Aku mengerjapkan mataku, mencoba membiasakan mereka dengan cahaya yang tiba-tiba meyeruak masuk. Memori kejadian semalam perlahan-lahan memenuhi kepalaku. Apakah itu semua hanya mimpi? Tentu saja tidak. Aku tahu itu. Bagaimanapun, sebelum ini aku pernah mengalami kematian. Jadi, bagaimana aku kembali dari kematian? Mungkin sosok pemilik dengkuran halus, yang saat ini tengah memelukku, mengetahui jawabannya.

Aku menatap wajah tertidur sosok yang memelukku itu. Ia adalah seorang gadis. Rambut hitam pendeknya mengingatkanku pada salah satu kunoichi asal Iwagakure. Memandangi wajah tidur gadis itu entah kenapa membuat kantukku kembali, apalagi dengan kehangatan yang ia berikan pada sebagian tubuhku. Aku sekuat tenaga menahan diri untuk tidak terlelap saat ini juga.

Aku akhirnya mengalihkan pandanganku dari gadis itu, dan lebih memilih mencari tahu tempatku saat ini. Aku saat ini duduk di kasur yang empuk, sangat empuk. Ruangan ini terlihat sedikit berbeda daripada rata-rata rumah di Suna. Tata letak dan perabotannya sedikit mengingatkanku dengan rumah-rumah di Konoha. Yang membedakannya hanyalah barang-barang di tempat ini terlihat lebih… aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Ruangan ini dipenuhi aroma vanilla, yang entah kenapa terasa sangat pas dengan seleraku. Informasi baru, aku menyukai aroma vanilla.

Gerakan gadis di sampingku, membuatku mengalihkan perhatianku dari observasiku. Gadis itu bangkit dari tidurnya sambil menggumam lucu, sebelum ia membuka matanya. Wajah mengantuknya, ditambah rambutnya yang sedikit kusut membuatku sedikit terkekeh. Entah kenapa menurutku hal itu sangat lucu.

Suara kekehanku sepertinya berhasil membuat gadis itu sadar akan posisi kami saat ini. Ia menatapku dengan tatapan terkejut. Aku dapat melihat wajahnya sedikit memerah. Oh, dan jangan lupakan mulut terbukanya yang sedikit bergetar, seperti ingin mengucapkan sesuatu. Aaahh…, aku mulai menikmati ini.

"Yo…," aku menyapa gadis yang masih terdiam di depanku. Sepertinya ia akan tetap seperti itu untuk beberapa saat jika aku tidak melakukannya. "Selamat pagi."

"Ekhem…" Gadis di depanku berdehem. Aku yakin ia mencoba menyembunyikan rasa malunya. Ia memasang kacamata yang ia baru saja ia ambil dari meja. "S-selamat pagi. A-akhirnya kau b-bangun juga."

Gadis itu bangkit dari ranjang lalu berdiri tak jauh dariku. Ia menatap lurus padaku dengan pandangan yang sangat familier untukku. Tatapan mata gadis itu sangat intens, seolah ingin menggali informasi dari mataku. Eh…, kemana perginya gadis malu-malu tadi?

"Aku yakin banyak yang ingin kau tanyakan padaku." Gadis itu membuka suaranya. Aku dapat merasakan ketegasan dari nadanya. "Tapi sebelum itu, biarkan aku yang bertanya." Ia menghela nafas panjang. "Siapa kau sebenarnya? Aku tidak bisa menemukan informasi tentang dirimu."

Aku hanya terdiam. Aku tidak yakin, apakah aku harus memberitahu gadis itu tentang diriku. Apakah gadis ini dapat dipercaya? Jika itu aku di kehidupan sebelumnya, aku pasti akan sangat tertarik pada manusia dari dunia lain. Aku mungkin akan memburu orang itu lalu membedah tubuhnya dan menjadikannya salah satu kugutsuku.

"Bagaimana kalau aku mengatakan…" aku membuka suaraku, sambil memperhatikan ekspresi wajah gadis itu. "…aku tidak berasal dari dunia ini?"

"..."

"..."

Keheningan menguasai ruangan ini. Aku dapat melihat gadis itu menatapku dengan tatapan tajam, seolah-olah mencari kebohongan dari perkataanku beberapa saat lalu. Sayang sekali gadis kecil, kau tidak akan berhasil. Aku sudah sangat berpengalaman dalam menyembunyikan kebohongan. Selain itu, aku saat ini tidak sedang berbohong, kau tahu.

"Begitukah?" Aku mendengar helaan nafas gadis itu. "Semuanya jadi masuk akal sekarang."

"Eh?!" Aku secara spontan memperbesar volume suaraku. "Kau percaya begitu saja?"

"Sejujurnya aku sempat berpikir seperti itu." Gadis itu memperbaiki letak kacamatanya. "Informasi tentangmu tidak bisa ditemukan di manapun di negara ini. Dan aku yakin kau bukanlah dari luar negeri, mengingat Bahasa Jepangmu sangat lancar. Memang, ada kemungkinan kalau kau adalah imigran gelap yang telah lama tinggal di Jepang. " Jepang? Mungkinkah nama negara ini? Aku hampir mengucapkan itu, kalau saja gadis itu tidak mengangkat tangannya untuk menghentikanku." Hal yang membuatku berpikir kau dari dunia lain, adalah fakta bahwa kau berada di dalam barier yang kubuat tanpa sepengetahuanku. Aku yakin tidak ada yang memasuki barier itu, selain gadis Fallen Angel dan manusia yang ia bunuh itu.

