Eternal Love
by
Achan Jeevas
.
.
Don't Like, Don't Read and Don't Plagiat
.
.
Chapter 5 : Red Daisy
.
.
.
Minhyun menciumi aroma bunga daisy berwarna merah ditangannya, aromanya begitu segar karena baru saja dipetik.
"Minhyunie dan daisy merah adalah kombinasi yang indah."
Minhyun menghentikan kegiatannya menciumi aroma bunga daisy lalu memandang malu pada Kang Ahjumma yang memergoki kegiatan anehnya. "Kang Ahjumma, Mianhamnida."
Kang Ahjumma hanya mengacak rambut Minhyun. "Untuk apa meminta maaf, hm? Ahjumma selalu bersyukur kau ada disini sehingga Ahjumma tidak merasa kesepian."
Minhyun hanya tersenyum lalu memeluk sosok wanita paruh baya tersebut, hingga hari ini kedua orang tua Daniel masih bungkam mengenai kepergian Daniel ke Canada bahkan e-mail Minhyun juga tidak dibalas oleh Daniel. Minhyun selalu berdoa semoga saja Daniel baik-baik saja dimanapun berada.
.
.
Minhyun memelankan langkah kakinya ketika melewati restaurant pizza didepannya, Minhyun menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan mengantarkan bunga lily ditangannya, namun matanya masih mencuri-curi pandang ke restaurant tersebut.
Minhyun membuang nafas lalu menggembungkan pipinya yang sudah chuby itu. Tanpa Minhyun sadari ada sosok berambut coklat memandanginya dari tadi.
.
.
Minhyun mendudukan dirinya dibelakang meja tokoh bunga milik Kang Ahjumma setelah mengantarkan bunga lily pada pemesannya, dia mengigit bibirnya dan masih membayangkan pizza di restaurant tadi.
Cling Cling
Minhyun segera berdiri dan membungkuk pada pembeli yang baru saja membuka pintu tokoh. "Selamat datang di Kang Flower, ada yang bisa saya bantu?"
Sang pembeli yang baru memasuki tokoh tersebut memandangi sekelilingnya yang dipenuhi dengan berbagai bunga. "Aku memiliki teman, dia menyuruhku untuk membeli bunga untuk orang yang ia sukai diam-diam."
Minhyun tersenyum mendengar ucapan pembeli didepannya. Dia sudah hampir satu tahun bekerja disini dan ucapan sosok didepannya bukan hanya sekali ia dengar tapi puluhan kali, banyak pembeli yang juga mengatakan hal yang sama. "Kalau boleh saya tahu, sosok orang yang disukai teman anda itu seperti apa? Apakah anda mengetahuinya?"
Sosok tampan berambut coklat itu mengangguk. "Dia sering menceritakannya padaku, orang yang disukainya itu sangat cantik tapi dia sendiri tidak pernah sadar jika dia cantik, dia juga orang yang tulus dan sederhana."
Minhyun mengangguk mengerti. "Aku pikir Daisy merah cocok untuk sosok yang disukai oleh teman anda." Minhyun mengambil beberapa bunga daisy merah. "Daisy merah memiliki arti kecantikan yang tidak diketahui pemiliknya, cinta, tulus, sederhana, cinta yang jauh dari gairah yang berlebihan, dan cinta diam-diam."
"Baiklah, aku ambil itu. Temanku pasti suka."
Minhyun tersenyum lalu dengan cekatan menata bunga daisy merah itu.
"Ngomong-ngomong namaku Jung Jaehyun."
"Salam kenal, Jaehyun-sshi. Namaku Minhyun."
Laki-laki tampan itu mengangkat satu alisnya. "Minhyun?"
"Yup, Itu namaku."
Jaehyun lalu terkekeh kecil dan membuat Minhyun memandangnya bingung.
"Ada yang salah dengan namaku, Jaehyun-sshi?"
"Tidak, maafkan aku. Hanya saja namamu mirip dengan sosok yang disukai oleh temanku."
Mendengar ucapan Jaehyun membuat Minhyun juga ikut tertawa. "Kebetulan sekali."
Minhyun segera memberikan buket bunga daisy pada Jaehyun. "Semoga sosok Minhyun yang disukai oleh teman anda menyukainya."
Jaehyun mengangguk lalu memberikan uang pada Minhyun. "Minhyun-sshi, aku apa kau mau pizza? Aku membeli pizza sebelum kesini tapi ternyata aku salah membeli pizza, daripada aku buang lebih baik aku berikan saja padamu, Minhyun-sshi."
Minhyun memandang kotak pizza yang ada ditangan Jaehyun, dia langsung menggeleng. "A-ah tidak usah, Jaehyun-sshi. Lebih baik kau berikan saja pada orang lain."
