Eternal love

Summary :

Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.

.

.

Achan Van Jeevas

.

.

Character :

JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho

Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)

Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)

Jaehyun – Taeyong / Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun

Ong Seongwoo – Kang Daniel / U-Know (Yunho) – Kwon BoA

Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun

JB / Jinyoung / Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul

Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin

Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)

.

.

.

.

Chapter 15 : The Secret is Open Part III

.

.

.

Daniel membuka matanya dengan perlahan, ia merasakan seluruh tubuhnya begitu sakit terutama pada tubuh bagian bawahnya. Pemuda bergigi kelinci itu merasakan bahwa sosok disampingnya sudah bangun dan tengah monton tv.

"Kau sudah bangun?" tanya sosok tampan itu sambil mengganti channel tv tanpa melirik Daniel sama sekali.

Daniel tidak menjawab pertanyaan itu, dia hanya bergerak turun dari ranjang, memunguti bajunya satu persatu dan masuk kekamar mandi dengan susah payah.

Hanya membutuhkan sepuluh menit untuk membersihkan dirinya, ia merasa bersalah pada Minhyun padahal hari ini adalah hari pertama Minhyun bekerja.

Daniel keluar dari kamar mandi dan memandang datar pada sosok tampan yang masih sibuk mengganti channel tv, sosok itu tampaknya belum membersihkan diri namun ia masih tetap tampan seperti tiga tahun yang lalu.

Sosok itu masih memakai selimut yang hanya menutupi bagian pusar kebawah sehingga perut six packnya terlihat dengan jelas ditambah rambut hitam yang acak-acakan yang kian menggoda siapa saja namun saat ini Daniel tidak peduli, ia memikirkan Minhyun dan ketiga bocah kecil yang pastinya khawatir padanya terutama Samuel dan Woojin.

Semalam Ia lupa mencharger full hp nya sehingga pagi ini ia chek hp nya sudah mati total, ia yakin Minhyun sudah menelponnya puluhan kali atau mungkin ratusan kali.

"Mana bayaranku?"

Sosok tampan itu memandang datar Daniel. "Kau menerima chek?"

"Aku ingin uang chas."

Sosok yang sudah berbagi kehangatan dengan Daniel semalam itu mengambil dompetnya yang ada diatas meja samping ranjang, ia mengambil semua uang chas yang ada disana dan melemparnya pada Daniel.

"Ambil semuanya."

Daniel memejamkan matanya sebentar menahan air mata yang sudah siap tumpah kapan saja. Dengan segera ia mengambil seluruh uang tersebut dalam diam sedangkan sosok tampan itu hanya memandangnya dengan tatapan berjuta makna.

Daniel langsung berdiri setelah memunguti semua uang tersebut, ia memandang datar sosok tampan yang kini sudah kembali focus pada tv. "Semoga kita tidak bertemu lagi…"

"…Seongwoo-hyung."

Dan dengan itu Daniel keluar dari kamar tersebut meninggalkan sosok tampan yang hanya tersenyum iblis mendengar namanya disebut.

"Sayangnya harapanmu itu tidak akan terkabul, Kang Daniel."

.

.

Minhyun tengah membersihkan meja ketika dari dalam caffe dia melihat sekelebat sosok yang ia kenal betul. Minhyun dengan segera berlari keluar untuk mengejar sosok adiknya.

"Daniel!"

Daniel menghentikan langkah kakinya ketika mendengar suara Minhyun.

"Minhyun-hyung, maafkan aku. Aku harusnya segera pulang…"

Minhyun membekap mulut Daniel dan memandang leher adiknya yang penuh dengan kissmark. Minhyun menatap tajam Daniel. "Katakan padaku dengan sejujurnya, apa pekerjaanmu?"

Daniel hanya diam menunduk tidak berani untuk memandang sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak.

"Ayo kita bicara didalam."

.

Minhyun meletakan segelas kopi untuk adiknya, kini keduanya tengah duduk di meja paling pojok, untungnya saat ini sedang istirahat dan Sewoon memberikan ijin ketika Minhyun bilang ia ingin berbicara dengan sang adik. Sewoon sendiri tengah sibuk di dapur untuk mengawasi pegawai bagian dapur, ia bilang akan menyusul nanti.

