Hope you like this fiction :)
Sehun nampak gelisah di tempatnya duduk saat ini. Jongin sedang mengajaknya keluar untuk makan malam tapi jiwanya seperti tidak ada disana, tidak fokus sama sekali, "Kamu mau pesan apa?" Tanya Jongin.
"Samakan saja denganmu." Sehun menjawab.
Jongin mengernyitkan dahinya heran, Sehun bukan tipe samakan saja denganmu, dia tahu apa yang ingin dia makan dan hampir tidak mau sama dengan yang lain. Dia bahkan tidak ingin memakan atau menggunakan sesuatu jika sesuatu itu masih banyak digunakan atau dimakan orang lain. Pokoknya Sehun maunya berbeda.
Tapi akhirnya Jongin tetap memesankan makanan yang sama untuknya dan Sehun, "Oke," kata Jongin setelah pelayan pergi, "apa yang mengganggu pikiranmu?"
Sehun mencintai Jongin untuk kepekaannya ini, "Jawab jujur Jongin."
"Kapan aku pernah bohong?" Jongin mendengus.
"Aku bukan tipe kekasih yang susah diurus kan? I am not high maintenance, right?" Sehun meneruskan seolah tidak mendengar Jongin yang mendengus diawal.
Jongin terlihat berpikir, "Well, kamu sedikit high maintenance." Kata Jongin pelan.
Sehun terkejut, "Kamu juga berpikir begitu?"
"Memangnya ada yang lain yang bilang begitu?" Jongin mulai mengerti apa yang mengganggu pikiran Sehun.
"Chanyeol, Kyungsoo, bahkan Suho yang ku pikir baik-baik saja pun bilang begitu." Sehun terlihat kesal.
"Kenapa itu mengganggu pikiranmu?" Jongin penasaran.
"Mereka mengatakan seolah-olah aku membuat segalanya menjadi lebih rumit hanya karena aku memesan kopi yang sedikit lebih spesifik, tapi kamu tahu kan Jongin? Aku tidak bisa seperti mereka yang akan puas hanya dengan ice americano saja? Its big no no." Sehun menggelengkan kepalanya lucu.
"Hanya karena kopi?" Karena orang-orang yang Sehun sebutkan tadi adalah orang yang sangat dekat dengannya, Jongin yakin masalahnya bukan hanya satu.
"Banyak hal lain seperti kalau sedang tugas keluar kota aku tidak bisa memakai sembarang shampoo atau sembarang sabun. Tapi kan aku membawa semuanya sendiri dari rumah, memangnya salah ya?"
Jongin terlihat memikirkan kata-kata yang akan dikeluarkannya setelah ini, karena kalau salah sedikit saja dia yakin Sehun bisa marah padanya, "Kamu memang bukan tipe yang mudah untuk diurus." Omongan Jongin terpotong sebentar karena pelayan yang mengantarkan pesanan mereka. Setelah pelayan pergi, Jongin dapat melihat wajah Sehun yang kesal karena perkataannya yang baru setengah tadi. "Kamu selalu bersemangat saat melakukan sesuatu dan itu bagus. Kamu memperhatikan detail sampai yang paling kecil, yang orang lain anggap tidak penting dan itu bagus." Jongin mulai melihat Sehun mencerna apa yang dikatakannya, "Kalau kamu marah karena ada detail kecil yang tidak sesuai, aku akan membuatmu merasa lebih baik dan kurasa itu hal yang bagus juga." Sehun mulai tersenyum, "Jadi mereka bisa berkata kamu susah diurus atau high maintenance tapi tidak apa-apa, karena aku suka mengurusmu, I like maintaining you." Jongin rasa dia menanganinya dengan baik karena dia bisa melihat Sehun tersenyum lebih lebar didepannya.
"Aku bahkan tidak berharap kamu bisa mengucapkan sesuatu yang seperti itu, aku jadi merasa tenang." Kata Sehun, "Aku takut kalau aku benar-benar merepotkan, menghabiskan banyak uangmu karena keinginanku yang berbeda dengan orang normal lainnya."
"Tidak usah dibahas lagi, ayo makan. Nanti udonnya keburu dingin." Jongin memberikan sumpit untuk Sehun.
Sehun mengangguk ceria lalu memperhatikan udonnya, "Udonku pakai daun bawang?"
Dan Jongin menghentikan kegiatan hampir menyuapnya, "Aku lupa, sebentar aku pesankan yang baru." Dengan cepat Jongin mengambil mangkuk udon Sehun dan meminta pelayan menggantinya dengan yang baru. Jongin menghela nafas, untungnya uang lemburan bulan ini baru saja cair. Untungnya dia memang mencintai Sehun sampai ke titik tidak peduli seberapa banyak uang yang dia keluarkan untuk itu.
"Kenapa harus lembur terus? Tidak lelah?"
"Untuk membiayaimu tentu saja."
"Memang biaya untukku besar ya?"
"Sudahlah. Aku tidak mau jadi kekasih yang hitung-hitungan."
"Aku akan mencari uang lebih banyak agar kamu tidak perlu lembur hanya untuk membiayaiku."
"Tidak perlu, belajar jadi orang tua yang baik saja untuk anak-anak kita nanti."
