Eternal Love
by
Achan Jeevas
.
.
.
.
Chapter 4 : Tears Part II
.
.
.
.
Minhyun tengah membereskan meja belajarnya ketika sesuatu berwarna emas terjatuh dari salah satu buku pelajarannya. Minhyun seketika mengambil benda apa itu dan dia langsung memandang bingung ketika sesuatu yang jatuh itu adalah Gold Card, Minhyun membalikan Gold Card tersebut dan dibelakang Gold Card tersebut ada sebuah tulisan dengan dua huruf.
JR
Minhyun semakin mengernyitkan dahinya dan mencoba mengingat-ingat apakah dirinya dan Sehun mempunyai benda ini namun nihil. Minhyun sudah pasti tidak memiliki Gold Card yang sekilas mirip kartu kredit tersebut namun bertuliskan lambang-lambang aneh dan dibelakangnya hanya ada kata JR. Dan dia ingat jika Sehun juga tidak memiliki Gold Card tersebut karena Sehun itu memiliki Black Card alias kartu kredit yang isinya Unlimited. Tanpa batas.
"Sehun-hyunggg, apakah ini milikmu." Teriak Minhyun pada sepupunya yang ada diruang tamu.
"Apanya yang milikku?" tanya Sehun ketika ia memasuki kamar Minhyun.
Minhyun segera menyerahkan Gold Card tersebut pada sepupunya. "Gold Card ini, apakah ini milikmu?"
Sehun mengambil Gold Card tersebut dari tangan Minhyun. "Ini mirip kartu kredit." Sehun membolak-balikan Gold Card tersebut. "Kau tahu bahwa aku memiliki Black Card bukan Gold Card kan? Jadi sudah pasti bukan milikku."
"Lalu apa Hyung tahu, Bank dengan nama JR? Dibelakang Gold Card tersebut ada tulisan JR."
Sehun memandang bingung Minhyun. "Tulisan?"
Minhyun mengangguk.
Pemuda manis berkulit albino itu membalikkan kembali Gold Crad tersebut dan tidak ada tulisan apa-apa disana. "Tidak ada tulisan apa-apa disini, Minhyun-ah."
Minhyun membulatkan matanya mendengar ucapan Sehun, jelas-jelas matanya melihat tulisan JR disana. Minhyun lalu menunjuk huruf JR disana. "Ini, hyung. Apa kau tidak melihatnya. Dua huruf J dan R. JR."
Sehun memandang jari Minhyun yang menunjuk sesuatu yang kosong dia lalu memandang Minhyun. "Minhyun-ah, tidak ada apa-apa disini. Sudahlah lebih baik kau istirahat saja, sudah kubilang jangan terlalu banyak bergerak."
"Ta-tapi, Hyung. Jelas-jelas itu ada tulisan JR. Apa Hyung tidak melihatnya?"
Sehun menghela nafas lalu menepuk pipi chuby sepupunya. "Lebih baik kau tidur saja, ok. Aku memiliki tugas OSIS yang mengajakku kencan." Dan dengan itu Sehun keluar dari kamar Minhyun setelah mengembalikan Gold Card tersebut.
Minhyun hanya terdiam mematung dan memandang Gold Card ditangannya. "Kenapa Sehun-hyung tidak bisa melihatnya."
.
.
.
"Hoekkk."
Sehun mengerang ketika lagi-lagi mendengar suara tersebut. Sehun menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal dan mencoba kembali ke alam mimpi.
"Hoekk, Hoekkk."
"Aish, yang benar saja." dan dengan itu Sehun langsung bangun dari ranjangnya menuju kamar mandi, tempat dimana asal suara tersebut.
Sehun memandang jam dindingnya yang menunjukan angka setengah tujuh dan sekolah mereka dimulai jam delapan jadi Sehun berharap dia setidaknya tidur lebih lama karena semalam dia harus begadang karena menemani Minhyun bermain game. Harapannya hanya tinggal harapan semata karena sosok yang membuatnya begadang adalah sosok yang juga membangunkannya.
"Minhyun-ah, kau tidak apa-apa?" tanya Sehun sambil menggosok bahu Minhyun, sudah dua minggu berlalu dari sejak kejadian itu dan ini sudah tiga hari berturut-turut Minhyun muntah di pagi hari.
Minhyun segera membersihkan mulutnya ketika dirasa sudah tidak ada lagi yang dikeluarkan, sebenarnya Minhyun tidak mengeluarkan apa-apa hanya cairan-cairan bening kosong. "Aku tidak apa-apa, Hyung. Dan maaf sudah membangunkanmu."
.
.