"Tapi aku ingin memberikannya padamu, Minhyun-sshi. Tolong terimalah, aku tidak memiliki teman lain selain teman-temanku. Apa kau ingin aku membuang pizza ini?" Jaehyun mendorong kotak pizza tersebut didepan Minhyun.
"Jangan dibuang Jaehyun-sshi, masih banyak orang kelaparan diluar sana dan kau malah membuangnya." Omel Minhyun pada sosok tampan Jaehyun.
"Kalau begitu aku ingin Minhyun-sshi menerimanya." Desak Jaehyun.
Minhyun menghela nafas dan lalu mengangguk kecil. "Baiklah, aku menerimanya."
Jaehyun langsung tersenyum mendengar ucapan Minhyun. "Begitu dong, Minhyun-sshi."
.
Minhyun memakan potongan keempat pizza dari Jaehyun dan langsung memejamkan matanya karena rasa nikmatnya. Minhyun berpikir jika saat ini takdir tengah menyayanginya karena pizza yang Jaehyun berikan padanya adalah pizza yang tidak ada keju dan tomatnya, entahlah akhir-akhir ini Minhyun sedang menjauhi makanan yang ada keju dan tomat.
.
.
"kkok ojeyeotdeon geot gata baraeji anneun geunal, yunanhi nuni malkatdeon ai gatdeon neo ijen." Minhyun melangkahkan kakinya menuju apartement Sehun sambil bernyanyi lagu favoritenya dari Idolanya, tangan kanannya menggenggam kotak pizza dari Jaehyun yang masih tersisa tiga potong untuk ia berikan pada Sehun.
Minhyun menghentikan langkah kakinya setelah tepat berada didepan pintu apartement hyung kesayangannya, niatnya hanya memberikan pizza ini lalu Minhyun akan kembali ke dorm agency untuk berlatih namun sesuatu mengusik penglihatan Minhyun.
Mata Minhyun membesar ketika melihat buket bunga daisy yang ia ingat betul berada didepan pintu apartement Sehun. Minhyun berjongkok untuk mengambil bunga tersebut dan dia yakin 100% jika itu adalah buket bunga daisy berwarna merah yang sama yang dibeli Jaehyun untuk temannya. Minhyun mengambil kertas kecil yang ada ditengah-tengah buket bunga dan membacanya.
To : Hwang Minhyun
Aku iri ketika kau tersenyum manis pada Jaehyun, andai kau memberikanku senyuman yang sama tapi aku membuatmu menangis.
Minhyunie, apa yang ingin aku ungkapkan padamu adalah seluruh arti dari Daisy merah yang kau tata ini.
JR
Minhyun hampir menjatuhkan bunga daisy itu ketika membaca inisial yang sama dengan Gold Card yang ia temukan dikamarnya tempo hari.
Minhyun memandang bunga daisy merah itu, bunga itu tampak lebih merah dari yang ia berikan pada Jaehyun, Minhyun membuka pintu apartement Sehun setelah memasukan passwordnya.
"Sehun-hyung, aku membawa pizza untukmu." Teriak Minhyun sambil menciumi aroma bunga daisy merah itu, aromanya tampak berbeda namun Minhyun lebih suka aroma yang sekarang ketimbang saat dia memberikannya pada Jaehyun.
Sehun langsung merebut kotak pizza dari tangan Minhyun dan memandang bingung Minhyun yang tengah menghirupi aroma bunga daisy berwarna merah aneh dengan menutup mata sambil tersenyum indahnya. "Sedang apa kau?"
Minhyun membuka matanya lalu mendekatkan buket daisy ke hidup Sehun. "This smell is so nice, Hyung."
Sehun langsung menjauhkan hidungnya ketika Minhyun mendekatkan buket itu. "Apa maksudmu dengan nice, bunganya berbau aneh."
"Apa maksudmu dengan berbau aneh, hyung." Minhyun mendekatkan kembali bunga daisy kehidungnya. "Kau yang aneh hyung, baunya sangat enak."
Sehun memandang aneh Minhyun. "Selain baunya aneh, warnanya juga tampak aneh. Daisy merah tidak sepekat merah seperti itu." ujarnya sambil menunjuk bunga ditangan Minhyun. "Bunga itu tampak seperti diciprati oleh…. darah."
Minhyun memandang horror sepupunya dan memandang daisy ditangannya dengan baik-baik, tangan kanannya lalu menyentuh salah satu daisy tersebut dan melihat jarinya yang tadi menyentuh kelopak daisy, disana dijari telunjuknya terdapat bercak berwarna merah.
Nafas Sehun tercekat melihat jari telunjuk sepupunya sedangkan Minhyun hanya memandang kosong dan dengan perlahan mendekatkan jari telunjuknya kemulutnya dan menjilatnya. Satu jilatan kecil itu memiliki efek yang mendalam pada tubuhnya, Minhyun merasakan bahwa kelelahan yang sering ia rasakan akhir-akhir ini menghilang tanpa bekas, ia merasakan energy nya yang hilang kembali lagi, juga perutnya tidak lagi merasa mual.
