Hope you like this fiction :)


Jongin memperhatikan lagi tampilan dirinya dari kaca spion. Tidak bisa lebih tampan dari ini, pikirnya. Dengan sebuah kotak berukuran sedang ditangannya, dia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah minimalis yang hari ini dihias sedemikian rupa bertemakan Star Wars untuk merayakan ulang tahun ke 18 si anak tunggal pemilik rumah yang merupakan murid tutor Jongin selama tiga tahun ini, Oh Sehun.

Anak tutornya itu benar-benar menyukai Star Wars sampai dinding kamarnya penuh dengan poster film tersebut, Sehun bahkan pernah membeli miniatur salah satu tokoh film tersebut dengan harga yang mahal. Ketika Jongin tanya kenapa, Sehun hanya menjawab, kakak mana bisa ngerti kalau gak suka? Karena Jongin juga merasa hal itu tidak berpengaruh pada nilai Sehun, jadi dia tidak mengejar jawaban dari Sehun.

Jongin memutuskan untuk berkeliling dulu sebelum memberikan kadonya pada Sehun dan mengucapkan selamat ulang tahun karena tadi dilhatnya Sehun sedang asik mengobrol dengan beberapa tamu yang lain. Kondisi rumahnya sudah lumayan ramai walaupun pesta belum dimulai, musik yang dimainkan juga masih musik-musik dengan beat rendah.

Jongin baru akan mengambil minum ketika sebuah suara memanggilnya, "Kak Jongin! Kenapa gak nemuin Sehun dulu?" Jongin dapat melihat muka kesal Sehun.

Jongin meletakkan kembali gelas yang tadi diambilnya, "Tadi kamu sibuk mengobrol dengan teman-temanmu, jadi aku ngambil minum dulu aja."

Sehun mengangguk mengerti, "Lalu kadoku mana?" Sehun menengadahkan tangannya.

"Ah aku lupa," Jongin menggaruk tengkuknya, "aku ga bisa beliin funko kaya yang kamu minta, jadi aku cuma bisa beli ini." Jongin menyerahkan kotak berukuran sedang yang sedari tadi dipegannya.

"Gak apa-apa," Sehun membalas, "kalau dari Kak Jongin aku yakin pasti sudah dipikirin baik-baik dan banyak manfaatnya. Makasih ya Kak." Sehun memeluk Jongin dan mengecup pipi Jongin sebentar, "Aku nemuin temanku yang lain dulu." Sehun pamit dengan terburu-buru. Sementara Jongin masih mematung ditempatnya.

"Kim Jongin?" Lagi-lagi sebuah suara memanggilnya.

Jongin menoleh cepat dan menundukkan badannya, memberi hormat, "Tuan Oh." Sapa Jongin.

"Ambil minumanmu dan temani aku mencari udara segar diluar." Katanya sambil berjalan ke arah taman belakang dimana terdapat kolam berenang kecil disana.

Dengan segera Jongin mengambil gelasnya dan berjalan mengikuti Ayahnya Sehun menuju taman belakang. Ayah Sehun mendudukan dirinya di salah satu kursi taman kosong yang menghadap ke kolam berenang kecil.

"Dulu Sehun sempat mogok makan tiga hari karena aku tidak mau membuatkan kolam berenang untuknya." Ayah Sehun membuka percakapan mereka.

"Aku pernah dengar ceritanya dari Sehun." Kata Jongin sambil tertawa kecil, "Anak itu memang nekat kalau keinginannya tidak dipenuhi." Lalu Jongin menyesap minumannya, untuk menghilangkan kegugupan karena dia jarang sekali berbicara berdua dengan Ayahnya Sehun, biasanya selalu ada Sehun atau Ibunya Sehun.

"Aku melihatmu dengan Sehun tadi, sepertinya kalian dekat. Apa kamu serius dengan anakku?"

Nah kan, pertanyaan yang dicemaskan Jongin pun muncul, "Jujur aku bingung Tuan, Sehun menyatakan perasaannya padaku minggu kemarin dan sampai sekarang aku masih belum menjawabnya."

