Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
.
.
Achan Van Jeevas
.
Character :
JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho
Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)
Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)
Jaehyun – Taeyong / JB – Jinyoung
Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun / Ong Seongwoo – Kang Daniel
U-Know (Yunho) – Kwon BoA
Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun
Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul
Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin
Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)
.
.
.
.
Chapter 10 : Oh Little Boy
.
.
SEOUL
Badai musim dingin kini menerjang Korea. Banyak penduduk Korea yang lebih memilih tetap berada dirumah mereka ketimbang keluar.
JR hanya memandang kosong gelas berisi bloody wine nya. "Ini sudah dua bulan, Jaehyun. Kau masih tidak bisa menemukannya?"
"Maafkan aku, Hyung." Ujar Jaehyun pada kakak tirinya, mereka adalah saudara satu ayah.
"Kita sudah mencarinya hampir keseluruh korea bahkan kita sudah menyebarkan berita ke luar negeri namun dia seakan menghilang ditelan bumi." Taeyong menghela nafas. "Jika dia takdirmu dia akan tetap kembali padamu, JR."
JR memandang sekilas Taeyong. "Dia takdirku, Lee Taeyong." Ujarnya penuh penekanan. "Aku hanya merasa bersalah belum meminta maaf padanya."
Taeyong menunduk ketakutan mendengar nada suara JR, Jaehyun langsung memeluk tubuh kekasihnya menenangkannya.
"Mungkin kau bisa menunggu sedikit lebih lama lagi, JR." saran Ren sambil mengecat kukunya dengan warna hot pink.
Prangg!
Jaehyun, Taeyong, Aron dan Baekho menahan nafas mereka ketika JR melempar gelas winenya sedangkan Ren dia mencoba tetap tenang namun ia tahu bagaimanapun juga tidak ada yang tidak takut dengan kemarahan sang pangeran.
"Aku sudah menunggu tujuh puluh tujuh tahun untuk ini! Dan ketika ia sudah ada didepanku dan kembali menghilang apa menurutmu aku harus diam saja! Jawab aku Choi Minki!" JR memandang tajam Ren dengan matanya yang berwarna merah darah. "Temukan Hwang Minhyun dan bawa dia padaku!"
Kelima sahabatnya langsung berdiri dan keluar dari apartement mewah itu dan segera mencari keberadaan sosok bernama Hwang Minhyun.
JR mengusap wajahnya dengan kasar, dia tahu dia sudah keterlaluan namun mau bagaimana lagi. Dia sangat ingin bertemu dengan Minhyun. Selama hampir satu tahun ia hanya bisa memandangi Minhyun yang duduk dihalte bus dekat taman setiap malam. Ia hanya bisa duduk diatas pohon besar dan memandangi Minhyun dari atas dalam diam dan sekalinya ia bisa dekat dengan Minhyun ia malah melakukan hal biadab dan menyentuh sosok indah itu.
JR melangkahkan kakinya dan memasuki kamarnya. Dia dan sahabat-sahabatnya setuju untuk tinggal diapartement manusia ketimbang tinggal di Istana yang membosankan. JR mendudukan dirinya dan memandang lukisan yang menampilkan seorang wanita memakai dress merah. Sosok wanita dalam lukisan tersebut begitu cantik dan indah, senyum manis hingga kemata sang wanita membuat siapa saja yang melihatnya akan bertekuk lutut.
"Minah, apa kau tahu dimana Minhyun? Bahkan Ren dan Taeyong tidak mengetahui dimana dia." Ujar JR namun hanya dibalas keheningan.
.
.
Tujuh puluh tujuh tahun yang lalu kaum supernatural dihadirkan oleh sosok rubah cantik bernama Hwang Minah, dia amat sangat cantik. Selain wajahnya yang cantik ia juga memiliki kepribadian yang sopan dan suka menolong. Ia bagaikan bidadari dan para Dewa mengatakan bahwa kecantikan Minah adalah Cahaya dari Surga.
