Eternal Love

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

Chapter 7 : Red String Of Blood Part I

.

Benang merah berdarah ini telah mengikat takdir kalian bersama.

.

.

"Sehun-hyungggg."

Mendengar namanya dipanggil membuat Sehun segera berlari menuju kamar sepupunya. "Minhyun kenapa kau–" mata Sehun melebar memandang tubuh sepupunya.

"Hyunggg."

"Pe-perutmuu…" Sehun mendekati sepupunya. "Bagaimana bisa, Minhyun-ah."

Minhyun menggeleng, dia memandang perutnya yang tiba-tiba saja sudah membesar seperti ini padahal semalam dia yakin perutnya masih kecil dan tidak terlihat tapi bagaimana bisa hanya dalam hitungan jam kini perutnya seperti perempuan yang tengah hamil tiga bulan. "Aku sendiri tidak tahu, hyung. Hyung, bagaimana ini?"

"Tidak ada pilihan lain, Minhyun-ah. Kau harus pulang ke Busan. Sudah saatnya kita memberitahukan Ahjumma dan Ahjusshi tentang kondisimu."

"Hyung, aku takut. Aku takut Eomma dan Appa akan kecewa padaku, Hyung."

Sehun memeluk tubuh Minhyun. "Ahjumma dan Ahjusshi terlalu menyayangimu dan aku akan selalu ada disampingmu."

.

.

LONDON

"Halo, Sepupu."

Sosok tampan yang tengah fokus pada buku ditangannya seketika mendongak. "Ada apa S. Coups?" dia tidak terkejut sosok sepupu psikopatnya ada didepan matanya.

Sosok yang dipanggil S. Coups mencibir sosok didepannya. "Aku hanya ingin mengatakan kepada sepupuku ini bahwa sebentar lagi, akulah yang akan mewarisi tahta kerajaan vampire. Dan kau serta seluruh keluargamu akan kutendang dari dunia ini."

"Aku tidak peduli dengan tahta kerajaan tapi aku peduli dengan keluargaku. Sebelum kau menyentuh keluargaku, kau harus membunuhku lebih dulu."

Seringai S. Coups semakin melebar mendengar ucapan sepupunya itu. "Tenang saja, JR. Saat aku membunuh keluaragmu kau sudah tidak ada didunia ini."

Sosok tampan yang dipanggil JR itu sudah akan membuka mulutnya ketika tiba-tiba saja ada sosok sahabatnya memasuki ruangannya. "JR, Lord U-Know memanggil… mu."

S. Coups memandang sosok yang baru saja mengganggu percakapannya dengan sang sepupu. "Aron-ku yang maniss, lama tidak berjumpa denganmu."

Aron memandang jijik pemuda didepannya, pemuda yang telah memporak porandakan hidupnya. "Aku bukan milikmu dan aku lebih senang berada di neraka ketimbang bertemu denganmu."

Wajah S. Coups pura-pura sakit hati mendengar ucapan pedas mantan kekasihnya. "Jangan seperti itu, Sayang. Karena dalam waktu dekat ini aku akan menjadi Raja-mu dan kau akan menjadi Ratuku… lagi." Setelah mengatakan hal tersebut S. Coups langsung menghilang dari pandangan JR dan Aron.

"Dia tidak berubah tetap Choi Seungcheol yang dulu." Ucap JR sambil menarik Aron untuk keluar dari perpustakan manson keluarganya yang ada di London.

Aron mengangguk, dia menyentuh lengan pangeran vampire disampingnya. "Jangan biarkan dia menjadi Raja, JR. Harus kau yang menjadi Rajanya."

JR tersenyum kecil. "Kau akan menjadi Ratu jika S. Coups yang menjadi Raja Vampire. Kau tidak mau menjadi Ratu?"

"Aku hanya ingin menjadi Aron. Hanya Aron."

.

.

SEOUL

Sewoon menyentuh lehernya ketika rasa haus akan sesuatu menyerangnya, dia mengigit bibir bawahnya, nafasnya memburu dan peluh keluar dari tubuhnya.

"Sewoon? Ada apa?" tanya Jaehwan pada kekasih manisnya, mereka sat ini tengah berjalan pulang menuju rumah Sewoon. Jaehwan mengusap peluh yang ada didahi kekasihnya.

"Ti-tidak apa-apa." Ujar Sewoon namun tubuhnya hampir jatuh jika saja Jaehwan tidak memeganginya.

"Sewoon." Kini kepanikan melanda Jaehwan, dia mencengkeram kedua lengan Sewoon agar tidak terjatuh.

Sang ketua kelas vocal 1A kini memandang wajah kekasihnya dengan tatapan tidak fokus, Sewoon memandang leher kekasihnya. "Pergilah, tinggalkan aku."

"Kau bodoh yah, bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini." dan setelah mengucapkan kata itu Jaehwan langsung menggendong Sewoon dengan gaya piggy back. "Pegangan dengan erat jika kau tidak ingin jatuh." Perintahnya.

Sewon memegang erat leher Jaehwan, matanya terpejam agar tidak melihat leher menggoda kekasihnya, nafasnya kian memburu. "Ja-jaehwannn."

"Ada apa denganmu sebenarnya? Dari tadi pagi sifatmu aneh." Omel Jaehwan, memang dari tadi pagi kekasihnya ini menghindari teman-temannya bahkan dirinya yang notabenya adalah pacarnya.

Sewoon tidak mengucapkan apapun, tubuhnya lemas yang bisa ia lakukan hanya menyebut nama kekasihnya terus menerus.

.

.

SHANGHAI

"Mau kemana kau?" tanya sosok darah jelita pada sosok tampan didepannya yang tengah membereskan baju-bajunya dengan kekuatan sihirnya.

"Aku akan ke Korea, Aku mendapat penglihatan bahwa aku harus menceritakan semuanya kepada keponakan-keponakanku." Jelas sang pemuda tampan, matanya memandangi jendela kamarnya yang memperlihatkan pemandangan berupa pohon-pohon besar.

Sosok cantik itu mendudukan dirinya diranjang king size sang pemuda. "Aku harap dengan mereka berdua mengetahui siapa jati diri mereka maka dunia supernatural ini bisa kembali seperti 15 tahun yang lalu."

"Aku juga berharap begitu, Hyuna." Pemuda tampan itu memandang nanar pada langit malam yang tak seindah dulu. "Akibat perang yang terjadi lima belas tahun yang lalu membuat kita semua seperti ini. Sudah banyak pihak yang menderita karena kekacauan konflik yang berasal dari keserakahan."

Sosok cantik bernama Hyuna memandang punggung sahabatnya. "Saat kau menceritakan semuanya kepada mereka berdua, kau harus berada disamping keduanya untuk menjaga mereka, Kris."

Kris menggelengkan kepalanya. "Keduanya sudah memiliki pelindung mereka sendiri."

Hyuna mengangguk mengerti, Kris adalah Warlock, dia mengetahui apa yang makhluk lain belum ketahui tapi walaupun begitu Hyuna tahu semuanya karena dia adalah Vampire berdarah murni yang memiliki belahan jiwa seorang Alpha manusia serigala.

Lima belas tahun yang lalu terjadi sebuah perang besar antara clan Vampire karena perebutan tahta namun perang besar itu berimbas pada semua makhluk supernatural lainnya karena mereka juga ikut dalam perang besar itu.

Para Dewa marah besar ketika kekuatan yang mereka berikan pada kaum supernatural hanya menimbulkan perang, sebagai hukumannya para Dewa melarang antar kaum untuk saling berinteraksi satu sama lain dan semua itu berimbas pada kaum half-blood, darah campuran, kaum yang memiliki dua darah pada tubuhnya.

