Last chapter
"Ah, Hye! Aku dari kemarin penasaran, rumahmu kenapa kosong?"
"Pamanku sedang keluar negeri dan sepupuku, hmm, dia sedang ada latihan."
"Orang tuamu? Apa kau tidak tinggal dengan orang tuamu?"
"Orang tuaku sudah tidak ada."
"Oh, sorry."
Chapter 4
Sepertinya semenjak tugas yang diberikan oleh Seo Yeonha hari itu membuat perubahan tersendiri untuk Hyera. Buktinya gadis itu hanya menghabiskan waktu sepulang sekolahnya dengan duduk di anak tangga sambil memainkan ponselnya. Apalagi selama seminggu penuh kemarin, rumah ini dipenuhi delapan remaja yang menghabiskan seluruh waktunya dari pulang sekolah sampai malam hanya untuk memenuhi tugas kelompok mereka. Dan ketika masa itu telah berakhir, Hyera merasakan kesepian.
"Apa yang kau lakukan?"
Hyera mendongak, menatap Daniel yang sedang berdiri sambil membuka jaket di depannya. Kemudian memberikan jawaban berupa gelengan.
"Kau, apa ada yang terjadi selama aku pergi seminggu ini?"
Hyera menunduk, kembali menatap layar ponselnya lalu menggeleng. "Syukurlah kau sudah pulang. Jadi aku tidak kesepian."
"Kau? Kesepian? Dalam rangka apa? Sesuatu membentur kepalamu?"
Hyera menggeleng. "Lupakan saja."
Daniel mengernyitkan keningnya lalu memutuskan untuk ikut duduk di samping sepupunya itu. "Ingin bercerita?"
Hyera kembali menggeleng lalu meletakkan ponselnya ke lantai. "Apa aku harus pindah sekolah?"
"Tumben sekali kau bertanya seperti ini? Otakmu tertukar di suatu tempat ya?" Daniel mengetuk pelan kepala sepupunya lalu menggeleng. "Aku rasa iya. Ayo ambil otakmu!"
"Aku serius." Hyera menopang dagu dengan kedua tangannya. "Kau tahu aku sering memutuskan seenaknya, 'kan?"
Daniel mengangguk setuju. "Sangat benar."
"Apa aku sangat egois?"
"Sangat."
"Kau tahu seseorang dapat berubah, 'kan?"
"Tergantung. Faktor apa yang membuat perubahan. Dorongan atau lingkungan."
Hyera memilih untuk menghela nafas. "Aku betah di kelas itu dan ingin bertahan dengan mereka sampai lulus. Apa itu bisa?"
"Hmm?! Karena aku tidak paham arah pembicaraan ini. Tapi aku hanya bisa mengatakan pertahankan apa yang bisa membuatmu nyaman. Jangan memaksa untuk melakukan perubahan. Aku tetap menyukai keegoisanmu, Hyer." Daniel menepuk puncak kepala sepupunya itu lalu beranjak dari posisinya. "Ah, ini!"
Sebuah amplop terletak begitu saja di pangkuan Hyera, membuat gadis itu sedikit bergeming lalu menatap Daniel bingung.
"Tukang pos mengantarkan ini untukmu. Katanya tidak ada nama pengirimnya." Daniel melanjutkan langkahnya untuk menaiki tangga. "Aku rasa dari orang itu?!"
Hyera mengernyitkan keningnya bingung. Matanya membaca beberapa baris tulisan yang ada di amplop cokelat itu. Hanya tertera nama dan alamat rumahnya.
Apa orang itu? Ah, tidak. Untuk apa?
Tangannya sibuk membuka amplop sambil terus menggumamkan tentang siapa yang mengirimkannya benda seperti ini. Namun gumaman itu berhenti ketika selembar kertas putih dengan dua baris tulisan berwarna hitam tercetak disana.
Aku hanya mempercayai ini kepada kalian
jadi aku mohon kepada kalian untuk bertahan di kelas itu lebih lama
Sebuah berita besar baru saja menghebohkan seisi sekolah dimana seorang siswa ketahuan memiliki rokok di dalam lokernya. Begitu menggemparkan jika mengingat peraturan keras tentang keberadaan benda itu di sekolah.
