Eternal love
Summary :
Hidup Minhyun itu sederhana, dia hanya ingin menjadi penyanyi dan bertemu Idolanya tapi hidup sederhananya musnah sejak ia menolong laki-laki berkulit tan namun memiliki suhu tubuh sedingin es. Apalagi ketika ia mengetahui ia tengah mengandung anak dari laki-laki misterius itu. #Vampire #2Hyun JR/Minhyun BaekRen JaeYong Bnior KaiHun Ongniel #NU'EST #Mpreg.
.
.
Achan Van Jeevas
.
.
Character :
JR (Kim Jonghyun) – Minhyun (Hwang Minhyun) – Seonho
Baekho (Kang Dongho) – Ren (Choi Minki)
Aron Kwak – S. Coups (Choi Seungcheol)
Jaehyun – Taeyong / Kai (Kim Jongin) – Oh Sehun
Ong Seongwoo – Kang Daniel / U-Know (Yunho) – Kwon BoA
Kim Jaehwan – Jung Sewoon / Im Youngmin – Kim Donghyun
JB / Jinyoung / Lee Jinki / Im Yoona / Hangeng / Kim Heechul
Kris Wu / Tiffany Hwang / Nichkhun / Lee Seunggi / Shim Changmin
Luhan / Kim Hyuna / Kang Clara (OC)
.
.
.
.
Chapter 16 : Kiss Me/Kill Me Part I
.
.
Aron menghentikan troli yang berisi belanjaannya ketika ia melihat dua bocah kecil yang tampak kesusahan mengambil susu yang berada di rak atas.
"Kalian mau susu yang rasa apa?" tanya Aron pada kedua bocah kecil disampingnya.
"Yang coklat, Ahjusshi." Bocah yang paling kecil diantara keduanya langsung menunjuk susu coklat diatas.
Aron langsung mengambil kotak susu yang ditunjuk lalu menyerahkannya pada si kecil yang langsung kegirangan dan berlari pergi. Aron hanya tersenyum gemas melihat sosok kecil itu namun matanya langsung memandang sosok kecil lain yang menatapnya.
Mata Aron melebar melihat wajah tampan bocah didepannya yang amat familiar dengan milik seseorang. "Mm, Halo?"
Si kecil itu membungkuk. "Terimakasih…"
Aron tertawa lebar melihat kesopanan bocah didepannya. Namun tiba-tiba ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Aron mencengkeram jantunganya, nafasnya sudah memburu entah kenapa.
"Are you ok?" bocah itu menyentuh tangan Aron yang sudah hampir terjatuh.
Sahabat kecil dari sang pangeran vampire itu menatap tangannya yang digenggam tangan kecil yang terasa familiar dengannya. Air mata turun dari kedua matanya.
"Mengapa tanganmu sangat familiar." Gumam Aron sambil memandang tangan kurus itu. Aron menunduk hingga sejajar dengan bocah kecil itu. "Bahkan wajahmu terlalu familiar untukku."
Bocah berusia 3th 3 bulan itu menyentuh pipi Aron dan menghapus air mata sang vampire. "Wajahku mirip Daddy, tapi aku tidak ingin sepertinya, aku ingin seperti Mommy."
Tangan kecil itu kini menyentuh dada Aron, letak dimana jantung sang vampire berada. "Please don't cry and please don't be hurt anymore. If you hurt then I'm hurting too."
(Kumohon jangan menangis dan jangan sakit lagi. Jika kau sakit maka aku juga sakit.)
Bocah itu mengucapkan dengan bahasa inggris karena ia tahu sosok didepannya pasti mengerti.
Aron kini merasa jantungnya berdesir dan rasa sakit yang ia rasakan selama satu tahun ini lenyap karena sentuhan kecil tersebut. "Please tell me what your name?"
"Muel-hyung."
Keduanya langsung mendongak dan melihat bocah kecil yang tadi pergi kini sudah ada didepan mereka dengan jarak sepuluh kaki.
