Author : Alyna Beryl
Cast : ChanBaek
Rich 2
(yang gasuka skip aja)
.
.
.
.
.
Ada saatnya dimana Richard merasa saudaranya sudah dewasa. Dia tak akan bisa menerima jika dua puluh tahun berani melakukan lebih jauh dari ciuman, apalagi itu adiknya sendiri. Memang gaya pertemanan barat berbeda dengan timur tapi siapa sangka tujuannya mengosongkan jadwal kerjanya untuk menemui Jennie di backstage terbayar dengan tontonan dua orang remaja yang saling bercumbu di lorong.
Ibu akan memarahinya jika membiarkan Jennie lebih liar dari mengangkat sebelah kakinya.
"Ya Tuhan, darimana gadis itu belajar sesuatu yang intim?" Richard menggerutu sepanjang lorong tapi tetap langkahnya mendekat kearah Jennie.
"Pergilah!"
Suaranya cukup pelan namun terkesan tegas setelah berhasil memisahkan pria itu dari adiknya. Sepersekian detik termangu, Jennie akhirnya memberikan reaksi terhadap tindakan kakaknya.
"Ugh, kenapa kau datang kemari?!" Ujar Jennie ketus dengan tangan terlipat didepan dada.
Wajar jika Jennie kesal. Richard tidak pernah sekalipun sudi mengosongkan jadwalnya untuk hal diluar konteksnya selain berkumpul dengan keluarga di Inggris. Bahkan dia datang tanpa memberitahu dan mengganggu kegiatannya.
"Kapan kau ke Korea?"
"Fuck, pulanglah Oppa! Pertama kali kau datang kemari dan kau hanya menanyakan hal itu?!"
Entah kenapa Richard menyukai ketika Jennie memanggilnya 'oppa'. Karena gadis itu selalu memanggilnya dengan nama tapi ibu selalu mengingatkan Jennie untuk bersikap sopan terhadapnya agar etika dengan yang lebih tua masih ada.
"Ada beberapa hal yang akan kulakukan di Korea bulan depan. Kapan eventmu di Seoul?"
Jennie melirik kakaknya sedikit. Lalu menghela nafas lelah. "Tanggal empat bulan depan. Kenapa?"
"Kita berangkat bersama. Dan kenapa belakangan ini event mu begitu banyak? Apa kuliahmu berjalan dengan baik??"
"Kenapa mendadak peduli?!" Sungut Jennie hingga kerutan samar muncul di sekitar dahi Richard.
"Kau adikku ingat?! Lagipula aku ke Korea karena agensi yang kau ceritakan melakukan kerjasama dengan Loey untuk membuka galeri artisnya di AS"
"Apa kau bercanda Oppa?! Jadi bulan depan kau bisa bertemu dengan Rose?? Akan kutanyakan jadwa--"
Richard menggeram, dengan cepat menyela ucapan adiknya. "Berhenti membicarakan Rose! Tidak ada hubungannya kita ke Korea dengan Rose"
Jennie termangu setalah melihat sikap aneh kakaknya.
"Beri aku 5000 USD jika kau menyukai Rose setelah melihatnya" Desis Jennie sembari menepuk-nepuk kecil dada kakaknya.
"Aku bisa memberimu lebih dari itu tanpa harus menyukai Rose, adik manis" Jawab Richard mengejek lalu pergi berlalu begitu saja dengan sekertaris tua disamping kakaknya.
••
Malam ini Seoul nampak riuh dan jalanan begitu padat merayap. Baekhyun menoleh kebelakang sekilas, melihat artisnya tengah disibukkan dengan naskah drama yang baru diterimanya. Senyuman kecil mendadak merekah di bibir Baekhyun, dia menyukai saat image Rose terlihat baik dimata publik karena pribadi Rose yang memang baik.
Jika definisi sempurna bisa menggambarkan seseorang. Baekhyun akan menyematkannya kata itu dibelakang nama Rose. Bukan bermaksud memuja artisnya, dia hanya ingin mengatakan jika Rose adalah seseorang yang minim melakukan kesalahan. Gadis itu selalu berhati-hati dan pekerja keras.