"Jangan berbohong padaku lagi, Niel-ah. Hidupku sudah penuh dengan kebohongan. Sehun-hyung bertahun-tahun membohongiku kini aku tidak mau adikku juga berbohong padaku."

Daniel menyeruput kopinya sebentar dengan perlahan-lahan. "Bisa dibilang aku adalah pemuas nafsu, Hyung."

"Niel…"

"Iyah, Hyung. Pelacur, Gigolo atau apapun namanya. Itulah pekerjaanku. Tapi aku hanya melayani seorang wanita. Malam dimana aku bertemu denganmu untuk pertamakalinya saat itu bossku menyuruhku pulang karena aku tidak becus melayani salah satu tamu wanitanya." Jelas Daniel.

"Tapi kissmark dilehermu tidak mungkin dibuat oleh seorang wanita." Minhyun menunjuk kissmark dileher Daniel yang terlihat jelas karena kulit putih adiknya.

"Karena seorang pria yang melakukannya dan dia adalah pria satu-satunya yang menyetubuhiku."

"Ma-maksudmu? Ong Seongwoo?"

Daniel mengangguk sambil tersenyum kecut. "Menyedihkan sekali bukan hidupku, hyung."

Minhyun menggenggam tangan Daniel. "Kau tidak sendirian. Kita berdua sama-sama menyedihkan."

JR memandang murka tangan Minhyun yang menggenggam sosok yang tidak ia ketahui itu, ia kesini karena Jaehyun bilang bahwa Minhyun bekerja di caffe Sewoon dan ketika ia datang, ia melihat Minhyun tengah duduk dengan santai bersama laki-laki lain.

"Apa benar-benar tidak ada kesempatan untukku, Minhyun-ah."

.

.

"Mommy, Mommy dari mana saja. Woojin merindukan Mommy." Woojin memeluk Daniel dengan erat ketika Daniel dan Minhyun menjemput mereka di Daycare.

Daniel tersenyum sambil menciumi kepala putra bungsunya. "Maafkan Mommy yah, Woojinie, Muel dan Seonho juga."

Seonho langsung mengangguk, dia sendiri ikut memeluk Daniel sedangkan Samuel hanya memandang Daniel dalam diam.

"Muel kenapa? Muel marah yah sama Mommy?" walaupun Samuel tidak pernah memanggilnya Mommy namun Daniel tau bahwa bocah itu tetap menganggapnya sebagai Ibunya.

Samuel menggeleng. Air mata akhirnya keluar dari bocah yang selalu sok bersikap dewasa itu. "Muel hanya khawatir Daniel-hyung tidak akan pulang lagi."

Daniel tersenyum lalu membawa Samuel kedalam pelukannya.

.

"Seonho tiba-tiba ingin memanggil Daniel Ahjusshi dengan Mommy juga." Ucap Seonho ketika mereka berlima turun dari bus.

"Kalau Seonho memanggil Mommy dengan sebutan Mommy, Woojinie juga mau memanggil Minhyun Ahjusshi dengan sebutan Eomma."

Seonho mengangguk setuju mendengar ucapan Woojin. "Setuju, Setuju."

Minhyun dan Daniel hanya saling berpandangan dan tersenyum gemas.

.

.

Aron memandang bingung sahabatnya yang hanya memandangi langit malam kota Seoul. JR memang suka memandangi langit namun ada yang aneh dengan sahabatnya, JR seperti sedang memikirkan sesuatu. Sang pangeran memang sering memikirkan sesuatu dan tidak mau membagi isi pikirannya dengan sahabat-sahabatnya namun Aron sudah mengenal sejak sang pangeran itu lahir.

"Ada apa, JR?"

JR masih memandang langit malam, tidak menghiraukan ucapan Aron sama sekali, ia tengah memikirkan ketiga bocah yang ia temui tadi siang.