"Selain itu, dirimu berada di tempat itu juga menguatkan dugaanku. Beberapa jam sebelum kau muncul di tempat itu, aku merasakan energi sihir asing di sana. Aku berada di tempat itu untuk meneliti energi sihir tersebut." Sihir? Meskipun baru pertama mendengar kata tersebut, aku sudah memiliki sedikit gambaran. " Meskipun aku mengatakan asing, aku cukup mengenal sihir tersebut. Sihir itu adalah sihir teleportasi. Dengan kata lain sihir ruang dan waktu. Jadi, karena itulah aku mengambil kesimpulan itu."

Aku dapat mendengar helaan nafas gadis itu. Helaan nafas itu sebagai tanda kalau ia telah menyelesaikan penjelasan panjang lebarnya.

"Ne..." Aku akhirnya membuka suara, memecahkan keheningan. "Kau lelah?

Seketika gadis itu menatapku tajam, membuatku sedikit bergidik ngeri. Oh ayolah, aku hanya ingin mencairkan suasana, kau tahu. Aku berdehem gugup.

"Sejujurnya aku tidak terlalu paham penjelasanmu. Tapi aku mengerti garis besarnya." Aku berdiri di depan gadis itu. "Oh iya, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan-"

"Sebelum itu...," gadis itu memotong ucapanku. "...kau belum menjawab perntanyaanku."

"Aku sebenarnya menunggumu memperkenalkan dirimu terlebih dahulu. Tapi baiklah." Aku menghela nafas pelan. "Aku Sasori, Akasuna Sasori. Aku Salah satu shinobi Sunagakure..." lebih tepatnya shinobi pelarian "...desa tersembunyi di Negara Angin, salah satu dari 5 negara besar di dunia asalku." Gadis itu meletakkan tangannya di dagunya. Ia dalam mode berpikir. "Giliranku untuk bertanya. Di mana ini? Kau siapa? Dan yang terakhir..., kau dan aku apa?"

"..."

"..."

"Untuk pertanyaan pertamamu, tempat ini adalah Jepang, salah satu negara yang terletak di Asia Pasifik, salah satu dari ratusan negara di dunia ini." Tunggu dulu. Ratusan? Tidakkah itu terlalu banyak? "Dan untuk menjawab pertanyaan keduamu, sekaligus pertanyaan ketigamu..."

Sepasang sayap hitam muncul dari punggung gadis itu. Sayap itu berbeda dari sayap gadis yang membunuhku malam itu. Jika sayap gadis yang membunuhku itu mirip seperti sayap gagak, maka sayap gadis yang berada di depanku mirip sayap kelelawar. Jadi begitu. Semuanya masuk akal sekarang.

"Aku Sona Sitri, putri kedua dari keluarga Sitri." Shi-shitori? "Aku yakin kau ingat kalau malam itu kau dibunuh oleh Fallen Angel itu, kan? Jadi-"

"Kau menghidupkanku, kan?" Aku momotong ucapan gadis itu. Gadis itu menatapku kesal sambil mengagguk kecil. "Dan sekarang aku sama sepertimu. Biar kutebak, iblis?"

"Um..." Sitri mengangguk mantap. "Kau terlihat sangat tenang untuk orang yang telah dihidupkan dari kematian."

"Yah..., ini bukanlah pertamaku kalinya aku dihidupkan." Ada sedikit keterkejutan di mata Sitri. "Ini bahkan ketiga kalinya aku mati." Sitri terlihat kehilangan kata-kata. Mulutnya sedikit terbuka. Aku bahkan dapat melihat kilatan kesedihan di mata gadis itu. "Aku sangat berterima kasih kau telah menghidupkanku lagi, Sitri-san." Aku tersenyum. Senyum yang sangat tulus dari dasar hatiku. "Jadi, jangan merasa bersalah telah menghidupkanku tanpa izin."

"Ekhem..." Sitri berdehem. Ia membuang wajahnya dariku. Aku dapat melihat semburat merah di pipi putihnya. "Ka-kalau kau merasa seperti itu, baiklah." Ia kemudian menatapku dengan tatapan serius. "Akasuna Sasori, mulai hari ini kau adalah bagian dari keluarga Sitri. Bersediakah kau berada di sampingku selamanya?"

"Iya." Aku menjawab mantap. Sitri tersenyum lembut membuatku sedikit terpaku. "Aku- tidak. Saya bersedia."

"Kalau begitu, bersiap-siaplah!" Sitri menunjuk pakaian yg terlipat rapi di atas meja dengan matanya. "Aku akan memperkenalkanmu pada yang lain."

"Baik."

Aku mengambil pakaian itu. Baru saja aku berniat mengenakannya, aku ingat sesuatu.

"Ne, Sitri-san." Sitri menghentikan langkahnya untuk meninggalkan ruangan. "Bolehkah aku membuat satu permintaan?"

"Apa itu, Sasori-kun?"

"Bolehkah aku meminta cermin?"


TBC

A/N:

Pendek? Next chapter, aku usahakan lebih panjang lagi.

Sasori OOC? Kita sependapat XD. Hanya saja, author ngerasa Sasori cocok dengan kepribadian tersebut. Mungkin cuma author aja yang ngerasa seperti itu :v

Lactobacillus, out.

Mind to RnR?