Banyak para half-blood yang mati terbunuh atas perintah para Dewa. Sejak saat itu Vampire menjadi kaum yang paling dibenci oleh makhluk supernatural lainnya. Hanya ada sedikitnya kaum half-blood yang selamat dan bersembunyi hingga sekarang, seperti dirinya dan suaminya.

Kris mengambil hp yang ada pada saku celananya lalu menelpon seseorang. "Sehun-ah, kau ada dimana?"

'Aku ada di Busan, Ge. Ada apa?'

"Kerumah keluarga Hwang?"

'Iya, Ge.'

"Baiklah gege akan kesana ada yang ingin gege sampaikan pada kalian semua."

'Baiklah Ge.'

Kris menutup teleponnya dan memandang Hyuna.

"Good luck."

.

.

SEOUL

Jaehwan menurunkan tubuh Sewoon dengan perlahan ketika mereka sudah ada didepan pintu rumah besar milik Sewoon, maklum saja orang yang telah melahirkannya adalah seorang penyanyi terkenal di Korea.

"Aku akan mengantarmu masuk kedalam."

Sewoon menggeleng dengan pelan, tubuhnya masih lemas dan rasa haus ditenggorokannya kian menjadi-jadi. "Pulanglah, kau pasti kelelahan habis mengikuti lomba."

"Aku tidak mungkin bisa beristirahat dengan tenang ketika melihat kekasihku dalam kondisi seperti ini." kesal Jaehwan, dia menarik tangan lembut kekasihnya dan berjalan masuk menuju gerbang rumah kekasihnya.

"Sewoon."

Gerakan Jaehwan yang mendorong gerbang rumah Sewoon terhenti karena mendengar suara merdu yang memanggil nama kekasihnya. Jaehwan dan Sewoon membalikan tubuh mereka untuk memandang siapa gerangan pemilik suara tersebut.

"Hyungg…" ujar Sewoon dengan nada lemas ketika melihat sosok tampan berambut coklat didepannya.

Sosok tampan itu mendekati Sewoon dan tanpa mempedulikan Jaehwan ia menyentuh pipi berisi adiknya. "Kau pucat."

Mata Jaehwan melebar ketika melihat sosok yang tidak pernah ia ketahui itu dengan seenaknya menyentuh pipi ponyo kesayangannya. "Siapa kau?"

Sosok tampan berambut coklat kini memandang Jaehwan dengan datar. "Namaku Jung Jaehyun dan aku adalah kakak Sewoon."

"Kakak?" Jaehwan kini memandang kekasihnya. "Kau tidak pernah bilang kau punya kakak."

Sewoon tersenyum kecil. "Dia kakakku, aku akan menceritakannya malam nanti. Sekarang pergilah Jaehwan, kau harus beristirahat."

Jaehwan memandang keduanya dan dia merasa keduanya tidak memiliki persamaan apapun, kecuali sama-sama memiliki suara merdu dan kulit putih saja. "Baiklah, aku akan pulang. Ingat nanti malam kau harus menelponku."

Jaehwan mendekati kekasihnya dan mencium kening Sewoon lalu membungkuk pada Jaehyun.

Jaehyun mengangguk singkat pada Jaehwan lalu membawa adiknya kedalam rumah sosok yang telah melahirkan mereka.

"Ini." Jaehyun menyodorkan kantung darah didepan wajah adiknya ketika dia sudah mendudukan adiknya.

Sewoon hanya memandang kosong kantung darah tersebut lalu memandang wajah kakaknya.

Jaehyun memutar matanya mendapatkan reaksi seperti itu dari adiknya. "Tenang saja, aku membelinya dirumah sakit. Ini buktinya." Jaehyun melemparkan kertas berisi tanda bayar dipangkuan adiknya.

Sewoon mengangguk mengerti lalu mengambil kantung darah tersebut dan meminumnya dengan perlahan. Sedikit demi sedikit wajah pucatnya kembali merona dan bersinar. "Terimakasih, hyung."

