Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
Achan Van Jeevas
.
.
Character :
JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho
Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)
Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)
Jaehyun – Taeyong / Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun
Ong Seongwoo – Kang Daniel / U-Know (Yunho) – Kwon BoA
Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun
JB / Jinyoung / Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul
Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin
Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)
.
.
Don't Like, Don't Read and Don't Plagiat!
.
.
.
Chapter 14 : The Secret is Open Part II
.
"Akhhh." Minhyun memandang kosong tangannya yang teriris ketika memotong sayuran untuk makan malam.
"Hyung." Daniel memandang sosok yang lebih tua satu tahun darinya itu, dengan segera ia mengambil peralatan p3k dan mengobati luka kecil di jari Minhyun. "Ada apa dengamu, Hyung? Dari tadi sore setelah berbelanja kau terus menerus melamun?"
"Maafkan aku, Aku sedang tidak berkonsentrasi."
"Hyung, katakan padaku apa ada yang mengganjal pikiranmu?"
Minhyun menghela nafas lalu menganggguk pelan. "Aku bertemu dengan Ayahnya Seonho."
Mata Daniel melebar. "Ayahnya Seonho?"
Minhyun mengangguk. "Sebenarnya aku sudah bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Pada malam aku aku bertemu denganmu."
Daniel membiarkan Minhyun untuk tenang sebentar sebelum kembali bertanya. "Apa dia tahu tentang Seonho?"
"Sepertinya tidak. Dia mungkin akan menatapku jijik jika mengetahuinya."
"Tapi dia adalah Ayah Seonho. Dia pantas tahu, Hyung."
Minhyun kembali mengiris sayuran yang tadi diabaikan olehnya. "Kau sendiri? Apa yang akan kau lakukan jika Instruktur Ong ada di Korea?"
"Aku tidak akan melakukan apapun."
.
.
.
Suara dentuman music terdengar kian membahana ketika langit semakin gelap disalah satu club ternama di kota Seoul.
Seseorang pria berusia empat puluh tahun menepuk bahu Daniel yang tengah mengobrol dengan salah satu bartender club malam tersebut. "Layani wanita di meja 18."
Senyum manis Daniel langsung sirna, kini ia memasang wajah serius dan berjalan ke meja nomor 18 dimana ada seorang wanita yang sudah menginjak usia 30 yang memandangnya dengan senyum menggoda.
Daniel dengan santai duduk disamping wanita itu, bahkan dia sudah memeluk leher sang wanita. "Boleh aku duduk disini, Noona?"
Sang wanita langsung tersenyum dan menyentuh pipi Daniel. "Tentu saja. Akan lebih menyenangkan kalau kau menemani Noona malam ini di ranjang."
Daniel tersenyum sambil menciumi tangan sang wanita yang menyentuh pipinya dengan sensual. "Noona harus membayar lebih untuk itu."
Sang wanita itu dengan santai duduk dipaha Daniel. "Noona akan membayar lebih kalau kau mencium Noona."
Daniel tersenyum dan segera menklaim bibir merah didepannya. Ciuman penuh menggairahkan itu hanya berselang selama tiga detik sebelum dengan gerakan cepat sang wanita yang duduk dipangkuannya ditarik oleh seseorang.
"Mwoya?!" marah sang wanita pada sosok laki-laki asing yang menariknya menjauh dari Daniel.
"Maaf, Nona. Tapi aku sudah membookingnya untuk malam ini." sosok tampan itu kini memandang Daniel dengan smirknya.
Mata Daniel melebar melihat sosok didepannya. "Ba-bagaimana… kau…"
Sosok itu mencengkeram lengan Daniel hingga Daniel kini berdiri. "Aku sudah membookingmu untuk malam ini, jangan kecewakan aku."
Setelah mengatakan hal tersebut sosok tampan itu menarik Daniel keluar dari club, sebelum benar-benar keluar Daniel melihat bossnya yang hanya memandangnya dengan tersenyum licik.
.
Brukk.
Daniel hanya diam ketika ia dijatuhkan dikasur dengan kasar dan sosok tampan itu langsung mendudukinya dan membuka kemejanya dengan cepat.
