Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
Achan Van Jeevas
.
.
Character :
JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho
Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)
Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)
Jaehyun – Taeyong / Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun
Ong Seongwoo – Kang Daniel / U-Know (Yunho) – Kwon BoA
Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun
JB / Jinyoung / Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul
Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin
Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)
.
.
.
.
.
Chapter 13 : The Secret is Open Part I
.
.
"Kumohon jangan pergi. Kumohon jangan tinggalkan aku lagi." Sembilan puluh Sembilan tahun hidup JR dia tidak pernah memohon sama sekali dan ia rela melakukannya untuk sosok yang ia inginkan dalam hidupnya. Belahan jiwanya.
Takdirnya.
"Aku minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu tiga tahun yang lalu. Aku benar-benar minta maaf, Minhyun-ah." JR memandang sosok manis didepannya.
Minhyun menghapus air matanya dan memberikan senyuman pada sosok tampan didepannya. "Dari awal kau sudah mengetahui namaku tapi aku bahkan tidak mengetahui namamu sama sekali."
Sang pangeran vampire itu bernafas lega karena ia tidak mendapatkan penolakan. "JR. Namaku JR."
"Senang akhirnya mengetahui namamu JR. Aku Hwang Minhyun." Minhyun tahu ia harusnya tidak secepat ini memaafkan sosok tampan didepannya namun salahkan hatinya yang sudah terperangkap dengan sempurna pada kesempurnaan didepannya. "Bukankah ini awal yang lebih pantas. Saling mengenal nama. Bukan langsung menyentuh dan mencium."
JR tersenyum sambil menggaruk belakang lehernya. "Maafkan aku."
"Berhenti meminta maaf." Minhyun lalu melanjutkan langkah kakinya untuk kembali ke gedung apartement kakaknya sambil membawa kantung belanjaannya yang lumayan besar.
JR dengan sigap mengambil kantung itu dari tangan Minhyun. "Biar aku yang bawa."
Minhyun tidak menolak tentu saja. "Kau yang membayar belanjaanku?"
JR langsung mengangguk, kini keduanya berjalan beriringan. "Kembaliannya untukmu saja."
"Aku tidak bisa menerimanya."
"Aku tidak suka penolakkan."
Minhyun hanya menghela nafas mendengarnya. "Tentang namamu, tiga tahun yang lalu aku menemukan sebuah Gold Card di salah satu buku ku dan disana ada tulisan JR. Apa itu milikmu?"
"Itu kartu namaku."
Minhyun memandang sosok tampan disampingnya dengan mulut terbuka. "Terbuat dari emas?"
"Yah." Jawab JR dengan enteng. "Aku sengaja menaruhnya disana tiga tahun yang lalu agar kau mengetahui namaku."
Minhyun berhenti sebentar sambil memejamkan matanya. "Bisa kita tidak membicarakan kejadian tiga tahun yang lalu? Anggap saja malam ini adalah pertemuan pertama kita."
JR tau apa yang telah ia lakukan pada sosok indah didepannya tiga tahun yang lalu memang sebuah kesalahan yang besar namun JR tidak mau menghapus kenangan tersebut dari ingatannya walaupun sosok didepannya yang memintanya. "Ok."
Kini hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
"Bagaimana kau tahu namaku?" tanya Minhyun memecahkan keheningan diantara keduanya.
"Aku ada disana ketika kau pertama kali datang ke Seoul."
"Disana?"
JR mengangguk. "Di taman kecil yang biasa kau datangi. Aku juga selalu ada disana ketika kau pulang ke apartement sepupumu seminggu sekali."
"Dia bukan sepupuku. Dia kakakku."
Warlock itu adalah kakaknya Minhyun pantas aku merasakan rasa sakit ketika Minhyun menamparku. Minhyun bukan manusia tapi aku tidak merasakan aura Warlock pada Minhyun.