Minhyun menguap bosan sambil memandangi Jaehwan yang tengah memainkan gitar untuk Sewoon. Saat ini mereka memiliki jam kosong karena guru-guru mereka tengah mengadakan rapat, sebenarnya para murid bisa saja pulang namun para guru melarang hal tersebut dan menyuruh siswa dan siswinya menunggu didalam kelas hingga bell pulang berbunyi.
Minhyun menyenggol lengan Donghyun yang tengah berkirim pesan dengan Youngmin, senior sekaligus pacarnya. "Donghyun-ah, aku ingin melihat club dance."
"Tapi kita tidak dibolehkan keluar." Balas Donghyun, dia juga sebenarnya ingin melihat Youngmin.
"Tidak akan ada guru yang melihat kita, mereka sibuk dengan rapat." Setelah mengucapkannya Minhyun langsung berdiri dari duduknya dan meninggalkan teman-temannya.
Donghyun memandang Minhyun dengan terkejut lalu ikut menyusul sahabatnya tersebut meninggalkan Jaehwan dan Sewoon yang asik dengan dunia mereka sendiri.
.
Sehun terkejut ketika ia memasuki ruang latihan club dance dan melihat sepupunya ada disana.
"Minhyun-ah, kenapa kau ada disini?"
Minhyun hanya memberikan senyum tiga jari ketika melihat sepupunya ada memasuki ruang latihan. "Hehhehe, aku ingin melihat dance kalian semua."
Sehun hanya menghembuskan nafas lelah lalu ikut duduk disamping sepupu manisnya. "Sendirian?" tanyanya lalu memberikan minuman pada sepupunya.
Minhyun mengambil minuman tersebut. "Aku kesini dengan Donghyun." Katanya sambil menunjuk Donghyun yang tengah bercanda dengan Youngmin.
Sehun mengangguk mengerti lalu memperhatikan satu persatu anak-anak yang tengah berlatih didepannya, sebagai wakil ketua klub dance dia selalu mengamati anggotanya dengan baik dan memberikan mereka saran bagaimana menari dengan benar karena kekasihnya yang adalah ketua club dance sudah sibuk karena banyaknya lomba yang akan mereka ikuti.
"Sudah setengah jam aku disini dan aku tidak melihat Instruktur Ong sama sekali, kemana dia Hyung?" tanya Minhyun. Instruktur Ong adalah pelatih club dance SOPA, dia tidak mau dipanggil Seonsangnim karena dia bukan guru dan hanya seorang pelatih dance di SOPA. Instruktur Ong itu memiliki wajah yang tampan, wajahnya bahkan mirip dengan actor-actor drama dan nama lengkapnya itu Ong Seongwoo namun anak-anak memanggilnya Instruktur Ong.
"Lima hari yang lalu Instruktur Ong mengundurkan diri mangkanya Kai jadi lebih sibuk." Jelas Sehun. "Aku jadi merindukan lelucon dan tepukan Instruktur Ong."
Minhyun terkekeh kecil mendengarnya.
"Ngomong-ngomong, Minhyun-ah. Apa kau sudah tahu kalau Daniel akan pindah ke Canada?"
Minhyun membulatkan matanya mendengar ucapan Sehun. "A-apa, Hyung?"
"Kau tidak tahu?" Sehun terkejut ketika Minhyun memandangnya dengan terkejut, pasalnya Minhyun itu sudah dianggap kakak oleh Daniel, tidak mungkin Daniel tidak mengatakan apapun padanya. "Aku mendengarnya tadi pagi dari wali kelasnya. Daniel akan pergi hari ini."
"A-aku tidak tahu, Hyung. Kang Ahjumma bahkan tidak mengatakan apa-apa kemarin ketika aku bekerja di tokoh bunganya." Minhyun berdiri lalu berlari keluar dari ruangan dance tersebut.
"Minhyun-ah, kau mau kemana?"
Minhyun membalikan badannya. "Aku mau ke rumah Kang Ahjumma. Aku bolos, Hyung. Catat namaku." Teriak Minhyun lalu berlari kearah taman belakang SOPA, dimana ada pintu tua yang biasa digunakan anak-anak nakal untuk membolos keluar.
Sehun hanya menggelengkan kepalanya dan memandang kepergian sepupu kesayangannya.
.
.
Daniel memegang tangan kurus Ibunya yang ada dipipinya. "Maafkan aku, Eomma. Aku sudah mengecewakan Eomma dan Appa."
Sang Ibunda menggelengkan kepalanya, dia amat sangat menyayangi putranya tersebut namun takdir macam apa yang menimpa putranya tersebut sehingga menghancurkan semua mimpi-mimpinya. "Tidak, Putraku. Kau tidak mengecewakan kami. Kau akan selamanya menjadi putra kebanggaan Eomma dan Appa."
Daniel memeluk tubuh kurus Ibunya, air mata turun dari pipinya yang setiap hari kehilangan ronanya. "Aku menyayangi kalian."
