Eternal Love
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
.
Chapter 3 : Tears Part I
Saat sedih maupun bahagia, air mata selalu ada.
.
.
Minhyun membuka matanya untuk kesekian kalinya pada hari ini namun bukan sinar matahari yang membangunkannya melainkan sinar sang rembulan. Minhyun merasakan tubuhnya seakan remuk terutama bagian pinggang kebawahnya, rasanya amat sangat sakit, Minhyun bahkan tidak bisa menggerakan kakinya sama sekali tanpa merasa rasa sakit yang dahsyat.
Minhyun memandangi kamarnya yang sunyi sepi, monster itu sudah pergi. Meninggalkannya seorang diri. Minhyun senang tentu saja tapi dia tidak mengelak dalam hati kecilnya rasa kecewa itu ada.
Air mata kini kembali turun. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan hari ini, Minhyun tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah sosok bertubuh dingin yang menghangatkan hatinya pergi meninggalkannya layaknya barang bekas.
.
.
"Boleh aku menginap?"
Sehun tersenyum kecil mendengar ucapan Kai, saat ini mereka sudah berada didepan gedung apartementnya. "Tidak boleh, jika kau menginap yang ada besok kita tidak berangkat sekolah."
"Tapi aku benar-benar merindukanmu." Ujar Kai dengan nada sexy sambil memandangi tubuh Sehun dari atas hingga kebawah.
Wajah Sehun memerah sedikit lalu memukul kepala Kai dengan pelan. "Mesum." Ujarnya lalu keluar dari mobil sport kekasihnya. Sebelum Sehun menutup pintu mobil kekasihnya dia memberikan senyum manis yang jarang dikeluarkannya. "Sampai bertemu besok."
"Aku akan memimpikanmu, berjanjilah kita akan bertemu di alam mimpi."
Bukannya menjawab Sehun hanya memutar matanya lalu menutup pintu mobil sport tersebut dengan kencang.
.
Sehun membuka pintu apartementnya dan segera melepas sepatunya, matanya menyipit ketika melihat sepatu milik sepupunya. Biasanya sepupunya ada di apartement khusus trainee yang disediakan oleh Pledis setiap hari senin sampai sabtu dan ini malam senin kenapa sepupunya masih ada disini.
"Minhyun, kau disini?" teriaknya namun tidak mendapatkan balasan sama sekali dan Sehun hanya mengangkat bahunya acuh lalu menuju dapur untuk mengambil minum, dia haus sekali.
Sehun membuka kulkas untuk mengambil jus jeruk dan langsung menuju kamar sepupunya, dia merasa aneh ketika tidak melihat makanan apapun diatas meja, biasanya jika sepupunya datang kesini, Minhyun pasti memasakan sesuatu dan menaruh diatas meja untuknya.
"Minhyun-ah, kenapa kau tidak membuatkanku makanan." Ujar Sehun sambil membuka pintu kamar sepupunya dan Sehun langsung menjatuhnya jus jeruk ditangannya ketika melihat kondisi sepupunya. "Mi-minhyun-ah."
Minhyun mendongakan wajahnya untuk memandang sepupunya dengan matanya yang memerah karena sudah setengah jam menangis, menangisi kondisinya. "Hiks.. hiks.. Se-sehun-hyung… hiks hiks. Sehun-hyung, mengapa ini terjadi padaku, Hyung. Wae."
Sehun langsung bergerak menuju Minhyun lalu memeluk tubuh polos sepupunya yang hanya tertutup selimut. Pelukan Sehun disambut dengan senang hati oleh Minhyun, Minhyun kembali mengeluarkan air matanya membasahi kemeja Sehun. "Hiks.. Hiks.."
Sehun mengelus rambut hitam sepupunya yang lebih muda satu tahun darinya. "Minhyun-ah, ada apa? Apa yang terjadi padamu, beritahu aku."