"Dan saat kau terluka pada malam itu?" tanya Minhyun walaupun ia yang mengatakan bahwa anggap saja malam ini adalah pertemuan pertama mereka namun ia penasaran bagaimana sosok dingin disampingnya mendapatkan luka seperti itu. "Kenapa kau bisa terluka?"
"Kau tahu bahwa aku bukan manusia kan?"
"Siapapun yang melihatmu tahu kau bukan manusia." Gumam Minhyun. Kau terlalu sempurna untuk menyandang tittle manusia.
"Aku Vampire. Dan malam itu aku tengah bertarung dengan beberapa Alpha manusia serigala."
Mata Minhyun melebar. "Kai-hyung?"
"Bukan. Bukan dia."
"Kau mengenal Kai-hyung?"
"Tidak kenal tapi aku pernah bertemu dengannya saat bulan purnama."
.
.
"Sampai disini saja, kau tidak usah ikut masuk ke gedung." Ujar Minhyun ketika mereka sudah didepan gedung apartement. Minhyun tidak mau Sehun mengetahui ia pulang dengan orang asing terutama orang yang telah menanamkan benih padanya tiga tahun yang lalu.
"Kau yakin?" tanya JR memastikan. "Tidak apa-apa, aku bisa dengan segera menghilang."
Minhyun tersenyum. "Tidak usah dan terimakasih JR." Minhyun mengambil kantung belanjaannya dari tangan JR.
Sang pewaris tahta kerajaan itu memandang punggung Minhyun yang sudah berjalan meninggalkannya. "Minhyun."
Minhyun menatap kedepannya dan JR ternyata sudah ada didepannya padahal ia yakin JR tadi ada dibelakangnya. "Ya?"
"Bolehkah aku bertemu denganmu lagi?" JR berharap ia tidak mendapatkan penolakan dari sosok manis di depannya. "Aku ingin menjadi temanmu." Teman hidupmu.
"Tentu."
Senyum tampan kini tercetak dibibir sang pangeran. JR mengambil tangan kanan Minhyun dan menciumnya dengan lembut. "Terimakasih dan Selamat malam, Princess."
Minhyun yakin jantungnya sudah berdetak diatas normal, kedua pipinya ia yakin sudah memerah karena blushing.
Pada pertemuan pertama sosok itu sudah berani menyentuh seluruh tubuhnya, pertemuan kedua sebuah ciumanlah yang ia dapatkan dan pada pertemuan ketiga mereka, sosok itu mencium punggung tangannya.
Apakah pada pertemuan selanjutnya sosok itu akan menyentuh hatinya?
Tidak.
Karena sosok itu sudah memiliki seluruh hatinya sejak awal mereka bertemu.
Minhyun tahu ia gila.
Gila karena telah menyerahkan hatinya pada sosok yang ia anggap monster.
"Eomma."
Minhyun mengerjap matanya dan melihat didepannya sudah ada sosok kecil putranya, dibelakang putranya ada Kai dan Sehun yang mengikuti. Apa dia terlalu lama berdiam diri hingga tidak menyadari ketiganya.
"Seonho."
Mata Seonho melebar melihat kantung yang ada ditangan sang ibunda. "Eomma mau masak yah? Seonho bantu yah."
Minhyun terkekeh kecil lalu mengelus surai hitam putranya. "Boleh, dong. Seonho tadi merepotkan Kai Ahjusshi dan Sehun Ahjusshi tidak?"
Seonho langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, kok. Iyakan Ahjusshi?"
Kedua insan itu tersenyum gemas lalu mencubit pipi keponakan mereka.
"Seonho tidak menyusahkan sama sekali kok." Jawab Kai lalu membantu Minhyun membawa kantung belanjaannya. Mereka berempat lalu memasuki gedung apartement untuk makan malam.
.
.
.
(Morning)
"Aku akan sangat merindukan kalian." ujar Sehun sambil memeluk kedua sosok yang sudah melengkapi hidupnya. Adiknya dan keponakannya.