Orangtua Minah selalu menjaga putri mereka dan melindunginya, Minah tidak pernah keluar dari istana Fox dan ia juga tidak pernah bertemu dengan seorang pria selain Ayah dan Kakaknya.
Suatu hari Minah meminta ijin pada Ibunya untuk mandi di air terjun, Ibunya mengijinkannya asalkan Minah membawa dayang-dayangnya.
Saat Minah mandi dia tidak sengaja menjatuhkan sapu tangan kesayangannya dan terseret arus air, ia bisa saja meminta para dayangnya untuk mengambilkannya namun ia tahu dayangnya pasti kelelahan jadi Minah mengambilnya sendiri. Ia mengikuti arus itu hingga tanpa ia sadari ia sudah jauh dari para dayangnya.
"Ah, Itu sapu tanganku." Ujar Minah ketika ia melihat sosok asing yang mengambil sarung tangannya dari arus air.
Sosok itu memandang Minah lalu memberikan sapu tangan yang tersebut. "Aku kira ini apa. Ini, Nona."
Minah membungkuk tanda terimakasih. "Terimakasih, Tuan…"
"JR. Namaku JR. Tidak usah menyebutku Tuan."
"Terimakasih JR. Aku Minah."
JR mengernyitkan dahinya. "Minah? Si Jelita dari Negeri Fox?"
Minah menunduk malu. "Iyah."
"Namamu sangat cocok denganmu. Minah = Cantik. Kau memang cantik jelita." ujar JR dengan tulus.
Wajah Minah memerah mendengar ucapan sosok gagah didepannya. "Terimakasih atas pujiannya tapi namaku sebenarnya adalah Minhyun, Hwang Minhyun. Hanya saja karena nama itu seperti laki-laki jadi Ibuku sering memanggilku dengan sebutan Min-ah."
JR mengangguk mengerti. "Minhyun dan Minah semua itu tetap cocok untukmu. Sebenarnya apapun namamu tetap akan terasa indah untukmu." JR tahu dia sudah terperangkap denagn pesona sosok didepannya.
"Terimakasih."
JR tertawa. "Kau sopan sekali yah, selalu berkata terimakasih." Dan dengan itu JR mengacak rambut panjang Minah.
Sejak kejadian itu keduanya jadi sering bertemu, kedua orangtua Minah tentu saja penasaran apa yang membuat putri mereka sering keluar dan akhirnya keduanya menyuruh kakak Minah untuk menyelidiki sikap adiknya. Kakak Minah begitu terkejut ketika ia melihat adiknya tengah berciuman dengan sosok yang taka sing untuknya, dia tahu siapa laki-laki itu, laki-laki itu adalah JR sang Pangeran Vampire.
Kakak Minah menceritakan apa yang ia lihat pada kedua orangtuanya, kedua orangtuanya marah ketika mengetahui putri kesayangan mereka sudah bersikap seperti itu pada pria yang bukan siapa-siapanya, malam harinya kedua orangtua Minah akan mengancam putri mereka agar tidak melakukan hal gila lagi namun pada malam yang sama U-Know dan BoA datang mengunjungi negeri Fox, mereka datang bersama putra sulung mereka untuk meminang Minah.
Tidak memiliki pilihan lain selain setuju akhirnya pernikahan sang putri rubah dan pangeran vampire akan dilaksanakan pada malam bulan purnama.
'JRie aku ingin bertemu denganmu.'
JR membuka matanya ketika ia mendengar suara Minah dikepalanya, Minah itu memiliki kekuatan dengan pikirannya juga Minah bisa melihat masa depan.
'Kau tahu kita tidak diperbolehkan bertemu sampai hari pernikahan kita dan itu besok, Minah. Tunggulah sampai besok.'
'Tidak ada waktu, JRie. Kumohon temui aku di air terjun sekarang juga. Ini penting.'
'Baiklah, baiklah. Kau tahu aku tidak akan bisa menolak permintaanmu.'
'Terimakasih.'
