Hope you like this fiction :)


"Jadi kamu tidak keberatan kalau Ayah menjodohkanmu dengan anak dari teman Ayah?" Ayah Sehun memandang ragu pada anak bungsunya.

Tapi Sehun menjawabnya dengan yakin, "Kalau menurut Ayah itu yang terbaik untukku, aku tidak akan keberatan Yah." Dari dulu Sehun memang sangat penurut dengan Ayahnya.

"Kalau kamu ingin menolak juga tidak apa-apa Hun." Ini Ibunya yang berbicara, yang langsung saja dihadiahi cubitan pelan dari Ayahnya.

Sehun memeluk Ibunya dari samping, "Kalau Ibu sebegitu khawatirnya, aku akan bertemu dulu dengan calonku baru memberikan jawaban, bagaimana?" Kalau dengan Ibunya, Sehun tidak bisa tidak bermanja-manja.

"Hanya berdua saja?" Terdengar nada tidak yakin di suara Ibunya.

Sehun melepaskan pelukannya pada sang Ibu lalu bertanya pada Ayahnya, "Apakah boleh Yah?"

"Akan canggung jika langsung bertemu antar keluarga padahal perjodohannya belum tentu terjadi, jadi biarkan saja mereka berdua bertemu dulu." Ayahnya memutuskan.


Dan pada hari sabtu sore yang cerah namun berangin ini Sehun sudah siap untuk pertemuan pertama dengan orang yang akan dijodohkan dengannya. Katanya Sehun akan dijemput pukul empat sore, tapi karena terlalu bersemangat dia sudah siap padahal ini masih pukul setengah empat. Untuk menghabiskan waktu Sehun pun memainkan game di ponselnya. Karena Ayah dan Ibunya sedang di luar kota, jadi lah Sehun sendirian di rumah, tidak ada yang bisa diajak ngobrol.

Baru saja ponselnya menunjukkan laman loading, bel rumahnya berbunyi. Sehun memastikan tampilannya masih baik dan bergegas membukakan pintu.

"Hallo saya Kim Jongin." Orang tersebut membungkukan badannya sopan.

Sehun juga membungkukan badannya, "Saya Oh Sehun."

Pria di depannya nampak terkejut, tapi dengan cepat mengendalikan lagi wajah terkejutnya. "Apa kamu sudah siap?" Kali ini dia menggunakan bahasa yang informal.

"Sebentar, aku mengunci pintu dulu. Lalu kita bisa berangkat." Sehun bergegas mengambil tasnya.

"Ku tunggu di mobil." Balas Jongin singkat.

Dengan cepat Sehun mengunci pintu rumahnya dan memasuki mobil Jongin. Sehun langsung memasang sabuk pengamannya ketika duduk.

"Kita mau kemana?" Jongin bertanya sambil menjalankan mobilnya.

"Apa kamu sudah makan?" Sehun bertanya.

"Sudah, tadi sebelum berangkat menjemputmu." Jongin menjawab singkat.

"Apa ada film yang belum kamu tonton?" Sehun masih berusaha.

"Aku tidak suka nonton film." Lagi-lagi Jongin hanya menjawab singkat.

Sehun terlihat berpikir, "Aku suka membaca dan ada buku yang ingin ku beli, bagaimana kalau ke toko buku saja? Di dekat sini ada toko buku yang didepannya ada coffee shop yang terkenal dengan lattenya."

"Aku tidak menyetujui perjodohan ini." Kata Jongin cepat. "Tapi aku akan tetap mengantarkanmu sampai toko buku yang kamu maksud, tunjukkan saja jalannya."

"Baiklah." Sehun menjawab pelan.

Sisa perjalanan dilewati dengan hawa canggung yang amat pekat, terdengar suara Sehun yang sesekali mengarahkan jalannya, sampai mereka tiba di toko buku yang dimaksud Sehun.

Sehun melepaskan sabuk pengamannya, "Terima kasih sudah mengantarkanku." Kata Sehun sedikit membungkukkan badannya.

"Kamu akan bicara apa pada Ayahmu?" Jongin bertanya cepat sebelum Sehun turun dari mobil.

Sehun kembali mendudukan dirinya di mobil dan menjawab pertanyaan Jongin, "Aku akan bilang mungkin kita tidak cocok, atau aku melakukan kesalahan bodoh dipertemuan kita yang membuatku malu dan tidak sanggup lagi bertemu denganmu."

Jongin mengerutkan dahinya, berpikir, "Kamu tidak akan mengadukanku karena aku menolak perjodohan ini kan?"

