel tak jelas, selagi Shoichi mengukir senyumannya untuk Aomine.

"Turun." Nada perintah sudah keluar dari bibir Shoichi di sela senyumannya.

"Apa? Nggak mau." Tolak Aomine. Pemuda itu tak mau diturunkan ditengah jalan. Bukan karena dia tak tau arah, hanya saja dia malas jika harus berjalan. Lagipula kenapa dia harus berjalan sementara tujuan mereka sama?

"Turun nggak." Shoichi masih mengulas senyumnya.

"Nggak. Apaan sih?"

"Kau pilih turun dari mobilku atau jauhkan majalah itu dari pandanganku?" Nada penuh ancaman terasa di pendengaran Aomine. Sedikit banyak rasa ngeri mendengar suara itu. Bagaimanapun juga Shoichi tidak bisa dianggap enteng saat marah. Jangan lupa bahwa motor sportnya yang lama dirusak oleh Shoichi. Itupun diakibatkan dia tidak sengaja menginjak ponsel milik sang opsir kepala. Dia tidak ingin motor sportnya kali ini jadi korban.

"Tsk." Tak ingin membuat masalah lebih lanjut, Aomine memilih menutup majalahnya dan menaruhnya di dashboard.

"Jangan taruh di sana. Kau ingin aku dibunuh Orangtuaku, hah?!" Marah Shoichi namun mulai menjalankan kembali mobilnya.

"Akan kuambil nanti, dasar cerewet." Rasa jengkel kini juga menghinggapi wajah Aomine.

"Akan kubunuh kau jika lupa." Aomine mengangguk tak niat.

"Ck. Jalankan saja mobilnya lebih cepat. Kau ingin telat?" Pandangan Aomine diarahkan ke luar jendela. Alih-alih meredakan rasa jengkel yang dirasakan.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan di kantor di akhir pekan sepert ini?" Sebuah pertanyaan meluncur dari bibir Aomine.

Shoichi terkikik geli mendengar kata-kata langka itu.

"Kenapa kau tertawa, hah?!" Rasa jengkel Aomine bertambah.

Shoichi mencoba menetralkan tawanya, "Sejak kapan kau penasaran dengan pekerjaanku?"

"Ck. Menyesal aku bertanya." Kembali dilayangkan pandangan ke luar.

Kembali tawa terdengar di dalam mobil, "Aku hanya berkunjung saja di sana. Lagipula di rumah rasanya sepi."

"Bukankah kantormu itu membosankan?" Aomine menyahut.

"Membosankan itu hidupmu, Daiki. Bukan kantorku." Cemooh Shoichi.

"Tsk." Decakan kembali keluar dari pihak Aomine.

"Lagipula ada beberapa orang yang menjenguk keluaganya di hari minggu." Tukas Shoichi menarik keingintahuan Aomine.

Pemuda berkulit gelap itu menegakkan tubuh dan menatap Shoichi dengan minat penasaran. "Benarkah?"

"Ya." Sang opsir mengangguk.

"Termasuk…. Hyuuga?" Tanya Aomine penu hati-hati.

Soichi yang memang sengaja mengumpankan perkataannya akhirnya menyeringai.

'Kena kau, Daiki.' Batin pemuda berkacamata itu.

Shoichi menatap datar Aomine dengan segala keingintahuannya, "Tentu saja. Dia pengunjung tetap. Setiap Akhir pekan dia selalu berkunjung."

"Jam berapa dia biasanya mengunjungi ayahnya?"

"Kenapa? Kau sepertinya sangat penasaran sekali tentang si Hyuuga ini?" Shoichi yang bertanya seperti itu membuat Aomine tak nyaman sendiri. Seolah-olah dia sudah tertangkap basah.

"Tidak. Aku sama sekali tidak penasaran dengannya." Aomine mengelak.

"Oh." Shoichi hanya mengangkat bahu.

Sementara Aomine memilih merutuki perkataannya, Shoichi malah tertawa keras dalam hati. Tak menyangka si gadis Hyuuga benar-benar bisa membuat sepupunya sampai seperti ini. Seorang Aomine Daiki yang selalu memprioritaskan Basket dan Mei-chan, bisa dibuat uring-uringan oleh gadis yang masih terombang-ambing dalam menetapkan keputusannya.

'Yah.. aku hanya bisa mengharpkan kebahagian untuk kalian.' Batin Shoichi kemudian memarkirkan mobilnya di tempat parkir.

"Ohayou, Imayoshi-san." Sapa seorang opsir muda saat melihat Shoichi dan Aomine memasuki kantor.

"Ohayou." Balas Shoichi ramah.

Semua orang menyapa Shoichi. Tak sedikit para perempuan terpesona akan sosok Shoichi maupun Aomine. Tak henti-henti mereka memuji fisik mereka. Apalagi wajah rupawan mereka. Wajah bak dewa Yunani yang terpahat sempurna.

"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Shoichi penarasan.

"Aku tahu kalau aku seksi, tapi mereka terlalu melototi tubuhku." Seringai Aomine sembari mengelus dagunya.

Shoichi memutar bola matanya jengah. Rasanya dia menyesal sudah menanyakan itu pada si hitam Aomine.

Mengetahui Shoichi menatapnya seperti itu, membuat emosi Aomine kembali meningkat. "Kenapa?! Iri, heh?"

Shoichi menggelengkan kepala ringan lalu meneruskan langkah, "Berteman dengan Ryouta membuatmu sedikit berpikir sepertinya."

"Apa maksudmu, hah?!" Tanya Aomine tak terima disamakan dengan model alay itu.

"Narsis." Dia menggedikkan bahu.

"Aku tidak narsis. Aku memang seksi."

"Dasar gelap."

Aomine menunjuk dirinya sendiri, "Ini tidak gelap. Tapi eksotis, inilah kulit yang dipuja-puja oleh gadis-gadis. Bilang saja kalau kau iri, dasar pucat."

CKLEK

"Seharusnya aku tadi sudah menendangmu dari mobil."

"Sayang sekali itu baru terpikir sekarang olehmu." Aomine menepuk pundak Shoichi seolah prihatin.

"Kau benar-benar ingin berhadapan dengan kematianmu ya?"

Mengabaikan ancaman Shoichi, Aomine memilih berbaring di salah satu sofa yang ada di kantor sepupunya itu.

.

TOK TOK TOK

Suara ketukan terdengar lantang dari balik pintu sebuah apartemen. Seorang pemuda yang memiliki rupa ramah dan menawan itu megetuk pintu dengan semangat. Berharap sang pemilik apartemen segera membukanya. Tak jarang panggilan yang dia serukan agar sang pemilik terbangun.

"Neji. Kau masih tidur ya?"

Beberapa kali dia menyerukan kalimat yang sama. Ketika terdengar pergerakan dari dalam apartemen, pemuda itu berhenti.

Dan benar saja, tak berama lama pintu terbuka. Menampilkan seorang pemuda berambut panjang yang baru saja bangun tidur. Terlihat jelas dari wajahnya yang belum sempat cuci muka terlebih rambutnya yang sedikit berantakan.

"Apa yang kau lakukan pagi-pagi di apartemenku?" Tanya Neji dengan suara khas orang bangun tidur.

Senyum manis hadir di wajah Nijimura. "Tentu saja mengunjungi sahabatku ini."

Neji yang mendengar pernyataan itu menatap jijik Nijimura. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa dia memiliki sahabat sekonyol Nijimura.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Nijimura yang ditatap hanya memiringkan kepala sok imut.

"Pergilah. Aku tidak menerima tamu pagi-pagi." Neji mencoba mengusirnya dengan tangan, seakan-akan sedang mengusir kucing.

Nijimura mengatupkan tangan di depan dada, "Biarkan aku masuk, Neji. Kumohon."

"Tidak. Pulang sana." Tolaknya.

"Kau tidak bisa mengusir tamumu." Nijimura mulai mengeluarkan ekspresi cemberutnya. Bukannya meluluhkan hati Neji, pemuda Hyuuga itu malah mendorong-dorong tubuh Nijimura agar segera pergi.

"Sayangnya aku bisa. Pergilah."

Tak mau menyerah, Nijimura menunjukkan jurus puppy eyes andalannya. Menurutnya, jurus ini 90% ampuh di saat-saat seperti ini.

"Nggak mempan."

Atau mungkin tidak. Ayolah. Mana mungkin pridogy Hyuuga bisa diluluhkan hanya dengan Puppy Eyes. Sia-sia.

Merasa tak kehabisan cara, Nijimura mundur satu langkah dan merapikan dirinya. Neji sempat penasaran akan apa yang dilakukan oleh Nijimura. Hingga akhirnya, dia harus menutup rapat telinganya sebelum indra pendengarnya itu rusak.

"AKU INGIN BEGINI. AKU INGIN BEGITU. INGIN INI INGIN ITU BANYAK SEKALI. SEMUA SEMUA SEMUA DAPAT DIKABULKAN. DAPAT DIKABULKAN DENGAN KANTONG AJAIB. AKU INGIN TER—"

"Oi. Hentikan jeritanmu. Kau bisa mengganggu penghuni apartemen yang lain."