Tangisan Minhyun kembali mengeras begitu juga pelukannya pada tubuh kurus didepannya. Mendengar tangisan menyayat hati sepupunya membuat Sehun tidak bisa menahan tangisannya juga, dia berharap apa yang dia pikirkan itu salah namun semua bukti yang ada ditubuh Minhyun berteriak menjelaskan.
Tubuh Minhyun penuh dengan bercak kemerahan tanda seseorang meninggalkan jejak cinta disana, dileher, lengan, dada semua bercak itu menandakan semuanya ditambah dengan bau sperma yang menyengat hidungnya yang sensitive.
"Minhyun-ah, hiks. Kumohon, katakan.. hiks katakan bahwa apa yang aku pikirkan ini salah."
Minhyun tahu pelukannya pada tubuh kurus Sehun sudah erat namun dia tidak mencoba melonggarkannya sama sekali. "Hiks..hikss.. Sehun-hyung.. hiks. Dia.. hiks, Dia menyentuhku. Semuanya amat sangat cepat.. hiks.. dan dia menyentuhku. Menyentuh seluruh tubuhku tanpa henti, hiks hiks.. Aku kotor hyung, aku sudah kotor dan menjijikan. Kenapa ini terjadi padaku, hyung. Kenapa?!"
Minhyun berteriak dan kembali menangis histeris. Sehun menciumi rambut hitam Minhyun yang sudah berantakan dan bau keringat namun dia tidak peduli. Tangisannnya juga tidak kalah histeris dari Minhyun. Sepupunya yang manis.. Sepupunya yang cantik ini.. kenapa malapetaka seperti ini terjadi padanya. Kini ruangan tersebut hanya diisi oleh tangisan dua sosok sepupu yang saling berpelukan.
.
Jam sudah menunjukkan angka dua dini hari ketika Sehun sudah selesai mengelapi seluruh tubuh Minhyun dan mengganti sprei serta selimutnya bahkan Sehun memakaikan baju untuk Minhyun.
Minhyun mencengkeram tangan Sehun dengan pelan ketika Sehun membalikkan badannya. "Jangan tinggalkan aku, hyung."
Sehun tersenyum kecil. "Tidak akan, Minhyun-ah. Aku hanya mau mengganti baju."
"Pakai ssaja bajukuu." Ujar Minhyun dengan suara serak karena terlalu banyak mendesah dan menangis.
"Baiklah." Sehun lalu mengambil baju yang ada dilemari Minhyun, walaupun Minhyun hanya seminggu sekali kesini namun Minyhun memiliki beberapa baju yang ditinggalkan. Sehun membuka kemeja serta celana jeansnya dan mengganti dengan boxer serta baju polos milik sepupunya.
Setelah selesai mengganti baju Sehun lalu bersiap tidur diranjang Minhyun, keduanya setuju bahwa malam ini keduanya akan tidur bersama. Sehun mencium dahi Minhyun. "Selamat malam, Putri Minhyun."
"Selamat malam juga, Putri Sehun." Lalu keduanya memejamkan matanya.
Sejak kecil keduanya memang sering dipanggil Putri oleh kedua orang tua mereka sehingga panggilan itu melekat dengan mereka hingga dewasa.
.
.
Yeah yeah yeah yeah
Yeah yeah yeah yeah
Oh Lotto-tto
Oh yeah yeah
Oh yeah yeah yeah
Minhyun adalah orang pertama yang membuka matanya ketika mendengar suara ringtone hp Sehun. Minhyun menepuk pipi Sehun pelan. "Hyung, hp-mu."
Sehun mengerjapkan matanya ketika merasakan tangan dingin Minhyun dipipinya. "Hm?"
"Hp-mu bunyi, Hyung."
Sehun kini langsung membuka matanya dan turun dari ranjang untuk mengambil celana jeansnya, seingatnya hp nya masih ada disana.
"Wae, Kai?" adalah kata pertama yang keluar dari bibir Sehun ketika melihat nama pacarnya yang menelponnya.
'Apa maksudmu dengan wae. Aku sudah ada dibawah. Kita sudah terlambat sepuluh menit. Tumben kau tidak menelponku untuk membangunkanku.'