"Ayo, Hyung. Mommy sudah menunggu."
Sosok yang dipanggil Muel itu mengangguk pada adiknya. "Iyah, Woojinie. Nanti Hyung kesana."
"Sekarang, Hyung." Ucap Woojin.
Samuel menatap Aron dengan tatapan berbagai makna. "My name is Samuel and I'm…" your son.
"…must go."
Samuel menarik tangannya dari Aron dan berjalan menuju adiknya meninggalkan Aron yang hanya menatap punggung kurusnya.
Samuel menghapus air matanya ketika tangannya ditarik oleh Woojin menuju Daniel. Ia tahu sosok yang ia tinggalkan tadi adalah Ibunya, Orang yang telah membawanya ke dunia. Karena wajah itu setiap malam hadir dalam mimpinya.
Halo, Mom. I'm your son and I miss you. I miss you so much.
(Halo, Mom. Aku putramu dan aku merindukanmu. Amat sangat merindukanmu)
.
.
Seonho tersenyum lebar ketika ia melihat sisi kanannya ada sang Ibunda dan didepannya ada Ahjushhi Tampan, saat ini ketiganya sedang ada di restaurant karena JR mengajak keduanya untuk makan siang bersama.
"Seonho senang sekali. Rasanya seperti sudah lengkap."
"Lengkap seperti apa, Jagoan?" tanya JR.
"Dulu kalau makan walaupun ada Halmoni dan Haraboji serta Kai Ahjusshi dan Sehun Ahjusshi ataupun Daniel Mommy dan Muel-hyung serta Woojin namun rasanya masih ada yang kurang, Ahjusshi Tampan. Ini seperti Seonho makan dengan Appa, walaupun Seonho tidak pernah merasakan bagaimana punya Appa namun sekarang rasanya sudah lengkap dan Seonho sangat bahagia."
Ucapan polos bocah berusia 3thn itu sukses memohok hati dua orang didepannya. Minhyun merasa ia tidak becus menjadi orang tua untuk putranya.
"Memangnya Appa Seonho kemana?" JR bertanya sambil mencari informasi siapa sesungguhnya Ayah dari Seonho, orang yang sudah mendapatkan hati Minhyun.
Senyum Seonho mengkerut ketika ia merasakan aura Ibunya yang sedih. "Ahjusshi, Seonho lapar. Kapan kita memesan?"
JR memandang Seonho, dia bahkan bisa mengalihkan pembicaraan, benar-benar bukan anak manusia. Sang pangeran juga merasakan jika Minhyun bernafas lega.
JR mengangkat tangannya memanggil pelayan restaurant. "Seonho mau makan apa?"
"Apa saja, Ahjusshi. Yang penting jangan ada keju dan tomat. Seonho tidak suka."
"Kenapa Seonho tidak suka keju dan tomat?"
"Karena saat Eomma hamil Seonho, Eomma tidak pernah mau makan keju dan tomat jadi Seonho juga benci keju dan tomat." Jelas bocah doyan makan itu. "Kalau Ahjusshi? Ahjusshi suka makan apa?"
"Ahjusshi juga suka makan apa saja selain tomat. Ahjusshi benci tomat."
"Wahhh sama dengan Seonho, dong. Berarti disini yang makan tomat cuma Eomma saja. Sejak Seonho lahir Eomma jadi suka makan tomat lagi."
JR menyipitkan matanya. "Kenapa Seonho bisa tahu? Eommamu yang mengatakannya?"
Si kecil itu menggeleng. "Eomma tidak mengatakannya, Seonho hanya tahu saja dan Eomma bilang memang benar."
Bagaimana bisa ada seorang anak kecil berusia 3th yang mengtahui saat Ibunya mengidam padahal dia masih menjadi janin saat itu.
JR memandang Minhyun yang hanya menundukan kepalanya. "Shiftmu selesai jam berapa?"