"Aku tidak akan berhenti sebelum kau mengijinkanku masuk." Nijimura malah menjulurkan lidah pada Neji untuk mengejek pemuda itu. Melihat akan berapa lama pemuda Hyuuga itu bertahan dengan sifat keras kepalanya.

"AKU INGIN TERBANG BEBAS SETINGGI ANGKASA. HEI BALING-BALING BAMBU. LA LA LA. AKU SAYANG SEKALI DO—"

Menyerah, Neji memilih membungkam mulut Nijimura dengan tangannya. Sahabatnya ini memang selalu memiliki cara untuk membuatnya kesal.

"Akan kulepas jika kau tutup mulut." Desis Neji memperingatkan Nijimura. Pemuda itu hanya mengangguk berharap Neji secepatnya melepaskan tangan dari mulutnya. Lagian, dia tidak ingin kehabisan napas oleh bungkaman Neji.

Setelah terlepas, Neji kemudian kembali masuk tanpa menutup pintu. Sementara Nijimura tersenyum senang atas kemenangannya yang kesekian kali.

"Sumimasen." Dia berjalan masuk, tak lupa menutup pintu apartemen.

Baru beberapa langkah, mulut Nijimura menganga lebar. "Astaga, pemandangan macam apa ini? Apakah ini apartemen seorang bujang lapuk? Bahkan aroma ini mengingatkanku dengan aroma para jomblo."

PLAK

Neji memukul kepala Nijimura. Perkataan Nijimura yang selalu blak-blakkan tak jarang membuat Neji selalu melayangkan sebuah pukulan bahkan tendangan. Nijimura tentu tak marah, karena dia tahu Neji melakukan itu bukan karena benci. Tapi karena mereka tahu, bahwa itulah hal yang membuat mereka sedekat ini.

"Keparat. Kau ingin bertarung denganku ya?" Seperti biasa, reaksi Neji yang berlagak garang pada Niijmura mampu mengembangkan senyum manis di bibirnya.

Nijimura mengibas-ngibaskan tangan ke udara. "Ayolah Neji-chan, aku hanya prihatin saja denganmu."

"Brengsek. Pulanglah jika kau berniat mengangguku." Amarah Neji mulai memuncak.

Nijimura langsung angkat tangan tak ingin berdebat dengan Neji meskipun itu bisa jadi hiburan untuknya. Lagian, dia tidak ingin mendapat pukulan lagi dari mantan atlit kampusnya. Walau kata Neji pukulan itu hanya pukulan biasa. Tapi bagi Nijimura pukulan seorang atlit beladiri sangatlah kuat. Bahkan tak sedikit rintihan keluar dari bibirnya.

Nijimura mengikuti Neji yang duduk di ruang tamu."Hei, Neji."

"Hn." Neji membaringkan tubuhnya ke sofa dan memilih memejamkan mata.

"Aku lapar." Keluhnya.

"Hn." Sahut Neji.

Nijimura celingak-celinguk mencari makan, "Kau punya makanan?"

"Hn." Neji tak menggubris perkataan sahabatnya.

"Astaga. Bisakah kau hilangkan dua huruf itu dari kamusmu?" Nijimura mulai kesal.

"Hn." Kembali dua konsonan itu keluar dari mulut Neji.

"Neji aku lapar." Rengeknya dengan manja.

"Ck. Berisik." Neji memiringkan badan sehingga wajahnya sekarang menghadap pada sandaran sofa.

Merasa tak akan mendapat respon dari Neji, dia memilih berjalan ke dapur. Mungkin saja ada stok makanan yang tersisa di sana.

Dibukanya kulkas, membayangkan ada setumpuk makanan instan di sana atau paling tidak minuman dingin. Perutnya memang selalu minta jatah sarapan. Mengingat dirinya tidak pernah melewatkan hal itu.

Kosong.

Tak menemukan makanan di sana, Nijimura mulai menggeledah keseluruhan dapur. Mulai dari rak, meja makan atau bahkan tempat-tempat yang biasanya ada makanan. Tapi hasilnya nihil. Dapur Neji benar-benar kosong. Seolah tempat itu tak terjamah.

"Neji. Dapurmu kosong. Kau belum belanja ya?" Teriak Nijimura dari dapur dan tak mendapat sahutan dari Neji.

"Meja makanmu bahkan kosong." Nijimura kembali bersuara.

"Tsk. Berhentilah merengek. Kalau kau lapar di luar ada café yang sudah buka jam segini. Pergi sana." Neji semakin menenggelamkan wajahnya ke sandaran sofa.

Nijimura hanya memasang raut cemberut mendengar usiran Neji. "Temani aku, Neji."

"Argh. Maumu apa sih?" Geram Neji yang kemudian beralik duduk dan bersandar ke sofa. Kedatangan Nijimura memang selalu membuat emosinya melonjak naik.

Dengan wajah melas, Nijimura membujuk Neji. "Temani aku makan. Jika aku sendiri bisa-bisa aku diculik."

"Tidak ada yang akan menculikmu." Neji menggaruk kepalanya malas.

"Apa maksudmu? Aku 'kan manis dan tampan. Kalau ada gadis-gadis yang menculikku untuk dijadikan koleksi pacarnya gimana? Aku tidak bisa membayangkan itu." Dia hanya bergidik ngeri dengan pikirannya itu.

Neji kembali menatap Nijimura dengan tatapan menjijikkan. "Aku akan bersyukur dan berterimakasih pada mereka. Karena mereka bisa menjauhkanmu dariku."

"Kalau kau tidak mau menemaniku. Lalu aku harus bagaimana?"

"Terserah."

Nijimura berpikir sejenak sebelum seringai menghias wajahnya.

"Terserah ya."

Nijimura mendekati Neji dengan seringai iblis. Neji memandang aneh sahabatnya, dia merasakan firasat buruk tentang seringai itu. "Kau mau mati ya? Menjauh dariku."

BRAK BRUK BUGH

Terjadilah pergelutan dimana Nijimura menyeret tubuh Neji yang terus memberontak.

"Oi. Oi. Appa yang kau lakukan, Dobe?!" Neji terus memberontak saat Nijimura menariknya ke suatu tempat.

Sampai tubuh Neji terlempar ke lantai dingin dan sedikit basah. Tak lupa Nijimura juga melemparkan sehelai handuk pada Neji.

"Mandi yang bersih ya, Neji-chan." Tutur Nijimura sok imut sebelum menutup pintu kamar mandi.

Terdengar teriakan dan sumpah serapah yang dilontarkan Neji untuk Nijimura. Namun pemuda itu hanya terkikik geli. Benar-benar menyenangkan membuat Neji sekesal itu.

Baru ingin keluar kamar, ekor mata Nijimura tertarik dengan secarik kertas di atas kabinet di sisi ranjang Neji. Penasaran akan isi kertas itu, Nijimura meraih dan membacanya dengan seksama. Segaris senyum terukir di bibir tipisnya.

"Aku tidak ingat kapan aku bersyukur karena rasa lapar ini." Dikembalikannya secarik kertas itu ke tempatnya. "Hari ini aku ingin makan dan belanja sepuasnya."

"Neji-chan! Cepatlah! Aku ingin berkencan dan menghabiskan akhir pekanku denganmu." Nijimura berteriak keras sembari menahan tawa.

"URUSAI..!" Seru Neji dari balik pintu kamar mandi.

.

"Midorima-san. Ini hanya gantungan kunci, kau tidak perlu membayar banyak hal untuk ini."

Sudah kesekian kalinya Hinata menghela napas mendengar segala permohonan dari pemuda berambut hijau. Bahkan dia rela mengikuti kemanapun Hinata pergi. Midorima tidak akan pernah berhenti sebelum mendapatkan benda yang ada di tangan Hinata.

"Pokoknya aku menginginkan gantungan kunci itu, nanodayo." Kekeuh Midorima.

Hinata yang merasa kesal hanya menghentakkan kakinya, "Di toko yang tadi kau bisa mencari yang lain kan?"

"Tapi stok untuk gantungan kunci berbentuk rubah hanya tersisa satu. Dan itu ada di tanganmu." Jawab Midorima mengabaikan tatapan tajam Hinata.

"Memangnya tidak boleh jika bukan rubah?" Nada sebal Hinata mulai menguasai suaranya.

"Tidak boleh, nanodayo. Oha-Asa bilang gantungan kunci berbentuk rubah. Bukan yang lain, nanodayo." Midorima ikutan keras kepala.

Merasa tak ada gunanya berdebat dengan Midorima, Hinata memijat pangkal hidungnya dengan pelan. "Midorima-san, sehari tak membawa Lucky item tak akan membuatmu sengsara."

"Tidak. Nasib buruk akan mengikutiku jika aku tak membawa lucky item hari ini, nanodayo." Hinata menghembuskan napas panjang.

"Midorima-san, kau boleh saja percaya pada Oha-Asa. Tapi jangan sampai hal yang kau percayai menghancurkan hidupmu." Nasehatnya.

Midorima mulai keras kepala, "Oha-Asa tidak akan menjerumuskanku, nanodayo."

"Sulit sekali bicara denganmu, Midori—"

"Oi, Suigetsu. Apakah kau mengenal tempat ini?"

