"Eternal Love"

By

Achan Van Jeevas

.

.

.

.

.

.

Chapter 2 : Sweet

.

.

.

.

Minhyun membuka mata saat cahaya sang fajar menyentuh wajahnya. Semalam dia tidak bisa tidur sama sekali karena setiap jam mengganti kompres hangat untuk sosok yang ia bawa semalam, niatnya sih untuk membuat suhu tubuh pria itu kembali normal karena tubuhnya amat sangat dingin namun sudah lima kali Minhyun menggantinya tubuh pria itu tetap saja dingin.

Minhyun memegang kepalanya yang agak pening karena semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, untungnya hari ini adalah hari minggu jadi dia tidak berangkat sekolah, walaupun nanti siang dia harus kerja di tokoh bunga dan sorenya dia harus kembali menjalankan kegiatan trainee.

Langkah kakinya ia bawa kekamarnya untuk kembali mengechek keadaan pria semalam. Saat ia melangkah kakinya menuju kamarnya sekilas Minhyun memandang jam dinding yang menunjukan angka 6. Sepupunya pasti kembali malam hari, begitulah kegiatan Sehun setiap tanggal 13 yang Minhyun ketahui.

Dia tidak tahu apa yang dilakukan sepupunya, dulu dia pernah panic karena sepupunya tidak pulang dan menelpon Sehun namun yang menjawab adalah Kim Jongin atau Kai, Kai adalah pacar Sehun, Kai bilang bahwa Sehun baik-baik saja dan tidak bisa pulang lalu menutup teleponnya sebelum Minhyun bisa bertanya lebih jauh lagi.

Minhyun memandangi wajah tampan yang masih menutup matanya, tangan putihnya menyentuh dahi sosok yang tengah berbaring diatas ranjangnya itu. "Dingin, sepertinya kompres semalam tidak bekerja sama sekali."

Minhyun membenarkah selimut ditubuh pria yang bahkan tidak ia ketahui namanya setelah itu ia kembali keluar kamar untuk membuatkan bubur untuk sosok tersebut.

"Syukurlah, Sehun-hyung belum menghabiskan seluruh bahan-bahan makanannya." Ujar Minhyun pada dirinya sendiri ketika ia membuka kulkas. Sehun itu walaupun kurus tapi makannya banyak, sebelas duabelas dengan pacarnya.

Minhyun segera menyalahkan kompor dan dengan gesit segera membuatkan bubur dan sup sayur. 20 menit kemudian Minhyun sudah selesai menyiapkan semuanya, dalam hati Minhyun bersyukur Eomma dan Noonanya mengajarkannya memasak sehingga dia sangat ahli dalam urusan dapur walaupun ada bahan-bahan yang sudah habis namun ia bisa memakai bahan-bahan pengganti.

Sehun bahkan iri dengan keahlian memasaknya, Sehun sendiri memang bisa memasak walaupun tidak seahli dirinya, bukannya bermaksud menyombongkan diri tapi Sehun sendiri yang bilang. Keahlian memasak Sehun sendiri dari Ayahnya karena Bibi Heechul tidak bisa memasak sama sekali.

Minhyun kini membawa nampan berisi bubur dan sup sayur menuju kamarnya, mulut seseorang itu berbeda-beda namun semoga saja pria itu menyukai masakannya, entah mengapa jantung Minhyun berdetak lebih cepat membayangkan pria itu menyukai masakannya.

Minhyun mendorong pintu kamarnya dan hampir menjatuhnya nampannya ketika sosok yang beberapa saat yang lalu tengah berbaring kini sudah duduk tegak diatas kasurnya.

"Ah, kau sudah bangun rupanya."

Sosok yang tengah menghadap jendela kamar Minhyun itu dengan gerakan perlahan memutar kepalanya untuk melihat sosok yang memasuki kamar asing bagi dirinya itu.

Dan Minhyun hampir menjatuhkan nampannya untuk kedua kalinya ketika dia melihat mata hitam itu, mata itu sangat hitam, sehitam langit malam dan Minhyun bersumpah kakinya seakan berubah menjadi jelly ketika mata itu memandangnya dengan intens.

Dalam hati Minhyun mencoba mengatur nafasnya dan menenangkan jantungnya yang berdetak sangat cepat, dan dengan perlahan dia melangkahkan kakinya memasuki kamarnya yang terdapat sosok asing yang masih memandangnya dengan intens.

"Semalam kau terluka jadi aku membawamu kesini." Jelas Minhyun sebelum laki-laki itu bertanya apapun. "Aku buatkan bubur dan sup untukmu."

Minhyun meletakan nampan yang berisi bubur dan sup yang masih mengepulkan asap tanda bahwa makanannya masih panas diatas meja belajarnya yang memang dekat dengan ranjangnya, setelah itu Minhyun berdiri untuk mengambil perban karena ia harus mengganti perban sosok tersebut.

