Hey hey hey! Rika-chan balik lagi hehehe. Ah untuk yang udah mau baca, aku ucapkan makasih yang sebesar-besarnya ya, karena udah mau baca ini fic receh/nangis lebay/digampar/
Yaudah langsung aja yahh
.
.
.
Sejak Akaashi tahu penyebab utama kapten burung hantunya kena rabies, ia mendapat promosi jabatan. Dari yang sebelumnya hanya seorang setter utama merangkap babysitter (red: spesialis burung hantu hiperaktif), kini bertambah menjadi teman curhat edisi khusus membahas kapten Nekoma.
Dan sejak itu pula, kelakuan Bokuto yang sudah amajing jadi semakin sebelas duabelas dengan pasien baru RSJ.
"Bokuto-san, tumben kau mengajakku ke toko buku. Apa kau sudah sadar pentingnya ilmu dan mulai belajar?" Akaashi bertanya sambil menguap lebar. Mengikuti langkah lebar Bokuto yang jalan di depan. Sedikit menarik perhatian karena Bokuto berjalan sambil bernyanyi lagu random. Membuat Akaashi sedikit menjauh.
"Belajar? Hahaha itu tidak mungkin Akaashi! Aku dengar kalau kapten Nekoma sering datang ke sana setiap akhir minggu, hehehe." Bokuto menjawab dengan semangat. Mirip dengan anak taman kanak-kanak jika diberi pertanyaan oleh guru cantik yang sexy.
"Dari mana kau dapat informasi itu Bokuto-san. Seingatku kau tidak pernah pergi ke Nekoma untuk menstalking kucing garong itu."
Mendengar jawaban Akaashi, Bokuto langsung berhenti dan berbalik tiba-tiba. Dengan wajah super serius dia mengunci pandangan si setter Fukurodani.
"Kau jenius Akaashi! Kenapa aku tidak memikirkan cara itu?! Ahh! Kau benar-benar sahabat terbaikku! Yu ar ma epriting!" Bokuto langsung memeluk erat akaashi.
'Sabar, sabar, sabar, burung hantu yang sedang memelukmu ini mengidap catsexual, atau nekomacaptainsexual. Terserah! pokoknya kau harus sabar Akaashi!' Inner Akaashi mencoba bertahan. 'Kalau kau bisa tahan dengan cobaan ini, kelak kau akan jadi burung yang besar! Seperti Bokuto-san! Akaashi kembali menyemangati dirinya sendiri.'
"Nee Akaashi, kapten Nekoma itu bukan sekedar kucing garong—
Baokuto berbisik kemudian melepas pelukannya, kembali menatap kouhai yang diam-diam mendapat diberi gelar sebagai "mamah owl"
"—dia itu kucing hitam yang sexy! Demi dewa, dia pasti akan terlihat makin sexy kalau pakai pakaian hitam yang ketat! Akaashi! Kita harus menstalkingnya mulai hari ini! oke!"
Akaashi facepalm. Tolong seseorang sadarkan kaptennya. Dia sudah tidak kuat. Dan kenapa Bokuto-san bisa berpikir untuk menstalk orang?
"Bokuto-san, bagaimana kau bisa dapat ide menstalk kapten Nekoma?"
"Bukankah itu idenya Akaashi?"
"..."
"..."
DASAR MULUT TAK TAHU DIUNTUNG! KENAPA KAU BERIKAN IDE LUCKNUT ITU PADA BOKUTO-SAN! Batin Akaashi kembali melolong. Dan akhirnya dia pasrah saja saat Bokuto menyeretnya menuju toko buku favorit kapten Nekoma.
.
.
Kling!
Bel yang dipasang dekat pintu berbunyi saat Bokuto membuka pintu single itu. 'Sipp pintunya single, berarti kapten Nekoma juga lagi single.' Bokuto membatin dengan tampang kelewat oon. Yang membuat tangan Akaashi gatal menggamparnya. Lagipula apa hubungannya antara pintu dengan status orang?!
"Selamat datang! Apa ada yang bisa aku bantu?"
Bokuto menoleh ke asal suara dan membeku di tempat. HEY DEWA APA KAU MENDENGARKU?! AKU MAU BILANG TERIMAKASIH KARENA TELAH MENGABULKAN PERMOHONANKU! Di luar Bokuto hanya bertampang datar, tapi innernya tengah bersorak gembira. Sambil berpikir untuk melakukan pemujaan khusus untung Sang Dewa.