Jaehyun mengangguk lalu mendudukan dirinya disamping adiknya. "Kenapa kau sampai telat makan, heh?"

"Persediaan kantung darah habis dan Eomma sibuk dengan album barunya." Jelas Sewoon lalu kembali meminum kantung darah tersebut.

Jaehyun mengelus rambut adiknya dengan sayang, walaupun mereka berbeda jalan namun mereka memiliki darah yang sama.

"Jangan pergi, hyung. Eomma merindukanmu. Setiap hari kelahiranmu, dia akan membuka kotak yang bertulis namamu dan berakhir menangis."

Jaehyun menundukan kepalanya, mereka memiliki orangtua yang sama namun Jaehyun harus mengikuti jejak Ayah mereka dan adiknya haruslah berada disamping Ibu mereka.

"Berikan salamku pada Eomma." Setelah mengatakannya Jaehyun berdiri dan mencium kepala adiknya dan berjalan keluar dari rumah melalui jendela karena ia merasakan aroma darah Ibunya tengah mendekat. Sewoon hanya memandang kosong kepergian hyung nya itu.

"Sewoonie, Eomma membawakan daging untuk makan malam kita." terdengar suara merdu dari arah pintu utama rumah mereka.

Sewoon segera berdiri dan membuang kantung darah yang sudah habis itu lalu mendekati sosok orang yang telah melahirkannya. "Tumben Eomma pulang sore."

Seunggi hanya tersenyum lalu mengelus rambut putra bungsunya. "Eomma sengaja meminta manajer untuk pulang sore. Maafkan Eomma yang akhir-akhir ini pulang malam terus, nde."

Sewoon mengangguk. "Aku mengerti, Eomma."

Keduanya lalu berjalan menuju ruang makan untuk segera menyantap daging sedap tersebut.

"Eomma."

"Nde, chagi?" tanya Seunggi sambil memandang anaknya itu.

"Jaehyun-hyung memberi salam."

Mendengar ucapan putra bungsunya senyum dibibir Seunggi menghilang, digantikan ekspresi mendung pada wajahnya namun ia langsung tersenyum kecil. "Nde. Eomma menerima salam itu."

Seunggi lalu mengambil daging didepannya dan memakannya, dia tidak berani menatap mata putra bungsunya itu.

Sewoon menyentuh tangan sosok yang paling ia sayangi itu. "Eomma.. Sewoonie disini, Eomma tidak sendirian."

Air mata akhirnya turun dari mata indah Seunggi, dia memeluk tubuh putra kecilnya itu. "Eomma tahu Sewoonie ada disini, hanya saja.. Eomma sangat merindukan hyung-mu itu. Eomma sangat merindukannya, sayang. Hati seorang Ibu mana yang tidak hancur ketika harus bersumpah untuk tidak akan bertemu dengan putra yang ia lahirkan sendiri."

Sewoon membalas pelukan Ibunya, memberikan kehangatan yang diinginkan sang ibunda.

Seunggi menciumi aroma putra bungsunya tersebut, ingatan lima belas tahun yang lalu melanda pikirannya. Ia ingat, setelah perang besar lima belas tahun yang lalu para kaum yang memiliki darah campuran haruslah memilih satu kubu atau mati. Dan dia yang memiliki dua putra dari seorang Vampire harus merelakan putra tunggalnya mengikuti jejak Ayah mereka dan bersumpah untuk tidak pernah saling berinteraksi satu sama lain.

Sewoon yang berada dipihak Ibunya bagaimanapun juga darah ayahnya tetap ada dalam tubuhnya, Sewoon tentunya harus meminum darah namun Seunggi selalu memberikan darahnya sendiri pada putranya, ia tidak mau putranya haus darah orang lain.

"Sewoonie sudah minum?"

Sewoon mengerti ucapan Ibunya, minum disini bermaksud minum darah dan dia mengangguk. "Jaehyun-hyung tadi membelikanku kantung darah."