DEG

Hinata yang ingin kembali menasehati Midorima tiba-tiba membatu. Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi. Tak hanya itu, keringat dingin pun mulai keluar. Sementara Midorima hanya mengerutkan alis. Merasa heran sekaligus khawatir.

Tak jauh dari mereka berdua, tiga orang berseragam high school sedang berjalan santai. Satu-satunya gadis diantara mereka mengedarkan mata mengamati suasana pagi di Tokyo.

"Tentu saja. Orang tuaku sering mengajakku ke sini." Pemuda yang dipanggil Suigetsu menanggapi pertanyaan sang gadis dengan bangga.

"Jika kita sampai tersesat, aku akan menghajarmu." Ancam pemuda berambut jingga.

Suigetsu menggerakkan telapak tangan ke atas dan ke bawah, "Tidak akan tersesat. Tenang saja, Jugo."

"Lalu di mana tempat yang kau bilang menarik itu?" Si gadis bergelayut manja di lengan Suigetsu.

"Tenang saja, Karin sayang. Mall itu tak jauh dari sini." Ujar Suigetsu sambil mengelus lengan Karin.

"Baguslah. Aku ingin belanja sebanyak-banyaknya. Akan kubeli baju-baju yang tak ada di Konoha."

"Tenang saja, Sayang. Aku sudah membawa kartu kredit ayahku. Jadi kita bisa belanja sepuas mungkin."

Terdengar suara cekikikan dari mereka.

Ingin rasanya Hinata berlari sejauh-jauhnya dari sana. Namun kakinya sama sekali tak bisa digerakkan. Hanya matanya yang menunjukkan betapa takutnya dia. Tatapannya tak fokus. Bahkan, tangannya mulai bergetar.

"Hinata… Hinata…" Midorima melambaikan tangan di depan Hinata berharap eksistensinya disadari Hinata.

Dan beruntungnya hal itu membuat Hinata tersadar dari lamunan. Midorima sendiri merasa khawatir akan kediaman Hinata beberapa saat tadi. Raut pucat Hinata menumbuhkan rasa khawatir dalam dirinya.

"Kau kenapa? Wajahmu pucat." Midorima menatap wajah ayu Hinata. Gadis itu melihat jelas raut khawatir di wajah si Shooter terbaik di Teiko.

GREB

Tanpa di duga, Hinata menggenggam erat tangan Midorima yang masih berada mengambang di depan wajahnya. Tatapannya masih tak fokus.

"A-ano… J-jika Midorima mau gantungan kunci ini, k-kumohon… kumohon bawa aku pergi sejauh mungkin dari sini."

Dia dapat merasakan tangan gemetar Hinata saat tangan mereka saling terpaut.

"Hinata?"

"K-kumohon." Hinata menunduk dengan bahu bergetar.

"Kenapa?" Midorima masih belum mengetahui apa penyebab ketakutan Hinata.

"Bawa aku pergi. Cepatlah." Desak Hinata.

Tak ingin membuang waktu apalagi membuat Hinata tambah ketakutan, dia berjalan cepat dengan tangan yang menggenggam erat tangan gadis itu seiring langkah kakinya. Dia berharap genggamannya mampu membuat rasa takut Hinata paling tidak akan berkurang.

Tak berapa lama, mereka berada di depan pintu masuk sebuah restoran cepat saji.

"M-midorima-san. Ano…"

"Aku belum makan, nanodayo."

Hinata mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku pamit. Sebelumnya terimakasih atas bantuannya."

"Jangan pergi." Midorima berdehem, "Maksudku karena kita sudah di sini kenapa kita tidak makan sekalian, nanodayo? Lagipula sepertinya kau juga belum makan 'kan?"

Gadis itu kembali mengangguk membenarkan perkataannya.

"Ayo masuk. Kutraktir." Tangan mereka yang masih bertautan mempermudah Midorima menarik gadis itu ke dalam Maji Burger.

Midorima menunjuk tempat kosong untuk mereka duduki. Sementara Hinata berjalan ke tempat itu, Midorima berinisiatif memesan makanan.

Beberapa saat kemudian, pemuda berambut hijau membawa dua nampan dengan makanan di atasnya.

Setelah berterimakasih untuk makanannya, Hinata kembali bungkam. Sedangkan Midorima sibuk dengan pemikirannya sendiri..

"Ehem." Midorima berdehem mencoba menarik atensi Hinata.

"Bukannya mau ikut campur, tapi… aku tadi melihat anak-anak berseragam Konoha."

Tubuh Hinata menegang mendengar kalimat pemuda itu.

"Bukankah itu sekolahmu dulu? Sebelum pindah ke Teiko, nanodayo?"

Hinata mengangguk lemah.

"Kenapa kau malah melarikan diri?"

"Etto…" Hinata mengalihkan pandang ke burgernya, "Aku tidak ingin mereka melihatku yang sedang berantakan. Jadi, begitulah."

Pemuda itu menyadari gelagat aneh pada temannya, tapi dia hanya diam. Membiarkan agar Hinata sendiri yang mengatakannya.

"Kau tidak berantakan. Kau masih terlihat cantik, nanodayo." Midorima membenarkan letak kacamatanya, "B-bukan berarti aku memujimu."

Hinata tersenyum. Bahunya sedikit lebih rilex. "Kau benar-benar tsundere."

"Tsundere janai yo."

"Tsundere."

"Iie."

"Tsundere."

"Iie."

"Iie."

"Tsundere."

Midorima menutup mulutnya, di sisi lain Hinata tersenyum puas.

"Ara… ara… maaf mempermainkanmu, Midorima-san. Kau benar-benar lucu."

Midorima masih bersemu sambil memakan burger miliknya alih-alih menyembunyikan rona merah dari penglihatan Hinata.

"Kau… tinggal di dekat sini ya?" Midorima membuka percakapan.

Dia mengangguk, "Umm… jaraknya cukup dekat dengan sekolah."

"Dengan orangtuamu?"

"Tidak. Sendiri."

"Kau tidak takut? Kau kan seorang gadis." Kembali ia membenarkan letak kacamatanya, "B-bukan berarti aku peduli."

Hinata mengulas senyum. "Tidak ada yang perlu ditakutkan, Midorima-san."

"Kau memanggil ayahku, ya?"

"Heh?"

Pemuda itu melayangkan tatapan dalam, "Panggil nama depanku. Jika kau berkunjung ke rumahku dan kau memanggil margaku, keluargaku akan bingung."

"Eh?"

Sambil mengetukkan telunjuk ke meja, Midorima kembali menjelaskan. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Memangnya salah jika suatu hari aku mengajakmu sebagai… temanku untuk berkunjung ke rumahku?"

"Walaupun aku tidak memaksa sih." Tambahnya.

Entah kenapa hati Hinata sedikit menghangat mendengar ajakan tersebut, "Haik. Shintarou-kun."

"Begitu lebih baik. B-bukan berarti aku menginginkannya." Pemuda itu kembali membenarkan kacamata yang Hinata sadari tidak bergerak se-mili pun.

"Shintarou-kun, kemarin Kise-san mengatakan bahwa—"

"Itu keputusan si kuning idiot itu sendiri." Potongnya. Bersandar pada punggung kursi.

"Aku tahu. Tapi… aku masih heran. Kenapa kalian tidak memilih mengganti posisiku?" Pandangan Hinata dilemparkan ke luar.

"Memang seharusnya kami mengganti posisimu. Untuk posisi manager basket yang banyak sekali diinginkan gadis-gadis di sekolah, kau dengan mudahnya menginginkan keluar."

Midorima menyesap minuman berkarbonasi miliknya, "Kau hanya masuk sehari setelah penerimaanmu beberapa minggu yang lalu. kau menghindari kami seolah kami adalah virus. Dan wajar kalau kami akan sakit hati atas perlakuanmu."

Hinata menunduk merasa bersalah. "Lantas—"

"Tapi… benar perkataan Akashi."

Hinata mengerutkan kening. Apa yang dikatakan si iblis merah itu?

"Kami adalah sekumpulan orang idiot yang beruntungnya memiliki kemampuan hebat dalam basket. Dan itulah… kenapa kami masih saja berharap kau masuk ke dalam klub." Kini tatapan mereka bertemu.

"Shin—"

"Gantungan itu untukmu saja." Midorima beranjak sembari membawa minumannya, "Aku sudah mendapatkan lucky itemku hari ini."

"…"

"Sampai jumpa, Hinata." Midorima mengukir senyum kecil tepat sebelum meninggalkan Hinata yang sedang termenung.

"…."

Sadar akan lamunannya, gadis itu melanjutkan kegiatan makannya. Baru setelah itu dia memanggil seorang pelayan.

"Sumimasen."

"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Dengan sopan sang pelayan datang memenuhi panggilan pelanggan.

"Tolong 2 bento paket 3 dibungkus."

"Bento paket tiga dibungkus. Mohon ditunggu, Nona." Ulang sang pelayan. Anggukan dari Hinata membiarkan sang pelayan mulai menyiapkan permintaan dari sang pelanggan.

Tak berapa lama pesanan Hinata datang. Terbungkus rapi di dalam sebuah kresek berwarna putih dengan logo tempat itu.

