Hope you like this fiction :)


Sehun meregangkan badannya yang sedari tadi berada dalam posisi yang sama, mengetik beberapa prosedur dan hasil produksi yang belum sempat dimasukkan di jurnalnya. Belum lagi jadwal produksi yang belum sempat dia buat untuk minggu depan.

Sehun menghela nafasnya lelah. Sebentar lagi sudah masuk jam makan siang, pantas saja kalau badannya berteriak lelah. Sehun memutuskan untuk memeriksa lagi data yang dimasukkannya tadi sebelum beristirahat.

Tetapi ponsel Sehun berbunyi, tertera nama 'Jongin' di layar ponselnya, "Hallo." Sapa Sehun.

"Hei Sehun. Aku kebetulan ada meeting di dekat kantormu setelah makan siang dan aku sudah membelikan makan siang untuk kita, kita makan siang bersama ya?" Jongin berkata cepat, terdengar sekali dia gugup.

"Boleh. Memangnya kamu sudah dekat?" Sehun bertanya.

Jongin terdiam sebentar, "Kalau dari GPS sih lima menit lagi sampai."

"Kamu berkendara sambil menelepon dan menggunakan GPS? Kebiasaan buruk."

"Hanya sesekali kok. Sudah ya. Aku tutup teleponnya, bye Sehun." Jongin mematikan sambungan telepon mereka.

Sehun tersenyum mengingat Jongin akan kesini. Ini kemajuan dalam hubungan mereka. Sebenarnya Jongin sudah lama ingin ke kantor Sehun, ingin melihat tempat kerja kekasihnya, sekaligus tempat Sehun dibesarkan. Kebetulan sekali kantor dan rumah Sehun bersebelahan, agar mudah mengawasi, begitu kata Ayah Sehun ketika dia mulai membangun pabrik yang juga menjadi tempat Sehun bekerja. Sebelum ini Sehun selalu menolak kalau Jongin ingin mengantar Sehun pulang, atau mengajak makan siang bersama saat hari kerja. Ada ketakutan dalam diri Sehun kalau Jongin tidak akan bertahan dengannya kalau Jongin melihat pekerjaan Sehun. Kalau dibandingkan dengan Jongin yang seorang pegawai pemerintahan, pekerjaan Sehun ini bisa dibilang serabutan. Hari ini produksi, besok bisa jadi tidak produksi. Berbeda dengan Jongin, dia banyak meeting dengan orang-orang penting, pekerjaannya pun langsung terasa untuk kemajuan negara.

"Tuan Sehun." Bahkan ruangan Sehun pintunya selalu terbuka, agar dia bisa langsung mengawasi pekerjanya juga agar pekerjanya tahu kalau Sehun ada disana jika ada yang ingin ditanyakan. "Ada tamu, katanya namanya Jongin." Pekerjanya pun bukan pekerja yang punya pendidikan tinggi. Ayahnya memang sengaja memperkerjakan mereka daripada mereka menganggur.

"Baik, terima kasih." Sehun berkata, "Tolong bilang pada yang lain kalau sudah boleh istirahat makan siang ya."

"Baik Tuan." Dengan segera orang itu berteriak "Kata Tuan Sehun sudah boleh istirahat." Dengan satu teriakan saja dua puluh pegawai Sehun yang lain berhamburan ke halaman belakang rumah Sehun. Ibu Sehun memang selalu memasak agar pegawainya tidak pusing memikirkan makan siang, beliau selalu berkata gaji mereka sudah kecil, kasihan kalau harus bayar makan siang lagi. Sehun sempat pusing juga, kapan mereka kayanya kalau begitu terus kan?

Sehun memastikan penampilannya rapih lalu berjalan ke depan pabrik, "Hai." Sapa Sehun pada Jongin. Jongin dengan pakaian dinasnya tampan sekali. Sehun jadi jatuh cinta lagi.

"Hai." Jongin juga tersenyum pada Sehun. "Aku tidak terlambat untuk makan siang kan?"

"Baru mulai kok." Sehun mengarahkan Jongin ke halaman belakang rumahnya, pegawai yang lain sedang ribut-ributnya makan siang saat ini, "Kamu bawa apa?"

Jongin mengangkat paper bag, "Paket hemat makan siang dari Starbucks." Jongin tersenyum lebar, "Minumnya ku ganti Soy green tea latte untukmu."

Sehun tersenyum puas karena Jongin tidak salah memilihkan makanannya, "Sebentar kuambil sendok dan garpu dulu habis itu kita bisa makan di ruanganku." Setelah menerima anggukan dari Jongin, Sehun dengan cepat mengambilkan sendok dan garpu untuk mereka. Sementara Jongin menunggu di pintu yang menghubungkan antara pabrik dengan halaman belakang rumah Sehun.