JR dengan segera bangkit dari kasurnya dan keluar dari jendela kamarnya, ia bisa melihat banyak pelayan-pelayan yang sibuk untuk acara besok. Pernikahannya dan Hwang Minah.
"Minah, ada apa?" tanya JR langsung memeluk kekasihnya ketika ia melihat Minah baru datang. "Kenapa wajahmu pucat?"
Minah memegang telapak tangan JR yang menyentuh pipi chuby, air mata tak kuasa ia bendung lagi. "JRie.. JRie."
"Ada apa sayang? Katakan padaku ada apa?" tanya JR dengan sedikit panic.
"Kita tidak bisa melanjutkan pernikahan ini."
Mata JR terbelalak mendengarnya. "Kenapa? Jelaskan padaku, Minah?"
Minah menarik nafas dalam. "Aku tahu bahwa cinta yang kita miliki ini hanyalah sebatas cinta antar sahabat."
JR mengangguk, ia memang mencintai Minah namun rasa cinta yang ia miliki untuk gadis didepannya hanyalah layaknya serang sahabat dan Minah juga merasakan hal yang sama namun keduanya setuju untuk tetap mengikat hubungan keduanya dalam pernikahan.
"Aku mendapatkan penglihatan jika kita berdua tidak ditakdirkan bersama dalam ikatan pernikahan. Aku melihat bahwa aku akan bersanding dengan laki-laki lain di altar bukan kau JRie dan aku juga melihat kau bersanding dengan sosok lain selain aku." Jelas Minah.
JR memejamkan matanya mendengar ucapan Minah, penglihatan Minah itu seratus persen akurat. "Jadi kita tidak akan bersanding bersama besok pagi?"
Minah mengangguk. "Aku akan menemukan belahan jiwaku segera tapi kau harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Dan dia adalah keturunanku, reinkarnasiku. Namun ialah belahan jiwamu yang sesungguhnya." Jelas Minah.
JR mengangguk mengerti ia lalu memeluk tubuh mungil Minah dan mencium rambut hitam itu. "Aku mengerti.. jadi besok pagi kita tidak akan bertemu dan bersumpah di altar bersama. Tapi ketahuilah aku tetap mencintaimu, sahabatku."
"Begitu juga aku. Aku juga mencintaimu sahabatku."
Dan keesokan harinya pernikahan mereka dibatalkan dengan berlayarnya Minah ke kota seberang, beberapa tahun kemudian JR mendengar jika Minah menikah dengan sosok bernama Jonghyun.
.
.
SEOUL
JR membuka matanya, ia menyentuh jantungnya yang berdetak kencang. Ia merasa seluruh tubuhnya gusar.
"Kenapa aku seperti ini?" Ia bangun dari ranjangnya dan berjalan untuk membuka pintu balkon apartement yang ia tempati dengan sahabat-sahabatnya.
JR mendongak dan memandang bulan purnama seketika sesuatu memasuki pikirannya, JR terduduk dan menyentuh kepalanya. Didalam kepalanya ia melihat bayangan tangan mungil dan disekelilingnya hanyalah sesuatu berwarna merah, tangan mungil itu bergerak-gerak.
JR mengigit bibirnya mencoba menahan rasa sakit yang merasuki pikirannya, ia tidak boleh membangunkan sahabat-sahabatnya yang baru saja pulang dan tetap mengatakan hal yang sama bahwa mereka tidak menemukan Minhyun.
Minhyun.
Nama itu mengusik pikiran JR. "Minhyun… Aku tidak tahu kau ada dimana tapi.. maafkan aku dan berjuanglah."
.
.
BUSAN
"Akhhhh! Sakit hyunggg. Tolong Aku!"
Sehun mengelus dahi Minhyun yang telah dibanjiri peluh, Minhyun mencengkeram sprei, kakinya bergerak-gerak tak tentu arah.
"Ge, Bibi. Lakukan sesuatu. Anak itu sudah mau keluar." Ujar Sehun pada Kris dan Yoona. Hangeng, Heechul dan Jinki tengah keluar untuk mencari dokter. Sejak beberapa jam yang sebenarnya mereka akan membawa Minhyun ke rumah sakit namun badai musim dingin tidak mengijinkan mereka sama sekali.