Entah kenapa wajah Samuel sedikit mirip dengan S. Coups dan Aron. Apakah Samuel anak mereka? Aku juga merasakan aura Woojin mirip seperti Seongwoo tapi Seonho… anak itu yang paling aneh, dia bisa merasakan keberadaanku yang tidak bersuara tapi auranya tertutup dengan sempurna. Seperti ada sebuah pelindung tak kasat mata yang menutupi auranya yang sesungguhnya.

"JR!"

Sang pangeran langsung menatap Aron yang sudah menatapnya tajam.

"Apa?"

"Aku sudah memanggilmu beberapa kali dan kau diam saja. Apa yang sedang kau pikirkan?"

JR menggeleng. "Bukan apa-apa. Bagaimana dengan perut? Apa masih sering sakit?"

Aron menghela nafas. "Begitulah."

.

.

[Washington DC]

Kai menangkap tubuh kekasihnya sebelum Sehun terjatuh. "Kau harus beristirahat."

Sehun menggeleng. "Aku tidak bisa, aku harus merapalkan mantra pelindung untuk Seonho, aku merasakan dia sudah bertemu dengan JR."

Kai berdecak lalu mencengkeram lengan Sehun. "Kenapa kau tidak membiarkannya saja? Kita semua tahu bahwa Seonho penasaran siapa Ayahnya, jika JR merasakan bahwa Seonho adalah putranya itu lebih baik."

"Aku tidak mau keponakanku menjadi salah satu dari kaum supernatural. Tidak."

Kai menatap tajam kekasihnya yang keras kepala. "Ini demi kebaikan semuanya, Sehun. Kebaikan Seonho dan Minhyun juga. Jika JR tahu bahwa Minhyun mengandung putranya maka JR bisa melindungi keduanya dengan baik dan kau tidak perlu lagi merapalkan mantra pelindung pada keduanya dari jarak jauh seperti ini, ini tidak baik untukmu."

Sehun menunduk, apa yang dikatakan oleh Kai memang benar tapi ia tidak siap untuk kehilangan keduanya, ia takut jika JR mengambil keduanya pergi darinya dan Sehun tidak bisa lagi bertemu dengan dua orang yang paling ia sayangi itu. "JR adalah Pangeran Vampire sedangkan bangsa Vampire tengah memiliki konflik, aku tidak mau…"

"Sstt, dengar Sehun. Aku sudah bertemu dengan JR beberapa kali. Dia bisa saja dengan mudah membunuhku yang terus mengancamnya tapi dia tidak melakukannya, dia malah sering membiarkanku pergi dan dia bahkan pernah berterimakasih kepadaku karena telah melindungi Minhyun."

Sehun memandang sang Alpha. "Kau pernah bertemu dengannya?"

Kai mengangguk. "Tapi dia sepertinya tidak mengetahui tentang Seonho. Tatapan yang ia berikan ketika menatap Seonho itu tatapan bingung dan itu karena mantramu yang menutupi aura Seonho."

Sang High Warlock muda terdiam dan memikirkan ucapan kekasihnya. Kekasihnya benar, ini semua demi kebaikan dirinya juga Minhyun dan Seonho. Ia tidak akan lagi merasa kelelahan serta Minhyun dan Seonho memiliki pelindung mereka yang sebenarnya.

"Aku akan melepaskannya."

Kai tersenyum mendengar ucapan Sehun. "Sekarang semuanya tergantung pada Minhyun, apakah ia mau menerima JR atau tidak."

.

.

[Seoul]

S. Coups menghentikan langkah kakinya ketika ia merasakan ada yang memandanginya dari tadi. Sepupu dari JR itu langsung membalikan badannya dan melihat ada bocah kecil yang menatapnya datar.

Senyum iblis langsung tercetak jelas dibibirnya. "Hey, Bocah."

Sosok yang dipanggil bocah oleh S. Coups hanya diam, kaki kecilnya mendekati sosok tampan S. Coups dengan tenang. "Hello, Dad."

S. Coups langsung mendudukan dirinya hingga tingginya sama dengan bocah didepannya, ia dengan santai mengacak-acak rambut bocah berusia 3thn itu. "Sepertinya kau memiliki otak jenius Ibumu, atau kau memiliki kekuatan seperti adikku Ren yang bisa melihat kehidupan seseorang."