Sejujurnya Hinata sedikit ragu membeli makanan itu untuk Ayahnya. Mengingat Hiashi jarang sekali menyentuh makanan selain buatannya. Kepala keluarga itu lebih suka memakan masakan Hinata daripada masakan luar. Meskipun jika itu restoran bintang lima sekalipun.

"Wah wah wah… Kejutan apa ini?"

Sebuah suara berhasil menyadarkan renungan Hinata. Suara familiar di telinganya sukses membuat jantungnya bekerja 10 kali lebih cepat. Dengan memberanikan diri, gadis bermata amethyst itu membalikkan badan.

"Kita bertemu lagi, Hyuuga." Seringai Karin terlihat jelas di mata Hinata.

"K-karin."

.

"Daiki." Panggil Shoichi tanpa mengalihkan pandangan dari berkas-berkas penting di genggamannya.

"Hn?" Sahut Aomine tak berniat.

"Berhenti memainkan tirai jendela." Tegur Shoichi sedikit risih mendapati kelakuan aneh sang sepupu.

Tangan Aomine dengan senantiasa memainkan tali gorden. Membuka lalu menutupnya. Terus seperti itu. "Kenapa?"

Menarik napas panjang, Shoichi mencoba mengontrol emosinya. "Kau membuat orang-orang melihat ke sini."

"Lalu?" Kembali mendengar nada tak mau tahu dari Aomine membuat dirinya tak lagi bisa menahan emosi.

BRAK

Aomine terlonjak mendengar gebrakan keras dari belakang tubuhnya. Inginnya Aomine mengutuk Shoichi karena hampir membuatnya terkena serangan jantung. Saangnya, itu keputusan yang salah. Aomine malah mendapati Shoichi tengah menatapnya dengan tajam. Tatapan yang membuat dirinya merinding disko.

"Keluar!" Geraman keluar dari bibir Shoichi.

"Kenapa kau marah?" Aomine terlihat sedikit bingung dan takut melihatnya.

Pemuda yang menyandang pangkat opsir kepala itu sedikit merilekskan bahunya. Dengan emosi yang hampir mencapai ubun-ubunnya namun bisa ditahan, dia sedikit berdesis. Berharap sepupunya yang kolot itu tak memperparah emosinya. "Keluar dari sini, Aomine Daiki."

"Nggak!"

Putus sudah tali kesabaran Shoichi. Dengan ulasan senyum kecil, dia mengambil beberapa buku di meja. Selanjutnya buku itu dilemparkan ke tubuh Aomine yang sedang duduk malas di sofa.

BUGH BUGH BUGH

Segala macam buku setebal kamus menghantam tubuh Aomine bertubi-tubi. Sang pelaku pelemparan masih memasang senyum manis. Sementara si korban terus menghindar walau tak berhasil. Lagipula, mana bisa dia menghindari lemparan dari seorang Shoichi Imayoshi. Sang sniper terbaik se-Jepang.

"Tsk. Iya. Iya aku keluar." Aomine menyerah. Dia tidak memiliki kesempatan menang.

Shoichi yang mendengar itu menyandarkan punggung ke kursi. Sebelum Aomine lenyap dari balik pintu, dia kembali mengeluarkan kalimat. "Rapikan buku-buku tadi ke meja."

"Apa? Nggak mau." Tolak Aomine mentah-mentah. Gila apa. Siapa yang melempar. Siapa yang harus merapikan.

Mendapati kalimat tolakan, Shoichi kembali melayangkan tatapan membunuuh.

"Iya iya. Dasar iblis." Alhasil, Aomine mau tidak mau mengambil buku-buku yang tercecer di lantai. Kemudian meletakkannya di meja kerja Shoichi. Tentunya sambil menggerutu tak jelas.

Baru, dia diperbolehkan—diusir—sepupunya untuk keluar dari ruangannya

Saat itu juga banyak orang-orang melihat kasihan padanya. Karena mereka tadi mendengar suara berdebam berturut-turut di dalam ruangan sang opsir kepala. Sudah dipastikan bahwa pemuda berambut navy itulah korban dari sang iblis bermata sipit.

"Apa lihat-lihat?!" Bentak Aomine tak suka dilihat seperti itu.

Akibatnya, mereka kembali ke kegiatan semula. Tak lagi berani menatap Aomine. Walau sesekali mereka melirik pemuda berkulit gelap tersebut. Sang obyek hanya berlalu begitu saja meninggalkan kantor polisi.

.

Suigetsu mendekati Hinata. Tentunya dengan seringai iblis. "Kau tahu gara-gara Neji aku harus dirawat di rumah sakit selama seminggu."

"Dan karenamu kami harus membersihkan toilet seminggu penuh. Hanya karena mereka kehilangan asset mereka yang berharga." Imbuh Karin menambah level dendam mereka pada sang gadis Hyuuga.

Meyakinkan diri bahwa dia akan baik-baik saja, Hinata menatap lurus pada mereka. "Kalian memang pantas mendapatkannya."

"Apa?! Dasar jalang!" Karin murka. Awalnya dia kaget mendapati Hinata yang berani menjawab perkataanya.

Tanpa mengurangi tatapan tajamnya, Hinata berkata dengan datar. "Bercerminlah, Karin. Siapa yang jalang sebenarnya di sini."

PLAK

Satu tamparan melayang ke pipi mulus Hinata. Tidak siap dengan serangan dadakan itu, Hinata sedikit oleng. Kepalanya mulai pening. Tamparan Karin tidak main-main kerasnya.

"Itu masih belum cukup untuk meredakan ama—" Belum selesai mengumpat. Karin mendapati sebuah tangan yang mengarah padanya.

PLAK

Juugo, Suigetsu bahkan Karin terbelalak. Tak percaya akan apa yang baru saja mereka lihat. Hinata Hyuuga yang mereka kenal sebagai gadis pemalu, dan sangat baik hati. Bahkan mereka yakin Hinata tak berani membunuh seekor semut, hari ini dia melayangkan tamparan balasan untuk Karin.

"Berani sekali tangan kotormu menyentuhku, Hyuuga!" Teriak Karin tak terima. Urat-urat kemarahan terlihat jelas di leher dan keningnya.

"Kau mulai berani ya, Hinata." Desis Suigetsu. Niatnya akan mukul Hinata, Juugo malah menahan tangan itu.

"Suigetsu, jangan memicu masalah." Juugo memperingati.

"Jugo, kau sebenarnya mendukung siapa di sini, hah?!" Suigetsu menyentakkan tangannya agar lepas dari genggaman sahabatnya berambut jingga itu.

Jugo hanya menggedikkan bahu tak menjawab. Dia memang tidak pernah suka perkelahian. Walaupun begitu, Juugo tetap harus diwaspadai. Mengingat dia juga jeblosan dari klub judo.

"Brengsek! Aku ingin sekali menghancurkan wajahmu atas apa yang kakakmu perbuat padaku." Geram Suigetsu mengepalkan tangan sampai otot berwarna hijau tercetak jelas di kulit pucatnya.

Tanpa rasa takut, Hinata menatap tak suka pada si gigi runcing. "Suigetsu, kau ini hanyalah sampah masyarakat. Kau memang pantas mendapatkannya setalah apa yang coba kau lakukan padaku."

"Tsk. Berani sekali kau memfitnah pacarku dasar jalang." Karin mencoba menampar Hinata. Tapi gadis Hyuuga itu berhasil menahannya. Lalu dihentakkan tangan itu sambil menatap nyalang ke arah Karin.

"Jangan lupa aku seperti ini karena siapa. Lagipula aku sudah muak dengan sikapmu, Karin." Tegas Hinata.

"A-apa?!"

Tak percaya apa yang di dengarnya, Karin serta merta mendorong tubuh Hinata sampai tubuh itu terjerembab ke tanah.

Suigetsu mengulas seringai, "Karin, sebaiknya kita bersenang-senang dengannya."

Karin ikut menyeringai, "Kau benar, sayang. Kita bisa melukis sesuatu di kulitnya yang mulus dengan kukuku."

Juugo yang sedari tadi menjadi pengamat keadaan, sedikit risih mendapat beberapa orang mulai berkerumun melihat mereka. Bahkan, dia dapat merasakan ada seorang yang sedang melayangkan tatapan membunuh pada mereka. Aura yang dipancarkan orang itu mampu membuat bulu kuduknya meremang.

"Suigetsu, Karin. Sebaiknya kita pergi." Jugo mulai bersuara.

"Jika kau tidak ingin bergabung, jangan mengganggu kesenangan kami, Jugo." Suigetsu melemparkan desisan yang tentu diabaikan oleh Juugo. Karena pemuda itu masih mencari 'orang' yang membuatnya mengaktifkan kewaspadaannya.

GREB

Tangan Karin mencengkeram rambutnya. Sontak, Hinata memekik kesakitan. "Lepas. Apa lagi yang akan kalian lakukan, hah?!"

"Bermain-main dengan wajah cantikmu, sayang."

Karin mendekatkan kuku runcingnya ke wajah Hinata. Pemilik surai indigo itu mencoba menahan tangan Karin agar tak menyentuh wajahnya. Sebisa mungkin menghindari apa yang ingin mereka lakukan padanya.