Sehun bingung bukan main, usia kandungan Minhyun itu baru tiga bulan tapi sudah sebesar wanita yang mengandung sembilan bulan dan bahkan malam ini Minhyun akan melahirkan. Sungguh luar biasa. Jika saja Sehun tidak membaca buku mengenai kehamilan bangsa vampire dia mungkin akan mengira jika Minhyun sedang berakting –akting sepupunya ini bagus sekali ketika mereka pentas saat masih SD. Vampire akan melahirkan ketika usia kandungan mereka sudah memasuki lima bulan dan untuk Vampire berdarah murni biasanya hanya membutuhkan tiga bulan.
"Kami tidak bisa melakukan apapun, Sehun. Janinnya menolak kami." Jelas Yoona, dia sudah mencoba menyentuh perut Minhyun namun yang ada tangannya malah seperti tersengat listrik begitu juga Kris, harapan satu-satunya adalah semoga dokter manusia yang bisa.
Drtttt Drtttt
"Hyung sakit hyunggg akhhhh."
Tangan kanan Sehun menggenggam tangan kanan adiknya sedangkan tangan kiri Sehun mengelapi dahi berkeringat adiknya. "Stttt. It's ok, hyung ada disini. Bersabarlah Minhyunie."
Yoona dan Kris membaca sms dari ketiga orang yang tengah keluar, ekspresi keduanya semakin keruh.
"Hangeng, Heechul dan Jinki baru sama sms kalau mereka tidak menemukan dokter manapun yang bersedia keluar karena badai besar ini." ucap Yoona.
"Apa?! Lalu bagaimana dengan adikku?" teriak Sehun. Kris dan Yoona tidak bisa mengucapkan apapun.
Melihat keduanya tidak bergerak membuat Sehun dengan segera melepaskan genggamannya pada Minhyun, ia mengambil gunting dan cutter yang ada disamping meja belajar. "Siapkan handuk dan air hangat segera!"
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Kris ketika Sehun mengarahkan cutter pada perut bawah Minhyun.
"Akhh." Sehun merasakan tangannya panas ketika ia menyentuh perut Minhyun namun ia tetap menahannya. "Aku akan mengeluarkan bayi ini."
"Tapi tanganmu Sehun." Kris menunjuk tangan keponakannya yang sedikit demi sedikit berdarah.
"Kau membahayakan dirimu sendiri, Sehun." Ujar Yoona. "Bagaimana jika bayi itu tidak mau kau sentuh. Dia akan tetap ada diperut Minhyun dan itu bisa berakibat vatal pada kalian bertiga. Minhyun dan bayinya mungkin tidak akan selamat dan begitu juga kau."
"Akan lebih baik mencobanya dari pada tidak sama sekali. Dan jika Minhyun serta bayinya tidak selamat maka aku akan membunuh Kai dan diriku sendiri. Aku tidak sanggup hidup tanpa Minhyun dan aku tidak sanggup ketika aku ada disurga dan mendengar berita jika Kai memiliki kekasih baru."
Yoona meneteskan air mata ketika mendengar ucapan Sehun, ia segera keluar untuk menyiapkan apa yang Sehun butuhkan.
"Akhhhhh, Hyungg." Minhyun memandang langit-langit kamarnya dengan mata berkunang-kunang. Rasa sakit yang ia rasakan saat ini membuatnya ingin mati.
Sehun memandang tangannya yang tengah membuka perut Minhyun darah sudah memenuhi ranjang tersebut. Darah adiknya dan darahnya sendiri. Sehun tahu bahwa keponakannya tidak menginginkannya menyentuhnya.
Sehun merasakan ia menyentuh kepala kecil didalam perut Minhyun. "Ayo keponakan nakal, keluarlah. Aku pamanmu dan turuti ucapanku. Eggh, Aku tidak peduli jika Ayahmu adalah Pangeran Vampire."