"Jam 3."
"Boleh aku bermain dengan Seonho saat kau kembali bekerja?"
"Aku tidak mau menyusahkanmu."
"Ini tidak menyusahkan sama sekali. Seonho mau tidak bermain dengan Ahjusshi?"
"Mau, Ahjusshi, Mau."
JR tersenyum bahagia lalu mengacak rambut Seonho, dia selalu merasa bahagia ketika bersama dengan Minhyun dan Seonho. Mereka berdua sudah menjadi sumber kebahagiannya.
.
.
Ren memasuki kamar Aron ketika merasakan aura sang vampire yang selalu tenang itu tampak dipenuhi dengan kesedihan.
"Hyung."
Aron mendongak dari kegiatannya membaca buku dan tersenyum manis padanya. "Kemarilah Ren."
Sosok cantik yang memiliki nama asli Choi Minki itu langsung naik keranjang Aron dan memeluk vampire itu. "Sepertinya kau bertemu seseorang?"
Vampire bermarga Kwak itu tersenyum dan mengelus rambut blonde si bungsu Choi. "Iyah. Aku bertemu seseorang."
"Siapa namanya?"
"Samuel."
"Samuel? Kalau tidak salah dulu sekali ketika kakakku yang gila masih waras kau bilang kau akan menamakan putramu dengan nama Samuel. Tapi kenapa auramu sedih Hyung?"
"Aku juga tidak mengerti, Ren."
Pikiran Aron melayang kembali pada lima tahun yang lalu, hari dimana hukuman S. Coups telah selesai, hari ia dibebaskan dari hukumannya yang berupa diasingkan dipintu masuk neraka abadi. Sosok yang dicintainya itu datang dan menculiknya.
Aron ingat betul S. Coups benar-benar terluka saat itu, tubuh dan hatinya telah hancur. Aron melihatnya dengan jelas, mata S. Coups tidak seindah dulu, mata itu sudah hancur begitu juga hatinya.
Dalam sisi kewarasannya dan ketidak warasannya S. Coups menyetubuhinya, menyakitinya, dan puluhan kali Aron berada diambang kematiannya.
Aron ingat pada suatu pagi S. Coups tersenyum hangat padanya dan mengatakan bahwa Aron hamil. Aron menangis bahagia dan memeluk kekasihnya, dia bahagia amat sangat bahagia. Dia mencoba melupakan bahwa malam sebelumnya S. Coups hampir membunuhnya, lagi.
Namun hampir tiga bulan ketika ia mengetahui ia tengah mengandung S. Coups mendatanginya dan semuanya tampak terlalu cepat untuk ia cerna. Kekasihnya dengan tanpa perasaan mengeluarkan bayi yang ia kandung sebelum pada waktunya.
Aron terus memohon agar S. Coups tidak melakukannya namun sosok itu seperti tuli, S. Coups tidak peduli dengan teriakan dan tangisannya. Keesokan paginya yang ia ingat S. Coups mengatakan bahwa bayi mereka telah mati.
"Kenapa kau melakukannya?" Aron bertanya dengan tatapan kosong, terlalu banyak luka yang sosok itu torehkan padanya.
"Karena saat ini belum waktunya aku memiliki keturunan, aku akan membunuh JR terlebih dahulu."
Sejak hari itu semuanya tampak buram untuk Aron namun ia ingat satu minggu kemudian sahabatnya akhirnya menemukan tempat persembunyian S. Coups dan membawanya pulang sedangkan S. Coups sudah kabur namun ia dan sahabat-sahabatnya ingat betul kata terakhirnya sebelum ia menghilang.
"Ingatlah, pada malam bulan purnama sebelum usiamu ke 100 tahun aku akan mendatangimu dan menghancurkan semuanya. Kalian semua akan hancur dibawah kakiku." Ucapnya pada JR.