"Kau mau melakukannya dengan kasar atau dengan lembut?"
Daniel hanya memandang datar tanpa ekspresi. "Terserah kau. Kau yang membayarku malam ini. Kau bisa melakukan apapun."
Sosok tampan itu memandang jijik dirinya. "Benar-benar seorang pelacur."
Dan dengan gerakan cepat ia membuka seluruh bajunya dan Daniel yang hanya diam tak bergerak.
"Ahhh..." Daniel mengeluarkan desahannya ketika sosok itu menggigit dan dan menjilati lidahnya, tangan sosok tampan itu juga kini sudah berkeliaran diperut dan nipplenya.
"Desahanmu sama seperti tiga tahun yang lalu." Ujar sosok itu lalu dengan gerakan cepat ia melebarkan kaki Daniel.
"Kau harus memakai pengaman." Cegah Daniel ketika sosok itu sudah siap memasukinya.
"Kenapa aku harus memakai pengaman?"
Karena sudah cukup aku memiliki satu Woojin dari benihmu. Ujar Daniel dalam hati. "Kumohon, kau harus memakai pengaman."
"Aku tidak punya dan aku malas untuk membelinya." Ujar sosok diatas Daniel dengan enteng.
"Aku punya di celana ku."
Si tampan itu turun dari atas tubuh Daniel dan menggeledah celana jeans Daniel dan mendapatkan sebuah kondom disana. "Ini bukan ukuranku. Ini terlalu kecil."
"Itu ukuranku."
Sosok tampan itu hanya merespon acuh namun tetap memakainya. "Sepertinya lubangmu lama tidak dimasuki, hm?"
Daniel mencengkeram sprei putih ketika sosok itu sudah memasukinya. "Aku hanya melayani wanita."
"Bagus."
.
.
Minhyun menggigit jarinya ketika jam menunjuk angka setengah 9 dan sosok yang sudah ia anggap sebagai adik masih tidak terlihat batang hidungnya. Ia sudah puluhan kali menelpon Daniel namun tidak diangkat sama sekali bahkan dua jam yang lalu nomornya tidak aktif.
"Muel, apa Daniel pernah tidak pulang hingga jam segini?" tanya Minhyun pada bocah disampingnya ketika ia sudah menenangkan Woojin yang terus bertanya dimana mommynya.
Samuel menggeleng. "Tidak pernah, Ahjusshi."
Minhyun memandang ketiga bocah didepannya dan dengan pikiran bulat ia akan menitipkan ketiganya di Daycare karena ia harus bekerja.
.
.
.
"Ini pesanan anda, Tuan." Minhyun meletakan frapuccino diatas meja pengunjung café tempat ia bekerja.
"Minhyun-sshi?"
Minhyun langsung mendongak pada pengunjung tersebut ketika ia merasan suara itu familiar untuknya. "Jaehyun-sshi?"
Jaehyun tersenyum tampan ketika Minhyun mengingatnya. Jadi dia bekerja disini? Apa JR Hyung sudah tahu?
Minhyun memandang terkejut pada sosok tampan didepannya yang tidak berubah sama sekali dari tiga tahun yang lalu namun ia langsung teringat ucapan Sehun setelah ia melahirkan Seonho bahwa Jaehyun adalah vampire.
"Kau lebih manis dari tiga tahun yang lalu, Minhyun-sshi." Puji Jaehyun.
Sedangkan Minhyun hanya tertawa kecil. "Dan kau tidak berubah sama sekali Jaehyun-sshi."
Jaehyun mengerti arti ucapan Minhyun serta tatapan yang sosok manis itu berikan padanya. Minhyun sepertinya sudah tahu bahwa dia adalah vampire. "Aku sering kembali ke Kang Flower namun kau tidak ada disana hingga tokoh bunga itu tutup. Aku tidak menyangka kau kini bekerja di caffeshop milik adikku."
"Yah, Ini adalah hari pertama aku bekerja. Dan milik adikmu, Jaehyun-sshi? Aku tidak tahu itu." tentu saja Minhyun tidak tahu karena ia diterima oleh manajer caffesop bukan bosnya langsung karena yang ia dengar bossnya sedang ada di Jeju.
"Iyah, Caffeshop ini milik adikku. Dia ada di Jeju dua tahun ini tapi hari ini dia pulang dan dia akan kesini. Nama adikku itu Jung Sewoon."
Minhyun membatu mendengar nama sahabatnya keluar dari bibir Jaehyun. "Jung Sewoon?"
"Kau mengenal adikku, Minhyun-sshi?"
"Dia–"
"Hyung."
Minhyun dan Jaehyun langsung melihat pemilik suara tersebut dan disana sepuluh langkah didepan mereka ada seorang pemdua manis yang memakai kemeja kuning yang tidak terkancing dengan dalaman putih serta celana jeans hitam dan sepatuh putih yang tengah membawa gitar dan tas ransel.
Sewoon hampir menjatuhkan gitar kesayangannya ketika melihat sosok yang ada disamping kakaknya. Sosok itu, sahabatnya yang sudah tidak ia jumpai selama tiga tahun. Sosok sahabatnya yang menghilang entah kemana kini berdiri disamping kakaknya.
"Min… hyun."
"Sewoon."
Mantan ketua kelas vocal 1A itu langsung berlari dan menerjang sahabatnya. "Hwang Minhyun."
Minhyun langsung membalas pelukan hangat dari ponyo kesayangannya. "Sewoon, Sewoon."
"Kemana saja kau selama tiga tahun ini? Aku merindukanmu, Minhyun."
Kedua sahabat itu saling berpelukan, beberapa pengunjung café memandang bingung namun ada juga yang tersenyum manis, bahkan para pelayan juga.
Jaehyun berdiri dan memandang keduanya dengan bingung. "Kalian saling mengenal?"
Sewoon melepaskan pelukan dari Minhyun dan memandang kakaknya. "Dia sahabatku ketika kelas 1 di SOPA, Hyung. Minhyun perkenalkan ini Hyung ku, namanya Jung Jaehyun."
"Kau tidak pernah bilang kau memiliki sahabat bernama Hwang Minhyun."
"Kau tidak pernah bilang kau memiliki Hyung bernama Jung Jaaehyun."
Sewoon memandang keduanya. "Bagaimana kalau kita keruanganku?"
Wake up in the morning feeling like P Diddy
(Hey, what up girl?)
Jaehyun langsung mengangkat hp nya yang berbunyi. "Hallo, Sayang?"
'Sedang apa kau? Lama sekali?'
"Aku sedang bertemu Sewoon, Love. Kau tahu kan hari ini dia baru pulang dari Jeju."
'Aku merindukanmu, Aku ingin kencan sekarang.'
"Tidak bisa lain kali?" Jaehyun melirik Minhyun dan Sewoon yang memandangnya.
'Aku punya tiketnya menontonnya untuk hari ini. Jadi harus hari ini.'
"Ok, Ok. Aku akan kesana. Kita akan kencan."
'Yeah! Jaehyunie is the Best. I love you.'
"I love you, too." putra sulung dari Sang Raja Vampire dan Lee Seunggi itu memandang kedua sosok submissive didepannya dengan tatapan meminta maaf. "Mian, Aku harus pergi."
Sewoon tersenyum maklum. "Tidak apa-apa kok Hyung." Sewoon memeluk tubuh kakaknya. "Berikan salamku untuk Taeyong-hyung."
.
.
"Tapi jika kalian adalah saudara… sedangkan Jaehyun-hyung adalah vampire berarti Sewoon kau juga…" Minhyun tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya memandang sahabatnya dalam diam.
Sewoon tersenyum. "Kami Half-Blood. Jaehyun-Hyung memilih sisi vampire sedangkan aku memilih sisi manusia namun aku harus tetap meminum darah seminggu tiga kali."
"Apa Jaehwan tahu?"
"Dua tahun yang lalu aku mengatakannya tentang siapa diriku yang sebenarnya, Aku pikir dia akan memandangku rendah namun dia tersenyum dan sudah mengetahui sejak awal siapa diriku sebenarnya." Sewoon memandang jendela ruangannya.
"Dia juga mengatakan bahwa Jaehyun-hyung mendatanginya dan mengatakan seluruh seluk beluk tentang Vampire. Jaehwan lalu memberikan darahnya padaku hingga aku bisa sepenuhnya menjadi manusia." Jelas si bungsu keluarga Jung. "Ngomong-ngomong bagaimana kau tahu bahwa kakakku vampire?"
"Sehun-hyung yang mengatakannya. Sehun-hyung, dia–"
"Warlock."
Minhyun mengangguk. "Yah, Dia warlock tapi dia juga kakakku, kakak kandungku."
"Apa?"
"Banyak hal yang terjadi selama tiga tahun ini, Sewoon."
"Ceritakan padaku, semuanya? Ceritakan padaku mengapa kau pergi secara tiba-tiba? Bahkan Sehun-hyung selalu bungkam padaku."
.
"Aku ingin bertemu dengan Seonho." Ucap Sewoon setelah Minhyun menyelesaikan ceritanya.
"Kau memang harus bertemu dengannya." Minhyun lalu tersadar. "Astaga, Aku harus kembali bekerja Sewoon."
"Aish, apa maksudmu kembali bekerja. Aku adalah bossmu. Sekarang kau naik pangkat menjadi asisstent ku." Perintah Sewoon dengan nada sok tegas.
Minhyun memutar matanya. "Aku tidak mau menerimanya. Apa yang akan pegawai lain katakan ketika mendengarnya."
"Biarkan saja, kan aku yang jadi boss nya."
"Tapi aku tetap tidak mau menerimanya. Aku bahkan baru setengah hari bekerja, Sewoon." Setelah mengatakannya Minhyun langsung kabur untuk kembali bekerja meninggalkan Sewoon yang ngambek.
.
.
JR menghentikan langkah kakinya ketika melihat ketiga bocah kecil yang mau menyebrang jalan. JR tertawa kecil ketika ia melihat dua anak yang lebih kecil tampak ketakutan dengan banyaknya mobil yang berlalu lalang sedangkan satu anak yang paling besar diantara mereka mencoba untuk menenangkan keduanya.
Mata JR menyipit ketika salah satu dari ketiga anak tersebut sepertinya ia kenal. Ah, anak kecil di taman tempo hari itu. Kalau tidak salah anak itu menyebut dirinya sendiri dengan Seonho.
JR langsung berjalan mendekati ketiganya karena tidak ada orang dewasa pejalan kaki disana, -tentu saja karena saat ini adalah jam kerja. "Kalian ingin menyeberang?"
Ketiga bocah kecil itu langsung memandangnya secara bersamaan.
"Ahjusshi Tampan." Teriak Seonho lalu memeluk kaki JR dengan senang hati.
JR tertawa kecil lalu mengacak rambut hitam Seonho. Entah ini hanya perasaannya saja atau bagaimana tapi Ia merasa sudah mengenal anak ini sejak bayi.
"Seonho-hyung kenal Ahjusshi ini?" tanya Woojin sambil memandang JR namun tangannya masih memeluk lengan Samuel dengan erat.
JR yakin ia baru pertamakali melihat dua bocah kecil didepannya namun entah kenapa aura mereka terasa familiar untuknya serta ia lagi-lagi dibuat terkejut bagiamana si kecil itu berbicara dengan lancar.
Seonho mengangguk semangat tapi langsung menggeleng kencang. "Seonho pernah bertemu dengan Ahjusshi Tampan ini sekali di Taman tapi Seonho tidak tahu nama Ahjusshi Tampan. Ahjusshi Tampan siapa namanya?"
"Nama Ahjusshi itu Junior Royal tapi panggil saja JR, Ok?"
Ketiganya langsung mengangguk.
"Ayo, Ahjusshi bantu menyeberang."
Keempatnya lalu menyeberang ketika lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau.
"Ngomong-ngomong dimana orangtua kalian? Kenapa kalian hanya bertiga?" tanya JR setelah mereka sudah menyeberang.
Seonho dan Woojin hanya saling berpandangan, mereka bingung mau bicara apa karena mereka sendiri bingung kenapa mereka sudah ada dijalanan.
"Kita tadi ada di Daycare, Ahjusshi. Tapi Woojinie tiba-tiba lari keluar karena bosan jadi Seonho dan Muel ikutan dan kita tiba-tiba saja tersesat." Jelas Samuel.
JR mengangguk mengerti pada penjelasan Samuel, Samuel sepertinya yang paling besar diantara ketiganya namun tetap saja untuk ukuran bocah berusia 3tahun hal itu tidak wajar. "Apa kalian ingat bagaimana tempat Daycare? Ahjusshi bisa mengantarkan kalian kesana."
"Nama Daycarenya itu IM' DAYCARE, Ahjusshi Tampan." Jawab Seonho yang langsung mendapatkan anggukan Samuel.
Mereka terlalu pintar untuk anak kecil berusia 3 tahun kaum manusia.
"Ahjusshi tahu tempat itu. Ayo, Ahjusshi antarkan." Tentu saja JR tahu karena tempat itu adalah milik Kim Donghyun, Istri Im Youngmin yang notabenya adalah adik Im Jaebum, Suami dari Jinyoung, adiknya.
.
Beberapa pegawai IM' DAYCARE bernafas lega melihat ketiga bocah yang baru memasuki tempat mereka bersama seorang pria tampan.
"Astaga, syukurlah kalian selamat. Kami hampir menelpon polisi karena kalian meghilang begitu saja. Ayo, ayo sekarang kalian masuk kembali."
Salah satu pegawai lain membungkuk terimakasih pada JR yang memandangnya tajam. "Kalian baru menelpon polisi? Bagaimana kalau mereka diculik oleh orang?"
"Maafkan kami Tuan, kami memang ceroboh."
"Berapa lama sejak kalian sadar kalau ketiganya menghilang?" tanya JR pada pegawai yang sudah ketakutan.
"Du-dua jam, Tuan." Jawab sang pegawai dengan takut-takut.
"Aku mengenal Im Youngmin, suami dari boss kalian dan aku tidak akan segan-segan untuk mengatakan padanya tentang kejadian ini. Jika sekali lagi kalian lengah menjaga anak-anak –terutama mereka bertiga maka aku akan mengadukannya padanya, mengerti?"
"Me-mengerti, Tuan." Ucap beberapa pegawai secara bersamaan sambil membungkuk meminta maaf.
"Aku ingin bertemu dengan mereka bertiga sebentar." Dan dengan santai JR memasuki ruangan yang tadi dimasuki oleh ketiga bocah yang membuatnya penasaran.
"Ahjusshi Tampan." Teriak Seonho sambil melambaikan tangannya dengan semangat.
JR tersenyum dan mendekati bocah lucu itu. "Kalian sudah makan siang? Ajusshi bisa membelikan makan siang untuk kalian."
Seonho menggeleng lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kotak makan siangnya. "Eomma sudah membuatkannya untuk kita bertiga."
JR mengernyit bingung. "Kalian bersaudara?"
"Tidak, Ahjusshi. Yang membuat bekal makan siang kita itu Eommanya Seonho. Kalau Muel dan Woojinie memang satu Mommy." Jelas Samuel karena Seonho sudah focus pada makan siangnya.
"Muel dan Woojin satu Mommy?" tapi usia mereka terlalu dekat untuk menjadi saudara, mereka seperti hanya berbeda beberapa bulan.
Samuel melirik Woojin sebentar, dirasa si bungsu focus sama makanan membuat Samuel berbisik pada telinga JR. "Muel bukan anaknya Mommy mangkanya Muel memanggil Mommynya Woojin dengan Hyung tapi Woojinie akan menangis jika Muel mengatakan bahwa Daniel Hyung bukan Mommy nya Muel."
JR langsung mengangguk mengerti. Samuel sendiri, entahlah dia harusnya tidak mengatakan banyak hal pada sosok asing yang baru ia temui itu namun entah kenapa dia nyaman dengan Ahjusshi disampingnya.
.
.
.
.
TBC
29 August 2017
.
A/N :
-Please don't be silent readers, yah. Tanpa review/komentar kalian Achan nggak bakal semangat buat nulis ff ini!
.
.
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