"AKHHHH!" Minhyun berteriak kencang ketika ia merasakan tangan Sehun menarik janin dalam perutnya dan kegelapan segera mendatangi Minhyun. Dalam kegelapan yang menyelimutinya ia mendengar sebuah suara.
"Minhyun… Aku tidak tahu kau ada dimana tapi.. maafkan aku dan berjuanglah."
Sehun memandang bayi mungil berlumur darah ditangannya, Sehun kira keponakannya ini akan langsung memandangnya tajam karena telah berani mengeluarkannya dengan paksa namun bayi ditangannya ini menutup matanya dan tertidur dengan tenang.
"Ia tidak menangis." Gumam Yoona ketika ia melihat cucunya.
"Ia tida menangis dan tidak bergerak tapi dia bernafas dengan tenang." Balas Sehun sambil memandang sosok mungil ditangannya. "Tubuhnya hangat, pipinya bersemu merah. Ia… manusia."
"Yoona bersihkan bayi itu, Sehun menyingkirlah aku akan menyembuhkan luka Minhyun." Perintah Kris yang langsung disetujui keduanya.
Yoona menggendong bayi mungil ditangannya dan membersihkannya dengan telaten sedangkan Sehun ia sudah masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Hey, sayang kenapa kau diam saja?" gumam Yoona pada cucunya, ia sudah menjadi Nenek dan senyum cantiknya semakin membuatnya bersinar. "Kris apa menurutmu dia baik-baik saja? dia tidak bergerak dan tidak menangis."
"Selagi dia bisa bernafas kau bisa tenang." Ujar Kris setelah ia selesai merapalkan mantra penyembuh pada Minhyun dan membersihkan sprei dan ranjangnya yang ternoda darah hingga tidak ada sedikitpun noda darah disana, semuanya tampak seperti semula.
"Benar apa kata Sehun, tubuh bayi ini hangat dan pipinya bersemu merah." Yoona menyentuh pipi chuby cucunya. "Dia mengingatkanku dengan Minhyun ketika masih bayi. Tapi ada beberapa bagian wajahnya yang tidak aku tahu dari siapa."
"Siapa lagi jika bukan dari Ayahnya." Ujar Sehun ketika ia memasuki kamar adiknya, ia memandang tubuh Minhyun. "Luka diperutnya masih ada."
Kris mengangguk. "Aku sudah merapalkan mantra penyembuh tingkat tinggi namun tetap saja luka itu tidak mau menghilang."
"Mungkin luka itu akan menjadi pengingat untuk Minhyun." Ujar Yoona lalu mendekati Minhyun yang matanya sedikit demi sedikit terbuka. "Bangun, Putri Minhyun. Lihat siapa yang ada digendongan Eomma." Bisik Yoona pada Minhyun.
"Ehh.. Eo-eomma." Minhyun secara reflek menyentuh perutnya –sejak tiga bulan yang lalu ia selalu memegangi perutnya dalam segala kondisi. "Eomma, perutku."
"Ssttt, Sayang. Jangan terlalu banyak bergerak." Ujar Yoona. "Lihat yang ada ditangan Eomma."
Minhyun memandang wajah cantik sosok yang sudah membesarkannya tersebut, walaupun Yoona dan Jinki bukan orangtua kandungnya namun ia tetap menyayangi keduanya. "Ba-bayi."
Yoona tersenyum dan menyerahkan bayi mungil pada putranya. "Cucu Eomma.. Putramu, Sayang."
Minhyun memandang wajah bayinya yang tertutup selimut hangat, diluar sana badai tampak sedikit lebih ringan. "Putraku… Dia putraku Eomma."
"Iya, Sayang. Itu Putramu." Ucap Yoona sambil memeluk Minhyun. Kris hanya memandang pemandangan didepannya dengan rasa bersyukur dan Sehun sudah duduk disamping sisi lain Minhyun.
"Kau mau menamainya siapa? Sejak dua bulan yang lalu kau tidak mau memberitahu kami." Ujar Sehun.