"Itu pacarnya Tuan Sehun ya?" Salah satu pegawainya bertanya pada Sehun.

"Begitulah." Balas Sehun ramah.

"Kenapa tidak diajak makan bersama dengan Ayah dan Ibu di dalam?" Kebanyakan pegawai disana memang umurnya dibawah Sehun, makanya mereka memanggil Ayah dan Ibu Sehun dengan sebutan Ayah dan Ibu juga. Tapi seperti sekarang ini, kadang mereka juga suka bertanya seenaknya saja.

Jadi Sehun hanya tersenyum dan langsung menjauh untuk menghampriri Jongin. "Ruanganku ada di sebelah sini." Sehun memimpin jalan di depan Jongin. "Tidak terlalu besar, tapi cukup untuk aku dan laptopku." Sehun mempersilahkan Jongin masuk. "Maaf ya Jongin, apa tidak apa-apa kalau duduk di lantai? Kursinya hanya satu."

"Anggap saja piknik." Jongin menjawab. "Punyamu sandwich isi ayam, yang punyaku isi tuna." Jongin memberikan makanan yang dibelikannya untuk Sehun tadi.

"Ya ampun Jongin." Sehun tertawa.

"Kenapa?" Jongin jelas bingung.

"Kalau kamu membelikanku sandwich untuk apa aku mengambil sendok dan garpu?" Lalu Sehun tertawa lagi, kali ini bersama Jongin.

"Aku juga tidak sadar karena terlalu gugup." Jongin berkata setelah tawanya mereda. Otomatis tawa Sehun juga berhenti, seperti ingin bertanya kenapa Jongin gugup, tapi dia takut. Jongin berdehem, "Ayo makan." Terlihat sekali Jongin ingin menghindari topik ini.

"Kamu mau meeting dimana nanti?" Sehun bertanya setelah dia menelan gigitan pertamanya.

Jongin terlihat ragu, "Sebenarnya aku tidak ada meeting." Katanya pelan.

Sehun jadi menghentikan juga acara makannya, "Kamu bohong?"

Jongin menggeleng cepat, "Bukan begitu, tadi aku ada meeting di Starbucks, karena dekat dengan tempatmu dan sudah dekat jam makan siang, aku berinisiatif membelikanmu makan siang. Karena kamu biasanya tidak mau kalau ku ajak makan diluar kan?"

"Lalu setelah ini kembali ke kantor?" Sehun bertanya.

"Iya." Jongin menjawab dengan senyumnya.

Sehun lagi-lagi menghela nafasnya, "Tapi kantormu itu jauh, kalau terlambat sampai kantor bagaimana? Jam makan siang kan biasanya macet."

Jongin mengibaskan tangannya, "Tidak perlu khawatir, kekasihmu ini tahu jalan cepatnya."

"Kamu bisa memintaku kesana kalau memang kamu mau makan siang bersama." Sehun berkata.

"Tidak apa-apa. Lagipula kalau tidak kesini, aku mana tahu kalau anak-anak yang sering kamu ceritakan itu sebanyak tadi. Aku membayangkan hanya dua atau tiga orang, lalu pabrikmu, kamu bilang kecil, ini sih ukurannya lumayan besar Sehun, tadi kulihat mesinnya juga banyak. Aku jadi bangga karena tahu kekasihku bisa mengurus semua ini." Jongin berkata dengan penuh antusias karena akhirnya bisa melihat pabrik yang diurus oleh kekasihnya.

"Maaf ya, selama ini aku selalu menolak kalau kamu meminta datang kesini."

"Tidak apa-apa, kita kan baru menjadi pasangan selama dua bulan, aku paham kalau kamu belum siap." Jongin itu perhatian sekali sih? Sehun jadi jatuh cinta lagi.

"Terima kasih Jongin sudah mau mengerti." Sehun memeluk Jongin yang berada disampingnya.

Jongin membalas pelukan Sehun sambil tertawa, "Mungkin nanti aku akan tiba-tiba berkunjung ke rumahmu dan mengobrol dengan Ayahmu."

Sehun dengan cepat melonggarkan pelukannya dari Jongin, "Kamu tidak serius kan?"


"Starbucks sedang buy 1 get 1, aku sudah membelikanmu Soy Green Tea Latte, sebentar lagi aku sampai."

"Jangan bercanda, aku sedang tidak mood."

"Nah aku sampai, keluarlah, anak-anakmu bilang kamu ada di dalam."

"Dan aku kira kamu bercanda kalau bilang mau kesini."

"Surprise?"