Hope you like this fiction :)
Sehun menghela nafas untuk kesekian kali di depan layar laptopnya.
"Kamu tahu? Kata orang menghela nafas terlalu sering bisa membuat rezekimu berkurang." Saat ini Sehun sedang melakukan video call dengan Jongin di ponselnya.
Lagi-lagi Sehun menghela nafasnya. "Aku tidak tahu mau menulis apa." Sehun menunjukkan layar laptopnya yang masih putih bersih, belum ada tulisan apa pun.
Jongin tertawa mendengarnya membuat Sehun dengan cepat mengarahkan ponselnya tadi kembali ke wajahnya agar dia bisa melihat Jongin yang sedang tertawa. "Apanya yang lucu?" Sehun bertanya sebal.
"Kamu." Jongin melanjutkan tertawanya ketika melihat wajah Sehun yang bingung.
"Kenapa sih Jooong?" Sehun kesal karena dia tidak bisa melihat dimana letak lucunya.
Jongin berusaha mengatur nafasnya untuk meredakan tawanya, Jongin sampai menyeka air mata saking gelinya dia tertawa. "Oke." Katanya pelan, menghembuskan nafasnya perlahan. "Biasanya kamu menulis tentang kita, lalu kenapa sekarang harus bingung?"
Sehun menghela nafasnya lagi, "Kamu sudah lama tidak pulang," Sehun terlihat menghitung, "enam bulan lebih kamu tidak pulang. Sepertinya aku kehabisan kenangan kita untuk ku tulis."
"Hey aku tidak terima kalau kamu menjelaskannnya seperti itu. Aku memang sudah enam bulan tidak pulang, tapi kalau kamu bilang karena itu kamu kehabisan kenangan untuk kamu tulis itu tidak masuk akal." Jongin meneruskan omongannya karena Sehun diam saja. "Aku mengirimkanmu bunga atau hadiah saat tulisanmu mendapatkan penghargaan, aku meminta bantuan Baekhyun untuk memberikan kejutan padamu di saat hari spesial kita, apa kenangan itu kurang?"
"Aku butuh sosokmu Jong, bukan yang seperti itu." Sehun menjawab pelan. Membuat Jongin terdiam.
"Ku pikir kita sudah sepakat?" Kata Jongin tidak yakin.
"Bukan begitu maksudku." Sehun buru-buru menambahkan. "Kita sudah sepakat kalau kita akan terus menjaga hubungan ini. Kamu disana untuk bekerja, sementara aku disini mengejar impianku agar bisa membagikan tulisanku, pemikiranku untuk bisa dibaca banyak orang. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri kalau 80% inspirasi tulisanku berasal darimu."
Jongin terlihat berpikir, "Aku bantu." Katanya.
"Bantu apa?" Sehun bertanya bingung.
"Kamu mau menulis apa? Aku coba bantu mengembangkan idemu." Jongin menjelaskan.
"Aku sedang melihat-lihat isi ponselku pagi ini dan aku menemukan tulisan yang ku buat untuk diriku sendiri kurang dari satu tahun yang lalu. Aku memberinya judul "Dear Self". Tulisan itu kubuat saat aku sedang sangat jatuh untuk menyemangati diriku dimasa depan agar aku bisa melihat kalau aku pernah di titik itu dan aku bisa melewatinya." Sehun menjelaskan.
"Kamu ingin mengemasnya seperti apa?" Jongin bertanya.
"Aku bingung karena itulah aku belum menulis dari tadi." Sehun menghela nafasnya lagi.
Jongin terlihat berpikir lagi, "Bagaimana kalau kamu membuatnya dari motivasi untuk dirimu sendiri jadi ke motivasi untuk orang lain juga, dari "Dear Self" ke "Dear All"."
"Okee." Sehun berkata ragu, "Jelaskan lagi Jongin,"
Lalu Jongin menjelaskan ide yang dia maksud dan Sehun mendengarkan, sesekali dia menanggapi, sampai akhirnya Jongin menemani Sehun menulis. Kalau dia mulai kebingungan dia akan menanyakannya pada Jongin dan Jongin akan menjawabnya, memberikan sudut pandangnya pada Sehun. Dengan begitu tulisan Sehun selesai.
"Terima kasih sudah membantuku menulis Jongin." Sehun berkata ketika dia selesai menyimpan draft tulisannya, nanti saja mengirimkannya ke Baekhyun, pikir Sehun.
"Kamu tahu Sehun, aku benar-benar tidak suka kalau kamu meragukan kita." Jongin memulai.
"Aku merindukanmu." Kata Sehun pelan. "Video call seperti tidak cukup, aku rindu tidur sambil memelukmu."
Kali ini Jongin yang menghela nafas, "Aku ingin memberimu hidup yang baik, makanya aku bekerja jauh begini. Aku bisa bekerja dekat denganmu, tapi belum tentu aku bisa memberikanmu hidup yang layak." Jongin menjelaskan, "Saat aku memutuskan menjadikanmu kekasihku, aku berpikir untuk memberikan yang terbaik yang bisa diberikan dunia ini padamu. Aku tidak ingin kamu merasakan susah."
"Kadang aku merasa tidak pantas untukmu." Sehun menjawab.
"Kamu tahu, kata orang kalau jodoh itu cerminan terbaik dirimu, aku yakin jauh di bawah alam sadarmu kamu pun melakukan hal yang sama denganku." Jongin melihat jam yang ada di kamarnya, "Nah sudah waktunya tidur, kamu sudah bekerja keras dengan tulisanmu, badan dan pikiranmu butuh istirahat."
Sehun bahkan tidak sadar kalau dia mengantuk sampai dia berjalan ke arah tempat tidurnya dan merebahkan badannya, "Aku sayang Jongin." Sehun berkata lalu menguap kecil.
Jongin tertawa pelan mendengarnya, "Aku juga sayang Sehun. Sangat sayang Sehun."
"Dear Self, there are times when you need to hit the ground running and there are also times when you need to rest."
"Apakah ada terjemahannya?"
"Aku merindukanmu."
"Ini kamu sedang mengobrol denganku."
"Aku merindukan sosokmu."
"Maaf aku bukan kekasih yang bisa selalu ada disampingmu setiap kau butuh."
"Terlalu mellow untuk mood malam ini."
"Tapi ini sedang hujan, bukan hanya mendung."
