Last chapter
Sebuah lenguhan terdengar dari Yoongi. "Aku bahkan bisa melihat darah itu mengalir di sela-sela rambutmu." Salah satu alasan kenapa dia mendadak menghilang dari kelas, karena Pemuda Min itu sudah menyadari jika ada luka di kening Hyera.
"Benarkah? Pantas saja sedikit perih." Hyera ikut beranjak dari posisinya lalu menatap Yoongi dengan tersenyum. "Terima kasih, ngomong-ngomong."
Yoongi tidak memberi jawaban. Namun dia memberi isyarat agar segera keluar dari kelas.
Chapter 3
"Ya ampun, Hye!" Pekik Daniel ketika mendapati sepupunya itu pulang dengan sebuah jaket sweater hitam, jaket bomber biru dan sweater-hoodie putih. "Kau belanja jaket lagi?"
Hyera jengah. Dia ingin melempar mulut sepupunya itu dengan sepatu. "Aku sadar diri, Niel. Lagipula ini bukan jaketku."
"Lalu? Punya siapa?"
Daniel sepertinya cocok menjadi wartawan atau petugas kepolisian bagian interogasi. Karena saat ini dia benar-benar terlihat seperti itu.
"Temanku."
"Pacarmu?"
"Teman."
"Pacarmu?"
Tuhkan, menyebalkan.
"Temanku, Daniel yang tampan. Ini milik teman sekelasku. Mereka meminjamiku."
"Banyak sekali?"
"Apa salahnya? Mereka semua ingin meminjamiku. Kenapa kau yang ribut?"
Tunggu! Daniel tersadar akan sesuatu.
"Pelipismu kenapa? Siapa yang mengerjaimu? Siapa yang sudah berbuat jahat pada sepupu tersayangku?"
Pukul atau tidak?
"Kepalaku membentur meja. Tenang saja. Hanya luka kecil." Hyera meringis ketika melihat Daniel yang sudah menggulung lengan bajunya. "Sudah. Aku ingin mandi!"
"Baiklah. Istirahat ya!"
"Oh, dan jangan katakan apapun dengan Paman. Aku tidak ingin dia khawatir."
"Siap!"
Pelajaran olahraga
Sepertinya para penghuni kelas 2-F harus bersyukur karena ada beberapa guru mereka yang tidak terlihat pilih kasih. Contohnya guru olahraga mereka ini.
Nam Joonhyuk. Guru tertampan nomor dua setelah walikelas mereka, Lee Jungshin. Guru yang ramah kepada seluruh murid yang diajarnya namun selalu diiringi dengan sikap tegasnya. Oh, idaman seluruh perempuan di kelas 2-F. Sekali lagi, terkecuali untuk Kang Hyera.
"Hari ini kita akan mengambil nilai lari 100 meter. Hmm, karena murid di kelas kalian tersisa 24 orang jadi kita bagi tiga tim saja. Setiap tim terdiri dari empat orang akan berlari dan empat orang lainnya akan menghitung waktunya lalu kalian akan melakukannya secara bergantian. Jadi silahkan cari pasangan kalian dalam waktu dua menit dari sekarang."
Semuanya langsung sibuk mencari pasangan. Tidak terkecuali untuk Hyera yang, hmm, tidak mendapat pasangan. Teman perempuannya sudah membentuk satu tim. Murid perempuan mereka hanya tersisa sembilan. Enam orang teman sekelasnya sudah memindahkan diri ke sekolah yang lain dalam waktu satu bulan ini. Jadilah hanya tinggal 24 orang.
"Sudah dapat kelompok?"
Oh, suara Yoongi baru saja mengejutkannya. Hei, sejak kejadian hari itu, Yoongi menjadi sering mengeluarkan suaranya walaupun tidak sering.
Hyera mengangguk. "Sepertinya aku akan masuk tim laki-laki. Kau?"
"Menunggu sisa."
"Apa ini takdir lagi?"
Hyera jengah. Entah kenapa dia mengenal suara yang sangat dibencinya itu. Kini Jimin dan Jungkook sudah berdiri di depan mereka.
"Ah, yang benar saja?"
Satu lagi, gerutuan Namjoon yang begitu akrab di telinganya bersamaan Seokjin yang mengekor di belakangnya.
"Wah, apa hanya aku yang terkejut akan hal ini?"