Pipi bocah itu memerah ketika merasakan tangan Ayahnya yang menyentuh rambutnya, ini adalah kali kedua ia merasakan sentuhan tangan itu, yang pertama ketika Ayahnya mengeluarkan dirinya dari perut sang ibu.

S. Coups menarik tangannya dari atas kepala bocah tampan didepannya, ia langsung berdiri kembali. "Sayangnya aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu dulu, Nak. Aku harus menghancurkan Pamanmu terlebih dahulu baru kita akan menjadi Ayah dan Anak yang sesungguhnya dan doakan semoga Ibumu tidak terbunuh olehku."

Setelah mengatakannya S. Coups langsung berpaling dan menghilang dalam kegelapan malam meninggalkan bocah didepannya yang menatap kosong kepergiannya.

"Muel-hyung." Seonho langsung memeluk lengan Samuel dan menariknya. "Kenapa hyung pergi tiba-tiba, Eomma dan Mommy panic mencari Hyung. Ayo hyung kita kembali."

Samuel hanya diam dan mengikuti Seonho yang menarik lengannya, ia kembali berpaling untuk melihat apakah Ayahnya masih ada disana tapi tidak ada. Sang Ayah benar-benar pergi meninggalkannya, membuangnya seperti tiga tahun yang lalu.

.

.

"Aku semakin penasaran dengan sosok Hwang Minhyun, apakah dia benar-benar mirip dengan Minah?" tanya Taeyong pada Aron.

Aron tersenyum. "Aku sendiri tidak pernah bertemu dengan Minhyun tapi melihat JR sepertinya Minhyun dan Minah itu sama, apalagi fakta bahwa Minhyunlah soulmate sesungguhnya JR."

"Apakah Minhyun lebih cantik dari Clara?" kini Ren yang bertanya. "Aku akui walaupun Clara itu dingin dan gila tapi dia tetap cantik. Walaupun aku lebih imut dan manis darinya tapi aku suka gigi kelinci Clara."

"Sepertinya gigi kelinci itu turunan. Aku pernah melihat kakaknya Clara yang manusia, dia juga memiliki gigi kelinci."

Ren memandang Taeyong penasaran. "Clara memiliki kakak manusia?"

Taeyong mendecih melihat reaksi Ren. "Apa kau tidak ingat jika Clara itu dulunya manusia sebelum di ubah menjadi vampire oleh S. Coups?"

Taeyong langsung menutup mulutnya sambil memandang Aron yang langsung menunduk. "Hyung, Mian."

Bukannya menjawab Aron hanya tersenyum lalu mengacak rambut Taeyong. "Aku akan keluar sebentar."

Ren memandang tajam Taeyong ketika Aron sudah keluar dari pintu. "Kau sih bawa-bawa nama Monster itu."

"Aku lupa, Aku lupa. Dan dia itu kakakmu, Ren."

"Dia bukan kakakku. Kakakku sudah mati saat usiaku 5th."

"Fakta jika kalian lahir dari Ayah dan Ibu yang sama tetap tidak akan berubah. Dan jika kau bilang kakakmu adalah monster berarti kau juga monster. Dan kau memang monster."

Ren langsung menjambak rambut Taeyong. "Dasar Cookie Monster, sialan!"

"Kyaaa sakit Choi Minki!"

.

JR langsung menarik lengan Aron ketika sahabatnya keluar dari pintu apartement mewahnya. "Aku tahu tempat yang bagus untuk menenangkan suasana hati. Kau juga bisa bertemu dengan Minhyun disana."

Aron mengangguk pada sahabatnya.

.

.

Aron menyentuh lengan JR ketika mereka melewati supermarket. "Aku harus berbelanja dulu. Bahan-bahan makanan di apartement sudah habis."

Walaupun mereka adalah vampire namun bukan berarti mereka tidak pernah memakan makanan manusia, mereka bisa memakan makanan manusia dengan santai namun darah tetaplah yang paling utama.

"Kenapa tidak saat pulang saja."

Aron menggeleng. "Sepertinya harus sekarang, aku tidak tahu kenapa tapi…" Aron tidak bisa melanjutkan ucapannya, entah kenapa sangat ingin masuk ke dalam supermarket itu. Seperti ada magnet tak kasat mata yang menariknya.