Minhyun memandang tubuh kurus Sehun yang berjongkok masih dengan berteleponan, Minhyun memandang jam dinding yang sudah menunjukan angka 08:10. Minhyun mencoba menggerakan tubuhnya untuk duduk namun hanya nyeri yang didapatkannya. "Awhh."
Sehun langsung membalikan badannya ketika mendengar erangan Minhyun, Sehun langsung berdiri. "Aku dan Minhyun tidak masuk hari ini. Minhyun sedang sakit dan aku harus merawatnya."
'Minhyun sakit? Ah baiklah baiklah aku mengerti. Sepulang sekolah aku akan mampir.'
"Hm."
'Saranghae.'
Sehun menggigit bibirnya, dia sudah ratusan kali mendengar kalimat itu namun rasanya masih seperti pertamakali Kai mengatakannya dan itu sudah satu tahun yang lalu.
"Nado." Balasnya dan dengan itu Sehun langsung mematikan sambungan telepon mereka.
Minhyun tersenyum melihat wajah memerah sepupunya.
Sehun memandang galak sepupunya ketika dia ketahuan sedang blushing. "Kenapa kau tersenyum?"
"Kau blushing. Aish, seorang yang mendapatkan julukan Ice Prince dari satu sekolah bisa blushing juga rupanya." Goda Minhyun.
Sehun melotot tidak percaya dengan godaan sepupunya. "Diam kau."
Minhyun terkekeh kecil. "Kau tidak berangkat sekolah, hyung?"
Sehun menggeleng lalu menchat Sewoon –ketua kelas Minhyun untuk mengatakan bahwa Minhyun tidak bisa sekolah karena sakit.
"Maafkan aku sudah merepotkanmu, hyung."
Sehun mendekati Minhyun lalu mengelus pipi gembul sepupunya. "Jangan meminta maaf, lagipula aku senang merewat sepupuku yang manis ini."
Wajah Minhyun menegang mendengar kata manis keluar dari bibir Sehun, bayangan dimana sosok misterius yang tengah menggagahinya sambil mengucapkan kata yang sama terbayang dalam benaknya namun Minhyun mencoba tersenyum pada Sehun. "Gomawoyo."
Minhyun menundukan wajahnya dan tanpa sengaja matanya jatuh pada mangkok yang ada diatas meja belajarnya yang dekat dengan ranjangnya. "Hyung, kau membuatkanku bubur?"
"Anni. Aku tidak membuatkanmu bubur." Sehun lalu memandang kearah tatapan Minhyun lalu mengernyit bingung ketika melihat ada mangkok berisi bubur yang tengah mengepul.
"Ah, semalam aku juga melihat mangkok ini tapi harusnya sudah dingin kenapa ini masih mengepul." Ujar Sehun sambil mengambil mangkok tersebut dan merasakan bahwa bubur itu masih panas. "Kau yang membuatnya sendiri yah?"
"Hyung, bagaimana aku yang membuatnya kalau aku saja bahkan masih tidak bisa duduk tanpa merasakan sakit." Lalu Minhyun memandangi mangkok tersebut. Matanya membulat ketika ia ingat bahwa mangkok itu mangkok yang sama yang sudah pecah, mangkok berisi bubur yang sama yang tidak sengaja terlempar dari tangannya karena tepisan tangan seseorang.
"Mumpung ini masih hangat bagaimana kalau kau memakannya." Kata Sehun lalu mengambil sendok yang menyulurkannya didepan mulut Minhyun. "Aaa."
Minhyun memandang datar mangkok serta bubur tersebut, tidak salah lagi, itu adalah mangkok yang sama bahkan bubur yang sama karena aromanya sangat Minhyun hapal, aroma bubur buatannya tapi bukankah itu sudah pecah dan terjatuh dan Minhyun ingat dia tidak membuat bubur tambahan kemarin.