"Mi-minhyun-ah, matamu."
Minhyun langsung memandang sepupunya. "Apa, hyung?"
Sehun memundurkan tubuhnya, dia menggeleng dan menyentuh kepalanya. "Tidak apa-apa, hanya halusinasiku saja karena aku kelelahan. Aku akan kekamar untuk beristirahat." Tanpa banyak kata Sehun membalikkan badannya meninggalkan sepupunya.
Sehun memejamkan matanya, dia tidak mungkin salah melihat kalau sekilas mata Minhyun berubah berwarna merah. Semerah darah.
.
.
.
Minhyun memcengkeram perutnya, sudah seminggu sejak ia mengetahui bahwa ada sosok yang hidup diperutnya dan sejak kemarin dia selalu merasakan rasa keram pada perutnya seakan-akan sosok yang tengah berada diperutnya itu memakan organ-organ dalamnya.
"Akhhhh.. Stop.. please ssstop!"
"Minhyun-ah." Sehun membuka pintu kamar Minhyun yang tidak terkunci, ekspresi panic sangat kentara diwajahnya. Sehun menyentuh dahi Minhyun yang mengeluarkan banyak keringat.
Minhyun kini mencengkeram baju sepupunya. "Sehun-hyungg, tolonggg. Ssakit Hyung, sakittt. Seakan-akan dia memakan organ perutku, Hyung. Akhhhh."
Mata Sehun melebar mendengar ucapan Minhyun, tangannya menyentuh perut Minhyun dan memejamkan matanya.
"Akh." Beberapa detik kemudian Sehun menjauhkan tangannya dari perut Minhyun ketika merasakan tendangan kecil tak kasat mata.
Janin yang ada diperut Minhyun tidak suka kegiatan makannya terganggu dan ucapan Minhyun benar, janin itu tengah meminumi darah Minhyun dan berencana memakan organ perut Ibunya. Sehun tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Akhhhh!" Minhyun mencengkeram selimutnya ketika rasa sakit itu tidak mereda sama sekali.
Sehun langsung berdiri dan keluar dari kamar Minhyun menuju kamarnya sendiri, dia memiliki sesuatu yang dibutuhkan Minhyun dan janinnya.
Sehun membuka tasnya dengan cepat dan mengambil benda yang ia cari, didalam tasnya ada dua benda yang sama. Sehun tahu hari ini akan datang, mangkanya dia sudah menyiapkan sejak Minhyun mendapatkan bunga daisy berdarah itu.
Sehun berlari menuju dapur untuk mengambil gelas, dia masih mendengar erangan sakit sepupunya. Sehun segera merobek kantung itu dan menuangkan isinya di gelas dan segera menuju ke kamar Minhyun.
"Minhyun, minum ini."
Minhyun membuka matanya dan memandang Sehun yang tengah membawa gelas berisi sesuatu yang berwarna merah kental. "A-apa ituu, Hyung. Akhhh."
"Darah."
Minhyun ingin mengatakan bahwa sepupunya gila namun rasa sakit diperutnya kembali menyerang. "Akhhhh."
Sehun mendudukan dirinya dan mendekatkan gelas berisi darah itu di bibir Minhyun. Minhyun segera meneguk isi dari gelas tersebut.
"Pelan-pelan, Minhyun." Ujar Sehun sambil membantu sepupunya.
Setiap tegukan yang masuk ketenggorokannya membuat rasa sakit yang mendera diperut Minhyun berangsur-angsur menghilang. Minhyun terus meminum cairan kental itu hingga tanpa sisa setetespun.
Sehun meletakan gelas itu meja belajar Minhyun dan membersihkan sisa yang ada disekitar sudut bibir Minhyun.
Minhyun lalu memeluk Sehun dengan lemas. "Aku monster, Hyung. Aku monster."
"Shh." Sehun menciumi rambut Minhyun. "Kau bukan monster. Kau adalah Hwang Minhyun. Sosok keluarga yang paling aku sayangi. Jangan pernah menyebut dirimu monster. Tidak ada monster seindah Hwang Minhyun."
"Kau harusnya meninggalkanku, hyung."
"Tidak ada keluarga yang meninggalkan keluarganya sendiri. Aku menyayangimu, Minhyun-ah." Sehun mengelus bahu Minhyun dengan lembut.
"Aku juga menyayangimu, Hyung."
Setelah malam yang panjang itu kini Minhyun terus meminum darah sehari dua kali dan Sehun akan selalu ada disampingnya menemaninya. Walaupun Minhyun tidak menyukainya tapi Sehun terus mendesak karena itu untuk kebaikan Minhyun dan sang janin.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Thank You
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