Senyumnya tersemat sejenak lalu mulai menepi setelah sampai di depan gedung agensi.
"Kita sampai, pergilah keruangan Sanjangnim dulu, ia ingin menemuimu. Aku akan memakirkan mobilnya sebentar" Baekhyun memecah keheningan ketika suasana begitu sunyi setelah beberapa saat.
"Aku mengerti" Beberapa kamera fans menyoroti Rose ketika sang idol baru keluar dari dalam mobil. Gadis itu menyapa fansnya seperti biasa lalu punggungnya menghilang dibalik pintu lobi.
Agensi Rose bisa dikatakan sangat besar. Agensi kompeten yang memiliki reputasi baik bukan hanya dari pemilik namun juga dari staff dan artisnya. Pengaruh nama agensi SNEnt begitu luar biasa, entertaining yang disuguhkan sungguh berkualitas. Tak heran, sebutan One and Only lebih pantas untuk SNEnt dari pada One of The Best Three.
"Hai Rose" Ketukan high heels begitu kentara diatas lantai marmer. Sang artis duduk dengan segan saat CEO Lee Song Nam menunjuk sofa didepannya.
Rose yakin ada hal serius yang akan dibicarakan dengannya mengingat suasana yang begitu canggung tak seperti biasa.
Disisi lain Baekhyun yang baru sampai di lantai satu melihat rekan-rekanya cukup sibuk di meja kerjanya masing-masing. Bukannya hal biasa melihat ini tapi sekarang hampir tengah malam, dia refleks mengecek jam tangannya untuk memastikan. Mereka lembur untuk apa? Mungkinkah comeback artis?
"Baekhyun, sepertinya kau harus mengatur lagi jadwal artismu. Sanjangnim menundanya" Alis Baekhyun tertekuk bingung. Terlalu tiba-tiba dan dia tak merasa mendapat info apapun.
Dia mendekat kearah Suho di sudut ruangan. Menyambar kursi kosong dan mendudukinya. "Aku tidak tau ada teaser apapun. Dan kenapa harus melibatkan jadwal artis lain jika ingin comeback"
"Kau tidak mengerti juga rupanya" Suho memutar kursinya menghadap Baekhyun. Layar komputernya menunjukkan artis seagensi yang juga menyita perhatian Baekhyun setahun ini "Ada apa??"
"Ini tentang Kai. Dispatch menghubungi kami jika artikel Kai akan diterbitkan diseluruh portal berita minggu depan jika sanjangnim tidak membayar uang tutup mulut sebesar lima ratus juta won" Jelas Suho dengan volume rendah sembari kedua matanya bergulir kesana kemari. Memastikan tidak ada yang mengawasi karena mereka sedang bergosip.
"Aku ragu sanjangnim akan mengeluarkan lima ratus untuk sebuah artikel. Apa itu skandal yang besar?" Pertanyaan itu mengundang anggukan cepat Suho. "Kau tau sendiri bagaimana popularitas Kai tidak pernah mati walau boy grup mereka sudah berjalan lebih dari sembilan tahun. Dia center dan itu buruk saat publik yang selalu mengeluh-eluhkannya berganti menghujatnya setelah artikel itu terbit"
"Dia terlibat kasus penganiyayaan"
Baekhyun melotot tidak percaya. Mana mungkin, maksudnya selama ini Kai sangat bersih dari skandal. Pria itu tak mungkin melakukannya.
"Korbannya koma dan Ya Tuhan aku sudah tidak bisa berfikir. Lihat saja managernya sangat pusing dengan berita ini"
Tak menunggu lama, Baekhyun bangun setelah menepuk pundah Suho berterimakasih. Langkahnya cepat mengikis jarak dari ruang kerjanya ke ruang sanjangnim. Begitu sampai di depan pintu besar Lee, Baekhyun masuk tanpa ragu setelah mengetuknya.
Pemandangan yang tidak biasa menyapanya saat masuk. dimana Rose menunduk dalam didepan sanjangnim. Apa yang terjadi sebenarnya?
"Manager Byun, aku mohon bujuk artismu. Ini untuk kebaikan agensi" Tuan Lee kembali pada meja kerjanya untuk memberikan ruang kepada Baekhyun untuk bicara dengan Rose di sofa ruangan tak jauh dari mejanya.
"Oppa, aku tidak ingin melakukan ini" Baekhyun melihat Rose sesenggukan didepannya. Ingin sekali memeluknya tapi Baekhyun masih tau diri. "Apa yang terjadi?"
"Kau tau kan? Kau sebenarnya tau tapi kenapa kau berbohong?!" Rose memukul lengannya beberapa kali. Sebelum Baekhyun menangkap pergelangan tangan gadis itu untuk berhenti.
"Aku tidak pernah membohongimu. Aku tidak mempunyai apapun untuk kusembunyikan Rose" kecuali perasaanku tentunya.
"Sanjangmin menginginkan skandal kencan untuk menutupi kasus Senior Kai. Dan mereka ingin aku melakukannya setelah skandal penganiyayaan itu terbit" Dua kali rasanya Baekhyun dibuat terkejut tanpa membutuhkan waktu satu jam. Apa yang ditakutinya akhirnya terjadi dan sialnya terjadi pada artisnya.
"Kita akan mencari cara. Ka--"
"Tidak ada cara lain selain skandal kencan Manager Byun. Mau tidak mau skandal ini harus tetap dilakukan" Potong cepat Lee Song Nam.
••
Ruang meeting kemarin kedatangan beberapa orang orang tinggi yang sangat asing. Dari AS katanya, mereka mendiskusikan tentang sebuah galeri seni dan urusan pribadi di ruang sanjangnim setelahnya. Sesuatu yang tidak mengherankan ketika Baekhyun membuang jauh keingintahuannya selain jadwal Rose satu minggu kedepan.
Dia mengomel di telefon sejak sepuluh menit yang lalu. Jadwal official Rose yang diterimanya kemarin baru di mulai jam delapan pagi tapi diam-diam mereka memesankan tiket pesawat untuk rose jam lima. Bodohnya jam lima dia masih sibuk terlentang diatas kasur.
Tanpa sadar dia melewatkan tiga jam untuk membuang-buang waktu.
"Bagaimana mungkin aku baru bisa terbang jam sepuluh?!"
"Aku tau dia akan menghadiri pembukaan galeri seni tapi dia juga butuh manager"
"Apa kau bilang?? Yakk bajingan bagaimana mungkin kalian tidak memberi tau Rose kalau aku tidak bersamanya?!!!"
"Persetan!"
Baekhyun menutup telfonnya sepihak. Dia tidak bisa menghubungi Rose karena gadis itu masih didalam pesawat. Perjalanan dua belas jam terlalu memakan waktu dan Baekhyun hanya bisa mengamuk menunggu jam sepuluh.
"Ohh kepalaku rasanya ingin pecah" Tidak ada habisnya Baekhyun mengomel. Pergi mandi, berpakaian bahkan makan pun omelannya tak juga putus. Sepertinya Baekhyun memang sedang marah.
Semua ia kemas dengan rapi. Koper mini sudah cukup bagi Baekhyun, lagipula ia hanya menyusul Rose dan kembali ke Korea. Dia singgah di AS hanya untuk berteduh. Setelannya cukup rapi jika hanya digunakan berteduh.
Jam sembilan tepat arlojinya berbunyi. Baekhyun memasukkan kopernya kebagasi lalu melaju pergi meninggalkan area parkir apartemennya. Mudah-mudahan dewi fortuna hinggap di pundak agar dia selamat sampai bandara dengan kecepatan cahaya.
TBC
Chapter kali ini lebih pendek dan kabar baiknya saya udah ada gambaran kalo pcy bbh bakal ketemu di chapter depan. Tunggu aja.
Dan mohon maaf karena entah kenapa font di ffn selalu berantakan abis di update padahal kalo di wp baik-baik aja. Ada yang bisa kasih pencerahan?
Oke seperti biasa. Ga bosan bosannya saya ngingetin REVIEW!!
TOLONG BERHENTI JADI SIDERS!! APA SUSAHNYA REVIEW PERMISA SEKALIAN!