"Minhyun, cepat buka mulutmu." Keluh Sehun ketika Minhyun hanya memandangi bubur tersebut.
"Buang bubur itu, Hyung." Ujar Minhyun dengan datar.
"Apa?" Sehun memandang bingung Minhyun.
"Aku bilang buang bubur itu. Aku tidak sudih memakannya."
"Tapi kau harus makan setelah itu minum obat, tubuhmu sangat dingin bahkan semalam AC tidak dinyalakan sama sekali dan tubuh tetap dingin."
"Kalau begitu masakan aku sesuatu tapi buang bubur itu."
Sehun menghela nafas mendengar ucapan Minhyun. "Kau tahu aku tidak begitu ahli memasak dan ada apa dengan bubur ini." Sehun lalu memakan bubur itu dan memandang Minhyun. "Ini bubur yang kau buat sendiri kan? Rasanya sama ketika kau membuatkan untuk Eomma."
Minhyun menghela nafas. "Setidaknya masakanmu lebih baik dari Heechul Ahjumma dan kau memakan bubur yang aku buat untuk Heechul Ahjumma?"
"Aku bersyukur aku memiliki bakat memasak seperti Appa. Dan yah, aku memakan bubur itu karena aku sangat lapar pada waktu itu."
Minhyun hanya memandang tidak percaya pada sepupunya. "Sudahlah lebih baik kau segera membuatkan sarapan untuk kita berdua."
Sehun mengangguk lalu membalikan badannya untuk berjalan keluar sambil membawa nampan yang berisi bubur.
"Sehun-hyung." Panggil Minhyun ketika Sehun sudah membuka pintu kamarnya.
Sehun kembali membalikan badannya mendengar suara lembut sepupunya. "Nde?"
"Semalam.. apa kau membersihkan pecahan mangkok atau tumpahan bubur di lantai kamarku?" tanya Minhyun denagn nada penasaran.
Sehun menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak melihat apa-apa dilantai. Memangnya ada apa?"
Minhyun menggeleng pelan. Ekspresi bingung sangat kentara diwajah manisnya.
.
.
Sehun mengelap bibir Minhyun ketika sepupunya sudah menghabiskan bubur buatannya lalu memberikan segelas air, Minhyun mengambil gelas tersebut dan meminum isinya beserta obat penurun demam yang Sehun berikan. Melihat hal tersebut Sehun tersenyum, sepupunya kini sudah bisa duduk walaupun dengan bantuan beberapa bantal.
Sehun mengelus poni Minhyun dengan lembut, dia masih merasakan suhu tubuh Minhyun yang dingin. "Minhyun-ah. Aku tahu kau tidak ingin menceritakannya tapi aku harus tahu, Minhyun-ah." Sehun lalu menyentuh leher Minhyun, bukan pada bekas kissmarknya tapi pada tanda titik dua berwarna putih. "Bagaimana kau mendapatkan bekas gigitan putih ini."
Minhyun memandang mata Sehun yang sudah berkaca-kaca.
"Kumohon, ceritakan padaku."
Minhyun memejamkan matanya. "Kemarin setelah aku pulang dari latihan…"
.
.
Sehun memeluk Minhyun dengan erat, keduanya kini berada diposisi yang sama seperti semalam namun tidak ada tangisan histeris melainkan tangisan dalam diam.
"Biadab. Monster seperti apakah dia." Ujar Sehun ketika Minhyun sudah menyelesaikan ceritanya.
Air mata kembali turun dipipi chuby Minhyun, dia menceritakan seluruhnya dengan detail terkecuali bagian dimana laki-laki misterius itu mengetahui namanya, Minhyun yakin dia tidak mengenal monster itu. Monster yang telah menyakiti jiwa dan raganya.
"Aku akan ke kantor polisi."
Minhyun langsung memandang wajah pucat Sehun. "Ti-tidak hyung. Jangan lakukan itu."
"Kenapa tidak, Minhyun-ah? Bajingan sepertinya tidak pantas berkeliaran diatas bumi ini." ujar Sehun dengan marah.