"Tidak usah cemas. Aku tidak akan mengadukanmu." Jawab Sehun, "Aku duluan ya, sekali lagi terima kasih tumpangannya." Sehun berkata lalu keluar dari mobil Jongin.


Ini adalah toko buku yang sangat sering Sehun kunjungi. Sehun sangat suka membaca, buku fiksi, non-fiksi, novel romansa, biografi, dan masih banyak lagi. Sehun tumbuh sebagai anak yang mudah sekali jatuh sakit kalau sudah lelah bermain, makanya Ayah dan Ibunya membelikan dia banyak buku agar Sehun tidak bosan saat sakit dan tidak bisa bermain keluar. Tapi setelah sembuh, Sehun malah lebih memilih untuk membaca buku saja dirumah daripada bermain sepeda atau keluar dengan kakaknya. Sampai sekarang pun kalau sedang bosan atau menunggu rendering program, Sehun lebih memilih ke toko buku dibanding mengobrol dengan teman-temannya di cafe, Sehun memang kurang bagus dalam berteman. Maka dari itu Ayah dan Ibu Sehun khawatir, di umurnya yang sudah dewasa begini Sehun belum menunjukkan tanda-tanda dia akan menikah, mencari jodoh saja tidak. Dari situ tercetuslah ide perjodohan ini, tentu saja Kakak Sehun yang mengusulkan.

Kakak laki-laki Sehun ini sudah mempunyai dua anak tapi Sehun belum juga menikah, setiap malam minggu kegiatannya hanya pergi keluar membeli buku dan menghabiskan sisa waktunya dalam kamar untuk membaca buku. Kakak Sehun sempat berkata kalau dia takut Sehun gila karena terjebak dalam fantasinya sendiri akibat buku yang dibacanya.

Seperti saat ini, Sehun sedang memilih novel karya James Patterson yang sudah lama ingin dibelinya. Dia sedang memegang buku The Chef, tetapi The House Next Door tampak menarik. Berulang-ulang dibacanya sinopsis dari kedua buku tersebut, tapi kebingungannya malah bertambah. Karena Sehun ingin membeli dua-duanya, tapi ini akhir bulan. Uangnya saat ini hanya cukup untuk beli satu buku. Sebenarnya uang makan pun Sehun masih ditanggung kedua orang tuanya, tapi tidak enak saja kalau dia harus meminta uang bensin pada kedua orang tuanya juga.

"Kalau aku akan lebih memilih The Chef." Kata orang disebelahnya.

"Oh." Sehun terkejut bertemu dengan kakak kelasnya dulu saat kuliah. "Maaf Kak Kris, aku terlalu sibuk memilih buku sampai tidak sadar ada orang lain disebelahku."

"Tidak apa-apa." Kris membalas dengan tersenyum. "Jadi mau The Chef atau The House Next Door?" Kris bertanya lagi.

"Aku mengikuti saran Kakak saja. Sepertinya The Chef memang bagus." Sehun menjawab.

"Kenapa kamu bisa tahu tempat ini?" Kris bertanya selagi mereka berjalan ke kasir.

"Aku lumayan sering kesini, lagipula dekat dengan rumah." Sehun menjawab ringan. Awalnya mereka kenal karena saat ospek dulu Sehun sering pingsan sedangkan Kris sebagai ketua pelaksana ospek harus memastikan kalau tidak terjadi apa-apa di acaranya.

Sehun menyerahkan bukunya pada kasir. "On me Xiu." Kris berkata.

"Alright Sir!" Kasir tersebut menjawab.

Sehun yang awalnya tidak mengerti pun terlihat bingung, "Jadi berapa harganya?" Tanyanya.

"Kamu bayar dengan menemaniku minum kopi saja bagaimana?" Dengan cepat Kris mengambil buku Sehun dan berjalan ke arah cafe. Membuat Sehun mau tidak mau jadi mengikutinya.

"Aku benar-benar tidak enak kak. Kita baru bertemu lagi, tapi sudah merepotkan. Sepertinya tiap bertemu kakak aku hanya merepotkan saja ya?"

"Jadi kamu mau minum apa?" Kris tidak menjawab rasa tidak enak Sehun.

"Kali ini aku saja yang bayar. Apa kak Kris masih suka caramel frappuccino?" Sehun berusaha mengingat apa kesukaan Kris dulu.

"Kamu masih ingat? Waah hebat." Kris memuji Sehun.