Oh, sepertinya kelas Fiapeless menjadi sasaran pemeriksaan siang itu. Seluruh murid duduk di bangku mereka masing-masing ketika mendapati lima orang yang mereka ketahui sebagai guru memasuki kelas. Termasuk walikelas mereka, Lee Jungshin dan guru olahraga mereka, Nam Joonhyuk.
"Kalian pasti tahu tentang berita penemuan rokok itu. Jadi lebih baik kalian mengaku sebelum kami menyeret pelakunya."
"Apa-apaan ini?"
"Apa sekarang kelas kita yang dituduh?"
"Kenapa mereka selalu menyimpulkan jika kita yang melakukannya?"
"Aku benar-benar harus pergi dari sekolah ini."
"Mengaku saja. Itu lebih baik daripada kalian semua yang akan menerima hukuman."
"Gaeun-ssi, aku yakin bukan mereka."
"Berhenti membela anak-anak yang sudah tidak mempunyai harapan ini, Joonhyuk."
Ah, sepertinya seluruh murid kelas Fiapeless mulai jengah dengan pernyataan si wakil kepala sekolah yang lebih seperti memojokkan mereka. Khususnya siswa barisan belakang yang terlihat ingin mulai bersuara.
"Apa kalian yakin jika kelas ini? Ah, kami tahu kelas ini tidak memiliki harapan sama sekali tapi apakah kalian tidak memikirkan perasaan kami? Itu terdengar menyakitkan, ssaem." Jungkook menepuk-nepuk dada kirinya sambil memasang wajah menyedihkan.
"Aku hanya menyatakan yang sebenarnya, Tuan Jeon. Untuk apa kalian tersindir? Bukankah memang fakta jika kalian yang berada di kelas ini sama sekali tidak memiliki harapan."
Hyera ingin sekali membungkam manusia yang telah memberi mereka tugas kelompok yang menyebalkan itu. Dia ingin menyumpah saat itu namun tangan Yoongi menarik tangannya ke bawah sambil menggeleng.
Hoseok berdiri dengan lantang sambil berkecak pinggang. "Lihatlah! Bukankah perkataan kalian menyakitkan. Apa dasar bukti jika pelakunya ada di kelas ini?"
"Ini!"
Oh Handong, si kepala sekolah yang akrab disapa Pak Tua itu mengangkat sebuah plastik putih dengan sebungkus rokok di dalamnya. "Ini ditemukan di loker salah satu dari kalian."
"Hei, Pak Tua! Katakan saja siapa namanya! Lalu kita tanya langsung kepada orangnya." Namjoon sepertinya memiliki salah satu bakat terpendam, yaitu memancing kemarahan dari si kepala sekolah yang sedang berusaha meredam amarahnya.
"Benda itu ditemukan di loker Lee Taeyong."
Merasa namanya terpanggil, Taeyong yang duduk di dua bangku di depan Hyera langsung menunjuk dirinya tidak percaya. Bahkan teman sebangkunya, Yook Sungjae tampak menggeleng.
"Pasti salah. Aku tahu Taeyong bersih dari benda itu." Seongcheol sebagai ketua kelas merasa sangat yakin jika temannya tidak mungkin seperti itu.
"Oh, kalian sepertinya merencanakan semuanya."
Jimin berdiri, melipat tangannya di depan dada. "Ayolah, ssaem! Orang bodoh mana yang akan menjatuhkan dirinya yang sudah sangat rendah. Apa dasarnya jika benda itu memang milik Taeyong?"
"Karena benda itu~"
"Ditemukan di loker Taeyong?" Taehyung menopang dagunya dengan tangan kanannya lalu melirik ke guru-guru yang berdiri di depan mereka. "Hanya karena ditemukan di loker Taeyong dan dia dinyatakan bersalah? Pertanyaannya, apa Taeyong yang menyimpan benda itu disana?"
Yoongi sepertinya mulai menampakkan jati diri yang jarang diperlihatkannya. Dia menyandarkan tubuhnya lalu mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Sedikit membuat Hyuna tersentak.
"Masalah utamanya, kami, siswa kelas Fiapeless ini tidak diperbolehkan menggunakan loker. Oh, dan jangan lupakan kunci loker yang sudah diserahkan kepada kalian, ssaem. Jadi bagaimana cara Taeyong menyimpan benda itu disana?"