"Hyung.. tidakkah kau sadar bahwa dia bukan makhluk seperti kita berdua." Minhyun memandang wajah Sehun. "Dia.. menggigitku, Hyung. Dia meminum darahku." Pandangan Minhyun menjadi kosong ketika dia mengingat sensasi ketika sosok itu menggigit lehernya dan meminum darahnya.. Minhyun ingat dia merasakan desiran menggairahkan dan mendebarkan hatinya.
"Apakah menurutmu dia.. makhluk itu Hyung? Makluk pucat tanpa nyawa dengan taring digigi mereka. Makhluk yang berjalan seperti kucing dan meleset secepat angin. Makhluk yang indah sekaligus mengerikan."
Sehun mengelus rambut Minhyun, ekspresi wajahnya mengeras. "Aku tidak tahu. Bukan aku yang bertemu dengannya dan Aku tidak sudih untuk bertemu dengannya."
Minhyun mengangguk mengerti, kepalanya bersandar dibahu Sehun.
Sang monster penghisap darah.
"Vampire."
.
.
Minhyun memandangi pantulan dirinya didepan cermin, tangannya terulur untuk menyentuh lehernya, bekas-bekas tanda kemerahan sudah hampir memudar namun bekas gigitan dilehernya masih membekas dan terkadang Minhyun merasakan bahwa bekas gigitan itu mendingin dan membuat jantungnya berdesir.
Dan jikapun bekas kissmark dilehernya menghilang seperti sosok tersebut yang menghilang tanpa bekas –bahkan jaket serta baju yang dicuci oleh Minhyun tidak ada dan yang lebih mengejutkan bekas jarum dan benang yang Minhyun buang disampah juga tidak ada sama sekali tapi bekas gigitan ini akan menjadi saksi bahwa sosok misterius itu pernah ada dalam hidupnya.
"Minhyun-ah, kau yakin mau berangkat? Lebih baik kau istirahat saja." ujar Sehun yang sudah ada disampingnya.
Minhyun menggeleng. "Tidak, hyung. Ini sudah empat hari aku tidak berangkat sekolah, latihan bahkan aku tidak bekerja di tokoh bunganya Kang Ahjumma."
"Sekolah akan mengerti karena kau sakit, begitu juga Daniel dan bukankah aku mengatakan kalau Kai sudah meminta ijin pada boss Pledismu, mereka semua mengerti akan kondisimu yang lemah." Jelas Sehun, dia masih tidak mau Minhyun berangkat dan melakukan kegiatannya pasalnya wajah Minhyun masih pucat dan tubuhnya masih lemas.
"Hyung, aku hanya sakit bukan koma."
Sehun memandang tajam Minhyun namun akhirnya menghela nafas dan mengangguk. Dia sangat menyayangi Minhyun dan menganggap Minhyun adalah adiknya sendiri dan Sehun selalu lemah pada Minhyun. "Baiklah, ayo kita berangkat."
.
.
Sehun menghentikan mobil BMW i8 Silver-nya ketika mereka sudah sampai diparkiran SOPA, Sehun memang sudah memiliki SIM karena usianya sudah 17th dan mobil ini adalah hadiah dari Appanya, Sehun sebenarnya jarang menggunakan mobilnya namun tidak untuk saat ini, dia harus selalu ada disamping sepupunya.
Minhyun tengah melepaskan seat belt ketika pintu disampingnya terbuka dari luar dan pelakunya adalah Kai.
"Selamat pagi, Sayang." Ujar Kai melirik kekasihnya lalu memandang Minhyun. "Dan selamat pagi juga untuk Permaisuri Hwang."
"Pagi, Kai-hyung." Balas Minhyun dengan senyum manisnya.
"Hm."
Kai memutar matanya mendapatkan balasan singkat kekasihnya, dia lalu menggenggam tangan kanan Minhyun. "Permaisuri Hwang, Kau harusnya jangan dulu berangkat. Istirahatlah selama seminggu. Aku tidak mau kau kembali sakit." setelah mengucapkannya Kai mencium tangan Minhyun dengan lembut.