"Aku pesankan ya." Sehun menuju kasir untuk memesan dan membayar pesanannya. Setelah menunjuk tempat duduk mereka, Sehun pun kembali mengobrol dengan Kris.

"Sedang sibuk apa Kak sekarang? Sepertinya setelah lulus Kakak jarang sekali main ke kampus." Sehun memulai obrolan mereka.

"Aku tidak sibuk, paling hanya sesekali kesini untuk memeriksa apa ada yang kurang atau kalau ada masalah saja."

Sehun nampak terkejut, "Kakak bekerja disini?"

Kris tertawa mendengarnya, "Bisa dibilang begitu."

Setelah pesanan mereka datang mereka kembali mengobrol, membicarakan masa kuliah dulu, pekerjaan Sehun, pekerjaan Kris, sampai akhirnya Sehun sadar kalau ternyata Kris yang mempunyai toko buku yang sering dikunjunginya ini.

"Jadi aku mengambil jatah karyawan Kakak dong dengan buku tadi? Kuganti saja ya kak? Aku benar-benar tidak enak ini." Sehun memohon.

Kris hanya mengibaskan tangannya, "Kamu ini, seperti sama siapa saja." Kris melihat jam di pergelangan tangan kirinya, "Ku tinggal ya Sehun, aku ada meeting lima menit lagi." Kris menyerahkan buku yang tadi Sehun beli. "Baca dengan baik bukunya."

"Pasti kak. Sekali lagi terima kasih." Sehun membungkukan badannya.

Karena sudah terlanjur membeli minum jadi Sehun berpikir untuk membaca disini saja, lagi pula di rumah juga tidak ada orang kan?

"Kamu sudah ada janji bertemu dengan lelaki lain?" Suara Jongin mengusiknya yang baru mulai membaca.

"Maaf, bagaimana maksudnya?" Tadi dia bilang mau pulang kan? Apa tidak ya? Sehun lupa.

"Orang yang tadi. Kamu sudah janji bertemu dengannya?" Jongin menjelaskan dengan nada menuduh yang sangat kental.

"Dia kakak kelasku. Aku bahkan baru tahu tadi kalau dia yang mempunyai toko buku ini, lagi pula kami sudah lama tidak bertemu, jadi sekalian mengobrol saja." Sehun menjawab santai sambil kembali membaca bukunya. Menurut Sehun dia tidak wajib menjelaskan apapun pada Jongin, tadi Jongin sudah menolak perjodohan mereka kan?

"Aku mau mengajakmu ke suatu tempat." Kata Jongin lagi.

Perkataannya kali ini membuat Sehun tertarik sehingga meletakkan buku yang sedang dibacanya ke dalam tas. "Mau kemana?" Tanya Sehun.

Jongin terdiam, "Aku tadinya ingin menolak perjodohan ini. Tapi aku berubah pikiran."

"Kenapa?" Kenapa aku penasaran? Pikir Sehun.

"Ikutlah denganku, akan ku jelaskan disana nanti."


"Ini tempatnya?" Sehun bertanya tidak yakin saat mereka sampai di salah satu kolumbarium terbesar di kota.

"Di dalam." Jongin menjawab sambil berjalan ke dalam kolumbarium.

Sehun berjalan mengikuti Jongin dalam diam. Selama perjalanan tadi pun Jongin tidak mau menjawab pertanyaan Sehun mengenai tempat yang mereka tuju ini.

Mereka masuk ke salah satu ruangan di bangunan tersebut. Tempat dimana abu-abu hasil kremasi disimpan. Jongin berhenti di depan salah satu pintu kecil tempat penyimpanan abu tersebut.

"Ini abu dari Ayahku." Jongin memulai penjelasannya

"Maaf Jongin, aku tidak tahu..."

"Dengarkan dulu." Jongin memotong omongan Sehun. "Sebelum Ayah meninggal, Ayah memintaku untuk bertemu denganmu, katanya dia ingin sekali punya menantu seperti kamu." Jongin terdiam, terlihat sedang memikirkan kata-kata selanjutnya. "Saat itu aku bilang kalau itu tidak masuk akal, aku masih menyukai perempuan." Jongin menengok ke arah Sehun, "Dan kamu jelas bukan perempuan." Jongin mengarahkan lagi pandangannya ke depan. "Aku pergi dari rumah karena bertengkar dengan Ayahku. Kalau saja aku tahu itu permintaan terakhirnya, aku tidak akan kabur dari rumah, menambah beban pikirannya, memperparah sakitnya." Jongin tertawa pelan, "Pak tua itu bahkan tidak bilang kalau dia sakit, dia terlihat sehat dan kuat saat ku tinggalkan, sebulan setelahnya aku malah mendengar kalau dia meninggal." Tawa Jongin makin keras, "Kadang aku benci dengan bercandaan Tuhan."