"Kami juga, hyung."
"Hiks hiks hiks, Sehun dan Kai Ahjusshi kenapa harus pergiii."
"Sehun Ahjusshi akan sering-sering menelpon Seonho kok." Sehun mencoba menenangkan keponakan satu-satunya walaupun air mata sudah keluar dari matanya.
Seonho melingkarkan tangan kecilnya ke leher Sehun. "Maafkan Seonho kalau selama ini Seonho nakal sama Ahjusshi yah."
"Seonho tidak pernah nakal kok, Seonho itu anak baik." Ucap Kai sambil mencium kepala Seonho.
"Seonho janji Seonho akan melindungi Eomma disini ketika Ahjusshi pergi. Seonho janji."
Kai, Sehun dan Minhyun tertawa mendengar ucapan bocah polos didepan mereka. Sehun sekali lagi memeluk adiknya untuk terakhir kalinya sebelum mereka tidak akan berjumpa selama beberapa bulan. Mereka memang pernah tidak berjumpa selama beberapa bulan setelah Seonho lahir namun berbeda dengan sekarang, keduanya akan berpisah antar benua bukan kota lagi.
"Jika terjadi sesuatu segera telepon aku, mengerti?"
Minhyun tersenyum manis. "Iyah, Hyung. Dan aku berharap ketika kalian berdua kembali ke Korea kalian membawa teman untuk Seonho. Punya anak sendiri akan lebih menyenangkan hyung." Godanya pada kakaknya.
.
.
.
Seonho menggembungkan pipinya ketika ia harus menunggu sang ibunda di salah satu bangku taman kecil yang tengah membelikannya es krim, Ibunya bilang bahwa taman ini adalah salah satu tempat favoritnya sejak dulu dan tampaknya akan menjadi tempat favorit Seonho juga.
Seonho langsung mendongak ketika ia merasakan ada sosok yang duduk di sampingnya. Matanya membulat sambil memandang penasaran sosok Ahjusshi tampan disampingnya yang memakai jaket denim.
Sosok tampan disamping Seonho yang tak lain dan tak bukan adalah sang pangeran vampire berdarah murni juga memandang bingung bocah kecil disampingnya. Pasalnya JR yakin ia tadi tidak menimbulkan suara ketika duduk dibangku panjang tersebut tapi bagaimana bisa bocah itu merasakan kehadirannya.
"Boleh aku duduk disini?"
Seonho langsung mengangguk. "Boleh, Inikan tempat umum." Setelah mengatakannya bocah berusia tiga tahun itu memandangi sepatunya yang ia dapatkan dari Kai Ahjusshi pada ulang tahunnya kemarin.
JR mengernyit mendengar bocah kecil disampingnya sudah lancar berbicara. Biasanya kan anak kecil berusia 3 tahun kaum manusia itu berbicara saja masih terbata-bata sedangkan sosok bocah disampingnya sudah lancar dan ucapannya sangat jelas.
"Adik manis sedang apa sendirian disini?" tanya JR dengan lembut, walaupun dia tampak dingin tapi sebenarnya dia itu sangat menyukai anak kecil. Dia ingat dulu dia bermain dengan Adiknya, Jinyoung serta Taeyong dan Ren kecil kini keduanya malah menjadi sahabatnya dan adiknya sudah menikah.
"Seonho tidak sendirian, Ahjusshi tampan. Seonho sama Eommanya Seonho tapi Eomma sedang membelikan es krim untuk Seonho." Jelas Seonho.
JR mengangguk mengerti, dia sudah siap bertanya hal lain pada bocah lucu disampingnya namun ia ingat jika tadi sebelum keluar dia harus kembali ke apartement mewah yang ia tempati dengan sahabat-sahabatnya sebelum jam 12 siang. Dia memiliki banyak pekerjaan yang menanti sebelum usianya yang ke seratus tahun beberapa bulan lagi.
JR berdiri lalu mengelus surai lembut Seonho. "Ahjusshi pergi dulu yah, sampai ketemu lagi."
Seonho mengangguk lalu memberikan senyum cerahnya. "Sampai ketemu lagi, Ahjusshi tampan."
JR terkekeh kecil lalu berlalu pergi namun ia masih melambaikan tangannya pada bocah berusia 3thn itu.
Seonho juga ikut melambaikan tangannya hingga sosok tampan itu menghilang dari pandangannya. "Seonho ingin setampan Ahjusshi tampan itu."
"Siapa yang tampan, sayang?" tanya Minhyun yang baru saja sampai didepan putranya dan duduk disamping Seonho, tempat dimana JR tadi duduk. Tangan Minhyun memberikan es krim pada putranya.
"Terimakasih, Eomma." Ucap Seonho. "Tadi ada Ahjusshi Tampan Eomma, Seonho ingin setampan dia kalau besar nanti."
"Katanya Seonho kalau besar nanti ingin seperti Eomma."
Seonho menggeleng sambil menjilat es krimnya. "Tidak. Kalau Seonho seperti Eomma berarti Seonho itu manis. Kalau Seonho manis berarti Seonho tidak maco dan tidak bisa melindungi Eomma."
Mata Minhyun melebar. "Maco? Siapa yang mengajari ucapan itu?"
"Kai Ahjusshi." Jawab Seonho pendek lalu kembali menjilati es krimnya.
.
.
"Bagaimana? Kau mau Niel-ah?" tanya Minhyun penuh harap pada dongsaengnya.
"Hyung, aku tidak bisa menerimanya."
"Kenapa tidak?"
"Hyung, ini terlalu banyak. Aku tidak mau menyusahkanmu."
"Tapi ini juga permintaan Sehun-hyung. Aku mohon, Niel-ah. Mau yah tinggal denganku dan Seonho? Apartement yang Sehun-hyung berikan terlalu besar untukku dan Seonho."
Saat ini kedua pemuda manis itu tengah makan siang bersama direstaurant yang sama kemarin dan Minhyun tengah meminta Daniel untuk tinggal dengannya dan Seonho.
"Tapi, Hyung."
"Ini juga demi kebaikan mereka bertiga, Seonho akan kesepian jika aku tinggal kerja, dengan adanya Samuel dan Woojin mereka akan berteman baik." Minhyun memberikan tatapan memelas pada Daniel. "Ku mohon, Niel-ah. Aku tidak memiliki siapapun lagi di Seoul selain kau."
Apa yang bisa Daniel lakukan selain menerima ajakan hyung tersayangnya. "Baiklah."
"Yeah!" Minhyun langsung berdiri dan memeluk adiknya. "Mmm… aku menyayangimu."
"Iyah, Hyung. Aku juga menyayangimu sekarang lepaskan. Kau bertingkah seperti remaja saja."
Minhyun memajukan bibirnya. "Asal kau ingat saja yah, Kang Daniel. Kalau kita berdua itu memang masih remaja. Usiaku baru 19th dan kau 18th."
Daniel hanya memutar matanya lalu meminum americanonya. Disamping mereka berdua ketiga bocah yang hanya berbeda beberapa bulan tengah makan dengan lahap sesekali Seonho dan Woojin menggoda Samuel yang hanya menatap keduanya dengan jengah.
"Ngomong-ngomong kau kerja dimana Hyung? Susah mendapatkan pekerjaan di Seoul jika kau hanya lulusan SMP." Daniel sendiri dia memang sudah bekerja tapi tempat kerjanya tidak mempedulikan kau lulusan apa, pekerjaannya hanya mempedulikan visual mu saja.
"Aku bekerja di salah satu caffeshop dipinggir jalan. Tempatnya memang kecil tapi nyaman, baru dibuka beberapa bulan yang lalu jadi mereka menerima siapa saja yang melamar." Jelas Minhyun. "Kau sendiri? Apa pekerjaanmu? Bagaimana kau bisa menghidupi keduanya? Keduanya tampak sehat."
Daniel tersenyum kecil. "Eomma dan Appa mempunyai uang yang mereka tinggalkan untukku, dan aku menjual rumah serta tokoh bunga milik Eomma karena diteror oleh beberapa penagih hutang. Dan tentang pekerjaanku, aku bekerja di club sebagai bartender. Gajinya lumayan apalagi jika mendapat tip dari beberapa pengunjung."
Minhyun tahu Daniel tidak memceritakan semuanya tapi dia tidak memaksa, adiknya bagaimanapun juga akan tetap bercerita padanya. "Dari jam berapa kau bekerja?"
"Dari jam 10 malam hingga 4 pagi. Kau Hyung? Kau mendapat shift jam berapa?"
"Jam 9 pagi hingga jam 3 sore. Kita bisa bergantian menjaga ketiganya." Saran Minhyun yang langsung mendapat anggukan dari Daniel. "Saat kau bekerja, kau meninggalkan mereka berdua sendirian?"
"Aku mengunci rumah dari luar. Samuel selalu menjaga Woojin sejak ia bisa berjalan." Jelas Daniel.
"Samuel itu…" Minhyun memandang Samuel yang membersihkan sisa makanan di bibir Seonho. "Dia seperti mengetahui sesuatu yang tidak kita ketahui."
"Dia memang seperti itu. Padahal sejak bayi aku selalu ada disampingnya namun aku seperti tidak mengetahuinya dengan baik." Daniel menghela nafas. "Tapi satu tahun yang lalu setelah pemakaman Eomma dan Appa akhirnya Muel berbicara padaku. Ia bilang bahwa Ayahnya lah yang mengeluarkan dirinya dari perut Ibunya sedangkan Ibunya mengira jika dia telah mati."
"Tanpa kita sadari hidup kita ternyata disekelilingi oleh sesuatu yang dulu kita sebut mitos." Ujar Minhyun sambil memandangi ketiga bocah polos disampingnya.
.
.
[New York]
S. Coups menghentikan siulannya ketika sosok wanita berambut pirang sudah duduk didepannya.
"Ada apa, Clara? Mau menghangatkan tidurku?"
"Aku tidak sudih." Jawab sang wanita sambil memandang jijik tuannya.
Bukannya tersinggung S. Coups malah mengeluarkan senyum iblisnya. "Kau tidak sudih menghangatkanku tapi kau sering bermain dengan Seongwoo di ranjang."
Clara memandang datar tuannya. Sosok yang sudah menjadikannya Vampire.
"Dunia benar-benar kecil. Kau dan Seongwoo bertemu dan menjadi anak buahku ketika kau ingin membuat kakakmu hancur dan Seongwoo adalah orang yang menghamiliki kakakmu. Dan kalian berdua menjadi friend with benefit." S. Coups mencemooh Clara.
"Aku kesini bukan untuk mendengar kau membicarakanku. Aku kesini karena sebentar lagi Pangeran JR akan berusia 100th dan kau masih belum menjalankan rencanamu."
S. Coups mendekati vampire muda didepannya. "Aku sudah menjalankan rencanaku, Clara sayang. Dan kau hanya harus ke Seoul untuk bertemu tunanganmu serta menjalankan rencanamu untuk menghancurkan kakakmu yang bernama Kang Daniel itu."
"Aku sudah menghancurkan setengah hatinya dengan membunuh Ayah dan Ibu didepan matanya, sekarang aku akan menghancurkan seluruh hatinya hingga dia memohon untuk mati dibawah kakiku." Setelah mengatakan hal tersebut Clara keluar dari ruangan S. Coups dengan wajah tanpa ekspresi.
.
.
.
SEOUL
"Clara akan ke Korea lusa." Ucap Aron memberitahu JR setelah ia mendapatkan informasi dari salah satu pengawal kerajaan.