"Namanya… Seonho." Dan tepat ketika nama itu keluar dari mulut Minhyun, mata mungil putranya langsung terbuka.
Mata kecil memandang tepat pada wajah Ibunya, tangan mungilnya bergerak-gerak mencoba menyentuh wajah sang Ibunda. Minhyun membalas uluran tangan mungil Seonho, senyum tidak lepas dari bibirnya. "Helo, Seonho. Ini Eomma."
"Ammm."
Yoona dan Sehun terkekeh mendengar suara mungil keluarga baru mereka.
.
.
SEOUL
JR memandang langit yang sudah menipiskan awan badainya, jantungnya yang tadi berdebar kencang dan risau sudah tenang, ia bisa menafas dengan lega. Seakan beban yang ia tanggung selama hampir seratus tahun hidupnya menghilang dengan perlahan.
"Selamat datang." Entah pada siapa JR tujukan kalimat itu, dia hanya.. ingin mengucapkannya. "Selamat datang siapapun kau."
.
.
BUSAN
neon naega jiginda
eotteokhae mabeobi pullijil ana
eojjeoda eojjeoda ireoke dwaenni
jeo taeyangboda deo tteugeoun naemam
eojjeomyeon eojjeomyeon sarangil geoya
You take me high
Fly me up so high
pungseoncheoreom dudungshil tteoolla
nae mameul very heundeureo noa
nan neoye gippeum seulpeum moduda kkok kkeureoango
ojik neoman algesseo
[I'll protect you
What do I do, the spell isn't releasing
How, how did this happen
My heart that is hotter than that sun
Maybe, maybe, it's probably love
You take my high
Fly me up so high
Like a balloon, I float up
My heart, you shake it up very much
I'll embrace your happiness and sadness and everything
And only know of you]
Minhyun menghentikan nyanyiannya sebentar untuk mencubit pipi tembem Seonho yang tengah menyusu padanya. Bayi berusia dua minggu itu tersenyum dengan apa yang dilakukan Ibunya padanya, walaupun mulut Seonho masih menempel dengan sempurna pada dada Ibunya.
sarangboda gipeun gamjeongeul neukkyeo
jigeum nuguboda yakhamyeonseodo ganghae
geurae unmyeongttawineun naega da bakkulge
Baby baby when you tell me something bad
eotteon nunmuri heulleodo dakkajulge
ibyeolttawirangeun ije ibyeolhae
keuge sorichyeo
Oh little boy geu eotteon mallodo
Little boy neol kkumil su eopseo
sarangboda deo saranggateun neo You
Oh little boy i sesang modeungeol
Little boy da ilhneundahaedo
unmyeongboda deo unmyeonggateun neol
neon naega jiginda
neon naega jiginda
neon naega jiginda
eonjenga mabeobi pullindaedo
eojjeoda eojjeoda geureoljirado
taeyangi bicheul da ilhneundahaedo
nalmideo nalmideo
We could be something
kkochipi jyeodo maeil geudae gyeote isseulge
shigani naege jun jigeumiraneun bomul baro neo
geurae geu meoributeo bakkeutkkaji naege gidae
nae jeonbureul da geolgesseo
sarangboda gipeun gamjeongeul neukkyeo
jigeum nuguboda yakhamyeonseodo ganghae
geurae unmyeongttawineun naega da bakkulge
Baby baby when you tell me something bad
eotteon nunmuri heulleodo dakkajulge
geu areumdaum ape sangnyanghaejineun
naega sorichyeo
Oh little boy geu eotteon mallodo
Little boy neol kkumil su eopseo
sarangboda deo saranggateun neo You
Oh little boy i sesang modeungeol
Little boy da ilhneundahaedo
unmyeongboda deo unmyeonggateun neol
neon naega jiginda
Baby (baby) deoneun eopseo loneliness
And We (and we) gyejeoreul ttwieoneomeo
on sesangi neoro kkwakchanneungeol
I know you and me
Oh little boy neol wihan mellodi
Little boy mok teojyeora bulleo
sarangboda keun sarangnoraeya You
Oh little boy i sesangi uril
Little boy sogiljirado
unmyeongboda deo unmyeonggateun neol
neon naega jiginda
neon naega jiginda
neomaneul jiginda
[I feel an emotion that is deeper than love