Pernyataan itu terhenti sejenak karena Yoongi menguap lalu merenggangkan tubuhnya. "Ah, aku sedari tadi mempertanyakan darimana kalian mendapat laporan jika ada rokok di loker itu? Rasanya ini bukan jadwal pemeriksaan rutin kalian. Apa seseorang melaporkannya?"
Oh, benar juga. Kalimat pertanyaan itu berputar di kepala seluruh murid Fiapeless. Apa yang dikatakan Yoongi benar adanya. Mereka yang tidak terlalu tahu seputar berita yang menghebohkan pagi ini mendadak jadi sasaran. Bahkan mereka juga ingat jika sekarang bukan jadwal pemeriksaan.
"Kami sudah~"
"Sudah mengubah jadwal? Ssaem, tidak perlu melanjutkannya." Seokjin sepertinya tidak ingin ketinggalan untuk membela temannya. "Kalian hanya khawatir kenapa sisa-sisa kelas ini belum mengajukan pemindahan sekolah, 'kan?"
Tiba-tiba keributan terjadi di antara murid kelas Fiapeless. Kepala sekolah dan orang-orang kepercayaannya tampak menelan ludah. Mereka baru saja melawan kumpulan orang-orang yang salah. Namun dalam diam, Joonhyuk sedang tersenyum simpul dengan pembelaan murid-muridnya.
"Ssaem, kami tahu kalian tidak menyukai kelas ini? Apakah salah jika kami ingin bertahan di kelas ini?"
"Apa kalian benar-benar ingin kami meninggalkan sekolah ini?"
"Bagaimana dengan kami yang masih ingin bertahan?"
Detik berikutnya sebuah gelak tawa terdengar dari barisan belakang. Kang Hyera sedang memegang perutnya karena terlalu geli melihat drama yang baru saja. "Wah, ssaem! Kalian hebat sekali!" Ditambah dengan iringan tepuk tangan tunggal. "Cara kalian, wah, aku sampai takjub melihatnya. Sepertinya aku tidak menyesal karena sudah memecahkan kaca mobilmu, Pak Tua. Sekarang kalian seperti tikus yang masuk ke dalam perangkap. Raut panik sangat jelas, sumpah. Apalagi wajahmu, Seo-ssaem."
Tujuh remaja yang duduk di barisan belakang itu tampak terkejut dengan perubahan situasi yang ada. Tidak lama sampai akhirnya senyum puas dan meremehkan mereka pancarkan. Tidak berbeda jauh dengan mereka yang ada di barisan depan.
"Oh, ssaem. Sekedar memberitahu, jika memang kalian mendapat laporan dari seseorang sepertinya kalian harus memeriksa CCTV disana. Ah, dan jangan katakan sedang rusak karena kami tahu pemeriksaan setiap minggu dilakukan."
Belum cukup, Hyera langsung memberikan kalimat-kalimat terakhir yang mengundang sorak dari teman-teman sekelasnya. "Kalian mencari lawan yang salah, ssaem. Kami tidak mudah. Lain kali, persiapkan strategi yang lebih bagus biar permainan kalian lebih menarik lagi. Aku tunggu permainan selanjutnya."
Sepertinya hari itu pihak-pihak yang ingin menghancurkan kelas Fiapeless harus menjilat ludah mereka. Faktanya, permainan 'rokok' itu hanya salah satu cara yang dibuatnya untuk menyingkirkan murid Fiapeless.
"Lawan kita benar-benar tidak mudah. Mereka terlalu cerdik untuk semua ini."
Pemakaman umum adalah tujuan Hyera diakhir pekan ini. Dia sudah merencanakan hal ini sejak lama. Pergi sendirian kesana untuk menemui seseorang disana. Atau mengunjungi.
Sebuah makam yang terletak paling tepi tepat di samping pohon mapel adalah tujuannya saat ini. Dia sudah berdiri disana dengan sebucket bunga yang sudah disimpannya di atas makan. Bibirnya tersenyum sambil menatap tulisan yang ada.
Lee Minah
"Hai, Bu! Hari ini aku berkunjung tanpa Daniel. Anakmu itu sedang sibuk mengurus lomba dance-nya sampai melupakan sepupunya yang kesepian di rumah. Paman juga belum memberi kabar kapan akan pulang."