DUGH DUGH

Tanpa diduga, dua botol kaleng minuman melayang pas mengenai kepala Karin dan Suigetsu. Akibatnya, Karin melonggarkan jambakannya di rambut Hinata. Membuat gadis itu menjauh dari ketiga mantan temannya. Meski dia harus menyeret tubuhnya. Kepalanya masih pening gara-gara tindakan Karin pada rambut indigonya.

"Astaga… apa kalian sedang keroyokan? Menjijikan sekali cara kalian." Cerca seorang pemuda. Juugo meningkatkan kewaspadaannya. Pasalnya, aura mengerikan itu bersalah dari pemuda ini.

"Siapa kau?" Tanya Juugo penasaran.

Pemuda itu menarik salah satu ujung bibirnya. "Pertanyaan klasik."

"A-aomine-san." Lirih Hinata menatap sang pemuda berkulit tan setelah pemuda itu berdiri menjulang tinggi di sampingnya.

"Tidakkah kalian malu mengeroyok seorang gadis?" Aomine menatap tajam mereka, "Bangunlah Hinata."

Tangan kokoh itu terulur di hadapan Hinata. Dengan senang hati, Hinata meraihnya. Tanpa kesusahan, Aomine menarik Hinata agar gadis itu mampu berdiri dengan kedua kakinya sendiri.

"Bangsat..! Berani sekali kau melemparku dengan kaleng soda." Merasa tak terima, Suigetsu mengembalikan kaleng soda pada Aomine dengan cara yang sama. Menyadari ada bahaya, pemuda berbadan atletis itu menarik tubuh Hinata ke belakang. Sehingga dia membuat drinya menjadi tameng untuk Hinata.

DUGH

Kaleng itu terlempar ke pelipis Aomine. Guratan terlihat di pelipisnya. Tak ada darah memang, tapi bukan berarti tidak sakit. Lihat saja, wajah Aomine sudah merah. Amarahnya sudah sampai ubun-ubun.

"Keparat...! Kau mau mati, hah?!" Memang dasarnya Aomine adalah pemuda yang keras kepala. Tanpa menunggu, dia melayangkan bogem untuk Suigetsu. Tak hanya sekali. Berkali-kali sang ace Teiko menghantamkan pukulan ke wajah Suigetsu.

Suigetsu juga membalas setiap pukulan Aomine. Tapi memang Aomine yang lebih jago darinya. Dari 10 pukulan, Suigetsu hanya bisa mengenai Aomine sebanyaknya sekali.

BUGH BUGH BUGH

Sampai akhirnya, Suigetsu mengalah. Wajahnya sudah babak belur. Karin yang melihat hanya bisa ketakutan dan menahan amarah. Sementara Jugo hanya berwajah datar sambil mengingat-ingat apakah dia pernah bertemu dengan pemuda berkulit gelap tersebut.

"Cukup. Cukup. Hentikan." Erang Suigetsu tak ingin melanjutkan. Bisa-bisa wajahnya harus dioperasi. Kekuatan Aomine tak seharusnya dianggap remeh.

"Sekarang apa, hah?! Kau merengek? SAMPAH!" Niat Aomine untuk menendang Suigetsu batal karena Jugo dengan cepat mencengkeram kaki Aomine. Dan sekali hentakan Aomine melepaskan kakinya dari tangan Juugo.

"Aomine Daiki. Maaf jika kami menganggu harimu." Ucap Juugo menampilkan raut datar sembari membantu memapah Suigetsu.

"Sudah kubilang. Jangan membuat masalah 'kan? Ayo pergi." Perintah Juugo sedikit meringis melihat hasil karya Aomine. Pemuda dari keluarga Aomine memang mengerikan seperti monster.

"Jika kalian menujukkan wajah di Tokyo lagi. Akan kubunuh kalian." Ancam Aomine yang lebih seperti geraman. Dia benar-benar tak suka melihat wajah mereka lagi.

Setelah mereka tak lagi terlihat, Aomine berbalik menatap intens ke Hinata.

"Tidak ada kata terima kasih?" Aomine ternyata menunggu Ucapan terima kasih dari bibir Hinata.

Hinata sendiri sebenarnya cukup terkejut akan tindakan pemuda itu. Pertengkaran tak seimbang tadi terasa sangat mengerikan. Dia tak akan menyangkal jika dia tadi sempat ketakutan terhadap Aomine. Dan anehnya, saat bersamaan dia merasa nyaman dan merasa dilindungi.

Yeah. Tentu saja dia tak akan mengatakan itu. Bisa besar kepala pemuda ini.

"Baka."

Seketika itu Hinata berlenggang pergi. Meninggalkan Aomine yang kembali bersungut kesal. "Heh? Apa katamu?"

"Baka." Ulang Hinata dengan suara sedikit keras.

"A-apa?! Heh… aku baru saja menyelamatkanmu. Dan kau malah memakiku?!"

Aomine mendekati Hinata sambil menghentakkan kaki kesal. Raut mukanya ditekuk sedemikian rupa membuat wajahnya tambah sangar.

"Arigatou ne, Aomine-san." Tukas Hinata berbalik menghadap Aomine sembari membungkuk sedikit. Aomine sempat salah tingkah melihat tindakan Hinata, sebelum gadis itu kembali membuatnya kesal. "Jaa. Aomine-san."

"Tsk. Gadis ini." Dia mengacak rambut kesal. Untung saja Hinata perempuan, kalau tidak sudah dia pukul dari tadi. Tunggu. Bukankah dia sudah melempar kepala perempuan berambut merah tadi dengan kaleng soda? Memangnya dia bukan perempuan? Lalu kenapa dengan Hinata dia tidak bisa?

"Otakku rusak sepertinya." Gumam Aomine menggelengkan kepala menyadari pemikirannya sendiri.

Gadis bersurai indigo itu berhenti berjalan. Dia menoleh mendapati Aomine ikut berhenti. "Jangan mengikutiku."

"Aku tidak mengikutimu." Elak Aomine. Hinata mendengus dan kembali melangkah. Begitupun dengan Aomine.

Pemuda itu berada satu meter di belakang Hinata. Setiap pola tingkah Hinata bisa dia perhatikan dengan jeli dari sudut pandangnya. Ketika gadis itu berhenti, dia berhenti. Ketika dia berjalan lambat, ia juga ikut. Bahkan saat Hinata berlari kecil, Aomine cukup melangkahkan kaki lebarnya. Karena bagaimanapun juga, langkah Aomine yang lebar bisa mengimbangi lari Hinata.

Jangan lupa kenyataan bahwa dia adalah seorang atlet basket.

"Apa?" Aomine tak bisa menyembunyikan seringainya melihat wajah kesal Hinata. Gadis itu selalu melemparkan tatapan galak karena Aomine terus mengikutinya.

Mengabaikan keberadaan Aomine di belakangnya, Hinata sedikit mempercepat langkah saat melihat kantor polisi di depan mata.

"Kau akan menemui ayahmu?" Ujar Aomine saat mereka sudah berada di ambang pintu bangunan polisi.

"Dari mana kau tahu?" Hinata mengerutkan kening merasa heran atas penyataan Aomine. Mengingat tak satupun orang yang dia beritahu tentang ini.

Menggedikan bahu acuh, Aomine lantas menarik lengan Hinata. Dia sudah muak berjalan di belakang gadis itu. Sekali-kali berjalan berdampingan bukan masalah 'kan?

"Ayo masuk." Ajak Aomine masih mencengkeram pergelangan tangan Hinata.

Tarikan erat namun tak menyakitkan itu meyentak diri Hinata. Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat. Bagian yang digenggam oleh Aomine terasa hangat dan menyalurkan aliran listrik ke tubuhnya. Perasaan aneh yang baru dialami olehnya. Tatapannya masih memaku pada genggaman itu. Sampai sebuah suara menariknya dari lamunan.

"Kau belum pergi juga dari sini, Dim?" Shoichi melipat tangan di depan dada ketika melihat sepupunya sudah di depan mata.

"Ck. Cerewet." Aomine Mendengus tak suka. Shoichi selalu bisa menganggu kesenangannya.

"Hinata?" Alisnya sedikit tertaut melihat sosok Hinata di samping sepupunya. Sekejap raut itu hilang berganti seringai menggoda saat matanya melihat Aomine berani menggenggam tangan Hinata. "Jadi kau ya gadis yang bisa membuat si gelap ini uring-uringan?"

"Aku?" Hinata mengerutkan kening.

Geram dengan pernyataan Shoichi, Aomine lantas menendang tulang keringnya. Mengakibatkan sang opsir mengeluh sakit. Shoichi menatap tajam Aomine dan direspon gedikkan bahu tak peduli. Tak menunggu sumpah serapah yang akan dilontarkan Shoichi, Aomine kembali menarik tangan Hinata. Sementara gadis itu menggumamkan kata maaf pada Shoichi walaupun bukan dia yang melakukan kesalahan.

Shoichi yang sadar mereka menghilang di bilik tamu kunjungan, dia memilih melangkah masuk ke dalam ruangannya sebelum dia mengamuk atau mungkin akan menembak kepala Aomine.

Di sisi lain, setelah meminta ijin pada opsir yang bertugas, Hinata duduk menunggu kedatangan Hiashi. Suara gesekan kursi terdengar di telinga Hinata. Matanya mendapati Aomine duduk di sampingnya.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Hinata menatap aneh Aomine. Raut watados yang didapatinya.

