Hope you like this fiction :)


Sehun lihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 16.58. Ini hari Jumat. Sehun sudah menyelesaikan laporan pekerjaannya dan menyerahkan pada atasannya jam 4 tadi. Sehun ingin libur. Ingin istirahat.

"Hun." Panggil Baekhyun.

"Kenapa?" Mata Sehun masih memperhatikan ponselnya. Jam di ponsel atau foto yang menjadi latar lockscreennya?

"Mau ikut gak? Gue sama yang lain rencananya mau makan terus lanjut karaokean."

Sehun keliatan mikir, "Skip dulu deh, gue lagi mau istirahat aja."

Baekhyun menepuk pundak Sehun, "Tapi beneran istirahat ya? Keliatan banget seminggu ini lo kerja keras sih."

Sehun mengangguk dan membereskan mejanya, bersiap untuk pulang, sementara teman-temannya yang lain sedang heboh mendaftarkan lagu apa yang ingin dinyanyikan di tempat karaoke nanti.

"Duluan semuanya." Sehun pamit pada teman-temannya yang dijawab dengan hati-hati Sehun atau happy weekend Sehun.

Sehun berjalan ke parkiran di basement dan menaiki mobilnya. Terkadang menyetir bisa menjernihkan pikiran.

Memangnya pikiran Sehun sekeruh apa?

Awal minggu ini dia sudah dihadapkan denan audit keuangan pertamanya oleh pemerintah. Sehun memang sudah cukup lama bekerja di kantornya yang sekarang, tapi dia baru 3 bulan jadi manager keuangan dan baru pertama kali di audit seperti itu. Banyak yang sebenarnya sudah dia kerjakan, dia siapkan bersama timnya, tapi begitu ditanya oleh auditor dia bingung. Sehingga auditor menganggap kalau dia dan timnya tidak mengerjakan hal tersebut. Mr. Kim, atasan sekaligus CEO perusahaan tempatnya bekerja, orangnya tidak pernah marah. Tapi hari itu Sehun benar-benar melihat mukanya yang kecewa. Makanya setelah audit selesai, Sehun menghampiri auditor sekalian berbincang ringan, meminta untuk diberikan sekali lagi kesempatan. Audit ulang kalau perlu. Beruntungnya dia diberi kesempatan untuk mengumpulkan dokumen-dokumen yang tidak ada sebelum minggu ini berakhir. Tepatnya hari jumat sebelum makan siang.

Selasa pagi Sehun langsung mengumpulkan timnya dan menjabarkan apa saja dokumen yang perlu mereka lengkapi, SOP yang harus mereka buat dan perbaiki, juga bagaimana menerapkannya. Siangnya Sehun meminta meeting dengan manager dari divisi lain yang berhubungan, seperti purchasing, legal, produksi, dan tentu saja Mr. Kim, CEOnya. Disitu Sehun meminta maaf atas nama pribadi dan juga atas jabatannya sebagai manager keuangan karena tidak bagus dalam melawati audit. Sehun sempat dimaki oleh manager purchasing mereka karena pada bagian itu lah mereka banyak kurang. Banyak kesalahpahaman terjadi disana. Meeting baru selesai sore hari, dan harus Sehun syukuri karena Mr. Kim banyak membantunya menyelesaikan kesalahpahaman dengan bagian purchasing yang keras kepala dan tidak mau disalahkan itu.

Rabu dan Kamis Sehun mengerjakan kekurangan-kekurangan yang belum dilengkapi. Dia sendiri yang bolak-balik ke bagian purchasing agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi. Bahkan dia lembur di kamis malam untuk mengejar deadline di hari jumat.

Jumat pagi dia mengirimkan semua dokumen yang dibutuhkan pada auditor dan menunggu hasil dari rapat auditor tersebut. Jam tiga sore baru diumumkan kalau perusahaan mereka lolos audit dengan nilai sangat baik. Dengan cepat Sehun langsung membuat laporan hasil audit dan menyerahkannya pada Mr. Kim. Tidak lupa dia berterima kasih pada bagian purchasing dan timnya karena sudah bisa diajak bekerja sama. Walau siapapun bisa lihat kalau semua itu 90% hasil kerja kerasnya Sehun sendiri. Dan sekarang Sehun ingin istirahat.

Begitu sampai di rumah sederhananya. Sehun pun langsung menuju kamar mandinya. Dia ingin berendam air hangat sambil mendengarkan musik sedih, dia memilih Why dari Shawn Mendes untuk mengawali berendamnya.

Sudah menjadi manager di perusahaan besar di usianya yang masih 25 tahun. Orang tua Sehun sangat bangga padanya. Sehun bahkan sudah punya rumah sendiri sekarang. Walaupun belum lunas cicilannya.

Puas berendam Sehun merasakan lapar. Dia baru ingat kalau tadi dia terlalu cemas menunggu hasil rapat para auditor sampai tidak bisa makan apa pun. Dengan cepat Sehun memesan ayam goreng dari restoran cepat saji favoritnya.

Sehun mengisi waktunya sambil membereskan rumah yang sudah satu minggu ini terbengkalai. Dia mencuci semua piring dan gelas, memasukkan baju kotornya ke kantung laundry jadi besok dia tinggal menyerahkannya pada tukang laundry yang datang seminggu sekali. Sehun bahkan menyempatkan diri mengganti seprai tempat tidurnya.

Begitu ayam gorengnya datang dia langsung memakannya dengan lahap. Sehun sangat sadar kalau makan gorengan malam-malam begini tidak baik untuk bentuk tubuhnya, tapi Sehun tidak peduli. Dia lapar.