Minhyun menyentuh letak dimana jantungnya berada, dia menghembuskan nafasnya untuk menenangkan jantungnya yang berdetak amat sangat cepat. "Astaga, Apa yang terjadi padaku?"

Sosok manis itu memandang cermin yang ada disebelahnya dan menyentuh kedua pipi chuby nya yang memerah. "Bahkan pipiku memerah hanya karena memandang wajahnya. Perasaan apa ini?"

Minhyun memejamkan matanya dan mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Tangannya dengan segera mengambil perban dan antiseptic lalu segera berajalan kembali menuju kamarnya.

Minhyun membuka pintu kamarnya dengan perlahan takut mengganggu sosok yang ada didalamnya, Minhyun langsung mengernyit bingung saat sosok yang ada didalamnya masih dalam posisi duduk dan memandang jendela serta bubur dan supnya masih berada ditempatnya semula, tidak tersentuh sama sekali.

Minhyun meletakan perban yang ia bawa disamping nampan berisi makanan, Minhyun langsung mengambil bubur dan sendok lalu duduk diujung ranjangnya.

"Makanlah, setelah itu aku akan mengganti perbanmu." Namun uluran mangkok yang berisi buburnya tidak ditanggapi sama sekali oleh sosok tersebut. Minhyun menghela nafas ketika tidak mendapatkan reaksi apapun. Minhyun lalu mengambil sendok dan menyodorkannya didepan wajah pria yang tidak ia ketahui namanya tersebut. "Tolong buka mulut anda."

Sosok berkulit tan yang dari tadi menghadap jendela kini memalingkan wajahnya dan memandang sosok cantik didepannya lalu memandang sekilas pada sesendok bubur didepannya.

"Aku tidak lapar." Ujar sosok itu dengan suaranya yang dalam.

Andai dia seorang Idol, dia pasti berada diposisi rapper. Minhyun langsung membuang pikiran itu lalu kembali fokus pada sosok tampan didepannya. "Wajah anda begitu pucat, tolong makanlah walau hanya beberap sendok."

Mendengar ucapan Minhyun membuat sosok itu memandang selimut tebal yang semalam menutupi tubuhnya, dia tidak mengucapkan apapun.

Tangan Minhyun masih memegangi sendok dan mendekatkan sendok yang berisi bubur itu didepan mulut pria tersebut. Mengatahui jika Minhyun bersikeras untuk membuatnya makan membuat pria itu menampar tangan mulus Minhyun.

Pranggg

Nafas Minhyun tercekat saat tamparan tangan laki-laki yang lebih tua didepannya sukses membuat mangkuk berisi bubur itu terjatuh dari tangannya dan mendarat dengan sempurna dilantai kamar. Selama beberapa detik Minhyun hanya memandang kosong pecahan mangkok itu lalu segera berdiri dalam diam.

Minhyun berjongkok lalu dengan diam memunguti pecahan-pecahan mangkok dari yang paling besar hingga yang paling kecil.

"Auchh." Minhyun meringis saat jari telunjuknya berdarah karena tanpa sengaja jarinya menggores pecahan yang cukup tajam. Minhyun memandangi jarinya yang kini mengeluarkan darah. Minhyun mencoba untuk tidak mempedulikan luka kecil tersebut dan fokus untuk membersihkan pecahan mangkok dilantai.

Saat Minhyun akan mengambil kembali pecahan mangkok tersebut sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan lembut. Minhyun mendongakan wajahnya dan senyum langsung tercetak dibibirnya saat sosok tampan itu memandangi luka kecilnya dengan intens. Sosok itu dengan perlahan menarik Minhyun hingga Minhyun ikut berdiri dan berhadapan dengannya.

"Gwanchana. Ini hanya luka kecil." Ujar Minhyun pada sosok didepannya, sekarang Minhyun benar-benar dibuat iri dengan ketampanan sosok yang bahkan ia belum ketahui namanya.

Pria itu memandang wajah Minhyun tanpa ekspresi lalu matanya kembali memandang luka kecil Minhyun yang masih mengeluarkan darah. Dengan lembut ia bawa jari yang terluka itu didepan mulutnya. "Mianhae."

"Untuk apa anda meminta ma–" ucapan Minhyun terhenti ketika sosok didepannya memasukan jari terluka Minhyun kedalam mulutnya.

Nafas Minhyun tercekat, jantungnya berdetak lebih cepat dan dia merasakan tubuhnya seakan terbang ketika ia merasakan jari telunjuknya merasakan sensasi hangat mulut lelaki tampan didepannya.

Lelaki didepannya tampak sangat menikmati apa yang ia lakukan dan Minhyun, jangan tanyakan bagaimana kondisinya. Mata sipit Minhyun melebar dan dia merasakan sekaan ada jutaan kupu-kupu diperutnya yang tengah terbang. Minhyun menggigit bibirnya saat ia merasakan lidah lelaki didepannya bermain dengan jarinya.

