Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
Achan Van Jeevas
.
.
Character :
JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho
Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)
Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)
Jaehyun – Taeyong / Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun
Ong Seongwoo – Kang Daniel / U-Know (Yunho) – Kwon BoA
Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun
JB / Jinyoung / Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul
Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin
Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)
.
.
.
.
Chapter 12 : Seoul (City Of Tears) Part II
.
.
"Eomma, kita mau kemana?" ujar Seonho sambil menarik-narik baju Ibunya.
Minhyun tersenyum manis lalu menundukan badannya hingga sejajar dengan putranya. Putranya ini walaupun baru berusia tiga tahun namun sudah lancar berbicara. "Kita mau bertemu dengan sahabat Eomma, namanya Kang Daniel, Eomma pernah membicarakan tentang Daniel Ahjusshi pada Seonho bukan?"
Seonho mengangguk antusias, Minhyun memang sering membicarakan teman-temannya pada putra semata wayangnya itu. "Ahjusshi bergigi kelinci, bukan. Eomma ?"
Minhyun tertawa mendengar ucapan polos Seonho. Dia memang pernah memperlihatkan foto Daniel pada putranya, bukan hanya Daniel tapi seluruh teman-temannya juga. "Iyah, Ahjusshi yang punya gigi kelinci."
"Wahhh, Ponakan Ahjusshi sudah manis. Siap bertemu dengan Daniel Ahjusshi?" tanya Sehun sambil menggendong tubuh kurus Seonho, walaupun kurus Seonho itu tinggi untuk ukuran anak berusia 3 tahun.
"Sehun Ahjusshi, Seonho itu tampan bukan manis."
Sehun dan Minhyun langsung tertawa mendengar ucapan si kecil tersebut.
.
.
Samuel menarik tangan Woojin agar si bungsu tidak lari kemana-mana selagi Daniel memesan makan siang untuk mereka.
"Muel-hyung, Woojinie hanya mau ke Mommy kok." Woojin memandang hyung nya dengan mata memelas andalannya yang ia dapatkan dari sang Ibunda.
Samuel menggeleng sambil memandang tajam adiknya. "Tatapan Woojinie tidak akan mempan pada Hyung. Dan Woojinie sudah pernah mengatakan hal yang sama tapi berakhir dengan lari-lari."
Woojin memajukan bibirnya tanda kesal dengan Hyungnya namun ia tetap duduk dikursi dan menunggu Mommy nya kembali membawa makanan.
Samuel masih memandang sosok kecil yang sudah ia anggap sebagai adiknya dengan intens.
"Muel-hyung berhenti memandang Woojin seperti itu, deh." Kesal Woojin sekaligus takut. Sejak ia sudah bisa berbicara Woojin itu lebih takut pada Samuel ketimbang pada Daniel. Bahkan Woojin pernah pipis di celana karena tatapan hyung nya itu.
Sebelum Samuel melontarkan ucapan pada adiknya, Daniel sudah berdiri didepan keduanya dan meletekan menu makan siang untuk kedua putranya. "Taraaa, makan siang untuk Woojinie dan Muel sudah datangggg."
"Wahhhhh." Kekesalan Woojin pada Samuel langsung sirna ketika melihat menu makanan didepannya. Tangan mungilnya sudah siap melahap makanan didepannya namun terhenti karena cekalan Samuel.
"Woojinie berdoa dulu."
Woojin langsung cengengesan sedangkan Daniel hanya tertawa kecil. Ketiganya langsung mengatupkan tangan dan mulai berdoa.
"Ya Tuhan, terimakasih atas menu makan siang yang kau berikan untuk hari ini. Amin." Ucap Woojin dan langsung melahap makanan didepannya.
Daniel mengacak rambut putra kecilnya sedangkan Samuel hanya menggeleng melihat tingkah adiknya. Samuel lalu memandang sosok dewasa disampingnya. "Apa tidak apa-apa makan lebih dulu sebelum teman Hyung datang?"
Daniel tersenyum mendengar ucapan putra sulungnya, walaupun Samuel bukan darah dagingnya namun ia bersyukur memiliki sosok Samuel dalam hidupnya dan terkadang Daniel suka dibuat kesal oleh Samuel karena Samuel selalu menolak memanggilnya Mommy. "Tidak apa-apa kok, Daripada Woojinie nanti merengek kelaparan terus menerus."
Samuel mengangguk dan mulai memakan menu makan siangnya. Daniel baru akan menyentuh makanannya ketika ia melihat dua sosok yang sudah ia kenal betul. Daniel langsung melambaikan tangannya pada dua sosok itu. "Hyungdeul."
Dua sosok itu segera menyadari posisinya dan langsung mendekati meja Daniel.
"Daniel-ah." Minhyun langsung memeluk sosok manis yang sudah ia anggap sebagai adik itu.
"Minhyun-hyung." Balas Daniel, dia lalu memandang tidak percaya sosok disamping Minhyun. Daniel segera melepaskan pelukan Minhyun lalu memandang sosok seniornya dengan senyum kelinci andalannya.
"Sehun-hyung, kulitmu masih albino yah." Dan ucapan tidak tahu dirinya langsung dibalas jeweran telinga dari Sehun.
"Dasar junior tidak tahu diri. Kau memilih waktu yang salah untuk pindah tau!"
"Akhh, Akhh, Akhh. Hyung sakittt. Sakittt." Daniel menyentuh telinganya yang ia yakin memerah karena jeweran telinga senior dinginnya itu.
"Ahjusshi jangan sakiti Daniel-Hyung!" Teriak Samuel sambil mendorong kaki Sehun menjauh dari tubuh Daniel.
"Mommy, Mommy." Kini Woojin memeluk kaki sang Ibunda. "Mommy tidak apa-apa?" si kecil itu langsung memandang tajam Sehun. "Ahjusshi jangan sakiti Mommy nya Woojinie dan Muel-hyung!"
Minhyun dan Sehun hanya memandang terkejut dengan sikap dua sosok kecil yang ada didepan keduanya bahkan beberapa pengunjung juga menatap penasaran pada mereka.
Daniel menghela nafas lalu menundukan dirinya hingga sejajar dengan kedua putranya. "Muel, Woojinie. Mommy tidak apa-apa kok, Sehun Ahjusshi hanya bercanda. Dan kenalkan mereka berdua adalah sahabat Mommy. Yang manis ini namanya Minhyun Ahjusshi dan yang cantik namun galak ini namanya Sehun Ahjusshi."
Sehun memelototi adik kelas kurang ajarnya itu sedangkan Minhyun hanya tersenyum manis.
Samuel masih memandang tajam Sehun namun tetap membungkukkan badan kecilnya. "Annyeonghaseyo, Ahjusshi. Samuel imnida dan maafkan sikap Muel tadi yah, Ahjusshi."
Melihat kakaknya memperkenalkan diri membuat Woojin juga mengikuti sikap kakaknya. "Annyeonghaseyo, Kang Woojin imnida. Senang bertemu dengan Ahjusshi. Maafkan sikap Woojinie juga yah, Ahjusshi."
Minhyun dan Sehun tersenyum gemas dengan tingkah kedua bocah didepannya.
"Tidak apa-apa, kok. Ahjusshi sudah memaafkan. Ahjusshi juga meminta maaf, yah." Ujar Minhyun, walaupun ia masih bingung siapa kedua bocah didepannya itu, apa hubungannya keduanya dengan sosok adiknya.
"Oh, Iyah. Ahjusshi juga punya putra seumuran kalian namanya Seonho. Seonho ayo perkenal–" mata Minhyun melebar ketika ia tidak menemukan putranya disampingnya.
"Seonho!" Minhyun sudah panic namun kepanikannya segera sirna ketika Sehun menyentuh lengannya dan menunjuk Seonho yang sudah duduk manis dimeja dan memakan makanan entah milik siapa.
"Itu milik Woojinie." Teriak Woojin sambil menunjuk bocah asing yang dengan seenaknya memakan makanannya. "Mommy, ada yang memakan makanan Woojinie." Adunya pada Daniel.
Daniel sudah akan menenangkan putranya namun Minhyun sudah lebih dahulu menyentuh pundak kecil Woojin. "Maafkan Seonho yah Woojinie nanti Ahjusshi belikan makanan lagi buat Woojinie, makanan itu buat Seonho saja yah."
Walaupun kesal namun Woojin tetap mengangguk mendengarnya.
"Hyung, tidak usah. Aku akan beli sendiri." Ucap Daniel.
Minhyun menggeleng. "Tidak apa-apa Niel-ah, aku juga meminta maaf padamu yah akan putraku."
"Putra Hyung?"
Minhyun mengangguk mantap. "Putraku."
"Dan sepertinya pertemuan kita hari ini akan lama karena banyak yang perlu dijelaskan." Ujar Sehun sambil memandang penasaran pada Samuel dan Woojin.
.
"Seonho harus meminta maaf pada Woojinie karena memakan makanan punya Woojinie." Ujar Minhyun pada putranya.
Seonho memandang kedua bocah yang seumurannya dengannya itu, mulutnya sudah penuh dengan makanan. "Maafkan Seonho yah Woojinie."
Woojin mengangguk. "Iyah, Woojin memafkannya kok."
Seonho lalu tersenyum dan memandang Samuel. "Annyeong."
Samuel memandang penasaran pada sosok yang baru ia lihat itu. Dan tanpa terasa ketiga bocah itu langsung mengobrol dan membicarakan sesuatu yang tidak dimengerti oleh ketiga orang dewasa disamping mereka. Mereka membicarakan sesuatu yang tidak penting tapi menurut mereka sendiri sangat penting seperti makanan, mainan dan monster.
Sehun, Minhyun dan Daniel memandang gemas tingkah ketiganya namun mereka tahu ada sesuatu yang lebih penting untuk dibicarakan.
"Jadi siapa mereka berdua, Daniel? Apakah mereka adalah alasan kenapa kau ke Canada tiga tahun yang lalu?" tanya Sehun.
Daniel menghela nafas dan mengangguk. Dia tidak bisa berbohong kepada dua hyung nya itu.
Minhyun menyentuh lengan Sehun ketika Hyungnya itu sudah akan membuka mulut. "Kita lebih baik tidak membicarakannya didepan mereka hyung. Kita masih memiliki banyak waktu hari ini."
Sehun mengangguk mengerti. Ia sekali lagi menatap Woojin dan Samuel. Melihat Woojin membuat Sehun merasa familiar dengan si kecil itu. Woojin memiliki aura seperti Daniel namun entah kenapa si kecil itu juga memiliki aura yang ia kenal betul milik siapa sedangkan Samuel… entahlah si bule kecil itu walaupun tenang dan dewasa tapi auranya begitu murni dan gelap.
.
.
.
Daniel memandang Minhyun ketika sosok yang sudah ia anggap figure seorang kakak itu menyelesaikan cerita tentang hidupnya selama tiga tahun terakhir. Daniel langsung memeluk kakaknya untuk memberikan semangat. Saat ini mereka berada di apartement Sehun dan ketiga bocah kecil itu tengah tidur siang.
"Pantas saja aku tidak pernah berjumpa denganmu selama satu tahun ini, karena kau ada di Busan, Hyung."
Minhyun tersenyum dan membelas pelukan adiknya sedangkan Sehun hanya menatap keduanya datar. "Sekarang giliranmu menceritakan pada kami bagaimana kau mendapatkan kedua bocah itu, Kang Daniel."
Daniel menjauhkan diri dari Minhyun, ia memandang seniornya yang menatapnya dengan intens. "Mereka berdua adalah putraku."
"Samuel terlalu besar untuk menjadi putramu." Ujar Sehun.
Sosok manis bergigi kelinci itu menghela nafas. "Samuel memang bukan putra kandungku, aku menemukannya didepan rumahku saat di Canada. Woojin lah putra kandungku. Tapi keduanya tahu bahwa mereka tidak memiliki ikatan darah namun itu tidak menghalangi keduanya untuk menjadi kakak beradik."
"Siapa Ayah Woojin?" tanya Minhyun sambil menggenggam tangan Daniel.
"Instruktur Ong."
Minhyun membulatkan matanya memandang kakaknya yang mengucapkan kata itu. Dia langsung memandang Daniel yang menundukan kepalanya. "Benarkah? Ayah dari Woojin adalah Instruktur Ong?"
Daniel mengangguk pelan, percuma ia membantahnya juga. "Iyah, Hyung."
"Ba-bagaimana bisa? Dan bagaimana Sehun-hyung bisa tahu?"
Sehun berdiri dan ikut duduk disamping Daniel hingga sekarang Daniel diapit oleh kakak beradik itu. "Aku pernah sekali melihat kalian berciuman di gudang belakang SOPA."
"Kalian pacaran?" tanya Minhyun namun Daniel menggeleng. Kebingungan kian melanda keduanya. "Katakan pada kami semuanya, Niel-ah." Ucap Minhyun dengan lembut.
Saat itu usianya baru 15th namun ia sudah berhasil duduk di bangku SMA SOPA, salah satu sekolah terpopuler di Korea bila kau ingin menjadi Idol. Daniel banyak disukai oleh orang-orang disekitarnya karena auranya yang cerah dan hobby nya yang suka tertawa karena hal kecil apapun.
Sudah menjadi kebiasaannya ketika pagi hari membuka lokernya dan mendapatkan ratusan surat cinta namun Daniel tidak pernah mempedulikannya karena hatinya sudah terperangkap oleh satu orang.
Ong Seongwoo.
Pelatih dance ekskul yang ia masuki.
Daniel sudah jatuh cinta terlalu dalam pada pesona sosok tersebut walaupun ia tahu sosok tersebut tidak pernah menganggapnya lebih.
Pada minggu pertama semester genap di SOPA saat Daniel mendapatkan jadwal piketnya ia harus membuang sampah di belakang gedung sekolahnya dan disanalah ia melihat semuanya.
Dengan matanya sendiri ia melihat sosok yang dicintainya tengah memeluk salah satu siswi dari kelasnya, bukan pelukan yang mereka lakukan yang membuatnya terkejut tapi pada mulut Instruktur Ong yang berada dileher sang siswi dan dengan khidmat sosok tampan itu meminum darahnya.
Daniel tahu, ia harusnya segera pergi dari sana namun ia merasakan bisikan iblis pada telinganya, ia dengan keberanian merekam kegiatan yang ada didepan matanya.
Keesokan harinya setelah club dance selesai latihan Daniel dengan beraninya meminta Seongwoo untuk menemuinya di gudang belakang sekolah.
"Ada apa?"
Daniel tersenyum manis lalu mengeluarkan hp miliknya. "Aku tahu siapa kau sebenarnya, Instruktur Ong."
Instruktur dance tampan itu menatap datar bocah didepannya. "Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."
Pemuda manis bergigi kelinci itu langsung menyalakan video yang ia rekam kemarin.
Mata Seongwoo langsung membulat sempurna, dengan sigap ia merebut hp milik pemuda kelinci dihadapanya dan membantingnya dilantai. "Kau!"
Daniel hanya menatap datar hp miliknya yang sudah hancur namun langsung menatap Seongwoo dengan tatapan menantang. "Aku sudah mencopy nya di laptopku dan dengan gerakan kecil maka video itu akan tersebar ke penjuru dunia."
Seongwoo langsung menarik kerah Daniel, tidak peduli jika Daniel adalah anak didiknya. "Aku bisa dengan mudah membunuhmu."
"Kau tidak akan bisa melakukan itu." Daniel ingin mendorong sosok didepannya namun tidak bisa, sosok didepannya memiliki tenaga yang kuat. "Aku akan menghapus video itu asal kau mengabulkan satu permintaanku."
Mata sang pelatih yang selalu bertingkah konyol itu memerah dan taringnya sudah ia keluarkan. "Kau mengancamku?"
"Aku mengancammu, Instruktur Ong. Atau sekarang kau ku panggil Tuan Vampire." Daniel mengeluarkan smirknya. "Hanya satu permintaan dan video itu akan ku hapus untuk selamanya."
Seongwoo mendekatkan taringnya didepan wajah Daniel. "Kau tidak takut padaku?"
"Tidak, Tuan Vampire."
Seongwoo menjauhkan diri dari tubuh Daniel. "Katakan permintaanmu."
Daniel langsung tersenyum manis, ia mendekati sosok didepannya dan dengan santai mengalungkan kedua tangannya dileher Seongwoo.
"Sentuh aku." Dan dengan itu Daniel mencium bibir dingin didepannya.
.
Seongwoo memandang datar pada salah satu murid club dance yang masih tertidur dilantai gudang –yang sudah ia bersihkan setelah melakukan kegiatan panas yang mereka lakukan selama berjam-jam tanpa henti.
Seongwoo menyelimuti sosok manis itu dengan jas yang ia kenakan, dengan lembut ia membelai surai pink tersebut. "Mulai sekarang kau akan memiliki beban berat dalam hidupmu, Daniel."
.
.
Keesokan harinya Instruktur Ong resmi berhenti di SOPA dan beberapa hari kemudian Daniel mengetahui bahwa ia telah mengandung janin dari sosok yang telah menghilang tersebut.
Karena tidak mau membuat keluarganya malu, Daniel memilih untuk pindah ke Canada dan tinggal disana seorang diri sampai suatu malam ia menemukan bayi kecil yang ditinggalkan secara sengaja didepan rumah kecilnya di Canada.
Daniel mengusap air matanya. "Ini memang salahku. Tapi kehadiran Woojin dalam hidupku tidak pernah menjadi kesalahan."
"Lalu Samuel, apakah kau tahu siapa orangtuanya?" tanya Minhyun sambil memeluk erat adiknya.
"Tidak, Aku sudah mencari informasi tentang kehilangan bayi selama berminggu-minggu namun tidak ada sama sekali."
"Samuel ituuu…" Sehun menatap Daniel. "Dia Vampire, bukan?"
Daniel mengangguk. "Tapi dia tetap putraku."
"Apakah Ahjumma dan Ahjusshi tau siapa Ayah Woojin?"
"Aku tidak pernah membohongi mereka sekalipun. Mereka selalu tau semuanya."
.
.
.
Minhyun membolak-balikan daging ditangannya dan membandingkannya satu sama lain, saat ini ia tengah berbelanja seorang diri untuk menyiapkan makan malam terakhir dengan Kai dan Sehun, Putranya sendiri tengah dibawa oleh keduanya karena pasangan tersebut ingin menghabiskan waktu bersama Seonho untuk hari terakhir mereka di Korea karena mereka akan ke America untuk beberapa bulan.
Setelah selesai membandingkannya kini Minhyun memilih yang sudah ada ditangannya dan mendorong troli belanjaannya untuk mencari bahan makanan lainnya. Setelah hampir setengah jam akhirnya sosok manis itu telah selesai membeli semuanya dan mendorong trolinya menuju kasir.
"Apakah anda Tuan Hwang Minhyun?" tanya sang kasir wanita pada Minhyun dengan senyum ramahnya.
Minhyun memandangnya bingung namun mengangguk. "Yah, Itu nama saya."
Senyum puas terukir di bibir si kasir, sang kasir dengan talaten menghitung seluruh belanjaan Minhyun sedangkan Minhyun sendiri agak was-was, takut uang yang ia bawa tidak cukup untuk membayarnya.
Minhyun sudah mengeluarkan uangnya ketika si kasir wanita sudah menghitung seluruh total belanjaannya.
"Tidak usah, Tuan. Tadi sudah ada seseorang yang membayar belanjaan anda."
"A-apa?" raut kebingungan terukir dengan jelas pada wajah manisnya.
"Tuan itu memberikan uang pada saya dan bilang bahwa ia membayarnya untuk seseorang bernama Hwang Minhyun yang tengah berbelanja disini." Si kasir lalu mengambil beberapa lembar uang dan memberikannya pada Minhyun. "Tuan itu bahkan memberikan uang lebih dari total belanjaan anda, jadi saya berikan pada anda saja."
Minhyun tentu saja menolaknya namun si kasir wanita itu bersikeras agar Minhyun menerima uang tersebut dan setelah banyak perdebatan akhirnya dengan ragu-ragu Minhyun menerima uang itu. Minhyun segera mengambil kantung belanjaannya dan keluar dari supermarket tersebut setelah mengucapkan terimakasih pada kasir tadi.
.
.
Isi pikiran Minhyun kini dipenuhi dengan rasa penasaran pada siapa sosok yang sudah membayar belanjaannya –ditambah uang yang jumlahnya tidak sedikit hingga ia tidak menyadari ada pemuda-pemuda yang tengah mabuk mengikutinya dari tadi.
"Hey, Manis."
Minhyun langsung mendongak dan ketakutan jelas terlihat pada wajahnya ketika banyak gerombolan pemuda disekitarnya.
"Sendirian saja?"
"Mau kami temani?"
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak sambil memandangi tubuh Minhyun dari atas hingga kebawah.
Minhyun mencoba melindungi dirinya sendiri dan menghindar dari gerombolan tersebut namun susah karena jumlah mereka ada tujuh.
"Pipimu tampak empuk sekali." Salah satu pemuda itu mencolek pipinya. "Hahahha."
Minhyun menyentuh pipinya yang baru saja dicolek dan langsung merasa jijik serta ketakutan. "Pergi."
"Kau bilang apa manis? Pergi? Kami tidak akan pergi sebelum kau menghangatkan kami semua malam ini. Hahahah."
Minhyun sudah mengeluarkan air matanya ketika beberapa dari mereka menyentuh lengannya yang memakai sweeter.
"Jika dia mengatakan pergi berarti kalian harus pergi." Ujar suara dingin dari bayang-bayang kegelapan.
"Siapa disana?" beberapa dari gerombolan itu tampak ketakutan ketika mendengar suara dingin penuh wibawa itu.
Kini siluet seorang pria keluar dan dengan langkah pasti mendekati mereka. Matanya semerah darah dan ekspresi wajah tampannya sedingin es. "Pergi sebelum aku habisi kalian semua."
"Monster."
"Iblis." Seketika seluruh gerombolan itu langsung berlari.
JR memandang mereka masih dengan mata memerahnya lalu dengan segera focus pada Minhyun yang juga memandangnya. "Minhyun."
Minhyun tidak tahu apakah ia harus takut pada gerombolan tadi atau pada sosok didepannya.
Dengan gerakan secepat kilat JR sudah ada didepan Minhyun dan mencengkeram lengan Minhyun dengan lembut.
"Kumohon jangan pergi. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi." Sembilan puluh Sembilan tahun hidup JR dia tidak pernah memohon sama sekali dan ia rela melakukannya untuk sosok yang ia inginkan dalam hidupnya. Belahan jiwanya.
Takdirnya.
.
.
.
TBC
27 August 2017
.
Samuel : 3 tahun 3 bulan
Seonho : 3 tahun
Woojin : 2 tahun 10 bulan
.
.
Achan tahu kok kalian bakal protes karena moment 2hyun masih sedikit mangkanya next chapter achan usahin bakal banyakin moment mereka tapi achan nggak janji bakal fast update yah. #deepbow
Thnx for everything, readers-san.
.
.
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