Sejak saat itu Aron mencoba untuk tidak peduli dengan sosok kekasihnya namun setiap kali nama sosok itu terdengar ditelinganya dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya, perasaan bahwa Aron tetap akan mencintai sosok itu sampai akhir hayatnya.
.
.
JR menggendong Seonho yang sudah tertidur nyenyak dibahunya karena kelelahan bermain dengannya. JR memandang kedepan dimana Minhyun berdiri didepan caffeshop adiknya dengan memakai baju biasa karena shiftnya sudah selesai.
Minhyun tersenyum lembut melihat sosok tampan itu menggendong putranya, putra mereka.
JR yakin jika hatinya sudah membuncah karena kebahagian melihat sosok cantik tersebut.
Ia seperti seorang suami yang membawa pulang anak mereka yang tertidur karena kelelahan bermain dan sang istri yang menyambut kepulangan mereka dengan senyum yang indah. Namun JR tahu Minhyun sudah memberikan hatinya pada orang lain.
"Seonho tidur?" tanya Minhyun ketika JR sudah berdiri didepannya. "Maaf sudah merepotkanmu."
"Dia kelelahan karena bermain denganku dan Tidak. Aku tidak merasa direpotkan sama sekali." JR mengelus punggung kecil Seonho yang masih ia peluk. "Aku selalu bahagia berada didekat kalian berdua."
Minhyun sudah akan mengambil Seonho dari gendongan sosok tampan didepannya namun JR menggeleng.
"Aku akan mengantar kalian pulang."
Minhyun sudah membuka mulutnya untuk menolak namun JR sudah memotong ucapannya.
"Sudah berapa kali ku katakan aku tidak suka penolakan."
.
Minhyun menggigit bibir bawahnya ketika JR membukakan pintu mobil untuknya ketika mereka sudah sampai didepan gedung apartement sederhananya.
"Terimakasih." Gumam Minhyun malu sambil menggendong Seonho.
JR tersenyum melihat senyum malu-malu Minhyun yang imut.
"Terimakasih untuk hari ini. Aku terlalu banyak merepotkanmu."
JR mengelus rambut Minhyun dengan lembut. "Minhyun-ah, Kau tidak pernah merepotkanku. Aku merasa bahwa ini adalah tanggung jawabku untuk melindungi kalian berdua."
Tentu saja itu tanggung jawabmu ucapan Minhyun dalam hati. Ia mencoba menetralkan jantungnya yang berdetak kencang.
"Sekarang masuklah."
Minhyun mengangguk dan berjalan masuk ke gedung apartementnya namun sesuatu menarik pinggangnya dan yang ia tahu sudah ada bibir dingin yang menempel pada bibirnya.
Bibir JR tetaplah dingin namun selalu berhasil menghangatkan hatinya. Minhyun memejamkan matanya dan membiarkan JR melakukan sesuka hati pada bibirnya.
JR mencium bibir Minhyun dengan lembut. Bibir sosok cantik didepannya masihlah sama dan tetap menjadi candu untuknya.
Ciuman itu hanya berlangsung singkat karena JR tidak mau Minhyun kembali membencinya dan menghilang lagi. JR yakin ia akan membunuh dirinya sendiri dan memberikan posisi penerus kerajaan pada Jaehyun jika Minhyun menghilang lagi.
"Istirahatlah." Ucap JR lalu mencium kening Minhyun.
Minhyun mengangguk dan kembali melangkah memasuki gedung apartement yang ia tinggali dengan Daniel.
Minhyun memejamkan matanya, ia merasakan jantungnya berdetak kencang. Orang yang ia cintai menciumnya dengan lembut dan Minhyun tidak kuasa untuk menahan perasaannya lebih lama lagi. Apa ini saatnya ia jujur?
Minhyun langsung membalikan badannya dan menatap JR. "JR."
JR yang sudah membalikan badannya untuk memasuki mobilnya berhenti dan menatap Minhyun. "Ya?"
Seonho adalah Putramu. Kaulah Ayah Seonho. Orang yang aku cintai. "Hati-hati."