"Kamu memang tidak mempunyai perasaan pada Sehun atau ada yang membuatmu ragu?" Ayah Sehun bertanya lagi.

Jongin terdiam memikirkan kata selanjutnya, "Ada yang membuatku ragu."

"Apa ini masalah status sosialmu?"

"Tuan tahu kalau aku menjadi tutor Sehun pun karena aku membutuhkan biaya untuk membayar kuliahku. Untungnya dari situ aku masih bisa menyisihkan biaya untukku makan dan membeli beberapa buku. Sedangkan Sehun, dia bisa membeli sesuatu yang tidak penting sekali pun dengan harga yang mahal." Jongin tahu omongannya barusan bisa menyinggung Ayah Sehun.

"Anak itu dari kecil memang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Kenapa kamu harus khawatir?"

"Setelah bersamaku mungkin dia tidak akan lagi mendapatkan apa yang dia mau tanpa harus bekerja Tuan." Jongin menjawab lagi.

"Kamu tahu dia akan mengusahakannya kalau memang ingin kan?" Jongin mengangguk, "Oke itu bukan masalah lagi, sekarang yang ingin ku tahu, kamu mempunyai perasaan yang sama dengan anakku atau tidak?" Ayah Sehun menatap Jongin tajam.

Membuat Jongin meringis dipandangi begitu, "Tidak mungkin bertemu Sehun hampir setiap hari selama tiga tahun dan tidak merasakan apa pun Tuan. Lagi pula Sehun itu tipeku sekali." Jongin lagi-lagi meringis karena mulutnya terlalu jujur.

"Kalian itu tidak akan langsung menikah besok walaupun kamu menerima Sehun hari ini. Kenapa ketakutan begitu?" Jongin diam memikirkan apa yang dikatakan Ayahnya Sehun, "Lulus kuliah kamu bekerja di perusahaanku, aku akan menyerahkan sedikit demi sedikit tanggung jawabku padamu, kamu tahu sendiri Sehun sama sekali tidak tertarik untuk mengurus perusahaan?" Ayah Sehun mendengus. "Setelah kurasa kamu cukup mapan baru rencanakan pernikahan kalian."

"Tapi Tuan.."

"Ayah! Kak Jongin!" Sehun menghampiri mereka, "Kenapa malah disini? Aku mencari kalian dari tadi!" Sehun berkata sebal.

"Memangnya ada apa?" Ayahnya menjawab santai.

"Ulang tahunku? Kalau Ayah lupa harusnya Ayah, Ibu dan Kak Jongin menemaniku memotong kuenya." Sehun masih menerangkan dengan sabar.

"Kok aku juga ikut?" Jongin bertanya bingung.

"Karena Kak Jongin kekasihku." Jawab Sehun santai sambil menarik tangan Jongin agar berdiri dan jalan disebelahnya. "Ayah sudah membicarakannya dengan Kak Jongin kan?" Sehun menengok ke belakang dimana Ayahnya sedang mengikuti mereka untuk memulai acara ulang tahun Sehun.

"Sudah." Jawab Ayah Sehun santai, "Sekarang kamu hanya perlu fokus belajar agar masuk universitas terbaik. Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh lagi."

Sehun tersenyum melihat muka kebingungan Jongin karena omongan Ayah dan anak ini bisa berarti banyak dan Jongin tidak tahu yang mana artinya. Jongin bahkan lupa kalau inti dari pembicaraan mereka tadi adalah Sehun selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.


Kalau aku menikahimu apa aku menjadi CEO juga?

Tentu saja, nanti aku yang dirumah dan kamu yang bekerja.

Kenapa kita tidak berganti posisi? Aku jadi CEO dan kamu menggantikanku di posisiku.

Kenapa harus? Kalau kamu jadi CEO kan aku tinggal diam saja dirumah.

Diam dirumah dan hanya memberi makan 11 anak kita nanti ya?

Iya, anak-anak anjing kita.