Kedua tangan Hyera menarik ujung kemeja kotak-kotak merah yang tidak dikancingnya itu lalu menariknya berlawanan arah.
"Oh ya, Bu. Aku berada di kelas 2-F, apa itu tidak masalah? Maksudku, apa aku memang pantas disana? Paman dan Daniel sampai memarahi dan mengikatku saat aku mengucapkan maaf berkali-kali. Daniel bahkan sampai melempar pakaianku keluar jendela karena terlalu muak. Haha, anak Ibu yang itu sungguh jahat."
"Bu, aku dapat surat dari seseorang yang aku sendiri tidak tahu siapa. Apa aku harus mempercayai isi surat itu atau bagaimana? Sejujurnya aku juga tidak ingin pergi dari kelas itu tapi kelas itu benar-benar seperti dibuang."
"Ah, aku lupa. Ibu, marahi Paman Kang karena selalu sibuk dengan pekerjaannya sampai lupa istirahat. Aku sampai bingung bagaimana menyuruhnya untuk tidur walaupun hanya dua jam. Dia sangat keras kepala. Apalagi Daniel. Ugh, sekarang dia semakin menyebalkan. Sering meninggalkan aku sendirian di rumah bahkan tidak mengambil tes perguruan tinggi."
Kepalanya menengadah ke langit yang terlihat mendung. "Bu, sepertinya akan hujan. Aku pulang dulu ya. Aku akan mengunjungimu lagi. Lain kali aku akan menyeret mereka berdua. Sampai jumpa, Bu."
Sepasang kakinya langsung melangkah pergi. Melewati makam-makam yang terdapat di sisi kanan dan kirinya. Langit biru yang mendung semakin menggelap. Memperjelas jika tetesan air dari atas sana sudah siap untuk membasahi yang ada di bawahnya. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di jalan utama ketika sebuah suara menyebut namanya.
"Kang Hyera?!"
Hyera membalikkan badannya, mendapati seseorang berpakaian semi formal dan wow, sangat berbeda dengan style yang dilihatnya setiap hari. Dia, si pemilik rambut keunguan dengan dimpel di pipinya yang bernama Kim Namjoon.
"Kau, kenapa ada disini?" Tanyanya sambil menghampiri Hyera yang masih berdiri di depannya dalam diam.
"Mengunjungi Ibuku." Hyera memperbaiki posisi kardigan yang dikenakannya lalu menatap Namjoon. "Kau sendiri?"
Namjoon tampak membuang muka namun kakinya tetap melangkah untuk mendekati Hyera. "Ingin pulang?"
Hyera sedikit mendelik curiga. Tidak lama karena setelah itu dia mengangguk. "Kau juga pulanglah sebelum hujan."
Namjoon menatap langit yang menggelap. Rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah. Tanpa aba-aba, tangannya langsung menarik tangan Hyera kemudian berlari menuju mobil sport merah yang tak jauh dari posisi mereka. Membuka pintu di bangku penumpang lalu mendorong gadis itu masuk kemudian menutupnya. Sedangkan dia langsung berlari menuju pintu supir dan masuk.
Tidak seberapa lama kemudian, hujan deras langsung menghantam permukaan mobil. Membuat bunyi-bunyi berisik yang menjadi alunan untuk indera pendengaran. Tidak ada yang bersuara karena mereka terlalu sibuk mengamati hujan deras dari kaca depan mobil. Sampai sebuah helaan nafas mengalihkan pandangan Hyera.
"Untung saja mobilku tidak terparkir jauh." Namjoon terlihat sibuk membuka setelan long coat-nya lalu melemparnya ke bagian belakang mobil. Menampakkan kemeja biru berlengan panjang yang kemudian digulung sampai siku. "Kau langsung pulang?"
Hyera tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab. "Mencari makan malam lalu pulang."
"Kalau begitu, ikut aku!"