"Aku tidak peduli." Balas JR.
"Tapi Ratu BoA peduli, dia adalah tunanganmu JR."
JR mengambil jaketnya, berencana untuk menemui Minhyun. "Aku tidak mengerti mengapa Mother begitu bersikeras menjadikan Clara istriku ketika ia tahu bahwa Clara berpihak pada S. Coups."
Aron tersenyum. Seluruh sahabatnya bahkan Raja dan Ratu tahu bahwa Clara itu berpihak pada S. Coups, tapi Lord U-Know dan Lady BoA memiliki pemikiran yang sama. "Itu karena Lady BoA tahu bahwa lebih baik mendekatkan musuhmu hingga kau tahu apa rencananya dari pada menjauhkannya."
JR menggelengkan kepala lalu berjalan keluar dari apartement mewahnya.
Aron menatap kepergian sahabatnya dalam diam. Ia menyentuh perut datarnya ketika rasa nyeri mendera. Aron tidak mengerti sejak tiga tahun yang lalu ia sering merasakan nyeri dari dalam perutnya padahal ia sudah bertemu tabib kerajaan namun mereka tidak menemukan ada yang salah pada organ perutnya.
Rasa nyeri itu kian terasa sekitar satu tahun terakhir ini. Selain rasa nyeri pada perutnya Aron juga merasakan jantungnya sering berdetak kencang.
"Mungkin factor usia. Kau bahkan lebih tua dari JR." ucap Ren ketika ia melihat Aron lagi-lagi menyentuh perutnya.
Aron hanya memandang datar adik dari mantan kekasihnya itu. "Pergilah, Minki."
Ren hanya memajukan bibirnya ketika Aron memanggil nama aslinya.
.
.
"Minhyun?"
Minhyun terlonjak kaget dan segera menatap sosok yang tiba-tiba saja sudah ada didepannya. Ia melepaskan satu earphone yang ia pakai. "Kau mengejutkanku."
JR tersenyum. "Maaf."
"Sudah ku bilang berhenti meminta maaf."
JR memandang tangan Minhyun yang membawa kantung belanjaan. "Ku pikir baru beberapa hari yang lalu kau berbelanja."
"Putraku suka makan, dia bisa makan lima kali sehari tapi karena tahu aku tidak memiliki cukup uang jadi dia hanya makan tiga kali sehari plus snack yang harus selalu ada." Jelas Minhyun.
"Putramu?" JR memandang penasaran pada sosok manis disampingnya, keduanya kembali berjalan beriringan. JR memang tahu bahwa Minhyun sering bersama anak kecil yang tidak ia ketahui siapan namanya itu. Bahkan JR tidak pernah bisa melihat wajahnya ketika ia memandangi Minhyun dari balkon kamarnya.
Minhyun tersenyum bahagia. "Yah, Putraku."
JR merasakan hatinya perih mendengar ucapan mantap Minhyun serta tatapan bahagia yang terpancar disana. Tiga tahun memang bisa mengubah segalanya. "Kau sudah menikah?"
Adik dari Sehun itu menghentikan langkah kakinya dan memandang wajah tampan sang pangeran. "Tidak."
JR langsung tersenyum namun senyumnya langsung sirna ketika mendengar ucapan Minhyun selanjutnya.
"Tapi aku jatuh cinta pada seseorang dan dia adalah Ayah dari putraku."
Sang pangeran vampire itu membatu ditempat mendengar kalimat tersebut, dia tidak berencana mengikuti Minhyun yang sudah melanjutkan langkah kakinya.
"Siapa Ayah dari Putramu itu, Minhyun-ah? Begitu beruntungnya laki-laki itu hingga kau memberikan hatimu untuknya." JR memandang punggung Minhyun yang semakin mengecil dan hilang dari pandangannya. "Tidak adakah kesempatan untukku?"
.
.
.
TBC
28 August 2017
.