"Kami juga menyayangimu." Keduanya kini saling berpelukan dengan erat, menyalurkan kehangatan dan rasa sayang.
"Daniel-ah!"
Daniel melepaskan pelukannya pada sang Ibunda ketika ia mendengar suara yang sudah sangat ia hapal tersebut. Ketika Daniel membalikan badannya untuk melihat pemilik suara tersebut dalam seperkian detik ia kembali merasakan tubuhnya dipeluk dengan kencang.
"Minhyun-hyung."
Minhyun memejamkan matanya dan memeluk erat sosok yang sudah ia anggap sebagai adik tersebut. "Kau mau meninggalkanku?"
Daniel tersenyum miris mendengar ucapan sosok yang tengah memeluknya tersebut. "Nde, Maafkan aku, hyung."
Air mata turun dari mata Minhyun. "Jahat sekali kau meninggalkanku."
"Hiks.. Maafkan aku, Hyung. Aku minta maaf karena meninggalkanmu tapi aku harus melakukannya, hiks.. Aku tidak ingin pergi tapi aku harus pergi Hyung.. hiks."
Minhyun melepaskan pelukannya, tangannya mengusap air mata diwajah Daniel. "Kenapa? Kenapa kau harus pergi, Niel-ah."
Pemuda berambut pink itu menggelengkan kepalanya. "Suatu hari aku akan menceritakannya pada, Hyung. Mianhae, dan tolong jaga Eomma untukku."
Minhyun tidak menjawab apapun, dia kembali memeluk tubuh Daniel, menyesapi aroma strawberry segarnya. Matanya kembali mengeluarkan air mata untuk sosok yang sudah ia anggap adik tersebut.
.
.
Sehun menghela nafas lelah lalu melemparkan kertas-kertas berisi data keuangan OSIS, Sehun lalu menyenderkan tubuhnya kebelakang dimana sang kekasih tengah memeluknya dari belakang.
"Wae?" tanya Kai sambil menyesapi aroma Sehun.
Sehun menggeleng lelah. "Ini sudah empat hari setelah kepindahan Daniel ke Canada, berarti sudah seminggu Minhyun muntah-muntah dipagi hari. Aku khawatir kondisinya."
Kai mencium pipi putih Sehun lalu terkekeh kecil. "Coba saja belikan dia tespack, mungkin saja dia hamil. Hahahha."
Sehun mematung mendengar ucapan kekasihnya lalu menggeplak kepala kekasihnya. "Tidak lucu." Ujarnya dengan datar dan hanya dibalas berupa ciuman bertubi-tubi dari Kai.
Dalam hati Sehun memikirkan ucapan Kai, Kai tidak mengetahui kejadian yang menimpa Minhyun karena Sehun tidak mengatakannya dan biarlah menjadi rahasia antara dia dan Minhyun. Sehun membuat note diotaknya setelah pulang sekolah dia akan membeli tespack, dia tahu pikirannya gila tapi tidak ada salahnya mencoba.
.
"Kau yakin tidak mau ku antar pulang?" tanya Kai pada kekasihnya setelah latihan dance mereka selesai.
Sehun mengangguk yakin. "Aku akan pulang naik bus."
Siswa paling populer di SOPA itu menghela nafas melihat mata kekasihnya, dia lalu memeluk pinggang ramping Sehun dan mencium dahinya. "Kau tahu aku paling benci ketika kau mengetahui seluruh isi pikiranku dengan baik tapi aku tidak mengetahui apa yang kau pikirkan sama sekali."
Sehun mendorong dada bidang Kai dengan lembut. "Maafkan aku."
Kai mengangguk mengerti lalu menaiki motor sportnya, di sekolah dia suka memakai motor ketimbang mobil.
.
.
Mata Minhyun melebar ketika Sehun menjatuhkan benda-benda aneh didepannya yang tengah memakan es krim. "Apa itu, hyung?"
Sehun tidak mempedulikan ucapan sepupunya, dia mengambil alat tersebut dan menyerahkannya pada sepupunya. "Masuk kekamar mandi dan pakai ini."
Minhyun meletakan es krimnya lalu mengambil benda-benda yang baru pertama ia lihat itu. "Tespack? Hyung, apa kau gila? Kau menyuruhku untuk memakai barang yang biasanya dipakai perempuan?"
"Aku tahu aku gila tapi ini adalah satu-satunya cara agar pikiran gilaku menjadi waras." Sehun mengacak rambutnya sendiri. "Cepat masuk kekamar mandi dan gunakan semuanya, aku membeli 10 tespack dengan merk yang berbeda-beda, jika hasilnya hanya satu garis kau negative tapi jika dua artinya positif dan aku berharap –kita berdua berharap hasilnya yaitu hanya satu garis."
"Aku tahu arti dari satu dan dua garis, Hyung. Siswi-siswi dikelasku juga pernah ada yang membawa ini." setelah itu Minhyun berdiri dan membawa sepuluh tespack tersebut.
.
Minhyun memandang pada stik putih ditangannya, dia bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya sekarang. Demi tuhan, dia bahkan tidak tahu caranya berpikir sekarang, isi kepalanya hanya blank. Dia tidak bergerak sama sekali. Minhyun tidak akan bereaksi seperti ini ketika ia melihat hasil yang sama pada tespeck kesepuluhnya. Kesepuluhnya memiliki hasil yang sama yaitu dua garis merah, setidaknya jika ada satu yang salah dia masih bisa bernapas lega tapi.. semuanya mengeluarkan dua garis merah.
"Minhyun, kau sudah didalam selama 20 menit. Keluar sekarang, kau membuatku mati penasaran."
Teriakan Sehun membuat pikiran Minhyun tersadar, dia membalikan badannya dan mengambil seluruh tespack tersebut.
"Bagaimana? Katakan padaku bahwa harapan kita berdua terkabul."
Untuk kesekian kalinya selama dua minggu terakhir ini, air mata turun dari mata indah Minhyun, dia memberikan kesepuluh benda itu ketangan Sehun.
Sehun segera mengambilnya dan melihatnya satu persatu.
"Positive." Jantung Sehun berdetak sangat cepat ketika melihat hasil tespack pertama.
"Positive. Positive. Positive." Kini tangannya sudah gemetaran melihat hasil tespack berikutnya.
"Positive. Positive." Air mata juga akhirnya turun dipipi Sehun. "Hiks.. Positive. Positive. Hiks hiks Positive. Positive." Sehun menjatuhkan semuanya dan memandang Minhyun yang sudah gemetaran.
"Hiks hiks, Hyung. Katakan bahwa ini hanya mimpi buruk, Hyung. Hiks." Ucapan Minhyun hanya dibalas pelukan oleh Sehun.
"Minhyun-ku.. Minhyun-ku yang malang. Maafkan Hyung yang tidak bisa menjagamu dengan baik. Hiks, maafkan Hyung, sayang."
.
.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, hyung?"
Sehun menghentikan kegiatannya mengiris wortel ketika suara Minhyun memasuki dapur, setelah menangis karena hasil positive dari tespack membuat Minhyun pingsan seketika dan Sehun membawanya kekamar.
"Jangan bertanya padaku, Minhyun. Semuanya ada ditanganmu."
Minhyun mendudukan dirinya dikursi yang ada disana lalu memandang perutnya yang masih rata.
Sehun menyentuh tangan dingin Minhyun dengan lembut. "Tapi satu yang aku tahu, kau harus keluar dari Pledis. Tekanan menjadi trainee tidak baik untukmu.. untuk kalian."
"Tapi menjadi penyanyi adalah impianku, Hyung. Aku ingin bertemu dengan Xiah Junsu, Hyung. Aku ingin satu panggung dengannya dan menyanyikan lagu Yesterday bersamanya."
Sehun tersenyum mendengar ucapan sepupunya, bukan rahasia lagi jika sepupunya ini sangat mengidolakan penyanyi papan atas yang memiliki suara seperti lumba-lumba itu. Minhyun sangat mengagumi sosok Idolanya.
"Kalau begitu kau harus menggugurkannya."
Minhyun seketika mendongak dan memandang tidak percaya pada sosok yang dikenal dengan julukan Ice Prince di SOPA itu. "Menggugurkannya? Membunuh sosok yang tidak berdosa ini?"
"Semuanya ada ditanganmu, Minhyun. Semuanya kembali pada pilihanmu."
.
.
Minhyun memandang kosong langit-langit kamarnya, besok adalah hari minggu jadi dia ada apartement Sehun. Tangannya secara perlahan menyentuh perutnya. "Bagaimana kau bisa ada disana? Bagaimana kau bisa hadir diperutku?"
Air mata kembali membasahi pipinya, Minhyun memang sering menangis tapi dia selalu menangis untuk orang lain, dia menangis ketika Noonanya menikah, dia menangis ketika Sehun mengatakan bahwa Kai menembaknya, dia menangis ketika Jaehwan dan Sewoon bertengkar, dia menangis ketika Ayahnya harus dioperasi, dia menangis karena Daniel menangis tapi dia tidak pernah menangisi dirinya sendiri.
"Aku pikir hanya bekas gigitan Ayahmu yang menjadi kenangan bahwa dia pernah hadir dihidupku tapi… dia memberikanmu padaku dan aku akan menjagamu seumur hidupku."
.
.
.
.
TBC