Selalu dan tidak akan pernah ketinggalah. Jung Hoseok yang muncul bersama sahabatnya, Kim Taehyung.
Suara peluit yang dihasilkan oleh Joonhyuk baru saja menyapa pendengaran. "Tim pertama, silahkan maju!"
"Aku tidak berminat maju pertama." Jungkook berkomentar lalu mendudukkan dirinya di atas rumput.
"Ya sudah. Kita terakhir saja." Seokjin tampak setuju dan memilih untuk mengamati tim pertama yang merupakan tim anak perempuan.
"Sayang sekali, jika ada Yoojung mungkin kau masih ada teman perempuan." Namjoon yang berkecak pinggang tampak melirik Hyera yang merasa muak.
Tidak bisakah hariku tanpa mereka?
"Tim terakhir?"
Mereka berdelapan maju. Pasangan ditentukan berdasarkan bangku mereka.
"Tim apa ini? Sepertinya sangat menarik."
Mendengar itu, seluruh murid yang sudah selesai berlari langsung membalikkan badan mereka untuk menyaksikan tim terakhir yang memang sangat menarik.
Tahap pertama dimulai oleh Namjoon, Yoongi, Hoseok dan Jungkook. Sedangkan sisanya sudah memegang stopwatch di tangan mereka. Sambil menunggu aba-aba, keempatnya tampak melakukan persiapan.
Peluit ditiup. Keempatnya berlari sekuat tenaga. Seluruh mata menatap takjub pada kecepatan yang baru saja terjadi.
Jeon Jungkook : 12,30 detik
Kim Namjoon : 13,20 detik
Min Yoongi : 13,35 detik
Jung Hoseok : 14,25 detik
"Wah, Jungkook baru saja memecahkan rekor tercepat. Tim ini luar biasa. Kalian baru saja membuat catatan rekor tercepat dari tim sebelumnya." Sepertinya Joonhyuk sangat terkagum-kagum atas hasil yang didapat oleh keempat muridnya sampai hampir lupa dengan empat orang terakhir. "Oke, selanjutnya!"
Pelari pertama langsung bertukar posisi dengan pencatat waktu yang sebelumnya.
Tidak lama menunggu persiapannya karena detik berikutnya, peluit langsung ditiup dan membuat keempatnya segera berlari.
"Kim Seokjin?"
Namjoon melihat stopwatch yang digunakan untuk mencatat waktu Seokjin. "15,01 detik."
"Park Jimin?"
Jungkook menjawab, "13,18 detik."
"Kim Taehyung?"
Hoseok mengangkat tangannya. "13,58 detik."
"Kang Hyera?"
Yoongi terdiam. Matanya masih terpaku pada stopwatch yang ada di tangannya. Percaya atau tidak, tapi itulah yang sedang dilihat Yoongi.
"Kang Hyera?"
Hyera yang tersadar akan Yoongi yang terdiam langsung bergerak untuk menghampiri Yoongi. "Yoon, aku berapa?"
"Hmm." Yoongi sedikit tersentak ketika bahunya ditepuk Hyera. Matanya beralih pada Joonhyuk yang menanti jawabannya. "12,18 detik."
"HAH?"
Saat itu mereka tahu jika Hyera adalah pelari tercepat di kelasnya yang bahkan mengalahkan waktu Jungkook. Namun tidak lama, sampai Joonhyuk mengatakan Hyera adalah pelari tercepat di sekolah. Seketika seluruh murid bungkam dalam keadaan kagum.
Seperti biasa, Yoongi selalu melangkahkan kakinya menuju café dimana dia bekerja setiap sepulang sekolah. Berkutat dengan mesin penyeduh kopi adalah salah satu hobinya. Tidak ada kata bosan jika dia harus menghabiskan waktunya dibalik meja bar, menyiapkan kopi bagi seluruh pelanggan café.
Hari ini dia sedikit terlambat karena pelajaran tambahan yang didapatnya. Untuk siswa kelas 2-F, sungguh jarang mendapat pelajaran tambahan seperti itu. Maka Yoongi sendiri tidak terlalu keberatan.
Saat memasuki café, hal pertama yang didapatnya adalah pemandangan penuh yang umum dilihatnya setiap hari. Tidak peduli waktu dan cuaca, café tempatnya bekerja ini selalu dipenuhi pengunjung. Sesekali dia menyapa pelanggan yang sudah dikenalnya.