Pasalnya suara itu adalah suara si kapten Nekoma. Datang dengan tanktop hitam ketat yang basah oleh keringat. Dengan celana pendek di atas lutut. Datang dari belakang rak sambil menggotong kardus entah apa isinya. Dan saat dia menunduk untuk meletakkan bawaannya, Bokuto kembali mendapat berkah. Berkah untuk mengintip sedikit dada si gebetan. Walau percuma karena tidak mungkin ada gunungnya. Kalau puncaknya sih, syukurlah masih ada. Karena Bokuto sempat liat tadi. 0,3 detik.
'Sepertinya aku akan pergi ke kuil nanti. Dewa sudah terlalu baik hati padaku.' Bokuto kembali membatin.
"Ahh biar aku cari buku sendiri. Tapi mungkin Bokuto-san perlu sedikit bantuanmu." Akaahi berbicara dengan nada sopan. Kemudian berjalan ke depan. Setelah ia berada di belakang kapten Nekoma, ia berbalik memberi kode pada Bokuto. Ia menunjuk diri Bokuto lalu menunjuk kapten Nekoma kemudian menyatukan kedua jari telunjuknya. Selanjutnya jempol Akaashi menunjuk random sudut toko buku. Yang sialnya menuju ke salah satu rak tinggi yang sepi dan remang-remang. 'Syukurlah tadi Bokuto-san memperhatikan kodeku. Fyuhh semoga kau bisa semakin dekat dengan incaranmu kapten!'
Namun...
Kau salah Akaashi! Kau benar-benar salah telah memberi kode pada kapten burung hantumu! Lupakah kau pada fakta bahwa kaptenmu itu Cuma pintar pada kode voli?! Di luar itu dia NOL BESAR Akaashi! NOL BESAR! Sekali lagi NoL—author dijitak
Yah mari kita artikan kode Akaashi dengan benar. Jangan lupa untuk membuka buku panduan perkodean yang ditulis langsung oleh cowok genit dari fandom perbasketan. "Kau dan kapten Nekoma, ajaklah berduaan dengan berkeliling toko buku." Begitulah isi pesannya.
Namun apa yang bisa ditangkap oleh seorang Bokuto kotaro? "Aku dan kapten Nekoma berduaan di tempat remang"
Dan si owl itu dengan tidak elitnya mimisan di depan calon pacar (atau calon istri menurut Bokuto) yang sukses membuat panik si kapten Nekoma.
"Oy kenapa tiba-tiba mimisan! Apa kau sakit! Dasar! Kalau sakit seharusnya jangan jalan-jalan idiot!" kucing hitam jadi-jadian itu mengomel . Kemudian dengan sigap mengambil tissue di kantong celananya dan mengelap dengan sedikit terburu-buru darah di hidung Bokuto.
Sial bagi Bkuto karena wajahnya hanya berjarak beberapa inchi dari si (calon) pacar. Membuatnya dapat dengan leluasa mengamati wajahnya. Wajah yang sebenarnya tampan, maskulin, tidak ada manis-manisnya, apalagi berefek moe-moe macam uke di manga yaoi yang kemarin didownloadnya via wi-fi tetangga.
"Apa kau sudah lebih baik? Err... kapten Fukurodani?"
Tepat setelah itu Bokuto pingsan yang otomatis diterima oleh si kucing. Tapi percayalah, Bokuto sebenarnya hanya mengantuk karena kemarin malam ia asik menggalau tentang kapten Nekoma sambil menggenjreng gitar. Jadi, ia tidak benar-benar pingsan, ia hanya pura-pura pingsan biar dapat pelukan gratis. Dan dengan seenak jidatnya menggerakkan bibirnya pada Akaashi yang memperhatikannya. Menyuruhnya pergi.
'Ternyata Bokuto-san agresif ya? Aahh anakku sudah besar ternyata. Padahal baru kemarin dia curhat soal gebetannya padaku.' Akaashi membatin dengan mengacungkan jempol pada Bokuto. Lalu pergi begitu saja.
Dan Akaashi berpikir apa kode-koden sedang populer saat ini? karena sedari tadi ia hanya main kode dengan Bokuto. Tidak sadar diri bahwa dialah yang mulai duluan.
Lalu bagaimana dengan nasib kapten Nekoma yang harus mengurus Bkuto yang dengan santainya malah bablas tidur dalam pelukan hangat si kucing garong sexy. Mana dengan sengaja Bokuto bernapas dekat telinganya.
'Ada apa dengan kapten Fukurodani ini?' begitulah kira-kira isi kepalanya.
Skip Time
Ini sudah 2 jam sejak Bokuto pura-pura pingsan dan malah tidur. Dan saat si burung hantu terbangun ia dapat merasakan ia berbaring kasur single dengan bantal yang juga single namun empuk. 'Berarti benar bahwa kapten Nekoma itu masih single. Orang pintunya aja single. Kasur ama bantalnya juga single.' Tolong lupakan inner ngelantur ini.
"Kau sudah bangun? Kapten Fukurodani? Boleh tanya namamu?"
Bokuto segera duduk dan menoleh ke sebelah kanan, hanya untuk mendapati pencuri hatinya dalam keadaan topless dengan bulir air yang sengaja mengejek Bokuto. Karena bulir air tersebut bisa seenaknya turun dari ujung rambut setengah basah, lalu menuju dada telanjang orang dihadapannya dan berakhir masuk ke celana training panjang berwarna merah.
'Kau tidak bisa menyentuh tubuh indah ini seperti yang kulakukan! Owl!' itu adalah suara gaib yang terdengar di kepala Bokuto. Yang diindikasikan sebagai suara dari si bulir air yang luar biasa kurang ajar. Karena mencuri start dalam jamah menjamah tubuh si kucing garong yang sedang sexy-sexy nya.
"Ahh terima kasih sudah mau membiarkanku tidur di sini! Aku Bokuto! Bokuto Kotaro!" Bokuto menjawab dengan semangat.
"Aku Kuroo Tetsuro. Aku kapten Nekoma. Dan ya, tentu saja aku membiarkanmu tidur di kamarku. Kau kan pingsan tadi."
'namanya Kuroo ternyata.' Hanya itu informasi yang diserp oleh Bokuto.
Selanjutnya hening. Kuroo yang sibuk berganti pakaian dan Bokuto yang sibuk memperhatikannya. Dan saat Kuroo mengelap kering tubuhnya. Bokuto nyaris berteriak karena bulir air yang tadi mengejeknya telah diserap habis oleh handuk berwarna putih.'Rasakan itu!'
"Apa kau mau menginap? Sebenarnya ini sudah jam 6. Terlalu malam untuk pulang." Kuroo medudukkan diri di dekat Bokuto. Membuat kapten burung hantu itu sedikit berjenggit. Apalagi saat itu Kuroo sedang menata rambutnya yang turun lemas habis keramas.
"Bukannya jam 6 itu masih dikategorikan sore ya?" Bokuto malah balik bertanya.
"Ehh? Tapi kata kaa-chan, jam 6 itu sudah malam. Sudah waktunya ada di rumah. Kalau enggak sempat pulang lebih baik menginap di rumah teman." Kuroo menjawab di luar ekspetasi.
Sekarang Bokuto tahu, makna dari realita lebih keji dari ekspetasi. Awalnya Bokuto mengira Kuroo adalah kucing garong nokturnal yang hobi nguyur malam. Melihat dari gaya rambut ala jengger ayam dan pikiran licik khas kriminal kelas kakap. Namun ternyata, dalam realitanya, Kuroo Tetsuro adalah kucing hitam nakal yang hobi nylong ikan asin di pasar.
Dan karena itu pula muncul lah tekad dari si burung hantu untuk melindungi ke-inosen-an si kucing hitm sekseh ini.
.
.
.
TBC
Hehehe, dan fic ini berakhir dengan gajenya. Ahh entah kenapa aku malah kepikiran si Kuroo jadi kucing garong nakal yang nurut ama kaachan-nya. Ya semacam licik namun juga polos disaat yang bersamaan (?)
And aku mu bilng mksih ama Akisame Hakumei + Alfida yang udah mau jadi editor dadakan ini author sedeng. Secara, Rika-chan yang seret mereka ke dunia per-yaoi-an ini/nggak merasa bersalah/dibakar/mati