Minhyun hanya tertawa dengan tingkah senior nya tersebut. Seniornya ini memang terkenal dengan julukan Sang Cassanova SOPA dan Minhyun sudah terbiasa akan sikap manis Kai padanya. "Aku pikir empat hari sudah cukup, Hyung. Dan terimakasih karena sudah meminta ijin pada agencyku."
Kai tersenyum tampan, senyum yang melelehkan hati para siswi-siswi SOPA. "Apapun akan aku lakukan untukmu, Permaisuri Hwang." Ucapnya dengan nada puitis.
Sehun hanya memutar matanya melihat tingkah gila kekasihnya.
"Apapun akan kau lakukan untukku?" tanya Minhyun memastikan dan dibalas anggukan mantap Kai, Minhyun lalu tersenyum. "Kalau begitu jaga Sehun-hyung dan jangan pernah meninggalkannya. Kau bisa melakukan itu untukku, Hyung?"
Kai dan Sehun membulatkan matanya mendengar kalimat Minhyun. Lalu Kai tersenyum dan mengelus kepala Minhyun. "Tanpa Minhyunnie mengatakannya juga aku sudah bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak akan meninggalkannya."
"Aku senang mendengarnya."
.
.
"Minhyun-hyung."
Minhyun menghentikan langkah kakinya menuju kelasnya –dengan diantar oleh Sehun ketika ada sosok yang memanggil namanya.
"Ah, Niel-ah." Ujarnya ketika sosok itu bergigi kelinci itu sudah ada didepan keduanya.
"Annyeong, Sehun-sunbae." Sapa Daniel pada sosok ketua OSIS serta wakil ketua club Dance yang ia masuki.
Sehun hanya mengangguk sekilas pada juniornya itu.
"Niel-ah, aku minta maaf karena tidak datang ke tokoh bungamu. Aku benar-benar minta maaf padamu dan Kang Ahjumma." Kata Minhyun dengan ekspresi bersalah pada Daniel. Daniel itu adik kelasnya Minhyun saat SMP dan saat di SMA SOPA mereka satu tingkat karena Daniel mengikuti akselerasi, sayangnya mereka tidak sekelas karena Minhyun mengambil kelas vocal sedangkan Daniel mengambil kelas dance.
Daniel cemberut mendengar ucapan Minhyun. "Hyung, apa yang kau katakan. Aku mendekatimu karena aku ingin mengatakan bahwa kau tidak seharusnya sekolah." Daniel menyentuh kening Minhyun. "Selain wajahmu yang pucat tubuhmu juga dingin, Hyung."
Daniel lalu memandang senior dingin yang adalah sepupu Minhyun dengan cemberut. "Sehun-sunbae, kenapa kau membiarkannya sekolah, Minhyun-hyung harusnya istirahat saja. Bagaimana kalau Minhyun-hyung pisan?"
Sehun memutar matanya mendengar omelan dari junior yang beda usia dua tahun darinya tersebut. "Aku juga sudah menyuruhnya istirahat tapi dia itu kepala batu dan ingin sekolah."
Daniel kembali memandang Minhyun dan memelototkan matanya namun bukannya tampak menakutkan Daniel malah tampak lucu karena matanya yang kecil serta pipinya yang chuby. "Hyunggg, kau ini keras kepala sekali sih jadi orang. Aku tidak mau mendengar Minhyun-hyung sakit. Aku jadi ikut sakit mendengarnya."
Kedua sepupu itu hanya memutar matanya melihat sikap kekanakan Daniel, Daniel itu terkenal karena pembawaannya yang mirip Kai yaitu sexy dan playboy namun sikap Daniel itu sebenarnya kekanakan dan manja pada orang yang dekat dengannya.
"Niel-ah, aku sudah sehat. Aku capek berbaring terus selama empat hari ini." ujar Minhyun dengan nada lembut pada Daniel.