JR mengangguk. "Baiklah, Aku mengerti." Vampire tampan itu menghentikan mobil sportnya.

.

.

"Hyung."

Sewoon langsung memeluk kakak sulungnya dengan erat ketika sosok tampan itu baru memasuki caffeshopnya.

JR tersenyum dan balas memeluk adik paling kecilnya, walaupun mereka berbeda ibu namun bukan berarti mereka tidak saling menyayangi. "Apa kabar, adik kecil?"

"Baik, Hyung. Dan kau serta Jinyoung? Tidak menyangka yah sebentar lagi kau akan menggantikan Ayah."

JR duduk disalah satu meja yang dekat dengan jendela. "Kami baik-baik saja."

Sewoon mengangguk lalu melambaikan tangannya. "Minhyun, kemari sebentar."

JR tersenyum kecil ketika adiknya memanggil sosok yang menjadi alasannya mengapa ia kesini, ia memang mengatahui jika Sewoon adalah teman dekat Minhyun dari Jaehyun beberapa hari yang lalu.

Minhyun berdiri disamping meja tersebut. "Ada apa ponyo?"

"Perkenalkan ini Hyung tertuaku. JR hyung ini Minhyun, dia adalah teman dekatku saat di SOPA. Minhyun perkenalkan dia kakakku, JR. Kami berbeda Ibu."

Wajah Minhyun langsung blank mendengar penjelasan sahabatnya, dia menatap sosok didepan Sewoon yang sudah menatapnya dengan senyum tampan andalannya. "JR."

"Hey, Minhyun."

Sewoon melihat jam tangannya, tanpa peduli dengan ekspresi dua orang didepannya. "Hyung, maafkan aku tapi aku harus ke agency untuk memberikan bekal makan siang untuk Jaehwan. Aku sudah berjanji padanya."

JR mengangguk mengerti. "Pergilah."

"Maafkan aku, Hyung. Minhyun bisa kau menemani JR-hyung sebentar?" Sewoon menatap sahabatnya dengan memohon yang langsung dibalas anggukan kecil Minhyun.

Sewoon tersenyum manis melihat anggukan sahabatnya, ia lalu mencium pipi kanan JR. "Aku pergi, Hyung."

Sewoon melangkah pergi dari caffeshopnya untuk menemui kekasihnya yang tengah menyiapkan album keduanya sambil membawa makan siang buatannya sendiri.

Putra bungsu dari Lee Seunggi itu memasuki mobil bmw nya, dia sekilas melihat JR dan Minhyun dari jendela luar caffeshop namun tiba-tiba senyum manisnya menghilang ketika akhirnya ia menyadari sesuatu.

Minhyun tampak menunduk dan malu-malu pada kakak sulungnya sedangkan sang kakak berbicara dengan Minhyun sambil tersenyum hangat. Kakaknya itu jarang mengeluarkan senyum hangat kecuali pada orang yang berharga menurutnya.

"Astaga, apakah mungkin JR-hyung adalah Ayah dari Seonho. Minhyun bilang bahwa Ayah Seonho adalah vampire dan bukan sembarang vampire tapi seorang pureblood." Sewoon menggigit jarinya sendiri.

"Pantas aku merasa familiar dengan aura Seonho." Sewoon teringat kembali dengan pertemuannya dengan bocah doyan makan itu dan Seonho saat ini memang sedang ada di caffeshopnya karena Daniel tengah berbelanja dengan Woojin dan Samuel di supermarket yang tidak jauh dari sini.

"Mengapa dunia benar-benar sekecil ini."

.

"Duduklah, Minhyun. Kau tidak mungkin berdiri terus kan?"

Minhyun menundukan wajahnya. "Aku tidak tahu jika Sewoon adalah adikmu."

"Jaehyun dan Sewoon adalah adikku, kita berbeda Ibu. Kau tentu mengenal siapa Ibu mereka."

Minhyun mengangguk, tentu saja ia tahu siapa Ibu Sewoon, dia adalah Lee Seunggi, penyanyi pria yang memiliki suara indah. Pantas saja Jaehyun dan Sewoon memiliki suara yang indah. "Lee Seunggi Ahjusshi."

