Emm Hai?/langsung digampar/
Pertama-tama maaf ya karena Rika telat update nya. Entah kenapa virus malas itu susah sekali disembuhkan. Apalagi Rika lagi sibuk tata ulang barang-barang Rika yang enggak beraturan. #curcol
.
.
.
Pagi cerah di hari Minggu yang sangat tenang di kediaman Nozaki Umetarou. Si pemilik rumah, kucing kecil peliharaannya -yang sebenarnya adalah sepupunya-, serta pejantan anonim -sebutan Nozaki khusus untuk Bokuto- tengah berada di meja makan. Kuroo sedang sibuk di dapur. Di sisi lain, Nozaki serta Bokuto saat ini berhadapan di meja makan. Kuroo sebenarnya sedikit heran karena biasanya sarapan di hari Minggu menjadi ajang khusus yang disakralkan Kuroo dan Nozaki. Untuk Kuroo, itu adalah quality time antara dia dan sepupu tersayangnya. Dan bagi Nozaki, itu adalah suatu bentuk latihan untuk Kuroo di masa depan. Siapa tahu kalau Kuroo nanti dapat pejantan yang perfeksionis? Yang apa-apa harus dilakukan dan diselesaikan dengan sempurna. Jadi, Nozaki melatih Kuroo melakukan pekerjaan rumah, termasuk mengajarinya memasak. Mulai dari makanan pembuka atau appetizer, makanan berat alias main course, hinggamakanan penutup a.k.a dessertrumit yang hanya dijual di toko kelas atas.
Oke, lupakan masalah persiapan Kuroo untuk menjadi betina idaman. Kita harus memahami dengan sepenuh hati, jiwa, dan raga bahwa hal itu adalah urusan Nozaki. Kembali pada Bokuto yang entah kenapa merasa sangat tertekan saat ini. Ia malah mulai berkeringat dingin dan berpikir apakah dia beralih jatuh cinta kepada Nozaki hanya karena jantungnya berdetak kencang ketika ditatap dengan pandangan mengintimidasi dari majikan -ralat- sepupu si gebetannya yang dicintai dan disayanginya itu.
Sedang di saat yang sama, Nozaki sedang berusaha untuk mengambil pilihan yang tepat. Ia men-scanning orang di depannya.
"Hmmm dilihat dari tampangnya, sepertinya dia ini tipe yang hiperaktif ya? Tipe yang cocok, sih, untuk Tetsuro-chan. Dia terlalu suka menjaga image jika berada di depan orang lain. Padahal dia hanyalah seonggok kucing manja hidup nan nakal yang hobi merajuk pada sepupunya. Warna matanya emas? Wah, warna yang unik. Tapi... apa-apaan dengan rambut macam tanduk itu! Mana dwiwarna lagi. Eh tapi bukannya malah cocok ya? Jadi mirip burung hantu bertanduk yang pernah aku gambar kemarin."
Bokuto semakin deg-deg ser saat Nozaki mencoret-coret sesuatu di buku sketsa miliknya sambil sesekali bergumam pelan. Meski Bokuto menangkap beberapa kata, seperti hiperaktif, emas, dan burung hantu bertanduk. Apa Nozaki sedang menilai Bokuto? Semakin cemas saja kokorosuci nan rapuh si burung hantu kasmaran.
"Tetsuro-chan, aku dan temanmu ini akan ke ruang kerjaku. Tolong jangan ganggu sampai setengah jam ke depan, ya?" Nozaki membuka suara.
"Eh? Baiklah. Kalau begitu aku akan siapkan dessert nya sekalian." Kuroo menjawab dari seberang meja. Pasalnya, antara dapur dan ruang makan hanya berbatas meja marmer yang kerap disalahgunakan sebagai talenan sampai lémpér (alas) untuk menguleg darurat, dilengkapi dengan cobeknya.
"Ayo, ikut aku!"
Nozaki beranjak dari kursi dan menuju sebuah pintu berwarna pink dengan banyak sekali stiker. Oh lihat! Ada stiker hello kitty yang memeluk teddy bear juga. Setelah masuk, Bokuto disuguhi pemandangan yang unik.
Ruangan itu bercat soft pink dengan beberapa gambar hati. Di dalamnya banyak sekali boneka dengan warna yang sama. Terdapat sebuah meja kerja tinggi di sudut ruangan lengkap dengan kursi putarnya. Saat melihat itu, Bokuto berpikir untuk duduk di atasnya dan bermain-main. Ia suka sekali kursi putar, apalagi yang ada rodanya. Bahkan, Bokuto pernah memaksa Akaashi untuk lomba menaiki kursi putar keliling ruang rapat milik perusahaan ayahnya, ah, tentu saja berkelilingnya harus sambil berputar. Perlombaan itu selalu berakhir dengan penyitaan kartu ATM miliknya karena ia sudah berulah. Dan percayalah, ia bangga dengan hal tersebut. Hampir semua orang sudah dia pameri pengalaman absurd nya.
Lalu di tengah ruangan ada meja pendek dengan karpet berbulu sebagai alasnya. Nozaki lalu duduk di karpet itu, diikuti oleh Bokuto. Dan burung hantu jantan nan besar –kata Akaashi— ini mulai merasa harus membeli karpet semacam ini untuk dipasang di ruang keluarga yang nantinya ia dan Kuroo bisa nyaman melakukan apa pun di sana. Bahkan dia hampir menelepon ayahnya agar dibelikan karpet seperti itu.
"Baiklah, kita akan mulai sesi wawancaranya. Sebenarnya aku sudah menilai dari segi fisik dan kau mendapat nilai tinggi. Tapi, siapa yang tahu kau akan lolos atau tidak dalam sesi wawancara ini?" Nozaki memulai pembicaraan. Ia menghela napas sebentar lalu melanjutkan kembali kalimatnya.
"Kau punya style yang unik. Dan entah kenapa cocok dengan style milik Tetsuro-chan. Oke, pertanyaan pertama. Siapa namamu?"
"Bokuto Kotaro."
"Asal sekolah? Jabatanmu di sana?"
"Saya berasal dari SMA Fukurodani, dan jabatan saya saat ini adalah kapten dari klub voli sekolah. Merangkap sebagai ace nomor 5 terkuat." Bokuto menjawab dengan tampang serius, yang justru terlihat fail di wajahnya.
Diam, hening, dan sunyi sejenak sebelum Nozaki menyuruh untuk pergi ke luar ruangannya sambil menitipkan pesan. Si burung hantu tanduk itu bingung dan pergi dengan perasaan was-was. Saat akan memutar kenop pintu, Bokuto berbalik dan bertanya,
"Apa aku lulus tes wawancara ini? Err, Nozaki-san?"
"Hmph," Nozaki hanya menyeringai penuh arti.
Bokuto segera saja membuka pintu dan berlari ke dapur. Ia benar-benar tak mau berurusan dengan sepupu Kuroo yang sepertinya kekurangan asupan. Dirinya tidak sadar kalau ia juga sama saja.
Sampai di dapur, ia mendapati Kuroo tengah duduk di kursi meja makan. Sambil sibuk bermain androidnya. Menyadari keberadaan teman barunya, Kuroo lalu menoleh dan tersenyum. Tolong ingatkan Bokuto untuk selalu membawa kacamata hitam jika dekat dengan Kuroo. Kalian harus tahu bahwa senyuman milik si kucing garong itu lebih dari cukup untuk menyilaukan dan mengalihkan dunia kecil milik si burung hantu.
"Aku punya pesan dari sepupumu itu, katanya 'Tolong bilang Tetsuro-chan aku akan sibuk di sini. Jadi, jangan ganggu aku dan ia harus menemuiku di sini jam makan siang' , begitu," ujar Bokuto sambil menurunkan rambutnya dan menyipit-nyipitkan matanya. Berusaha terlihat semirip mungkin dengan Nozaki.
Perkataan Bokuto hanya ditanggapi gumaman tidak jelas. Lagian, Kuroo juga sibuk dengan androidnya. Jadi, usaha Bokuto untuk terlihat semirip mungkin dengan Nozakitidak dinotice. Poor Bokuto.
"Kalau mau makan, makanlah," Kuroo membuka suara. Tentu saja tanpa menoleh ke arah lawan bicara. Ia masih saja sibuk menggrepe-grepe android warna silver polosnya. Karena kesal tidak dinotice oleh si gebetan, Bokuto pun protes.
"Kau ini sibuk apa sih. Hey! Jangan cuekin kangmas mu ini! Hey!" oh, sepertinya Bokuto tidak sadar dengan apa yang dikatakannya.
Tapi sudahlah, itu bisa menarik perhatian si kucing hitam. Dan dia memilih untuk pura-pura tidak mendengar kata kangmas dalam ucapan Bokuto barusan.
"Aku nggak nyuekin kamu. Aku lagi sms pacar aku. Dia marah karena kemarin nggak jadi kencan. Masalahnya, aku kan jaga dan menunggu kamu yang pingsan, Bokuto."
"Untung waktu itu aku pura-pura pingsan!" begitulah inner Bokuto berteriak. Sedetik kemudian ia sadar kalau Kuroo tadi bilang pacar. Pacar. PACAR?! Kuroo punya pacar?!
"KAU PUNYA PACAR?!"
"Eh? Iya aku punya."
Bokuto spontan menjambak rambutnya. Mengacak-acak surai dwiwarna yang diam-diam dia banggakan serta membutuhkan waktu lebih dari setengah jam hanya untuk menatanya memakai gel rambut. Saat ini Bokuto tak ada bedanya dengan orang gila yang hobi nongkrong di jalanan dan tidak dirawat di RSJ, walau pada keadaan normal pun ia sudah dianggap kurang waras.
Sedangkan Kuroo yang melihatnya hanya melongo. Dan setelah ia mendapatkan kembali kesadarannya, ia meletakkan androidnya di meja lalu beranjak menuju Bokuto yang sedang bertingkah.
"Hey, Bokuto! Kau kena—" omongan Kuroo terpotong saat ia berhasil memegang kedua pergelangan tangan Bokuto dan menjauhkannya dari surai si lawan bicara yang kini benar-benar berantakan. Rambut abu-abu hitam itu kini hampir tidak lagi bebentuk. Seperti orang bangun tidur malahan. Bahkan beberapa ada yang jatuh di dahinya.
BLUSH
Wajah Kuroo seketika memerah. Bahkan leher dan telinganya juga ikut memerah. Ia menundukkan pandangannya dan memperhatikan lantai rumah, berusaha menggali lubang lewat tatapannya. Kapten Nekoma itu dengan perlahan melepas pegangannya lalu kembali ke tempat duduknya.
Melihat tingkah aneh si kucing kesayangan, Bokuto kini gantian menghampiri Kuroo. Ia menunduk, memperhatikan semburat merah di pipi yang kian menjadi karena jaraknya yang amat dekat.
"Kau kenapa?"
"Dasar burung hantu sialan! Wajahmu terlalu dekat!" Inner Kuroo lah yang menjawab.
Dan dengan kurang ajarnya, Bokuto menangkup kedua pipi apel itu. Memaksanya untuk berhadapan langsung dengannya. Dan Kuroo memaksa mata sipitnya terbelalak dengan kelakuan orang di depannya.
Ia masih membisu. Tak bisa dipungkiri bahwa ia terpesona dengan Bokuto sekarang. Wajah yang biasa memasang tampang idiot itu entah kenapa sekarang tampak begitu menawan di matanya. Ketika manik keduanya saling memandang, terlihat bayangan dirinya tercermin di mata emas Bokuto. Kuroo berjanji untuk segera memeriksakan diri ke dokter terdekat. Takut kena penyakit delusi parah.
"A-Aku t-t-ti-dak ap-apa ko... k," Kuroo berusaha mengalihkan pandangannya. "Kenapa wajahnya malah tambah tampan jika sedang serius begitu, sih! Aku sudah punya pacar, jadi nggak boleh punya pikiran begitu. Ayo Tetsuro! Sadar! Sadar!" sepertinya perdebatan batin Kuroo belum berakhir, malah semakin seru.
Bokuto kembali memaksa Kuroo untuk memandang matanya.
"Pandang aku Kuroo!" dan tanpa adanya peringatan apalagi aba-aba, si kapten merangkap ace tim bola voli Fukurodani itu mengecup singkat bibir di depannya.
Hanya kecupan singkat tak lebih dari lima detik. Bokuto lalu menjauhkan wajahnya dan tersenyum lebar hingga matanya tertutup.
"Apa sekarang sudah lebih baik? Pasti sudah, kan?"
Tepat setelah Bokuto berkata demikian, terdengar bunyi denting pino mengalun lembut dari saku celana si burung hantu. Ia lalu mengeluarkan android warna merah khas Nekoma dan mengangkat telpon dari entah siapa.
"Ah moshi-moshi."
Kuroo hanya memperhatikan orang di depannya. Tentu saja dengan wajah super panas menahan malu. Ia sebenarnya mau menundukkan wajahnya saja. Namun android warna merah keluaran terbaru milik Bokuto membuatnya penasaran.
"Benarkah?! Aku benar-benar lupa. Ya sudah, aku akan segera ke sana."
Bokuto menutup pembicaraan dan kembali menatap Kuroo. Yang ditatap segera menoleh ke samping. Pura-pura tidak memperhatikan.
"Android yang bagus," Kuroo berusaha memecah keheningan.
"Oh? Ini? aku dapat dari ayahku. Katanya sebagai hadiah aku berhasil membuatkannya proposal untuk perusahaannya." Bokuto hanya nyengir dan menunjukkan casing belakang androidnya. Yang ditempeli stiker siluet kucing hitam. Stiker itu hampir memenuhi seluruh casing belakang.
"Ini... terlihat sangat Nekoma," Kuroo yang masih merasa canggung berucap.
"Eh! Kalau itu... ah pokoknya ada deh! Ya sudah, aku mau pergi dulu. Aku lupa kalau hari ini aku ada janji dengan tim ku untuk latihan."
Bokuto sudah akan beranjak dari tempatnya jika saja Kuroo tak menahan pergelangan tangannya. Wajah yang awalnya sudah kembali ke warna semula kini malah kembali memerah panas.
"Ka-kau belum sarapan. Aku juga sudah lelah memasakannya, sayang kalau tidak dimakan," Kuroo salah tingkah saat mengatakan itu.
Di sisi lain, Bokuto juga ikut salah tingkah karena orang yang ia deklarasikan sebagai calon istrinya.
"K-kalau begitu, masukkan sebagai bekal. Aku akan memakannya nanti."
.
.
Di sudut dapur itu, terdapat sepasang mata sipit yang menyala menakutkan. Nozaki menyeringai sadis sambil menggerak-gerakkan pensilnya di buku sketsa.
"Fufufu... sepertinya kalian akan aku jadikan sumber utama untuk shoujo manga terbaruku."
.
.
.
*menguleg : menghaluskan sesuatu dengan alat uleg, yaitu alat tradisional yang biasa digunakan untuk menghaluskan/melunakkan bumbu masakan atau membuat sambal, rata-rata terbuat dari batu.
.
TBC
Wahahaha aku nggak nyangka bakal begini jadinya. Sumpah deh, ini bener-bener melenceng dari konsep awal. Mana humornya kurang lagi!
Ya udah deh, makasih buat yang udah nungguin n mau baca ini ffn yah :'v
Dan seperti biasa thanks ya Hakumei-chan.
RnR please :"