Mobil sport itu masih setia melaju di tengah hujan yang masih setia membasahi jalanan. Kedua penumpang yang ada di dalam mobil hanya diam dalam pikiran masing-masing. Namjoon dengan kegiatan menyetirnya sedangkan Hyera dengan kegiatan mengamati jalanan. Gadis itu sedikit yakin jika mereka tidak berada di kota yang sama karena dia mulai tidak mengenali keadaan jalanan. Hendak bertanya namun Namjoon terlihat sibuk dengan kegiatannya. Sampai akhirnya mobil itu berhenti di sebuah parkiran area peristirahatan yang biasa menjadi tempat singgah orang-orang yang akan berpergian keluar kota.
"Maaf sudah membawamu kesini." Namjoon melepaskan sabuk pengamannya lalu meraih sebuah jaket dari belakang. "Aku sedang ingin menjernihkan pikiran disini."
Hyera mengangguk paham. Dia sudah menyadari itu sedari awal melihat wajah pemuda Kim di pemakaman. Banyak raut negatif disana sampai Hyera sendiri lupa jika dia masih kesal dengan pemuda itu.
Hyera duduk di bangku yang berada di dekat jendela bersama sebotol air mineral yang sedang dipeluknya. Matanya sibuk mengamati hujan yang kian deras. Tidak peduli di bawah sana orang-orang sedang berlarian.
"Maaf aku memesankanmu ramyeon."
Oh, itu Namjoon yang sudah datang sambil membawa dua mangkuk ramyeon di tangannya.
"Ini sudah kedua kalinya kau minta maaf denganku. Kau tidak melakukan apa-apa, Kim." Hyera menatap jengah pada Namjoon yang sedang meletakkan mangkuk ramyeon di atas meja. "Jadi cukup atas kata maafnya."
Namjoon mengangguk. Matanya menatap kosong ke mangkuk ramyeon yang masih menampakkan uap-uap yang cukup menghangatkan wajahnya. Pikirannya sedang tidak di tempat sekarang. Sangat jauh atau mungkin tertinggal di rumah.
Hyera semakin jengah, oke? Jadi dia memukul mangkuk ramyeon milik Namjoon dengan sumpitnya sampai pemuda itu menatapnya. "Cepat makan sebelum dingin!"
Ah, sepertinya sudah kembali. Karena detik berikutnya Namjoon langsung memakan ramyeon miliknya itu dengan lahap.
"Aku mengunjungi Ibuku."
Kening Hyera mengernyit. Dia sedikit tidak paham dengan apa yang dikatakan Namjoon secara tiba-tiba itu.
Namjoon menghela nafas. "Kau tadi bertanya tujuanku di pemakaman dan jawabannya aku mengunjungi makam Ibuku."
Uhuk. Baiklah, pengulangan itu baru saja membuat gadis itu tersedak kuah ramyeon. Sukses membuat Namjoon panik dan langsung mengulurkan air mineral. "Kau baik-baik saja?"
Hyera mengangguk lalu menerima air mineral itu dan meneguknya. "Ibumu?" Dan Namjoon mengangguk. "Tunggu! Ibumu sudah meninggal?"
"Kau sepertinya terkejut sekali." Namjoon tersenyum gemas begitu mendapati ekspresi terkejut teman sekelasnya itu.
Baiklah, Hyera semakin tidak memahami ini. Apa maksudnya itu? Lalu~
"Lalu wanita yang sering disebut oleh duo kebun itu siapa?"
"Duo kebun?"
"Si kelinci dan buntal. Jungkook dan Jimin." Hyera sangat ingat jika dua teman sekelasnya yang menyebalkan itu sering menyerukan Ibu dari Namjoon dan Taehyung.
"Kau, dapat darimana singkatan seperti itu?"
"Membuatnya sendiri."
Namjoon hanya bisa tersenyum singkat. "Wanita yang sering dibicarakan mereka itu Ibunya Taehyung."
"Wah, wah. Apa ini? Kenapa aku semakin bingung? Apa karena bumbu ramyeon itu?"
Ingin sekali Namjoon mencubiti pipi gadis yang duduk di depannya itu. Lucu sekaligus menyebalkan. "Aku dan Taehyung itu saudara tiri. Setelah Ibuku meninggal, Ayahku menikah dengan Ibunya. Paham?"
"Oooh, oke. Paham!"
Tuhkan lagi. Kenapa gadis yang menyebalkan itu begitu menggemaskan? Bolehkah Namjoon menyimpannya sebagai salah satu koleksinya?
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Hmm." Hyera baru saja teringat pertanyaan yang terlintas di kepalanya selama beberapa waktu namun dia selalu bingung ingin mempertanyakannya. Dia menatap Namjoon yang terlihat masih setia menanti pernyataannya itu. "Boleh aku bertanya?"
"Jika aku si Pak Tua, mungkin kau sudah berdiri di lapangan dan menghitungi jumlah debu disana."
"Aku serius."
"Baiklah. Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, Kang. Selama aku bisa menjawabnya."
Hyera mengangguk sambil melipat kedua tangannya di atas meja lalu mencondongkan badannya ke arah Namjoon. "Sebenarnya aku penasaran, kenapa kalian bertujuh tidak akrab? Maksudku, kalian seperti tidak bermusuhan tapi seperti tidak dekat."
"Sepertinya kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas."
"Maksudmu?"
"Kami bertujuh tidak dapat disatukan. Oh, tidak akan."
"Hmm, beri aku hal paling logis. Ya, setidaknya untuk informasi saja. Aku tidak terlalu update masalah sekolah, Kim."
Namjoon mendengus. "Berhenti memanggil nama depanku. Banyak orang yang bermarga Kim jika kau lupa, Kang."
"Baiklah. Aku akan mengatakan hal yang sama. Berhenti memanggil nama depanku, Joon. Jika kau lupa masih banyak orang bermarga Kang yang aku tidak tahu ada berapa banyak. Walaupun tidak sebanyak marga Kim."
"Baiklah." Namjoon meneguk air mineral miliknya lalu melempar pandangannya keluar dinding kaca, menatap hujan yang kian mereda. "Seperti yang kalian tahu, aku dan Seokjin sering bersama. Dia sudah seperti saudaraku."
"Tapi dia memang saudaramu, 'kan? Sepupu?"
Sejujurnya Namjoon sangat tidak suka jika ada orang yang memotong pembicaraannya tapi kali ini dia akan membiarkan Hyera yang akan berkicau. "Iya, kami sepupu." Dijeda dengan helaan nafas sebelum melanjutkan. "Kau ingin mendengarkan atau tidak?"
"Tentu saja." Hyera mencibir. Dia sangat heran kenapa Namjoon ini mudah emosi. "Lalu permasalahan kalian berdua dengan duo kebun itu apa?"
"Seokjin dan Jimin pernah bertengkar saat kelas olahraga. Masalah sepele hanya karena Seokjin tidak sengaja melempar bola basket dan mengenai kepala salah satu teman sekelas mereka. Lalu Jungkook datang dan memukul Seokjin. Aku tidak terima dan emosiku tidak stabil saat itu. Selain karena Ibuku meninggal, Ayahku tiba-tiba menikah lagi. Jadi aku membalas pukulan Jungkook, membuat kami berempat saling pukul dan kau tahu akhirnya."
Oh, Hyera pernah mendengar tentang perkelahian itu antar siswa tahun pertama. Benar-benar sepele. "Wah, apa yang dipikirkan si kelinci sampai memukul orang? Padahal tinggal meminta maaf dan masalah selesai."
"Jungkook sedang punya masalah dengan Seokjin saat itu. Tapi aku tidak bisa membicarakan masalah pribadi mereka denganmu."
Hyera mengangguk paham. Setidaknya, dia tahu dasar kenapa hubungan empat orang itu tidak baik. "Lalu, bagaimana dengan Yoongi?"
"Sebenarnya aku tidak ada masalah dengan mayat hidup itu. Tapi sikap dan nada ketusnya saat berbicara membuatku sangat muak. Aku sangat membencinya sebagai teman maupun rival. Mungkin itu juga yang membuat kami tidak dekat."
Pertanyaannya, kenapa nama Yoongi dapat berada di Top10 murid bermasalah?
"Alasan kenapa Yoongi masuk jadi salah satu murid bermasalah itu juga karena Jungkook. Anak itu selalu mengatakan seenak hati tanpa memikirkan perasaan orang lain. Ditambah lagi Jungkook pernah membuat beasiswa Yoongi terancam dicabut. Mereka bertengkar lalu berkelahi di laboratorium karena Jungkook menumpahkan bahan kimia di atas prakarya Yoongi. Sepele, tapi itulah yang terjadi."
"Untuk Hoseok, Jungkook dan Jimin. Setahuku, mereka adalah rival sejak SMP. Mereka bertiga masuk ke dalam klub dance yang berbeda dan sering bertemu di beberapa event yang diadakan. Tidak menutup kemungkinan jika itu terus terjadi sampai detik ini. Hoseok dan Yoongi, mereka juga tidak ada masalah. Ya, tidak menutup kemungkinan juga jika mulut asal bicara milik Hoseok terkadang menyakitkan pendengaran."
Hyera sepertinya mulai memahami apa yang terjadi di antara mereka. Setidaknya ada alasan logis walaupun sepele yang menjadi dasar kenapa mereka selalu menyindir atau sejenisnya. Sebenarnya Hyera tidak bisa menyimpulkan jika ketujuh orang itu bermusuhan. Buktinya saat kerja kelompok kemarin, mereka masih dapat diajak kerjasama walaupun dibumbui dengan sedikit adu mulut.
"Bagaimana denganmu dan Taehyung?"
Namjoon memejamkan matanya. Terlihat sekali dia tidak ingin membahas hal itu. "Aku hanya tidak suka saja."
Hyera menggeleng lalu melempar tisu ke wajah pemuda Kim itu. "Bukannya tidak suka. Kau hanya menghindarinya." Dia sadar jika Namjoon baru saja berdecih. "Kau harus bisa menerima Taehyung dan Ibunya sebagai bagian dari keluargamu jika kau ingin suka dengan mereka."
"Tidak semudah itu, Hye. Kau sebaiknya diam dan jangan menceramahiku."
"Aku tidak menceramahimu, Joon. Aku hanya memberitahu saja. Kau hanya terlalu takut ada hal yang terlupakan. Taehyung dan Ibunya hanya butuh pengakuan darimu, Joon. Kau masih punya hati. Buka hatimu untuk mereka, terima mereka sebagai bagian dari keluargamu."
"Aku hanya tidak ingin melupakan Ibuku, Hye. Aku tidak ingin ada yang menggantikan dia." Tiba-tiba saja pemuda Kim itu menutup wajahnya, menyembunyikan airmatanya yang mulai mengalir. Pikirnya kembali teringat pada sang Ibu.
Ah, Hyera baru saja membuat seseorang menangis. Gadis itu beranjak dari posisinya lalu mendekati Namjoon, menepuk punggung pemuda itu perlahan.
"Tidak ada yang bisa menggantikan Ibumu, Joon. Ibumu tetaplah Ibu yang melahirkanmu, tidak ada yang bisa menggantikannya karena dia sudah membuatmu bernafas sampai detik ini. Ibu Taehyung tidak akan menggantikan Ibumu, dia hanya menjadikan dirinya sebagai sandaranmu. Tempatmu bercerita. Aku yakin Ibumu akan senang jika kau menerima Taehyung dan Ibunya."
Hyera dapat melihat jelas jika Namjoon semakin terisak. Airmatanya bahkan sudah menetes di atas meja. Namun bersyukurlah karena suara isakan itu tersamarkan dengan suara hujan yang deras diluar.
"Tidak semua orang seberuntungmu, Joon. Banyak orang-orang diluar sana yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Bukan hanya orang tua tiri tapi orang tua kandung."
"Hye, boleh aku memelukmu?"
Oh, Hyera bahkan belum menjawab ketika tubuhnya tertarik ke samping kursi Namjoon dan membiarkan pemuda itu menyembunyikan tangisannya.
Tidak semua orang seberuntungmu, Joon. Banyak dari mereka yang belum pernah merasakan kasih sayang.
Next chapter
"Tidak, jang~"
"Baiklah. Sudah ditetapkan. Pindah ke basket sekarang!"
"Jim, kenapa kau tidak membelaku? Kenapa kau malah setuju?"
"Oh, maaf, Kook. Aku lupa."
"Siapa yang berminat di basket tiga~"
"Kim Namjoon, Kim Taehyung dan Min Yoongi. Mereka masuk ke dalam basket three on three!"
"Apa maksudmu, Kang?"
Fiapeless Class is update...
Happy reading...
Gli.