Right now, I'm weaker than anyone else but also strong
Sure, I'll change things like fate
Baby baby when you tell me something bad
Whatever sort of tears you drop, I'll wipe them for you
Break up with things like break ups now
Shout loudly
Oh little boy, with any sort of words
Little boy, it can't decorate you
You, who is more like love than love itself
Oh little boy, In this world
Little boy, even if I were to lose everything
You, who is more like fate than fate itself
I'll protect you
I'll protect you
I'll protect you
Even if the spell were to release sometime
Somehow, somehow if it were to
Even if the sun were to lose all it's light
Trust me, trust me
We could be something
Even when the flower petals wither, I'll be by your side
Time has given me a treasure called now, which is you
Yes, that head to your toes, lean on me
I'll bet my everything
I feel an emotion that is deeper than love
Right now, I'm weaker than anyone else but also strong
Sure, I'll change things like fate
Baby baby when you tell me something bad
Whatever sort of tears you drop, I'll wipe them for you
Break up with things like break ups now
Shout loudly
Oh little boy, with any sort of words
Little boy, it can't decorate you
You, who is more like love than love itself
Oh little boy, In this world
Little boy, even if I were to lose everything
You, who is more like fate than fate itself
I'll protect you
Baby, there's no more loneliness
And we, jump across seasons
The whole world is jam-packed with you
I know you and me
Oh little boy, a melody for you
Little boy, shout as if your throat would burst
You, It's a love song bigger than love itself
Oh little boy, even if this world
Little boy, were to fool us
You, who is more like fate than fate itself
I'll protect you
I'll protect you
I'll only protect you]
Minhyun telah menyelesaikan lagunya dan memandang putranya, ia tahu Seonho sudah tertidur ketika ia menyanyikan pada bagian tengah namun Minhyun sengaja menyelesaikan lagu tersebut untuk Seonho. Lagu tersebut ia ciptakan dua bulan yang lalu untuk buah hatinya.
Minhyun dengan perlahan melepaskan mulut kecil Seonho dari putingnya dan meletakan Seonho diranjangnya, membiarkan putra kecilnya tidur siang.
"Selamat tidur, Seonho. Sekarang Eomma ingin membantu Halmeoni dan Haraboji." Minhyun mencium kening Seonho dan berjalan keluar kamar.
.
"Eomma, ada yang bisa Minhyun bantu?" tanya Minhyun pada Yoona ketika ia memasuki dapur.
Yoona tersenyum lalu menyentuh pipi Minhyun, kini tubuh Minhyun tidak lagi dingin. Mungkin efek karena Seonho sudah keluar dari perutnya. "Eomma tahu kau akan ngembek kalau Eomma menyuruhmu pergi dan istirahat jadi baiklah bantu Eomma menyiapkan sup untuk Appamu."
Minhyun tersenyum lalu bergerak membuka kulkas untuk membuatkan sup untuk Appanya. Kini rumah mereka hanya ada empat orang saja karena keluarga Oh dan Kris sejak tiga hari yang lalu sudah ke Seoul. Sebelum pulang ke Seoul Sehun mengatakan kalau ia akan kesini lagi bersama Kai dan Minhyun sangat merindukan sosok sang cassanova sekolah tersebut.
Mengingat Kai membuat Minhyun merasa bersalah sendiri, saat dia hamil dia pernah mengusir Kai dari apartement Sehun karena aroma Kai yang seperti anjing, mungkin itu karena efek ia hamil anak vampire mangkanya tidak mau dekat-dekat dengan Kai yang notabenya manusia serigala, oh Minhyun tahu kok kalau Kai itu manusia serigala karena Sehun yang cerita.