"Aku punya adik lagi namanya Jinyoung, ia suda menikah dengan Im Jaebum. Kakak dari seniormu yang bernama Im Youngmin."

Minhyun tahu jika seniornya yang mirip alpaca itu vampire karena lagi-lagi Sehun pernah menceritakannya padanya. Kakaknya itu setelah Seonho lahir akhirnya mengatakan segalanya.

"Eomma!"

JR dan Minhyun mendongak ketika mendengar suara yang familiar ditelinga mereka.

Bocah yang barusia 3th itu berlari mendekati sang ibunda. "Eomma, makan makan, Seonho lapar." Seonho kini menarik-narik baju Minhyun.

Minhyun menatap putranya dengan senyum penuh kasih sayang namun ia merasa takut pada sosok didepannya yang memandangi keduanya dengan intens.

JR memandang bingung kedua sosok manis didepannya. "Eomma?"

Seonho langsung menghentikan aksinya menarik baju Minhyun ketika ia sadar ada orang lain didepan mereka. Mata kecilnya melebar.

"Ahjusshi Tampan!" Seonho langsung memeluk sosok tersebut.

Minhyun hanya menunduk, ia takut pada tatapan intens JR.

JR mengelus rambut Seonho, semakin ia melihat sosok kecil ini semakin ia merasa familiar dengan aura yang dibawa bocah berusia 3th itu.

"Seonho, apa kabar? Lama tidak bertemu yah?" memang hari ini adalah seminggu berlalu sejak kejadian dimana ia mengantar ketiga bocah yang ia temui.

"Seonho baik-baik saja, Ahjusshi." Seonho lalu menatap Ibunya. "Eomma ini adalah Ahjusshi Tampan yang Seonho liat di taman waktu itu dan Ahjusshi tampan ini juga yang sudah mengantar Seonho, Woojin dan Muel-Hyung waktu kita tersesat."

Minhyun memandang JR, dia tentu saja ingat hari ia membawa trio kecil itu ke Daycare dan saat pulang ketiganya bercerita bahwa mereka tersesat dan bertemu dengan Ahjusshi tampan yang baik hati. Sayangnya saat Daniel bertanya siapa nama Ahjusshi Tampan itu ketiganya kompak bahwa mereka lupa karena mereka sering memanggilnya dengan Ahjusshi tampan.

"Ahjussi Tampan, Seonho lupa nama Ahjusshi Tampan."

"Panggil saja JR. tapi kalau Seonho mau manggil Ahjusshi Tampan juga tidak apa-apa."

Seonho tersenyum lebar. "Ahjusshi Tampan ini Eommanya Seonho. Eommanya Seonho cantik dan manis kan, Ahjusshi?"

JR tentu saja langsung mengangguk. "Eommanya Seonho adalah sosok paling cantik dan manis yang Ahjusshi pernah lihat seumur hidup Ahjusshi."

"Seonho kalau besar bakal nikahi Eomma biar Eomma ada yang jaga."

JR tertawa kecil mendengar ucapan polos bocah didepannya. "Bagaimana kalau Ahjusshi saja yang menjaga Eommanya Seonho? Ahjusshi akan menjaga kalian berdua selamanya."

Seonho mengangguk semangat. "Boleh. Seonho juga mau minta bantuan Ahjusshi Tampan buat melindungi Eomma karena Seonho masih kecil."

Mata Minhyun memerah melihat interaksi dua sosok didepannya. Ia yakin dihatinya sudah menangis sejak tadi namun ia menahan air mata yang siap keluar dari mata indahnya.

Seonho sayang, sosok yang kau panggil Ahjusshi itu adalah Appamu sayang. Dan JR, Dia adalah putramu. Darah dagingmu.

.

.

TBC

01 September 2017

.

A/N :

-Jangan jadi Siders yah, nggak enak rasanya udah nulis panjang tapi ngga ada yang ngapresiasi berupa review dan komentar. so, please don't be silent readers. karena review/koment kalian adalah penentu kelanjutan ff ini.

.

.

.

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya