Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
.
.
Chapter 11 : Seoul (City Of Tears) Part I
.
.
SEOUL
Minhyun keluar dari salah satu restaurant untuk kelima kalinya hari ini. Matanya memandang ke langit malam yang dipenuhi dengan bintang-bintang. Dia baru tiga hari berada di Seoul setelah tiga tahun meninggalkan sang ibu kota.
"Dimana lagi aku mencari pekerjaan." Monolognya. Bibirnya langsung mengeluarkan senyum kecut, mana mungkin ia dengan mudah mendapatkan pekerjaan ketika ia hanya lulusan SMP, ingat dia tidak melanjutkan sekolahnya setelah mengandung Seonho.
Minhyun melangkahkan kakinya untuk ke halte biasa ia menunggu bus untuk pulang ke apartement kakaknya. Ia merasa tidak enak terus menerus menyusahkan sang kakak walaupun Sehun sendiri mengatakan tidak apa-apa dan senang bermain dengan Seonho.
Memikirkan Seonho membuat senyum manis keluar dari bibirnya, putranya kini sudah berusia tiga tahun dan amat sangat aktif. Seonho tidak bisa diam sama sekali dan putra kecilnya itu suka sekali menempeli orang lain entah itu yang seumuran dengannya ataupun orang yang lebih tua darinya, kata YoonA eomma sih sifat Seonho yang seperti itu darinya, dirinya ketika kecil memang suka sekali dekat-dekat dengan orang lain.
Namun senyum Minhyun sirna ketika ia ingat putra kecilnya itu terkadang suka memandang iri pada anak-anak sebayanya yang bermain dengan Ayah mereka. Seonho mengerti bahwa Minhyun adalah Ibunya, orang yang telah melahirkannya bukan Ayahnya. Mangkanya saat usia Seonho dua tahun ia pernah bertanya dimana keberadaan Ayahnya dan Minhyun hanya bisa terdiam tidak menjawab sama sekali dan sejak saat itu Seonho tidak pernah mengatakan apapun mengenai Ayahnya lagi.
Tanpa Minhyun sadari ia kini sudah berada di halte bus, Minhyun memandang kosong jalanan didepannya. Ia tahu bahwa Sehun serta keluarganya akan membantunya dalam hal apapun namun Minhyun tidak mau merepotkan kedua orang tuanya terus menerus.
"Hey."
Minhyun segera membalikan badannya ketika ia mendengar suara disampingnya, satu detik ia membalikan badannya seketika itu pula ia merasakan sesuatu yang dingin melumat bibirnya tanpa ampun.
Mata Minhyun melebar ketika ia mengetahui dengan jelas siapa sosok didepannya, tentu saja Minhyun ingat betul, sampai kapanpun ia akan selalu ingat sosok didepannya, sosok yang selalu hadir dalam mimpinya.
Minhyun memejamkan matanya ketika sosok didepannya mulai menghisap, menggigit kecil dan melumat bibirnya. Lidah sosok yang sampai sekarang belum ia ketahui namanya itu sudah melesat masuk dengan mudah ketika bibir Minhyun terbuka.
"Hmm.. nghhh.." Minhyun mengeluarkan desahannya ketika bibir itu dengan lihai mendominasi bibirnya. Minhyun mencengkeram jaket hitam sosok didepannya, bibir yang tengah menciumnya ini masih sama dengan tiga tahun yang lalu. Tiga tahun yang lalu bibir yang sama ini menjelajahi setiap inci dari tubuhnya.
Tittt Tittt
Keduanya langsung menjauhkan diri ketika mendengar klakson bus. Tangan sosok yang semula ada dipinggangnya kini menyentuh kedua pipinya. Minhyun mengambil nafas dengan perlahan, matanya masih memandang sosok dingin didepannya dalam diam.
"Minhyun."
PLAKK
Minhyun memandang murka sosok didepannya. "Dasar monster." dan dengan itu Minhyun langsung berlari memasuki bus tanpa menoleh sama sekalipun pada sosok yang telah menghangatkan hatinya itu.
Minhyun menundukan kepalanya ketika ia sudah memasuki bus yang langsung berangkat. Air mata sudah keluar dengan derasnya membasahi pipi chuby nya. "Hikss… ken-kenapa kau datang lagi… hikss hikss."
.
.
JR menyentuh pipinya yang mendapatkan tamparan oleh Minhyun, ia merasakan pipinya panas karena kerasnya tamparan itu, dia tidak pernah merasa sakit ketika manusia memukulnya. "Siapa kau sebenarnya Minhyun?"
Namun tak ada jawaban sama sekali, hanya ada angin musim semi. JR tersenyum datar ketika ia ingat ucapan Minhyun.
Dasar monster.
"Aku memang monster."
"Jadi, diakah pasangan jiwamu yang sesungguhnya?"
JR langsung membalikan badannya untuk memandang sosok lain yang ada disana.
"Sangat mirip dengan Minah." Sosok itu memberikan smirknya pada sang pangeran vampire. "Dan sangat menyedihkan karena ia manusia. Aku akan dengan senang hati membantumu membunuhnya dengan cepat dari pada kau lebih lama bersamanya dan membuatmu semakin tidak mau melepasnya. Kau akan berakhir sama dengan Ayahmu, Sobat. Memiliki keluarga yang bahagia namun cinta sejatinya direnggut dengan paksa didepan matanya sendiri."
"Kau memang masih banyak bicara seperti dulu, Seongwoo." Komen JR sambil memandang sosok didepannya yang tak lain dan tak bukan adalah Ong Seongwoo, sahabatnya. JR lalu mendudukan dirinya dikursi halte dan langsung diikuti oleh Seongwoo. "Aku tidak akan seperti Ayahku, Aku tidak akan menikah dengan Clara. Hanya Hwang Minhyun yang pantas menjadi Permaisuriku."
Seongwoo hanya terkekeh kecil mendengarnya. "Berarti cara satu-satunya ialah kau harus menjadikannya Vampire."
JR tidak mengatakan apapun, ia memandang rasi bintang dilangit malam kota Seoul. "Kemana saja kau, Seongwoo?"
"Tiga tahun ini aku ada di New York."
"New York?" JR memandang sahabat kecilnya itu. "Kau sekarang berpihak pada S. Coups?"
"Begitulah. Dia memberikanku tawaran yang lumayan." Seongwoo berdiri dari kursi halte dan memandang sang Pangeran didepannya dengan dingin. "Sebagai sahabat kecilmu aku memberikan peringatan padamu, berhati-hatilah, cepat atau lambat S. Coups pasti akan mendatangimu." Dan dengan itu Seongwoo berjalan pergi.
JR memejamkan matanya, ia mengingat kenangan masa lalu dimana ia, S. Coups, Aron dan Seongwoo masih sering bermain dan berburu bersama. Keluarga Ong adalah salah satu vampire berdarah murni namun pada perang 18thn yang lalu clan Ong memihak pada S. Coups, itulah mengapa istana dengan mudah dibobol oleh prajurit S. Coups, karena Clan Ong adalah salah satu clan kepercayaan keluarganya.
Namun saat perang 18thn yang lalu Seongwoo tidak ada di Korea, sahabatnya itu berada di Paris tapi bagaimanapun juga Seongwoo tetap mendapatkan hukuman dari Dewa karena dosa Clannya yang membantu S. Coups dalam perang, Para Dewa menghukumnya dengan mengambil setengah dari kekuatan darah murninya. Sejak saat itu JR mendengar bahwa sahabatnya kini berbaur dengan manusia.
"JR."
JR langsung memandang Seongwoo yang sudah sepuluh langkah jauh darinya.
Seongwoo tersenyum sambil memandangnya. "Dunia ini benar-benar kecil yah, Minhyun itu sepupu dari anak didikku di SOPA tiga tahun yang lalu."
.
.
Minhyun turun dari bus dengan langkah lunglai, matanya masih memerah karena kejadian beberapa saat yang lalu. Minhyun tengah mengusap jejak air mata yang ada dipipinya hingga ia tidak menyadari ada orang lain yang berjalan dengan tergesa-gesa didepannya.
Bukkk.
"Ah, Maafkan aku, maaf." Ucap sosok itu sambil membungkuk meminta maaf padanya.
"Tidak apa-apa, aku juga salah." Minhyun memandang sosok didepannya dan langsung melebarkan matanya. "Da-daniel?"
Sosok berambut coklat didepan Minhyun melebarkan matanya. "Mi-minhyun hyung?"
Minhyun langsung memeluk sosok yang sudah ia anggap sebagai adik itu dengan erat. "Daniel, Daniel, adikku, dimana saja kau? Aku sangat merindukanmu."
Daniel membalas pelukan hangat Minhyun, ia membenamkan wajahnya diceruk leher sosok tersayangnya itu. "Minhyun-hyung, aku juga merindukanmu, hyung. Amat sangat merindukanmu."
Minhyun melepaskan pelukannya dan memandang wajah Daniel, matanya melebar ketika melihat pipi Daniel yang membiru. "Daniel, Wajahmu? Kenapa dengan wajahmu?"
Daniel menyentuh pipinya sendiri dan tersenyum lemah. "Aku tidak bekerja dengan baik jadi bosku memukulku."
Mata sipit Minhyun melebar mendengarnya. "Ya Tuhan, ayo kita obati luka dan mencari tempat yang layak untuk berbicara."
Sosok manis bergigi kelinci itu menggeleng. "Tidak usah, Hyung. Cepat atau lembat juga lukanya akan sembuh kok."
Minhyun memandang tajam sosok manis didepannya. "Aku tidak suka ketika kau mengelak dariku, Daniel. Lukamu itu harus segera diobati, bagaimana kalau infeksi?"
Daniel hanya menghela nafas mendengar omelan Minhyun yang sudah tidak ia dengar selama tiga tahun dan dengan berat hati akhirnya Daniel mengangguk setuju.
.
.
Minhyun dengan telaten membersihkan luka lebam yang ada dipipi Daniel sedangkan Daniel hanya meringis sakit.
"Pelan-pelan, hyung." Rengek Daniel.
"Aku sudah pelan-pelan, Niel-ah. Jangan manja deh."
Daniel memajukan bibirnya mendapatkan omelan dari Minhyun. "Awh. Hyung sakitttt."
"Cih, dan kau tadi mengatakan bahwa lukamu akan sembuh cepat atau lambat. Kau lucu sekali, Kang Daniel." Sarkas Minhyun.
Setelah selesai mengobati luka lebam Daniel kini keduanya berada dikedai kecil dipinggir jalan dan memesan minuman hangat.
"Bagaimana kabar Ahjusshi dan Ahjumma?" tanya Minhyun.
Daniel langsung menundukan kepalanya mendengar ucapan Minhyun.
Minhyun memandang bingung adik kelasnya. "Niel, ada apa?"
Daniel menggeleng kecil, ia memandang Minhyun. "Mereka meninggal satu tahun yang lalu, Hyung."
Mata Minhyun kembali melabar, ia terkejut bukan main. "A-apa?"
Daniel mengangguk. "Mereka meninggal karena kecelakaan mobil setelah menjemputku dari bandara, hyung." Air mata kini keluar dari matanya.
Minhyun seketika memeluk sosok didepannya. "Shhh, hyung ada disini."
Daniel membalas pelukan hangat Minhyun. "Terimakasih, Hyung. Dan maaf aku harus segera pulang, ada dua sosok malaikat yang menungguku pulang."
Minhyun mengangguk mengerti tapi langsung memandang bingung Daniel. "Dua sosok malaikat?"
Daniel tersenyum manis dan mengangguk semangat. "Namanya Woojin dan Samuel, mereka adalah alasan aku tetap bertahan hidup. Hyung harus bertemu mereka."
Walaupun tidak mengerti namun Minhyun tetap mengangguk, keduanya lalu bertukar nomor telepon dan berjanji besok siang keduanya akan bertemu lagi.
Daniel berjalan menuju tempat pemberhentian bus sedangkan Minhyun kembali berjalan menuju apartement kakaknya.
.
.
"Minhyun."
"Hyung, aku pikir kau sudah tidur." Ucap Minhyun setelah ia memasuki apartement hyung nya.
Pemuda berkulit albino itu menggeleng, ia lalu menarik tangan Minhyun dengan lembut untuk duduk disofa. "Ada yang ingin hyung bicarakan denganmu."
"Apa itu, Hyung?"
Sehun menarik nafas dan membuangnya. "Kau tahu bahwa kedua orangtua angkat kita kembali ke Hutan untuk menjaga perbatasan dunia manusia dan dunia supernatural, kan?"
Minhyun mengangguk. Jinki, YoonA, Hangeng dan Heechul beberap bulan yang lalu memang kembali ke Hutan Perbatasan untuk menjalankan tugas mereka, keempatnya berjanji bahwa mereka akan tetap mengunjungi dirinya dan Sehun namun keduanya tahu bahwa keempatnya harus focus pada pekerjaan mereka.
"Minhyun, saat ini dunia supernatural memang tampak aman-aman saja namun ketahuilah bahwa sesuatu yang tampak baik-baik saja itu bukan berarti tidak memiliki masalah."
Minhyun menyentuh bahu kakaknya. "Hyung, tidak usah bertele-tele. Katakan intinya saja."
"Aku harus ke America, disana ada masalah yang harus diselesaikan olehku karena kurangnya Warlock di America." Ujar Sehun akhirnya ke inti pembicaran mereka. "Dan kau tahukan keluarga Kai ada di America jadi…"
Minhyun tersenyum manis lalu mengangguk. "Aku mengerti, Hyung. Jadi intinya bahwa kau harus ke America karena ada masalah kaum supernatural disana juga karena ingin bertemu dengan keluarga Kai Hyung."
Sehun mengangguk. "Mungkin hanya satu bulan atau dua bulan atau–"
Minhyun menyentuh bibir tipis kakaknya untuk menghentikan ucapan Sehun. "Aku mengerti, Hyung. Kau akan pergi selama beberapa bulan."
Sehun menatap tidak enak pada sosok yang disayanginya itu. "Maafkan, Hyung. Minhyun-ah."
"Aniya, Hyung tidak usah meminta maaf. Harusnya aku yang meminta maaf pada Hyung karena terus menerus menyusahkanmu."
Sehun menggeleng kencang. "Kau tidak pernah menyusahkanmu. Jangan pernah berpikir bahwa kau menyusahkan hidupku. Aku mungkin sudah mati jika tidak ada kau dalam hidupku."
Minhyun tersenyum lalu memeluk sosok keluarga satu darahnya itu. "Kapan kau akan berangkat?"
"Mungkin lusa."
"Aku akan merindukanmu dan Kai-hyung."
"Aku juga akan merindukanmu dan Seonho. Aku sudah mengganti kepemilikan nama apartement ini dengan namamu."
Minhyun melepaskan pelukannya pada kakaknya. "Kenapa kau melakukannya?"
"Karena kau tahu bahwa aku akan tinggal dengan Kai jadi aku memberikanmu apartement sederhana ini sebagai hadiah."
Minhyun menghela nafas mendengar ucapan kakaknya. "Jikapun aku menolak kau tetap akan bersikeras agar aku menerimanya."
Sehun tersenyum. "Kau memang mengetahuiku." Sehun mengacak rambut Minhyun dan bergerak kedapur untuk mengambil minuman.
"Seonho sudah tidur yah, Hyung?"
"Putramu selalu tidur jam sembilan, apa yang kau harapkan darinya."
Minhyun tersenyum mendengarnya, dia menimang-nimang apakah perlu mengatakan pada Sehun bahwa dia baru saja bertemu dengan sosok tiga tahun yang lalu yang pernah hadir dalam hidupnya. Minhyun menggelengkan kepalanya, sepertinya tidak perlu. Bisa-bisa Sehun tidak jadi ke America karena takut terjadi apa-apa dengannya yang bertemu kembali dengan sosok misterius tersebut.
"Kenapa kau?" tanya Sehun sambil memberikan jus jeruk pada adiknya.
"Tidak apa-apa kok, Hyung. Ngomong-ngomong tadi sebelum kesini aku bertemu dengan Daniel. Kang Daniel. Apa kau ingat?"
Mata sipit Sehun melebar. "Daniel? Si Kelinci Pink itu?"
Minhyun terkekeh mendengarnya, Daniel memang di juluki Kelinci Pink oleh anak-anak SOPA karena gigi kelincinya dan rambut pink nya. "Yup, aku bertemu dengannya dan besok siang kita berjanji akan bertemu lagi. Apa hyung mau ikut?"
Sehun mengangguk. "Tentu saja, aku ingin menjewer telinganya. Berani-beraninya dia keluar dari SOPA ketika ia akan mengikuti lomba dance nasional."
.
.
Minhyun memasuki kamarnya dan memandang putra kecilnya yang tertidur dengan lelap sambil memeluk boneka beruang kado darinya tahun lalu.
Boneka itu sendiri Minhyun buat dari tangannya sendiri dan Seonho memang lebih suka sesuatu yang Minhyun buat dari pada Minhyun beli.
Minhyun membenarkan selimut putra semata wayangnya, hari ini dia bertemu putranya saat pagi dan makan siang saja setelah itu Minhyun pergi untuk mencari pekerjaan. Untungnya putranya tidak rewel dengan suasana baru, Seonho itu mudah beradaptasi dengan lingkungannya.
neon naega jiginda
eotteokhae mabeobi pullijil ana
eojjeoda eojjeoda ireoke dwaenni
jeo taeyangboda deo tteugeoun naemam
eojjeomyeon eojjeomyeon sarangil geoya
You take me high
Fly me up so high
pungseoncheoreom dudungshil tteoolla
nae mameul very heundeureo noa
nan neoye gippeum seulpeum moduda kkok kkeureoango
ojik neoman algesseo
Minhyun menyanyikan lagu yang sudah menemani tidur putranya selama tiga tahun terakhir. Tangan Minhyun mengelus kepala Seonho dengan lembut dan ikut memejamkan matanya.
Tanpa Minhyun sadari ada sosok yang memandanginya dari jendela kamarnya yang berada dilantai delapan gedung apartement.
"Siapa anak kecil itu, Minhyun?" gumam JR sambil memandang sosok kecil yang ada didekapan Minhyun.
"Kau sebaiknya pergi dari sini, Lintah."
JR langsung membalikan badannya dan mengeluakan smirk andalannya ketika melihat Manusia Serigala didepannya. "Anak anjing sekarang sudah berubah menjadi anjing liar yah?"
Kai memandang murka sosok pangeran didepannya. "Pergilah dari sini sebelum aku mengoyak jantungnya."
"Kau tidak akan bisa melakukannya karena aku sudah akan lebih dulu mengeluarkan jantungmu dari tubuhmu." JR mendekati sosok Alpha didepannya. "Kau seribu tahun lebih cepat untuk menantangku, Anjing Nakal."
Dan dengan itu JR turun dari balkon tersebut dan mendarat dengan sempurna diaspal jalan.
Kai mencengkeram tangannya dan memandang murka sosok yang menghilang ditengah malam tersebut.
.
.
Daniel memasuki apartement kecil yang sudah ia tinggali selama satu tahun ini setelah kecelakaan yang dialami oleh orangtuanya. Daniel berjalan dengan perlahan agar tidak membangunkan dua malaikat kecilnya.
"Daniel-hyung."
Daniel menghentikan langkah kakinya dan langsung memandang sosok kecil yang juga memandangnya. Daniel langsung tersenyum manis dan mendekati sosok itu.
"Muel terbangun karena hyung yah? Maaf kan hyung yah?" ujarnya sambil mensejajarkan tingginya dengan sosok kecil yang berusia tiga tahun setengah itu, tapi walaupun begitu sikap Samuel itu tampak tidak mencerminkan usianya yang sesungguhnya.
Samuel menggeleng. "Aku memang menunggu, Hyung." Tangan kecil Samuel menyentuh pipi Daniel yang semakin hari semakin tirus. "Bosmu melukaimu lagi yah?"
Daniel tersenyum kecil lalu mengacak rambut hitam Samuel. "Muel tidur yah, sudah malam. Besok siang Muel dan Woojin akan bertemu dengan sahabat Hyung."
Samuel mengangguk lalu kembali masuk kekamarnya dan Woojin. "Selamat malam, Daniel-Hyung."
"Malam." Daniel tersenyum ketika sosok itu kembali memasuki kamarnya dan Woojin sebenarnya juga kamarnya karena dalam apartement ini hanya ada satu kamar, satu kamar mandi dan ruang tamu yang merangkap dengan dapur hanya itu tapi Daniel ingin kekamar mandi dulu untuk membersihkan badannya.
Daniel memandang punggung kurus Samuel, dia teringat kejadian tiga tahun yang lalu dimana ia menemukan keranjang besar yang terdapat bayi didepan rumahnya yang ada di Canada, Daniel ingat ketika ia mengeluarkan bayi itu dari keranjang dan terdapat surat yang berisi satu kalimat pendek.
His name is Samuel.
Dan kini sosok yang ia temukan itu sudah besar dan menjadi sosok kakak untuk putranya, Woojin.
Putranya. Satu-satunya pengingat bahwa tiga tahun yang lalu ada sosok yang pernah membahagiakannya. Sosok yang kini entah ada dimana.
Sosok itu.
Ong Seongwoo.
.
.
.
.
TBC
21 August 2017