"Oh, kau murid Creighton ya?"
Sampai suara itu menghentikan langkahnya.
Ah, Yoongi tidak mengenal sosok yang duduk di sudut café itu. Dia bahkan tidak pernah melihat wajah itu pernah mengunjungi café. Oke, mungkin dia sering berkunjung disaat Yoongi tidak melakukan pekerjaannya.
"Ya." Dia mengangguk singkat sambil menghampiri pria berpakaian semi formal itu. Coatnya tersampir di kursi yang ada di samping. "Apa ada yang bisa kubantu?"
Pria itu tersenyum. Terlihat muda, mungkin umurnya sekitar 20 sampai 25 tahun. "Aku sudah memesan." Tunjuknya pada segelas americano yang masih utuh di depannya. "Kau benar siswa Creighton?"
Yoongi mengangguk. Dia menatap dirinya yang masih berbalut sweater hitam dengan ransel hitam yang tersampir di bahu kirinya. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan jika dia murid Creighton, lalu bagaimana orang itu~
"Aku melihat logo di kerahmu."
Seolah tahu apa yang dipikirkan Yoongi, pria itu langsung menunjuk kerah seragam yang nampak keluar dari leher sweater-nya. "Bisa bicara sebentar? Aku ingin bernostalgia tentang sekolah itu."
Tidak menjawab. Namun tanpa ragu Yoongi menarik kursi yang ada di hadapan pria itu lalu duduk disana sambil menanti kalimat apa yang akan keluar dari mulut pria yang ada di hadapannya. Ngomong-ngomong, sambil menunggu waktu shift-nya mulai.
"Apa Lee Jungshin masih mengajar disana?"
Yoongi mengangguk. "Masih. Dia walikelasku."
"Walikelasmu?" Pria itu tampak memiringkan kepalanya ke sisi kanan, sedikit tidak yakin. "Bagaimana bisa? Bukannya dia walikelas untuk kelas~"
"Aku ada di kelas 2-F."
"Ah, begitu." Pria itu tampak tidak nyaman lalu menyeruput americano miliknya. "Maafkan aku."
Yoongi tidak menggubris. Matanya masih setia untuk menatap pria yang baru dikenalnya itu. "Bagaimana, hmm~" Pertanyaannya menggantung, tidak mengenal siapa nama pria yang berbicara dengannya itu.
"Namaku Choi Minho. Maaf terlambat mengenalkan diri." Dia tertawa kecil lalu kembali berucap, "Aku juga murid Lee-ssaem. Bisa dibilang mantan murid kelas 2-F."
Yoongi bungkam. Hei, rasanya dia kurang ajar sekali di depan seniornya. Dalam hitungan detik, dia langsung membungkuk sambil meminta maaf.
"Hei, tidak masalah. Jangan terlalu sopan."
"Aku tidak tahu jika Minho-ssi juga pernah bersekolah disana."
"Tidak masalah. Apa masih sama? Kau juga pasti mempersiapkan kepindahan sekolah ya?" Minho kembali mengangkat cangkir kopinya lalu melirik Yoongi.
"Tidak. Aku akan berhenti sekolah, sepertinya. Lagipula aku sekolah disana karena mendapatkan beasiswa secara penuh."
Sepertinya Minho baru saja menghentikan gerakan tangannya untuk meletakkan kembali cangkirnya dan kembali menatap Yoongi. "Kalau begitu, bertahanlah disana."
Yoongi tersentak. Apa maksud kalimat dari pria itu?
Minho menyeruput habis americano-nya lalu mengambil coat miliknya dan beranjak dari sana. "Aku lupa harus pergi." Matanya melirik Yoongi sejenak lalu tersenyum. "Kalian harus bisa bertahan dan hancurkan sistem itu."
Saat Yoongi akan bertanya lagi yang diterimanya hanya suara pintu terbuka dimana Minho sudah pergi dari hadapannya.
Apa maksudnya?
"Aku dengar sudah empat orang mengundurkan diri dari sekolah ini?"
Wanita itu mengambil cangkir berisi teh hangat lalu memangkunya sejenak. Matanya menatap pria yang duduk di depannya sambil tersenyum.
"Enam. Sudah enam orang yang mengundurkan diri dari sekolah ini."
Wanita itu tersenyum lalu menyeruput the, menikmati sensasi hangat di mulutnya. "Bagaimana dengan mereka?"
Tiba-tiba pria itu tersenyum canggung lalu mengalihkan pandangannya. "Masih belum ada yang mengajukan. Sepertinya mereka masih ingin menikmati detik-detik akhir."
Cangkir itu sudah kembali ke atas meja. Sedangkan wanita itu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya. "Ini hasil atas usahamu selama ini. Terima kasih juga sudah membuat anakku ada di atas mereka."
"Ah, tidak perlu repot-repot." Pria itu mengulurkan tangannya untuk menerima amplop yang berisi sejumlah uang itu. "Aku akan mengutamakan mereka yang telah berjuang banyak untuk sekolah ini."
"Jangan membuat aku tersanjung." Wanita itu tersenyum sebelum akhirnya beranjak dari posisinya. "Aku akan membayar lebih jika mereka keluar dari sekolah ini secepatnya." Setelah itu, dia keluar dari ruangan itu.
"Akan aku lakukan apapun demi semua ini." Pria itu tersenyum puas. Sepertinya uang-uang itu lebih berarti daripada kebenaran akan kehidupan murid-murid di sekolah ini.
"–bagi kelas ini menjadi tiga kelompok berdasarkan absen. Tugas kalian membuat lima artikel dan lima makalah. Pastikan untuk mengumpulkannya minggu depan. Aku tidak ingin ada yang terlambat mengumpulkan. Jika satu saja terlambat, maka sampai jumpa dengan nilai kalian."
Sial.
Setidaknya kata itu yang terlontar dari hati dan mulut para penghuni kelas Fiapeless ketika wanita yang biasa mereka sapa Seo-ssaem itu melangkah keluar. Selalu seperti itu. Memberi mereka tugas yang tidak terkira sampai tidak masuk akal hanya karena mereka dari kelas tanpa harapan.
Benar-benar pilih kasih.
Ngomong-ngomong absen, berarti Hyera harus satu kelompok lagi dengan tujuh manusia itu. Oke, terkecuali untuk Yoongi. Hei, selama berada di kelas ini dan urusan kelompok, kenapa guru mereka selalu membagi ke dalam kelompok besar? Kenapa harus berdasarkan absen? Dan kenapa nama mereka harus berurutan?
"Hyer, sepertinya kita satu kelompok lagi."
Sejujurnya, Hyera sangat membenci suara mantan makhluk hidup berambut jingga itu. Hoseok sudah mengganti warna rambutnya menjadi hitam, ngomong-ngomong.
"Sayang sekali kau terlempar di kelompok ini, Hye."
Satu lagi suara menyebalkan dari pemilik rambut hitam yang kekal abadi. Hyera ingin berkomentar tapi rasanya percuma. Dia lebih memilih untuk memutar otaknya, bagaimana cara mengerjakan tugas sialan ini? Hei, ini tidak sedikit. Mereka tidak mungkin bisa mengerjakannya di sekolah saat akhir pekan.
"Jadi, kerjakan dimana?"
Oke, itu pertanyaan yang tepat. Dimana mereka akan mengerjakan tugas ini? Sekolah? Tentu saja pasti akan ada batasan waktu. Dan tugas ini memerlukan sumber dan waktu untuk menyusunnya. Apa dikerjakan masing-masing? Ah, sama saja dengan tugas individu.
"Tidak bisa di rumahku."
"Apalagi rumahku."
"Aku juga tidak mau jika harus di rumah kalian."
"Lalu siapa? Rumahmu?"
"Enak saja. Bagaimana dengan rumah Yoongi?"
"Maaf, aku tidak punya rumah."
"Lebih tidak mungkin lagi jika kita harus mengerjakan di rumah si Kim bersaudara. Aku tidak ingin mendengar drama saudara tiri."
"Tutup mulutmu, Jeon!"
"Ayolah. Sadar diri dengan kalian juga yang akan jadi saudara tiri."
"Lebih baik tutup mulutmu, Jung Hoseok!"
"Apa? Kau tersinggung, Tuan Kim Seokjin?"
"Kook, tenang! Jangan terpancing!"
"Jadi ingin dimana? Rumah siapa?"
Suara sekaligus pertanyaan Taehyung membuat seluruh mata mereka teruju pada satu orang. Satu-satunya dari mereka yang sedari tadi terdiam.
"Apa?"
Hyera tidak menyangka jika pada akhirnya rumahnya akan menjadi target terakhir untuk tugas kelompok yang akan berlangsung selama beberapa hari ke depan. Oke, ini bukan rumahnya, tepatnya rumah pamannya, Kang Minhyuk.
Dia sedikit menggerutu ketika Daniel berpamitan padanya tadi pagi. Bisa-bisanya sepupunya itu meninggalkan dia seorang diri di rumah bersama tujuh manusia itu. Sekali lagi, terkecuali untuk Yoongi. Parahnya lagi, Hyera harus mengiyakan saat Daniel meminjam atm karena anak itu tidak mendapat transfer dari ayahnya.
"Coba saja aku sempat mengambil beberapa lembar uang."
Matanya menatap miris kulkas yang kosong. Pamannya belum bisa kembali karena harus keluar negeri. Bahkan dua hari ini, dia dan Daniel harus memakan ramyeon karena malas berbelanja. Sepertinya dia sedikit menyesali saat lupa akan kedatangan ketujuh 'teman'nya hari ini.
Jadilah kaki itu melangkah menuju ruang tengah, menatap tumpukan buku yang sempat diantar oleh Hoseok dan Jimin ke rumahnya kemarin untuk dijadikan referensi atas tugas-tugas mereka.
"Sepertinya wanita itu berniat membunuh kami sekaligus."
Bell rumah yang berdering membuatnya tersadar dari kegiatannya menggerutu. Membuat kakinya melangkah menuju pintu utama dan membukanya. Ada sosok pucat dengan rambut mint yang mengenakan kaos bergaris hitam-putih dipadu jaket bermotif tentara.
Min Yoongi, yang paling normal di antara tujuh orang di deretannya –bersama Taehyung, berdiri dengan sebuah kantong plastik di tangan kanannya serta ransel di bahu kirinya.
"Oh, Yoongi?! Ayo masuk!"
Baru saja akan menutup pintu, sebuah suara menginterupsi dan berhasil membuat Hyera menghentikan gerakan menutup pintunya.
"Hyer, tunggu! Jangan tutup!"
Oh, itu gerombolan enam orang yang ditunggunya. Hyera baru tersadar akan kehadiran sebuah mobil sport merah dengan tiga motor sport di halaman rumahnya. Ditambah lagi, masing-masing dari mereka membawa satu kantong plastik berukuran sedang.
"Niat kita untuk buat tugas, 'kan?" tanyanya pada Jungkook dan Jimin yang sudah melangkah masuk tanpa permisi. Disusul Seokjin, Namjoon dan Hoseok.
"Sekalian, Hye. Tanpa makanan, otak tidak bisa bekerja dengan baik."
Terakhir Taehyung yang sempat menghentikan langkahnya untuk menatap Hyera. "Pastikan Hoseok, Jimin dan Namjoon tidak menyentuh dapurmu."
Hyera mengangguk. Dia baru tersadar jika Taehyung memegang dua kantong. "Biar aku bawa satu." Tangannya langsung bergerak untuk mengambil satu kantong yang ada di tangan kiri Taehyung. "Kau~"
"Apa?"
Hyera menggeleng lalu mendahului langkah kakinya. "Tutup pintunya sekalian!"
Hyera cukup bersyukur karena dia mengarahkan ketujuh manusia itu ke bangunan santai di halaman belakang. Karena dia sudah cukup bisa menebak akan jadi apa ruang tengah jika mengingat beberapa bungkus makanan ditambah remah-remah kue yang menjadi pemandangan tersendiri.
Mereka mengerjakan tugas atau ikut camping?
Setidaknya itulah pertanyaan yang terlintas di kepalanya dari balik layar notebook.
"Jangan gunakan yang itu. Materinya sedikit menyimpang dari milik kita." Jungkook mendorong jauh sebuah buku yang ada di atas meja. "Aku mendapat beberapa referensi disini." Sambungnya sambil membalikkan notebook-nya dan memperlihatkan kepada seluruh anggota kelompoknya. "Bagaimana?"
"Bagus. Bagian ini kita bisa masukkan ke artikel kedua. Sisanya masukkan untuk yang pertama." Namjoon menunjuk bagian-bagian yang dimaksudnya dengan pulpen dan direspon sebuah anggukan dari Jungkook yang sudah kembali membalikkan notebook-nya.
Hoseok meneguk minumannya lalu menarik salah satu buku dan membacanya. Lengannya menyikut Jimin yang duduk tepat di sampingnya dan memulai diskusi mereka.
Seokjin tampak sibuk menggarisi beberapa buku sambil sesekali mengambil potongan-potongan kue yang ada di sampingnya.
"Bagaimana makalahnya?" Kini giliran Hyera yang membuka suara, menatap Yoongi dan Taehyung yang tengah sibuk di belakangnya.
Taehyung berbalik dengan sebuah buku yang dibacanya. "Yakin dengan bagian yang ini?" Suaranya sedikit ragu dan berhasil mengundang Yoongi yang sudah meninggalkan notebook.
"Dari sini lalu sambung ke bagian ini." Jari telunjuk Hyera menunjukkan bagian yang dimaksunya lalu melirik Yoongi. "Bagaimana, Yoon?"
Yoongi terdiam selama beberapa saat, membaca bagian yang dimaksud Hyera lalu menggeleng. "Depannya sudah pas. Tambahannya ambil dari sumber lain lalu lanjut dengan yang ini."
Keduanya mengangguk lalu membalikkan badan mereka untuk kembali pada pekerjaan mereka masing-masing.
Rasanya baru beberapa jam yang lalu mereka menghadap dalam keadaan semangat di halaman belakang. Namun sekarang, sebuah perubahan habis-habisan terjadi di ruang tengah. Dimana meja dan sofa sudah berpindah lokasi. Lantai yang beralaskan karpet itu sudah dipenuhi oleh beberapa tubuh yang menuntut istirahat. Tidak lupa buku-buku yang tidak jauh dari mereka tapi tidak terealisasi untuk dibaca. Mata mereka lebih memilih untuk tertutup.
Beda dengan Hyera yang memilih menjatuhkan kepalanya di atas meja makan. Memejamkan matanya disana untuk beristirahat. Tugas-tugas itu sangat menyiksa otak dan tenaga yang luar biasa. Bahkan dia hampir lupa dengan waktu makan malam yang harusnya berlangsung beberapa menit lagi.
"Yo, Hye!"
Hyera mengumpat ketika tubuhnya tersentak akibat tepukan di punggungnya. Seokjin, si pelaku ikut tersentak.
"Sorry." Dia mengambil langkah mundur. "Izin minjam dapur untuk masak makan malam. Boleh?"
"Terserah." Hyera menjatuhkan kepalanya lagi, berusaha memejamkan matanya. "Di kulkas ada kimchi, ambil saja."
Seokjin hanya mengangguk dan berlalu menuju dapur. Mengeluarkan bahan makanan yang sempat mereka beli sebelum sampai disini. Sebenarnya mereka tidak janjian tapi saat menyadari di depan rumah Hyera, sepertinya tidak ada salahnya.
Seokjin sibuk menyiapkan makan malam saat Yoongi menghampirinya. "Ada yang perlu dibantu?"
"Oh, masukan itu ke microwave." Tunjuknya pada beberapa bungkus nasi instan lalu kembali sibuk dengan bungkusan-bungkusan ramyeon.
Yoongi pun langsung melakukannya tanpa suara. Berjalan mendekati microwave, memasukkan nasi instan itu ke dalam sana lalu mengatur waktunya. Matanya melirik Hyera yang tertidur di meja makan dengan posisi duduk.
Tidak sampai 30 menit, makanan yang disiapkan oleh Seokjin dan Yoongi sudah berada di atas meja. Setelah membangunkan yang lain, kecuali Hyera, mereka langsung mengerumuni meja dapur layaknya semut.
"Oi, Kim! Bangunkan Hyera sekalian!"
Namjoon menghentikan langkahnya tepat di samping kursi dimana Hyera tidur lalu menepuk pipi gadis itu tanpa suara. Tidak lama, karena saat itu juga Hyera langsung terbangun.
"Anak-anak sedang makan, ayo!"
Hyera menurut saja, padahal dia baru saja diperlakukan Namjoon layaknya anak kucing ketika pemuda Kim itu menarik kerah belakang kaos Hyera.
Mereka menikmati makanan yang seadanya itu. Sepertinya melupakan sejenak hubungan 'tidak baik' yang tersemat diantara mereka. Bahkan Hyera tersadar jika dia baru saja bergumam senang dengan perkumpulan menyebalkan itu.
Ah, rasanya ingin selalu seperti ini.
"Hye, aku titip motor Jungkook, boleh?"
Hyera mengernyit. Hei, tadi mereka hanya makan dengan ramyeon dan kimchi miliknya, bukan? Lalu kenapa manusia berkepala permen kapas itu meminta izin padanya?
"Aku tidak mungkin membiarkan anak ini menginap di rumahmu." Jimin melirik sahabatnya yang sedang terlelap di sofa.
Namjoon menutup buku yang dibacanya, "Aku rasanya cukup untuk hari ini." Matanya melirik jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. "Mereka juga sudah tampak kelelahan."
Hyera mengangguk setuju. "Kita juga masih punya beberapa hari lagi. Lagipula masih banyak yang perlu dicari."
"Aku juga harus pulang." Yoongi sudah beranjak dari posisinya, bersamaan dengan ransel yang ada di bahunya. "Sampai jumpa!"
"Hati-hati, Yoon."
"Jin, kita juga harus pulang!" Namjoon menendang bokong Seokjin yang sedang meringkuk di lantai dalam keadaan tidur.
Butuh beberapa waktu untuk mempersiapkan keberangkatan pulang keenam pemuda itu. Jimin yang butuh perjuangan untuk membangunkan Jungkook, Namjoon yang berusaha keras membopong tubuh sepupunya dan Taehyung yang dengan tanpa perasaannya menyeret Hoseok sampai teras rumah.
"Kau tidak berniat menjual motor anak itu, 'kan?" Selidik Jimin sekali lagi ketika Hyera mendadak meminta kunci motor Jungkook. Ya, dia tidak mungkin membiarkan sahabatnya itu mengendarai motor dalam keadaan tertidur. Jadi sejak beberapa menit yang lalu dia memutuskan untuk meninggalkan motor Jungkook, sejak itu juga Hyera meminta kunci motor sahabatnya.
"Lihat saja besok." Hyera hanya memainkan kunci motor yang sudah ada di tangannya itu.
"Hye, kami pulang!" Pamit Taehyung yang kemudian sudah melajukan motornya, meninggalkan halaman rumah Hyera bersama Hoseok.
"Aku juga." Diiringi klakson mobil, Namjoon langsung melajukan mobil sport merahnya itu.
"Pulang sana! Hati-hati kelincimu jatuh di jalan."
Jimin mendengus kesal, melirik Jungkook yang setengah sadar sedang memeluk pinggangnya. "Kalau begitu aku pulang. Sampai jumpa besok!"
"Aku malah berharap tidak ketemu kalian!"
"Hoho, jangan seperti itu, Hye. Kau akan merindukanku."
Hyera hanya berdecih sampai Jimin melajukan motornya. "Ah, Daniel juga tidak pulang."
Namjoon dan Seokjin baru saja keluar dari mobil mereka ketika sebuah motor sport biru terhenti di depan mereka. Tidak, mereka tahu motor itu milik siapa tapi pengendaranya yang menjadi perhatian mereka. Pengendaranya bukan orang yang biasa bertemu mereka dan lagi, pengendaranya adalah seorang perempuan yang, hmm, mereka kenal?!
"Hyera?"
Hyera membuka helm lalu menoleh ketika menyadari dua orang yang merupakan teman sekelasnya sedang berdiri di samping mobil mereka.
"Oh, kalian?!" Sambil beranjak turun dari motor, mencabut kunci lalu menghampiri kedua orang itu. "Baru sampai?"
Namjoon mengangguk sedangkan Seokjin masih terdiam dalam keterkejutan dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kau, motor itu punya si Jeon, 'kan?"
Hyera mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Namjoon. "Sebenarnya aku sedikit nekad karena belum memiliki surat izin."
"Uwah." Seruan yang baru saja keluar dari mulut Seokjin langsung mengalihkan keduanya.
"Kenapa? Baru pertama kali lihat seorang perempuan mengendarai motor sport?"
Namun Seokjin menggeleng sambil melangkah maju. Kedua tangannya terulur untuk menepuk pundak Hyera. "Ternyata kakimu masih menapak walaupun mengendarai motor itu."
Oh, entah sadar atau tidak, Hyera baru saja memukul kepala Seokjin yang, hmm, memang lebih tinggi darinya. "Sialan. Kalian hobi sekali membuatku mengumpat."
Namjoon menggeleng lalu mengambil langkah untuk mendahului kedua temannya. "Ayo ke kelas!"
"Hyera!"
Teriakan itu cukup menggema di koridor, diiringi dengan langkah terburu dan suara gemuruh di pintu kelas. Detik berikutnya sebuah gebrakan di meja Hyera dan Yoongi berhasil mengejutkan seisi kelas.
"Kenapa motor Jungkook ada disini, Hye?"
"Hye, kenapa motorku ada di sekolah? Bukannya itu ada di rumahmu?"
Hyera menutup matanya jengah. Begitupula Namjoon dan Seokjin yang hanya melirik kesal kepada sepasang sahabat yang baru saja membuat keributan itu.
"Aku yang membawanya kesini, puas?" Hyera melempar kunci motor ke arah Jungkook dan berhasil ditangkap oleh pemuda Jeon itu dengan mudahnya. "Kau bisa mengendarai motor?"
"Jangan meremehkan badan kecilnya, Jeon."
Hyera tidak yakin jika kalimat yang baru saja dilontarkan Kim Seokjin itu lebih seperti penghinaan daripada sebuah pembelaan. "Terima kasih atas pernyataanmu, Jin."
"Apa hari ini kita langsung mengerjakannya?"
Setidaknya pertanyaan Yoongi barusan itu berhasil meredam emosi Hyera dan membuat gadis itu sedikit lupa dengan emosinya.
"Kenapa? Kau tidak bisa?"
Yoongi langsung mengalihkan pandangannya kepada Namjoon. Sepertinya ada yang berbeda dari tatapan mereka. Tidak ada sirat kehangatan disana.
"Aku hanya bertanya. Jika iya, aku akan izin melakukan paruh waktuku."
"Wah, wah. Teman-teman, ini masih begitu pagi untuk bertengkar. Jadi, redam dulu, oke? Kita ini sekelompok jika kalian lupa." Jimin menepuk pundak Yoongi beberapa kali sebelum akhirnya berlalu menuju bangkunya.
"Hye, Hoseok tidak bisa ikut hari ini." Suara Taehyung sedikit menginterupsi pandangan Hyera dan membuat gadis itu langsung melirik kursi kosong yang biasa diduduki oleh Hoseok. "Untuk bagiannya, biar aku yang mengerjakannya."
Hyera mengangguk lalu melemparkan pandangannya ke depan kelas. Namun tidak lama, sampai seruan Jungkook kembali mengalihkan pandangannya.
"Ah, Hye! Aku dari kemarin penasaran, rumahmu kenapa kosong?"
Oh, dan pertanyaan barusan berhasil mengundang seluruh tatapan barisan itu kepada sang objek yang ditanyakan.
"Pamanku sedang keluar negeri dan sepupuku, hmm, dia sedang ada latihan."
"Orang tuamu? Apa kau tidak tinggal dengan orang tuamu?"
Ah, sepertinya mereka sedang tertarik tentang kehidupan pribadi Hyera. Apalagi ketika pertanyaan dari Seokjin terlontar.
"Orang tuaku sudah tidak ada."
"Oh, sorry."
Setelah itu, semuanya langsung mengalihkan pandangan mereka ke sembarang arah. Ada raut bersalah di wajah mereka. Namun yang tidak mereka sadari adalah ketika Hyera mencengkram roknya dalam diam.
Next chapter
"Apa aku sangat egois?"
"Sangat."
"Kau tahu seseorang dapat berubah, 'kan?"
"Tergantung. Faktor apa yang membuat perubahan. Dorongan atau lingkungan."
Aku sengaja double up karena takut bakal lama up lagi. Cerita ini udah numpuk sebenarnya tapi belum selesai.
Sebelumnya aku mohon maaf kalo di chapter 1 sampai chapter 3 ini misalnya ada yang aneh atau beda. Soalnya aku revisi beberapa kali.
Salam hangat,
Gli