"Ok, ok, ok. Aku percaya kalau Minhyun-hyung sudah sehat tapi biarkan aku juga ikut mengantar Minhyun-hyung sampai ke kelas." Ujar Daniel dengan nada final dan hanya dibalas helaan nafas lelah Minhyun. Kenapa kedua sosok yang sudah ia anggap kakak dan adiknya ini overprotective sekali sih dengannya.
.
.
Ketika Minhyun melangkahkan kakinya kedalam kelasnya –setelah mengusir Sehun dan Daniel secara halus, Minhyun langsung dihadiah berupa pelukan tiga sosok yang sudah dikenalnya siapa lagi jika bukan Jaehwan, Sewoon serta Donghyun.
"Minhyunie, kami semua merindukanmuuu."
Minhyun hanya tersenyum lalu membalas pelukan mereka satu persatu, setelah ketiganya sudah mendapatkan pelukannya kini satu persatu teman sekelasnya yang lain juga memeluknya dan menanyakan kabarnya, Minhyun sangat menyayangi teman sekelasnya dan dia bersyukur mendapatkan teman sekelas yang susah senang bersama-sama.
Minhyun adalah favorit teman sekelasnya maupun guru-guru yang ada di SOPA karena sikapnya yang ramah dan membaur dengan yang lain. Minhyun selalu membantu mereka dalam banyak hal dari menyanyi maupun menari.
.
.
"Kau yakin kuat untuk belajar? Wajahmu sangat pucat dan tubuhmu begitu dingin." Ujar Sewoon pada sahabatanya, dia sangat khawatir ketika Sehun mengirimnya pesan bahwa Minhyun sakit, Sewoon yang saat itu sedang latihan nyanyi langsung berteriak dan akan segera pergi ke apartement Sehun namun gerakannya langsung di cegah oleh pacarnya.
"Tidak apa-apa, aku sudah membaik." Minhyun tersenyum sambil menenangkan Sewoon, Sewoon itu mendapatkan julukan Eomma oleh anak-anak sekelas karena sikapnya yang penyayang dan perhatian seperti seorang Ibu dan juga Sewoon adalah teman pertama Minhyun di SOPA dan mereka berdua sepakat untuk duduk satu bangku.
Sewoon menyentuh telapak tangan Minhyun. "Tubuhmu sangat dingin, kau harusnya memakai jaket."
Minhyun mengernyit bingung sejak pagi orang-orang mengatakan bahwa tubuhnya dingin tapi Minhyun tidak merasakan dingin sama sekali.
"Saat istirahat kau harus cerita pada kami kenapa kau sakit, ok?" ucap Sewoon dengan nada pura-pura tegas dan hanya dibalas anggukan oleh Minhyun karena guru mereka sudah memasuki kelas.
.
.
"Jadi katakan pada kami, Minhyunnie. Apa yang membuatmu sakit?" tanya Sewoon ketika mereka berempat sudah ada di kantin.
Minhyun menghentikan kegiatannya mengambili potongan tomat yang ada didalam menu makan siang sekolahnya lalu menyerahkannya pada Jaehwan. "Aku hanya kelelahan." Jawab Minhyun lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
"Tapi Sehun-sunbae mengatakan kau tidak bisa berjalan." Balas Sewoon, dia lalu memandangi tingkah Minhyun yang menaruh potongan tomat dan memberikannya pada kekasihnya.
"Aku kelelahan karena latihan vocal di Pledis dan saat berjalan pulang keapartement Sehun-hyung aku tidak sengaja terserempet." Minhyun tidak memandang Sewoon sama sekali, dia memandangi makanan miliknya dan ketika dirasa sudah tidak ada tomat lagi, Minhyun langsung memakannya.
"Ada apa dengan kau dan tomat hari ini?" tanya Donghyun membuka suaranya.
Minhyun menggeleng dengan ekspresi polos. "Aku tidak tahu, Aku hanya tidak suka memakan tomat hari ini."
.
.
.
TBC