Laki-laki yang tidak diketahui namanya itu memandang intens wajah manis Minhyun, tangan kanannya lalu merangkul pinggang sosok manis didepannya dengan lembut dan membawanya lebih dekat pada tubuh dinginnya. Dia tersenyum dalam hati ketika Minhyun memejamkan matanya dan mendekat pada tubuhnya.

Minhyun memejamkan matanya dan mendekati tubuh dingin didepannya ketika ia merasakan tangan melingkar dipinggangnya. Minhyun melingkarkan tangan kirinya dileher tan tersebut dan menyenderkan kepalanya pada pundak tersebut sedangkan tangan kanannya masih tetap berada dimulut laki-laki misterius itu. Tubuh laki-laki ini memang dingin namun tampak nyaman, tubuh mereka seakan-akan dibuat untuk satu sama lain. Minhyun tidak pernah merasa senyaman ini seumur hidupnya.

Minhyun merasakan jari telunjuk tangan kanannya kini sudah lepas dari mulut sosok yang tengah memeluknya ini, perasaan kecewa sedikit menghinggapi Minhyun namun hanya sekian detik karena kini bibir itu tengah memberikan kecupan-kecupan kecil dilehernya.

[WARNING! Little bit –or a lot NC here]

Minhyun memiringkan lehernya agar sosok tampan didepannya lebih leluasa mengecupi lehernya, entah setan apa yang menghinggapi diri Minhyun sekarang.

"Ahh." Desahan pertama kini keluar dari bibir pink Minhyun ketika dia merasakan sosok itu mengigit pelan lehernya, Minhyun semakin mengeratkan pelukannya pada sosok itu, mata indahnnya masih setia tertutup.

Minhyun merasakan tangan dingin itu kini menurun dari pinggannya menuju sesuatu yang lebih kenyal.

"Manis."

Minhyun membuka matanya mendengar ucapan dari bibir lelaki yang sudah menjerat hatinya sejak semalam itu dan Minhyun terkejut bukan main saat dia ternyata sudah ada diranjangnya dengan sosok pria tampan yang ada diatas tubuhnya, keterkejutan Minhyun tidak cukup sampai disitu saja, dia kembali dibuat terkejut ketika merasakan bahwa tubuhnya sudah tidak memakai sehelai benangpun.

Minhyun sudah berniat mendorong pria diatasnya namun niatannya terputus ketika dia merasakan bibir dingin itu menciumi lehernya dengan lembut. "Ahhh." Minhyun mengalungkan kedua tangannya dileher sosok diatasnya.

Minhyun merasakan kedua tangan itu mengelus paha dalamnya dengan intens. Tangan itu bergerak semakin dalam bersamaan dengan lehernya yang merasakan sesuatu yang lebih dingin.

Bibir Minhyun terbuka lebar bersamaan dengan air mata yang turun dipipinya saat ia merasakan rasa sakit yang luar biasa pada leher serta bagian bawah tubuhnya. Minhyun yakin dia berteriak dengan kencang namun tidak ada apapun yang keluar dari mulutnya. Jari-jari kuku Minhyun menancap dengan sempurna dibahu tegap sosok diatasnya, sosok yang tengah menggagahinya.

.

Hentakan, dorongan serta suara kulit yang bertemu dengan kulit menjadi nyanyian pagi yang terdengar dikamar Minhyun, suara deritan ranjang yang bertemu dengan dinding menjadi penambah bukti bahwa kegiatan ranjang mereka membara.

Tubuh Minhyun berkeringat dan terengah-engah serta desahan-desahan yang keluar dari mulutnya. Air mata sudah tidak bisa lagi keluar dari matanya, entah apa yang terjadi dengan tubuhnya selam empat jam ini.

"Ahh- Mmnh- Ahh ... Aaahh."

Tubuhnya tidak bisa bergerak seperti apa yang Minhyun inginkan. Minhyun tidak mengerti sama sekali, dia ingin sekali memukul sosok diatasnya sejak beberapa jam yang lalu –sejak kegiatan ini dimulai tapi tubuhnya tidak bisa digerakan sama sekali bahkan Minhyun tidak bisa berbicara sama sekali, yang keluar dari bibirnya hanyalah desahan-desahan menjijikan dan Minhyun jijik dengan tubuhnya sendiri.

"Semua tentangmu sangat manis. Aromamu, Tubuhmu dan Darahmu. Semua yang ada padamu sangat manis."

"Ahh-Ahh ... Aaahh."

Sosok diatasnya masih dengan gagah menyetubuhinya sedangkan Minhyun dia sudah empat kali pingsan karena energy dan darahnya terkuras habis. Iyah, darahnya. Sosok diatasnya ini.. entah makhluk apa dia, yang Minhyun tahu bahwa dia adalah monster.

Tapi jika sosok diatasnya adalah Monster lalu Minhyun sendiri itu apa? Makhluk apakah dia jika dia sangat menyukai sentuhan-sentuhan monster diatasnya. Sentuhan-sentuhan yang membuatnya melayang ke Nirwana.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya