Last chapter

"Hei, kita sudah pulang! Jadi bangunlah!"

Yoongi menoleh dan memberikan tatap datar khas miliknya. Detik berikutnya dia langsung beranjak, mengenakan hoodie untuk menutupi rambut putih itu lalu meraih ranselnya. Tubuhnya bergerak untuk melewati Hyera begitu saja. Namun Hyera sangat yakin jika Yoongi baru saja bergumam.

"Terima kasih."

Chapter 2

"Tidak, tidak. Maksudku, kelas itu sudah pasti tidak akan bertahan lama. Mereka akan melakukannya, sama seperti tahun sebelumnya." Tangannya terangkat untuk menghantarkan sebatang rokok yang menyala itu ke bibirnya. Telinganya masih setia mendengarkan ucapan lawan bicaranya yang berada di seberang telepon.

Asap rokok dihembuskan dan membuatnya bergumpal di udara. "Dengarkan aku! Aku tidak mau pendidikan mereka sia-sia. Aku ingin segera mengungkap kebenaran. Anak-anak itu bukan biang masalah. Mereka sudah dibodohi selama ini dan aku tidak tahan lagi."

Hening sesaat. Dijatuhkannya batang rokok yang tersisa setengah itu lalu melemparnya ke bawah. "Aku tahu resikonya, jangan kau ingatkan lagi. Setidaknya biarkan aku mengungkap kebusukan mereka."

"Gagal?" Rahangnya mengeras ketika mendengar ucapan dari lawan bicaranya. Namun tidak lama sampai bibir itu mengulas senyum tipis. "Aku yakin tidak akan karena mereka tidak akan bisa melawan anak-anak itu."


Pria awal 50 tahun itu menatap nyalang pemuda yang hanya duduk dengan santainya di sofa sambil menonton televisi. Tampaknya pemuda itu sama sekali tidak berminat untuk melayani orang yang berstatus sebagai ayahnya itu.

"Bagaimana kau bisa berada di kelas busuk itu?"

Bersamaan dengan beberapa lembar kertas yang dilempar ke atas meja tepat di samping kaki si pemuda, pria itu bersuara tinggi. Dia sadar jika anaknya itu tidak akan mendengarkannya.

"Apa kau sudah puas dengan peringkatmu yang turun drastis itu? Apa kau tidak tahu betapa malunya di depan kolegaku?"

Si pemuda hanya memiringkan kepalanya lalu tertawa kecil karena adegan lucu di layar LCD yang ada di depannya itu. Tangannya bergerak untuk meraih remot yang ada di sampingnya dan menambah volume televisi.

Pria itu sudah jengah. Tingkat kemarahannya semakin besar. Tanpa pikir panjang, pria itu merampas remot dari tangan anaknya dan melemparnya ke sembarang arah.

"Aku sedang berbicara denganmu, Jeon Jungkook."

"Huh?"

Akhirnya dia, Jeon Jungkook bersuara lalu menatap ayahnya. "Maaf, aku pikir kau sedang latihan akting marah-marah lagi. Kenapa tidak katakan dari tadi?"

"Apa kau ingin aku menarik seluruh fasilitasmu?"

"Humm, tarik saja. Tabunganku juga sudah cukup untuk hidup dua tahun ke depan."

"Kau pikir tabunganmu itu dari siapa? Aku selalu memberimu uang untuk kebutuhanmu."

"Maaf, tapi yang aku bilang itu tabunganku bukan tabungan yang berisi uang-uang darimu." Jungkook beranjak dari duduknya lalu menatap ayahnya.

"Darimana kau mendapatkan uang itu?"

"Kau ingin tahu? Maaf, aku tidak akan memberitahumu. Urus saja perusahaan-perusahaanmu itu. Bukankah itu lebih penting daripada aku?"

Jungkook yang sudah melangkah untuk menaiki tangga langsung berhenti. Menatap ayahnya yang masih menampilkan wajah emosinya. "Atau urus wanita itu karena aku tidak membutuhkan uangmu sama sekali, Ayah."

Tuan Jeon hanya terdiam sambil menatapi kepergian putra tunggalnya itu.


"Kenapa? Bukannya kau bilang ingin cerai?"

"Iya, aku ingin cerai. Aku tidak tahan jika terus seperti ini."

"Ya sudah. Kau juga lebih sibuk dengan pekerjaanmu."

"Jangan bicara seperti kau tidak saja. Kau tidak pernah memikirkan perasaan anakmu."

"Oh, sekarang kau menceramahiku? Lalu apa bedanya denganmu? Sibuk mengurus klien sana-sini."

"Kau sendiri? Urusi saja kolega-kolegamu itu. Aku bisa mengurus hidupku sendiri."

"Mustahil sekali. Aku akan mengurusi surat cerai itu."

"Urus saja. Bukannya kau sudah berkali-kali mengatakan hal yang sama?"

"Kau pikir aku tidak sibuk? Kenapa tidak kau saja yang mengurusnya? Mengurus hal seperti itu butuh waktu dan aku sibuk keluar negeri."

Dari kamarnya, Hoseok dapat mendengar suara-suara yang sudah menjadi makanannya sehari-hari. Dia sendiri sudah terlalu lelah untuk mendengar kelanjutannya yang pasti akan berakhir dengan kedua orang itu pergi dari rumah selama berminggu-minggu lalu bertengkar lagi dan pergi lagi. Sepertinya mereka lupa jika ada yang sedang membutuhkan perhatian disini.

Maka ketika pemuda Jung itu jengah, dia langsung meraih ponselnya dan menghubungi sahabat baiknya. Semoga saja dia juga sedang berada di keadaan jengah.


Makan malam itu baru saja berakhir. Tidak ada satu orang pun yang berniat untuk beranjak dari sana. Atau belum bisa. Ya, mereka belum bisa beranjak dari sana jika si kepala keluarga sendiri masih diam sambil mengamati dua pemuda yang ada di kiri-kanannya.

"Jadi, kenapa nilai kalian turun drastis?"

Pemuda disisi kiri tampak tidak berminat untuk menjawab dan malah melempar pandangan pada pemuda yang duduk di depannya. Sedangkan yang dipandang langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Tidak ada yang ingin menjawab? Namjoon? Taehyung?"

Sekali lagi, tidak ada jawaban yang diberikan oleh kedua pemuda itu. Sang kepala keluarga tampak tidak memaksakan dan malah menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Tentukan sekolah mana yang kalian inginkan. Luar kota atau bahkan luar negeri, terserah kalian saja. Ayah tidak akan memaksa." Sambil beranjak dari singgasananya dan berniat untuk melangkah pergi. "Ayah yakin sistem di sekolah itu sangat buruk." Kemudian meninggalkan tiga orang disana.

"Namjoon-ah, apa kau sudah menentukan sekolahmu?"

Oh, dia satu-satunya wanita yang duduk di samping pemuda yang berada di sisi kanan. Sedari tadi dia hanya mengamati kedua putranya itu dalam diam.

Bukan jawaban yang didapat tapi sebuah derit kasar dari kursi yang didorong mengudara. Pemilik nama yang disebut itu langsung beranjak dari posisinya dan melangkah pergi. Namun langkahnya terhenti sejenak sebelum benar-benar meninggalkan dua orang yang masih duduk di ruang makan.

"Aku sangat tidak suka ketika namaku disebut olehmu. Jadi tolong hentikan!"

Wanita itu hanya tersenyum pahit. Kini dia menatap putranya yang hanya duduk dalam diam. "Taehyung-ah, bagaimana denganmu?"

Namun, sepertinya yang didapat wanita itu sama saja. Saat tangannya terangkat untuk menyentuh pundak putranya, Taehyung langsung beranjak dari sana.

"Aku harus menemui Hoseok."

Kalimat terakhir itu benar-benar membuat wanita itu hanya tinggal dalam diam. Walaupun bukan pertama kalinya, tapi tetap saja penolakan menghasilkan sebuah rasa sakit di dalam sana.


"Ibu, apa kau tidak marah aku masuk kelas F?"

Sepertinya pertanyaan itu sama sekali tidak digubris oleh wanita yang saat ini tampak sibuk dengan dokumen di meja kerjanya. Atau malah dia tidak menyadari pemuda itu sedang berdiri di depan mejanya?

"Ibu, bukannya kau harus memarahiku karena aku nakal?"

Namun hanya gesekan kertas yang menjawab. Tidak ada suara lagi selama beberapa waktu. Pemuda itu masih setia memandangi wanita yang terlihat sibuk dengan kertas-kertas daripada dia yang berdiri disana.

"Ibu, aku ingin pindah sekolah. Tidak lama lagi kelas itu akan berakhir."

Pergerakan wanita itu terhenti dan berhasil mengundang senyum yang terpancar dari wajah pemuda yang ada di depannya.

"Cari sekolah yang kau inginkan, Jimin. Kemudian beritahu pada Sekretaris Cha sekolah mana yang menjadi pilihanmu. Jadi kau bisa pergi, 'kan? Maaf, sayang. Tapi Ibu sedang sibuk untuk rapat dewan besok."

Jawaban itu baru saja melunturkan senyum tulus yang terukir beberapa detik yang lalu. Selalu seperti itu. Sebanyak apapun Jimin mengadu, wanita itu akan mengeluarkan dua kata wajib yang selalu menampar dirinya. 'Maaf' dan 'sibuk'.


"Ibu mau kemana?"

Oh, pertanyaan itu tertuju pada wanita yang baru saja menuruni tangga dengan terburu-buru. Tidak lupa pakaian rapi dan make up yang membuat penampilannya sangat menawan.

"Hai, sayang! Maaf ya Ibu tidak bisa menemanimu makan malam." Wanita itu melangkah cepat untuk menghampiri pemuda yang saat ini sedang memakan ramyeon di ruang makan, memberinya kecupan singkat. "Ibu ada meeting dengan klien lagi."

"Tidak perlu minta maaf. Apa kau lupa kalau setiap hari aku seperti ini?"

"Maaf, Seokjinie. Ibu benar-benar tidak bermaksud begitu." Sambil memperikan sebuah tepukan pelan di pundak sang anak. "Ibu sudah terlambat. Berhenti makan ramyeon. Itu tidak baik untuk kesehatan."

"Ini karena kau, Bu. Jika kau lupa."

Ah, pernyataan itu membuatnya sedikit tersinggung namun wanita itu langsung tersenyum lalu berpamitan.

"Klien Ibu pasti sudah menunggu."

"Tidak perlu mengatakan klien." Seokjin beranjak dari posisinya, meninggalkan ramyeon yang sama sekali tidak disentuhnya. "Aku tahu Ibu akan berkencan dengan orang itu tapi tenang saja, Bu, aku akan menutup mataku dan pura-pura tidak tahu. Selamat malam dan selamat berkencan."

Wanita itu hanya menatap punggung putranya yang menghilang dibalik pintu kamar mandi. Tidak lama, karena setelah itu dia dapat mendengar klakson mobil di depan rumahnya.


"Tapi mau bagaimanapun aku tetap tidak percaya. Bagaimana kau bisa masuk ke kelas itu?"

Sedangkan yang diajak bicara tampak sibuk menyeduh kopi untuk pelanggannya. Dia tidak terlalu menggubris seseorang yang saat ini berdiri di depan meja bar dan terus mengocehkan hal yang sama sejak, hmm, mungkin dua jam yang lalu.

"Kau bahkan menyimpan salinan soal ujian dan menjawabnya lagi di rumah. Dan kau, ada di peringkat terbawah? Sangat tidak masuk akal, Yoon. Apa di sekolahmu ada orang yang memiliki nama yang sama denganmu? Hei, kau itu penghuni peringkat dua di awal tahun pertama. Sepertinya ada yang salah dengan sistem di sekolahmu."

Pemuda berkulit pucat itu meletakan segelas americano di atas meja bar lalu menatap orang yang sedari tadi mengoceh kepadanya. "Sudah? Kalau iya, antar kopi ini ke meja 12 sekarang!"

"Ya ampun, Min Yoongi. Aku ini mengkhawatirkanmu. Kenapa kau begitu kasar?"

Yoongi menghela nafas. "Cepat antar kopi ini, Park Chanyeol!"

Yang namanya disebutpun hanya mendengus kesal lalu mengambil kopi yang dimaksud dan segera mengantarkannya.

"Apa yang Ibunya inginkan saat mengandung tiang itu?"


"Hentikan itu, Hyera!"

"Aku setuju. Berhenti, Hye! Aku sudah muak."

Dua suara itu berseru frustasi lantaran mendengar pernyataan maaf berulang kali sejak tadi pagi sampai detik ini. Mereka benar-benar muak.

"Paman, aku benar-benar tidak menduga akan masuk peringkat terbawah. Aku sungguh minta maaf. Maafkan aku!"

"Ayah, izinkan aku mengambil sesuatu untuk membungkam mulutnya."

Bisikan itu dihadiahi sebuah anggukan dari yang lebih tua. Pemuda itu langsung beranjak dari posisinya dan berlari dengan cepat.

"Cukup, Hyera! Aku sudah bosan mendengarnya."

"Tidak. Aku sudah merepotkan Paman dan sekarang malah sangat mengecewakan."

Pria yang dipanggil paman itu tidak menjawab dan memilih untuk memijit pelipisnya yang pusing. Ah, sepertinya dia mengambil keputusan yang salah karena tidak ke kantornya hari ini. Buktinya dia harus sabar mendengar ocehan minta maaf keponakan perempuannya ini.

"Ayah!"

Oh, pemuda itu sudah kembali. Dengan sesuatu di tangannya tentu saja.

Pria itu mengangguk lalu beranjak dari posisinya. Berjalan ke belakang Hyera lalu menarik kedua tangan perempuan itu ke belakang. "Talinya, Daniel."

Daniel langsung memberikan sebuah kain panjang berwarna putih kepada sang Ayah lalu membiarkan pria itu mengikat tangan Hyera yang memberontak ingin dilepaskan. Setelah bagian ayahnya selesai, Daniel mengeluarkan kain yang sedikit panjang lalu mengikatnya ke mulut Hyera dan mereka berhasil membungkam mulut gadis itu.

"Hye, dengar!" Daniel menepuk kedua pundak sepupunya itu lalu menatap kedua mata berwarna hazelnut itu. "Ayah dan aku sudah muak mendengar permintaan maafmu. Kau sudah melakukan ini sejak sebulan yang lalu. Jadi aku mohon berhentilah. Ayah tidak akan marah denganmu. Kau tidak salah."

"Daniel benar, Hyera. Aku tidak marah denganmu." Pria itu mengusap puncak kepala keponakannya itu. "Tidak akan pernah karena kau adalah keponakan tersayangku. Soal nilai, aku yakin ada hal yang salah. Jadi berhenti minta maaf. Aku akan mengatur kepindahan sekolahmu, tenang saja. Paman tidak akan marah padamu, Hyera karena kami sayang padamu."


Seseorang berkemeja hitam yang dimasukkan ke celana kain hitam serta kacamata itu baru saja menjadi fokus untuk seluruh murid kelas Fiapeless. Maaf, terkecuali untuk mereka yang berada di barisan terbelakang.

"Maaf karena aku tidak hadir di hari pertama kalian."

Pemilik suara itu tersenyum sambil menatap murid-muridnya. Walaupun matanya harus terfokus selama beberapa saat pada muridnya yang berada di barisan belakang –sedang pada dunia mereka.

"Aku Lee Jungshin, walikelas kalian."

"Wah, apa aku tidak salah lihat? Ini guru yang terkenal karena ketampanannya itu, 'kan?"

"Aku tidak menyangka akan berlipat ganda seperti ini. Rasanya keberadaan mereka yang ada di barisan belakang belum cukup mengejutkan kita."

"Apa dia tidak salah kelas?"

"Ini seperti de javu."

"Bolehkah aku bertahan di kelas ini sampai lulus?"

Jungshin hanya tersenyum ketika mendengar bisikan-bisikan dari murid-muridnya itu. "Mari kita absen terlebih dahulu. Hmm?" Matanya sedikit membulat ketika membaca buku yang disebut absen itu. Mendadak raut wajahnya berubah. "Oh, anak-anak! Aku minta maaf karena absen kalian tidak berdasarkan abjad, tapi…"

Semua raut wajah murid Fiapeless berubah bingung. Nada bicara guru tampan itu berubah khawatir.

"Absen kalian masih berdasarkan peringkat." Jungshin mengalihkan pandangannya untuk menatap murid-muridnya, ada rasa bersalah terselip di hatinya. "Tapi aku akan mengubahnya. Tenang saja!"

"Tidak perlu, ssaem. Memang faktanya kami ini buangan, bukan? Jadi pihak sekolah terlalu malas untuk berurusan dengan kami yang, ya, hanya peringkat terbawah ini."

Oh, sepertinya hampir semua dari mereka tersinggung akan ucapan Jimin. Bahkan sebagian dari mereka baru saja menyadarkan diri jika mereka bukanlah apa-apa di sekolah ini. Selain hanya kumpulan siswa-siswi yang tidak pantas mendapatkan pendidikan yang layak.

"Wow, wow. Ucapanmu baru saja menyinggung hatiku, Park." Seokjin menepuk pelan dada kirinya. "Hati-hati, kita semua sangat sensitif."

"Sensitif? Untuk apa? Bukannya kelas ini hanya akhir dari kita saja?" Jungkook ikut menimpali lalu melemparkan pandangannya kepada Jungshin. "Ssaem, kami hanya anak-anak yang sudah tidak mempunyai harapan. Nama kelasnya saja sudah jelas, Fiapeless Class. Fiasco dan hopeless."

"Tidak." Jungshin berseru tegas. Matanya menatap satu persatu anak didiknya itu. "Kalian bukan anak-anak yang tidak pantas. Kalian lebih dari itu, makanya pihak sekolah mengasingkan kalian di kelas ini."

"Wah, apa itu maksudnya, ssaem?" Namjoon menyahut dengan suara yang sepertinya tertarik akan kalimat Jungshin.

"Tahun ini akan menjadi bukti jika kelas 2-F bukanlah anak-anak yang tanpa harapan. Kalian akan menjadi pahlawan yang akan mengungkap kebenaran."

"Berhenti, ssaem. Jangan memberi mereka harapan. Apa kau yakin kelas ini akan bertahan sampai ujian akhir?"

Ah, suara Taehyung baru saja mematahkan ucapan semangat Jungshin. Namun sepertinya guru muda itu tidak tersinggung dan malah tersenyum lebar.

"Tidak, karena aku sudah bertekad untuk memperbaiki citra kelas ini. Mari kita rubah kata Fiapeless itu menjadi Full of hope. We have the good fortune!"

Entah sadar atau tidak, namun kalimat-kalimat dari Jungshin baru saja memberikan harapan kepada mereka yang sebelumnya sangat pesimis. Namun perjuangan mereka tak akan mudah karena mungkin atau sangat banyak orang-orang yang akan berusaha mematahkan semangat itu dengan mudahnya.


"Apa? Murid Fiapeless? Kelas itu akan berakhir sebelum tahun ini selesai."

"Kau yakin? Hei, disana ada penghuni peringkat 10 besar."

"Tidak lagi. Apa kau lupa mereka sudah terlempar ke kelas tanpa harapan itu?"

"Benar juga. Apalagi mereka semua anak-anak yang bermasalah. Tiba-tiba aku setuju tentang keputusan kepala sekolah untuk menyingkirkan anak-anak yang hanya akan menimbulkan masalah."

"Hei, bukannya itu murid Fiapeless?"

"Jangan bermasalah dengan mereka, teman-teman! Mereka itu hanya sekumpulan anak-anak tanpa harapan."

"Benar. Kenapa tidak sekalian dikeluarkan saja?"

"Aku setuju. Anak-anak seperti mereka lebih baik enyah dari sekolah ini karena hanya mencemarkan nama baik."

"Hati-hati, disana anak murid-murid Fiapeless. Kau akan tertular menjadi orang yang tidak memiliki harapan."

"Jangan menakutiku. Dia itu tetanggaku."

"Sebaiknya kau jangan berurusan dengan mereka."

"Sadarilah tempat kalian, para penghuni Fiapeless!"

"Kalian hanya kumpulan manusia terbuang dan tidak berguna atau sebut saja sampah!"

"Sebaiknya kalian enyah dari sini!"

"Apa? Masih syukur kepala sekolah memberikan kalian kelas khusus."

"Kapan kalian akan enyah dari sekolah ini?"

"Pergilah!"

Setidaknya kalimat-kalimat itulah yang didengar dan diterima oleh murid-murid kelas Fiapeless setiap harinya. Tersinggung sampai sakit hati adalah kata-kata yang mendeskripsikan perasaan mereka kala harus berhadapan dengan anak-anak kelas lainnya.

Penghinaan sampai penolakan selalu diterima begitu saja. Kadang ada beberapa dari mereka yang masuk ke kelas dengan keadaan menangis. Ada juga yang hanya menganggapnya sebagai angin lalu. Misalnya Kang Hyera.

Hei, gadis itu selalu menyumbat telinganya dengan earphone baik ke toilet, perpustakaan atau ke ruang guru. Dia kelewat tidak peduli atas penghinaan dari mereka yang merasa paling sempurna.

Hyera kadang hanya menarik teman sekelasnya dari kebisingan akan hinaan yang ada lalu menyeretnya ke kelas, memberinya tisu lalu melangkah pergi. Selalu seperti itu.

Sepertinya penolakan di sekolah lebih mengerikan jika dibandingkan penolakan masyarakat.

Atau hal itu hanya untuk beberapa hari karena di hari selanjutnya Hyera tidak sengaja harus bertemu sekumpulan manusia-manusia munafik yang dulu pernah disebutnya teman-teman. Mereka masih sama. Masih sering bersama. Bedanya saat ini Hyera menjadi manusia paling hina di antara mereka.

"Bagaimana kelas Fiapeless-nya? Apakah menyenangkan?"

Itu Han Yeri. Dulu dia menjadi anak yang sangat manja pada Hyera, bahkan selalu memohon-mohon agar Hyera membantunya mengerjakan tugas.

"Apa kau sudah menemukan sekolah yang pas?"

Yoon Eunha, si pengagum Jeon Jungkook. Dari dulu memang selalu bertingkah menyebalkan dan sekarang sangat menyebalkan, menurut Hyera.

"Atau perlu aku carikan sekolah terbaik? Katakan saja padaku, Hye!"

Gracia, siswi blasteran yang tingkahnya sangat menggemaskan dan mendadak ingin membuat Hyera muntah saat melihatnya sekarang.

"Wah, wah. Lihatlah salah satu lalat dari kelas kegagalan!"

Nah, ini adalah yang paling menyebalkan di antara keempat bekas temannya. Cha Seojung atau sebut saja si perebut peringkat 1. Ayahnya seorang anggota parlemen dan ibunya merupakan donatur terbesar di sekolah ini. Saat melihat Seojung berada di peringkat 1, Hyera langsung berpikir Seojung adalah salah satu dari mereka yang mendapat keistimewaan di sekolah.

Ah, benar. Kenapa Hyera sangat bodoh sampai tidak menyadari hal ini? Dia baru tersadar jika penghuni peringat 1 sampai 20 adalah mereka yang orang tuanya merupakan donatur terbesar di sekolah. Dia juga sangat ingat jika sebagian dari mereka, termasuk Seojung bukanlah tergolong murid yang pandai. Sepertinya satu konspirasi sudah terpecahkan walaupun dirinya sendiri ragu namun apa salahnya jika itu merupakan salah satu kemungkinan?!

Terlalu asik dengan pikirannya, Hyera harus tersadar ketika sesuatu membasahi tubuhnya. Mereka bertemu di toilet, ngomong-ngomong.

Seojung, si pelaku utama penyiraman air tampak tertawa puas. Atau cukup? Karena sekali lagi dia mengambil segayung air dan kembali menyiramkannya kepada Hyera. Kali ini kepala Hyera tak luput dari siraman.

"Bagaimana? Apa sudah bersih? Aku tidak mau dekat-dekat dengan lalat dari tempat sampah. Itu menjijikan." Seojung mencicit jijik sambil melangkah mundur. "Oh ya, sepertinya kau harus membeli pakaian olahraga baru."

Saat yang sama, Yeri melempar sepasang seragam olahraga yang, hmm, tidak layak digunakan itu. Seragam itu sudah dalam keadaan compang-camping, belum lagi bau telur busuk yang menyeruak dari sana.

Gracia menginjak-injak seragam olahraga yang berada di lantai. "Pastikan kau mencucinya dengan bersih, Hye!"

"Sampaikan salamku untuk teman-teman sekelasmu, Hye!"

Kalimat terakhir dari Eunha disertai lemparan gayung yang mengenai pelipis Hyera merupakan hal terakhir yang diterimanya.

Hyera hanya menghela nafas. Dia sangat bersyukur jika tidak ada satupun teman sekelasnya yang mendapatkan hal seperti ini dan berharap cukup dia saja yang menerima hal ini. Kadang mengingat bagaimana teman-teman perempuannya menangis karena hinaan saja sudah membuat sedikit emosinya melambung. Sepertinya kata-kata 'tidak peduli' sudah hilang sejak dia ada di kelas itu.

Tidak, dia lupa dengan keadaannya yang sekarang. Apa dia perlu menghadiri kelas dengan keadaan seperti ini? Mau ganti, baju olahraganya sudah seperti ini. Jaket? Ah, dia berangkat tanpa benda itu hari ini. Jadi, dia memutuskan untuk kembali ke kelas lalu mungkin meminjam seragam cadangan salah satu temannya. Maka setelah membuat keputusan, Hyera memungut gayung dan seragam olahraganya itu lalu meletakan gayung kembali pada asalnya dan membawa seragam itu keluar dari sana untuk dibuang ke tempat sampah. Jika tidak sobek atau tidak terlalu banyak, mungkin dia bisa mencucinya. Namun melihatnya saja, Hyera yakin seragamnya itu tidak bisa diperbaiki. Untung saja dia masih menyimpan satu cadangan seragam olahraga.


"Wah, Hye! Perasaanku atau bagaimana? Sekolah ini tidak memiliki kolam berenang lalu kau berenang dimana?"

Sepertinya pernyataan Namjoon sama sekali tidak mempengaruhi Hyera yang sedang menggulung seragam olahraganya itu.

"Hye, sepertinya kau benar-benar kepanasan ya?!"

"Ugh, kenapa ada bau telur busuk?"

Bahkan si pendek dan si kelinci tak mau kalah untuk ikut-ikutan mengejeknya.

"Hyera, apa yang terjadi? Kenapa seragammu basah begini?"

Ah, sepertinya ada satu malaikat yang baru saja menanyakan hal yang paling masuk akal.

Hwang Hyuna sedang berdiri di pintu belakang tepat di samping Hyera yang menatap tempat sampah. Tatapan matanya, terlihat sekali sedang khawatir.

"Ah, tidak. Aku terpeleset di toilet."

"Ya ampun, Hye. Anak TK juga tahu kalau basah seperti itu bukannya terpeleset. Kecuali kecebur dalam kolam."

Hoseok bersuara, teman.

"Apa ini gara-gara mereka?" Hyuna langsung menyahut ketika Hyera hendak menyumpahi Hoseok.

"Lupakan saja, Hyun. Apa kau punya kantong plastik? Aku ingin membungkus ini baru membuangnya."

"Hyera, itu baju atau pel lantai? Siapa yang begitu niat untuk guntingnya?"

Serius, mulut Hyera benar-benar gatal untuk menyumpahi lima orang itu. Apalagi saat Seokjin sudah berbicara.

"Tunggu ya! Sekalian aku carikan seragam pinjaman." Hyuna berlari tergopoh ke arah depan, menghampiri satu persatu teman perempuan di kelas mereka.

"Hye, serius! Rambut sampai basah? Disiram?" Jungkook sampai menghampiri Hyera lalu mengacak-acak rambut gadis itu. Padahal keadaan rambut Hyera sudah cukup berantakan bahkan sampai tidak ada yang menyadari jika pelipis gadis itu sedang berdarah.

Ya ampun, mulut mereka ini terbuat dari apa?

Hyuna kembali dengan sebuah kantong plastik kecil di tangannya. Wajahnya masih menampakkan kekhawatiran yang tersirat jelas. "Hye, maaf sebelumnya tapi yang lain membawa seragam cadangan mereka ke rumah."

Hyera mengucapkan terima kasih setelah menerima kantong plasti dari Hyuna. Dengan cepat dia membungkus seragamnya lalu memasukkannya ke dalam tempat sampah. Tunggu! Membawa seragam cadangan mereka ke rumah? Sontak Hyera langsung memandangi teman-teman perempuannya satu persatu. Tidak banyak, hanya ada sepuluh orang termasuk dia dan Hyuna.

"Jangan bilang kalian sudah dikerjai oleh mereka?"

De javu. Kepala teman-temannya langsung tertunduk, mengalihkan pandangan mereka dari Hyera. Termasuk Hyuna.

Oh, jadi aku bukan korban pertama? Sepertinya aku akan benar-benar membalas dendam.

Hyera menghela nafas, kepalanya mendadak pusing karena kejadian hari ini. Setelah itu, dia berterima kasih kepada Hyuna dan terus meyakinkan gadis itu bahwa dia baik-baik saja sampai kemudian dia kembali duduk di kursinya. Keningnya sedikit mengernyit ketika menyadari jika teman sebangkunya menghilang dari sana. Hei, kapan Yoongi pergi? Maksudnya, tadi saat masuk kelas, dia yakin Yoongi sedang duduk disana dalam keadaan tertidur dan sekarang anak itu menghilang?

Namun pemikiran akan kehilangan Yoongi harus terhenti ketika merasa sesuatu menutupi punggungnya. Sontak dia segera berbalik dan mendapati Taehyung yang baru saja memakaikan jaket bomber di punggungnya. Belum cukup saat jaket lain tiba-tiba mendarat di atas mejanya. Pelaku, Park Jimin sedang melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Sesaat Hyera menyadari jika Taehyung sudah kembali duduk. Belum cukup, Hyera merasa kepalanya tertutupi oleh sesuatu. Sebuah hoodie hitam bergantung di kepalanya dengan Namjoon yang sedang mengoceh.

"Masih ada tiga jam pelajaran yang tersisa jadi pastikan tubuhmu tetap hangat."

"Teman-teman, apa tidak masalah jika aku mematikan AC-nya?"

Choi Seongcheol, si ketua kelas berdiri di depan kelas sambil menatap seluruh teman-temannya lalu mendapat jawaban berupa anggukan dan pernyataan setuju. Sepertinya Hyera harus sedikit terharu atas perlakuan teman-temannya itu. Ah, bahkan dia lupa akan rasa sakit yang sedari tadi mendera kepalanya.


Pelajaran baru saja dimulai saat Yoongi memasuki kelas dari pintu belakang dengan santainya. Tanpa bersuara, dia langsung menghantarkan bokongnya di kursi dengan kedua tangan di saku sweater. Hyera hanya melirik sekilas ketika Yoongi mengeluarkan salah satu tangannya dan meletakkannya ke atas meja. Setelah itu, dia kembali untuk menyimak pelajaran yang di jelaskan.


Hyera harus kembali terduduk ketika sebuah tangan baru saja menarik lengannya untuk kembali terduduk. Dia sedikit tersentak pada Yoongi yang merupakan pelaku penarikan.

Yoongi sedang merogoh sesuatu di dalam saku sweaternya dan mengeluarkan sebuah plester luka dari sana. Kedua tangannya tampak sibuk untuk membuka benda tipis berbentuk persegi panjang itu. Selesai, salah satu tangannya bergerak untuk menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kening Hyera dan mendapatkan sebuah luka dengan darah yang sudah kering.

"Maaf terlambat."

Tiba-tiba saja Hyera ingin menjerit ketika mendengar suara pelan itu mengalun di telinganya. Hei, ini untuk pertama kalinya dia mendengar suara Yoongi selain dengkuran saat makhluk berkulit putih pucat itu tertidur. Ah, gadis itu seperti mendapat de javu berkali-kali. Dia hanya bisa diam saja saat Yoongi mengelap darah kering itu dan menempelkan plester lukanya.

Bersyukurlah tidak ada orang lagi di kelas ini jadi tidak akan ada yang salah paham.

Yoongi selesai pada kegiatannya. Dia langsung beranjak dari posisinya sambil mengapit tali ranselnya pada bahu kirinya.

"Aku tidak tahu ada luka." Hyera memijat-mijat keningnya. Dia sama sekali tidak tahu jika ada luka disana, jujur saja.

Sebuah lenguhan terdengar dari Yoongi. "Aku bahkan bisa melihat darah itu mengalir di sela-sela rambutmu." Salah satu alasan kenapa dia mendadak menghilang dari kelas, karena Pemuda Min itu sudah menyadari jika ada luka di kening Hyera.

"Benarkah? Pantas saja sedikit perih." Hyera ikut beranjak dari posisinya lalu menatap Yoongi dengan tersenyum. "Terima kasih, ngomong-ngomong."

Yoongi tidak memberi jawaban. Namun dia memberi isyarat agar segera keluar dari kelas.


Next chapter

"Temanku."

"Pacarmu?"

"Teman."

"Pacarmu?"


Sebelumnya aku berterima kasih kepada yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca cerita ini. Kemarin akunku gak bisa login jadi begitulah.

Apakah masih ada yang mau baca cerita ini? Aku gak hebat berkata-kata tapi sekali lagi terima kasih dan maaf karena lama up-nya.

Salam hangat,

Gli