JR tersenyum tampan dan mengangguk.
.
.
.
Beberapa hari setelah JR mengetahui bahwa Seonho adalah putra Minhyun membuatnya kian giat mendekati sosok manis tersebut.
"Besok hari minggu, apa kau masih bekerja?" tanyanya ketika Minhyun meletakan minuman pesanannya, JR selalu meminta Minhyun yang harus melayaninya ketika ia datang ke caffeshop adiknya.
"Aku libur hari Rabu dan Minggu."
JR tersenyum tampan. "Bagus, aku mau membawamu dan Seonho ke Lotte World."
Minhyun langsung menggeleng keras. "Tidak, Aku tidak bisa menerimanya ke Lotte World itu mahal."
"Tenang saja, Aku yang bayar. Kau bisa membawa Woojin dan Samuel juga."
"Itulah mengapa aku menolaknya. Kau selalu memberikanku sesuatu." Kau bahkan memberikanku Seonho.
"Itu karena aku suka berada disekitarmu dan Seonho. Maafkan aku Minhyun-ah tapi aku tidak menerima penolakkan."
Apa yang Minhyun bisa lakukan selain menatap kesal pada sosok tampan didepannya karena ia tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya.
.
.
.
Plakkkk
Tubuh Daniel terhuyung ketika menerima tamparan keras dari bossnya.
"Kau benar-benar tidak berguna!" ucap pria paruh baya itu kembali menampar pipi Daniel.
Daniel hanya diam saja sambil menundukan kepalanya, ia sudah biasa mendapatkan amukan bossnya karena ia lagi-lagi tidak becus melayani tamu wanitanya.
"Maafkan aku, Boss."
"Tidak ada maaf lagi untukmu. Kau keluar dari sini dan jangan kembali lagi!"
Mata Daniel melebar mendengar ucapan bossnya. "Kumohon jangan lakukan itu, Boss. Jangan pecat aku."
"Bukan hanya sekali kau mengecewakan pelangganku tapi berkali-kali, Kang Daniel."
"Maafkan aku, Boss. Aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku mohon jangan pecat aku." Daniel tidak tahu harus kemana jika ia benar-benar berhenti dari pekerjaan ini. Hanya ini satu-satunya pekerjaan yang memiliki gaji yang tinggi yang bisa membiayai hidupnya dan kedua putranya.
Sang boss mengeluarkan senyum iblis melihat sosok manis bergigi kelinci memohon padanya. "Aku mengubah pikiranku." Si pria paruh baya itu mencengkeram lengan Daniel dan menatap tubuh Daniel dengan penuh nafsu. "Aku akan mengajarimu bagaimana caranya memuaskan pelanggan dengan baik."
Daniel memandang takut sosok bossnya. "A-aniya, Kumohon jangan lakukan ini, Boss."
Ia sudah menarik tangannya namun tangan besar bossnya mencengkeramnya dengan amat sangat kuat.
Plakkk.
"Diam, aku mau mengajarimu, pelacur. Kau harus diam dan mematuhiku."
Daniel sudah mencoba untuk menendang bossnya namun apa daya, jika ia berhenti dari sini maka dari mana lagi ia menghidupi keluarganya.
Tangan besar sang boss sudah merobek baju Daniel yang hanya diam dengan air mata yang sudah keluar dari mata indahnya.
Brakkkk.
Daniel dan bossnya memandang ke arah pintu ruangan yang dibuka secara paksa.
"Siapa kau?!"
Mata Daniel melebar melihat sosok tampan didepannya. "Seongwoo-hyung."
Seongwoo mengeluarkan smirk andalannya dan memandang remeh pria paruh baya didepannya. "Sepertinya kau melupakanku, yah? Tapi masa bodoh."
Seongwoo membuka koper yang ia bawa dan membukanya.
Mata si boss langsung melebar melihat koper itu penuh dengan uang. "U-uang."
"Aku mau membelinya." Ujarnya dengan santai sambil menunjuk Daniel.
"Kita tidak menjual belikan pekerja kami." Ucap di boss walaupun ia tetap menatap uang dalam koper tersebut.
"Total uang dalam koper ini adalah 100jt Won. Aku pikir ini sudah lebih dari cukup untuk sosok murahan sepertinya."
Daniel hanya menunduk mendengar ucapan pedas sosok didepannya. Dia benar-benar sudah tidak memiliki harga sama sekali.
"100jt Won?! Yah yah yah. Ambil saja dia. Berikan uang itu padaku."
Seongwoo menutup koper berisi uang itu dan melemparkannya pada si pria paruh baya dan tanpa banyak kata langsung menarik lengan Daniel untuk membawanya keluar dari ruangan tersebut.
Daniel hanya diam dan memandang kosong lengannya yang ditarik paksa oleh Seongwoo hingga Seongwoo memasukannya kedalam mobil dengan kasar.
Didalam mobil hanya diisi dengan keheningan dan tidak ada diantara keduanya yang berniat untuk memecahkan keheningan tersebut.
Seongwoo kembali menarik lengan Daniel dengan kasar saat mereka berdua sampai dirumahnya yang besar.
"Aku akan menggantinya." Ucap Daniel ketika mereka sudah duduk diruang tamu.
"Dengan cara apa kau mengganti uang sebanyak itu? Kau hanya lulusan SMP."
Daniel hanya diam sambil menatap kosong lantai dibawahnya. Kau yang membuatku tidak bisa melanjutkan sekolahku.
"Kau harus bekerja untukku. Aku akan tetap membayarmu dan bayaranmu bisa kau gunakan untuk melunasi uang 100jt Won itu."
Daniel tahu bahwa tidak ada yang gratis didunia ini. "Bekerja untukmu? Maksudmu menjadi pelayanmu?"
"Yah. Menjadi pelayanku. Membersihkan rumah ini, memasak, mencuci dan memuaskanku di ranjang."
Daniel memejamkan matanya ketika rasa sakit itu menusuk jantungnya, ia merasakan seperti ada pedang tak kasat mata yang menusuk jantungnya terus menerus ketika ia berhadapan dengan sosok tampan yang dulu ia cintai. Mungkin sampai sekarangpun Daniel tetap mencintainya.
Masokis, bukan? Daniel memang masokis. Ia menyukai rasa sakit yang diberikan oleh sosok didepannya. Ia menyukainya dan membencinya.
"Tapi aku tidak bisa tinggal disini."
"Kau tidak perlu berada disini. Aku tidak membutuhkan seorang pelacur 24jam berada di rumahku." Seongwoo memandang tubuh Daniel dengan intens. "Aku akan memberitahumu ketika kau dibutuhkan."
Daniel mengangguk mengerti.
Seongwoo berdiri dari duduknya dan menarik Daniel untuk ikut berdiri. Kini dua sosok tersebut berada diposisi yang sama seperti tiga tahun yang lalu didalam gudang belakang SOPA.
"Right now You're MY Slave, Kang Daniel."
"I'm YOUR Slave, My Master."
.
.
TBC
05 September 2017
.
A/N :
-Don't be silent readers, ok? Ide Achan nggak akan muncul tanpa review/komen kalian semua yang bikin Achan semangat buat ngelanjutin cerita ini.
-Btw Achan bikin ff 2hyun baru. Monggo di liat siapa tahu ada yang suka. kalau nggak ada yang suka ntar Achan delete.
-Achan ngerasa jahat deh. di chapter ini bikin scene 2hyun bahagia tapi bikin Ongniel menderita.
-Kiss Me untuk 2hyun dan Kill Me untuk Ongniel.
-Clara akan kembali di chapter depan dan alasan dia benci Niel akan terungkap.
.
.
.
Bye Bye Bye
L.O.V.E Ya