"Aku lihat ada minimarket 24 jam diluar tadi, kamu mau makan mie instan? Ini sudah jam makan malam." Tanggapan dari Sehun yang tidak nyambung sama sekali.

Jongin mengangguk dan berjalan mendahului Sehun ke luar dari ruangan itu.

Sehun meminta Jongin duduk di kursi yang ada di depan minimarket sementara Sehun menyiapkan mie instan untuk mereka berdua. Sehun bahkan membuat teh untuk Jongin.

"Ini." Sehun meletakkan mie instan milik Jongin di meja Jongin, lalu menaruh punyanya sendiri. "Makanlah selagi hangat." Sehun berkata lalu menangkupkan kedua tangannya, berdoa, lalu memulai makannya.

Mereka makan dengan tenang, belum ada yang mau memecah keheningan. Entah karena mie nya memang sangat enak atau memang mereka yang lapar.

Sehun yang menyelesaikan makannya duluan pun akhirnya berbicara, "Aku tak keberatan kalau perjodohan ini dibatalkan. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan perasaanku."

"Aku menyukaimu." Jongin berkata cepat.

"Maaf." Sehun menunjukkan muka bingungnya, "Tadi kamu bilang kamu menyukai perempuan."

Jongin meletakkan sumpitnya dan meminuman tehnya, mukanya memerah. Pasti karena meminum teh panas langsung, pikir Sehun.

"Bisa dibilang kamu merubahku." Jongin berkata gugup.

Sehun masih belum mengerti, "Secepat itu?"

"Haruskah aku menjelaskannya? Karena aku benar-benar bingung bagaimana cara menjelakannya." Jongin berkata cepat.

"Aku tidak bisa menerima alasanmu." Kata Sehun pelan.

"Lalu aku harus bagaimana?" Jongin terlihat putus asa.

"Kamu yakin menyukaiku? Aku mudah sekali sakit loh, mudah sekali pingsan." Sehun berkata.

"Tidak apa-apa, aku ada asuransi." Jongin berusaha meyakinkan Sehun.

"Aku hanya bekerja dari rumah, pekerjaanku tidak menghasilkan banyak uang." Sehun berusaha lagi.

"Aku akan bekerja keras, menghasilkan banyak uang, agar hidupmu tidak susah." Jongin berkata dengan kesungguhan yang terpancar dari matanya.

Sehun terlihat berpikir, sebelum berkata, "Kita coba dulu saja," Kata Sehun pelan, "pernikahan adalah hal yang hanya akan kulakukan sekali seumur hidup. Aku yakin Ayahku tidak akan asal memilih makanya beliau memilihmu, tapi karena dari awal kamu menolak, aku jadi ragu. Aku tidak bisa bertahan dengan orang yang tidak menginginkanku kan?"

"Alasanku menolak sebenarnya bukan itu," Jongin terlihat berpikir, "aku menyukaimu saat pertama melihatmu, saat pertama kau berbicara denganku. Lalu ke egoisanku mendominasi. Aku menutupi rasa bersalahku atas meninggalnya Ayah dengan berkata aku menolak perjodohan ini. Kalau dari awal aku mau mencoba dulu untuk bertemu denganmu mungkin Ayah tidak akan pergi secepat ini." Jongin menghela nafasnya, "Seperti katamu, mereka tidak mungkin asal menjodohkan kita."

"Baiklah," Sehun berkata akhirnya, "ayo kita mulai dengan benar." Lalu Sehun berdiri dari duduknya, "Namaku Oh Sehun." Sehun membungkukan badannya pada Jongin.

Jongin tersenyum dan ikut berdiri, "Aku Kim Jongin, senang bertemu denganmu Sehun."


"Aku bingung tujuanmu apa lagi, bukankah itu sudah yang paling tinggi?"

"Kadang-kadang ketinggian bisa membuatmu pusing."

"Kenapa tidak ambil dulu saja? Urusan pusing kan bisa minum obat nanti."

"Lalu kamu akan marah-marah karena aku menguras tenagaku untuk bekerja sampai sakit tidak terima kasih."

"Bayangkan betapa kerennya nanti title itu di CV mu."

"Kenapa susah sekali sih menjelaskan padamu?"