Forgotten Past

Sirius sedang berada kota New York, ketika James meneleponnya, memberi kabar mengenai putri baptisnya yang telah di temukan meskipun dalam identitas lain. Setelah mendengar kabar tersebut, Sirius langsung terbang ke London.

Regulus sedang membangun studio musik untuk putrinya. Agar gadis kecil kesayangannya itu, tidak perlu repot keluar rumah. Jasmine sendiri kini sedang melakukan pemotretan komersil dengan di temanin oleh Alice.

Jasmine baru saja menyelesaikan pemotretannya. Ia kini duduk di samping ibunya. "Mom, ada makanan?" tanya Jasmine yang memang belum sarapan. "Roti mau sayang? Kalau masih lapar, cari tempat makan" jawab Alice sambil mengeluarkan roti cokelat yang memang sudah ia siapkan. Jasmine mengangguk. Ia membersihkan Make upnya sambil sesekali mengunyah roti. Jasmine hanya memakai lipstick berwarna merah muda, ketika ia keluar dari gedung.

Duo ibu dan anak itu pun segera menuju lokasi berikutnya. Kegiatan Jasmine berikutnya adalah syuting iklan sebuah parfum ternama. Sesampainya dilokasi, Theo sudah berada di sana. Ia sudah mengenakan tuxedo. Tema iklan kali ini adalah Monokrome.

Jasmine pun sudah mengenakan gaun berwarna hitam putih. "Kau cantik." puji Theo. Jasmine hanya menggelengkan kepala. "Theo kau tahu itu tidak akan mempan, jika kau yang mengucapkannya." balas Jasmine. Theo hanya tertawa tanpa suara.

Alice tersenyum melihat Jasmine dan Theo. "Kau sehat, Theo?" tanya Alice. Theo hanya mengangguk.

Time skip

Ketika Jasmine bersama ibunya kembali ke Malfoy dan keluarga Potter sudah disana. Jasmine menarik nafasnya. Ia sama sekali belum siap bertemu dengan mereka. Jasmine kembali menarik nafasnya. Ia kini bukan Harrieta melainkan Jasmine.

"Sayang? Ayo masuk" ajak Ibunya. Jasmine tersenyum manis. " Ibu duluan saja. Aku masih mau menunggu Theo." kata Jasmine. Theodore memang berkata akan bergabung untuk makan malam.

Jasmine berjalan menuju taman depan manor untuk mengatur hatinya dan memakai topeng yang tak terlihat. " Serius, sedang apa kau disini?" tanya Theo yang baru saja datang.

"Menyegarkan otakku." jawab Jasmine.

"Ada apa?" tanya Theo lagi. Kali ini ia hanya tersenyum. "Theo, Gendong aku"pinta Jasmine manja. Senyuman di wajah Theo langsung menghilang. "Untuk apa aku melakukan itu?" tanya Theo.

"Karena kau sahabat dan patnerku" jawab Jasmine.

"Baiklah, Jas"balas Theo yang menyuruhnya naik ke punggung. Theo menggendong Jasmine di punggungnya dan memasuki manor.

Draco POV

Ia baru saja berbincang sambil menikmati earl grey tea yang disuguhkan oleh pelayan di Black Manor. Ia cukup kecewa dengan pilihan Jasmine. Gadis itu lebih memilih Ravenclaw di bandingkan Slytherin. Draco tahu ia tidak bisa berbicara banyak oleh karena itu ia hanya mendengarkan pembicaraan para orang dewasa mengenai Jasmine.

Pembicaraan mereka sempat terhenti, Ketika Nyoya Black pulang dan menyapa mereka. Alice Black Nee Reed itu mencium kening suaminya dan langsung menuju dapur. Melihat keakraban mereka membuat Draco berpikir. Kapan ia bisa seakrab itu dengan Harrieta kecilnya.

"Dimana Jasmine, Love" tanya Regulus.

"Dia ada di taman. Katanya mau nunggu Theo"jawab Alice dari dapur.

Draco kembali menyesap tehnya. 'Theo? Theodore Nott Junior' kata Draco dalam hati.

Tak berapa lama, Theo memasuki manor dengan menggendong Jasmine di punggungnya. Draco mengeraskan rahangnya melihat hal tersebut. Untungnya, Theo yang melihat ada tamu langsung menurunkan Jasmine dan mengucapkan salam. Begitu pula dengan Jasmine yang mengucapkan salam dan buru - buru ke kamar dengan alasan untuk berganti pakaian.

"Sepertinya, kau dan Jasmine berteman dekat?" tanya Draco tanpa menyembunyikan nada berbahaya di suaranya. Theo mengangguk. "Dia sahabat sekaligus patnerku" jawab Theo tak menyadari ketidaksukaan Draco.

Draco hanya memberikan senyuman tipis. Nyonya Black pun mengumumkan bahwa makan malam telah siap. Draco menahan emosinya saat Nyonya Black meminta Theo untuk memanggil Jasmine.