Selesai makan Sehun langsung membereskan sampah sisa makannya, menggosok gigi dan bersiap tidur. Dia akan bangun sesiang mungkin besok pagi. Karena besok hari sabtu. Memikirkannya saja membuat Sehun mengantuk.


Jongin sampai Korea tepat tengah malam. Ayahnya menyuruh Jongin pulang ke Korea tadi sore mendadak sekali. Untungnya China dan Korea tidak jauh. Tapi tetap saja dia lelah.

Seminggu ini dia bekerja dengan sangat keras. Ayahnya memang dengan sangat baik hati menyerahkan perusahaan cabang mereka di China langsung pada Jongin. Tapi Jongin belum sadar saat itu kalau menjadi pemimpin perusahaan berarti dia harus bertemu dengan banyak orang, investor, supplier, bahkan sampai orang pemerintahan.

Minggu ini benar-benar Jongin isi penuh dengan senyum palsu. Jongin tidak suka investor mereka, yang menganggap asalkan mereka menanamkan sedikit uang, uang mereka bisa bertambah dengan waktu yang cepat tanpa perlu bekerja keras. Jongin tidak suka suppliernya, ada yang harganya terlalu mahal, ada yang barangnya tidak bagus sama sekali, dan semua memaksa untuk bekerja sama. Apa mereka tidak bisa berpikir dulu? Jongin juga tidak suka orang pemerintahan, kalau ayahnya sukses di korea memang kenapa? Mereka jadi berhak meminta pada Jongin begitu? Kalau mau punya banyak uang ya kerja, tidak malu apa jadi pengemis?

Jongin mendengus sebal memikirkan apa yang dilakukannya seminggu ini. Dia harus tersenyum padahal jelas dia tidak suka dengan mereka. Dulu sebelum dia masuk perusahaan, ayahnya selalu mengajarinya untuk menutupi apa yang dia rasakan, dengan ekspresi datar, dengan senyum, dengan amarah, mana dia tahu kalau fungsinya untuk seperti ini. Besok hari sabtu, tidak, ini sudah hari sabtu. Dan Jongin ingin istirahat sebelum menghadapi hari senin lagi. Kalau bisa tidak perlu kembali lagi ke China sekalian.

Jongin sampai pada rumah sederhana yang seharusnya menjadi rumahnya, tempat dia pulang. Tapi karena ayahnya memindahkanya ke China, dia jarang sekali bisa kembali ke rumah ini.

Jongin membuka pintu yang tidak dikunci, "Ceroboh." Bisiknya gemas.

Dengan segera dia masuk dan mengunci pintunya. Jongin langsung menuju kamar mereka, tanpa mengganti baju kemejanya dengan piama, Jongin menaiki tempat tidurnya.

"Selamat malam." Guman Jongin.


Sehun membuka matanya perlahan. Pemandangan yang menyapanya adalah jam yang menunjukkan pukul 08.00 pagi. Sehun membalikan badannya, berniat tidur lagi. Tapi yang berada disampingnya membuat dia mengurungkan niatnya.

Sehun terbangun karena dia pikir dia mencium wangi yang sangat disukainya, wangi khas badan Jongin. Sehun pikir dia hanya bermimpi saja. Ternyata Jongin memang pulang.

Tanpa menyentuh, Sehun menelusuri wajah Jongin dengan jarinya. Rambut cokelat tuanya yang berbanding terbalik dengan rambut merah muda Sehun. Kulit kecokelatannya yang berbanding terbalik dengan kulit pucat Sehun. Alisnya tidak setebal alis Sehun. Hidungnya juga tidak semancung hidung Sehun. Dan bibir itu, Sehun kangen.

Mungkin dia terlalu lama meletakkan tangannya di depan bibir Jongin karena yang memiliki bibir mengambil tangan Sehun dan menarik Sehun mendekat padanya.

"Selamat pagi." Bisik Jongin masih dengan mata yang tertutup.

"Kenapa pulang?" Sehun balas bertanya.

"Jadi aku gak boleh pulang?" Jongin mengeratkan pelukannya pada Sehun.

Sehingga suara Sehun setelahnya teredam dada Jongin, "Kalau kamu bilang dulu kan aku bisa menunggumu sebelum tidur."

Jongin mengusap-usap punggung Sehun. "Banyak yang ingin kubicarakan mengenai kebiasaan cerobohmu tidak mengunci pintu atau kebiasaanmu untuk mengerjakan pekerjaan tim mu sendirian. Tapi aku masih mengantuk. Dan kita masih punya banyak waktu sampai hari senin."

Sehun mendengus sebal, "Ayah mengadu ya?

"Kamu pikir kenapa aku bisa pulang hari ini?" Jongin menjawab pelan. "Ayo tidur lagi. Nanti sore ayah mengajak kita makan malam."

"Have a nice dream." Gumam Sehun.

Sehun bahkan melupakan kalau harusnya dia membukakan pintu untuk tukang laundry dan menyerahkan cucian kotornya.


"Aku tidak tahu kalau kangen bisa membuatku membayangkan suaramu."

"Aku nyata."

"Baguslah, berarti aku belum gila."

"Aku kangen sama kamu tapi aku tidak mau memberi tahumu kalau aku kangen."

"Kembalilah ke asalmu kalau begitu."

"Senin aku kembali kesana, tapi sebelum itu, apa kamu tidak mau meluk aku dulu?"