Last chapter

"Tidak semua orang seberuntungmu, Joon. Banyak orang-orang diluar sana yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tua mereka. Bukan hanya orang tua tiri tapi orang tua kandung."

"Hye, boleh aku memelukmu?"

Chapter 5

Festival seni dan olahraga

Kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh pihak sekolah setiap tahunnya. Namun sepertinya festival ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya karena keikutsertaan murid kelas 2-F. Oh, sekedar mengingatkan jika setiap tahun kelas 2-F adalah kelas yang terdiskriminasi.

"Hanya tersisa basket tiga lawan tiga dengan lari 500 meter. Ada yang berminat?"

Seongcheol menatap seluruh teman-teman sekelasnya satu persatu. Hanya dua cabang lomba itu saja yang masih memerlukan orang.

"Aku mau saja tapi jadwalnya tabrakan dengan tenis meja."

"Apalagi aku."

Hyuna tampak mengangkat tangannya dengan semangat ketika kepalanya teringat sesuatu. "Bagaimana jika Hyera saja? Dia 'kan pelari tercepat."

Dan pernyataan itu berhasil membuat seluruh tatapan tertuju ke barisan paling belakang, satu objek yang saat ini sedang menguap.

"Apa?"

"Lari 500 meter. Kau mau, 'kan?" Seongcheol bertanya untuk meminta persetujuan dari temannya itu.

"Wah, tentu saja dia mau. Percuma jika bakat larinya dibiarkan begitu saja." Hoseok berseru setuju sambil melirik objek yang masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.

"Masukkan saja namanya, Cheol. Lagipula ini untuk kelas." Jungkook ikut menambahkan.

"Baiklah. Kang Hyera di lari 500 meter. Bagaimana dengan yang laki-lakinya?"

"Masukkan nama Jungkook!" Namjoon berteriak sambil menunjuk pemilik nama yang baru saja disebutnya. "Bagaimana, Jeon? Bukankah kau pelari tercepat kedua?"

"Tidak, jang~"

"Baiklah. Sudah ditetapkan. Pindah ke basket sekarang!"

"Jim, kenapa kau tidak membelaku? Kenapa kau malah setuju?"

"Oh, maaf, Kook. Aku lupa."

"Siapa yang berminat di basket tiga~"

"Kim Namjoon, Kim Taehyung dan Min Yoongi. Mereka masuk ke dalam basket three on three!"

Sepertinya Hyera sedang balas dendam. Buktinya tiga nama itu terkejut ketika nama mereka disebutkan secara tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Kang?"

Ajuan protesan Namjoon sama sekali tidak dipedulikan oleh Hyera. Dia malah menepuk pundak Yoongi sambil melirik Taehyung yang sedang menatap kesal. "Anggap saja ini imbang."

"Aku tidak ikut-ikutan, Hye!"

Hyera menggeleng lalu meneriaki nama Seongcheol yang masih menjadi penonton atas perdebatan teman barisan belakangnya itu. "Lanjutkan ke seni saja! Abaikan mereka."

Seongcheol mengangguk lalu membaca selembar kertas disana. Namun dalam beberapa detik, keningnya mengernyit. "Tidak ada batasan tentang jumlah yang diperbolehkan untuk ikut. Jadi?"

"Maksudmu itu terbuka? Siapa saja boleh ikut?"

"Aku juga tidak paham. Yang jelas tetap perkelas. Hmm, ada lomba vokal, alat musik dan dance. Oh, kolaborasi semuanya juga bisa. Ada yang berminat?"

Taeyong mengangkat tangannya. "Begini saja. Kau data siapa yang ingin ikut. Jika banyak, maka bagi jadi beberapa kelompok."

"Aku ikut dance!"

Semua kepala disana langsung menoleh ke sumber suara. Bukan satu sumber tapi tiga. Namun ketiganya duduk berdekatan. Mereka adalah Jimin, Jungkook dan Hoseok.

"Kenapa kau ikut?"

"Aku ingin. Apa masalah kalian?"

"Tidak. Sebaiknya kau jangan ikut. Aku tidak mau satu tim denganmu."

"Apalagi aku. Jangan harap aku mau satu tim dengan kalian."

"Oke." Hyera berseru sambil memukul mejanya pelan. "Aku putuskan. Jimin dan Hoseok berada di satu tim."

"Apa?"

"Hyer!"

"Tidak."

Seruan itu sama sekali tidak digubris oleh Hyera. Dia malah menyuruh Seongcheol yang masih terlihat bingung.

"Sekarang kau terdengar seperti memerintah." Seokjin berkomentar.

"Hmm, hanya ingin saja."

"Aku dan Seokjin akan duet."

"Tidak."

Namjoon menatap jengkel ke arah Hyera yang baru saja menentang pernyataannya. "Apa masalahmu?"

Hyera menggeleng. Diam-diam sedari tadi kedua tangannya sedang sibuk mencoret sesuatu di selembar kertas. "Apa ada piano?" tanyanya pada Seongcheol.

Seongcheol tampak membaca kertas tadi sebelum akhirnya mengangguk. "Ada piano dan gitar akustik."

"Hmm, baiklah."

Entah sudah berapa kali gadis itu memukul mejanya untuk menarik perhatian. Bedanya kali ini disusul dengan tubuhnya yang beranjak dari duduknya. "Seongcheol-ah!" Panggilnya pada Seongcheol, berhasil membuat si ketua kelas tersentak. "Satu tim dance untuk Jimin dan Hoseok, pastikan mereka satu tim. Aku tidak peduli jika kalian menambahkan orang atau hanya mereka berdua saja yang tampil. Intinya pastikan mereka ada di satu tim."

"Yak! Kang Hyera! Kenapa kau jadi mengaturnya?"

Hyera berkecak pinggang lalu menatap Jimin yang baru saja mengajukan protes. "Karena aku ingin. Oh, kalian jangan khawatir. Aku akan mengatur mereka."

"Kau ingin sekali membuat mereka dalam satu kelompok." Yoongi membuka suara namun hanya berbisik. Dan bisa ditebak bagaimana respon teman sebangkunya itu. Hanya pengabaian.

"Hmm, kalau begitu. Bagaimana mereka berdua saja?" Seongcheol kembali bersuara. Bukannya apa, dia sendiri tidak yakin jika dua orang itu akan tampil dalam satu kelompok. Jika dipecah, bisa saja dia mengaturnya. Namun, sepertinya Hyera baru saja membuat keputusan sepihak tanpa memikirkan orang lain.

"Call! Kalian jangan khawatirkan anak barisan belakang. Saat pertunjukkan seni di malam puncak, kita akan membungkam mereka. So, fokus saja pada penampilan kita." Hyera hendak melangkah keluar saat mulutnya ingin berucap kembali. "Untuk vokal, Namjoon dan Taehyung akan duet bersama."

"Kau~"

"Yoongi, Seokjin dengan Jungkook, sepertinya aku dapat satu lagu yang bagus untuk kalian. Hoseok, kau ingin tidak?"

"Tidak jika tanpa Taehyung."

Hyera melemparkan pandangannya ke arah Jimin yang sedang menenangkan Jungkook. "Kalau begitu Hoseok dan Jimin akan tetap di satu tim dance. Oh, aku akan masuk ke tim Namjoon dan Taehyung. Setelah ini kita akan membahasnya. Aku ingin ke toilet, jadi jangan kelahi, oke?"

Oh, sepertinya Hyera tidak sadar jika setelah kepergiannya, suasana kelas mendadak mencekam. Seluruh penghuni barisan tengah ke depan mendadak diam. Bahkan Seongcheol sudah kembali duduk ke bangkunya. Tidak berani menatap ke barisan belakang lama-lama.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Hyera melakukan hal itu. Oh, dia selalu bertindak dengan alasan walaupun terkadang tidak masuk akal.

Jika mengingat kembali bagaimana percakapannya dengan Namjoon beberapa hari yang lalu saat di areal peristirahatan, entah kenapa, gadis itu sedikit bertekad untuk mendamaikan tujuh orang itu. Dia sadar semua hal itu tidak mudah. Makanya, dengan tekad seadanya, dia berani melakukan itu. Resiko? Urusan belakang. Setidaknya dia ingin melihat seberapa jauh tujuh orang itu akan berkerjasama, selain dalam tugas kelompok.


"Jadi beritahu kami satu alasan kenapa kau memutuskan seenaknya?"

Jimin tengah berkecak pinggang di hadapan Hyera yang masih duduk di kursinya. Bukan hanya Jimin, tapi enam orang lainnya juga ikut andil untuk menghakimi gadis yang sudah membuat keputusan yang tentu saja mereka tentang.

"Sepertinya kita harus menentukan tempat latihan yang tersedia piano." Hyera menopang dagunya dengan tangan, seolah berpikir. Mengabaikan enam orang yang sedang mengerumuninya.

"Kami sedang mengajukan protes dan tidak ada tempat latihan yang seperti itu." Seokjin melipat tangannya di depan dada. "Aku akan tetap dengan Namjoon."

"Menampilkan hal yang sama? Oh, tidak akan semudah itu." Hyera mengangkat tangannya lalu menggerakkan jari telunjuknya. "Apa kau pikir penontonnya tidak bosan? Tidak, tidak. Kita harus mengejutkan mereka."

"Mengejutkan apanya? Kau pikir kami akan tetap menampilkan lagu yang sama?"

"Bukan, bukan lagu yang aku permasalah." Hyera beranjak dari posisinya lalu merangkul Yoongi dan Taehyung yang berdiri tepat di sampingnya. "Kau pikir hanya lagu saja? Bagaimana dengan orang-orangnya? Hei, mereka pasti sudah menduga hal itu. Makanya aku berani bertaruh jika festival seni tahun ini akan sangat berbeda."

Jungkook melempar ranselnya ke atas meja. "Tidak, tidak. Beritahu alasan kenapa harus kami?"

"Karena aku ingin. Hal paling logis apalagi?"

"Tidak logis. Hal yang kau inginkan bukan yang kami putuskan." Namjoon tampak sudah menatap kesal. Dia berusaha keras untuk menahan emosinya. Bersama Taehyung? Hanya mimpi.

Hyera menatap Namjoon lalu menghela nafas. Tangannya bergerak untuk meraih ranselnya dan bersiap untuk melangkah keluar kelas. "Pastikan lusa kalian datang ke rumahku pukul 10 pagi. Sampai jumpa!"

Hoseok menatap enam orang itu satu persatu. "Jangan harap aku ingin satu tim dengan kalian."

"Kau pikir kami setuju? Mimpikan saja di tidurmu!" Jimin berdecih lalu menarik Jungkook untuk segera pergi dari sana.

"Kenapa tiba-tiba gadis itu mengatur hidup kita? Apa maunya?" Jungkook terdengar berteriak frustasi di koridor.


"Hyera!"

Hyera sedikit mengeluh ketika mendengar Daniel memanggil namanya dengan teriakan padahal keberadaan mereka tidak jauh. Hyera yang sedang berbaring di sofa sambil membaca buku sedangkan Daniel yang baru saja memasuki rumah.

"Ini!" Lanjutnya sambil melempar sebuah amplop ke wajah Hyera. "Kenapa kau jadi sering mendapat kiriman tanpa nama? Apa kau punya secret admirer?"

"Hah?" Hyera hendak protes namun niatnya terurung ketika mendapati sebuah amplop yang sama seperti sebelumnya. Seperti biasa tanpa nama pengirim dan hanya nama serta alamatnya yang tertera disana.

"Oh ya. Besok mungkin aku tidak pulang lagi. Tidak masalah, 'kan?"

"Asalkan tidak membawa atm-ku lagi."

"Tidak lagi. Ayahku sudah mengirimi uangnya. Ah, aku ingin mandi. Kau juga jangan lupa tidur!"

"Cerewet!" Hyera menggerutu lalu menatap amplop yang ada di tangannya. Kemudian membukanya dan menampilkan kertas yang sama seperti waktu itu dengan kalimat yang berbeda.

Kalian pasti bertanya-tanya kenapa sistem aneh di sekolah ini.
Tujuanku hanya satu, yaitu untuk mengungkap kebenaran yang ada dibalik ketidakadilan yang kalian terima.


Pria bertopi itu menatap tidak yakin ke tumpukan kertas yang ada di hadapannya lalu melirik pria lainnya yang sedang mengisap rokoknya. "Kau yakin ini hasil yang sebenarnya?"

"Sangat yakin. Mereka menyimpannya di gudang dan membiarkannya disana. Ceroboh memang."

"Lalu bagaimana caramu membuktikannya?" Ah, pria bertopi itu sepertinya tidak yakin dengan apa yang dipikirkan lawan bicaranya itu. Sebenarnya dia sedikit tidak yakin pada keoptimisan temannya itu. Hanya saja, dia juga sama lelahnya dibodohi selama ini.

Pria itu membuang rokoknya ke dalam asbak lalu mengambil salah satu kertas. "Aku akan memberikan salinan hasil yang asli kepada mereka. Setelah itu, mengumpulkan bukti lalu menyebarkan bukti."

"Apa kau yakin mereka akan baik-baik saja?"

"Aku akan berusaha melindungi mereka."


"Berarti supporter kita akan terbagi?" Hyuna menatap Seongcheol dan seluruh teman-temannya yang lain.

"Mau bagaimana lagi? Jadwal lari dan tenis meja bentrok. Mungkin kita berkumpul lagi saat pertengahan three on three di lapangan." Seongcheol menjawab. Dia juga ingin tapi tetap saja tidak ada pilihan lain. "Hana, Taeyong dan Sungjae sudah di lapangan. Jadi siapa yang ingin menonton tenis meja."

"Padahal aku ingin melihat Hana bermain."

"Aku juga."

Hyera menggeleng. Ah, jika dibiarkan, mereka akan terlambat. "Sudah. Kalian pergi saja menonton tenis meja. Lari juga tidak lama. Tenang saja."

"Apa tidak masalah?"

"Yang jadi masalah jika kalian terlambat." Jungkook memperbaiki posisi headband yang melingkar di kepalanya.

"Begini saja." Namjoon lelah dengan perdebatan ini. "Biar kami yang menonton pertandingan larinya. Kalian pergi saja!"

"Kami?" Sungjae mengernyit.

"Anak-anak barisan belakang. Ah, Kim! Harusnya kau mengatakannya dengan jelas." Hoseok menyiku Namjoon yang kebetulan berdiri di sebelahnya.

"Yakin?" Tanya Seongcheol yang berusaha meyakinkan keputusan teman-temannya itu.

"Pergilah sebelum kami berubah pikiran." Yoongi menjawab dengan malas.

"Baiklah. Kami pergi dulu ya! Sampai bertemu di lapangan basket." Pamit Hyuna sambil melambaikan tangan.

Ah, sekarang hanya tersisa delapan murid penghuni barisan belakang. Tidak ada yang bersuara selain tiupan peluit dan keramaian yang terjadi di lapangan.

"Oh, aku ada ide!"

Sepertinya hobi baru Hyera adalah berteriak tiba-tiba. Seokjin saja sampai sangat ingin menendang gadis itu karena mendadak seperti Hoseok yang suka berseru aneh.

"Jika aku menang lomba lari ini, kalian harus menuruti keputusanku yang kemarin."

"Wah, kau benar-benar ingin ditendang ya?"

Benar saja, Seokjin langsung saja menendang tulang kering gadis itu. Pelan, oke? Dia juga tidak berniat untuk membuat cedera gadis itu.

"Hmm, jika aku kalah, aku akan menyerah memaksa kalian."

"Ini pertandingan antar kelas, oke? Jangan jadikan sebagai bahan taruhan!" Taehyung memperingati.

"Tidak masalah. Aku juga akan berusaha. Tunggu kemenanganku, oke?" Hyera bersiap untuk pergi.

"Kau mau kemana? Sebentar lagi akan dimulai." Tegur Jungkook begitu menyadari arah langkah Hyera yang berlawanan arah.

"Toilet. Kenapa? Mau ikut? Aku hanya sebentar."

Oh, Hyera benar-benar pergi dari sana.

Tanpa mereka sadar jika salah satu dari mereja juga melangkah pergi dari sana.


"Ah, sepertinya aku harus benar-benar memenangkan ini." Hyera menatap pantulan dirinya di cermin. "Kau pasti bisa, Hye!"

"Oh, ada murid kelas tanpa harapan?!"

Tanpa dilihatpun, Hyera sudah mengenal siapa pemilik suara itu. Cha Seojung dan teman-temannya yang baru saja memasuki kamar mandi.

"Bukannya kau akan bertanding ya? Kenapa masih disini?" Yeri ikut bersuara.

Eunha mendekat lalu memainkan rambut Hyera. "Lawanmu Gracia. Apa kau bisa mengalahkan atlet sekolah, Hye?"

"Aku sangat menantikan pertandingan ini, Hyera. Kira-kira siapa yang menang ya?" Gracia berdiri di ambang pintu sambil melirik sinis.

Hyera menepis tangan Eunha lalu tersenyum. "Tidak, kau akan kalah kali ini. Aku sudah banyak persiapan untuk mengalahkanmu, Grace!"

"Jangan sombong!" Seojung melipat kedua tangannya di depan dada.

"Ah, perutku mendadak mulas terlalu banyak mendengar kalian bicara. Jadi, aku keluar ya!"

Baru saja akan melangkah, Hyera harus tersungkur. Dia mengumpat ketika suara tawa menggema di toilet bersamaan dengan Eunha yang melangkah mundur.

"Oh, maaf. Bukannya kau harus hati-hati?"

"Bagaimana? Bisa berdiri?"

Hyera benar-benar muak. Dia langsung bangun dari posisinya dan menatap datar keempat gadis itu lalu tersenyum sinis. "Cukup tertawanya, teman. Aku semakin muak melihat kalian." Dia melanjutkan langkahnya untuk keluar dari toilet, mengabaikan suara-suara keempat gadis itu.

"Jangan sampai cedera ya, Hye!"


Sialnya langkah ke-sokan Hyera harus terhenti ketika dia mendudukkan dirinya di anak tangga. Pergelangan kakinya sakit sekali walaupun untuk sekedar melangkah.

"Argh, kenapa harus sekarang?" Tangannya menurunkan kaos kaki sebelah kanannya, memar kemerahan mulai terlihat dari sela sepatu olahraganya. "Semoga masih bisa berlari." Lanjutnya sambil memperbaiki kaos kakinya.

"Hyer! Ya ampun. Manusia kelinci sudah akan bersiap lomba dan kau masih duduk disini. Ayo, cepat!"

Suara Hoseok cocok sekali untuk menaikkan tekanan darah. Buktinya Hyera baru saja terumpan oleh pemuda Jung yang sedang memegang sebotol minuman itu.

Hyera tak menjawab. Dia memutuskan untuk bangun dari posisinya, menciptakan denyut nyeri yang menjalar di seluruh kaki kanannya. Namun, gadis itu berhasil menetralkan rasa sakitnya. Lebih tepatnya menyembunyikan dan melangkah pergi dari sana, diikuti Hoseok.


Lomba lari 500 meter untuk laki-laki baru saja akan dimulai ketika Hyera sampai di lapangan. Setelah ini adalah gilirannya. Jadi dia sudah memisahkan diri dari teman-teman menyebalkannya yang berada di pinggir lapangan. Berusaha menahan sakit yang mendera di kakinya, Hyera melakukan pergerakan kecil diiringi ejekan yang ditujukan kepada Jeon Jungkook yang sedang menatap jengkel ke arahnya.

Peluit pertama ditiup sebagai tanda bersiap lalu disusul bunyi peluit kedua dan berakhir dengan peluit ketiga ketika yang langsung ditandai dengan sepuluh orang peserta lomba yang sudah berlari. Hyera tidak berhenti-hentinya meneriaki nama Jungkook yang sedang memimpin. Tinggal sedikit lagi menuju garis finish. Gemuruh dari penonton yang mendukung masing-masing kelasnya juga tak ingin kalah. Sampai peluit terakhir sebagai selesainya perlombaan.

Jeon Jungkook menang.

Setidaknya itulah kata-kata yang dapat Hyera dengar dari enam teman-temannya yang berteriak di pinggir lapangan. Ah, dia tersanjung karena mendadak enam orang itu bersorak lalu bertos tanpa menyadari hubungan mereka yang sebenarnya. Bahkan ketika Jungkook berlari ke arah mereka, Hyera dapat melihat enam orang itu menyambutnya dengan memeluk pemuda Jeon itu.


Giliran Hyera tiba. Jungkook dan teman-temannya sudah meneriaki nama gadis itu dengan berbagai macam jenis suara yang berbeda.

Tidak, Seokjin baru saja menyadari ada yang aneh dari teman perempuan mereka. Sialnya dia terlambat menyadari ketika lomba lari itu dimulai. Ada yang salah di pandangannya. Suaranya terurung keluar untuk berteriak ketika menyadari itu. Detik demi detik dia juga dapat mendengar suara Hoseok yang memelan dan membuatnya melirik pemuda Jung yang berdiri di belakangnya.

"Kakinya bermasalah."

Setidaknya itulah yang dapat ditangkap Seokjin ketika mendengar gumaman samar Hoseok yang ditelan oleh teriakan supporter.

Hyera kalah dan pertandingan dimenangkan oleh Gracia.

Seokjin hanya bisa menatap Hyera yang masih enggan bergerak dari garis finish. Wajah itu meringis kesakitan. Tubuhnya terdorong begitu saja untuk berlari menghampiri gadis yang masih pada posisinya.

"Bodoh! Kenapa tidak bilang kakimu sakit?"

Hyera berjengit ketika mendengar teriakan khawatir Seokjin. Dia sudah melihat Seokjin yang berdiri di depannya dengan wajah yang tak terbaca.

"Apa yang terjadi dengan kakimu?"

"Hmm, ah, aku salah mengambil start makanya seperti ini."

"Jangan bohong, Hyer! Kakimu sudah seperti itu saat keluar dari toilet."

Satu suara lagi mengalihkan pandangan Hyera. Dia, Hoseok berdiri bersama lima temannya.

"Kenapa tidak bilang, Hye? Kau bisa mundur!" Taehyung berseru emosi.

"Bagaimana jika kakimu tambah parah?" Sepertinya Jimin tak mau ketinggalan untuk mengomeli Hyera.

Yoongi berlutut, menarik turun kaos kaki sebelah kanan Hyera. Memar tadi sudah membiru dan suara ringisan terdengar ketika tangan dingin Yoongi menyentuhnya.

"Siapa yang melakukan ini, Hye?" Jungkook mengangkat dagu Hyera membuat gadis itu menatap mereka.

"Aku terjatuh di toilet."

"Jangan bohong untuk kedua kalinya, Hye!" Namjoon berseru, setengah berteriak.

"Oh, Hye! Aku kira kau akan menang. Ternyata hanya omongan belaka ya?!"

Ayolah, Hyera sangat membenci pemilik suara itu. Tanpa disebutkan, tidak, Hyera terlalu malas menyebutkan namanya. Cha Seojung.

Eunha menatap tujuh orang yang berdiri di depan Hyera. "Apa ini? Dikelilingi siswa paling populer satu angkatan? Sedang mencari perhatian?"

"Bahkan dia mengambil Jungkookie. Untung saja aku tidak bermain denganmu lagi." Yeri menatap sebal ketika melihat tangan Jungkook masih di dagu Hyera. Sebenarnya, walaupun sudah berada di kelas 2-F, masih banyak siswi yang mengincar tujuh orang itu. Salah satunya Han Yeri.

"Mana optimismu ingin mengalahkanku, Hyer? Sudah tenggelam?" Gracia melipat tangannya di depan dada.

"Bisakah kalian enyah dari sini? Sebelum kami habis kesabaran mendengar ocehan tidak berguna milik kalian?" Seperti yang diduga dari seorang Min Yoongi –yang masih berjongkok.

"Apa ini? Anak beasiswa diam saja! Apa kau ingin beasiswamu dicabut?"

Sial!

"Aku tidak yakin kalian akan meminta maaf jadi sebaiknya kalian enyah ya? Para tikus seperti kalian harusnya berlindung di belakang kepala sekolah." Jimin mengibaskan tangannya sebagai tanda pengusiran.

"Benar kata Park. Aku sangat ingin menjambak rambut kalian tapi hanya ini yang bisa kuberikan."

Sebuah guyuran air dingin berhasil membasahi kepala Cha Seojung. Berkat Hoseok, Hyera berhasil tersenyum puas.

"Sudah mereka katakan untuk enyah tapi kalian masih bertahan disini." Namjoon masih setia menahan senyum sinisnya.

"Sialan! Kalian semua akan menerima pembalasannya!"

"Kalian sudah menjadi tontonan gratis disini. Jadi masih ingin bertahan atau enyah sekarang? Aku bisa mengambil satu ember air lagi jika kalian berkenan." Seokjin tak mau kalah sepertinya. Dia melirik beberapa murid yang sedang menyaksikan mereka.

"Awas saja kalian semua!"

"Kau cantik tapi maaf, hatimu busuk seperti kimbab basi." Sepertinya teriakan Hoseok berhasil membuat umpatan keluar dari mulut keempat siswi tadi.

Taehyung melangkah mundur. "Kau harus segera ke ruang kesehatan." Ucapnya yang masih setia menatap Hyera.

"Ruang kesehatan tutup hari ini." Jimin teringat ruangan itu selalu tertutup jika ada kegiatan seperti ini.

"Jadi? Ke rumah sakit?" Jungkook menatap teman-temannya bingung.

"Ini tidak parah. Aku hanya terkilir, teman-teman. Jadi jangan masalah."

"Ah, aku ingat!" Hoseok melempar botol yang sudah kosong itu sembarangan lalu berlari. "Seokjin, gendong dia ke kelas!"


Next chapter

"Kenapa kalian kompak sekali?"

"Kau, kakimu sedang terluka."

"Hanya memar, Kook."

"Tetap saja cedera."

"Tidak parah, Jim."

"Ingin patah?"

"Kau ingin mendoakanku ya, Jung?"

"Berjalan saja sulit."

"Bantu aku, Jin."


Ah, para pemuda itu sangat perhatian pada Hyera. Ehehe...

Next? Or Next?

Gli.