Mendengar hal itu membuat Seunggi senang, walaupun ia tidak boleh berjumpa dengan Jaehyun namun kedua putranya tetap diperbolehkan untuk saling berinteraksi dan itu sudah cukup untuknya.

.

"Dia kakakku tapi dia memilih tinggal di London dengan Ayah. Maaf tidak pernah memberitahumu." Jelas Sewoon pada kekasihnya yang ada diseberang telepon.

'Tolong jangan buat aku jantungan dan memikirkan yang tidak tidak ketika melihat ada laki-laki lain yang langsung mendekati kekasihku.'

"Maafkan aku."

'Sudahlah, tidak apa-apa. Lalu bagaimana kondisimu?'

"Aku baik-baik saja, aku baru ingat jika tadi pagi aku tidak sarapan, mangkanya tubuhku lemas." Ujar Sewoon berbohong pada kekasihnya.

'Kau ini, yahhh. Selalu menyuruhku sarapan tapi kau sendiri lupa.

"Maaf sudah membuatmu khawatir." Sewoon jadi merasa bersalah pada pacarnya itu.

'Jangan terus meminta maaf. Apa Seunggi Ahjusshi sudah pulang?'

"Nde, Eomma sudah ada dirumah, dia pulang sore." Sewoon membalikan badannya dan melihat kakaknya sudah tidur-tiduran diranjangnya. "Jaehwanie, ini sudah malam. Istirahatlah, kau kan habis ikut lomba."

'Hm hm, baiklah. Selamat malam. Saranghae.'

"Malam, Nado Saranghae." Setelah itu Sewoon memtikan hp nya dan ikut berbaring disamping kakaknya.

"Kau belum memberitahunya tentang dirimu yang sesungguhnya?" tanya Jaehyun sambil membaca buku milik adiknya.

Sewoon menggeleng. "Aku belum siap dia meninggalkanku."

"Kenapa kau berpikir dia meninggalkanmu setelah kau mengatakan siapa dirimu sebenarnya. Mungkin dia seperti Donghyun yang menerima kenyataan kalau Yougmin adalah Vampire dan selalu membiarkan Youngmin meminum darahnya."

Sewoon menunduk, Im Youngmin seniornya adalah vampire dan sahabatnya Donghyun mengetahui itu sejak dulu dan masih setia berada disamping kekasihnya dan Donghyun juga mengetahui siapa Sewoon sebenarnya, Sewoon adalah Half-Blood. Darah Campuran. Vampire dan Manusia.

"Jaehwan tidak memiliki pikiran se terbuka Donghyun, kita bahkan masih sering bertengkar."

Jaehyun mengelus rambut adiknya dengan lembut. "Walaupun begitu cepat atau lambat dia harus mengetahuinya. Jika kau merasa Jaehwan adalah pasanganmu maka cepat beritahu dia agar kau lebih bisa menahan diri dan hanya meminum darahnya, seperti Youngmin yang hanya bisa meminum darah Donghyun dan tidak akan tergoda denagn darah orang lain."

"Dia akan berpikir bahwa dia adalah makananku, dia akan memandangku jijik, Hyung."

"Kenapa Jaehwan memandangmu jijik? Jika dia benar mencintaimu dia akan menerimamu apa adanya, menerima siapa dirimu."

"Dia mencintaiku, hyung. Tapi aku tidak mau ia harus terikat dengan diriku seumur hidupnya. Aku bahkan pernah merasakan bahwa dia lelah denganku."

Jaehyun turun dari ranjang adiknya, dia memang sering berkunjung tapi jarang menginap dan dia harus menjaga apartement milik kakak tirinya.

"Kau sudah mau pergi?"