Dan tentang cerita entah kenapa Minhyun merasa jika cerita Kris tentang orangtuanya dan seluk beluk kenapa Ayah kandungnya meninggal karena dibunuh vampire dan peperangan 15 tahun yang lalu masih janggal. Ia tahu masih banyak hal yang tidak ia ketahui didunia ini.
Minhyun menghentikan gerakan tangannya yang mengiris wortel ketika ia melihat sosok-sosok mungil bersayap memasuki dapur dan menyanyi lalu keluar melalui jendela dapur. Mereka adalah Peri.
Sejak hamil Seonho, Minhyun memang sering melihat hal-hal lain yang dulu tidak bisa ia lihat.
.
.
.
[3 Tahun Kemudian]
SEOUL
JR memandang bintang-bintang yang bertebaran dilangit kota Seoul. Saat ini ia tengah duduk diatas pohon besar tempat biasa ia datangi setiap malam minggu selama empat tahun terakhir. Satu tahun pertama untuk terus memandangi seseorang yang selalu duduk diabngku halted an tiga tahun untuk menunggu sosok yang sama itu.
Hwang Minhyun.
JR sungguh merindukan laki-laki manis itu. Sosok indah yang telah memenjarakan jiwa dan raganya. Sosok yang sekarang entah ada dimana. Sang pangeran vampire itu memejamkan iris hitamnya dan menarik nafas.
Mata JR langsung terbuka lebar ketika ia mencium aroma yang bahkan selama tiga tahun ia masih ingat betul aroma segar dan menenangkan ini.
JR memandang kebawah, dimana kursi halte bus itu kosong. Tidak ada orang sama sekali. JR sudah ingin mengikuti jejak aroma milik sosok yang sudah menghilang selama bertahun-tahun itu namun ia merasakan jika aroma itu semakin kuat, berarti sosok itu semakin dekat.
JR merasakan jantungnya berdetak kencang ketika ia mendengar langkah kaki yang mendekati halte bus itu.
Kini senyum merekah dibibirnya ketika ia melihat dengan jelas sosok tersebut, sosok itu kini sudah berdiri dan memandang kosong jalanan didepannya. JR memandangi sosok cantik itu dari atas hingga kebawah, tiga tahun berlalu dan sosok itu semakin memancarkan keindahannya.
JR turun dari atas pohon itu dan mendarat ditanah tanpa suara sama sekali dengan perlahan ia mendekati sosok itu.
"Hey."
Ketika sosok cantik itu memandangnya dengan segera JR mengklaim bibir merah didepannya. Tangan JR dengan possessive merangkul pinggang tersebut dan mendekatkan tubuh mereka hingga tidak ada jarak sama sekali.
JR mencium rakus bibir lawannya tanpa ampun, ia mulai menghisap, menggigit kecil dan melumat bibir menggoda tersebut. Lidahnya sudah melesat masuk dengan mudah ketika bibir sang lawan terbuka.
"Hmm.. nghhh.." Sosok didepannya tanpa sadar mengeluarkan desahan yang membuat JR semakin bersemangat untuk mendominasi permainan lidah keduanya.
Tittt Tittt
Keduanya langsung menjauhkan diri ketika mendengar klakson bus. Sungguh bagaimana bisa JR tidak sadar akan suara buss. Ah salahkan pemilik bibir menggoda didepannya yang membuatnya lupa akan semua hal, tidak semua hal sebenarnya karena JR ingat dengan rasa manis dan menggairahkan bibir serta tubuh tersebut.
Tangan JR yang semula ada dipinggang sosok tersebut kini menyentuh pipi chuby yang mengeluarkan rona merah, sosok didepannya masih mengambil nafas dan memandang matanya.
"Minhyun."
PLAKK
.
.
.
.
.
TBC
17 August 2017
.
.
Achan Van Jeevas
.
.
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
.
.
Selamat Hari Kemerdekaan, Guys!
.
Jangan lupakan pahlawan-pahlawan kita yah.
Baik itu pahlawan perang, guru-guru kita, orangtua kita maupun Avengers yah #Plakk