"Bertemu ayahmu, tentu saja." Jawab Aomine membuat persimpangan di dahi Hinata. Pemuda ini bisa saja membuat emosinya melonjak. Dan apa-apaan itu? Bertemu ayahnya? SKSD banget sih, batin Hinata geram.

"Hinata." Panggil Hiashi menghilangkan rasa kesal yang sudah akan meledak karena sikap Aomine.

Senyum manis tertera di wajah Hinata. Dia mulai beranjak hanya untuk memeluk sang ayah. "Tousan."

"Ehem…" Aomine meminta perhatian. Merasa djabaikan saat ayah dan anak itu saling melepas rindu. Sedikit tak enak harus menginterupsi kegiatan mereka. Tapi hei, dia ke sini bukan untuk jadi penonton.

Hiashi menyadari adanya orang asing di penglihatannya. Sejenak dia menatap Aomine dan Hinata bergantian. Hingga akhirnya wajah penasarannya ditunjukkan untuk sang anak. Meminta penjelasan.

"Siapa dia, Hinata?"

Belum sempat menjawab. Aomine berdiri dan mengulurkan tangan, "Saya Aomine Daiki. Teman Hinata."

Hiashi mengamati Aomine sebentar sebelum membalas jabatan tangan pemuda berkulit tan itu. Bahkan setelah tautan tangan mereka lepas, Hiashi masih menatap curiga dan penasaran pada Aomine.

"Benar dia temanmu, Hinata?" Tanya Hiashi kembali minta keterangan.

Hinata mengangguk sekilas, "Teman satu sekolah. Kami beda kelas."

Hiashi mengangguk paham. Akhirnya mereka duduk berhadapan. Hiashi duduk sendiri berhadapan dengan Aomine dan Hinata yang duduk bersebelahan.

Melihat sebuah kresek berlogo restoran cepat saji yang terkenal, kerutan Hiashi kembali terlihat. Seakan menatap aneh makanan dihadapannya.

"Kau tidak memasak ya?" Tanya Hiashi akhirnya membuat Hinata salah tingkah.

Senyum bersalah menghias wajah Hinata. "Ano… Hinata lupa. Soalnya kemarin Hinata kemalaman bergadang."

Hiashi menggenggam tangan Hinata, "Jangan memforsir dirimu, Hinata. Kau juga perlu menjaga kesehatan."

"Iya."

Seperti dalam kunjungan-kunjungan sebelumnya, Hiashi bertanya banyak hal pada Hinata seputar kegiatan sekolahnya. Dan tak jarang memberi beberapa nasehat. Sementara Aomine mengamati interaksi ayah anak itu dengan seksama. Sedikit bosan jika hanya mendengarkan percakapan mereka. Jadi, dia menyibukkan diri dengan mengetuk-ngetukkan jari pada meja.

"Aomine-san." Panggil Hiashi tiba-tiba.

"Y-ya?" Aomine sedikit gelagapan menyahut panggilan Hiashi. Ditolehkan sedikit matanya dan melihat Hinata yang melihat heran padanya. Mengacuhkan tatapannya, Aomine beralih memfokuskan diri pada Hiashi. Dia harus membangun pribadi yang bagus dihadapan Hiashi.

"Bukankah kau adalah anak dari Ryuga Aomine?" Tanya Hiashi setelah mengingat sesuatu.

"Haik, Hyuuga-san." Aomine membenarkan.

"Untuk anak seorang pemilik Aomine Inc. yang bergelut di bidang pertahanan Negara, apakah kau suka berkelahi?" Pertanyaan Hiashi seolah dirinya adalah penjahat yang sedang diinterogasi.

"Berkelahi? Tidak. Saya tidak pernah berkelahi." Aomine menggelengkan kepala secara spontan saat mendengar pertanyaan itu.

"Lalu itu apa?" Hiashi menunjuk luka di pelipis Aomine dengan matanya.

Tangan kekar itu reflek menyentuh luka di pelipisnya. Sedikit lebam memang tapi dia tak menyangka penglihatan Hiashi bisa setajam itu. "A-ano… ini tadi terbentur buku."

"Buku?" Salah satu alis Hiashi terangkat. Meragukan kalimat Aomine.

"Ya. Shoichi yang melempariku. Dan kemudian diperparah oleh anak Anda, Hyuuga-san." Dengan tidak sopannya, Aomine menunjuk wajah Hinata di sebelahnya dengan jari telunjuk.

"Hinata?"

"Ya. Apakah Anda tahu bahwa gadis ini sangat galak dan garang." Aomine berkata sejujurnya tentang Hinata. Tak peduli jika gadis yang diejeknya sedang melemparkan death glare dengan cuma-cuma.

"Benarkah?" Hiashi tergelak tak percaya mendengar penilaian Aomine tentang anaknya.

Aomine mengangguk pasti. "Hmm… bahkan aku juga tertipu dengan penampilannya."

"Apa maksudmu hah?" Hinata yang tak terima memukul lengan Aomine. Tentunya hal itu tak berefek apapun padanya. Pukulan Hinata terkesan seperti sentuhan di kulitnya. "Kau cari masalah ya?"

Hiashi tak mampu menahan rasa lega ketika melihat interaksi antara Aomine dengan Hinata. Baru pertama kali ini dia melihat anak gadisnya menatap seseorang dengan pandangan marah apalagi sampai melayangkan sebuah pukulan.

"Hinata. Apakah kau berniat membuat ayahmu ini kelaparan?" Hiashi mau tak mau memotong pedebatan mereka, mengingat waktu kunjungan yang semakin berkurang.

"G-gomenasai, Tousan." Hinata merasa bersalah setelah mengabaikan sang ayah. Karenanya, Hinata menginjak kaki Aomine. Melihat ekspresi Aomine yang menahan kesakitan. Senyum mengejek tertera di wajah Hinata untuk Aomine.

"Ini untuk Tousan." Hinata menyiapkan bento dengan segelas ocha untuk Hiashi. Tak lupa dia mengulurkan bento satunya untuk Aomine, "Dan untukmu."

"Untukku?" Aomine menunjuk dirinya sendiri. Tak percaya dengan indra pendengarnya.

"Kenapa? Tidak mau?" Sebelum menarik kembali kotak bento tersebut, tangan Aomine mencekalnya. Kemudian kotak itu berpindah di hadapan Aomine.

"Wah… kau tahu saja dari tadi perutku melakukan konser." Cengiran bodoh ditampilkan Aomine. Hiashi hanya menggelengkan kepala. Bagaimana bisa anak seorang kepala pertahanan negara bisa bertingkah konyol seperti ini. Sungguh membuatnya tak habis pikir.

Alhasil, hari itu untuk pertama kalinya Hiashi bisa melihat beragam ekspresi anaknya. Memang dia juga sering melihat ekpresi itu ketika Hinata bersama Neji. Tapi setelah kejadian itu, entah kenapa ekspresi itu lenyap. Hanya ada senyum lemah menghias wajah ayu anaknya.

Kali ini Hiashi berharap, kehidupan anaknya kembali seperti semula. Mampu mengekspresikan segala rasa di hatinya. Dan menyadari bahwa ada banyak orang yang berada di sekitarnya yang siap menjadi tempatnya bersandar.

Kunjungan mereka berakhir. Selesai berpamitan, Hinata langsung meninggalkan kantor polisi. Raut kesal masih melekat di wajahnya. Bukan karena dia mengunjungi sang ayah. Sungguh dia berharap bisa menjenguk ayahnya setiap hari. Lagipula sumber kekesalannya hari ini adalah pemuda yang berjalan santai di sampingnya.

"Sudah sana pegi. Jangan mengikutiku." Usir Hinata sedikit risih dengan kehadiran Aomine.

"Aku tidak mengikutimu. Aku mengantarmu. Seperti perintah Jiisan." Bela Aomine. Setelah pertemuan tadi, Hiashi mengijinkan Aomine memanggilnya Jiisan. Dengan alasan bahwa dirinya adalah teman Hinata. Dan jika dia memanggil Hiashi dengan marga rasanya akan canggung sekali. Terlebih laki-laki seperti Aomine tidak terlalu menyukai suasana canggung.

Hinata memutar bola mata. "Aku sudah besar."

Aomine mengerutkan kening alih-alih menghadapkan tubuh di depan Hinata. Kala tubuh mereka hanya berjarak 30 cm, dan mereka saling berhadapan Aomine mengukur tinggi Hinata dengan tangan.

Diletakannya tangan besarnya ke puncak kepala Hinata lalu diarahkan ke tubuhnya sendiri. Dan yang di dapat Aomine dari itu adalah tinggi Hinata hanya mencapai dadanya.

"Pendek." Tutur Aomine atas hasil penilaiannya.

"Aku tidak pendek!" Seru Hinata tak terima dibilang pendek.

Aomine membandingkan kembali tinggi mereka. "Pendek."

Hinata menggembungkan pipi. Wajahnya berubah merah karena kesal dan marah. Aomine sedikit ngeri melihat ekspresi langka Hinata tersebut. "Oke.. oke… tapi sungguh kau sangat pendek. Bahkan kau tidak melebihi tinggi dadaku."

Saat Hinata ingin melemparkan perkataan amarah, ponsel Aomine berdering.

DRRRT DRRRT

Dengan raut malas Aomine mengangkat alat komunikasi tersebut. Melihat Aomine sedang sibuk bertelepon, Hinata memilih duduk nyaman di bangku halte. Menunggu bus dengan sabar.

Aomine yang sudah selesai berteleponan, memilih duduk di samping Hinata. Ikut menunggu sampai bus yang akan menjemput Hinata sampai. Dalam diam mereka menunggu. Tak ada yang ingin memecah keheningan. Lagipula mereka tak tahu harus bicara apa. Jadi diam adalah pilihan yang tepat.

Tak berapa lama, bus yang mereka tunggu akhirnya tiba.

"Busnya sudah datang. Cepat sana pulang." Usir Aomine membuat decakan terdengar dari bibir Hinata.

Jadi jangan salahkan Hinata jika dia menendang kaki Aomine. Pemuda itu terlalu sering membuatnya naik pitam dalam sehari. Sayangnya, Aomine lebih pintar darinya. Pemuda itu dengan mudah menghindar serangan Hinata.

"Kaki pendekmu tidak akan bisa menjangkauku." Kekeh Aomine saat berhasil membuat Hinata kembali kesal.

"Aku itu mungil. Bukan pendek." Seru Hinata tak terima.

"Apa bedanya? Sama-sama pendek, 'kan?" Aomine menggedikkan bahu.

Sia-sia jika berdebat dengan Aomine, Hinata memilih pergi dengan menghentakkan kaki dan memasuki bus.

"Hinata." Panggil Aomine ketika Hinata berdiri di ambang pintu. Dengan raut kesal, Hinata menoleh.

"Apa?!" Sahut Hinata sengak.

"Pertimbangkan sekali lagi tentang permintaan kami." Tutur Aomine dengan raut serius. Senyum konyol yang terpajang di wajah pemuda itu hilang seketika.

SREK

Pintu bus tertutup sebelum Hinata menjawab. Bus kemudian berjalan. Hinata dapat melihat sosok Aomine yang masih menatap kepergian bus yang dia naiki. Sedangkan Hinata mulai bergelut dengan pikirannya sendiri.

.

Keesokan harinya.

Saat bel istirahat berdentang, Hinata merenggangkan otot-otot tubuhnya. Kejadian kemarin bernar-benar membuatnya kelelahan. Bahkan dia tidak bisa tidur nyenyak kemarin malam. Ingin sekali jam istirahat hari ini dia habiskan dengan tidur. Tapi ketika netranya menangkap sosok gadis berambut bumble gum menatapnya berkaca-kaca, mau tak mau Hinata menyingkirkan rasa ngantuknya.

"Satsuki-chan kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Hinata bingung. Pasalnya, Satsuki tambah berkaca-kaca saat gadis itu bertanya padanya.

"Hueeee…. Hinata-chan…." Tanpa aba-aba, Satsuki menerjang tubuh mungil Hinata. Untung saja Hinata sedang duduk di bangku. Coba saja jika dia sedang berdiri, bias dipastikan dia akan jatuh terjermbab.

"Kuroko-san. Ada apa dengan Sastsuki-chan?" Tanya Hinata mendapati Satsuki yang menangis tersedu-sedu dalam pelukannya. Untung saja kelas dalam keadaan sepi. Paling tidak tak banyak orang yang memperhatikan.

"Dia merindukanmu, Hinata-chan." Kuroko tersenyum kecil.

"Kita sekelas. Bagaimana bisa kau merindukanku, Satsuki-chan?" Hinata berujar heran. Memang beberapa waktu yang lalu Hinata menghindari hal-hal yang bersangkutan dengan basket. Terutama anggota klub basket. Tapi dia tak tahu jika Satsuki yang notabanenya sekelas dengannya bisa sangat merindukannya.

"Hinata. Ayolah kembali ke klub basket." Pinta Satsuki sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap sendu Hinata.

Hinata menghela napas, "Kau tidak lelah ya?"

"Tidak. Aku juga aneh dengan diriku sendiri." Satsuki bergumam lirih mengingat perilakunya akhir-akhir ini.

"Hng?"

Satsuki meremas bahu Hinata, menyalurkan rasa cemas dan rindunya. "Aku mencoba menghindarimu. Tapi, kau terlalu imut untuk dihindari."

Hinata menautkan alis, "Kenapa kau menghindariku?"

"Itu karena Momoi-chan berpikir bahwa Hinata-san membenci dirinya." Jelas Kuroko menatap lembut Hinata. Jujur, dia senang sekali bisa kembali berbicara dengan Hinata. Sebenarnya dia ingin selalu berinteraksi dengan Hinata namun gadis itu selalu terlihat menghindar.

"Itukah alasan beberapa minggu ini kau tidak mau berbicara denganku, Satsuki?" Nada tak percaya kentara jelas dalam kalimatnya.

"Gomenne, Hinata-chan." Satsuki ingin kembali memluk Hinata, tapi gadis itu menghindar.

Hinata menjauh, "Aku harus pergi, Satsuki-chan."

"Jangan. Maafkan aku, Hinata-chan." Raung Satsuki, namun Hinata menulikan pendengarannya. Entah kenapa berbagai hal saling beradu dalam kepalanya. Kepalanya seakan-akan ingin pecah.

Kepergian Hinata membuat Satsuki dan Kuroko dilanda perasaan cemas. Tak ubahnya mereka menatap pintu di mana tubuh Hinata menghilang.

.

:::: Skip Time ::::

.

GYM terasa suram. Aura kelam begitu terasa dari Satsuki. Gadis bersurai merah muda itu terlihat lesu. Tak ada semangat dari matanya.

Kise yang memang peka dengan keadaan melontarkan pertanyaan. Berharap ada yang menjawab rasa penasarannya. "Kenapa dengannya, ssu?"

"Hinata-san marah." Jawab Kuroko membuat Kise dan lainnya kaget. Satsuki yang mendengarnya tambah murung.

"Kenapa Hinatachin marah?" Tanya Murasakibara ikut minta penjelasan.

Kuroko menghela napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan Murasakibara, "Hinata-san mengetahui bahwa Momoi-san menghindarinya karena mengira Hinata membencinya."

"Hah… Momocchi kenapa kau mengatakan itu? Bagaimana kalau Hinatacchi tidak mau kembali selamanya, ssu?" Nada kesal Kise membuat Satsuki mulai menangis. Menangisi kebodohannya.

"Gomenne... hiks..." Suara sesenggukan terdengar dari bibir Satsuki. Mereka tahu Kise sudah kelewatan, tapi tak ada satupun yang mencoba berbicara. Seolah memang seharusnya seperti itu.

Sementara Satsuki menangis, terdengar suara pintu terbuka. Paling Teppei-sensei yang dating, batin mereka. Pelatih satu itu memang sudah memberi kabar bahwa dia akan terlambat. Ada hal penting yang harus dia tangangi. Itu yang dia katakan pada mereka.

"Satsuki-chan." Suara lembut ini membuat mereka tersentak. Pasalnya mana mungkin Teppei-sensei memiliki suara feminim.

Dan di sana, di depan pintu GYM Hinata berdiri di samping Teppei-sensei. Semua menatap wajah Hinata. Hinata bisa menangkap berbagai macam ekspresi di wajah mereka. Namun yang paling mendominasi adalah ekspresi cemas.

"Wah.. semua sudah datang ya. Kau kenapa menangis Satsuki?" Teppei menjadi khawatir.

"Kise-kun yang membuat Momoi-san menangis." Adu Kuroko menunjuk Kise. Sedangkan Kise sedikit salah tingkah dan akhirnya meminta maaf pada Satsuki.

"Teppei-sensei kenapa lama sekali sih?" Tanya Murasakibara dengan nada malas seperti biasa.

"Maafkan aku. Tapi, aku harus membuat ulang susunan klub kita." Terang Teppei sambil memperlihatkan kertas A4 dengan susunan anggota klub basket.

"Kenapa?" Teppei jadi gugup mendapat anak-anak didiknya menatapnya seolah tak percaya. Hei. Memangnya dia tadi mengatakan apa? Hanya perubahan sususan anggota 'kan? Bukannya pernyataan perang. Kenapa ekspresi mereka seperti itu?

"Hinata kau mau keluar?" Perkataan Kagami disambut delikan tajam dari sahabat-sahabatnya.

"A-ano…"

"Jika ini karena perkataanku tadi. Jangan diambil hati, Hinata-chan." Satsuki mendekat dan menganggam tangan Hinata erat sambil memandangnya berkaca-kaca.

"Pfftt…" Sudah cukup. Hinata tak tahan lagi. Mungkin ini terdengar jahat, tapi di mata Hinata wajah sedih Satsuki tampak lucu. Alhasil, Hinata tak dapat menahan tawanya yang sudah sejak tadi ditahannya. Bahkan air matanya sampai menetes.

Sedangkan yang lain tampak takjub melihat Hinata yang tengah tertawa. Kecuali Teppei yang memilih menepuk bahu Satsuki dan mengulurkan tisu.