"Begitulah, kakak tiri kita sedang ada di London dengan Appa. Sebentar lagi kakak paling tua kita usianya 100 tahun, ingat? Dia sudah harus memegang tahta kerajaan tapi salah satu syaratnya dia harus memiliki pendamping dan sayangnya kakak tiri kita jatuh cinta pada manusia." Jaehyun menghela nafas, mengingat kaka tiri mereka. Mereka berdua satu Ayah tapi beda Ibu.

Sewoon mengangguk mengerti. "Jangan sampai kejadian seperti Ayah terulang lagi."

Jaehyun tersenyum, Ayah mereka memang jatuh cinta pada manusia tapi bukan pada ibu mereka. "Aku berharap juga begitu." Jaehyun memandang adik manisnya. "Kau tahu adat bangsa vampire kan, ketika kau memiliki pasangan maka kau hanya akan meminum darah pasanganmu dan karena pasanganmu manusia kau bisa menjadi manusia seutuhnya tanpa harus meminum darah lagi."

Sewoon tersenyum. "Pergilah, Hyung. Dan berikan salamku pada Appa dan Hyungdeul yang lain." Jawab Sewoon dan hanya dibalas berupa senyum Jaehyun dan sang kakak pergi melalui jendela kamarnya.

[Seorang Half-Blood yang berada disisi manusia dia akan tetap meminum darah yaitu maksimal seminggu tiga kali, dan jika Manusia Half-Blood itu mempunyai pasangan manusia maka dia harus meminum darah pasangannya agar bisa seutuhnya menjadi manusia seperti pasangannya (jika pasangannya vampire maka dia juga akan ikut menjadi vampire).

Berbeda dengan Pureblood yang jika memiliki pasangan manusia maka manusia itu boleh memilih mau menjadi vampire atau tetap menjadi manusia. (Lee Seunggi tetap menjadi manusia karena ia tidak digigit oleh Ayah Jaehyun dan Sewoon. Youngmin tetap meminum darah Donghyun namun masih belum mau mengubah Donghyun menjadi vampire.]

.

.

LONDON

"Aku merindukan Jaehyun." Gumam Taeyong sambil memeluk bantal yang ada di sofa.

"Kau bisa kembali ke Korea besok." Balas JR pada sahabatnya itu, dia baru saja selesai rapat dengan Ayahnya.

"Aku tahu." Taeyong tiba-tiba berdiri dari sofa. "Jadi aku harus bersiap-siap membereskan barang-barangku untuk besok. Night, JR."

"Night." Balas JR seadanya lalu berjalan mendekati jendela besar dan memandang langit malam kota London.

Dia merindukan Korea, lebih tepatnya Kota Seoul. Sebulan yang lalu pada malam yang sama ia telah membuat kebodohan terbesar dalam hidupnya. Dan penyesalan itu selalu menggerogoti jiwa dan raganya.

Bayangan sosok yang berada dibawah tubuhnya mengeluarkan air mata dan memandang jijik dirinya membuat luapan emosi merasuki JR. Dia tidak bermaksud melakukannya tapi godaan itu selalu hadir ketika ia memandang wajah manis itu, ketika ia merasakan aroma segar yang ada pada sosok yang telah memikatnya. Dan ia dengan sukses membuat sosok itu membenci dirinya.

"Maafkan aku.. maafkan aku, Minhyun. Aku memang monster."

JR menyentuh lehernya, dia masih bisa merasakan darah manis Minhyun memasuki rongga tenggorokannya, selama hampir seratus tahun hidupnya dia tidak pernah merasakan rasa darah senikmat milik Minhyun, selain darahnya tubuh Minhyun juga begitu memabukan seakan JR mendapatkan wine terbaik yang ada di jagat raya.

JR pernah merasakan darah yang familiar dengan milik Minhyun namun darah Minhyun lah yang lebih baik, puluhan kali lipat lebih baik.

JR membuka matanya yang berwarna merah dan memandang sang purnama. "Aku menemukannya, Minah. Dan seperti yang kau bilang, dia adalah takdirku. Terimakasih atas segalanya, Minah."

.

.

.

TBC

.

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya