Ok, Rika mau lanjut ini fic yang sama sekali nggak ada bibit bebet bobotnya. Yahh sorry kalau lama up date,soalnya Rika itu orang yang dikendalikan oleh mood/apaan/

.

.

"Ehh? Tapi kata kaa-chan, jam 6 itu sudah malam. Sudah waktunya ada di rumah. Kalau enggak sempat pulang lebih baik menginap di rumah teman." Kuroo menjawab di luar ekspetasi.

Bokuto hanya melongo mendengar jawaban kelewat absurd plus tak terduga seperti itu. Kalau begini caranya gimana Bokuto bisa ajak itu kucing sexy keluar malam? Dinner romantis misalnya? Atau kalau tidak duduk berdua di bukit sambil melihat bintang jatuh? Itu pasti akan sulit dilakukan! Terus ya, gimana kalau Bokuto lagi pengen melakukan sesuatu? Itu lho yang kayak di doujinshi, yang backsoundnya desahan. Eh tunggu, kok Bokuto agak merasa bersalah ya kalau mikiran sususanu dengan objek kucing item itu. Kan doinya masih polos. Kasihan nanti.

"Bokuto, kau mau mandi apa makan dulu?" tanya Kuroo tiba-tiba.

'Ehhhhh! Bukannya ini dialog legend ya?! Yang si uke bilang sayangku mau mandi apa makan dulu? Atau mas nya mau maen sama adek duluan? gitu bukan sih!' Bokuto membisu. Tidak sepenuhnya membisu, karena pikiran si owl tercinta kita ini udah koar koar pake toa colongan.

"Yahh sebaiknya Bokuto mandi saja dulu. Aku belum masak soalnya. Akan aku siapkan air panasnya." Kuroo membuat keputusan sepihak. Lalu ia berjalan santai ke kamar mandi.

Sementara itu Bokuto segera turun dari kasur single penanda jomblo itu. Dengan perlahan dia menyusul Kuroo ke kamar mandi. Dengan pikiran blank tentunya.

"Untuk pakaiannya kamu ambil saja di lemari. Kalau udah selesai turun ke lantai satu ya, terus belok kiri, aku ada di dapur. Aku mau masak dulu."

'YA DEWAKU! Ini berasa aku tinggal berdua ama ISTRIKU. Eh tapi kan si Kuroo emang istriku. Calon, sih' Burung hantu itu menampakkan wajah bodohnya lagi.

"Oh, iya, Bokuto."

"What?" Bokuto menjawab dengan sok inggris.

"Kamu nggak keberatan pake dalamanku kan? Aku malas pergi ke luar. Soalnya hari sudah malam. Terus, ya, aku lagi nabung buat beli makanan kucingku."

'INI APA LAGI COBA!'

.

.

Dan di sinilah Bokuto. Duduk manis dengan tangan terlipat di atas meja. Sekilas tak ada bedanya dengan bocah SD yang kelebihan tinggi badan. Ia dengan tenang memperhatikan Kuroo yang lagi masak –entah apa—di seberang sana. Dengan apron! Oh tenanglah, apronnya normal kok. Cuma apron standar warna abu-abu monyet gambar pisang di dada. Tapi di mata Bokuto apron tersebut seakan-akan henshin menjadi apron pink berenda-renda. Sukses membawa kembali tampang oon si burung hantu kasmaran.

"Nee, Kuroo. Kau tinggal sendirian, ya, di sini?"

"Oh? Tidak kok. Ini rumah saudaraku. Setiap Sabtu dan Minggu aku disuruh menjaga ini rumah. Nama saudaraku itu Nozaki Umetarou 1 dia itu mantan mangaka lho!"

"Mantan mangaka?"

"Iya, manganya sudah tamat setahun yang lalu dan dia sedang menganggur. Makanya buka toko buku. Katanya sudah tidak ada inspirasi membuat manga baru."

"Emang genre manga nya apa?" Bokuto menjawab dengan antusias. Masalahnya dia ini termasuk penyuka manga. Dari yang mencari harta karun bajak laut sampai yang ceramah berkedok ninja-ninja juga sudah dibaca.

"Romance." Kuroo menjawab dengan aura suram. Yang entah kenapa menular ke Bokuto.

Yah, makan malam selanjutnya berlangsung dengan damai. Jika kita bisa menghiraukan humor garing dan tawa membahana dari keduanya.

.

.

Selagi Kuroo mencuci piring, Bokuto dengan tidak sopannya dan tentu saja dengan seenak rambut tanduknya nyelonong ke ruang tengah. Nonton TV. Sambil menghela napas lega, ia membatin 'jadi begini, ya, rasanya punya istri? Coba kalau aku sama kapten Nekoma itu punya anak. aku ingin anakku nanti kayak Akaashi. Hmm, pasti bakal damai banget hidupku.' /Tolong sekali lagi abaikan pikiran ini. tidak tahukah kau Bokuto bahwa fic ini tidak berunsur m-preg?/

.

.

Dan hari itu ditutup dengan teater dadakan yang dilakoni langsung oleh sesosok kucing hitam dan burung hantu dwi warna.

"Bokuto silakan tidur di kasur. Biar aku tidur di futon."

"MANA BISA BEGITU KUROO!"

"Kalau gitu Bokuto di futon aku di kasur." Kuroo menanggapi santai sambil berbaring di kasur hangatnya.

"NGGAK MAU! AKU GAMPANG KEDINGINAN!"

"HELL! KALAU GITU GIMANA SOLUSINYA, BAKA!"

"Kita kan bisa tidur seranjang." Bokuto menjawab dengan cepat. Lengkap dengan wajah tanpa dosa. 'hitung-hitung latihan buat Kuroo. Nantinya dia kan bakal seranjang terus sama aku. Dan namanya bakal aku ganti jadi Bokuto Tetsuro. Hehehe'

"Oh, iya, ya? Kenapa aku jadi bodoh begini, ya? Ini pasti karena tadi di sekolah aku jajan cireng. Pak pak penjualnya kebanyakan kasih micin, sih, ya."

Dan teater dadakan itu ditutup dengan berhasilnya modus seorang Bokuto Kotaro yang idiot dalam pelajaran tapi pintar dalam voli. Oh, kadar kepintarannya juga bertambah sepertinya. Tambah pintar nge-modus-in si kapten Nekoma.

.

.

Sementara itu di belahan dunia lain

"Oy Nozaki!" seorang laki-laki berambut coklat pendek bertanya sambil tetap mengupas kulit jeruk.

"Ya? Hori-senpai?" jawab laki-laki berambut hitam dengan mata sipit. Masih sibuk menggambar karakter acak pada sebuah kertas.

"Apa tidak apa-apa kau ke sini tiap Sabtu Minggu? Aku kasihan sama saudaramu itu. Siapa namanya? Kuro Tetsu—ya?" Hori senpai kembali bersuara.

"Kuroo Tetsuro, senpai. Dan lagi ya Nozaki, entah kenapa aku sedikit khawatir dengan anak itu. Sebaiknya kamu pulang deh. Lagian mangamu kan udah selesai, terus kamu juga belum ada ide kan?" kali ini pemuda berambut merah.

'sasuga Mamiko' batin kedua pemuda beda usia tersebut. Pasalnya Mikoshiba adalah korban utama Nozaki. Dengan kejahatan sebagai berikut, "menjadikan Mikoshiba yang notabene laki-laki tulen sebagai objek inspirasi Mamiko." Siapa itu Mamiko? Oh, dia hanya heroine utama dari manga romantisnya.

"Baiklah, aku akan pulang."

.

.

.

TBC

*Nozaki Umetarouitu karakter dari Gekkan Shoujo Nozaki-kun, mangaka geblek non peka yang ngorbanin temennya buat inspirasi manga dia.

Sorry kalau fic kali ini pendek ya,/pasang puppy eyes/ditabok/

Rika tahu dan Rika sadar/tampang ala ala ustad/ bahwa humor kali ini benar-benar hambar :"v

Udah ah! Rika tu nggak mau mempermalukan diri sendiri. Kamunya yang peka dong/model ala alayers/dibakar/

Oh dan kemungkinan bakal ada karakter dari fandomlain yang ikut ngerusuh. Tapi Rika nggak mau fic ini jadi crossover, yahh gitu lah pokoknya! Mereka itu cuma orang numpang lewat! Nggak lebih kok! Masa nggak percaya sih?! Aku tu nggak selingkuh/author error/

Jangan lupa RnR

.

.

.

Omake

Nozaki telah sampai di rumahnya tercinta. Ia segera naik ke lantai dua, ke kamar Kuroo lebih tepatnya. Ia merasa sedikit khawatir pada saudara yang selalu ia perlakukan layaknya anak kucing. Yang dimaksud di sini adalah Nozaki sering mamaksa Kuroo agar mau dimandikan, disuapin, dan dinina-bobokkan oleh Nozaki. Aneh memang. Tapi itulah dunia fic, tak ada yang normal /author digampar/

"Ah, kenapa pakai acara turun hujan segala sih... kan, kasihan Tetsuro-chan. Semoga ia tidak ketakutan sekarang. Kucing kan benci dengan air."

Setelah Nozaki membuka pelan pintu kamar si peliharaan (?) tersayang ia menemukan sesuatu yang fantastis! Tetsuro-chan imutnya dipeluk oleh pemuda lain!

'Apa ini mimpi?! Tidak mungkin kucing kecil imutku bisa kenal pejantan macam orang itu?!' raungan hati seorang Nozaki dilatar belakangi oleh suara cetar dari halilintar yang numpang lewat.