"Hinata tidak akan pergi. Dia malah ingin memperbarui pendaftaran sebagai manager basket." Jelas Teppei disela tawa Hinata yang masih membuncah. Tampak raut linglung mereka membuat Hinata harus mengontrol tawanya. Tangan mungil Hinata menyeka air mata yang keluar. Dan setelah yakin jika air matanya tak lagi keluar, dia menatap mereka satu-persatu.

"Aku harap kalian tidak membullyku, mengingat aku adalah anggota baru." Hinata membungkuk sedikit mengucap salam pada mereka.

GREB

Murasakibara adalah orang pertama yang sadar akan keadaan. Tanpa ragu, dia memeluk tubuh Hinata. Mengingat tinggi Hinata hanya sampai dada Murasakibara, saat pemuda itu memeluk Hinata tak heran tubuh Hinata sampai terangkat. Kakinya tak menginjak tanah. "Selamat datang, Hinatachin."

Kise pun mau ikut memeluk Hinata dengan menarik seragam basket yang melekat di tubuh Murasakibara. "Aku juga ingin memeluk Hinatacchi, ssu. Lepaskan dia, Murasacchi."

"Iie." Murasakibara menolak dengan tegas. Kise tak tinggal diam, dia mencoba merebut Hinata dari Murasakibara yang menjauhkan Hinata darinya.

Kejadian itu tak ayal mampu menyunggingkan seulas senyum di bibir semuanya. Memang benar kata pepatah, usaha tidak akan mengkhianati hasil.

"Murasakibara-san. Bisa turunkan aku." Tanya Hinata yang membuat Murasakibara cemberut. Belum puas dirinya melepas rindu, Hinata malah ingin dia melepaskan pelukannya.

"Kau tidak akan pergi lagi 'kan?"

Hinata sadar sifat kekanakan pada Mirasakibara memang tak bisa dihilangkan. Dengan senyum menenangkan, Hinata berkata, "Tidak."

Setelah kakinya benar-benar memijak tanah, gadis itu merogoh tas. Mencari sesuatu. Mendapatkan benda tersebut, Hinata lalu melangkah mendekati Midorima.

"Shintarou-kun. Ini." Gantungan kunci berbentuk kodok hijau diulurkan pada Midorima. "Terimakasih untuk kemarin."

Semua orang menatap tajam pada Midorima. Seakan-akan mereka ingin mengulitinya saat itu juga.

Midorima yang mendapatkan berbagai tatapan tajam dari sahabat-sahabatnya hanya berdehem. Menetralisir rasa aneh di hatinya.

"Aku menerima ini bukan berarti aku menginginkannya, nanodayo." Midorima membenarkan kacamata sebelum menerima gantungan kunci itu, "Aku hanya tidak ingin kau kecewa."

"Kalau begitu untukku saja, ssu." Kise akan merebut gantungan itu. Tapi memang intuisi Midorima yang sangat tajam, pemuda berkacamata itu dengan cepat menggeser tubuh sehingga pemuda hiperaktif itu tersungkur ke lantai.

"Tidak. Menjauh dariku, Kise." Usir Midorima melempar tatapan membunuh.

Kise hanya menggembungkan pipi kesal. Kemudian berbalik menatap Hinata. Mendekatinya. Dan mulai merengek padanya. "Hinatacchi. Aku juga mau. Kenapa hanya Midorimacchi saja, ssu?"

Hinata tak mengira hal seperti ini akan terjadi. Menurutnya hanya gantungan kunci kecil tak akan mempengaruhi apapun. Tapi memang Hinata yang polos, dia hanya menggaruk pipi bingung. "A-ano… aku tidak tahu jika kau juga menyukainya, Kise-san."

Kise menggembungkan pipi lagi. Dia merajuk. Hinata tak menyangka Kise bisa bersikap seperti ini.

"Akan kubelikan. Tapi nanti." Akhirnya Hinata mengalah. Dia harap dengan begini Kise tak lagi merajuk. Karena jika Kise masih merajuk, dijamin telinganya akan berdenging mendengar suara Kise yang cempreng.

"Aku juga mau, Hinatachin." Murasakibara ikut order.

Hinata memilih mengangguk. Kedua orang yang sangat kekanakan ini jika ditolak akan menjadi masalah besar. Bukan karena mereka aneh. Hanya saja mereka pasti akan terus merengek dan akan susah diatur.

"Hinata." Akashi memanggil dengan auranya yang dingin.

'Apa dia juga ingin gantungan kunci?' Batin Hinata.

"Kenapa kau memanggil Shintarou dengan nama depannya?" Berbeda dengan presepsinya, ternyata Akashi tak memintanya untuk membelikan gantungan kunci.

"Itu permintaan Shintarou-kun. Katanya jika aku bertemu dengan orang tuanya aku harus memanggilnya dengan nama depan." Jelas Hinata tak menyadari wajah pucat Midorima.

"Kapan dia memintamu memanggilnya seperti itu?" Tanya Aomine merangkul bahu Midorima seolah bersahabat. Padahal remasan kuat dirasakan Midorima pada bahunya.

"Kemarin." Jawab Hinata polos. Tak mengetahui akan ada adegan pembunuhan akibat perkataannya.

"Satsuki tolong berikan seragam untuk Hinata. Aku harus menyerahkan susunan ini ke dewan siswa dan kepala sekolah." Teppei berlalu dari GYM untuk kembali ke kantor dan menyalin susunan klub untuk kemudian dikirimkan untuk dewan siswa dan Kepala Sekolah.

Sementara Satsuki sangat girang menarik tangan Hinata untuk menunjukkan seragam anggota. Hinata hanya bisa menuruti ke manapun Satsuki melangkah.

CKRES CKRES

Suara gunting menggema di GYM yang tiba-tiba sepi karena kepergian Teppei, Satsuki dan Hinata.

Midorima kembali merasakan remasan kuat di bahunya sebelum Aomine menjauh darinya. Midorima tak serta merta bersyukur, karena dia tahu akan hal lebih buruk yang akan menimpanya saat cengkraman Aomine terlepas.

"Jadi... apa kau mau menceritakan bagaimana kencan kalian kemarin, Shintarou?"

Tatapan menusuk Akashi seolah menembus tubuh Midorima. Inilah yang dia takutkan. Akashi akan benar-benar membunuhnya.

GLEK

"Kau tidak boleh seperti itu, Midorimacchi. Kenapa kau menyerang Hinatacchi lebih dulu, ssu?" Seru Kise kesal.

"Aku ingin menghancurkanmu, Midorimachin." Ujar malah Murasakibara kembali memakan Maibou.

"Matilah kau, Shintarou." Tukas Aomine menyeringai.

Dirinya sedikit bersyukur karena Hinata tak menyebutkan namanya. Karena bagaimanapun kemarahan Akaahi adalah hal terakhir yang ingin dia hadapi. Disamping itu, Aomine sedikit kesal melihat Hinata yang memberikan kado untuk Midorima. Entah kenapa dia sangat kesal sekali.

"Aku tak mau ikut campur." Kagami berlalu begitu saja meninggalkan ruang basket. Membiarkan sahabat-sahabatnya memperlakukan Midorima sesuka hati mereka

"Ayo jelaskan... Shin-ta-rou-kun." Kuroko mengulas senyum kecil. Entah kenapa kali ini suaranya sangat mengerikan di telinga Midorima.

'Ijinkan aku melihat hari esok, Kamisama.' Batin Midorima menerima apapun yang akan dilakukan teman-temannya.

TBC

Hufffttt... *mengelal keringat* Setelah sekian lama, akhirnya Seira kembali lagi. Sudah berapa lama ya Seira Hiatus? *sok mikir* Sampai-sampai udah ada sarang laba-bala di sini. *tertawa gaje*

Okay.. Okay.. Seira minta maaf atas keterlambatan ini. Tapi sebagai gantinya, Untuk chapter ini Seira menambahkan lebih banyak words nya.

Yeah... mungkin itu nggak setara dengan penantian kalian *lebay* Tapi sungguh, Permintaan maaf Seira langsung dari lubuk hati.

Well... Seira harap kalian suka dengan chapter ini.

Thanks for Reviews, Likes, and Follows :

Onxy Dark Blue, BlaZe Velvet, Hime1211, ReiHyu, Suci895, Narulita706, Sucilavender40, Nyonya Uchiha, Keycchi, Lizadz, Akina Yumi, Ayu493, Birubiru-chan, Hinata127, naruhina03, purebloods07, seventhplayer, sharingan12115, Shiroi Tensi, unaruhina04, Gagaganbatte, Shyoul Lava, Ranmiablue, Novita610, Wysan, Ameyukio2, Hatakerohim97, Moulucifer666, Oortaka, Irma97, Chibi Hina, Arashi, Tsuki, Yukina, Kyosuke, Hiro-kun, Sasuke dark, Naruto, Park Soah, Nanami, Yuki Asuna, Mirai, Hime, Konoha Village, Byakugan, Hyuuga Hinata, dan Hinata lover.

Don't forget to Review

Kritik dan saran kalian membangkitkan inspirasi Seira untuk berkarya ^^

Nb : Reviews kalian selalu Seira baca. Walau tidak Seira balas. Karena keterbatasan menjawab setiap chapter 2 komentar. Mohon dimaklumi.

At least, See you next chapter guys (^-^)v

.

Seira Schiffer